II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Selada

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Menurut Haryanto, Suhartini dan Rahayu (1996), klasifikasi tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. (brassicaceae) olek karena itu sifat morfologis tanamannya hampir sama, terutama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk),

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menjadi menarik sehingga mampu menambah selera makan. Selada umumnya

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Sistematika tanaman sawi dalam Sharma (2007) adalah sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk),

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Syarat Tumbuh Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)

BAB 2. KERANGKA TEORITIS

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik berarti melakukan budidaya tanaman tanpa media tanah. Dalam

BAB I Pendahuluan. tropis sehingga tanahnya sangat subur dan cocok untuk pertanian dan. meningkatkan hasil-hasil pertanian serta perkebunan.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Setiap jenis sayuran memiliki karakteristik dan manfaat kandungan gizinya

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

TINJAUAN PUSTAKA. Di Indonesia tanaman seledri sudah dikenal sejak lama dan sekarang

Disebut Hidroponik, apabila menggunakan air bersih dan nutrisi sebagai media tanam

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Biotani Sistimatika Sawi. Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Panjang akarnya dapat mencapai 2 m. Daun kacang tanah merupakan daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Caisim diduga berasal dari Tiongkok (Cina) dan Asia Timur.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Semangka merupakan tanaman semusim yang termasuk ke dalam famili

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Sawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sawi termasuk ke dalam famili Crucifera (Brassicaceae) dengan nama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. oleh masyarakat. Selada digunakan sebagai sayuran pelengkap yang dimakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang hijau termasuk suku (famili) leguminoseae yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. dataran tinggi. Tanaman ini jarang dikonsumsi dalam bentuk mentah, tetapi biasa

TINJAUAN PUSTAKA. Pakchoy (Brasicca chinensis L.) merupakan tanaman sayuran yang berasal dari

TINJAUAN PUSTAKA Botani

Menurut van Steenis (2003), sistematika dari kacang tanah dalam. taksonomi termasuk kelas Dicotyledoneae; ordo Leguminales; famili

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Kawasan Rumah Pangan Lestari

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ordo: Polypetales, Famili: Leguminosea (Papilionaceae), Genus:

umbinya tipis berwarna kuning pucat dengan bagian dalamnya berwarna putih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. hortikultura berperan penting terhadap perkembangan gizi masyarakat,

II. TINJAUAN PUSTAKA. mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selada mengandung mineral iodium, fosfor,

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal

BAB II HIDROPONIK NFT

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Caulifloris. Adapun sistimatika tanaman kakao menurut (Hadi, 2004) sebagai

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. akar-akar cabang banyak terdapat bintil akar berisi bakteri Rhizobium japonicum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pupuk Organik dan Pupuk Sintesis (Anorganik) Pupuk adalah bahan yang diberikan pada tanah, air atau daun dengan

BAB I PENDAHULUAN. tanaman di dalam larutan hara yang menyediakan semua unsur unsur hara yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. media tanamnya. Budidaya tanaman dengan hidroponik memiliki banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari China dan telah dibudidayakan setelah abad ke-5 secara luas di

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. inflasi, substitusi impor dan memenuhi permintaan dalam negeri (Direktorat Jendral

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari pertanian organik itu sendiri diantaranya untuk menghasilkan produk

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang termasuk dalam famili Cruciferae dan berasal dari Cina bagian tengah. Di

I. PENDAHULUAN. Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman sayur yang dikonsumsi

TINJAUAN PUSTAKA. kedalaman tanah sekitar cm (Irwan, 2006). dan kesuburan tanah (Adie dan Krisnawati, 2007).

