KERANCUAN ATAU FALLACY

dokumen-dokumen yang mirip
K U L I A H L O G I K A Program Studi PAK

By Desayu Eka Surya, S.Sos.,M.Si

DASAR-DASAR LOGIKA. Katakan Maksud Anda (1) Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat

LOGIKA DAN ARGUMENTASI

Mengapa Penting Tahu Kekeliruan Berpikir?

2/24/2011

Beberapa Kesesatan dalam Penalaran. Dahrul Syah

29. Beberapa seniman berambut panjang. Orang itu berambut panjang jadi tentu ia seniman.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

BAB I PENDAHULUAN. sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2013:6).

RAGAM KESALAHAN BERPIKIR (FALLACY) D4 ANIMASI

Perspektif Etik dalam Komunikasi Persuasif

Berdasarkan 10 Perintah Allah

Pernyataan Pers MAHKAMAH AGUNG HARUS PERIKSA HAKIM CEPI

Moral Akhir Hidup Manusia

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN. Program Studi : Pendidikan Agama Kristen

KETENTUAN-KETENTUAN HUKUM PIDANA YANG ADA KAITANNYA DENGAN MEDIA MASSA. I. Pembocoran Rahasia Negara. Pasal 112. II. Pembocoran Rahasia Hankam Negara

SIL/PKP241/01 Revisi : 00 Hal. 1 dari 5 Gasal Judul praktek: - Jam: SILABUS. Menjelaskan epistemologi sebagai bagian dari cabangcabang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tercipta pula aturan-aturan baru dalam bidang hukum pidana tersebut. Aturanaturan

BAB I PENDAHULUAN. acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya

II. TINJAUAN PUSTAKA. adalah adanya kekuasaan berupa hak dan tugas yang dimiliki oleh seseorang

II. TINJAUAN PUSTAKA. pidana. Dalam hal penulisan penelitian tentang penerapan pidana rehabilitasi

I. PENDAHULUAN. terpuruknya sistem kesejahteraan material yang mengabaikan nilai-nilai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 03 TAHUN 2009 TENTANG ETIKA DAN TATA TERTIB PERGAULAN MAHASISWA DI KAMPUS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

2008, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Porno

BENTUK SILOGISME S - M S - P

P U T U S A N Nomor : 223/Pid.B/2014/PN.BKN

JAKARTA 14 FEBRUARI 2018

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia

I. PENDAHULUAN. Manusia didalam pergaulan sehari-hari tidak dapat terlepas dari interaksi dengan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN. Kepolisian dalam mengemban tugasnya sebagai aparat penegak hukum

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

I. PENDAHULUAN. Hakim memiliki peranan penting dalam suatu proses persidangan yaitu. mengambil suatu keputusan hukum dalam suatu perkara dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. nampaklah bahwa pembuktian itu hanyalah diperlukan dalam berperkara dimuka

Hukum dan Pers. Oleh Ade Armando. Seminar Nasional Mengurai Delik Pers Dalam RUU KUHP Hotel Sofyan Betawi, Kamis, 24 Agustus 2006

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

I. TINJAUAN PUSTAKA. suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis

Dasar Logika Matematika

BAB I KETENTUAN UMUM

Bab XXV : Perbuatan Curang

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Tindak Pidana, Pelaku Tindak Pidana dan Tindak Pidana Pencurian

HASIL WAWANCARA. Wawancara dilakukan pada hari kamis tanggal 25 Juli 2013 jam WIB

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

A. KESIMPULAN. Penggunaan instrumen..., Ronny Roy Hutasoit, FH UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. pribadi maupun makhluk sosial. Dalam kaitannya dengan Sistem Peradilan Pidana

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME [LN 2002/106, TLN 4232]

PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG - UNDANG TENTANG PERAMPASAN ASET * Oleh : Dr. Ramelan, SH.MH

I. TINJAUAN PUSTAKA. kekerasan itu tidak jauh dari kebiasaan kita. Berdasarkan Undang-undang (UU) No. 23 Tahun

P R E S I D E N REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN REKTOR INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG DISIPLIN MAHASISWA INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN:

BAB I PENDAHULUAN. faktor sumber daya manusia yang berpotensi dan sebagai generasi penerus citacita

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan. diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan penting dalam proses

