BAB I PENDAHULUAN. Firman Allah dalam surah al-alaq ayat 1-5 sebagai berikut:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Penerima proses adalah anak atau siswa yang sedang tumbuh dan berkembang

BAB I PENDAHULUAN. UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. memanusiakan dirinya dan orang lain. Melalui pendidikan pula manusia mudah

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. satuan pendidikan, dimana anak didik belajar. Proses belajar di sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu pekerjaan yang sangat kompleks dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Masalah. perkembangan zaman yang berdasarkan Undang-undang pendidikan

BAB. I. Pendahuluan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan. menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan, diperlukan

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan. melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah sa

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting. Guru tidak hanya dituntut untuk memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk. Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN. memberikan peran yang sangat besar dalam menciptakan sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

PENDAHULUAN. seperti dirumuskan dalam Undang Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang

BAB I PENDAHULUAN. (beribadah) kepada penciptanya. Oleh karena itu Islam memandang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Maju

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota

BAB I PENDAHULUAN. di bidang pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dewasa ini khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, Hlm E. Mulyasa, Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum 2013, Remaja Rosdakarya,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses pengembangan daya nalar, keterampilan, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan pada hakikatnya merupakan kegiatan mendidik, mengajar,

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Apalagi di zaman modern sekarang semakin banyak masalah- masalah

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh pengetahuan dan keterampilan menjadi tanggung jawab satuan

BAB I PENDAHULUAN. Rosdakarya, 1892, hlm.1

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak bisa terlepas dari individu

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sebagai suatu proses untuk menyiapkan generasi masa depan

BAB I. tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Undang-undang pendidikan menyebutkan bahwa pendidikan nasional

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang No.

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan besar yang dihadapi oleh. umumnya dan dunia pendidikan khususnya adalah merosotnya moral peserta

hlm Nana Sudjana, Cara Belajar Peserta didikaktif, (Bandung: Sinar Baru Algensind, 1996),

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. pengajaran agar siswa tertarik dalam proses belajar mengajar. Pendidikan dapat

BAB I PENDAHULUAN. (tingkah laku) individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan

BAB VI SHALAT WAJIB. Standar Kompetensi (Fiqih) 6. Mema hami Tatacara. Kompetensi Dasar 6.1 Menjelaskan. Indikator

BAB I PENDAHULUAN. masyarakatnya harus memiliki pendidikan yang baik. Sebagaimana tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT berfirman pada Al Quran surat Az-Zuhruf ayat 43 :

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan. potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan membawa anak ke arah

BAB I PENDAHULUAN. yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sektor pembangunan yang telah ada.

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,

BAB I PENDAHULUAN. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

BAB I PENDAHULUAN. Dunia pendidikan saat ini telah menjadi perhatian yang sangat besar

I. PENDAHULUAN. mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB 1 PENDAHULUAN. evaluasi. Evaluasi merupakan alat untuk mengetahui atau proses belajar mengajar

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Nasional Bab

BAB I PENDAHULUAN. proses pembelajaran siswa, sebab tanpa ada pemahaman materi shalat fardhu

BAB I PENDAHULUAN. didik. Untuk menghadapi dampak negatif globalisasi, agar anak didik berkualitas,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional

BAB I PENDAHULUAN. mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

I. PENDAHULUAN. pribadi yang taat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, arif, dan dapat bergaul

BAB I PENDAHULUAN. Ciputat Pres, 2002), hlm Arif, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta:

BAB I PENDAHULUAN. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm

BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia tidak dapat berkembang dengan baik. Pendidikan dapat diartikan

BAB I PENDAHULUAN. belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja sendiri. 1 Artinya bahwa proses

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan kompotensi dalam belajar mengajar (KBM) agar peserta

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Nomor 20 Tahun 2003), (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi

BAB I PENDAHULUAN. setiap hari dan juga merupakan pondasi dan tiang agama bagi seluruh umat islam

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi

BAB.I. PENDAHULUAN. landasan moral, dan etika dalam proses pembentukan jati diri bangsa. Pendidikan

A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia di dunia ini, sebagian adalah berisi pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. 1, pasal 1, butir 1 yang menyatakan bahwa : belajar dan proses pembelajaran agar paeserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya

