BAB I PENDAHULUAN. Slamet Rahardjo, Strategi Pembelajaran Musik Anak Usia Dini, CeHa Graphics, Salatiga, 2006, hlm. 1. 2

dokumen-dokumen yang mirip
MODEL BERMAIN PARAREL SEBAGAI MEDIA DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK (SEBUAH ANALISIS METODE PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam UU RI NO.20 TH 2003 adalah:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Artinya, pendidikan diharapkan dapat membuat manusia menyadari

BAB I PENDAHULUAN. (Pasal 1 UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003). Dari bagian-bagian itu tidak

BAB I PENDAHULUAN. pilar yaitu, learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara

Pendidikan TPA/ KB. Eka Sapti C

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kurikulum Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA)

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU - PAUD JURUSAN PEDAGOGIK FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009

BAB I PENDAHULUAN. (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan anak sebanyak-banyaknya. Di masa peka ini, kecepatan. pertumbuhan otak anak sangat tinggi hingga mencapai 50 persen dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Anak Usia Dini adalah pendidikan yang diselenggarakan

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

PENDIDIKAN TPA & KB. Martha Christianti

BAB I PENDAHULUAN. adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/prilaku,

BAB I PENDAHULUAN. karakter dan kepribadian anak. Berdasarkan Undang - undang Sistem. Pendidikan Nasional NO.20 Tahun 2003 BAB I ayat 14, menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. tahun yang bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.

BAB I PENDAHULUAN. kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih tinggi. yang di selenggarakan di lingkungan keluarga.

BAB I PENDAHULUAN. penting karena Pendidikan Anak Usia Dini merupakan fondasi dasar. Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN TAMAN KANAK-KANAK BERDASARKAN MINAT ANAK (Studi Kasus di TK Negeri Pembina Surakarta) T E S I S.

BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul merupakan aset yang paling berharga

BAB I PENDAHULUAN. terhadap apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Anak seolah-olah tidak

BAB I PENDAHULUAN. sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. formal, non-formal dan informal. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir

BAB I PENDAHULUAN. melalui jalur pendidikan formal (Taman Kanak Kanak, Raudhatul Athfal,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. layanan pendidikan diperoleh setiap individu pada lembaga pendidikan secara

BAB I PENDAHULUAN. mulia serta ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam perwujudan diri individu terutama bagi pembangunan bangsa dan Negara.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Istilah kognitif sering kali dikenal dengan istilah intelek. Intelek

BAB I PENDAHULUAN. PLAY GROUP DAN TPA DI YOGYAKARTA Berdasarkan pada nilai-nilai kebudayaan Jawa

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SENTRA BALOK DI PAUD ISLAM MAKARIMA KARTASURA TAHUN AJARAN 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN. oleh pemerintah. Utamanya untuk Pendidikan anak Usia Dini. Menurut UU

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Nasional adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak

BAB I PENDAHULUAN. Usia dini merupakan masa keemasan atau golden age (Slamet. Suyanto, 2005: 6). Oleh karena itu pendidikan pada masa ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh. yang mencakup aspek fisik dan nonfisik dengan memberikan rangsangan

BAB I PENDAHULUAN. dan pertumbuhan anak karena merupakan masa peka dalam kehidupan anak. Masa

BAB I PENDAHULUAN. begitu saja terjadi sendiri secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi

BAB I PENDAHULUAN. yang sederajat) dan jalur pendidikan informal yang berbentuk pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.2 Menurut PP No.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan

BAB I PENDAHALUAN. Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak merupakan. sekarang ini, salah satu upaya ke arah tersebut adalah Pendidikan Anak Usia

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan. Nasional (sisdiknas), disebutkan dalam pasal 1 ayat (14), Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK MELALUI ALAT PERMAINAN EDUKATIF DARI KARDUS BEKAS DI TK GESI I, SRAGEN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Didalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha

