Modul ke: Metode Observasi & Wawancara Ilmu Pernyataan Pernyataan Tubuh Bagian Atas (Wajah) Pernyataan Badan dan Anggota Badan Fakultas PSIKOLOGI Muhammad Ramadhan, M.Psi, Psikolog. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id
Ilmu Pernyataan A. Sejarah Ilmu Pernyataan B. Pernyataan Tubuh Bagian Atas (Wajah) C. Pernyataan Badan dan Anggota Badan
Sejarah Ilmu Pernyataan Piderit (ahli anatomi) menulis mengenai pernyataan wajah Tujuan membuat anatomi berguna untuk pelukis dan pemahat karena gerakan-gerakan ekspresif bukan hanya sisasisa gerakan yang berguna. bahwa sesuatu yang dipikirkan dapat memberikan respons pernyataan
Sejarah Ilmu Pernyataan Charles Darwin Peneliti awal mengenai pernyataan emosi dengan bukunya : Expressions of The Emotions of Man and Animals (1872). Bahwa tiga gerakan pada wajah mula-mula ada fungsi dan bahwa fungsi ekspresif ini muncul dari fungsi praktis situasi dengan salah satu dari 3 prinsip pernyataan emosi.
3 Bentuk Pernyataan Pernyataan Primer Muncul karena rangsang dari luar diri dan tidak disadari yang bersangkutan. Pernyataan Sekunder Muncul karena adanya penghayatan keadaan jiwa. Pernyataan Tersier Muncul berhubungan dengan keadaan jiwa namun disini ada maksud yang disadari dan disengaja (misalnya: Menari).
Pernyataan Tubuh Bagian atas (Wajah) 3 indera sehubungan dengan bentuk mimik, yaitu : A. Mata Perasaan bahwa segala sesuatu dapat dilihat. B. Hidung Menentukan aroma atau bau. C. Mulut Untuk menghadapi situasi tertentu.
A. Mata Mata terbuka lebar teratur kesediaan untuk menerima sesuatu Mata terbuka penuh Menerima kesan-kesan dari sekeliling, Sebagai contoh ketika seseorang sedang meresapi dan menikmati pemandangan. Mata tertutup, tak ada ketegangan Ditemukan dalam keadaan tidur atau tidak mempunyai minat terhadap dunia luar.
A. Mata Kelopak mata yang tergantung Terjadi jika sudah lelah Mata yang terlindung Memikirkan sesuatu dengan terpusat pada suatu hal Mata yang disipitkan Pernyataan tidak senang, seakan-akan mata diancam sakit. Kedipan mata ragu-ragu, bimbang
Dahi 3 kemungkinan pernyataan dahi, yaitu : 1. Kerut horizontal : takut terkejut, kekaguman, kurang mengerti. 2. Kerut vertical pemusatan energi, kekuatan atau kemauan. Karena itu disebut juga kerut kemauan. 3. Kerut berbahaya isyarat bahwa ybs berada dalam kesukaran dan menjadi beban baginya.
C. Mulut Reaksi mengecap Rasa yang masuk ke mulut (Reaksi pahit, reaksi asam, reaksi manis) Variasi mulut terbuka Cara-cara menutup mulut Dengan tekanan, memperlihatkan tidak adanya keinginan lagi untuk berhubungan.
B. Mulut Kelakuan rahang dan gigi Gigi yang dikatupkan memperlihatkan afek yaitu kearahan, ketakutan atau campuran afek. Kelakuan lidah berhubungan dengan mencicipi dan meraba. Seperti halnya menjilat bibir dapat berarti menikmati atau meraba Cara tertawa Tertawa merupakan pengeluaran udara secara ritmis dari tubuh melalui mulut
C. Hidung Cuping hidung yang mengembang Memungkinkan bau memasuki tanpa suatu hambatan. Menaikkan hidung Perilaku ini harus dihubungkan dengan reaksi pahit(bibir bagian atas naik). Gerakan ke atas ini dengan sendirinya menaikkan cuping hidung dan memungkinkan terjadinya pernyataan.