TINJAUAN PUSTAKA. pada perakaran lateral terdapat bintil-bintil akar yang merupakan kumpulan bakteri

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem

TINJAUAN PUSTAKA. Teknik Budidaya Melon

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung manis (Zea mays sacharata Sturt.) dapat diklasifikasikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Nutrisi Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Menanam Sayuran Dengan Teknik Vertikultur

Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)

TINJAUAN PUSTAKA. menerima nutrisi yang seimbang. Tanaman tersebut lebih sehat karena menghabiskan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Caisin merupakan tanaman dengan iklim sub-tropis, namun mampu

TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Kacang Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hidroponik yang ada yaitu sistem air mengalir (Nutrient Film Technique). Konsep

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tomat

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

1. Pengertian Hidroponik. 2. Sejarah Hidroponik

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pakcoy merupakan tanaman dari keluarga Cruciferae yang masih berada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMANFAATAN DAUN LAMTORO TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN ANGGREK TANAH (Vanda sp.) PADA CAMPURAN MEDIA PASIR DAN TANAH LIAT

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Selada Menurut Haryanto et al. (1996), klasifikasi tanaman selada adalah sebagai berikut, Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Dicotyledoneae, Ordo: Asterales, Famili: Asteraceae, Genus: Lactuca, Spesies: Lactuca sativa L. Tanaman selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar serabut menempel pada batang, tumbuh menyebar ke semua arah pada kedalaman 20-50 cm atau lebih. Sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman diserap oleh akar serabut. Sedangkan akar tunggang tanaman selada tumbuh lurus ke pusat bumi. Daun tanaman selada memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam, bergantung pada varietasnya. Jenis selada yang membentuk krop memiliki bentuk daun bulat atau lonjong dengan ukuran daun lebar atau besar, daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan ada yang berwarna hijau agak gelap. Sedangkan jenis selada yang tidak membentuk krop, daunnya berbentuk bulat panjang, berukuran besar, bagian tepi daun bergerigi (keriting), dan daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan merah. Daun selada memiliki tangkai daun lebar dan tulang-tulang daun menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan halus. Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan serta memiliki rasa agak manis. Daun selada umumnya memiliki ukuran panjang 20-25 cm dan lebar 15 cm atau lebih (Haryanto et al., 1996). Tanaman selada memiliki batang sejati. Batang selada krop sangat pendek dibanding dengan selada daun dan selada batang. Batangnya hampir tidak terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Diameter batang selada krop juga lebih kecil yaitu berkisar antara 2-3 cm dibanding dengan selada batang yang diameternya 5,6-7 cm dan selada daun yang diameternya 2-3 cm (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Bunga selada berbentuk dompolan. Tangkai bunga bercabang banyak dan setiap cabang akan membentuk anak cabang. Pada dasar bunga terdapat daundaun kecil, namun semakin ke atas daun tersebut tidak muncul. Bunganya berwarna kuning. Setiap krop panjangnya antara 3-4 cm yang dilindungi oleh 4

beberapa lapis daun pelindung yang dinamakan volucre. Setiap krop mengandung sekitar 10-25 anak bunga yang mekarnya serentak ( Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Biji tanaman selada berbentuk lonjong pipih, berbulu, agak keras, berwarna coklat, serta berukuran sangat kecil, yaitu panjang empat milimeter dan lebar satu milimeter. Biji selada merupakan biji tertutup dan berkeping dua. Biji ini dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Selada daun tidak membentuk krop. Tipe ini helaian daunnya lepas, tepi daun berombak, beberapa varietas daunnya ada yang berwarna hijau dan ada juga yang berwarna merah tua (gelap), daun lebar dan berukuran besar. Daun halus, renyah, dan enak (agak manis). Selada daun lebih enak dimakan mentah sebagai lalapan, selain itu juga banyak digunakan sebagai hiasan untuk aneka masakan. Tipe selada daun memiliki batang panjang dan terlihat. Tipe ini tahan terhadap kondisi panas dan dingin, sehingga bisa dibudidayakan di dataran rendah maupun di dataran tinggi (Haryanto et al., 1996). 2.2. Syarat Tumbuh Selada dapat tumbuh di dataran tinggi maupun dataran rendah. Namun, hampir semua tanaman selada lebih baik diusahakan di dataran tinggi. Pada penanaman di dataran tinggi, selada cepat berbunga. Suhu optimum bagi pertumbuhannya adalah 15 20 0 C ( Haryanto, 1996). Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1997), suhu sedang adalah hal yang ideal untuk produksi selada berkualitas tinggi, suhu optimumnya untuk siang hari adalah 20 0 C dan malam hari adalah 10 0 C. Suhu yang lebih tinggi dari 30 0 C biasanya menghambat pertumbuhan. Pada musim kemarau tanaman ini memerlukan penyiraman yang cukup teratur. Selain tidak tahan terhadap hujan, tanaman selada juga tidak tahan terhadap sinar matahari yang terlalu panas. Umumnya intensitas cahaya tinggi dan hari panjang meningkatkan laju pertumbuhan, dan mempercepat perkembangan luas daun, sehingga daun menjadi lebih lebar, yang berakibat pembentukan kepala menjadi lebih cepat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). 5

