BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PENUTUP. Liberalisasi perdagangan merupakan salah satu tujuan organisasi

BAB I PENDAHULUAN. artikan sebagai kesepakatan dari kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan. sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. membuat perubahan dalam segala hal, khususnya dalam hal perdagangan. Era

PERLINDUNGAN RAHASIA DAGANG DALAM KERANGKA TRIPs. Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister Hukum. Program Studi Ilmu Hukum

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian yang sangat pesat telah. mengarah kepada terbentuknya ekonomi global. Ekonomi global mulai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG

-2- No.1996, 2015 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36/M-DAG/PER/5/2012 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Produk Pertanian dan K

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/5/2012

BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Standar Nasional Indonesia. Pemutus Sirkit. Proteksi Arus. Rumah Tangga.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri garmen semakin mengglobal. Perkembangan ini dimulai

PERDAGANGAN INTERNASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG

1. Pengertian dan Latar Belakang Globalisasi.

SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. sehingga perdagangan antar negara menjadi berkembang pesat dan tidak hanya

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

BAB I PENDAHULUAN. Di kawasan Indonesia sendiri telah diberlakukan perdagangan bebas ASEAN-

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Kota Pekalongan, Jawa Tengah, sudah sejak lama terkenal dengan

ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional.

BAB IV PENUTUP. IV.1 Kesimpulan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN HAK KEKAYAAN INDUSTRI (HAKI)

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan bisnis yang berkembang sangat pesat. perhatian dunia usaha terhadap kegiatan bisnis

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INDUSTRI DALAM NEGERI DARI PRAKTEK DUMPING

BAB I PENDAHULUAN. secara signifikan meningkat dengan pesat, khususnya ketika ekonomi

Waspada Keracunan Akibat Produk Pangan Ilegal

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang

BAB I PENDAHULUAN. dan budaya. Salah satu yang populer diantaranya, berasal dari bidang fashion

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

DAFTAR PUSTAKA. Afrillyanna Purba, S.H., M.H., Perlindungan Hukum Seni Batik Tradisional

Kinerja Ekspor Nonmigas Bulan Februari 2011 Terus Menguat Menuju Pencapaian Target Ekspor

BAB I P E N D A H U L U A N. tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi

RESUME. Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan. biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA,

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR TOMAT INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) PENDAHULUAN

DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS ASEAN CINA BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA (Studi Kasus : Dampak pada Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia (TPT))

DAFTAR PUSTAKA. Fuady, Munir, 2005, Hukum Pailit Dalam Teori Dan Praktek, PT Citra Aditya. 2013, Teori-Teori Besar (Grand Theory) Dalam Hukum, Kencana

PENGATURAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ASEAN-CHINA FREE TRADE AREAL (ACFTA) DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA

P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/PMK.010/2018 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN TERHADAP IMPOR

BAB I PENDAHULUAN. Negara. Kemajuan perindustrian tidak lepas dari peran pemerintah. memberi kemudahan di sektor perizinan industri.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

BAB I PENDAHULUAN. anggota ASEAN pada ASEAN Summit di Singapura pada Juni Pertemuan tersebut mendeklarasikan pembentukan Asian Free Trade Area

2 Perdagangan, yaitu pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan terhadap impor produk steel wire rod; d. bahwa dalam rangka menindaklanjuti hasil penyeli

2016, No c. bahwa Menteri Perdagangan melalui surat Nomor: 330/M- DAG/SD/4/2016 tanggal 14 April 2016 hal Permohonan Perubahan Peraturan Menter

I. PENDAHULUAN. Globalisasi perdagangan internasional memberi peluang dan tantangan bagi

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan. Perbankan, dalam pasal 1 angka 2 dinyatakan bahwa:

KP 424 KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Transkripsi:

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian melalui pengumpulan data di Provinsi Kalimantan Barat, maka dapat dikemukanan kesimpulan mengenai kebijakan yang diambil pemerintah Kalimantan Barat untuk melindungi produk-produk lokalnya dari ancaman produk China akibat pemberlakuan ACFTA yaitu dengan memberlakukan Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk semua produk-produknya. Hal ini diberlakukan mengingat daerah Kalimantan Barat merupakan Entry Point (pintu masuk) barang-barang luar negeri antara lain : Elektronika, mainan anak-anak, alas kaki, pakaian jadi serta makanan dan minuman yang akan mengancam bagi industri komoditi tersebut yang sentra produksinya ada di pulau Jawa dan sekitarnya. Selain itu juga, untuk menghadapi ACFTA 2010 langkah-langkah atau kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kalimantan Barat antara lain : 1. Meningkatkan daya saing ekspor dengan memeperhatikan faktor langsung dan tidak langsung. 2. Melakukan penelitian dan pengembangan teknologi sendiri disamping intensifikasi alih teknologi dan membeli teknologi 3. Mengeksploitasi keunggulan-keunggulan nasional / daerah menggunakan teknologi ciptaan sendiri seperti : listrik bio diesel, listrik lahan gambut. 56