BAB I PENDAHULUAN. tersebut perubahan tidak akan terjadi dan tujuan tidak akan tercapai. Pendidikan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK MELALUI PERMAINAN PIRING HURUF DI RAUDHATUL ATHFAL DARMA WANITA PADANG ARTIKEL

BAB 1 PENDAHULUAN. di Indonesia. Hal ini sebagaimana diatur dalam UU Sisdiknas BAB VI Pasal 13

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum memasuki

BAB I PENDAHULUAN. dimana seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK USIA DINI MELALUI PERMAINAN ROLET KATA DI TAMAN KANAK KANAK AISYIYAH KUBANG AGAM

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK MELALUI PERMAINAN MEMANCING HURUF BERGAMBAR DI TK NEGERI PEMBINA AGAM NIKE PRANSISKA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. anak menentukan perkembangan anak selanjutnya. Anak usia dini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. buruknya masa depan bangsa. Jika sejak usia dini anak dibekali dengan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga kebutuhan anak usia dini terlayani sesuai dengan masa. perkembangannya. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas, Pendidikan adalah usaha

BAB I PENDAHULUAN. yaitu TPA, Playgroup dan PAUD sejenis (Posyandu). Pendidikan formal yaitu. Taman Kanak-kanak (TK) maupun Raudhatul Athfal (RA).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. (Undang Undang Sisdiknas tahun 2003) dari inilah maka, Pendidikan yang. bagaimana keberhasilan anak di masa mendatang.

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi sosial yang diakselerasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. dapat menunjukkan bakat di lingkungan masyarakat. Pendidikan diarahkan

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan harkat martabat manusia. Pendidikan akan menciptakan

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat S1 Sarjana pendidikan Anak Usia Dini

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat di zaman modren saat. Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 dinyatakan bahwa :

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas pendidikan. daya manusia dan merupakan tanggung-jawab semua pihak, baik

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU GAMBAR DI TAMAN KANAK-KANAK NEGERI PEMBINA AGAM

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Bijaou (Hurlock, 1980: 5) menjelaskan bahwa usia 2-5 tahun merupakan

2016 TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR TERPADU TEMA: ARSITEKTUR BERMAIN

BAB I PENDAHULUAN. layak, hal ini tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan di Indonesia sangat berkembang pesat. Pemerintah

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA MELALUI PERMAINAN TEBAK NAMA DI TK AISYIYAH CABANG BLIMBING POLOKARTO SUKOHARJO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. proses perkembangan dengan pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Renni Rohaeni, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Anak adalah aset bangsa yang paling berharga. Karena anak adalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Widi Rahmawati, 2013

UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI MELALUI METODE OUT BOND DI KELOMPOK BERMAIN PUTRA BANGSA PASUNGAN, CEPER, KLATEN TAHUN AJARAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya anak usia dini merupakan masa-masa keemasan yang harus

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan sebagai salah satu syarat tujuan pembangunan. Pendidikan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui

BAB I PENDAHULUAN. oleh mutu pendidikan dari bangsa itu sendiri. Pendidikan yang tinggi akan

BAB I PENDAHULUAN. dan bernegara. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini. Pendidikan merupakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. usia dini yang berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar kearah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Anak usia dini merupakan sosok individu yang sedang menjalani suatu

