KAJIAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DI KOTA PASIR PENGARAIAN KABUPATEN ROKAN HULU

dokumen-dokumen yang mirip
Kampus Bina Widya J. HR Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos Abstract

APLIKASI MODEL HIDROLOGI KONSEPTUAL IHACRES UNTUK PENGALIHRAGAMAN HUJAN DEBIT PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Banjaran merupakan anak sungai Logawa yang mengalir dari arah

PERAMALAN DEBIT ALIRAN SUNGAI MENGGUNAKAN METODE NAÏVE

ANALISIS SISTEM JARINGAN PIPA TRANSMISI AIR BAKU KECAMATAN BUNGA RAYA KABUPATEN SIAK Zara Suriza 1), Manyuk Fauzi 2), Siswanto 2)

Prediksi Pasok Dan Kebutuhan Air Sungai Ciliwung Pada Ruas Jembatan Panus Sampai Manggarai

ANALISIS DEBIT DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI PROPINSI JAMBI

PENENTUAN KAPASITAS DAN TINGGI MERCU EMBUNG WONOBOYO UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR DI DESA CEMORO

STUDI PENGARUH PENAMBAHAN UNIT PLTA IV & V TERHADAP POLA OPERASI WADUK KARANGKATES KABUPATEN MALANG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Daerah Irigasi Banjaran merupakan Daerah Irigasi terluas ketiga di

ANALISIS PREDIKSI ALIRAN SUNGAI INDRAGIRI MENGGUNAKAN MODEL GR3J (Genie Rural a 3 parametres Journalie)

PREDIKSI KEBUTUHAN AIR BERSIH UNTUK LIMA BELAS TAHUN YANG AKAN DATANG DI KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

Tommy Tiny Mananoma, Lambertus Tanudjaja Universitas Sam Ratulangi Fakultas Teknik Jurusan Sipil Manado

Tujuan: Peserta mengetahui metode estimasi Koefisien Aliran (Tahunan) dalam monev kinerja DAS

ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BONAI KABUPATEN ROKAN HULU MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROGRAF SATUAN NAKAYASU. S.H Hasibuan. Abstrak

Optimasi Pola Tanam Menggunakan Program Linier (Waduk Batu Tegi, Das Way Sekampung, Lampung)

(Studi Kasus : DAS Welang, DAS Kadalpang, DAS Kramat, DAS Pekalen, DAS Rondoningo)

KALIBRASI PARAMETER TERHADAP DEBIT BANJIR DI SUB DAS SIAK BAGIAN HULU

BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

STRATEGI PELAYANAN JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH STUDI KASUS KOTA DUMAI

PEMODELAN HIDROLOGI HUJAN-ALIRAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT HASIL PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus DAS Tapung Kiri)

Studi Optimasi Pola Tanam pada Daerah Irigasi Warujayeng Kertosono dengan Program Linier

INDEKS KEKERINGAN PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN TEORI RUN BERBASIS DATA SATELIT

SIMULASI WADUK PETANI UNTUK MELAYANI AIR BAKU PDAM TIRTA DHARMA DURI

BAB III METODA ANALISIS

Analisis Ketersediaan Air Embung Tambakboyo Sleman DIY

Perencanaan Embung Gunung Rancak 2, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang

MODEL HIDROGRAF BANJIR NRCS CN MODIFIKASI

ANALISIS KAPASITAS TAMPUNGAN WADUK SUNGAI PAKU KECAMATAN KAMPAR KIRI KABUPATEN KAMPAR ABSTRACT

POLA DISTRIBUSI HUJAN JAM-JAMAN PADA STASIUN HUJAN PASAR KAMPAR

ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BATANG LUBUH KABUPATEN ROKAN HULU PROPINSI RIAU

STUDI KEBUTUHAN AIR PERKOTAAN BANJARMASIN SEBAGAI IBUKOTA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN ABSTRAK

Aplikasi Model Regresi Dalam Pengalihragaman Hujan Limpasan Terkait Dengan Pembangkitan Data Debit (Studi Kasus: DAS Tukad Jogading)

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Lokasi Penelitian

KAJIAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI SALURAN SEKUNDER DAERAH IRIGASI BEGASING

HYBRID DATA HUJAN ARR DAN SATELIT GUNA PENINGKATAN EFEKTIFITAS MODEL IFAS

PENDUGAAN TINGKAT SEDIMEN DI DUA SUB DAS DENGAN PERSENTASE LUAS PENUTUPAN HUTAN YANG BERBEDA

TUGAS AKHIR PERHITUNGAN DEBIT ANDALAN SEBAGAI. Dosen Pembimbing : Dr. Ali Masduqi, ST. MT. Nohanamian Tambun

