5 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Teori Kesadaran perlunya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran didasarkan adanya kenyataan bahwa siswa sebagian besar tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman konsep akademik yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka, baik lingkungan kerja maupun di masyarakat. 1. Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) Nurhadi (2005: 5) berpendapat bahwa pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan ketujuh komponen utama pembelajaran efektif. Penerapan pembelajaran kontekstual, Ditjen Dikdasmen dalam (Komalasari, 2003: 11) mengemukakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama yaitu: (1) Konstuktivisme (Constructivism), merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terdapat (sempit). Pengetahuan seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan demikian pembelajaran harus dikemas menjadi mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. (2) Menemukan (Inquiry), merupakan bagian inti dari CTL. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat faktor-faktor, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan, merujuk pada kegiata menemukan, apapun materi yang diajarkan. (3) Bertanya (Questioning), pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir 5
6 siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pelatihan ada aspek yang belum diketahui. (4) Masyarakat belajar (Learning Community) bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar, memberi informasi yang diperlukan teman belajarnya. Konsep masyarakat belajar menyadarkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. (5) Pemodelan (Modeling) dalam semua pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi serta tuntutan siswa semaki berkembang, telah berdampak pada kemampuan guru. Oleh karena itu, maka kini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. (6) Refleksi (Reflection), berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lkukan di masa lalu. Siswa mendapat apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. (7) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment), adalah proses pengumpulan data siswa yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assesment tidak dilakukan diakhir periode, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara yaitu, tes hanya salah satunya. 2. Landasan Filosofis Pembelajaran Kontekstual Landasan filosofi pembelajaran kontekstual mendasarkan pada filosofi konstrukstivisme. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi
7 kita sendiri. Glasersfeld dalam (Komalasari, 1989: 34). Proses kontruksi itu, diperlukan beberapa kemampuan seperti: kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman-pengalaman, kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan dan kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain. 1. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik yang khas untuk membedakannya dengan pendekatan pembelajaran lain. Blanchard dalam (Komalasari, 2001: 2-8) mengidentifikasikan beberapa karakteristik pendekatan kontekstual (contextual instruction) sebagai berikut: (1) Relies on spatial memory (berstandar pada memori mengenai ruang); (2) typically integrated multiple subjects (menintegrasikan berbagai subyek materi); (3) value of information is based on individual need (nilai informasi didasarkan pada kebutuhan siswa). Susan B. Hersh (1998) serta Elaine B. Johnson (2002) mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang mencakup : (a) Pembelajaran berbasis masalah; (b) Keberagaman dan saling keterkaitan konteks; (c) Kemandirian dalam belajar, yang mencakup kesadaran berpikir, penggunaan berbagai strategi, dan pemberian motivasi secara terus menerus; (d) Pembelajaran berdasarkan pada konteks pengalaman siswa yang beragam. Dalam praktek pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, Rohayati, (2005: 15 ) mengemukakan bahwa ada lima aspek yaitu: (a) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge); (b) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge); (c) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge); (d) Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh (applying knowledge); (d) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Secara umum, langkah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut: (1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan; (2) Laksanakan
8 sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik; (3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; (4) Ciptakan masyarakat belajar; (5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran; (6) Lakukan refleksi diakhir pertemuan; (7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. 2. Hakekat Pembelajaran Matematika Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Selain mempunyai sifat yang abstak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 1). Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa dan konteks pembelajaran. Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran. B. Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mujiono (2002: 3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi hasil belajar dan tindak mengajar. Sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar yang menjadi bukti dari usaha yang telah dilakukan, dalam kegiatan belajar dan proses belajar adalah hasil belajar yang biasa diukur melalui tes. Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Menurut Slameto (2003: 54-72), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
9 Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam individu siswa atau pembelajar meliputi faktor fisik atau jasmani dan faktor mental atau faktor rohani. Faktor fisik misalnya fisik yang lemah, sakit dan sebagainya. Faktor mental psikologis meliputi kecerdasan atau intelegensi, minat, konsentrasi, ingatan, dorongan rasa ingin tahu siswa dan sebagainya. Faktor lain dari internal: Jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), Psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), kelelahan. Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu pembelajaran meliputi faktor alam fisik, lingkungan, sarana fisik dan non fisik, serta strategi pembelajaran yang dipilih dalam proses pembelajaran untuk menunjang proses belajar mengajar. Faktor lain dari eksternal: keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah) masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat) Nana Sudjana, (2001: 39) mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern (dari dalam) diri siswa dan faktor ekstern (dari luar) siswa. Berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Kehadiran faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal. C. Hasil Penelitian yang Relevan Menurut Jaenudin (2008) pembelajaran matematika menggunakan pendekatan kontekstual diterapkan pada siswa kelas VIII A dan VIII B SMPN 1 Lembang, sikap siswa terhadap matematika dan pembelajarannya adalah sangat positif, sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual adalah
10 sangat positif, dan sikap siswa terhadap representasi matematik beragam adalah positif. Dengan kata lain implementasi pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan kontekstual sudah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan atau tidak menyimpang dari kaidah pendekatan kontekstual secara teorik. Menurut Sri Mulyati (2008), sikap siswa kelas VIII B Laboratorium Universitas Negeri Malang terhadap matematika terdiri dari duapuluh butir pernyataan dengan koefisien reliabilitas alpha 0,8743. Motivasi belajar matematika terdiri dari duapuluh butir pernyataan dengan koefisien reliabilitas alpha 0,8065. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan Multivariate Analysis of variance (MANOVA). Hasil analisis menunjukkan: (1) ada perbedaan yang signifikan sikap terhadap matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan yang mengikuti pembelajaran konvensional, (2) ada perbedaan motivasi belajar matematika yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan yang mengikuti pembelajaran konvensional, pendekatan pembelajaran konvensional memberikan pengaruh yang lebih baik pada motivasi belajar matematika dibandingkan pembelajaran kontekstual, (3) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan yang mengikuti pembelajaran konvensional, pembelajaran kontekstual memberikan pengaruh yang lebih baik pada hasil belajar matematika dibandingkan dengan pembelajaraan konvensional. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematik dengan pendekatan kontekstual mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika. D. Kerangka Berpikir Pendekatan pembelajaran yang digunakan di SD Negeri Watuagung 1 adalah berpusat pada guru atau sering disebut dengan pembelajaran pendekatan konvensional. Materi diberikan dengan urutan diajarkan konsep dari materi pelajaran, kemudian diberikan contoh, setelah itu diberikan latihan soal untuk penguatan konsep. Hal ini membuat siswa jenuh akan pelajaran matematika karena disajikan dengan monoton. Sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah terhadap pelajaran matematika rendah.
11 Penelitian ini mencoba menerapkan model pembelajaran yang lain yaitu pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) di mana guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Melalui penggunaan model pembelajaran ini, diharapkan pada kondisi akhir siswa mengalami perubahan hasil belajar. Berdasrkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) akan berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa. Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) (X). Hasil Belajar siswa. (Y) D. Hipotesis Berdasarkan kerangka berpikir uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu, bahwa ada pengaruh menggunakan pembelajaran pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap hasil belajar pada pelajaran matematika di SD Negeri Watuagung 1 Tuntang pada pokok bahasan bangun ruang.