PENDIDIKAN PANCASILA (2 SKS)

dokumen-dokumen yang mirip
MANAJEMEN, KEBIJAKAN OPERASIONAL, DAN KINERJA SEKOLAH BERWAWASAN BUDI PEKERTI.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau

BAB I PENDAHULUAN. pribadi dalam menciptakan budaya sekolah yang penuh makna. Undangundang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dapat diartikan secara umum sebagai usaha proses

BAB I PENDAHULUAN. demokratis senantiasa memberi perhatian terhadap pendidikan melalui regulasi yang mengatur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan

I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan salah satu upaya kebijakan dari pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. terpelajar dengan sendirinya berbudaya atau beradab. Namun kenyataan

Modul ke: PANCASILA 1FEB PENGANTAR PANCASILA. Fakultas. Melisa Arisanty. S.I.Kom, M.Si. Program Studi MANAJEMEN

PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. serta bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang

MODUL 1 PANCASILA. PENDAHULUAN (Landasan Pendidikan Pancasila) Dr. Dadan Anugrah, M.Si. Modul ke: Fakultas Ekonomi. Program Studi Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan karakter (character building) generasi bangsa. Pentingnya pendidikan

PENDIDIKAN PANCASILA. Pendahuluan. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Dalam konteks kebangsaan, pendidikan berperan untuk menyiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5).

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Oleh: DRS.H.IMAM GHOZALI, MM

BAB I PENDAHULUAN. memiliki eksistensi yang lebih bermartabat. Pendidikan formal pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh pendidikan yang seluas-luasnya. Pendidikan dapat dimaknai sebagai

BAB I PENDAHULUAN. peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan. mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan Sistem

Pendidikan Pancasila. Berisi tentang Kontrak Perkuliahan Pendidikan Pancasila. Dosen : Sukarno B N, S.Kom, M.Kom. Modul ke:

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia

I. PENDAHULUAN. individu. Pendidikan merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sistem yang harus dijalankan secara terpadu dengan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam dunia pendidikan khususnya, pelajaran akuntansi sangat

Pendidikan Kewarganegaraan (IPB 105) TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. sistem yang lain guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan hal yang utama untuk membentuk karakter siswa yang

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi perkembangan ini dan harus berfikiran lebih maju. Ciri-ciri

I PENDAHULUAN. dan pembangunan pada umumnya yaitu ingin menciptakan manusia seutuhnya. Konsep

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN. dan Undang Undang Dasar Pendidikan Nasional harus tanggap. terhadap tuntutan perubahan zaman. Untuk mewujudkan cita-cita ini,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan untuk mengubah perilaku

BAB I PENDAHULUAN. dimiliki agar dapat hidup bermasyarakat dan memaknai hidupnya dengan nilai-nilai pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. bersaing di era globalisasi dan tuntutan zaman. Perkembangan ilmu

2015 PERSEPSI GURU TENTANG PENILAIAN SIKAP PESERTA DIDIK DALAM KURIKULUM 2013 DI SMA NEGERI KOTA BANDUNG

EVALUASI PROGRAM DAN PROSES PEMBELAJARAN

KONSEP DAN MODEL PENGEMBANGAN TAHFIDZUL QUR AN DI MADRASAH. (Madrasah Tidak Berbasis Asrama)

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian prasyarat Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Kewarganegaraan ROSY HANDAYANI A.

BAB I LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tersebut sebenarnya dapat menjadi modal yang kuat apabila diolah dengan

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan potensi ilmiah yang ada pada diri manusia secara. terjadi. Dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menyengsarakan orang lain bahkan bangsa lain. Oleh karena itu perlu mengolah

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan dinamika perubahan sosial budaya masyarakat. mengembangkan dan menitikberatkan kepada kemampuan pengetahuan,

BAB I PENDAHULUAN. mencerdaskan kehidupan bangsa juga sekaligus meningkatkan harkat dan. peningkatan kehidupan manusia ke arah yang sempurna.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang MasalahPendidikan di Indonesia diharapkan dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan pendidikan diharapkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Banyak negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan dalam mewujudkan sumber

BAB I PENDAHULUAN. memajukan kesejahteraan umum dan mewujudkan ketertiban dunia, serta ingin

I. PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB 1 PENDAHULUAN. menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan yang berjalan

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. hidup yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu.

