PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1964 TENTANG PENETAPAN, PENGHARGAAN DAN PEMBINAAN TERHADAP PAHLAWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1964 TENTANG PENETAPAN, PENGHARGAAN DAN PEMBINAAN TERHADAP PAHLAWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Le

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1964 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN/TUNJANGAN KEPADA PENRINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN/KEMERDEKAAN

2015, No Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1961 TENTANG TANDA KEHORMATAN BINTANG BHAYANGKARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 1958 TENTANG PEMBERIAN TANDA-TANDA KEHORMATAN BINTANG SAKTI DAN BINTANG DARMA

NOMOR 20 TAHUN 1982 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK PERTAHANAN KEMANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

No.1086, 2014 KEMENHAN, Pemakaman. Veteran. Penyelenggaraan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 1958 TENTANG PEMBERIAN TANDA-TANDA KEHORMATAN BINTANG SAKTI DAN BINTANG DARMA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NO.7 TAHUN 1967 TENTANG VETERAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PJ. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2003 TENTANG TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA DHARMA NUSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 65 TAHUN 1958 (65/1958) Tanggal: 11 AGUSTUS 1958 (JAKARTA)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENGUSULAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG -UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG VETERAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG VETERAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.725, 2010 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Perawatan. Pemakaman. TNI. PNS.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1959

I. PEMOHON Kasmono Hadi, S.H, sebagai Pemohon.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2003 TENTANG TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA DHARMA NUSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 56 TAHUN 1999 TENTANG RAKYAT TERLATIH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 1999 TENTANG RAKYAT TERLATIH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SEBAGI DASAR PELESTARIAN NILAI K2KS KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 1 TAHUN 1964 TENTANG PEMBINAAN PERFILMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG DEWAN GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PENGUASA PERANG TERTINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1962 TENTANG HAK DAN KEDUDUKAN SUKARELAWAN PEMBEBASAN IRIAN BARAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1964 TENTANG SATYALANCANA WIRA DHARMA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PENGUASA PERANG TERTINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1962 TENTANG PERBANTUAN KOMPONEN SIPIL PADA GUBERNUR MILITER MANDALA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG DEWAN GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1958 TENTANG TANDA-TANDA PENGHARGAAN UNTUK ANGGOTA ANGKATAN PERANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG DEWAN GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30/PMK.05/2015 TENTANG

Sumber :

PENDIRIAN PERUSAHAAN NEGARA TELEKOMUNIKASI Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1965 Tanggal 6 Juli 1965 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1966 TENTANG PEMBERIAN PENSIUN, TUNJANGAN BERSIFAT PENSIUN DAN TUNJANGAN KEPADA MILITER SUKARELA

2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, T

2017, No Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2010

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG DEWAN GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTAHANAN. PNS. Pokok- Pokok. Pembinaan.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1965 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN NEGARA REASURANSI UMUM INDONESIA (GAYA BARU)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1963 TENTANG TANDA KEHORMATAN BINTANG JASA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Repu

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR SELATAN NOMOR : 08 TAHUN 2005 T E N T A N G

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 1965 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN POS DAN GIRO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1966 TENTANG PEMBERIAN PENSIUN, TUNJANGAN BERSIFAT PENSIUN DAN TUNJANGAN KEPADA MILITER SUKARELA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1966 TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN KEPADA VETERAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1961 TENTANG PENDIRIAN BADAN PIMPINAN UMUM PERUSAHAAN DAGANG NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 1965 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN POS DAN GIRO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEMENHAN. Pembina Administrasi. Veteran. Dukungan.

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 213 TAHUN 1961 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PIMPINAN UMUM ASURANSI JIWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502);

CADANGAN NASIONAL Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1963 Tanggal 30 Nopember 1963 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1964 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN NEGARA "KOJA" PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1968 TENTANG TANDA KEHORMATAN BINTANG "JALASENA" PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG NOMOR 34 TAHUN 1985 TENTANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1990 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1965 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN NEGARA ASURANSI KERUGIAN JASA RAHARJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1958 TENTANG TANDA-TANDA PENGHARGAAN UNTUK ANGGOTA ANGKATAN PERANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2010 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KOMPONEN CADANGAN PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2003 TENTANG TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA DHARMA NUSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1964 TENTANG PEMBINAAN PERFILMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.699,2012

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENDIRIAN PERUSAHAAN NEGARA ASURANSI JIWASRAYA Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1965 Tanggal 24 Desember 1965 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2005 TENTANG BADAN KOORDINASI KEAMANAN LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