BAB I PENDAHULUAN. menentukan tinggi rendahnya kualitas dan nilai suatu negara, karena itu tujuan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan intervasi yang paling utama bagi setiap

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. negara yang demokratis serta bertanggung jawab 1. Adapun tujuan pendidikan

I. PENDAHULUAN. keadaan tertentu kesuatu keadaan yang lebih baik. Pendidikan sebagai pranata

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan nilai perilaku seseorang atau masyarakat, dari suatu keadaan

BAB I PENDAHULUAN. mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan hidupnya di masa depan. Kesejahteraan hidup

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan

BAB I PENDAHULUAN. terutama generasi muda sebagai pemegang estafet perjuangan untuk mengisi

BAB I PENDAHULUAN. karena maju dan mundurnya bangsa di tentukan oleh keadaan pendidikan yang di

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi dan informasi dituntut kemampuan ilmu. pengetahuan dan teknologi yang memadai. Untuk menuju pada kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,

BAB I PENDAHULUAN. mengembangakan kegiatan belajar siswa. Hal ini mengandung pengertian bahwa

BAB I PENDAHULUAN. pengenalan dan penghayatan terhadap Al-asma, Al-husna, serta penciptaan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP ) PRA SIKLUS

BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan dinamika peradaban yang dinamis.

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Apabila guru tidak dapat menyampaikan materi dengan tepat dan menarik, dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa, sehingga mengalami ketidak tuntasan dalam belajarnya. Firman Allah dalam surah al-alaq ayat 1-5 sebagai berikut: Dari ayat tersebut tergambar bahwa metode pembelajaran dilakukan dengan tahap demi tahap, artinya metode pembelajaran yang diajarkan melalui proses. Pendidikan merupakan jalan yang harus ditempuh dalam membentuk manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan. Melalui pendidikan pula agar adanya manusia yang beriman dan bertakwa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional dirumuskan sebagai berikut : Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bagsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang

2 mantap dan mandiri serta tanggung jawab dalam kemasyarakatan dan kebangsaan. 1 Agama sebagai salah satu aspek kehidupan bangsa yang berperan sebagai penggerak dan pengendali, pembimbing dan pendorong hidup warganya kearah suatu kehidupan yang lebih baik dan sempurna. Mengingat pentingnya peranan Agama Islam tersebut, maka Agama Islam perlu diketahui, digali, dipahami, dan diyakini, kemudian diamalkan oleh setiap pemeluknya, sehingga kelak benarbenar menjadi milik dan kepribadian dalam hidup sehari-hari. Indikator keberhasilan pendidikan Agama Islam mencakup tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik, akan tetapi kenyataannya bahwa pendidikan Agama Islam baru menyentuh ranah kognitif yaitu sebatas pada penguasaan materi saja. Fikih merupakan bagian dari pendidikan Agama Islam yang mengedepankan aspek pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut A. Ridwan Salasa: Fiqih ialah praktek dan kebiasaan hidup sehari-hari yang secara teknis berkaitan dengan hukum Agama, sehingga semua aktifitas pada akhirnya bermuara pada hukum Agama. Dengan sendirinya, penguasaan fiqih akan sangat menentukan kualitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadahnya maupun dalam kehidupan sosialnya, karena ilmu fiqih menyangkut kehidupan umat setiap hari, baik yang berkaitan dengan hablum minallah (ibadah) maupun hablum minannas (mu amalah). 2 Dengan demikian ibadah seseorang tidak akan diterima, misalnya salat, zakat, atau puasa apabila dia tidak mengetahui hukum atau aturan-aturan dan tata caranya yang benar dan bersifat teknis (tafshil), dan dari sinilah urgensinya ilmu 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan dan Penjelasannya, (Semarang : Aneka Ilmu, 1989), h. 4 2 A. Ridwan Salasa, Efektivitas Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Fiqih di MI. Attaqwa 32 Kaliabang Rawa Silam Bekasi Utara Kota-Bekasi. (Jakarta: STAI At-Taqwa, 2007), h. 3