Selada dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Hal yang terpenting adalah memperhatikan pemilihan varietas yang cocok dengan lingkungan (ekologi) setempat. Daerah-daerah yang dapat ditanami selada terletak pada ketinggian 5-2.200 meter di atas permukaan laut. Namun, biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100-500 m dpl. Selada krop biasanya membentuk krop bila ditanam di dataran tinggi, tapi ada beberapa varietas selada krop yang dapat membentuk krop di dataran rendah seperti varietas Great Lakes dan Brando (Haryanto et al., 1996). Selada tumbuh baik pada tanah yang subur dan banyak mengandung humus. Tanah yang banyak mengandung pasir dan lumpur baik sekali untuk pertumbuhannya. Meskipun demikian tanah jenis lain seperti lempung berdebu dan lempung berpasir juga dapat digunakan sebagi media tanam selada (Haryanto et al., 1996). Pada tanah yang asam, tanaman ini tidak dapat tumbuh karena keracunan Mg dan Fe (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Menurut Haryanto et al. (1996), tanaman selada dapat ditanam pada berbagai jenis tanah. Namun, pertumbuhan yang baik akan diperoleh bila ditanam pada tanah liat berpasir yang cukup mengandung bahan organik, gembur, remah, dan tidak mudah tergenang air. Selada dapat tumbuh baik dengan ph 6,0-6,8 atau idealnya 6,5. 2.3. Hidroponik Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa (Siswadi, 2015). Menurut Lingga (1999 ), hidroponik atau istilah hydroponics adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara bercocok tanam tanpa tanah sebagai tempat menanam tanaman. Istilah ini dikalangan umum lebih populer dengan sebutan berkebun tanpa tanah. Air yang digunakan hendaknya memenuhi syarat-syarat tertentu misalnya ph, kekeruhan, ukuran partikel, unsur-unsur kimia, dan proporsi. Kemurnian dan daya larut bahan kimia pupuk yang digunakan harus tinggi, sehingga tidak ada endapan yang akan menyumbat sistem irigasi. Unsur 6

