Are all Alpha Blocker the Same for BPH Drug Management?

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TESIS. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai Derajat Magister Program Studi Kedokteran Keluarga Minat Utama Ilmu Biomedik.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Late-onset hypogonadism (LOH) atau andropause secara klinis dan

Pengobatan Hipertrofi Prostat Non Operatif

Prevalensi hipertensi berdasarkan yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pengukuran tekanan darah terlihat meningkat dengan bertambahnya

Kelenjar Prostat dan Permasalahan nya.

Kegawatdaruratan Saluran Kemih terapi farmakologis

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Benign Prostat Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah

Di bawah ini diuraikan beberapa bentuk peresepan obat yang tidak rasional pada lansia, yaitu :

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan

Karangan Asli. The Journal of Medical School, University of Sumatera Utara 140

OBAT YANG MEMPENGARUHI REPRODUKSI PRIA KELOMPOK 23

Kanker Prostat - Gambaran gejala, pengujian, dan pengobatan

ANGKA KEJADIAN LUTS YANG DISEBABKAN OLEH BPH DI RSUP PROF. DR. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penelitian tentang perdarahan yang disebabkan Stress Related Mucosal

KAJIAN PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TAMSULOSIN, DUTASTERIDE DAN KOMBINASINYA PADA PASIEN BPH DI RSUD GUNUNG JATI CIREBON

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang albuminuria, yakni: mikroalbuminuria (>30 dan <300 mg/hari) sampai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Benign Prostatic Hyperplasia atau lebih dikenal dengan singkatan BPH

BAB 1 PENDAHULUAN. Mochtar. 2005). Penduduk Indonesia yang berusia tua jumlahnya semakin

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembesaran prostat jinak (PPJ) atau disebut juga benign prostatic

BAB I PENDAHULUAN. kadar hormon seseorang. Aging proses pada pria disebabkan oleh menurunnya sistem

BAB I PENDAHULUAN. suksesnya sistem kesehatan adalah pelaksanaan pelayanan kefarmasian (Hermawati, kepada pasien yang membutuhkan (Menkes RI, 2014).

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

EDUKASI KLIEN BPH POST TURP DI RUMAH

pusing, dan kelelahan). Pada kasus PAH, tadalafil merelaksasi pembuluh darah di paru-paru untuk memungkinkan darah mengalir lebih mudah (MedlinePlus,

BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesehatan, penyakit degeneratif dan menurunnya kualitas hidup.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH PADA PASIEN BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH) PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER 2015 DI RSUP Dr.

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Metode Pemecahan Masalah Farmasi Klinik Pendekatan berorientasi problem

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA

BAB I PENDAHULUAN. pencegahan dan pengobatan penyakit (Depkes RI, 2009). yang tidak rasional bisa disebabkan beberapa kriteria sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hipertensi merupakan penyakit yang umum ditemukan di masyarakat

Tujuan Instruksional:

ABSTRAK. Vecky, 2010 Pembimbing I : dr. L. K. Liana, Sp.PA., M.Kes Pembimbing II : dr. Evi Yuniawati, MKM

TINJAUAN ASPEK KLINIS PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KOTA SURAKARTA PERIODE JANUARI-JUNI 2008 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan

PROFIL PASIEN BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA YANG DILAKUKAN ULTRASONOGRAFI DI RUMAH SAKIT UMUM DR.PIRNGADI PERIODE BULAN JULI 2012 HINGGA DESEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Hiperlipidemia adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan kadar kolesterol dan

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. 2. di vena sehingga menimbulkan kenaikan tekanan vena. 3 Penyebab utama gagal

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

OBAT KARDIOVASKULER. Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung. Kadar lemak di plasma, ex : Kolesterol

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pneumonia merupakan salah satu infeksi berat penyebab 2 juta kematian

Bagan 5. Consolidated report penelitian

Tidak Semua CCB Serupa; Fokus pada Nifedipine GITS/OROS Karena Perlindungan 24 Jam Sangat Berharga

KORELASI HIPERTROFI PROSTAT, UMUR DAN HIPERTENSI

Tujuan Instruksional:

