II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA. Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak yang digunakan hampir

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. terjadi dalam diri seseorang dan interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai

TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran matematika. Dengan pemahaman, siswa dapat lebih mengerti akan

II. TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi. Pengembangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. juga mengalami sehingga akan menyebabkan proses perubahan tingkah laku pada

II. KERANGKA TEORITIS. kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang

TINJAUAN PUSTAKA. yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan. untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Komunikasi dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar pada hakikatnya merupakan aktivitas yang utama dalam serangkaian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angkaangka,

II. TINJAUAN PUSTAKA. dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. satunya model pembelajaran kooperatif. Secara bahasa kooperatif berasal dari

BAB II KERANGKA TEORITIS. mempunyai efek, dapat membawa hasil, berhasil guna. Efektivitas menunjukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu teori belajar yang cukup dikenal dan banyak implementasinya dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hamalik (2001, 37) belajar adalah memperoleh. pengetahuan melalui alat indra yang disampaikan dalam bentuk perangsang

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek yang biasanya

TINJAUAN PUSTAKA. Pemahaman berasal dari kata paham yang menurut Kamus Besar Bahasa

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. hidup manusia sebagai makhluk sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan. semua mencapai hasil belajar yang tinggi.

II. KAJIAN PUSTAKA. menyampaikan sesuatu seperti menjelaskan konsep dan prinsip kepada siswa.

II. KERANGKA TEORETIS. Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Matematika merupakan pelajaran yang terdiri dari berbagai konsep yang tersusun

BAB II KAJIAN PUSTAKA. awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. menjalankan pembelajaran di kelas. Ngalimun (2013: 28) mengatakan bahwa

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan latin Communis yang artinya membuat

I. PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan zaman di era globalisasi menuntut setiap negara untuk

BAB I PENDAHULUAN. Padahal metode ceramah memiliki banyak kekurangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006:145),

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) Menurut Nurhadi (2004: 112), pembelajaran kooperatif adalah pendekatan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Joice & Weil dalam Rusman (2012: 133), model pembelajaran adalah

PEMBELAJARAN AKUNTANSI MELALUI METODE KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS)

II. TINJAUAN PUSTAKA. lemah menjadi kuat, dari tidak bisa menjadi bisa. Seperti diakatakan oleh Slameto

I. PENDAHULUAN. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1

KAJIAN PUSTAKA. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa melakukan aktivitas. Pengajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. berfikir kompleks dan abstrak. Di sisi lain guru berupaya memperjelas dan. disajikan dengan strategi yang menarik bagi siswa.

TINJAUAN PUSTAKA. sepenuhnya dapat dijelaskan. Pada makna yang lebih kompleks pembelajaran. siswanya dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Huda (2014) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap

II. KAJIAN PUSTAKA. Manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari belajar, karena dengan

BAB I PENDAHULUAN. ini mengakibatkan hasil belajar siswa belum mencapai taraf optimal.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model

II. TINJAUAN PUSTAKA. melakukan kegiatan belajar sejak dilahirkan. Syah (2006: 92) mengatakan bahwa

TINJAUAN PUSTAKA. siswanya dan dalam perencanaannya berupa suatu metode pembelajaran, agar tercapailah

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Kajian Teori. 1. Aktivitas Belajar. Anak senantiasa berinteraksi dengan sekitarnya dan selalu berusaha

BAB II KAJIAN TEORI. emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. baik secara fisik maupun secara mental aktif.

BAB II KAJIAN TEORI. aktivitas untuk mencapai kemanfaatan secara optimal. yang bervariasi yang lebih banyak melibatkan peserta didik.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. kearah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2004:37) belajar merupakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran dapat dimaknai sebagai landasan dasar untuk membentuk. atau mendisain program pembelajaran didalam kelas.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan pengertian

BAB II LANDASAN TEORI. Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti. merupakan proses informasi ilmu dari guru kepada siswa.