hara atau nutrisi yang terkandung didalam larutan mempunyai proporsi tertentu sesuai dengan kebutuhan jenis tanaman, fase pertumbuhan dan sasaran produksi. Menurut Resh (1985), total konsentrasi unsur -unsur dalam larutan hara harus berkisar antara 1.000-1.500 ppm sehingga tekanan osmotik akan memfasilitasi proses penyerapan oleh akar. Sistem hidroponik berdasarkan media tumbuhnya terdiri dari: 1) Kultur air: Nutrient Film Technique, irigasi tetes, Floating Hydroponic System, 2) Kultur agregat: pasir, arang sekam, kerikil, batu apung, 3) Aeroponik: medium gas. Beberapa model dasar hidroponik yang biasa dikembangkan di Indonesia yaitu: 1) Wick System (Sistem sumbu), 2) Water Culture (Kultur air), 3) Ebb and Flow (Pasang surut), 4) Drips System (Irigasi tetes), Nutrient Film Technique (NFT), 5) Floating Hidroponic System (FHS), dan 6) Aeroponik (Suhardiyanto, 2002). Salah satu model hidroponik yang biasa digunakan dan sederhana yaitu sistem hidropnik rakit apung. Floating hydroponic system (FHS) atau sistem hidroponik rakit apung merupakan salah satu model dasar sistem hidroponik. Menurut Hartus (2007), sistem hidroponik rakit apung adalah budidaya tanaman (terutama sayuran) dengan cara menanam tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung atau kolam dengan akar menjuntai ke dalam air. Dalam sistem ini sebagian akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi. Tabel 2.1. Perbedaan umum budidaya secara hidroponik dengan konvensional No Hidroponik Konvensional 1 Bekerja secara steril atau bersih Bekerja tidak bersih atau tidak steril 2 Penggunaan nutrisi yang efisien Penggunaan nutrisi kurang efisien 3 Tanaman bebas dari gulma Gulma sering tumbuh ditanah 4 Pertumbuhan tanaman terkontrol Pertumbuhan tanaman tidak terkontrol 5 Kuantitas dan kualitas tanaman Kuantitas dan kualitas tanaman sedang sangat tinggi dan terkontrol dan kurang terkontrol 6 7 8 Mempunyai ciri : Mempunyai ciri : a) Lahan yang dibutuhkan sempit dan nilai jual tinggi b) Kesuburan dapat diatur b) Kesuburan sulit diatur Tanpa pengolahan dan media Medium tanah perlu diolah dapat dipakai berulang-ulang Kandungan hara seragam, dapat diatur, dan tidak perlu masa bero Sumber : Primantoro dan Yovita, 1999 a) Lahan yang digunakan lebih luas dan nilai jual sedang Kandungan hara bervariasi, sulit diatur, dan perlu masa bero 7

2.4. Unsur Hara Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan. Hara tersedia bagi tanaman pada ph 5,5 7,5 tetapi yang terbaik adalah 6,5. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut (Anas et al., 2004). Kadar ph tanaman pada sistem hidroponik dan kebutuhan nutrisi (ppm) pada beberapa tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.2. Kadar ph dan kebutuhan nutrisi (ppm) pada beberapa tanaman No. Tanaman ph Kebutuhan Nutrisi (ppm) 1 Kacang 6,0 1400-2800 2 Brokoli 6,0-6,8 1960-2450 3 Kubis 6,5-7,0 1750-2100 4 Capsicum 6,0-6,5 1260-1540 5 Wortel 6,3 1120-1400 7 Kubis bunga 6,5-7,0 1050-1400 8 Seledri 6,5 1260-1680 9 Ketimun 5,5 1190-1750 10 Terung 6,0 1750-2450 11 Bawang putih 6,0 980-1260 12 Selada 6,0-7,0 780-1170 13 Pak choi 7,0 1050-1400 Sumber: Pak Tani Hidrofarm Pupuk majemuk (AB Mix) mengandung semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman yang berupa hara makro N, P, K, Mg, Ca, dan S maupun hara mikro Fe, Mn, Zn, B, Cu dan Mo. Adapun H, C dan O didapat dari udara dan air. Pertumbuhan vegetatif dari suatu tanaman pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh komponen hara yang diberikan. Pertumbuhan vegetatif dari hara yang 8

