EKO YULIARITNO NIM : D

dokumen-dokumen yang mirip
PEMANFAATAN ABU AMPAS TEBU DARI HASIL PEMBAKARAN NIRA PG. GONDANG BARU KLATEN DAN KAPUR TOHOR PENGGANTI SEMEN UNTUK CAMPURAN BETON

PEMANFAATAN LIMBAH ASPAL HASIL COLD MILLING SEBAGAI BAHAN TAMBAH PEMBUATAN PAVING. Naskah Publikasi

PEMANFAATAN LUMPUR LAPINDO SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR BETON

TINJAUAN KUAT TEKAN DAN KERUNTUHAN BALOK BETON BERTULANG MENGGUNAKAN TRAS JATIYOSO SEBAGAI PENGGANTI PASIR. Naskah Publikasi

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN KUALITAS BATAKO DENGAN PEMAKAIAN BAHAN TAMBAH SERBUK HALUS EX COLD MILLING. Naskah Publikasi

ANALISIS KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK BELAH BETON DENGAN BAHAN TAMBAH ABU SEKAM PADI DAN BESTMITTEL. Tugas Akhir

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN PASIR DARI BEBERAPA DAERAH TERHADAP KUAT TEKAN BETON. Abstrak

KAPASITAS LENTUR DAN TARIK BETON SERAT MENGGUNAKAN BAHAN TAMBAH FLY ASH

PEMANFAATAN FOAM AGENT DAN MATERIAL LOKAL DALAM PEMBUATAN BATA RINGAN

TINJAUAN KUAT TEKAN BATA BETON DENGAN PENAMBAHAN LIMBAH GYPSUM PT. PETROKIMIA GRESIK YANG MENGGUNAKAN AGREGAT HALUS ABU BATU.

TINJAUAN KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR BETON MENGGUNAKAN TRAS JATIYOSO SEBAGAI PENGGANTI PASIR UNTUK PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)

PEMANFAATAN FOAM AGENT DAN MATERIAL LOKAL DALAM PEMBUATAN BATA RINGAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bahan atau Material Penelitian

PERBANDINGAN PEMAKAIAN AIR KAPUR DAN AIR TAWAR SERTA PENGARUH PERENDAMAN AIR GARAM DAN AIR SULFAT TERHADAP DURABILITAS HIGH VOLUME FLY ASH CONCRETE

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG LONGITUDINAL DI BAGIAN TULANGAN TARIK.

BAB III LANDASAN TEORI. (admixture). Penggunaan beton sebagai bahan bangunan sering dijumpai pada. diproduksi dan memiliki kuat tekan yang baik.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berat Tertahan (gram)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus (Pasir) (SNI ) Berat Tertahan (gram)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang

KAJIAN OPTIMASI KUAT TEKAN BETON DENGAN SIMULASI GRADASI UKURAN BUTIR AGREGAT KASAR. Oleh : Garnasih Tunjung Arum

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENAMBAHAN PECAHAN KERAMIK PADA PEMBUATAN PAVING BLOCK DITINJAU DARI NILAI KUAT TEKAN

PENGGUNAAN LIMBAH BAJA (KLELET) SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR PADA BETON. Hanif *) ABSTRAK

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN SERBUK KACA SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN PADA CAMPURAN BETON DITINJAU DARI KEKUATAN TEKAN DAN KEKUATAN TARIK BELAH BETON

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMAKAIAN VARIASI BAHAN TAMBAH LARUTAN GULA DAN VARIASI ABU ARANG BRIKET PADA KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Vol.16 No.2. Agustus 2014 Jurnal Momentum ISSN : X

PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK CANGKANG LOKAN SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN BETON NORMAL

BAB IV METODE PENELITIAN

TINJAUAN KUAT LENTUR RANGKAIAN DINDING PANEL DENGAN PERKUATAN TULANGAN BAMBU YANG MENGGUNAKAN AGREGAT PECAHAN GENTENG

KUAT TEKAN BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERBUK HALUS DARI LUMPUR KERING TUNGKU EX LAPINDO

III. METODE PENELITIAN

Jurnal Teknik Sipil No. 1 Vol. 1, Agustus 2014

TINJAUAN KUAT TEKAN BETON DENGAN SERBUK BATU GAMPING SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pemeriksaan Bahan Susun

MODEL SAMBUNGAN DINDING PANEL DENGAN AGREGAT PECAHAN GENTENG

4. Gelas ukur kapasitas maksimum 1000 ml dengan merk MC, untuk menakar volume air,

BAB III LANDASAN TEORI

PENGARUH VARIASI CAMPURAN SERBUK ALUMINIUM DALAM PEMBUATAN BATA BETON RINGAN DENGAN BAHAN TAMBAH SERBUK GIPSUM NASKAH PUBLIKASI

PENAMBAHAN LIMBAH PADAT PABRIK GULA (BLOTONG) SEBAGAI PENGGANTI SEMEN PADA CAMPURAN BETON

Pengaruh Variasi Jumlah Semen Dengan Faktor Air Yang Sama Terhadap Kuat Tekan Beton Normal. Oleh: Mulyati, ST., MT*, Aprino Maramis** Abstrak