PERATURAN PRESIDEN NOMOR 33 TAHUN 1964 TENTANG PENETAPAN, PENGHARGAAN DAN PEMBINAAN TERHADAP PAHLAWAN PRESIDEN, Menimbang : bahwa perlu mengadakan peraturan tentang penetapan, penghargaan dan pembinaan terhadap Pahlawan dan taman makam Pahlawan; Mengingat : 1. pasal-pasal 15 dan 30 ayat 1 Undang-undang Dasar; 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 241 tahun 1958. tentang Tata-cara Penetapan Pahlawan Kemerdekaan Nasional; 3. Keputusan Presiden No. 239 tahun l954. Mendengar : Presidium Kabinet, Menteri Koordinator Kompartimen Pertahanan/Keamanan dan Menteri Koordinator Kompartimen Kesejahteraan; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN, PENGHARGAAN DAN PEMBINAAN TERHADAP PAHLAWAN. BAB I

- 2 - BAB I PENETAPAN. Pasal 1. Yang dimaksudkan dengan "Pahlawan" dalam peraturan ini yalah: a. Warga Negara Republik Indonesia yang gugur atau tewas atau meninggal dunia karena akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa-perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan Bangsa; b. Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa-pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan Bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacad nilai perjuangan karenanya. Pasal 2. (1) Yang dimaksudkan dengan "jasa" adalah nilai kemenangan dan/atau prestasi yang telah dicapai, termasuk pula segala tindak dan/atau perbuatan yang menyebabkan tercapainya kemenangan dan/atau prestasi tersebut. (2) Yang dimaksudkan dengan "pengorbanan" adalah penderitaan dan/atau kerugian yang terjadi, akibat suatu pendharmaan diri dalam pelaksanaan tugas dan/atau perjuangan untuk kepentingan Negara dan Bangsa. Pasal 3

- 3 - Pasal 3. Seorang ditetapkan sebagai Pahlawan dengan Keputusan Presiden atas usul: a. Menteri yang diserahi urusan Pertahanan dan Keamanan Negara untuk anggota-anggota Angkatan Bersenjata dan orang lain yang melakukan tugas-tugas pertahanan atau yang diperbantukan ataupun termasuk dalam lingkungan Angkatan Bersenjata dalam melakukan tugasnya; b. Menteri yang diserahi urusan Kesejahteraan untuk Warga Negara Indonesia lainnya. Pasal 4. (1) Disamping pengakuan dengan Keputusan Presiden yang dimaksudkan dalam pasal 3 peraturan ini kepada Pahlawan yang bersangkutan diberikan Tanda Kehormatan berupa Bintang sesuai dengan derajat ketinggian jasanya. (2) Bilamana seorang yang dinyatakan sebagai Pahlawan telah gugur, tewas atau meninggal dunia, maka Tanda Kehormatan tersebut dianugerahkan kepadanya secara anumerta. Pasal 5. Seorang Pahlawan diwajibkan: a. selalu mempertahankan kehormatan dan keagungan derajat kepahlawanannya; b. selama

- 4 - b. selama keadaan diri masih memungkinkan menyediakan diri untuk menjalankan tugas-tugas pembelaan Bangsa dan Negara menurut bidangnya masing-masing. Pasal 6. Tata-cara penetapan Pahlawan tersebut pada pasal 1 diatur lebih lanjut dalam peraturan tersendiri. BAB II. PENGHARGAAN. Pasal 7. Kepada Pahlawan diberikan hak-hak sebagai berikut: a. pengangkatan atau kenaikan pangkat dalam suatu kepangkatan Pegawai Negeri/Angkatan Bersenjata; b. bilamana seorang yang dinyatakan sebagai Pahlawan telah gugur, tewas atau meninggal dunia, maka pengangkatan atau kenaikan pangkat tersebut di atas diberikan kepadanya secara anumerta; c. perawatan dan pemeliharaan jenazah seorang Pahlawan serta pemakamannya di Taman Makam Pahlawan oleh Negara, yang akan diatur dengan peraturan tersendiri; d. Perawatan dan pemeliharaan jenazah seorang Pahlawan serta pemakamannya di Taman makam Pahlawan oleh Negara yang akan diatur dengan peraturan tersendiri; e. upacara pemakaman jenazah dengan upacara kebesaran militer, yang dilakukan menurut peraturan militer yang berlaku. Pasal 8