mengandung campuran NO - 3 dan NH + - 4 dengan bagian NO 3 lebih tinggi akan memberikan hasil yang terbaik (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Adapun kandungannya dari pupuk majemuk AB Mix adalah 9,90% NO 3 ; 0,48% NH 4 ; 4,83% P 2 O 5 ; 16.50% K 2 O; 2,83% MgO; 11,48% CaO; 3,81% SO 3 ; 0,013% B; 0,025% Mn; 0,015% Zn; 0,002% Cu; 0,003% Mo dan 0,037% Fe. Berdasarkan penelitian Wijayani dan Widodo (2005) tentang usaha meningkatkan kualitas varietas tomat dengan sistem hidroponik yang dilakukan di rumah plastik menunjukkan bahwa tomat varietas Bonanza dan Kaliurang 206 sama-sama mempunyai keunggulan apabila dibudidayakan secara hidroponik. Bobot buah meningkat sampai 1259,62 g/tanaman dengan kualitas baik, terutama kekerasan buah dan vitamin C. Formula larutan Sundstrom sangat tepat untuk larutan hidroponik tomat, terutama meningkatkan bobot buah, jumlah buah, kekerasan buah, kadar vitamin C dan kadar gula total. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusumawardhani dan Widodo (2002), di lahan percobaan, pada dasarnya keempat jen is hara pupuk yaitu Joro AB Mix, Grow More, Gandapan, dan Hyponex dapat digunakan sebagai sumber hara untuk budidaya tomat secara hidroponik. Mengingat tidak adanya unsur Ca dalam pupuk Gandapan penambahan unsur Ca diperlukan. Keempat jenis pupuk yang digunakan untuk tingkat produksi, jumlah daun terbanyak, dan persentase buah baik yang paling tinggi dicapai oleh tanaman tomat dengan jenis hara yang berasal dari pupuk Joro AB Mix kemudian Hyponex diikuti oleh Grow More dan Gandapan. Menurut hasil penelitian Wasonowati (2011) pada tanaman tomat, menyatakan bahwa perlakuan jenis nutrisi Hidrogroup dan Greentonik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah bunga, bobot basah dan bobot kering batang dan daun. Tidak terjadi interaksi antara jenis nutrisi dan ukuran polybag pada tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah bunga, saat berbunga tanaman tomat. Penanaman dengan sistem hidroponik harus diberikan larutan hara dengan konsentrasi yang tepat karena jika konsentrasinya rendah maka tanaman akan mengalami kekurangan hara, sebaliknya jika diberikan dalam jumlah banyak maka terjadi kelebihan yang akan menghambat pertumbuhan tanaman. Media 9

tanam pada sistem hidroponik memberikan kontribusi hara yang kecil sehingga harus diberikan hara dalam bentuk larutan yang telah diracik terlebih dahulu. Pasir halus ataupun media lainnya secara umum hanya mengandung nutrisi yang sangat sedikit (Sarawa, 2011). Hasil penelitian Perwitasari et al. (2012), menunjukkan bahwa perlakuan komposisi media arang sekam dan nutrisi Goodplant berbeda nyata pada berbagai umur pengamatan disetiap variabel pengamatan panjang tanaman, jumah daun, luas daun, kandungan klorofil daun, diameter bonggol, berat basah total tanaman dan berat kering total tanaman. Inka (2012), menyatakan bahwa aplikasi terbaik terhadap konsentrasi pupuk majemuk cair terbaik terdapat pada perlakuan P2 yaitu 2 ml/ l air pada parameter jumlah daun pertanaman, berat basah (g) dan berat kering (g) tanaman sawi (Brassica rapa L.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara keseluruhan perlakuan pupuk Joro AB Mix sebagai kontrol, menunjukkan hasil tertinggi pada semua variabel pertumbuhan dan hasil tanaman dibandingkan dengan perlakuan media cair paitan dan media cair kotoran sapi pada berbagai perlakuan (Prita et al., 2013). Sedangkan Marnangon (2013), menambahka n bahwa interval penyiraman berpengaruh tidak nyata pada semua parameter tanaman kecuali bobot akar, sedangkan pemberian pupuk NPK 2,5; 5; 7,5; dan 10 (g/l air) berpengaruh nyata pada semua parameter tanaman. 10