PEMANFAATAN BAMBU DAN KARET TALI TIMBA SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TULANGAN BAJA PADA PELAT BETON PRA CETAK

BAB I PENDAHULUAN I 1

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pemeriksaan Bahan

BAB III PERENCANAAN PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. bahan terpenting dalam pembuatan struktur bangunan modern, khususnya dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PEMANFAATAN KAWAT GALVANIS DIPASANG SECARA MENYILANG PADA TULANGAN BEGEL BALOK BETON UNTUK MENINGKATKAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Berat Tertahan Komulatif (%) Berat Tertahan (Gram) (%)

PENGARUH PENGGUNAAN RESIN EPOXY PADA CAMPURAN BETON POLIMER YANG MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJI KAYU

ANALISA PERBANDINGAN KUALITAS BETON DENGAN AGREGAT HALUS QUARRY SUNGAI MARUNI MANOKWARI DAN KAMPUNG BUGIS SORONG

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

ANALISIS KUAT TEKAN BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERBUK HALUS GELAS SERTA ANALISIS KUAT TEKAN BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERBUK HALUS ARANG BRIKET

PENGARUH PERSENTASE BATU PECAH TERHADAP HARGA SATUAN CAMPURAN BETON DAN WORKABILITAS (STUDI LABORATORIUM) ABSTRAK

KAJIAN KUAT TEKAN BETON UMUR 90 HARI MENGGUNAKAN SEMEN PORTLAND DAN SEMEN PORTLAND POZOLAND. Oleh: F. Eddy Poerwodihardjo

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Heri Sujatmiko Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI

PEMANFAATAN LIMBAH PADAT PT. PETRO KIMIA GRESIK UNTUK KEKUATAN BATA BETON YANG MENGGUNAKAN AGREGAT HALUS DUST

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan beton non pasir, yaitu beton yang dibuat dari agregat kasar, semen dan

BAB I PENDAHULUAN. beton, minimal dalam pekerjaan pondasi. Semakin meluasnya penggunaan beton

PENGARUH VARIASI PERAWATAN BETON TERHADAP SIFAT MEKANIK HIGH VOLUME FLY ASH CONCRETE UNTUK MEMPRODUKSI BETON KUAT TEKAN NORMAL

BAB I PENDAHULUAN. mencampurkan semen portland, air, pasir, kerikil, dan untuk kondisi tertentu

PENGARUH PERENDAMAN AIR PANTAI DAN LIMBAH DETERGEN TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR DINDING PASANGAN BATA MERAH.

PENGARUH PERSENTASE BAHAN RETARDER TERHADAP BIAYA DAN WAKTU PENGERASAN CAMPURAN BETON

BAB IV METODE PENELITIAN

PEMERIKSAAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK PADA PASIR. Volume (cc) 1 Pasir Nomor 2. 2 Larutan NaOH 3% Secukupnya Orange

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada masa sekarang, dapat dikatakan penggunaan beton dapat kita jumpai

BAB I PENDAHULUAN. bidang konstruksi, pemakaian beton yang cukup besar memerlukan usaha-usaha

BAB V HASIL PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Agregat yang digunakan untuk penelitian ini, untuk agregat halus diambil dari

Semakin besar nilai MHB, semakin menunjukan butir butir agregatnya. 2. Pengujian Zat Organik Agregat Halus. agregat halus dapat dilihat pada tabel 5.

Pemeriksaan Kadar Air Agregat Halus (Pasir) Tabel 1. Hasil Analisis Kadar Air Agregat Halus (Pasir)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

TEKNIKA VOL.3 NO.1 APRIL_

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC (Portland

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

STUDI ESKPERIMENTAL SETTING TIME BETON MUTU TINGGI MENGGUNAKAN ZAT ADIKTIF FOSROC SP 337 & FOSROC CONPLAST R

PERBAIKAN BETON PASCA PEMBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN LAPISAN MORTAR UTAMA (MU-301) TERHADAP KUAT TEKAN BETON JURNAL TUGAS AKHIR

PENGARUH BAHAN TAMBAHAN PLASTICIZER TERHADAP SLUMP DAN KUAT TEKAN BETON Rika Sylviana

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

NASKAH PUBLIKASI. untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil. diajukan oleh : DIKA SETIAWAN NIM : D

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KUAT TEKAN BETON DENGAN PENAMBAHAN SIKAMENT NN

Transkripsi:

PEMANFAATAN TERAK TANUR TINGGI DARI HASIL PEMBAKARAN BATA MERAH DESA BOGOR CAWAS KLATEN SEBAGAI BAHAN TAMBAH DAN KAPUR TOHOR SEBAGAI PENGGANTI SEMEN UNTUK CAMPURAN BETON Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S1 Teknik Sipil diajukan oleh : EKO YULIARITNO NIM : D 100 100 057 kepada: PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2015