Pernyataan Badan dan Anggota Badan A. Gerakan Sikap Kepala B. Gerakan Bahu C. Gerakan dan Sikap Badan D. Lengan dan Tangan E. Kaki dan Tungkai
A. Gerakan Sikap Kepala Menarik dagu Menegakan kepala kesedian untuk bertindak. Tetapi apabila berlebihan timbul kesan kesombongan, merasa diri lebih. Menggelengkan kepala dengan cepat Sikap ini menggambarkan keberanian, sikap menentang, kesan otoritas.
A. Gerakan Sikap Kepala Menjatuhkan kembali dengan lemas setelah suatu sikap tegang Menyerah pada rasa terancam, sudah tidak berdaya. Kepala dikebelakangankan dengan lemas Malas, pasif untuk menerima sesuatu Menundukkan kepala Keadaan menyerah, menghapus hubungan dengan dunia luar. Kesan tersebut mempunyai kesalahan yang disadari.
A. Gerakan Sikap Kepala Menjulurkan kepala minat terhadap dunia, ingin mengetahui Memutarkan kepala sehingga menghadap penuh frontal Pengakuan adanya kesediaan untuk bertindak, percaya diri sendiri.
A. Gerakan Sikap Kepala Memutarkan kepala sehingga tidak menghadap penuh mengamati secara tersembunyi - tidak diketahui orang lain. kesan lain yaitu kesombongan. Memutar kepala kearah yang berlawanan Buang muka dan berarti tidak mau mengerti keberadaan orang lain.
B. Gerakan Bahu Mengangkat bahu Perasaan terancam atau tak yakin diri sendiri Menurunkan bahu Perasaan bebas dan yakin akan diri sendiri Berganti-ganti mengangkat dan menurunkan bahu Memperlihatkan keragu-raguan
B. Gerakan Bahu Bahu digerakkan kedepan Merasa lemah dan meyerah Bahu ditekan ke depan Terkejut dan takut
C. Gerakan Sikap Badan Bagian atas berhubungan dengan pernafasaan.membesarkan rongga dada - rasa kuasa serta kesediaan untuk bertindak, Menyempitkan rongga dada - rasa kuasa, takut, orang yang tak pernah gembira, pasif. Bagian bawah badan merasa terancam -- berusaha melindungi organ-organ tersebut, membungkukan badan, menegangkan urat perut
D. Lengan dan Tangan Keadaan istirahat Tangan yang bermain, menunjukkan tanda adanya suatu keadaan terangsang (nervous, gugup, bingung). Menutup tangan Mengepal berarti peningkatan ketegangan. menaham emosi. Tangan yang meraih (memegang)- kita memerlukan pegangan,
D. Lengan dan Tangan Membuka tangan Tangan diarahkan ke atas dapat diartikan ingin menerima sesuatu. Membukan tangan kearah dalam biasanya dilakukan dalam tindakan meminta. Membuka ke depan menarik tangan ke atas dan di buka kearah depan - memperlihatkan tidak bersenjata dan bermaksud baik. Membuka kebawah - menenangkan, meredakan situasi.
D. Lengan dan Tangan Meluruskan telunjuk Mengarahkan perhatian pada benda yang ada dalam ruangan atau menunjukkan sesuatu. Gerakan tangan pada wajah Sedang memikirkan sesuatu atau berusaha mencari pemecahan atas suatu persoalan. Tangan sebagai alat peraba
E. Kaki dan Tungkai Cara berdiri Semakin keras lutut ditekan kebelakang, semakin tegang yang bersangkutan. Sikap kaki yang berganti-ganti digerakkan. Hal ini juga dapat pada mereka yang mau memberi kesan seakan akan percaya diri. Cara berjalan Cara berjalan dapat dibedakan antara cara berjalan menuju sesuatu dengan cara berjalan tanpa tujuan.
E. Kaki dan Tungkai Cara duduk Dalam menilai cara duduk, kita terutama menilainya berdasarkan situasi yang menyenangkan dan mengancam. Cara duduk tenang, kita duduk dengan tenang dan menikmati keadaan itu, bersandar sambil melemaskan urat-urat terutama melemaskan tungkai Sikap tegang, tidak melemaskan diri, sehingga tidak bersandar, badan bagian atas agak dimajukan agar secepat mungkin dapat berdiri.
Terima Kasih Muhammad Ramadhan, M.Psi