Memahami Budaya dan Karakter Bangsa

BAB I PENDAHULUAN. dijelaskan secara jelas pada uraian berikutnya.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya

BAB I PENDAHULUHAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang harus dikembangkan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2

I. PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

PENDIDIKAN PANCASILA (2 SKS) Semester Gasal 2012/2013 suranto@uny.ac.id 1

A. Pendahuluan Selama ini pendidikan cenderung diartikan aktivitas mempersiapkan anak-anak dan pemuda untuk memasuki kehidupan masyarakat orang dewasa dan dunia kerja. Kurikulum yang umum diberlakukan dewasa ini, menunjukkan bahwa orientasi pendidikan sangat didominasi oleh mata pelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan aspek penguasaan Ipteks / keilmuan / akliyah. Sedangkan yang berorientasi pada pembinaan moral / kepribadian / nakliyah hanya sedikit sekali diberikan. suranto@uny.ac.id 2

Pendahuluan (Lanjutan) Permasalahannya adalah bahwa pendidikan yang mengutamakan pengajaran ipteks melupakan pendidikan moral / kepribadian akan menghasilkan profil peserta didik yang kuat di ipteks namun lemah di moral. Unggul di cipta tetapi lemah di rasa dan karsa. suranto@uny.ac.id 3

Pendahuluan (Lanjutan) Kalau sudah demikian, ketika berinteraksi di masyarakat maupun di dunia kerja, para pemuda hanya pandai atau terampil dalam ilmu dan teknologi, tetapi gagap moral dan etika. Akibatnya cipta tidak dipandu oleh rasa dan karsa. Ilmu tidak dipandu etika dan moral. Akliyah tidak dipandu nakliyah dan amaliah. Hal ini berbahaya, ketika iptek itu diimplementasikan dalam dunia kerja, maka ipteks itu tidak dikendalikan atau dikawal oleh moral budi pekerti sehingga serakah, merusak, merugikan bangsa. suranto@uny.ac.id 4

Pendahuluan (lanjutan) Marilah kita renungkan catatan buruk berikut ini: Indonesia adalah perusak hutan tropis rangking pertama di dunia Korupsi merajalela Penegakan hukum lemah Tingginya frekuensi pelanggaran nilainilai agama, sosial, budaya, dan etika. suranto@uny.ac.id 5

Pendahuluan (lanjutan) Nah, pendidikan terpanggil untuk membenahi hal ini. Pendidikan Pancasila tidak boleh dikesampingkan. Dalam implementasinya, ipteks harus dipandu moral yang baik. suranto@uny.ac.id 6

Pendahuluan (lanjutan) Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks) Moral Tinggi Rendah Baik Buruk A MU, MS, MK C KLK, KD,BDNG B MKT D SM atau TM 7 suranto@uny.ac.id

Pendahuluan (Lanjutan) Pertanyaannya, ke kotak manakah pendidikan ini akan dibawa: Kotak A, B, C, atau D? By design bangsa Indonesia sangat mantap ingin membawa pendidikan ini ke kotak A, ialah pendidikan yang memiliki keseimbangan dalam pengembangan ipteks dan moral. Pasal 31 ayat (3) UUD 1945, menugaskan kepada pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta moral dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. suranto@uny.ac.id 8

Pendahuluan (lanjutan) Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, yang menyatakan Mengarahkan orientasi pendidikan yang mengutamakan aspek pengenalan menjadi pendidikan yang bersifat terpadu dengan menekankan ajaran moral yang bersumber dari ajaran agama dan budaya luhur bangsa serta pendidikan watak dan budi pekerti yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional dan spiritual, serta amal kebajikan. suranto@uny.ac.id 9

Pendahuluan (lanjutan) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 ditegaskan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. suranto@uny.ac.id 10

B. Latar Belakang Dilaksanakan Pend. Pancasila di Perguruan Tinggi Pengalaman sejarah Perkembangan situasi global dunia: pertukaran informasi semakin cepat, interaksi dengan ideologi negara lain. Pergantian generasi suranto@uny.ac.id 11