- 5 - Pasal 8. (1) Kepada Pahlawan atau kalau ia telah gugur, tewas atau meninggal dunia kepada keluarganya diberikan penghargaan berupa sejumlah uang sekaligus atau berkala untuk jangka waktu tertentu atau fasilitas dalam pekerjaan, pendidikan atau kesejahteraan pribadi dan keluarganya yang diatur dalam peraturan tersendiri. (2) Yang dimaksudkan dengan keluarga Pahlawan ialah: isteri/suami Pahlawan yang bersangkutan dan anak kandung/angkat menurut peraturan kepegawaian/perburuhan yang berlaku. BAB III. PEMBINAAN. Pasal 9. Untuk pembinaan Pahlawan dan nilai kepahlawanan serta pembinaan Taman Makam Pahlawan dibentuk sebuah Badan Pembina Pahlawan di Pusat dan di Daerah. Pasal 10. (1) Badan Pembina Pahlawan berkedudukan di bawah Menteri yang diserahi urusan kesejahteraan. (2) Keanggotaan Badan Pembina Pusat tersebut terdiri atas: 1. Menteri Sosial sebagai anggota merangkap Ketua; 2. Seorang anggota Staf Angkatan Bersenjata sebagai anggota merangkap Wakil Ketua I; 3. Seorang

- 6-3. Seorang anggota Staf Menteri Koordinator Kompartimen Kesejahteraan sebagai anggota merangkap Wakil Ketua II; 4. Seorang Wakil Departemen Angkatan Darat sebagai anggota; 5. Seorang Wakil Departemen Angkatan Udara sebagai anggota; 6. Seorang Wakil Departemen Angkatan Laut sebagai anggota; 7. Seorang Wakil Departemen Angkatan Kepolisian sebagai anggota; 8. Seorang Wakil Departemen Kejaksaan sebagai anggota; 9. Seorang Wakil Pengurus Besar Front Nasional sebagai anggota; 10. Seorang Wakil Departemen Dalam Negeri sebagai anggota; 11. Seorang Wakil Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan sebagai anggota; 12. Seorang Wakil Departemen Urusan Veteran dan Demobilisasi sebagai anggota; 13. Seorang Wakil Departemen Perburuhan sebagai anggota; 14. Seorang Wakil Departemen Sosial sebagai anggota merangkap Sekretaris. (3) Anggota-anggota Badan tersebut di atas diangkat dan diberhentikan oleh Menteri yang diserahi bidang kesejahteraan. Pasal 11. (1) Ditiap Daerah Tingkat I dibentuk sebuah Badan Pembina Pahlawan Daerah yang merupakan Badan vertikal dari Badan Pembina Pahlawan Pusat dan berkedudukan di bawah Ketua Panca Tunggal Daerah. (2) Keanggotaan

- 7 - (2) Keanggotaan Badan Pembina Pahlawan Daerah terdiri atas: 1. Kepala Pemerintah Daerah sebagai anggota merangkap Ketua; 2. Panglima Komando Daerah Militer Angkatan Darat atau Perwira Menengah yang ditunjuknya sebagai Anggota merangkap Wakil Ketua; 3. Seorang Wakil Angkatan Kepolisian Komisariat sebagai anggota; 4. Seorang Wakil dari Kejaksanaan di Daerah Tingkat I sebagai anggota; 5. Seorang Wakil Pengurus Daerah Front Nasional sebagai anggota; 6. Seorang Wakil Departemen Sosial di Daerah Tingkat I sebagai anggota; 7. Seorang Wakil Departemen Perburuhan di Daerah Tingkat I sebagai anggota; 8. Seorang Perwira Komando Daerah Militer Angkatan Darat sebagai anggota merangkap Sekretaris. (3) Anggota-anggota Badan tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Panca Tunggal Daerah. Pasal 12. (1) Badan Pembina Pahlawan Pusat bertugas: a. mengadakan penelitian, perencanaan dan pengawasan pelaksanaan dalam bidang kegiatan, administrasi, pembiayaan, pemeliharaan dan hal-hal lain yang bertalian dengan pembinaan Pahlawan dan derajat kepahlawanan; b. mengadakan

- 8 - b. mengadakan penelitian, perencanaan dan pengawasan pemeliharaan taman-taman Makam Pahlawan di Daerah-daerah baik mengenai administrasi, perencanaan, pembiayaan maupun halhal lain yang bertalian dengan pembinaan Taman Makam Pahlawan. (2) Badan Pembina Pahalwan Daerah bertugas: a. melaksanakan peraturan/ketentuan dari Pusat mengenai pembinaan Pahlawan dan derajat kepahlawanan termasuk soal- soal Taman Makam Pahlawan; b. melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan, pengurusan, dan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan yang termasuk dilingkungan daerahnya dengan mengingat ketentuan tersebut huruf ayat ini. Pasal 13. Dimana perlu di daerah-daerah Tingkat II tertentu dapat diadakan cabang dari pada Badan Pembina Pahlawan Daerah, yang susunan dan tugasnya ditentukan oleh Badan Pembina Pahlawan Daerah. BAB IV PEMBIAYAAN. Pasal 14. (1) Biaya yang diperlukan untuk penetapan, penghargaan dan pembinaan Pahlawan ditanggung oleh Negara. (2) Biaya