I. PENDAHULUAN. tahun 2007, Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat jumlah penduduk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Perubahan Kualitas Hidup Penderita Pembesaran Prostat Jinak Pasca-prostatektomi Terbuka

OPINI APOTEKER DAN PASIEN TERHADAP PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KOTA MERAUKE DEASY ABRAHAM THOE, 2013

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM. Perancangan program aplikasi yang dibuat dalam skripsi ini menggunakan aturan

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut

Perbandingan Efek Antipiretik antara Ibuprofen dengan Campuran Ibuprofen dan Kafein

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penyakit jantung dan pembuluh darah telah menduduki peringkat pertama sebagai

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

INTISARI KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PASIEN BPJS KESEHATAN DENGAN FORMULARIUM NASIONAL DI RSUD BANJARBARU PERIODE OKTOBER SAMPAI DESEMBER 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PENGGUNAAN ANGIOTENSIN RESEPTOR BLOKER (ARB) pada PASIEN STROKE ISKEMIK RAWAT INAP di RSU. Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

INTISARI. Puskesmas 9 NopemberBanjarmasin. 1 Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

FARMAKOLOGI NIKOTIN DAN PRINSIP ADIKSI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

APLIKASI FARMAKOKINETIKA DALAM FARMASI KLINIK MAKALAH

Bagaimana Penulisan SOAP oleh Farmasi? Tim KARS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI OBAT ANTI-HIPERTENSI PADA RESEP PASIEN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI INSTALASI FARMASI UNIT RAWAT JALAN RSUD

YUANITA ARDI SKRIPSI SARJANA FARMASI. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Alopesia androgenetik merupakan alopesia yang dipengaruhi oleh faktor

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RUMAH SAKIT MATA PADANG EYE CENTER (RSMPEC) Ramah, Empati, Siaga, Proaktif, Exsclusive, dan Competence PANDUAN TENTANG PANDUAN TELAAH INTERAKSI OBAT

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konseptual

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindroma metabolik adalah sekumpulan gejala akibat resistensi insulin

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented)

Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis Kerusakan genetik Pertumbuhan tumor Kejadian cacat waktu lahir.

BAB I PENDAHULUAN. dan tempat pelayanan kesehatan (DepKes RI, 2002). paling tepat dan murah (Triyanto & Sanusi, 2003).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Natrium diklofenak merupakan obat golongan anti-inflamasi nonsteroid

INTISARI KESESUAIAN DOSIS CEFADROXIL SIRUP DAN AMOKSISILIN SIRUP PADA RESEP PASIEN ANAK DI DEPO UMUM RAWAT JALAN RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

DRUG RELATED PROBLEMS KATEGORI DOSIS LEBIH, DOSIS KURANG DI INTENSIVE CARE UNIT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.MOEWARDI SURAKARTA PERIODE TAHUN 2007

Transkripsi:

Are all Alpha Blocker the Same for BPH Drug Management?

Peran Apoteker Apoteker memiliki peran vital dalam rasionalisasi obat, pengetahuan akan obat yang diresepkan menjadi sangat penting dalam konsultasi, edukasi ke pasien

Pentingnya Edukasi, Konsultasi yang benar untuk pasien Di dalam PP 51 tahun 2009, tercantum bahwa Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat mempunyai peranan penting karena terkait langsung dengan Pelayanan Kefarmasian. PP 51 tahun 2009 pasal 24(b) juga dicantumkan bahwa apoteker diperbolehkan untuk mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien. Oleh karena itu, kompetensi apoteker diperlukan disini dalam menilai baik buruknya pergantian obat satu dengan yang lain, apoteker juga harus mempertimbangkan efikasi dan toleransi obat, misal obat yang sudah digunakan sejak lama dan cocok bagi pasien, perlu dipertimbangkan apakah bila diganti dengan obat baru akan sama efikasi/toleransinya sedangkan obat sudah lama memberikan efek dalam tubuh pasien Oleh sebab itu, perlu mengetahui profil farmakologi dan farmakokinetik dari obat yang diresepkan, selain itu perlu juga memperhatikan aspek farmakoekonomi suatu obat sehingga apoteker dapat menilai rasionalisasi peresepan suatu obat