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa kanak-kanak merupakan masa paling awal dalam rentang kehidupan yang akan menentukan perkembangan pada tahap-tahap selanjutnya. Bagi suatu bangsa, anak sebagai generasi penerus adalah masa depan bangsa itu sendiri, sehingga kualitas pendidikan bagi anak-anak sangat menentukan tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.1 Anak yang berusia antara 2-6 tahun biasanya sudah dapat dimasukkan dalam program pendidikan pra sekolah. untuk usia 2-3 tahun para orangtua biasanya diikutsertakan dalam program pendidikan yang disebut kelompok bermain (play group). Sedangkan pada anak usia 4-6 tahun ditempatkan di taman kanak-kanak, karena anak pada usia 4-6 tahun sudah mampu merangkai kata untuk berbicara dengan lawan bicaranya. Dan juga mampu menyerap informasi yang di dapatnya dari kehidupan sosialnya. Meskipun belum begitu sempurna dalam memahami dan merespon informasi tersebut. Maka dari itu anak usia seperti itu sudah dapat diberikan landasan pendidikan, guna melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 28 ayat (2) menyebutkan Penddikan anak usia dini dapat diselenggarakan melaui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal. Kemudian pada ayat (3) menyebutkan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.2 Taman Kanak-kanak (TK) 1 Slamet Rahardjo, Strategi Pembelajaran Musik Anak Usia Dini, CeHa Graphics, Salatiga, 2006, hlm. 1. 2 UU RI No. 20 Th. 2003, Undang-undang Sisdiknas (Sistem Pandidikan Nasional)2003, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 16.

2 menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.3 Agar menjadi pribadi yang utuh, anak pada usia pra sekolah selain memiliki berbagai ketrampilan juga harus memiliki kreativitas. Apabila proses pendidikan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan adanya keseimbangan aspek tersebut, maka output pendidikan akan mampu mengantisipasi perubahan dan kemajuan masyarakat. Oleh sebab itu pendidikan kita harus mampu mengemas proses pendidikan dengan baik, dengan kata lain proses belajar mengajar kita harus memperhatikan aspek kreativitas. Pengembangan kreativitas pada peserta didik yang dimulai sejak awal, akan mampu membentuk kebiasaan cara berfikir peserta didik yang sangat bermanfaat bagi peserta didik itu sendiri dikemudian hari. Menghadapi anak berbakat dan kreatif, orang tua atau guru harus mencari cara perlakuan khusus. Meskipun tidak berlaku umum, konsep kreatifitas berhubungan dengan sifat bawaan yang disertai dengan kecerdasan dan keunggulan. Sesuatu dapat dikatakan hasil kreatifitas jika merupakan pembaharuan dan memiliki fungsi yang memasyarakat. Biasanya kreativitas lahir dari tuntutan untuk memenuhi kebutuhan utama manusia.4 Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik merupakan gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.5 Sementara anak didik sama halnya dengan peserta didik berstatus sebagai subjek didik (tanpa pandangan usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya. 3 Ibid, hlm. 52. Jauhad Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islami, Gema Insani Press Jakarta, 1999, hlm. 29. 5 Dedy Supriyadi, Kreativitas Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK, Alfabeta, Bandung, 1997, hlm. 7. 4

3 Untuk mengembangkan kreativitas, anak tidak hanya perlu mendapatkan latihan saja, tetapi juga harus diisi dengan bahan-bahan yang dapat menjadi bahan untuk mancetuskan sebuah ide. Bahan yang terbaik untuk pencetus ide adalah pengalaman-pengalaman yang dialami sendiri merupakan bahan bakar yang terkaya, karena pengalaman ini cenderung selalu kita ingat dan akan muncul setiap diperlukan. Maka perlu adanya model yang tepat dalam mengembangkan kreativitas anak, salah satunya adalah model bermain pararel. Huizinga mengatakan bahwa bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara bebas dan sukarela, kegiatannya dibatasi oleh waktu dan tempat, menggunakan peraturan yang bebas dan tidak mengikat, memiliki tujuan tersendiri dan mengandung unsur ketegangan, kesenangan serta kesadaran yang berbeda dari kehidupan biasa.6 Melihat beberapa ciri di atas, bermain dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, suka rela tanpa paksaan, dan tak sungguhan dalam batas waktu, tempat dan ikatan peraturan. Namun bersamaan dengan ciri itu, bermain menuntut ikhtiar yang sungguh-sungguh dari pemainnya. Ciri lain yang juga harus dimanfaatkan dari bermain adalah sifat dan kemampuannya untuk melibatkan banyak peserta, meskipun bukan berarti harus diikuti banyak orang. Dari ciri itu, bermain dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan kelompok sosial karena dilakukan bukan hanya sendirian tetapi dalam suasana berkelompok. Kaitannya dengan model bermain pararel, bahwa permainan model ini dilakukan secara bersama-sama oleh dua atau lebih anak, namun belum tampak adanya interaksi diantara mereka. Mereka melakukan kegiatan yang sama secara sendiri-sendiri. Bentuk kegiatan ini akan tampak pada anak-anak yang sedang bermain mobil-mobilan, membuat bangunan dari alat permainan lego atau balokbalok menurut kreasi masing-masing. Bentuk lainnya dapat berupa bermain sepeda atau sepatu roda tanpa berinteraksi.7 Mereka melakukan kegiatan paralel; 6 7 Tim Penyusun, Modul Permainan Anak dan Aktivitas Ritmik, UT, Jakarta, 2010, hlm. 3. Ibid, hlm. 4.