LEMBAR T},NGESAIIAN PEMANFAATAIT TERAK TANUR TINGGT I}AAI HASIL PEMBAKARAN BATA MERAH DESA BOGOR CAWAS KLATEN SEBAGAI BAAAN TAMBAII I}AN KAPUR TOHOR SEBAGAI r$n G;GAN'I'I SI,MI,N UN'I' U K CAMPURAN BI,'T'()N Naskah Publikasi T\i^irrl---,l^r rlimrf^l^alaa no,lo T fiiaa Da-zlorlo-oa srrrjt*r\flr g(+u syvrg[4lracra y4\f{a vjtgu r vrr\t{t\ri{!&r Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal, 9 Oktober 2015 diajukan oleh : r,ko YULIATTI'I'NO NIM : D 100 lm 057 Susunan DewanPenguji n --t :--,t,: r UIII T'I I II 1.,I Peiidauipiiig a \trd 1?l(9 dti"*sf,diatmikoltrrr. NIP: 131683033 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana S-l Teknik Sipil Surakarta, 27 Oktober 20 I 5 Mengetahur

PEMANFAATAN TERAK TANUR TINGGI DARI HASIL PEMBAKARAN BATA MERAH DESA BOGOR CAWAS KLATEN SEBAGAI BAHAN TAMBAH DAN KAPUR TOHOR SEBAGAI PENGGANTI SEMEN UNTUK CAMPURAN BETON Eko Yuliaritno Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta e-mail :eko.yuliaritno@yahoo.com ABSTRAK Beton merupakan campuran antara semen, agregat kasar, agregat halus, air dan bisa juga diberi bahan tambah yang sangat bervariasi pada persentase tertentu agar berfungsi lebih baik dan lebih ekonomis. Penambahan terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah (TBM) yang dihaluskan sebagai bahan tambah dalam campuran beton diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif yang cukup baik dan pemberian kapur tohor sebagai pengganti semen dimaksudkan untuk menjadi bahan ikat yang penting dan banyak dipakai dalam pembangunan fisik beton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kuat tekan, kuat tarik dan kuat lentur beton yang dihasilkan dari penambahan terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah dengan perekat semen atau semen dan kapur tohor. Persentase variasi penambahan serbuk terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah adalah 0%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15% dari berat semen, dan persentase kapur tohor adalah 25% dari berat semen sebagai pengganti sebagian semen. Jumlah keseluruhan benda uji beton ada 36 buah, 24 buah berupa silinder beton dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dan 12 buah berupa balok beton dengan panjang 60 cm, tinggi 20 cm dan lebar 10 cm. Beton tidak bertulang dan pengujian yang dilakukan adalah uji kuat tekan beton, kuat tarik belah beton dan kuat lentur beton setelah umur 28 hari, mix design menggunakan metode Road Note no.4. Dari hasil pengujian kuat tekan beton normal dengan menggunakan perekat semen adalah 18,108 MPa, dengan penambahan serbuk TBM sebesar 12,5% menghasilkan kuat tekan maksimal sebesar 27,954 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 35,223%. Nilai kuat tekan beton normal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 13,807 MPa, dengan penambahan TBM sebesar 10% menghasilkan kuat tekan maksimal sebesar 22,125 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 37,596%. Pengujian kuat tarik belah beton normal dengan menggunakan perekat semen adalah 6,889 MPa, dengan penambahan serbuk TBM sebesar 12,5% menghasilkan kuat tarik belah maksimal sebesar 10,044 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 31,416%. Nilai kuat tarik belah beton normal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 5,822 MPa, dengan penambahan serbuk TBM sebesar 5% menghasilkan kuat tarik belah maksimal sebesar 8,4 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 30.668%. Pengujian kuat lentur beton normal dengan menggunakan perekat semen adalah 5.773 MPa, dengan penambahan serbuk TBM sebesar 15% menghasilkan kuat lentur maksimal sebesar 6,227 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 7,301%. Nilai kuat lentur beton normal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 2,971 MPa, dengan penambahan serbuk TBM sebesar 12,5% menghasilkan kuat lentur maksimal sebesar 6,042 MPa, sehingga mengalami peningkatan sebesar 50,825%. Kata kunci : Terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah, Kuat tekan, Kuat tarik belah Kuat lentur, Penambahan maksimal.