3 fikih. Karena itu, menjadi fardhu ain bagi seorang muslim untuk mempelajarinya dan menguasainya agar salatnya bisa sah, diterima dan yakin dalam pelaksanaanya. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Slamet Hariono, yang mengatakan bahwa mata pelajaran fiqih adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang membahas ajaran Agama Islam dari segi syariat Islam tentang cara-cara manusia melaksanakan ibadah kepada Allah swt, dan mengatur kehidupan sesama manusia serta alam sekitarnya. 3 Pembelajaran perlu mengembangkan dan mengkaji setiap kegiatan pembelajaran supaya lebih bermakna. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki wawasan, karakteristik dan penyajian yang berbeda. Materi Pendidikan Agama Islam mengandung perintah dan larangan serta anjuran, maka pola penyajian serta evaluasinya berbeda dengan bidang studi lainnya. Perbedaan itu terdapat dalam keluasan dan kedalaman materinya. 4 Dengan adanya perbedaan inilah, maka pembelajar perlu menguasai ilmu pembelajaran secara lebih spisifik sesuai dengan karakteristik bidang studi dan karakteristik pembelajar. Penguasaan terhadap ilmu pembelajaran secara komprehensip diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena menurut Slamet Hariono tujuan utama ilmu pembelajaran adalah untuk memberikan sumbangan bagi perbaikan kualitas pembelajaran, karena kualitas pembelajaran akan sangat mempengaruhi terhadap hasil pembelajaran itu sendiri. 5 3 Slamet Hariono. Strategi Penyampaian Isi Pembelajaran Mata Pelajaran Fiqih Di Madrasah Aliyah Swasta Disamakan di Kabupaten Malang ( Malang: Unisma, 2008), h. 2 4 ibid 5 ibid

4 Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dimulai dengan perbaikan proses pembelajaran atau pada variable metode pembelajaran. Variabel metode pembelajaran merupakan salah satu dari variable pembelajaran. Variabel-variabel tersebut adalah 1) kondisi pembelajaran, 2) metode pembelajaran, dan 3) Hasil Pembelajaran. 6 Keberhasilan Pembelajaran banyak tergantung pada kemampuan pembelajar memadukan variabel-variabel pembelajaran. Pembelajar harus dapat menganalisis variable kondisi pembelajaran, menetapkan metode pembelajaran serta menetapkan jenis dan prosedur hasil pembelajaran. Salah satu variabel pembelajaran adalah menetapkan motode pembelajaran yang tepat bagi siswa sesuai dengan mata pelajaran yang akan disampaikan, karena hal ini nantinya akan sangat mempengaruhi dalam pemahaman siswa itu sendiri. Menurut Arief Furhan metode adalah suatu cara, jalan dan siasat dalam penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran, agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran 7 Sedangkan menurut Djamarah pengertian metode ialah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses interaksi belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh seorang guru sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. 8 Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak bisa menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan 6 Ibid, h. 3 7 Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 39. 8 Syaiful Bahri Jamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1944), h. 69

5 oleh para ahli pendidikan. Selain itu juga dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi dua arah, yaitu antara pengajar dan peserta didik, apabila seorang guru tidak bisa menguasai metode pengajaran dengan baik maka dikhawatirkan nantinya akan sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran itu sendiri. Kedua intraksi ini saling mempengaruhi dan dapat menentukan hasil belajar pada siswa, disini kemampuan guru dalam menyampaikan atau mentransformasikan bidang studi dengan baik merupakan syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi, karena hal ini nantinya secara langsung akan dapat mempengaruhi proses mengajar dan hasil belajar bagi siswa. Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan baik dan siswa lebih mudah memahami pelajaran, seorang guru selain harus menguasai materi, dia juga dituntut untuk dapat terampil dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Seorang guru sangat dituntut untuk dapat memiliki pengertian secara umum mengenai sifat berbagai metode, baik mengenai kebaikan metode maupun mengenai kelemahankelemahannya. Ada beberapa metode yang dikenal dalam pengajaran, misalnya yaitu metode ceramah, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode eksperimen, metode tanya-jawab, dan sebagainya. Dengan memilih metode yang tepat, seorang guru selain dapat menentukan hasil lulusan yang terbaik, juga merupakan landasan keberhasilan dari sebuah lembaga pendidikan itu sendiri, dan merupakan pengalaman yang disenangi bagi anak didik. Oleh karena itu, untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan kreatif dalam mata pelajaran fiqih, guru dapat memilih