Prosiding Seminar Nasional Volume 03, Nomor 1 ISSN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu masalah yang ada dalam pendidikan kita yaitu rendahnya mutu

Rata-rata UN SMP/Sederajat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Keberhasilan belajar tidak akan tercapai begitu saja jika pembelajaran tidak

I. PENDAHULUAN. dianamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau. dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan

x y 5x masih siswa yang menjumlahkan suku-suku yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang tinggi dalam proses belajar, tidak sekedar aktivitas fisik semata. Siswa

II. TINJAUAN PUSTAKA. siswa memahami konsep-konsep yang sulit dalam pemecahan masalah.

BAB II PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN THINK PAIR SQUARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

I. PENDAHULUAN. kreatif, terampil, bertanggung jawab, produktif, dan berakhlak. Fungsi lain dari

JURNAL SKRIPSI PEMBELAJARAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (PTK

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Salah satu tantangan yang cukup

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada prinsipnya proses belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. A. Minat. 1. Pengertian Minat Belajar. Besar kecilnya minat akan mempengaruhi keberhasilan bagi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nur Wulan Puji Permari, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Sutikno

TINJAUAN PUSTAKA. dan sasarannya. Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha untuk menumbuhkembangkan potensi SDM melalui

METODE THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

BAB II KAJIAN TEORITIK. a. Kemampuan Komunikasi Matematis

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. siswa

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan

PENGGUNAAN COOPERATIVE LEARNING

I. PENDAHULUAN. cara-cara berkomunikasi yang efektif, sehingga dapat dijadikan sebagai. kemampuan pemahaman konsep terhadap materi yang diajarkan.

Lasyuri, Peningkatan Hasil Belajar...

MENINGKATKAN AKTIVITAS BERPIKIR DAN BERDISKUSI SISWA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam proses pembelajaran matematika dan salah satu tujuan dari materi yang

I. PENDAHULUAN. Pendidikan bagi setiap bangsa merupakan kebutuhan mutlak yang harus

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan

Transkripsi:

8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Kooperatif 1. Teori Belajar Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah yang lebih baik. Menurut Sardiman (1986: 22), secara umum belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori. Skinner (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 9) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Menurut Bruner (dalam Nasution, 2008: 9), dalam belajar terdapat tiga fase, yakni: 1. Informasi Dalam setiap pelajaran diperoleh sejumlah informasi. 2. Transformasi Bantuan guru sangat diperlukan untuk mentransformasikan informasi ke dalam bentuk yang lebih abstrak agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. 3. Evaluasi Dinilai hingga manakah pengetahuan yang diperoleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.

9 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dimaknai bahwa belajar merupakan suatu perubahan seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan untuk memperoleh informasi berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai sikap yang dapat dimanfaatkan untuk memahami hal-hal yang lebih luas. 2. Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Lie (2007: 12) pembelajaran kooperatif disebut juga sebagai pembelajaran gotong-royong, yaitu merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas yang terstruktur. Rogger dkk (Huda, 2011: 29) menyatakan: Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Suherman dkk (2003: 260) berpendapat bahwa cooperative learning mencakupi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya serta menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim. Estiti ( dalam Gunawan, 2010), menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Siswa bekerja dalam tim (team) untuk menuntaskan tujuan belajar, 2. Tim terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi, sedang, dan rendah,

3. Bila memungkinkan tim merupakan campuran suku, budaya dan jenis kelamin. 10 Konsep utama dari pembelajaran kooperatif menurut Slavin (dalam Trianto, 2010: 61) sebagai berikut : 1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan. 2. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain. 3. Kesempatan yang sama untuk sukses bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai. Menurut Roger dan Jhonson (dalam Lie,2007 : 31), dalam pembelajaran kooperatif ada lima unsur yang harus diterapkan, yakni: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, (5) evaluasi proses kelompok. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dalam pembelajaran kooperatif para siswa bertanggung jawab untuk saling bekerjasama dalam kelompok. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai. Tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu team, maka dengan