PENDAHULUAN Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. Teknologi dibidang kontruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat, termasuk teknologi beton yang hampir disetiap aspek pembangunan selalu terkait dengan beton. Beton merupakan salah satu faktor utama dalam bidang kontruksi mengingat fungsinya adalah sebagai salah satu pembentuk struktur pada konstruksi bangunan. (Tjokrodimuljo, 1996). Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas campuran beton yaitu dengan menggunakan terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah sebagai bahan tambah, dan kapur tohor sebagai pengganti sebagian semen diharapkan dapat menjadi perekat yang baik pada beton dan bisa menjadi salah satu alternatif yang cukup baik serta pemberian kapur tohor sebagai pengganti sebagian semen dimaksudkan untuk mengurangi jumlah pemakaian semen Pada penelitian ini dicoba untuk mengetahui kapasitas kuat tekan, kuat tarik belah dan kuat lentur beton dengan bahan tambah terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah yang dihaluskan dan kapur tohor sebagai pengganti sebagain semen, dengan Faktor Air Semen (FAS) 0,5. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1). Bagaimana pengaruh penambahan terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah baik dengan menggunakan perekat semen atau semen dan kapur tohor terhadap kuat tekan, kuat tarik belah dan kuat lentur beton. 2). Berapa persentase maksimal penambahan terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah agar didapatkan kuat tekan, kuat tarik belah dan kuat lentur maksimal pada beton. Adapun batas masalah yang dibatasi dalam penelitian ini adalah : 1). Semen yang digunakan adalah semen Portland, jenis I merk Gresik. 2). Agregat kasar (split) dan agregat halus (pasir), berasal dari kali Woro Klaten. 3). Terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah didapat dari Desa Bogor Cawas, Klaten, yang dihaluskan lolos saringan no. 100. 4). Kapur tohor berasal daerah Pandan Simping, Klaten. 5). Faktor Air Semen (FAS) yang digunakan 0,5. 6). Mix design menggunakan metode Road Note No 4. 7). Persentase variasi penambahan serbuk terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah adalah 0%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15% dari berat semen. 8). Persentase kapur tohor adalah 0% dan 25% dari berat semen. 9). Jumlah keseluruhan benda uji 36 buah, 24 buah berupa silinder dengan diameter 15 cm, tinggi 30 cm dan 12 buah berupa balok dengan panjang 60 cm, lebar 10 cm dan tinggi 20 cm. 10). Benda uji kuat tekan beton berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dengan jumlah 12 benda uji silinder beton, 6 buah silinder beton menggunakan perekat semen dan 6 buah silinder beton menggunakan perekat semen dan kapur tohor, dan masing-masing diberi penambahan serbuk terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah. 11). Benda uji kuat tarik belah beton berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dengan jumlah 12 benda uji silinder beton, 6 buah silinder beton menggunakan perekat semen dan 6 buah silinder beton menggunakan perekat semen dan kapur tohor, dan masing-masing diberi penambahan serbuk terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah. 12). Benda uji kuat lentur beton berupa balok dengan panjang 60 cm, lebar 10 cm dan tinggi 20 cm dengan jumlah 12 benda uji balok, 6 buah balok menggunakan perekat semen dan 6 buah balok menggunakan perekat semen dan kapur tohor, dan masing-masing diberi penambahan serbuk terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah. 13). Beton tidak bertulang, dan pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat tekan beton, kuat tarik belah beton dan kuat lentur beton setelah umur 28 hari. Bahan-Bahan Campuran Beton Bahan penyusun beton yang utama terdiri dari campuram pasir, kerikil, air dan semen portland. Beton termasuk bahan bangunan yang mudah dibuat, akan tetapi dalam pembuatannya harus dikerjakan atau direncanakan secara teliti, agar dapat menghasilkan beton yang bermutu bagus dan kuat (Tjokrodimuljo, 1992). Bahan penyusun beton antara lain : 1). Semen Portland Semen portland adalah bahan penyusun beton yang secara umum terdiri dari silika,kapur, dan alumunium. Semen portland berfungsi sebagai bahan pengikat pada beton. Suatu semen akan menjadi pasta