- 9 - (2) Biaya tersebut pada ayat (1) oleh Negara: a. dibebankan pada Anggaran Belanja Negara; b. dibebankan pada suatu Dana Khusus yang diadakan untuk pembinaan Pahlawan. Pasal 15. Pembebanan pada Anggaran Belanja Negara dan pengaturan lebih lanjut mengenai Dana Khusus tersebut pada pasal 14 ditetapkan dalam peraturan/ketentuan tersendiri. BAB V. PERALIHAN DAN PENUTUP. Pasal 16. (1) Semua penetapan, penghargaan dan pembinaan terhadap Pahlawan yang telah ada tetap berlaku, selama tidak bertentangan dengan peraturan ini. (2) Pelaksanaan peraturan ini diserahkan kepada Menteri yang diserahi urusan kesejahteraan c.q. Badan Pembina Pahlawan Pusat. (3) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri yang diserahi urusan kesejahteraan. Pasal 17. Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada hari ditetapkannya. Agar...

- 10 - Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1964. PD. PRESIDEN, ttd Dr. SUBANDRIO. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1964. SEKRETARIS NEGARA, ttd MOHD. ICHSAN. LEMBARAN NEGARA TAHUN 1964 NOMOR 92

PENJELASAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NO. 33 TAHUN 1964 TENTANG PENETAPAN, PENGHARGAAN DAN PEMBINAAN TERHADAP PAHLAWAN UMUM. Peraturan Presiden ini dimaksudkan untuk mengadakan penertiban dan perluasan mengenai penetapan, penghargaan dan pembinaan terhadap Pahlawan yang sesuai dengan ketentuan yang termaksud dalam Undang-undang Dasar pasal 30 yang berbunyi: bahwa tiap Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha-usaha pembelaan Negara. Sebagai suatu bangsa yang cinta akan Kemerdekaan Bangsa Negaranya, maka setiap rakyat rela mengorbankan jiwa dan raga guna membela kemerdekaan tersebut. Tidaklah dapat dihindarkan, bahwa dalam pengorbanan itu ada di antaranya yang meninggal dunia dengan telah menunjukkan keberanian dan ketabahan tekad melampaui serta melebihi kewajiban dalam melakukan tugas masing-masing. Hal ini sesuai pula dengan tuntutan revolusi kita untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang besar perlu adanya nation building dan character building. Pembinaan tersebut diantaranya yalah pembinaan terhadap para Pahlawannya. Oleh karenanya hanya bangsa yang dapat-menghargai Pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar dan sifat penghargaan itu perlu dan haruslah diwujudkan benar-benar untuk dapat menghayati pula mutu keagungan hidup dan kepribadian Bangsa kita sendiri. Disamping penghargaan terhadap Pahlawan-pahlawan tersebut di atas perlu pula adanya penghargaan bagi mereka Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah mereka melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan

- 2 - membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas atau perjuangan untuk negara yang telah dijalani dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak perbuatan yang menyebabkan mereka itu menjadi cacad perjuangan karenanya. Penghargaan itu akan diatur dalam bentuk penghargaan moril yaitu berupa Tanda-tanda Kehormatan (Bintang dan Satyalancana) atau berbentuk penghargaan material berupa fasilitas-fasilitas (jaminan sosial, pendidikan dls.) PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Mengingat bahwa revolusi Indonesia adalah simultan, maka tindak kepahlawanan terdapat disegala bidang, baik di bidang tugas perjuangan Angkatan Bersenjata maupun di bidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Dalam bidang-bidang perjuangan tersebut terdapat pahlawan-pahlawan yang telah gugur dan pahlawan-pahlawan yang masih hidup. Dalam sejarah perjuangan Bangsa maka golongan dan sifat pahlawan beserta tindak kepahlawanan menunjukkan adanya pembagian-pembagian, antara lain: a. menurut bidang tugas akan perjuangannya, b. menurut waktu dalam-mana tindak kepahlawanan diberikan- periode pre-revolusi, periode revolusi physik, periode revolusi pertahanan, periode pembangunan dan sebagainya. Pasal 2 Ayat 1: Ketentuan tingkat kepahlawanan diberikan dan diperhitungkan atas dasar besarnya arti jasa bagi perjuangan Bangsa Indonesia dan besarnya arti pengorbanan yang diberikan. Ayat 2:

- 3 - Ayat 2: Dengan pengorbanan dimaksudkan, antara lain: a. Gugur, yalah setiap Warga Negara Republik Indonesia yang menemui ajalnya dalam pertempuran untuk menentang setiap perkosaan yang akan merobohkan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (baik langsung atau karena luka-luka yang diperolehnya) dalam menjalankan tugas operasi atas perintah penguasa. b. Tewas, yalah setiap anggota alat-alat kekuasaan Negara Republik Indonesia yang menemui ajalnya dalam daerah operasi, karena dan dalam menjalankan tugas kewajibannya selain tugas operasi. c. Meninggal dunia berjasa, yalah setiap Warga Negara Republik Indonesia yang meninggal dunia dengan telah menunjukan keberanian dan ketabahan tekad melampaui serta melebihi kewajiban dalam melakukan tugas masing-masing dan yang semasa hidupnya belum pernah berkhianat terhadap negara Republik Indonesia. d. Penderitaan cedera mental (gila dan sebagainya) akibat dari pada pelaksanaan tugas Negara. e. Penderitaan cacad jasmaniah karena suatu siksaan/serangan lawan atau luka-luka akibat kecelakaan dalam rangka pelaksanaan tugas negara yang menyebabkan orang itu cacad jasmaniah. Pasal 3. Pengakuan Negara terhadap seorang sebagai pahlawan dinyatakan dengan surat-surat resmi: a. Surat Keputusan yang menyatakan secara resmi bahwa orang yang bersangkutan itu diakui sebagai pahlawan. b. Surat pernyataan resmi sebagai rasa ikut berduka cita Negara kepada ahli waris pahlawan yang telah gugur/tewas atau meninggal dunia. Pasal 4

- 4 - Pasal 4. Ayat 1: Tanda kehormatan berupa Bintang yang dapat dianugerahkan kepada seseorang yang diakui sebagai pahlawan: Bintang Republik Indonesia kelas I dan II, Bintang Maha Putra kelas I dan II, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara, Bintang Gerilya yang dianugerahkan bersama-sama dengan Bintang Sewindu Angkatan Perang atau Bintangbintang lainnya yang ditetapkan sederajat dengan yang tersebut diatas. Ayat 2: Syarat-syarat yang diperlukan yalah antara lain: a. Bahwa ia gugur/tewas,meninggal dunia karena akibat menjalani suatu kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas pembelaan Negara dan Bangsa, baik di dalam suatu tugas operasi langsung atau tidak langsung. b. Bahwa ia meninggal karena sakit biasa, akan tetapi ia pernah berbuat suatu jasa dengan tindak kepahlawanan yang nyata-nyata dapat mencapai suatu kemenangan atau prestasi yang besar artinya untuk Negara dan Bangsa dan yang sepanjang riwayat hidup berikutnya tidak pernah ternoda oleh suatu tindakan/perbuatan yang menyebabkan ia menjadi cacad perjuangan karenanya. Cukup jelas. Pasal 5 dan 6. Pasal 7. Tata-cara penetapan kenaikan pangkat atau pengangkatan diatur dalam peraturan tersendiri. Pasal 8. Ayat 1 : Penghargaan ini dimaksudkan sebagai penghargaan dalam bentuk materiil. Pasal 9. Disamping penghargaan terhadap pahlawan atau ahli warisnya perlu dipupuk jiwa kepahlawanan sebagai pendorong semangat Bangsa menuju kebesaran dan keagungan hidup kebangsaan nasional. Pasal 10

- 5 - Cukup jelas. Pasal 10 s/d 12. Pasal 13. Cabang Pembina Pahlawan Daerah adalah semata-mata pelaksana setempat daripada rencana-rencana dan petunjuk-petunjuk Badan Pembimbing Pahlawan Daerah. Cukup jelas. Pasal 14 dan 15. Pasal 16. Ayat 1: Dengan tidak mengurangi peraturan-peraturan yang telah dilakukan oleh pihak Angkatan Darat dan Departemen (Kementerian) Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, maka dengan dikeluarkannya peraturan ini selanjutnya materi dari peraturan itu dimasukkan dalam peraturan ini. Cukup jelas. Pasal 17. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 2685