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil,

II.TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian tentang Tindak Pidana atau Strafbaar Feit. Pembentuk Undang-undang telah menggunakan kata Strafbaar Feit untuk

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak

tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan muatan yang melanggar kesusilaan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Nama Mata Kuliah. Logika materila. Masyhar, MA. Fakultas Psikologi. Modul ke: Fakultas. Program Studi Program Studi.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari

I. PENDAHULUAN. adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materi terhadap perkara tersebut. Hal

FUNGSI DAN KEDUDUKAN SAKSI A DE CHARGE DALAM PERADILAN PIDANA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum acara pidana dan hukum pidana merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Hukum acara pidana adalah

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

P U T U S A N NOMOR : 464 /PID/2012/PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA KORUPSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana ( yuridis normatif ). Kejahatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Negara Jangan Cuci Tangan

Transkripsi:

Pertemuan ke-13 KERANCUAN ATAU FALLACY Setelah mempelajari argumen deduktif dan induktif sebagai bentuk penalaran, tentunya dalam proses penalaran tersebut juga tidak luput dari kesalahan atau tepatnya kerancuan dalam berpikir (fallacy). Kerancuan berpikir adalah jalan pikiran yang belum lurus sesuai dengan hukum-hukum berpikir. Kerancuan berpikir dalam arti yang lebih luas luas adalah gagasan atau keyakinan yang salah tetapi dalam arti sempit dan digunakan dalam ilmu logika adalah kekeliruan dalam penalaran atau argumen. Kerancuan berpikir terbagi dalam (1) kerancuan formal dan (2) kerancuan informal. Kerancuan formal adalah bentuk-bentuk jalan pikiran yang keliru dan memperlihatkan bentuk-bentuk luar yang sama dengan bentuk-bentuk argumen yang valid. Kesalahan yang terjadi adalah pelanggaran aturan-aturan formal dalam berargumen atau menarik kesimpulan. Misalnya argumen yang melanggar aksioma atau dalil silogisme. Jadi kesalahan-kesalahan dalam kerancuan jenis ini biasanya adalah tidak disengaja karena tidak tahu atau lalai. Meski demikian kerancuan ini biasanya menjadi fatal karena ketidaktahuan tersebut bisa berkembang menjadi stereotipe atau prasangka dan tetap tenggelam dalam kesesatan berpikir yang tidak diperbaiki. Pada kerancuan informal tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan-aturan formal atau sekurang-kurangnya tidak terjadi pelanggaran secara langsung terhadap aturanaturan formal. Kerancuan ini biasanya terjadi bukan karena si pengguna tidak tahu melainkan justru karena ia tahu dan sengaja menjadi rancu agar tujuan-tujuannya dapat tercapai. Kerancuan informal masih dibagi dua lagi yakni kerancuan relevansi dan kerancuan ambiguitas. Kerancuan Relevansi adalah kerancuan pada argumen ang premis-premisnya secara logis tidak relevan atau tidak ada sangkut pautnya tetapi dipaksakan atau ditegakkan oleh premis-premis yang diajukan sehingga secara psikologis dirasakan menjadi ada hubungannya. Kerancuan Ambiguitas terjadi jika dalam argumen perumusannya memuat perkataan atau ungkapan yang memiliki makna ganda sehingga mengalami pergeseran tanpa diketahui atau disadari sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru. Beberapa Jenis kerancuan tersebut antara lain :