semen jika diaduk dengan air, akan menjadi mortar semen jika diaduk dengan air dan ditambah dengan pasir, atau bisa disebut beton jika ditambah lagi dengan kerikil atau batu pecah. Fungsi semen itu sendiri adalah untuk merekatkan butiran-butiran agregat pada bp eton agar menjadi suatu massa yang padat. Semen juga berfungsi untuk mengisi rongga-rongga antar butiran agregat, (Tjokrodimuljo 1996). 2). Agregat. Kandungan agregat dalam suatu campuran beton biasanya sangat tinggi, komposisinya dapat mencapai 60% 70% dari berat campuran beton. Walaupun fungsinya hanya sebagai bahan pengisi, tetapi karena komposisinya yang cukup besar, maka peran agregat menjadi sangat penting. Karena itu karakteristik dari agregat perlu dipelajari dengan baik, sebab agregat dapat menentukan sifat mortar atau beton yang akan dihasilkan (Mulyono, 2004). Penggunaan agregat dalam beton adalah untuk : a). Menghemat penggunaan semen portland. b). Menghasilkan kekuatan yang besar pada beton. c). Mengurangi susut pengerasan beton. d). Mencapai susunan beton yang padat. e). Mengontrol workabilitas beton. Dengan gradasi agregat yang baik (gradasi menerus), maka akan didapatkan beton yang mudah dikerjakan. 3). Air Air adalah salah satu bahan utama beton yang sangat penting dan relatif paling mudah didapatkan. Akan tetapi air yang digunakan untuk campuran beton mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tidak semua air bisa dipakai sebagai bahan campuran beton. Beberapa persyaratan pemakaian air yang harus dipenuhi untuk beton diantaranya (Tjokrodimuljo, 1996) : a). Tidak terdapat kandungan lumpur atau benda melayang yang lain >2 gram/liter. b). Tidak terdapat kandungan garam-garam (asam,zat organik,dll)>15 gram/liter. c). Tidak terdapat kandungan klorida (CI) >0,5 gram/liter. d). Tidak terdapat senyawa sulfat >1 gram/liter. 4). Bahan Tambah Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air,semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton, sebelum, segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo, 1996). Bahan tambah yang dipakai pada penelitian ini adalah terak tanur tinggi dari hasil pembakaran bata merah Desa Bogor Cawas Klaten. Merupakan hasil dari pembakaran bata merah dengan suhu yang sangat tinggi, melebihi suhu normal pembakaran bata merah, hal itu menyebabkan bata merah seperti meleleh dan berubah bentuknya sehingga bata merah tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai bahan pembuat dinding seperti bata merah pada umumnya. Kebanyakan para pembuat bata merah membuang begitu saja bata merah tersebut, karena dianggap tidak bisa dipergunakan. Dalam penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk memanfaatkan bata merah tersebut, agar kedepannya bisa berguna dan tidak terbuang sia-sia. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Road Note No.4 yaitu dengan mengadakan percobaan di laboratorium guna mendapatkan hasil yang menjelaskan bagian-bagian yang diteliti.benda uji yang digunakan dalam penelitian ini silinder dengan ukuran 15x30 cm dan balok dengan ukuran 60x10x20 cm. Dengan rincian sebagai berikut : Perencanaan Campuran Beton Perencanaan campuran beton yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan metode Road Note No.4. adapun langkah-langkah sebagai berikut (Mulyono, 2004) : 1. Hitung kuat tekan rata-rata rencana. 2. Menentukan FAS dari gambar grafik hubungan antara FAS dengan kuat tekan. 3. Buat proporsi agregat dari hasil masing-masing fraksi (perbandingan antara agregat halus dan agregat kasar), sehingga masuk dalam salah satu kurva dalam gambar grafik gradasi campuran. 4. Tetapkan proporsi antara agregat dengan semen berdasarkan tingkat kemudahan pengerjaan. Dengan tabel proporsi agregat dengan semen. 5. Hitung proporsi antara semen, air, dan agregat dengan FAS dan proporsi antara agregat semen yang diperoleh dari langkah 2 dan 4. 6. Kebutuhan dasar dari beton dihitung menggunakan rumus :...(III 1) Tahap-Tahap Penelitian 1. Tahap I (Persiapan) Pada tahap ini semua bahan material dan alat-alat yang diperlukan harus dipersiapkan terlebih dahulu. 2. Tahap II (Pemeriksaan bahan) Bahan untuk pembuatancampuran beton dilakukan pengujian. Bahan yang di uji antara lain semen, agregat halus, air, dan limbah abu ampas tebu. 3. Tahap III (Pembuatan rancangan campuran) Kegiatan pada tahap ini yaitu perencanaan rancangan campuran.

Kuat Tekan (MPa) 4. Tahap IV (Pembuatan benda uji) Setelah sesuai rencana maka semua bahan dicampur kemudian diaduk hingga rata. 5. Tahap V (Perawatan dan Pengujian) Benda uji yang sudah dibuat kemudian dilakukan perawatan dengan cara direndam didalam air selama 28 hari. Setelah dilakukan perawatan kemudian benda uji dilakukan pengujian yaitu uji kuat tekan. 6. Tahap VI (Analisis Data dan Kesimpulan) Pada tahap ini data yang diperoleh dari hasil pengujian lalu dianalisis dan dibahas. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dilakukan dilaboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta, merupakan suatu pencarian data yang mengacu pada perumusan masalah, yaitu untuk mengetahui bahanbahan material yang digunakan sudah memenuhi syarat atau tidak dan mengetahui efek dari penambahan Serbuk TBM terhadap mutu dan kuat tekan. Hasil Pengujian Agregat Pengujian agregat meliputi kandungan zat organik, kandungan lumpur, berat jenis, serapan air, dan gradasi. Tabel 1. Hasil Pengujian Agregat Halus Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan SNI Keterangan Kandungan Organik Orange SNI 03-2816-1992 Memenuhi Pemeriksaan SSD ( Saturated Surface Dry) 2,5 SNI 03-2816-1992 Memenuhi Berat Jenis SNI 03-1970-2008 1). Berat jenis bulk 2,42 Memenuhi 2). Berat jenis SSD 2,52 Memenuhi 3). Berat jenis semu 2,69 Memenuhi Absortion% 4,16% Memenuhi Kandungan Lumpur 3,21% SNI 03-2816-1992 Memenuhi Gradasi Pasir Daerah III SNI 03-6820-2002 Memenuhi Modulus Halus Butir 3,03 - Memenuhi (sumber: hasil penelitian) Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa bahanbahan material yang digunakan dalam campuran beton sudah memenuhi syarat. Tabel 2. Hasil Pengujian Agregat Kasar Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan SNI Keterangan Berat jenis SNI 03-1969-2008 Memenhi 1). Berat jenis bulk 2,69 2). Berat jenis SSD 2,73 3). Berat jenis semu 2,79 Absortion% 1,36 Memenuhi Keausan agregat 65,4 SNI 03-2417-1991 Memenuhi Gradasi agregat kasar Daerah II SNI 03-1968-1990 Memenuhi Modulus halus butir 6,03 Memenuhi Hasil Pengujian Beton 1. Kuat tekan Pada penelitian ini kuat tekan awal diperoleh dari pengujian kuat tekan beton yang direndam pada air tawar umur 28 hari. Tabel 3. Data hasil pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan perekat semen. Variasi Luas Beban Serbuk Permukaan Maksimum Kuat Tekan TBM (mm) (N) (N/mm 2 ) (MPa) S-0% 17672 320000 18.108 18.108 S-5% 17672 426000 24.106 24.106 S-7,5% 17672 443000 25.068 25.068 S-10% 17672 487000 27.558 27.558 S-12,5% 17672 494000 27.954 27.954 S-15% 17672 437000 24.728 24.728 (sumber: hasil penelitian) 30,2 27,7 25,2 22,7 20,2 17,7 18,108 24,106 25,068 27,558 27,954 24,728 Variasi Serbuk TBM Gambar V.1. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat tekan beton dengan perekat Semen.