ANALISIS KETERSEDIAAN AIR PDAM KOTA BENGKALIS

ABSTRAK. Kata Kunci : simulasi F.J Mock, debit andalan, neraca air baku, simulasi air baku, analisa ekonomi ABSTRACT

STUDI SIMULASI POLA OPERASI WADUK UNTUK AIR BAKU DAN AIR IRIGASI PADA WADUK DARMA KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT (221A)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam Perencanaan Embung

PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA SEA KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA

KAJIAN DIMENSI SALURAN PRIMER EKSISTING DAERAH IRIGASI MUARA JALAI KABUPATEN KAMPAR. Abstrak

PENGENDALIAN DEBIT BANJIR SUNGAI LUSI DENGAN KOLAM DETENSI DI KECAMATAN TAWANGHARJO KABUPATEN GROBOGAN

SIMULASI POLA OPERASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DI WADUK KEDUNGOMBO

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

ANALISIS BANJIR TAHUNAN DAERAH ALIRAN SUNGAI SONGGORUNGGI KABUPATEN KARANGANYAR

Perhitungan debit andalan sungai dengan kurva durasi debit

BAB III METODE PENELITIAN. PDAM kota Subang terletak di jalan Dharmodiharjo No. 2. Kecamatan

ANALISA KETERSEDIAAN AIR DAERAH ALIRAN SUNGAI BARITO HULU DENGAN MENGGUNAKAN DEBIT HASIL PERHITUNGAN METODE NRECA

KAJIAN PERBANDINGAN DEBIT ANDALAN SUNGAI CIMANUK METODA WATER BALANCE DAN DATA LAPANGAN

Perencanaan Embung Gunung Rancak 2, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang

SIMULASI PIPA TRANSMISI AIR BAKU DARI SUMBER AIR SUNGAI JURONG 2 KE PDAM TIRTA DHARMA DURI

STUDI PERENCANAAN OPERASI WADUK BUDONG-BUDONG KABUPATEN MAMUJU TENGAH PROVINSI SULAWESI BARAT

EVALUASI DAERAH IRIGASI BENGAWAN JERO KABUPATEN LAMONGAN

STUDI EVALUASI DAN PENGEMBANGAN JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH PDAM KOTA MALANG PADA KECAMATAN KEDUNGKANDANG

BAB VI. POLA KECENDERUNGAN DAN WATAK DEBIT SUNGAI

KEANDALAN ANALISA METODE MOCK (STUDI KASUS: WADUK PLTA KOTO PANJANG) Trimaijon. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau, Pekanbaru

Studi Kasus Penggunaan Sumber Daya Air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Ketibung Kabupaten Lampung Selatan

Tabel 4.31 Kebutuhan Air Tanaman Padi

BAB III METODOLOGI. dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

Lampiran 1.1 Data Curah Hujan 10 Tahun Terakhir Stasiun Patumbak

PERENCANAAN EMBUNG MANDIRADA KABUPATEN SUMENEP. Oleh : M YUNUS NRP :

SIMULASI NERACA AIR DI DAS REJOSO PASURUAN JAWA TIMUR PASCA PENGAMBILAN AIR BAKU SPAM REGIONAL UMBULAN

KALIBRASI MODEL HIDROLOGI PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN PADA SUB DAS KAMPAR KANAN DALAM PROGRAM HEC-HMS

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODOLOGI PENELITIAN

PENERAPAN TEORI RUN UNTUK MENENTUKAN INDEKS KEKERINGAN DI KECAMATAN ENTIKONG

MINI RISET METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI PERHITUNGAN CURAH HUJAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE

PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA TANDENGAN, KECAMATAN ERIS, KABUPATEN MINAHASA

STUDI PERENCANAAN DISTRIBUSI AIR BERSIH DI KECAMATAN NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG ABSTRAK

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis Kota Bekasi berada posisi 106º55 BT dan 6º7-6º15

Studi Optimasi Operasional Waduk Sengguruh untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air

KAJIAN DIMENSI SALURAN PRIMER EKSISTING DAERAH IRIGASI SUNGAI TANANG KABUPATEN KAMPAR. Abstrak

NERACA AIR WADUK SUNGAI PAKU TERHADAP KEBUTUHAN AIR BAKU BAGI MASYARAKAT Water Balance of Paku River Reservoir to Standart Water Needs for the People

Kebutuhan Informasi Perencanaan Sumberdaya Air dan Keandalan Ketersediaan Air yang Berkelanjutan di Kawasan Perdesaan

KAJIAN PERBANDINGAN DEBIT ANDALAN SUNGAI CIMANUK METODA WATER BALANCE DAN DATA LAPANGAN. Bakhtiar

KETERSEDIAAN DATA HUJAN DI WILAYAH SUNGAI LOMBOK

PERKIRAAN SEBARAN CURVE NUMBER U.S SOIL CONSERVATION SERVICE PADA SUB DAS BRANTAS HULU ABSTRAK

Studi Optimasi Irigasi pada Daerah Irigasi Segaran Menggunakan Simulasi Stokastik Model Random Search