Apa itu Farmakoekonomik? Farmakoekonomik merupakan salah satu cabang bidang farmakologi yang mempelajari pembiayaan pelayanan kesehatan, merupakan metode untuk mendapat pengobatan dengan biaya yang lebih efisien Biaya yang efisien maksudnya ialah biaya yang dibutuhkan pasien sejak menerima terapi hingga pasien sembuh Dengan memperhatikan aspek farmakokinetik, aspek yang diperhatikan bukan hanya berhubungan dengan upaya mendapat biaya obat yang murah, namun berhubungan dengan seluruh proses efisiensi obat, alat kesehatan, penyediaan, monitoring obat, lama terapi ataupun proses yang berhubungan dengan pemberian obatobatan Jadi pemberian item obat yang murah bila dilihat dari aspek farmakoekonomi bisa saja tidak cost effective karena lamanya pemberian, ataupun adanya tambahan pemberian obat lain karena efek samping, dll

Pentingnya pengetahuan tentang Penyakit BPH dan obat-obatannya Saat ini banyak tersedia obat-obat untuk terapi BPH (Benign Prostat Hyperplasia Golongan yang sering digunakan adalah alpha blocker dan 5- ARI

Treatment Options for BPH - Drug therapy Class of Drug Generic Name Brand name Alpha Blocker drug Alfuzosin Terazosin Doxazosin Prazosin Tamsulosin Xatral Hytrin Cardura Minipress (not available in Indonesia) HARNAL Anti androgen drug ( 5-ARI) Phytofarmaka Silodosin Finasteride Dutasterid Serenoa repens Pygeum africanum Urief Proscar Avodart

Jenis Alpha Blocker Nonselective alpha blockers Phenoxybenzamine (Dibenzyline) Nicergoline Thymoxamine Selective alpha1 blockers Prazosin Alfuzosin (Xatral- Sanopi) Long-acting alpha1 blockers Terazosin (Hytrin- Abbot) Doxazosin (Cardura- Pfizer) Super-selective alpha1 blockers Tamsulosin (Harnal) Silodosin

Jenis Reseptor Alpha adrenergic 1 dominan di prostate 2 ada di pembuluh darah & otot polos Lepor E, Saphiro E. J Urol 1984; 132: 1226-9 Non selective adrenergic akan memblok : blocks 1 dan 2 receptors Selective adrenergic : akan memblocks hanya 1 receptor

Terapi oral Doxazosin Terazosin Finasterid / Dutasterid Tamsulosin Farmakologi Menurunkan tekanan darah Memperbaiki gejala BPH Memperbaiki gejala BPH Mekanisme kerja Menghambat reseptor alfa 1 di uretra & prostat Menghambat kerja enzim 5 alfa reduktase sehingga konsentrasi DHT dalam prostat menurun Selektif Menghambat reseptor alfa 1a & 1d di uretra & prostat Efek terapi : 3 6 bulan Hanya efektif untuk prostat ukuran besar (>40 ml) Farmako kinetik Kadar tertinggi didalam plasma setelah 2 jam Kadar tertinggi didalam plasma setelah 1 jam Penurunan kadar dehidrotestosteron setelah 24 jam Kadar tertinggi di dalam darah setelah 7 8 jam Cara pemakaian Dengan titrasi Tanpa titrasi Efek samping Hipotensi Menurunkan kadar PSA Libido menurun impotensi Hipotensi Minimal (khususnya Harnal OCAS)

Mekanisme kerja α blockers Causes prostatic relaxation Harnal Nerve ending Norepinephrine (Blockade) Menghambat alfa 1a & 1d pada otot polos di uretra & prostat α1d α1c α1b α1a α1a α1a prostate α1a α1a α1a Relaksasi / menurunkan tekanan uretra d bagian prostat Nerve ending Norepinephrine α1d α1c α1b α1b α1b α1b α1b Blood Vessel (causes vascular contraction) Blood Vessel = α 1B Memperbaiki gangguan buang air kecil yg disebabkan oleh BPH