Kuat Tekan (MPa) Kuat Tarik Belah (MPa) Dari data yang diperoleh pada Tabel V.6, nilai kuat tekan beton normal sebesar 18,108 MPa. Pada beton dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat tekan sebesar 24,106 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 7,5% diperoleh kuat tekan sebesar 25,068 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 10% diperoleh kuat tekan sebesar 27,558 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM,5% diperoleh kuat tekan sebesar 27,954 MPa, dan pada beton dengan penambahan serbuk TBM 15% diperoleh kuat tekan sebesar 24,728 MPa. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dan penambahan serbuk TBM sebesar 10% dari berat semen dapat menaikkan kuat tekan beton sebesar 27,558 MPa. Tabel 4. Data hasil pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. Persentase Variasi Luas Beban Kapur Serbuk Permu kaan Maksimum Kuat Tekan Tohor TBM (mm) (N) (N/mm 2 ) (MPa) 25% SK-0% 17672 244000 13.807 13.807 SK-5% 17672 289000 16.354 16.354 SK-7,5% 17672 377000 21.333 21.333 SK-10% 17672 391000 22.125 22.125 SK- 12,5% 17672 338000 19.126 19.126 SK-15% 17672 276000 15.618 15.618 (sumber: hasil penelitian) tekan sebesar 21,333 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 10% diperoleh kuat tekan sebesar 22,125 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 12,5% diperoleh kuat tekan sebesar 19,126 MPa, dan pada beton dengan penambahan serbuk TBM 15% diperoleh kuat tekan sebesar 15,618 MPa. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dan penambahan serbuk TBM sebesar 10% dari berat semen dapat menaikkan kuat tekan beton sebesar 22,125 MPa. 2. Kuat Tarik Belah beton Tabel 5. Data hasil pengujian kuat tarik belah beton dengan menggunakan perekat semen. Variasi Serbuk L D Beban Maksimum TBM (mm) (mm) (N) (N/mm 2 ) Kuat Tekan (MPa) S-0% 300 150 155000 6.889 6.889 S-5% 300 150 180000 8.000 8.000 S-7,5% 300 150 185000 8.222 8.222 S-10% 300 150 197000 8.756 8.756 S-12,5% 300 150 226000 10.044 10.044 S-15% 300 150 170000 7.556 7.556 (sumber: hasil penelitian) 10,5 10,044 22,4 20,6 18,8 17,0 15,2 13,4 13,807 16,354 21,333 22,125 19,126 15,618 SK-0% SK-5% SK-7,5% SK-10% SK-12,5% SK-15% Variasi Serbuk TBM Gambar V.4. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat tekan beton dengan perekat semen dan kapur tohor. Dari data yang diperoleh pada Tabel V.9, nilai kuat tekan beton normal adalah sebesar 13,807 MPa. Pada beton dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat tekan sebesar 16,357 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 7,5% diperoleh kuat 9,7 8,9 8,1 7,3 6,5 6,889 S-0% 8,000 8,222 8,756 7,556 S-5% S-7,5% S-10% S-12,5% S-15% Variasi Serbuk TBM Gambar V.7. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat tarik belah beton dengan menggunakan perekat semen. Dari data yang diperoleh pada Tabel V.12, nilai kuat tarik belah beton normal adalah sebesar 6,889 MPa. Pada beton dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 8,0 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 7,5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 8,222 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 10% diperoleh kuat tarik