KERANCUAN RELEVANSI 1. Ignorantio Elenchi (Kerancuan yang tidak relevan) Adalah jika sebuah argumen yang dimaksudkan untuk mendukung suatu kesimpulan tertentu namun diarahkan dan digunakan untuk membenarkan sebuah kesimpulan yang lain. Misal : dalam sebuah perkara pidana seorang jaksa dalam usahanya untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah hanya berupaya membuktikan secara meyakinkan bahwa perkara pembunuhan yang bersangkutan adalah sangat kejam dan biadab. Contoh lainnya misal dalam tayangan infotainment seorang artis digugat cerai. Pengacara lawan akan berupaya bahwa aborsi dan selingkuh adalah tindakan tidak bermoral maka dengan demikian publik akan melihat bahwa artis tersebut adalah tidak bermoral. 2. Argumentum ad Baculum (Latin: Baculae = pentungan) Kerancuan ini terjadi jika orang dengan mendasarkan diri pada klekuatan atau ancaman penggunaan kekuatan memaksakan agar sebuah kesimpulan diterima atau disetujui Misal : Seorang miliarder kepada seorang redaktur surat kabar yang hendak memberitakan perihal anaknya terlibat suatu skandal, berkata saudara redaktur, pasti anda sependapat dengan saya bahwa peristiwa yang menyangkut anak saya terlalu kecil nilai beritanya bagi surat kabar sebesar surat kabar anda ini. Bukankah saya setiap tahun menghabiskan jutaan rupiah untuk biaya pemasangan iklan pada surat kabar yang anda pimpin? Atau seorang presiden kepada duta besar negara lain, saudara duta besar, saya keberatan dengan pengembangan reaktor nuklir yang negara anda lakukan. Tentunya anda bisa mempertimbangkan bantuan kemanusiaan serta impor barang dari kami yang jumlahnya cukup signifikan tersebut? Contoh lainnya adalah Jika anda tidak setuju dengan penampilan saya, maka anda akan mendapat nilai E dalam mata kuliah ini,. 3. Argumentum ad Hominem (Latin: Homo = manusia)

Kerancuan ini terjadi jika suatu argumen yang diarahkan untuk menyerang seseorang (abusive) khususnya dengan menunjukkan kelemahan atau kejelekan orang yang bersangkutan dan tidak berusaha untuk secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu adalah salah. Misal : Tulisan dosen X tidak layak dibaca karena ia pernah dipenjara. Kerancuan ini juga terjadi jika sebuah argumen diarahkan pada pribadi orangnya dalam kaitan dengan situasi atau keadaan orang itu sendiri (circumstantial). Argumen ini juga sering digunakan dalam periklanan misalnya klip rokok Dunhill hanya sedikit orang yang mampu menghargai kualitas prima Jadi argumentum ad Hominem bisa menjatuhkan atau menaikkan seseorang secara personal. Contoh lainnya adalah: Penyair Allen Ginsberg mendukung penghapusan pornografi, tapi argumen Ginsberg layak diabaikan karena dia adalah seorang homoseksual pecandu ganja dan penikmat narkoba. Contoh lainnya adalah: seorang anak berkata kepada ayahnya: Saya tidak terima jika ayah melarang saya membolos, bukankah sewaktu ayah kuliah dahulu juga melakukan hal yang sama. 4. Argumentum Ad Ignorantiam (Inggris: Ignore = mengacuhkan) Kerancuan ini terjadi jika suatu hal dinyatakan benar semata-mata karena belum dibuktikan salah atau sebaliknya suatu hal dinyatakan salah karena belum dibuktikan benar. Misal : Setan itu tidak ada karena belum dibuktikan setan itu ada. Argumen jenis ini hanya benar dalam satu hal yakni azas praduga tak bersalah di dalam pengadilan. 5. Argumentum ad Misericordiam (Inggris : Misery = menderita) Argumen ini terjadi jika rasa kasihan digugah untuk mendorong diterimanya atau disetujui suatu kesimpulan. Misal : upaya pengacara untuk membela terdakwa yang membunuh kedua orangtuanya dengan kapak dengan menggugah juri bahwa ia adalah anak yatim piatu. Contoh lainnya: Saya seorang perempuan yang menjadi orang tua tunggal bagi kedua anak saya. Jika anda menilang saya, maka saya tidak dapat mengendarai motor ke kantor. Jika saya tidak masuk kantor, saya terancam tidak bekerja dan