57 B. Saran Berdasarkan uraian kesimpulan tersebut, menjadi penting untuk membuat saran agar Pemerintah Kalimantan Barat secepatnya memberlakukan standardisasi untuk melindungi produk-produk lokalnya dan memberi batasan untuk produk-produk China yang masuk ke pasaran secara bebas mengingat Kalimantan Barat sebagai entry piont untuk masuknya produk-produk luar. Sehingga sangat diharapkan dan perlu dipertimbangkan agar pemberlakuan peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 56/M-Dag/Per/12/2008 yang berlaku efektif sampai dengan Desember 2010 dapat diperpanjang pemberlakuannya sebagai salah satu alat pencegahan masuknya produk dari luar. Selain itu pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah juga diharapkan untuk mendukung adanya negosiasi ulang terhadap pemberlakuan ACFTA ini, agar pemberlakuan ACFTA ini bisa menguntungkan bagi kedua negara dan tidak hanya menguntungkan China saja. Sehingga perdaganan bebas antara Indonesia dan China ini tidak berjalan berat sebelah atau tidak seimbang yang merugikan berbagai macam sektor sampai ke daerah-daerah serta memberikan perlindungan dengan memberikan hak paten untuk produk-produk lokal kita, sehingga Hak atas Kekayaan Intelektual terlindungi, seperti yang di himbau oleh WTO.

DAFTAR PUSTAKA Buku Diperindag Kalimantan Barat, 2009, Liberalisasi Perdagangan ASEAN-China Free Trade Area 2010, Pontianak. Endang, Prof. Sumiarni, 2009, Handout : Mata Kuliah Metodologi Penelitian Hukum, Yogyakarta. Hadikusuma, Hilman, 1995, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau skripsi Ilmu Hukum, CV. Mandar Maju, Bandung. Huala Adolf, 2005, Hukum Ekonomi Internasional, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Munir Fuady, 2004, Hukum Dagang Internasional (Aspek Hukum dari WTO), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. N. Rosyidah Rakhmawati, 2006, Hukum Ekonomi Internasional Dalam Era Global, Bayumedia Publishing, Jawa Timur. Nana Sujana, 1998, Tuntunan Penyusunan Karya Penulisan Ilmiah Makalah Disertasi, Sinar Baru, Bandung. Nursalam Sianipar, 2001, Aspek Hukum Peran Serta Pemerintah Dalam Mengantisipasi Pasar Bebas, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta. Winantyo, 2008, Mayarakat Ekonomi ASEAN (2015) Memperkuat Sinergi ASEAN Di Tengah Kompetisi Global, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Y. Triyana SH., M.Hum., 2009, Handout Hukum Ekonomi Internasional.

Artikel Harian Kompas, Senin, 11 April 2011, Sumber : Litbang Kompas, diolah dari BPS, Kementrian Perdagangan dan CEIC 2011 : Bank Indonesia, 2010. Harian Kompas, Selasa tanggal 12 April 2011, Sumber : Kementrian Perindustrian. Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2002, Jakarta: Balai Pustaka. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Windy Novia, Kashiko. Internet www.awal pembentukan CAFTA.com diakses bulan Juni 2010 www.awal pembentukan AFTA.com diakses bulan Juni 2010 www.pemerintah daerah.com diakses bulan Juni 2010 www.afta.com diakses bulan juni 2010 www. Suarakarya-online.com diakses bulan Juni 2010 http://suaramerdeka.com diakses bulan April 2011 http://www.depdag.go.id diakses bulan April 2011 http://www.map.ugm.ac.id diakses bulan April 2011 http://saepudinonline.wordpress.com diakses bulan April 2011 Peraturan Perundang-Undangan 1. Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, dan pasal 20 ayat (1). 2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 Tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). (Tambahan Lembaran Negara Nomor 3564)

3. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 56/M- DAG/PER/12/2008 Tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu. 4. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 53/PMK.011/2007 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Dalam Rangka ASEAN-China Free Trade Area.