6 metode demonstrasi, metode demonstrasi adalah belajar dengan cara memperagakan atau mempertunjukkan teori sesuatu dihadapan murid, baik dilakukan didalam maupun diluar kelas. Kalau dilihat kenyataan di lapangan, banyak sekali siswa yang kurang dalam melaksanakan agama Islam, khususnya tentang salat fardu. Maka dalam hal ini pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui metode yang tepat harus diupayakan ikatannya dalam rangka mengatasi masalah yang dipaparkan di atas. Dikemukakan bahwa salat lima fardu apabila dikerjakan dengan penuh kesadaran dan jiwa keikhlasan sesuai dengan tuntunan yang telah diterapkan akan mempunyai pengaruh yang positif dalam pembangunan manusia seutuhnya. 9 Dalam melaksanakan salat kita dituntut untuk perlunya menyelaraskan antara gerakan salat dengan bacaannya, yaitu dari takbir sampai salam, misalnya gerakan yang selaras antara gerakan dengan bacaan adalah sewaktu kita mengangkat kedua tangan pada takbiratul ihram dibaca Allahu akbar dan dalam hati dibaca niat. Sedangkan contoh yang tidak selaras adalah ketidak sesuaian antara gerakan salat dan bacaannya misalnya ketika rukuk membungkukkan punggung, punggung dan kepala sama sejajar, kedua tangan menempel di atas lutut, mata melihat tempat sujud dan seharusnya membaca subhana rabbiyal azimi wabihamdih, tetapi yang dibaca samiallahu liman hamidah. 9 MJ. Adam, Serial Khutbah Jumat, (Jakarta : t. tp, 1994), h. 34

7 Proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia. 10 Maka dari itu guru harus benar-benar mendidik dan mempraktikkan keselarasan antara gerakan salat dengan bacaannya, sehingga anak tidak salah lagi dalam melakukan ibadah salat, dengan demikian guru tidak cukup menyampaikan pelajaran salat dengan metode ceramah, tetapi harus menggunakan metode demonstrasi. Disini kemampuan guru dalam menyampaikan atau mentransformasikan bidang studi dengan baik merupakan syarat mutlak yang dapat mempengaruhi proses mengajar dan hasil belajar siswa. 11 Berdasarkan pengalaman mengajar mata pelajaran Fikih di kelas II pada MIN Jalatang, tampak masih rendah rendahnya kemampuan siswa dalam menyelaraskan gerakan salat dengan bacaannya. Kondisi ini terlihat dari masi adanya siswa yang masih tertukar dalam bacaan salat, Selama ini kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan, karena itu penulis merasa tertantang untuk mengajukan penelitian dengan judul MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENYELARASKAN GERAKAN SHALAT DENGAN BACAANYA MELALUI METODE DEMOSTRASI DI KELAS II MIN JALATANG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN. 1995), h.1 10 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), h.86 11 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara,

8 B. Identifikasi Masalah 1. Kurangnya keselarasan antara gerakan salat dengan bacaannya dalam melaksanakan ibadah salat. 2. Siswa pasif dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar. 3. Siswa terlihat jenuh dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar 4. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat. 5. Kurangnya upaya dalam meningkatkan bimbingan salat C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah aktivitas guru dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya di kelas II MIN Jalatang dengan menggunakan metode demonstrasi? 2. Apakah aktivitas siswa dalam menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya di kelas II MIN Jalatang dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkat? 3. Apakah dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya di kelas II MIN Jalatang? D. Rencana Pemecahan Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam PTK ini adalah metode demonstrasi. Dengan metode pembelajaran ini diharapkan dapat

9 meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya di kelas II MIN Jalatang Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang diatasi dengan menggunakan metode demonstrasi. E. Hipotesis Tindakan Dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya pada siswa di kelas II MIN Jalatang Kabupaten Hulu Sungai Selatan. F. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya dengan menggunakan metode demonstrasi pada siswa di kelas II MIN Jalatang Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 2. Manfaat penelitian a. Bagi siswa dapat meningkatkan pemahaman dalam menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya, yang tergambar dari gerakan dan bacaan siswa dalam mempraktikkan shalat. b. Bagi guru sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam meningkatkan kemampuan siswa menyelaraskan gerakan shalat dengan bacaannya pada siswa di kelas II MIN Jalatang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.