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DINAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Jl. Madukoro Blok.AA-BB Telp. (024) , , , S E M A R A N

POLA ALIRAN BATANG ANAI DI PROVINSISUMATERA BARAT. Elma Yulius 1), Eko Darma 2)

ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN INDEKS DESIL PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU Rizqina Dyah Awaliata 1, Ussy Andawayanti 2, Rahmah Dara Lufira 2

PEMANFAATAN DATA TRMM ( TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSION

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Studi Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih di Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Jawa Tengah

WATER BALANCE DAS KAITI SAMO KECAMATAN RAMBAH

SKRIPSI. Oleh : ATIN KURNIAWATI NIM

PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA MUNTE KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA

LAPORAN TUGAS AKHIR. PERENCANAAN PEMENUHAN AIR BAKU DI KECAMATAN GUNEM KABUPATEN REMBANG ( Design Of Raw Water Supply In Gunem District, Rembang )

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira.

REVITALISASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) (KASUS DAERAH PACITAN) (279A)

Gambar 3.1 Daerah Rendaman Kel. Andir Kec. Baleendah

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... iii. LEMBAR PENGESAHAN... iii. PERNYATAAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL...

BAB IV PENGOLAHAN DATA

PENERAPAN METODE THEORY RUN UNTUK PERHITUNGAN KEKERINGAN PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU

INFRASTRUKTUR KETELITIAN METODE EMPIRIS UNTUK MENGHITUNG DEBIT BANJIR RANCANGAN DI DAS BANGGA

Transkripsi:

KAJIAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DI KOTA PASIR PENGARAIAN KABUPATEN ROKAN HULU Wirya Saputra, Manyuk Fauzi, Siswanto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau Kampus Bina Widya Jl. HR Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos 28293 email: wirya.saputra25@gmail.com ABSTRACT The needs of clean water in Pasir Pengaraian City increasing in line with population growth and urban growth. Water supply systems that are currently held by BPAB still have the problem with the lack of service coverage. Therefore, the existence of Lubuk Batang River is expected to be a solution to overcome these problems. This study uses IHACRES in modelling flow discharge, which in calibration stage generated the R 2 value of 0,437 with a bias 53,131 mm/year. Analysis for the availability of water is done by analyzing the mainstay of river discharge (Q 90% ) based on the average annual discharge that produced the flagship in 2005. Mainstay discharge occurred in January 2005 amounted to 260,8 m 3 /sec and smallest discharge in June 2005 was 30,5 m 3 /sec. Analysis of water needs is projected to the population growth in the next 10 years, produced the total water demand for the Pasir Pengaraian City s (Rambah District) service area at the beginning of the projection year (2012) that is equal to 0,0491 m 3 /second (49,082 liters/sec), while the total requirement water at the end of the projection year (2022) amounted to 0,066 m 3 /second (65,962 liters/sec). The analysis showed that the available flow at Batang Lubuk River very inadequate even exceed the total water demand in the area of service coverage. Keywords: Batang Lubuk river, water availability, water demand, IHACRES model PENDAHULUAN Perkembangan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu khususnya Kota Pasir Pengaraian menuntut adanya perbaikan dan penyediaan sarana dan prasarana (infrastruktur) yang memadai, termasuk ketersediaan air bersih. Kebutuhan air bersih akan semakin meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pembangunan di berbagai sektor dan bidang, serta jumlah penduduk yang terus bertambah. Di sisi lain jumlah pasokan air baku untuk air bersih yang ada masih relatif terbatas terutama pada saat musim kemarau. Sistem penyediaan air bersih Kota Pasir Pengaraian Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu saat ini diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah melalui Badan Pengelolaan Air Bersih (BPAB). Berdasarkan data BPAB Kabupaten Rokan Hulu pada bulan Desember tahun 2012, jumlah pelanggan BPAB Kota Pasir Pengaraian adalah 1.191 sambungan yang terdiri dari niaga, non niaga, 1