11 sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilanketerampilan proses kelompok dan pemecahan masalah. (dalam Trianto, 2010: 57). Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa langkah-langkah. Langkahlangkah penerapan pembelajaran kooperatif menurut Huda (2011: 162), yaitu: a. Memilih metode, teknik, dan struktur pembelajaran kooperatif; b. Menata ruang kelas untuk pembelajaran kooperatif; c. Merangking siswa; d. Menentukan jumlah kelompok; e. Membentuk kelompok-kelompok; 1. Pengelompokkan permanen 2. Pengelompokkan non-permanen f. Merancang Team Bulding untuk setiap kelompok; 1. Kesamaan kelompok 2. Identitas kelompok 3. Yel-yel/sapaan/sorai-sorai kelompok g. Mempresentasikan materi pembelajaran; h. Membagikan lembar kerja siswa; i. Menugaskan siswa mengerjakan kuis secara mandiri; j. Menilai dan menskor kuis siswa; k. Memberi penghargaan pada kelompok; l. Mengevaluasi perilaku-perilaku (anggota) kelompok; Langkah-langkah pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2000: 10) dapat dilihat melalui tabel berikut: Tabel 2.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Fase Indikator Aktivitas Guru 1 Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa. 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

12 3 Mengorganisasikan siswa kedalam kelompokkelompok belajar 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas. 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu bentuk model pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda. B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) TPS dikembangkan oleh Frank Lyman dari University of Maryland. Lie (200 7: 57) mengemukakan bahwa TPS adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Menurut Nurhadi (2004: 23), TPS merupakan struktur pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa agar tercipta suatu pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan siswa. Menurut Huda (2011: 132) TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana namun sangat bermanfaat. Setiap siswa diminta untuk berpikir sendiri-sendiri,

13 kemudian berdiskusi dengan pasangan dan menjelaskan hasil jawaban yang telah disepakati pada siswa-siswa lain di depan kelas. Dengan pembelajaran TPS siswa dilatih untuk banyak berfikir dan saling tukar pendapat baik dengan teman sebangku ataupun dengan teman sekelas, sehingga dapat membantu memahami pemahaman konsep matematis siswa karena siswa dituntut untuk mengikuti proses pembelajaran agar dapat menjawab setiap pertanyaan dan berdiskusi. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara siswa satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Underwood (2000: 87) berpendapat bahwa jumlah latihan melalui kerja berpasangan dan kelompok yang didapat setiap siswa akan meningkat. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran TPS, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagai suatu tipe pembelajaran koopertaif TPS memiliki langkah-langkah terstentu. Menurut Ibrahim (2000: 26-27) langkah-langkah TPS ada tiga tahap yaitu: Tahap 1 : Thinking (berpikir) Kegiatan pertama dalam TPS yakni guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara individu untuk beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat.

Tahap 2 : Pairing (berpasangan) Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan. Tahap 3 : Sharing (berbagi) Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan TPS merupakan suatu tipe model pembelajaran kooperatif yang memproses informasi dengan mengembangkan cara 14 berpikir dan komunikasi siswa. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir ( think) atas pertanyaan atau masalah yang diberikan guru secara individu, berpasangan (pair) untuk berdiskusi, dan berbagi (share) dengan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. C. Pembelajaran Konvensional Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Dekdikbud: 1998), pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, sedangkan konvensional adalah berdasarkan kebiasaan atau tradisional. Jadi pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru. Pada umumnya pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang lebih berpusat pada guru. Dalam hal ini, guru memberi materi melalui ceramah, latihan soal dan pemberian tugas. Menurut Djamarah (2008: 97), metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru de-

15 ngan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan. Institute of Computer Technology (dalam Sunartombs: 2009) menyebutnya dengan istilah Pengajaran tradisional. Dijelaskannya bahwa pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pembelajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru yang masih berpusat pada guru. Dalam hal ini, pembelajaran yang dimaksud yaitu memberi materi melalui ceramah, pemberian latihan soal, kemudian pemberian tugas. D. Pemahaman Konsep Matematis James (dalam Suherman, 2003: 16). mengemukakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Menurut pendapat Soedjadi (2000: 11) terdapat beberapa definisi tentang matematika yaitu: 1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik. 2. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi. 3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan. 4. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. 5. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur yang logik. 6. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