Kuat Tarik Belah (MPa) belah sebesar 8,756 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 10,044 MPa, dan pada beton dengan penambahan serbuk TBM 15% diperoleh kuat tarik belah sebesar 7,566 MPa. Tabel 6. Data hasil pengujian kuat tarik belah beton dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. Persentase Variasi L D Beban Kapur Serbuk Maksimum Tohor TBM (mm) (mm) (N) 25% SK-0% 300 SK-5% 300 SK-7,5% 300 SK-10% 300 SK- 12,5% 300 SK-15% 300 150 150 150 150 150 150 (N/mm 2 ) Kuat Tekan (MPa) 131000 5.822 5.822 143000 6.356 6.356 166000 7.378 7.378 182000 8.089 8.089 189000 8.400 8.400 154000 6.844 6.844 (sumber: hasil penelitian) 8,8 8,0 7,2 6,4 5,822 6,356 7,378 8,089 8,400 6,844 5,6 SK-0% SK-5% SK-7,5% SK-10% SK-12,5% SK-15% Variasi Serbuk Bata Merah Gambar V.8. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat tarik belah beton dengan perekat semen dan kapur tohor Dari data yang diperoleh pada Tabel V.13, nilai kuat tarik belah beton normal adalah sebesar 5,822 MPa. Pada beton dengan penambahan serbuk bata merah 5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 6,356 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk bata merah 7,5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 7,378 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk bata merah 10% diperoleh kuat tarik belah sebesar 8,089 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk bata merah 12,5% diperoleh kuat tarik belah sebesar 8,40 MPa, dan pada beton dengan penambahan serbuk bata merah 15% diperoleh kuat tarik belah sebesar 6,844 MPa. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dan kapur tohordengan penambahan serbuk bata merah 12,5% dari berat semen dapat menaikkan kuat tarik belah beton sebesar 8,40 MPa.

Kuat Lentur (MPa) 3. Kuat Lentur beton Tabel 7. Data hasil pengujian kuat lentur beton dengan menggunakan perekat semen. Variasi L b h P q Kuat Lentur Serbuk TBM (mm) (mm) (mm) (N) (N/mm) (N/mm 2 ) (MPa) B-0% 450 100 200 34100 0.480 5.773 5.773 B-5% 450 100 200 34300 0.465 5.806 5.806 B-7,5% 450 100 200 35100 0.463 5.941 5.941 B-10% 450 100 200 35500 0.457 6.008 6.008 B-12,5% 450 100 200 36500 0.456 6.177 6.177 B-15% 450 100 200 36800 0.454 6.227 6.227 (sumber: hasil penelitian) 6,300 6,180 6,177 6,227 6,060 5,940 5,820 5,773 5,806 5,941 6,008 5,700 B-0% B-5% B-7,5% B-10% B-12,5% B-15% Variasi Serbuk TBM Gambar V.11. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat lentur beton menggunakan perekat semen. Dari data yang diperoleh pada Tabel V.15, kuat lentur beton normal adalah sebesar 5,773 MPa. Pada beton dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat lentur sebesar 5,806 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 7,5% diperoleh kuat lentur sebesar 5,941 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 10% diperoleh kuat lentur sebesar 6,008 MPa, pada beton dengan penambahan serbuk TBM 12,5% diperoleh kuat lentur sebesar 6,117 MPa, dan pada beton dengan penambahan serbuk TBM 15% diperoleh kuat lentur sebesar 6,227 MPa. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dengan penambahan serbuk TBM 15% dari berat semen didapat kuat lentur terbesar yaitu 6,227 MPa. Tabel 8. Data hasil pengujian kuat lentur beton dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. Persentase Variasi Kapur Serbuk L b h P q Kuat Lentur Tohor TBM (mm) (mm) (mm) (N) (N/mm) (N/mm 2 ) (MPa) BK-0% 450 100 200 17500 0.470 2.971 2.971 BK-5% 450 100 200 22100 0.463 3.747 3.747 25% BK-7,5% 450 100 200 25300 0.458 4.287 4.287 BK-10% 450 100 200 35000 0.457 5.924 5.924 BK-12,5% 450 100 200 35700 0.455 6.042 6.042 BK-15% 450 100 200 29530 0.453 5.000 5.000