instansi/pemerintah dan sosial. Sedangkan jumlah penduduk yang harus dilayani sebanyak 41.348 jiwa (Kecamatan Rambah). Berangkat dari permasalahanpermasalahan yang sedang dialami BPAB, peningkatan pelayanan dibidang air bersih kepada masyarakat saat ini terlihat masih kurang bahkan dari segi persentase jumlah penduduk yang terlayani terlihat semakin menurun, karena pertambahan penduduk, aktivitas ekonomi dan pembangunan tidak sebanding dengan pertambahan cakupan pelayanan. Mengatasi permasalahan tersebut, maka sistem penyediaan air bersih tersebut perlu dikembangkan, salah satu diantaranya adalah pengembangan air baku dari Sungai Batang Lubuk. Dengan memperhatikan lokasi serta potensi yang ada di wilayah tersebut, maka diharapkan kebutuhan air baku di Kota Pasir Pengaraian dapat terpenuhi. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa ketersediaan air di Sungai Batang Lubuk sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan air bersih di Kota Pasir Pengaraian (Kecamatan Rambah) hingga beberapa tahun mendatang. Dengan kata lain tingkat kebutuhan air akan berbanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk. Analisis ketersediaan air dilakukan dengan menganalisis debit andalan sungai. Debit andalan merupakan debit minimum sungai dengan besaran tertentu yang mempunyai kemungkinan terpenuhi yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, untuk air baku ditetapkan sebesar 90%. Penelitian ini menggunakan program bantu IHACRES dalam menganalisis data debit sebelum dihasilkan debit andalan. Indarto (2010) mengemukakan bahwa model IHACRES relatif sederhana karena hanya membutuhkan data-data masukan seperti data debit, data curah hujan, data temperatur dan luasan DAS. Proses hidrologi menurut konsep IHACRES disederhanakan sebagai berikut : Hujan (r k ) Suhu (t k ) Non Linear Loss Module Hujan Efektif (U k ) Linear Unit Hydrograph Module Gambar 1 Deskripsi Proses Hujan-Aliran Menurut IHACRES Aliran Permukaan (X k ) Berdasarkan Gambar 1, siklus hidrologi menurut IHACRES dibedakan menjadi dua. Sub proses vertikal yang digambarkan oleh Non Linear Loss Module dan sub proses lateral yang diimplementasikan melalui Linear Unit Hydrograph Module. Non linear loss module berfungsi untuk mengkonversi hujan menjadi hujan efektif. Selanjutnya hujan efektif yang dihasilkan akan ditransfer secara lateral melalui linear unit hydrograph module menjadi aliran permukaan berupa debit terhitung di outlet DAS. Model IHACRES memiliki enam parameter model, tiga diantaranya berkaitan dengan non linear loss module yaitu w, f dan c serta tiga parameter berikutnya berkaitan dengan linear unit hydrograph module yaitu q, s dan v s. Keenam parameter model tersebut dianggap sebagai upaya karakterisasi yang unik dan efisien dari proses hidrologi pada sebuah DAS. 2

1. Kalibrasi Model Kalibrasi merupakan proses pemilihan kombinasi parameter. Kalibrasi model menurut Vase, et al (2011) merupakan suatu proses mengoptimalkan atau secara sistematis menyesuaikan nilai parameter model untuk mendapatan satu set parameter yang memberikan estimasi terbaik dari debit sungai yang diamati. Tahapan kalibrasi dalam penelitian ini dilakukan dengan pemilihan periode kalibrasi dan periode warm up. Menurut Littlewood, et al (1999), pemilihan periode kalibrasi diawali dan diakhiri pada keadaan debit relatif kecil sehingga perubahan penyimpanan air di DAS selama periode kalibrasi dapat diasumsikan mendekati nol. Warm-up adalah periode untuk inisiasi dan dicari dengan coba-coba. Pemilihan periode warm up bertujuan untuk mengisi kondisi awal DAS. Selama proses kalibrasi dilakukan, perlu adanya pengecekan kriteria statistik yaitu R 2 dan bias sebagai indikator bagus atau tidaknya hasil kalibrasi yang dihasilkan. 2. Verifikasi Model Pechlivanidis, et al (2011) mengemukakan bahwa verifikasi merupakan suatu proses setelah tahap kalibrasi selesai dilakukan yang berfungsi untuk menguji kinerja model pada data diluar periode kalibrasi. Kinerja model biasanya lebih baik selama periode kalibrasi dibandingkan dengan verifikasi, fenomena seperti ini disebut dengan divergensi model. 3. Simulasi Model Simulasi model menurut Refsgaard (2000) merupakan upaya memvalidasi penggunaan model untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan dari suatu realita dan untuk memperoleh perkiraan yang dapat digunakan oleh para pengelola sumberdaya air. Tahap simulasi merupakan proses terakhir setelah proses kalibrasi dan verifikasi dilaksanakan. Dalam tahap ini keseluruhan data hujan dan temperatur digunakan sebagai data masukan untuk menghitung aliran. 4. Evaluasi Ketelitian Model Evaluasi ketelitian model IHACRES dalam Croke et al (2004) menggunakan fungsi objektif yang terdiri dari : 2 Qo Q 2 m R 1 2 Q Q Bias o o Qo Qm n dengan Q o adalah debit terukur (m 3 /detik), Q m adalah debit terhitung (m 3 /detik) dan n adalah jumlah sampel. Dalam penelitian ini, indikator statistik yang paling utama dalam menentukan keandalan model adalah R 2 dan bias. Kedua indikator statistik tersebut dirasa cukup dalam mengevaluasi kinerja model dalam hal membandingkan antara hasil model dengan data yang diamati. Nilai optimal untuk R 2 mendekati satu dan bias mendekati nol. Perumusan persamaan R 2 didasarkan pada indikator efisiensi model Nash-Sutcliffe (Croke, et al, 2005). 3