mati kelaparan demikian pula anak-anak saya. Oleh karena itu tolong janganlah saya ditilang. 6. Argumentum ad Populum (Inggris: people, Ind: Orang banyak) Kerancuan ini terjadi jika orang berupaya untuk mengemukakan dan memenangkan dukungan untuk suatu pendapat (pendirian) dengan jalan menggugah perasaan atau emosi, membangkitkan semangat berkobar-kobar dan rasa ingin memiliki. Argumen ini sering digunakan dalam bidang periklanan, politik atau untuk menghasut (demagogi) Contoh: Seorang calon gubernur tentunya memiliki rencana untuk mengatasi kemacetan, banjir, pengangguran dan tingginya harga barang-barang konsumsi. Jika ada seorang calon gubernur yang memiliki program seperti demikian maka ia calon gubernur yang baik dan berpandangan maju. Sebagai calon gubernu yang baik dan berpandangan maju tentunya apa yangada dalam programnya sangat realistis dan harus didukung. Dengan mendukungnya maka problem kota akan segera teratasi. Argumen tersebut jelas menaikkan perasaan senang banyak orang tetapi tidak menjamin kesimpulannya. 7. Argumentum ad Verecundiam (Latin: wibawa) Kerancuan ini terjadi jika usaha untuk memperoleh pembenaran atau dukungan atas suatu kesimpulan (pendapat dilakukan dengan jalan mendasarkan diri pada kewibawaan orang terkenal, dimana pendapat tersebut diajukan atas dasar pendapat orang terkenal namun keahliannya tidak relevan atau dalam bidang lain. Contoh: upaya meyakinkan suatu pendapat dalam bidang politik dengan mengutip ucapan Einstein, ahli fisika. Contoh lain: iklan shampoo dan sabun yang seringkali menampilkan orang berbaju putih dan survey kuantitatif. Iklan lain yang menggunakan wibawa riset dengan jargon riset membuktikan bahwa 95 persen rambut bebas rontok dalam 3 minggu yang seolah valid dan sah karena ada unsur kuantitatif yang digunakan. 8. False Cause (Sebab Palsu) Adalah suatu argumen yang secara tidak tepat menyatakan adanya hubungan kausal (sebab akibat antara dua hal lebih. Sebab palsu terdiri dari dua jenis yakni

(a) Non Causa Pro Causa yakni sesuatu yang bukan sebab dinyatakan sebagai sebab. Misalnya, Megawati Presiden RI. Indonesia mengalami krisis ekonomi, jadi perempuan adalah penyebab krisis ekonomi. Misalnya lagi, eksekutif yang sukses digaji 450 juta rupiah perbulan. Agar Parjo menjadi eksekutif yang sukses maka ia harus dinaikkan gajinya menjadi 450 juta rupiah per bulan. Sebab palsu kedua adalah (b) Post Hoc Ergo Propter Hoc yakni penarikan kesimpulan bahwa suatu kejadian adalah sebab dari terjadinya suatu peristiwa tertentu semata-mata berdasarkan alasan bahwa kejadian pertama adalah penyebab dari kejadian kedua. Misalnya kejadian pertama adalah gerhana matahari. Kejadian kedua orang ramai-ramai memukul tetabuhan. Jadi memukul tetabuhan adalah menyebabkan hilangnya gerhana matahari. 9. Complex Questions (pertanyaan majemuk) Kerancuan ini terjadi jika sebuah pertanyaan majemuk tetapi kemajemukannya tidak diketahui/kabur dan untuk menjawabnya hanya dituntut sebuah jawaban tunggal seperti ya atau tidak. Misalnya: apakah engkau sudah menghentikan kebiasaan memukuli istrimu dirumah?, Apakah engkau sudah berhenti menyontek sewaktu ujian?, Dimana engkau sembunyikan kue-kue yang anda curi itu? Dalam complex Questions, setiap jawaban yang anda berikan baik ya atau tidak aan mengarah kepada pertanyaan dalam tindakan lain. Misalnya untuk pertanyaan Apakah engkau sudah berhenti menyontek sewaktu ujian?, kalau anda jawab iya berarti anda dulu pernah menyontek. Jika anda jawab tidak berarti anda masih terus menyontek. 10. Begging the Question (Latin: petitio principii) Mengasumsikan kebenaran dari apa yang mau dibuktikan sebagaimana benar dalam upaya untuk membuktikan kebenarannya. Sering penggunaan kata-kata untuk mengungkapkan argumen ini mengaburkan fakta menjadi tersembunyi dalam salah satu premis yang diasumsikan tercatat kesimpulannya. Contoh: Membolehkan tiap orang kebebasan menyatakan pendapat tanpa batas, secara umum akan selalu menguntungkan atau baik bagi negara; sebab ihwalnya akan sangat kondusif bagi kepentingan masyarakat bahwa setiap individu seyogianya menikmati kebebasan, secara sempurna tanpa batas untuk menyatakan