α-blockers for the treatment of BPH/LUTS Terazosin Doxazosin Alfuzosin Tamsulosin Naftopidil Silodosin α 1 -AR subtype selectivity Non subtype selective Non subtype selective Non subtype selective Subtype selective Subtype selective Subtype selective Pharmacological selectivity Clinical selectivity Usual daily dose (mg) Regimen (doses/d) Modified-release formulation No No No Yes Yes Yes No No No Yes Yes Yes (α 1A =α 1b =α 1d) (α 1A =α 1b =α 1d) (α 1A =α 1b =α 1d) (α 1A =α 1b >α 1d) (α 1A α 1b >α 1d) (α 1A >α 1b >α 1d) 1-10 1-8 7.5-10 0.4 (US) 0.2 (Asia) 25-75 4 1 1 1-3 1 1-2 2 No Yes No-Yes Yes No No Schwinn DA and Roehrborn CG. Int J Urol 2008;15:193-9

SELEKTIFITAS TERHADAP RESEPTOR 1 a & 1 d PADA KELAS ALFA BLOKER (1) selektivitas reseptor 25 20 15 10 5 Alfa 1 a Alfa 1 b Alfa 1 d 0 Tamsulosin Terazosin Alfuzosin Doxazosin Studi reseptor 1a dilakukan pada manusia, untuk reseptor 1b secara invivo pada hamster, 1d tikus Foglar R.et.al.,Eur J.Pharmacol Mol Pharmacol Section 288, 201,1995 12

Dibuktikan pada penelitian meta analisa bahwa Tamsulosin memperlihatkan safety data yang lebih aman dibandingkan alpha bloker lainnya Nickel.JC, et al. Int J Clin Pract, October 2008, 62, 10, 1547 1559

Tamsulosin sangat minimal memberikan resiko drop out (berhenti) pengobatan dibandingkan alpha bloker lainnya Vallancien G. Eur Urol 2003;38 (suppl 1)

Tamsulosin memberikan resiko progresifitas untuk operasi paling kecil dibandingkan alpha bloker lainnya Berges R. Eur Urol Suppl.2003(2):19-24

Berapa lama Tamsulosin memberikan hasil terapi? Harnal signifikan memperbaiki gejala BPH Dalam waktu 4 hari Narayan, et al. The Journal of Applied Research Vol. 5, No. 2, 2005

Tamsulosin 0.2 mg vs other α-blockers - safety Meta-analysis; N=10 RCTs including 1,418 men N=722 tamsulosin N=696 other α-blockers (terazosin, doxazosin, naftopidil, silodosin) Study duration (range): 4-24 wk Tamsulosin 0.2 mg efek samping lebih kecil dibandingkan dengan α-bloker yang lain Shim SR et al. Yonsei Med J 2016;57:407-18

Tamsulosin tidak meningkatkan resiko dari kardiovaskular - terkait efek samping Vasodilatation-related adverse events T e r a z o s in 3.7 1 ( 9 5 % C I: 2.4 8, 5.5 3 ) D o x a z o s in 3.3 2 ( 9 5 % C I: 2.1 0, 5.2 3 ) D o x a z o s in G IT S 3.8 6 ( 9 5 % C I: 1.8 6, 8.0 2 ) A lfu z o s in 1.6 6 ( 9 5 % C I: 1.1 7, 2.3 6 ) T a m su lo s in 1.4 2 ( 9 5 % C I: 1.0 0, 2.0 5 ) 0 5 1 0 O d d s r a t io (9 5 % C I) Oelke M et al. Expert Opin Drug Saf 2014;13:1187-97

Kejadian efek samping Tamsulosin 0.2 mg lebih kecil dibandingkan dengan Silodosin P<0.0001 3 pts treated with silodosin discontinued treatment due to adverse events: diarrhoea (N=2) and difficult urination (N=1) Watanabe T et al. J Int Med Res 2011;39:129-42

Only Tamsulosin have study for 6 years Therapy (remains effective in the long term)* Narayan P et al. J Urol 2003;170:498-502 * The other alpha blockers have 52 weeks (approximately 1 year) long term treatment study All changes relative to baseline P<0.05 N= 600 600 573 516 461 418 109