NSE memiliki range antara - sampai dengan 1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Motovilov et al (1999), NSE memiliki beberapa kriteria seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1 berikut. Tabel 1 Kriteria Nilai Nash-Sutcliffe Efficiency (NSE) Nilai Nash-Sutcliffe Efficiency (NSE) Interpretasi NSE > 0,75 Baik 0,36 < NSE < 0,75 Memuaskan NSE < 0,36 Tidak memuaskan (Sumber : Motovilov, et al, 1999) METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada sub-das Rokan Kanan dengan stasiun AWLR Pasir Pengaraian yang berada di dalam Wilayah Sungai (WS) Rokan. Secara administrasi, stasiun Pasir Pengaraian terletak di Provinsi Riau, Kabupaten Rokan Hulu, Kecamatan Rambah dengan letak geografis 00 0 35 24 LS dan 101 0 11 46 BT. Stasiun ini memiliki luas daerah aliran sebesar 625 km 2. Sedangkan untuk titik pengambilan air yaitu Sungai Batang Lubuk berjarak kurang lebih 5 km dari Kota Pasir Pengaraian. Sungai ini mempunyai lebar ±50-100 m, debit rata-rata + 200 l/det dengan kedalaman ±10-15 m serta luas daerah aliran sebesar 1062 km 2. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. data curah hujan stasiun Pasar Tangun periode 2002-2010, b. data klimatologi stasiun Rambah Utama periode 2002-2010, c. data debit stasiun AWLR Pasir Pengaraian periode 2002-2010, dan d. data pertumbuhan penduduk Kabupaten Rokan Hulu periode 2010-2012. 4

Adapun bagan alir penelitian tugas akhir dapat dilihat pada berikut. Gambar 3 Gambar 3. Bagan Alir Penelitian Untuk menganalisis data yang telah didapat, maka digunakan analisis hidrologi kebutuhan air dari suatu penduduk dan analisis hidrologi ketersediaan air yang dapat mencukupi kebutuhan air tersebut. a. Metode analisis kebutuhan air Analisis kebutuhan air bersih penduduk digunakan untuk menentukan jumlah kebutuhan air selama beberapa tahun mendatang. Hal ini dapat dilakukan bilamana sudah didapatkan data penduduk dalam suatu wilayah tersebut. Pertama dihitung pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun (2010-2012), kemudian direncanakan pula jumlah penduduk sampai dengan 10 tahun yang akan datang dengan metode proyeksi Geometrical Increase. Dengan menggunakan standar perencanaan yanng ditetapkan oleh Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, maka dapat dihitung pula jumlah kebutuhan air untuk penduduk pada tahun ini atau pada 10 tahun yang akan datang. b. Metode analisis hidrologi ketersediaan air bersih Analisis hidrologi ketersediaan air bersih ini dapat dihitung setelah mendapatkan data-data yang berhubungan dengan ketersediaan air tersebut. Dalam penelitian ini setelah didapat suatu data debit dari sungai melalui pencatatan stasiun AWLR, data tersebut kemudian diolah dengan bantuan software IHACRES. Debit keluaran program IHACRES ini 5