4 kegiatan yang sama, tapi tidak ada kerja sama diantara mereka. Hal ini dapat terjadi karena mereka masih amat egosentris dan belum mampu memahami atau berbagi rasa atau bekerja sama dengan anak lain. Berdasarkan pre-survey yang dilakukan di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus bahwa telah dilaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan berbagai macam model pembelajaran, salah satu diantaranya adalah model bermain pararel, karena dalam memberikan pemahaman anak didik di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus perlu adanya permainan yang memotivasi anak agar memiliki kreativitas dalam belajar, seperti bermain mobil-mobilan, dimana anak-anak melakukan secara pararel namun tidak ada interaksi didalamnya hanya mendengarkan dan melihat arahan atau bimbingan dari guru. Selain itu, juga terdapat permainan balok yang bertuliskan huruf-huruf hijaiuah, permainan puzzel, semuanya ini anak merasa senang ketika belajar sambil bermain. Melihat paparan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul Penelitian Analisis Pembelajaran Agama Islam Melalui Model Bermain Pararel dalam Pengembangan Kreativitas Anak di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus Tahun Pelajaran 2014/2015 B. Fokus Penelitian Fokus penelitian merupakan batasan dalam penelitian, maka penelitian ini memfokuskan pada pembelajaran pendidikan Islam melalui model bermain pararel dalam mengembangkan kreatifitas anak, karena adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori-teori dan supaya penelitian dapat dilakukan secara mendalam, maka tidak semua masalah yang berkaitan dengan penelitian ini dapat diteliti. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

5 1. Bagaimana penerapan model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam dalam pengembangan kreativitas anak di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015? 2. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pengembangan kreativitas anak melalui model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015? 3. Bagaimana hasil yang diperoleh penerapan model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam dalam pengembangan kreativitas anak di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015? D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian perlu ditetapkan, hal ini dimaksudkan agar ada petunjuk serta penentu arah penelitian itu sendiri. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui penerapan model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam dalam pengembangan kreativitas anak di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015. 2. Untuk mengetahui faktor apa yang mendukung dan menghambat pengembangan kreativitas anak melalui model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015 3. Untuk mengetahui hasil yang diperoleh penerapan model bermain pararel pada pembelajaran agama Islam dalam pengembangan kreativitas anak di RA Tarbiyatul Athfal Jelak Kesambi Mejobo Kudus tahun pelajaran 2014/2015. E. Manfaat Penelitian Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

6 Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi referensi yang telah ada, sehingga dapat memberikan wacana bagi semua pihak. Di samping itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pendidikan terutama pada pembelajaran agama Islam melalui model bermain pararel dalam mengembangkan kreativitas anak. 2. Manfaat Praktis Penelitian yang penulis lakukan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak-pihak yang berkaitan. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis untuk menambah wawasan penulis tentang pembelajaran agama Islam melalui model bermain pararel dalam pengembangan kreativitas anak. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi guru dan calon guru untuk membekali diri dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar khususnya pembelajaran agama Islam melalui model bermain pararel dalam pengembangan kreatifitas anak. c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif kepada lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan dengan cara meningkatkan kualitas edukatifnya