Kuat Lentur (MPa) 6,400 5,800 5,200 4,600 4,000 3,747 4,287 5,924 6,042 5,000 3,400 2,800 2,971 BK-0% BK-5% BK-7,5% BK-10% BK-12,5% BK-15% Variasi Serbuk TBM Gambar V.12. Grafik hubungan antara variasi serbuk TBM dengan pengujian kuat lentur beton menggunakan perekat semen dan kapur tohor. Dari data yang diperoleh pada Tabel V.17, kuat lentur beton normal adalah sebesar 2,971 MPa. Pada beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 5% diperoleh kuat lentur sebesar 3,747 MPa, pada beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 7,5% diperoleh kuat lentur sebesar 4,287 MPa, pada beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 10% diperoleh kuat lentur sebesar 5,924 MPa, pada beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 12,5% diperoleh kuat lentur sebesar 4,827 MPa, dan pada beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 15% diperoleh kuat lentur sebesar 5,00 MPa. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen dengan penambahan serbuk TBM 15% dari berat semen didapat kuat lentur terbesar yaitu 5,924 MPa.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan pada BAB V, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Nilai kuat tekan beton normal menggunakan semen sebesar 18,108 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% mengalami peningkatan sebesar 35,223%, sehingga menjadi 27,954 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% didapatkan hasil penambahan kuat tekan maksimal dengan menggunakan perekat semen. Nilai kuat tekan beton normal menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 13,807 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 10% mengalami peningkatan sebesar 37,596%, sehingga menjadi 22,125 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 10% didapatkan hasil penambahan kuat tekan maksimal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. 2. Nilai kuat tarik belah beton normal menggunakan perekat semen sebesar 6,889 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% mengalami peningkatan sebesar 31,416%, sehingga menjadi 10,044 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% didapatkan hasil penambahan kuat tarik belah maksimal dengan menggunakan perekat semen. Nilai kuat tarik belah beton normal menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 5,822 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 5% mengalami peningkatan sebesar 30.668%, sehingga menjadi 8,4 Mpa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% didapatkan hasil penambahan kuat tarik belah maksimal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. 3. Nilai kuat lentur beton normal menggunakan perekat semen sebesar 5.773 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 15% mengalami peningkatan sebesar 7.301%, sehingga menjadi 6,227 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 15% didapatkan hasil penambahan kuat lentur maksimal dengan menggunakan perekat semen. Nilai kuat lentur beton normal menggunakan perekat semen dan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen adalah 2,971 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% mengalami peningkatan sebesar 50,825%, sehingga menjadi 6,042 MPa. Pada penambahan serbuk TBM 12,5% didapatkan hasil penambahan kuat lentur maksimal dengan menggunakan perekat semen dan kapur tohor. 4. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan perekat semen dan kapur tohor lebih bagus hasilnya, karena dengan mengurangi jumlah semen dan digantikan dengan kapur tohor sebesar 25% dari berat semen, serta dengan penambahan serbuk TBM 10% didapat kuat tekan sebesar 22,125 MPa, diatas kuat tekan rencana yaitu 20 MPa. SARAN Dari kesimpulan di atas maka dapat dibuat suatu saran-saran sebagai berikut : 1). Sebelum melakukan penelitian, perlu dikenali sifat bahan dan peralatannya terlebih dahulu agar hal-hal di luar spesifikasi bisa diantisipasi dengan baik. 2). Untuk membuat sampel benda uji beton sesuai spesifikasi yang telah direncanakan sebelumnya, diperlukan pemahaman yang baik dalam perencanaan bata beton dan pelaksanaan yang baik dalam langkah-langkah pembuatan benda uji beton. 3). Alat uji kuat tekan Compression Tension Machine harus benar-benar akurat, atau teruji keakuratannya untuk menguji benda uji yang mempunyai kuat tekan rendah, serta pembacaan jarum beban maksimal harus teliti dan cermat sehingga bisa mendapatkan nilai kuat tekan beton yang benar-benar akurat 4). Untuk penelitian selanjutnya, perlu dicoba variasi serbuk TBM yang lebih detail lagi agar dapat meningkatkan kualitas mutu beton lebih bagus dari penelitian ini. 5). Perlu diadakan penelitian lagi tentang bahan perekat semen dan kapur tohor, dengan persentase kapur tohor yang berbeda dan menambahkan bahan tambah yeng barsifat mengikat lebih kuat sehingga menghasilkan beton dengan kuat tekan yang tinggi dan mengurangi penggunaan semen. DAFTAR PUSTAKA DPU, 1971. Peraturan Beton Bertulang Indonesia, N.1-2 1971, Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Departemen Pekerjaan Umum, Bandung. Mulyono, T., 2004. Teknologi Beton, Penerbit ANDI, Yogyakarta. Nugraha, P., Antoni., 2007, Teknologi Beton Dari Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi, Penerbit ANDI, Yogyakarta. SNI 03-1968-1990, 1990, Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat Halus Dan Kasar, BSN SNI 03-1969-2008, 2008, Metode Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar, BSN.

SNI 03-1970-1990, 1990, Metode Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus, BSN. SNI 03-1972-1990, 1990, Metode Pengujian Slump Beton, BSN. SNI 03-2417-1991, 1991, Metode Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los Angles, BSN. SNI 03-2816-1992, 1992, Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam Pasir Untuk Campuran Mortar Atau Beton, BSN. SNI 03-2816-1992, 1992, Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam Pasir Untuk Campuran Mortar Atau Beton, BSN. SNI 03-2491-2002, 2002, Metode Pengujian Kuat Tarik Belah Beton. SNI 03-2823-1992, 1992, Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Memakai Gelagar Sederhana Dengan Sistem Beban Titik Di Tengah. SNI 03-1974-1990, 1990, Metode Pengujian Kuat Tekan Beton. Subakti, A. 1995. Teknologi Beton Dalam Praktek, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Tjokrodimuljo,K.,1996. Teknologi Beton, Biro Penerbit Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.