kemudian diolah lagi sehingga didapat debit andalan sungai yang dapat dipergunakan sebagai penyedia kebutuhan air baku untuk air bersih. Secara garis besar tahapan analisis data debit melalui program IHACRES v.2.1 ini dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Mempersiapkan data-data yang akan dimasukkan sebagai input seperti data curah hujan, data temperatur, data debit serta luas DAS. 2. Melakukan proses kalibrasi setelah melakukan input data ke program IHACRES. Proses kalibrasi ini dilakukan dengan pengisian periode kalibrasi dan durasi warm up (kelipatan 100). Proses kalibrasi berakhir apabila telah diperoleh parameter-parameter kalibrasi dengan nilai R 2 dan bias yang paling optimal. Nilai optimal untuk R 2 mendekati satu dan bias mendekati nol. 3. Parameter-parameter hasil kalibrasi selanjutnya akan diverifikasi, yaitu suatu proses untuk menguji kinerja model pada data diluar periode kalibrasi. 4. Simulasi, yaitu proses terakhir setelah proses kalibrasi dan verifikasi dilaksanakan. Proses simulasi dilakukan dengan menggunakan variabel dan parameter yang sama yang digunakan dalam tahap verifikasi namun dilakukan terhadap keseluruhan data yang ada. Selanjutnya hasil simulasi akan dihitung nilai R 2 dan biasnya. 5. Hasil dan pembahasan, yaitu membahas tentang hasil analisis data program IHACRES. Output program ini akan diolah untuk mengetahui tingkat ketersediaan air pada sungai. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pemodelan Debit Metode IHACRES a. Kalibrasi Model Pada penelitian ini, proses kalibrasi dilakukan dengan program bantu IHACRES v.2.1 untuk mendapatkan parameter dan variabel yang akan digunakan pada tahap verifikasi dan simulasi. Proses verifikasi dan simulasi selanjutnya akan menggunakan bantuan Microsoft Excel. Periode kalibrasi yang digunakan yaitu mulai 1 Agustus 2008 sampai dengan 31 Juli 2010. Pemilihan periode kalibrasi ini diambil setelah dilakukan simulasi awal secara berulang dengan periode berbeda, dimana parameter hasil kalibrasi periode diatas dianggap sudah cukup mewakili untuk dianalisa. Hasil nilai R 2 dan bias pada tahap kalibrasi dengan variasi warm up ditunjukkan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 Nilai R 2 dan Bias dengan Variasi Warm Up Warm Up 100 200 300 400 500 R 2 0,313 0,313 0,437 0,432 0,432 Bias 0,267 2,241 53,131 247,313 274,07 Pada Tabel 2 terlihat bahwa warm up dengan durasi 300 memberikan nilai R 2 paling optimal dibandingkan dengan durasi lainnya. Hasil pada tabel tersebut memberikan parameter hasil kalibrasi dan variabel seperti yang ditampilkan pada Tabel 3 dan Tabel 4 berikut. 6

Tabel 3 Parameter Hasil Kalibrasi Parameter Hasil Kalibrasi 300 Non Linear Module Keseimbangan massa ( c ) Laju pengeringan pada saat suhu referensi ( w ) Modulasi temperatur (f) Linear Module Konstanta waktu respon lambat ( (s) ) Konstanta waktu respon cepat ( (q) ) Volume perbandingan untuk aliran lambat (v (s) ) 0,003518 28,000 1,000 44,098 3,54 0,287 Tabel 4 Variabel Hasil Kalibrasi Variabel 300 Temperatur referensi (t r ) Indeks ambang batas kelembaban tanah untuk menghasilkan aliran (l) Respon jangka waktu non linear (p) Angka resesi untuk aliran lambat ( (s) ) Angka resesi untuk aliran cepat ( (q) ) Respon puncak untuk aliran lambat ( (s) ) Respon puncak untuk aliran cepat ( (q) ) Volume perbandingan untuk aliran cepat (v (q) ) 32,000 0,000 1,000-0,978-0,754 0,006 0,175 0,713 b. Verifikasi Model Verifikasi yaitu suatu proses untuk menguji kinerja model pada data diluar periode kalibrasi. Pada tahap ini digunakan parameter dan variabel yang telah diperoleh pada tahap kalibrasi. Hidrograf hujan-aliran hasil verifikasi dapat dilihat pada Gambar 4 berikut. Gambar 4. Grafik Hasil Verifikasi 7

c. Simulasi Model Pada simulasi model, parameter dan variabel yang akan digunakan dalam perhitungan sama dengan parameter dan variabel yang digunakan dalam verifikasi, namun dalam perhitungannya menggunakan keseluruhan data yang ada yaitu data dari tanggal 1 Januari 2002 sampai 31 Desember 2010. Grafik hasil simulasi ditunjukkan pada Gambar 5 berikut. Gambar 5. Grafik Hasil Simulasi 2. Analisis Ketersediaan Air Analisis ketersediaan air di Sungai Batang Lubuk dilakukan dengan menganalisis debit andalan dari sungai. Debit andalan untuk Sungai Batang Lubuk dianalisis untuk mengetahui kemampuan Sungai Batang Lubuk dalam menyediakan air baku untuk kebutuhan air Kota Pasir Pengaraian. Untuk keperluan ini digunakan data-data yang telah diperoleh sebelumnya melalui program IHACRES, dengan panjang data 9 tahun mulai dari tahun 2002 hingga tahun 2010. Kemudian untuk menghitung debit andalan dengan peluang 90%, dapat dilakukan berdasarkan debit rerata tahunan. Tabel 5 memberikan perhitungan debit andalan pada Sungai Batang Lubuk sedangkan Gambar 6 menyajikan besarnya nilai debit andalan yang dihasilkan yaitu pada tahun 2005. Tabel 5 Debit Andalan Sungai Batang Lubuk Berdasar Debit Tahunan No Tahun Qrata2 Urutan Persen Tahun Debit Andalan Urut (a) (b) (c) (d) (e) (f) 1 2002 76.2 172.1 11% 2004 2 2003 166.9 166.9 22% 2003 3 2004 172.1 158.8 33% 2008 4 2005 108.7 156.9 44% 2007 5 2006 113.2 155.7 56% 2009 6 2007 156.9 142.5 67% 2010 7 2008 158.8 113.2 78% 2006 8 2009 155.7 108.7 89% 2005 9 2010 142.5 76.2 100% 2002 8