16 Matematika memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Soedjadi (2000: 13) mengemukakan karakteristik matematika, yakni memiliki objek kajian abstrak, bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, memperhatikan semesta pembicaraan, dan konsisten dalam sistemnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Dekdikbud: 1998), pemahaman berasal dari kata dasar paham, yang berarti mengerti benar, sedangkan konsep berarti ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Sedangkan dalam matematika, konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk menggolongkan suatu objek atau kejadian. Seseorang dapat dikatakan paham terhadap suatu hal apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskan suatu hal yang dipahaminya. Jadi pemahaman konsep adalah kemampuan untuk dapat mengerti dan memahami suatu konsep dengan benar tentang suatu rancangan atau ide abstrak dalam matematika. Menurut Soedjadi (2000: 14), konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek. Nasution (2006) juga mengungkapkan bahwa: Konsep sangat penting bagi manusia, karena digunakan dalam komunikasi dengan orang lain, dalam berpikir, dalam belajar, membaca, dan lain-lain. Tanpa konsep, belajar akan sangat terhambat. Hanya dengan bantuan konsep dapat dijalankan pendidikan formal. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis siswa merupakan kemampuan siswa dalam menggolongkan atau mengklasifikasikan suatu konsep matematika.

17 Pemahaman konsep matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu. Dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hudoyo (dalam Herdian, 2010) yang menyatakan tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik. Dalam penelitian ini, hasil belajar diperoleh siswa berdasarkan hasil tes pemahaman konsep. Menurut Depdiknas (Jannah, 2007: 18) untuk menilai pemahaman konsep matematika dapat dilakukan dengan memperhatikan indikator-indikator dari pemahaman konsep matematika yang meliputi: a. Menyatakan ulang suatu konsep. b. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu. c. Memberikan contoh dan non-contoh dari konsep. d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika. e. Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep. f. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu g. Mengaplikasikan konsep atau pemecahan masalah. E. Kerangka Pikir Penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa SMP ini terdiri dari satu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe TPS sedangkan variabel terikatnya adalah pemahaman konsep matematis siswa SMP.

18 Pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru, yaitu pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Pada pembelajaran konvensional, guru memberikan materi melalui ceramah, memberikan beberapa latihan soal kemudian memberikan tugas. Selama proses pembelajaran guru berperan aktif sebagai pemberi informasi dan siswa hanya menerima informasi dengan cara mendengarkan, mencatat, dan menghafal informasi yang diberikan guru. Hal ini menyebabkan siswa menjadi pasif dan sulit untuk memahami konsep matematika. Pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika merupakan hal utama yang perlu digali dan dikembangkan. Untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa guru harus mengembangkan minat dan aktifitas belajar siswa. Salah satunya dengan memilih strategi atau model pembelajaran yang evektif dan menyenangkan. Untuk dapat menguasai pemahaman konsep secara maksimal lebih mudah dilakukan dengan cara bekerjasama (berdiskusi) dibandingkan bekerja sendiri. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa. Model pemebelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran yang menekankan pada kemampuan berpikir siswa. Ada tiga tahapan yang dilalui siswa dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Pada tahap pertama, siswa dituntut berpikir secara mandiri (think) dalam menyelesaikan masalah atau soal yang diberikan oleh guru. Pada tahap think siswa akan berusaha memahami terlebih dahulu tentang permasalahan yang diberikan. Selanjutnya, pada tahap kedua siswa dipasangkan dengan siswa lain (pair) untuk mendiskusikan hasil pemikiran

19 permasalahan pada tahap pertama. Tahap ini mempunyai peranan penting karena dengan adanya diskusi siswa akan lebih mudah bertukar ide atau pendapat masing-masing kepada pasangannya. Dan pada tahap akhir pada model ini melatih keberanian siswa untuk berbagi informasi (share), bertanya, atau mengungkapkan pendapatnya dengan seluruh kelas tentang apa yang telah didiskusikan dengan kelompoknya. Pemahaman konsep matematis siswa dapat dikuasai dengan baik dengan pembelajaran TPS, karena pada tahapan pembelajaran TPS mengarahkan aktifitas siswa selama proses pembelajaran yaitu mencari pengalaman dan pengetahuan sendiri lalu berdiskusi memecahkan masalah, bertukar pikiran dan informasi, baik dengan teman dalam pasangan maupun dengan kelompok lain, sehingga mempermudah siswa dalam memahami konsep materi yang dipelajari. Dengan demikian terlihat bahwa pemahaman matematis siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS akan lebih baik dari pemahaman konsep matematis siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional. F. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berpengaruh terhadap pemahaman konsep matematis siswa SMP Negeri 1 Pagelaran.