C. Tujuan Pendidikan Pancasila Untuk menanamkan pengetahuan dan pemahaman Pancasila sebagai dasar falsafah Bangsa Indonesia Untuk menumbuhkan kesadaran, sikap, dan perilaku yang bersendikan nilai-nilai Pancasila Mahasiswa sebagai warganegara mempunyai kemampuan untuk merefleksikan dan merealisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. suranto@uny.ac.id 12

D. Kompetensi Berpikir dan bersikap rasional Berpandangan luas sebagai manusia berpendidikan Berjiwa demokratis Bertanggungjawab sesuai hati nurani Mengenali masalah hidup berbangsa dan bernegara serta pemecahannya suranto@uny.ac.id 13

E. Materi Pendidikan Pancasila (Silabus) Pengantar Pancasila dalam konteks historis Pancasila sebagai ideologi nasional Pancasila dlm konteks ketatanegaraan UUD 1945 Pancasila sebagai paradigma kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara suranto@uny.ac.id 14

F. Mengapa Dibutuhkan Komitmen Pendidikan Moral Pancasila? Konsep pendidikan dan pembangunan yang berpusat kepada manusia seutuhnya, lahir batin, iptek moral, sangat dibutuhkan sebagai rambu ataupun sebagai pemandu agar pelaksanaan pembangunan tidak salah arah mengejar kemajuan kuantitatif ataupun ekonomi semata. suranto@uny.ac.id 15

Mengapa Dibutuhkan Komitmen Pendidikan Moral Pancasila? (lanjutan) Dewasa ini masyarakat pendidikan sedang menghadapi tantangan berat yang merupakan konvergensi dari berbagai dampak globalisasi. Berbagai masalah sebagai dampak globalisasi hanya dapat diatasi dengan solusi yang berbasis peningkatan kualitas manusia, khususnya berbasis pada peningkatan iptek dan moral. suranto@uny.ac.id 16

F. Pendidikan Pancasila sbg Pendidikan Moral Secara operasional, moral merupakan perilaku positif yang tercermin dalam kata, perbuatan, pikiran, sikap, perasaan, keinginan, dan hasil karya. Pengertian Pendidikan moral dapat dirumuskan secara konseptual dan operasional. Secara konsepsional pendidikan moral merupakan : Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang bermoral dan berbudi luhur dalam segenap peranan dan perilakunya di masa yang akan datang. suranto@uny.ac.id 17

Pendidikan Moral (Lanjutan) Secara operasional pendidikan moral merupakan upaya untuk membekali peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal bagi masa depannya, agar memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan terhadap sesama makhluk, sehingga terbentuk pribadi seutuhnya yang tercermin pada perilaku berupa ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja, dan hasil karya berdasarkan nilainilai agama serta norma dan moral luhur bangsa. suranto@uny.ac.id 18

G. Bagaimana Pendidikan Moral Harus Dilakukan? Pendekatan yang menyeluruh (holistic aproach) Penciptaan lingkungan sekolah / kampus yang kondusif Mengajarkan moral budi pekerti melalui peneladanan, contoh, cerita, kisah, kata-kata hikmah, puisi dengan cara mengintegrasikannya dalam seluruh mata pelajaran pada kurikulum. Dilakukan dengan pembiasaan-pembiasaan di samping keteladanan dan motivasi. Melibatkan seluruh unsur yang ada di sekolah / kampus termasuk stakeholder dalam menentukan nilai-nilai moral budi pekerti yang akan diajarkan dan metode yang akan digunakan serta mendistribusikan nilai-nilai tersebut dalam sernua mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan di sekolah / kampus. suranto@uny.ac.id 19

Contoh visi (hanya sekedar bahan banding dan pihak sekolah dapat merumuskan yang lain): UNGGUL DALAM PRESTASI DAN AKHLAK MULIA BERIMAN, TERDIDIK, DAN BERBUDI PEKERTI Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Visi : Menghasilkan insan cendekia, bernurani, mandiri. Motto : Jadikan ibadah sebagai dasar berprestasi. Budaya IKHLAS: I novatif K omunikatif H umanis L oyal A gamis S aintis suranto@uny.ac.id 20

KONTRAK BELAJAR PENILAIAN: UTS : 25 % UAS : 30% TUGAS : 35 % HADIR : 10 % KETERLAMBATAN MAKS: 30 MENIT UJIAN: OPEN BOOK suranto@uny.ac.id 21

Terima kasih suranto@uny.ac.id 22