Alasan untuk memilih Obat BPH Alasan Tamsulosin 0.2 mg (% of pts) Silodosin (% of pts) Efikasi yang bagus 27% 13% Tidak ada/sedikit efek samping 20% 2% Memilih dosis 1 x sehari 17% 0% Alasan lain 6% 6% Neither (% of pts) Total 70% 21% 8% Proporsi lebih tinggi pada pasien laki-laki memilih Tamsulosin 0.2 mg/hari diatas Silodosin dan memilih menggunakan Tamsulosin untuk pengobatan lanjutan Tamsulosin 0.2 mg/d dilaporkan pasien efektif dan aman Watanabe T et al. J Int Med Res 2011;39:129-42

5α-REDUCTASE INHIBITORS

5α-Reductase Inhibitors

Mekanisme Kerja 5 α -Reductase Inhibitor Testis Chlormadinone (Prostal) Testosterone Testosterone Dihydrotestosterone (DHT) Androgen receptors Finasteride (Proscar) 5α -reductase Protein synthesis Prostate

5α-Reductase Inhibitors Keuntungan Menurunkan ukuran prostat 20-30% memperbaiki I-PSS ~15% Memperbaiki secara moderat urinary flow rates Menurunkan risiko retensi urin Menurunkan risiko operasi Efikasi jangka panjang Disadvantages Tidak direkomendasikan untuk ukuran prostat <40ml Efek samping menurunkan fungsi seksual hingga 12% dari pasien Menurunkan serum levels PSA, sehingga dapat menutupi deteksi dari kanker prostat Perlu waktu 6 untuk mencapai efikasi maksimal Tidak ada efek terhadap komponen otot halus dari BPH de la Rosette J, et al, 2002. EAU guidelines on benign prostatic hyperplasia.

5α-reductase Inhibitors: Tolerabilitas AE yang dilaporkan terkait dengan disfungsi seksual termasuk: Penurunan libido Disfungsi ereksi Kelainan ejakulasi (lebih jarang) Ginekomasti muncul di ~ 1-2 % pasien Treatment of non-neurogenic male LUTS. European Association of Urology, 2010

J Sex Med 2008;5:2917 2924 5- Alpha Reductase Inhibitor related with ED Results : Sexual AEs are reported in clinical trials at rates of 2.1% to 38%. The most common sexual AE is ED, followed by EjD and decreased libido

The true fact about 5ARI Efek samping berupa keluhan seksual dilaporkan sekitar 2.1% to 38% pada terapi mengunakan obat golongan 5ARI Disfungsi ereksi -ED merupakan efek penting mempengaruhi yg kualitas hidup pasien, kepercayaan dirinya dan kemampuan membina hubungan relasi yang intim Eldemir.F, et al. J Sex Med 2008;5:2917 2924

Differentiation from Anti-androgen Drugs Anti-androgen drugs Diminum 3-6 bulan untuk menimbulkan efikasi (menurunkan volume prostat) Tamsulosin Hanya 4 hari pengobatan terjadi peningkatan perbaikan dan urodinamik Perbaikan gejala dan urodinamik yang tidak cukup Perbaikan gejala dan urodinamik terlihat Kejadian impotensi dan penurunan libido lebih tinggi Tidal ada kejadian dari impotensi atau penurunan libido 29

TAKE HOME MESSAGE Obat-obat yang biasa diberikan untuk terapi BPH adalah alpha blocker dan 5-ARI Tamsulosin salah satu golongan alpha-blocker yang memiliki efikasi dan toleransi yang baik untuk pasien-pasien BPH Tamsulosin dengan nama dagang Harnal-D dan Harnal OCAS adalah satu-satunya jenis tamsulosin yang terdaftar dalam e- catalogue BPJS

TAKE HOME MESSAGE Obat-obat yang biasa diberikan untuk terapi BPH adalah alpha blocker dan 5-ARI Tamsulosin salah satu golongan alpha-blocker yang memiliki efikasi dan toleransi yang baik untuk pasien-pasien BPH Tamsulosin mempunyai safety profile yang baik dibandingkan dengan non sub type α-blocker selektif. Efek samping kardiovaskular lebih kecil dibandingkan α-blocker yang lain Ejakulasi abnormal pada Silodosin lebih tinggi dibandingkan Tamsulosin 70% pasien memilih menggunakan Tamsulosin untuk pengobatan BPH.

THANK YOU FOR YOUR ATTENTION