300.0 Debit Andalan 250.0 Q (m3/dt) 200.0 150.0 100.0 50.0 0.0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Q90 260.8 104.7 169.7 223.1 99.1 30.5 62.5 52.1 74.1 54.8 58.4 114.5 Gambar 6. Debit Andalan Sungai Batang Lubuk 3. Analisis Kebutuhan Air Analisis kebutuhan air bersih untuk masa yang akan datang menggunakan standar-standar perhitungan yang telah ditentukan. Faktor utama dalam analisis kebutuhan air adalah jumlah penduduk pada lokasi penelitian. Untuk menghitung proyeksi pertumbuhan penduduk 10 tahun ke depan digunakan metode Geometrik. Dari proyeksi ini, kemudian dapat dihitung jumlah kebutuhan air dari sektor domestik berdasarkan kriteria Dirjen Cipta Karya 1997. Hasil proyeksi pertumbuhan penduduk dapat dilihat pada Gambar 7. 60000 Perhitungan Proyeksi Penduduk Kec. Rambah Tahun 2012 s/d 2022 Penduduk (Jiwa) 55000 50000 45000 40000 35000 30000 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 Geometrik 42407 43679 44990 46339 47729 49161 50636 52155 53720 55332 56991 Gambar 7. Grafik Proyeksi Penduduk Kecamatan Rambah Tahun 2012 2022 9

Setelah didapat proyeksi pertumbuhan penduduk, maka selanjutnya dihitung besarnya kebutuhan air pada tiap tahun proyeksi menggunakan standarstandar analisis yang telah ditetapkan oleh Dirjen Cipta Karya. Perhitungan tingkat kebutuhan air untuk penduduk disajikan pada Tabel 6 hingga Tabel 8. Tabel 6 Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah (SR) No Tahun Penduduk Tingkat Pelayanan Terlayani Konsumsi Air Rata-rata Pemakaian Kebutuhan Air (Jiwa) (%) (Jiwa) (Lt/jiwa/hari) (Lt/hari) (Lt/det) (m 3 /det) [a] [b] [c] [d] [e] [f] [g] [h] [i] 1 2012 42407 70% 29685 130 3859037 44.665 0.0447 2 2013 43679 70% 30575 130 3974808 46.005 0.0460 3 2014 44990 70% 31493 130 4094052 47.385 0.0474 4 2015 46339 70% 32437 130 4216874 48.806 0.0488 5 2016 47729 70% 33411 130 4343380 50.271 0.0503 6 2017 49161 70% 34413 130 4473682 51.779 0.0518 7 2018 50636 70% 35445 130 4607892 53.332 0.0533 8 2019 52155 70% 36509 130 4746129 54.932 0.0549 9 2020 53720 70% 37604 130 4888513 56.580 0.0566 10 2021 55332 70% 38732 130 5035168 58.277 0.0583 11 2022 56991 70% 39894 130 5186223 60.026 0.0600 Tabel 7 Kebutuhan Air untuk Hidran Umum (HU) No Tahun Penduduk Tingkat Pelayanan Terlayani Konsumsi Air Rata-rata Pemakaian Kebutuhan Air (Jiwa) (%) (Jiwa) (Lt/jiwa/hari) (Lt/hari) (Lt/det) (m 3 /det) [a] [b] [c] [d] [e] [f] [g] [h] [i] 1 2012 42407 30% 12722 30 381663 4.417 0.0044 2 2013 43679 30% 13104 30 393113 4.550 0.0045 3 2014 44990 30% 13497 30 404906 4.686 0.0047 4 2015 46339 30% 13902 30 417053 4.827 0.0048 5 2016 47729 30% 14319 30 429565 4.972 0.0050 6 2017 49161 30% 14748 30 442452 5.121 0.0051 7 2018 50636 30% 15191 30 455726 5.275 0.0053 8 2019 52155 30% 15647 30 469397 5.433 0.0054 9 2020 53720 30% 16116 30 483479 5.596 0.0056 10 2021 55332 30% 16599 30 497984 5.764 0.0058 11 2022 56991 30% 17097 30 512923 5.937 0.0059 10

Tabel 8 Total Kebutuhan Air di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu 2012 2022 Tahun SR HU (m 3 /detik) (m 3 /detik) (m 3 /detik) 2012 0.0447 0.0044 0.0491 2013 0.0460 0.0045 0.0506 2014 0.0474 0.0047 0.0521 2015 0.0488 0.0048 0.0536 2016 0.0503 0.0050 0.0552 2017 0.0518 0.0051 0.0569 2018 0.0533 0.0053 0.0586 2019 0.0549 0.0054 0.0604 2020 0.0566 0.0056 0.0622 2021 0.0583 0.0058 0.0640 2022 0.0600 0.0059 0.0660 Berdasarkan analisis kebutuhan air baku di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa debit andalan dari Sungai Batang Lubuk yang digunakan sebagai sumber air baku dalam sistem penyediaan air bersih mencukupi, bahkan masih melebihi untuk memenuhi kebutuhan air bersih dari daerah layanannya sampai akhir tahun proyeksi. Sisa air dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penambahan kapasitas penyaluran air bersih dari sungai tersebut di masa mendatang, terutama untuk mengantisipasi pertambahan penduduk. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka tugas akhir ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut. 1. Debit andalan (Q90%) Sungai Batang Lubuk diperoleh menggunakan perhitungan debit rerata tahunan sehingga didapat tahun andalan pada 2005, dimana data debit diperoleh melalui bantuan program IHACRES. Debit terbesar terjadi pada bulan Januari 2005 sebesar 260,8 m 3 /det dan debit terkecil pada bulan Juni 2005 sebesar 30,5 m 3 /det. 2. Total kebutuhan air untuk daerah layanan Kota Pasir Pengaraian (Kecamatan Rambah) pada awal tahun proyeksi yaitu sebesar 0,0491 m 3 /detik (49,082 liter/detik), sedangkan total kebutuhan air pada akhir tahun proyeksi yaitu sebesar 0,066 m 3 /detik (65,962 liter/detik). 3. Debit andalan dari Sungai Batang Lubuk yang digunakan sebagai sumber air baku dalam sistem penyediaan air bersih Kota Pasir Pengaraian sangat mencukupi, bahkan masih melebihi untuk memenuhi kebutuhan air bersih daerah layanannya sampai akhir tahun proyeksi. Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil perhitungan dan analisa pada pengerjaan tugas akhir ini antara lain sebagai berikut: 1. Besarnya debit andalan yang dimiliki oleh Sungai Batang Lubuk dalam menyediakan sumber air baku dapat dipergunakan untuk memperluas cakupan daerah pelayanan dari sistem penyediaan air bersih Kabupaten 11

Rokan Hulu, sehingga akan semakin banyak daerah yang terbebas dari masalah keterbatasan air bersih. 2. Program bantuan (software) komputer yang lain dapat digunakan dalam mengolah suatu data debit untuk menghasilkan analisis yang lebih baik. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera III Provinsi Riau, Dinas Pemukiman dan Balai Hidrologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Sumber Daya Provinsi Riau serta Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rokan Hulu yang telah memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini serta ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Akhirudin dan Anrizal. 2008. Perencanaan Pemenuhan Air Baku di Kabupaten Kendal. [online]. Available at:< http://eprints.undip.ac.id/33997>, diakses 15 Juni 2013 Anonim. 2012. Kabupaten Rokan Hulu dalam Angka 2012. BPS Kabupaten Rokan Hulu Croke, B.F.W., Andrews, F., Spate, J. & Cuddy, S. 2005. IHACRES User Guide. Australia : ICAM Centre dan The Australian National University Indarto. 2010. Hidrologi Dasar Teori dan Contoh Aplikasi Model Hidrologi. Jakarta : Bumi Aksara Littlewood, I.G., Down,.K, Parker, J.R. & Post, D.A. 1999. IHACRES V1.0 User Guide. Australia : ICAM Centre dan The Australian National University Motovilov, Y.G., Gottschalk, L., Engeland, K. & Rodhe, A. 1999. Validation of a Distributed Hydrological Model Against Spatial Observations. Elsevier Agricultural and Forest Meteorology. 98 : 257-277. Nurcahyono dan Titus D. 2008. Perencanaan Pemenuhan Air Baku di Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang. [online]. Available at:< http://eprints.undip.ac.id/34051>, diakses 15 Juni 2013 Sriwongsitanon, N. & Taesombat, W, 2011. Estimation of the IHACRES Model Parameters for Flood Estimation of Ungauged in the Upper Ping River Basin. Kasetsart J (Nat. Sci.) 45. Juni 2011 : 917-931 Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset Wibowo, R.A. 2013. Analisis Hujan Aliran Menggunakan Model IHACRES (Studi Kasus DAS Indragiri). Skripsi Jurusan Teknik Sipil. Pekanbaru: Universitas Riau 12