Seminar Nasional Geofisika 2014

dokumen-dokumen yang mirip
PROSIDING SEMINAR NASIONAL GEOFISIKA 2014 Optimalisasi Sains dan Aplikasinya Dalam Peningkatan Daya Saing Bangsa Makassar, 13 September 2014

MINERALOGY AND GEOCHEMISTRY OF BAGINDA HILL GRANITOID, BELITUNG ISLAND, INDONESIA

INTERPRETASI HASIL ANALISIS GEOKIMIA BATUAN GUNUNGAPI RUANG, SULAWESI UTARA

MODUL III DIFERENSIASI DAN ASIMILASI MAGMA

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

PETROKIMIA BATUAN GRANITOID DAERAH SABBANG KECAMATAN SABBANG KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

EKSPLORASI TIMAH DAN REE DI PULAU JEMAJA, KECAMATAN JEMAJA KABUPATEN ANAMBAS, PROVINSI KEPULAUAN RIAU

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR... TAHUN 2012 TENTANG TINGKAT KLIERENS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitan

ANALISA GEOKIMIA RIOLIT KUBAH LAVA DAERAH BULU BATUARA KECAMATAN WATANGPULU KABUPATEN SIDRAP PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB 5 GEOKIMIA. Bab ini membincangkan tren geokimia khusus bagi Kompleks Stong dan Kompleks

BAB I: PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V PEMBAHASAN. Untuk mengetahui gambaran penyebaran kandungan komposisi kimia secara

1. Tentukan Elektron Valensi dari : 100 Fm, 91 Pa, 81 Ti 2. Tentukan Periode dan golongan dari unsur : 72 Hf, 82 Pb, 92 U 3. Bagaimana ikatan Kimia

PROSPEKSI MINERAL LOGAM DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN 2014

KATA PENGANTAR. Semarang, 14 Maret Penulis

Semakin ke arah dacite, kandungan silikanya semakin besar.

MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI

TINGKAT PERGURUAN TINGGI 2017 (ONMIPA-PT) SUB KIMIA FISIK. 16 Mei Waktu : 120menit

PETROGENESA BATUAN LAVA GUNUNG BARUJARI DAN GUNUNG ROMBONGAN, KOMPLEK GUNUNG RINJANI

PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-7 Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Oktober 2014

OKSIDA GRANIT DIORIT GABRO PERIDOTIT SiO2 72,08 51,86 48,36

PETROGENESA LAVA GUNUNG RINJANI SEBELUM PEMBENTUKAN KALDERA

ANALISIS GEOKIMIA LOGAM Cu, Fe PADA BATUAN DASIT KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. batuan dan kondisi pembentukannya (Ehlers dan Blatt, 1982). Pada studi petrologi

INVENTARISASI MINERAL LOGAM DI KABUPATEN BOVEN DIGOEL PROVINSI PAPUA Reza Mochammad Faisal Kelompok Penyelidikan Mineral Logam SARI

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan praktikum mineral optik hanya mendeskripsikan mineralnya saja.

BAB IV ALTERASI HIDROTERMAL

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas subduksi antara lempeng Indo-Australia dengan bagian selatan dari

Magma dalam kerak bumi

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

Tabel berikut ini memuat beberapa contoh unsure dengan jumlah atom pembentuknya. Tabel 5.1 Beberapa nama unsure dan jumlah atom pembentuknya

BAB VI DISKUSI. Dewi Prihatini ( ) 46

PETROGENESIS DAN PROSES PELAPUKAN BATUAN PENYUSUN CANDI PRAMBANAN BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN GEOKIMIA

TES AWAL II KIMIA DASAR II (KI-112)

GEOLOGI DAN GEOKIMIA PANAS BUMI DAERAH PERMIS KABUPATEN BANGKA SELATAN, PROVINSI BANGKA BELITUNG S A R I

ANALISIS KANDUNGAN KIMIA BATUAN VULKANIK DARI SANGKAROPI SULAWESI SELATAN SERTA PEMANFAATANNYA DALAM KLASIFIKASI BATUAN DAN TATANAN TEKTONIK ABSTRAK

STUDI PROVENANCE BATUPASIR FORMASI WALANAE DAERAH LALEBATA KECAMATAN LAMURU KABUPATEN BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN

Klasifikasi Normatif Batuan Beku dari Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Menggunakan Software K-Ware Magma

BAB I PENDAHULUAN. Batugamping Bukit Karang Putih merupakan bahan baku semen PT Semen

What is a rocks? A rock is a naturally formed aggregate composed of one or more mineral

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

V.2.4. Kesetimbangan Ion BAB VI. PEMBAHASAN VI.1. Jenis Fluida dan Posisi Manifestasi pada Sistem Panas Bumi VI.2.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

OLIMPIADE NASIONAL MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM TINGKAT PERGURUAN TINGGI (ONMIPA-PT) Bidang Kimia Sub bidang Kimia Anorganik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Provinsi Sulawesi Barat terletak di bagian barat Pulau Sulawesi dengan luas

GEOSAINS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Jawa (Busur Sunda) merupakan daerah dengan s umber daya panas

UJIAN I - KIMIA DASAR I A (KI1111)

STUDI KARAKTERISTIK DAN PETROGENESIS BATUAN BEKU DI DAERAH SINGKAWANG DAN SEKITARNYA, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

GEOLOGI DAN STUDI LOGAM TANAH JARANG DAERAH KACANG BOTOR DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BADAU, KABUPATEN BELITUNG, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

DAFTAR PUSTAKA. Bemmelen, R.W., van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. I-A, Gov. Printed

LAMPlRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DAN KEAMANAN DALAM

BAB III ALTERASI HIDROTERMAL

MINERALOGI DAN GEOKIMIA INTRUSI DI TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM, SUMATRA SELATAN, INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Jawa merupakan daerah penghasil sumber daya tambang dengan

KETERDAPATAN MINERAL ZIRKON DAN HUBUNGANNYA DENGAN BATUAN METAMORFIK DI TELUK WONDAMA, PAPUA

Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan

PETROGENESIS BATUAN ANDESIT BUKIT CANGKRING, DAERAH JELEKONG, KECAMATAN BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Siklus Batuan. Bowen s Reaction Series

22 Desember 2006 Telp. (022) , Faks. (022) s/d 21 Desember 2010 Lingkup Akreditasi

KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Adi Hardiyono Laboratorium Petrologi dan Mineralogi, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ABSTRACT

BAB 9 KESIMPULAN. Bab terakhir ini meringkaskan secara padat kesimpulan yang telah dicadangkan di

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan

UJIAN I - KIMIA DASAR I A (KI1111)

PROSPEKSI MINERAL LOGAM DI KECAMATAN SUBI KABUPATEN NATUNA - PROVINSI KEPULAUAN RIAU Wahyu Widodo Kelompok Penyelidikan Mineral Logam

PENYELIDIKAN MINERAL LOGAM DASAR DAN LOGAM BESI DAN PADUAN BESI DI DAERAH LELOGAMA KABUPATEN KUPANG (TIMOR BARAT) PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR S A R I

SEBARAN GRANIT DI INDONESIA

PROVINSI SULAWESI UTARA

BAB II TATANAN GEOLOGI

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI KETERDAPATAN MINERAL RADIOAKTIF PADA GRANIT MUNCUNG SEBAGAI TAHAP AWAL UNTUK PENILAIAN PROSPEK URANIUM DAN THORIUM DI PULAU SINGKEP

STUDI GEOKIMIA BATUAN VULKANIK PRIMER KOMPLEKS GUNUNG SINGA - GUNUNG HULU LISUNG, BOGOR - JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. tentang seluruh aspek pembentukan batuan mulai dari sumber, proses primer

BAB IV UBAHAN HIDROTERMAL

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA DINAS PERTAMBANGAN, ENERGI DAN LINGKUNGAN HIDUP

HUBUNGAN NILAI GAMMA RAY DENGAN BATUAN PIROKLASTIK DI DAERAH CIBIRU DAN SEKITARNYA, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

INVENTARISASI MINERAL LOGAM DI KABUPATEN SUMBA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

BAB VI NIKEL LATERIT DI DAERAH PENELITIAN

GF- AAS) Ag, As, Cd, Co, Cu, Fe, Mn, Ni, GA02; GA03 (teknik digest HCl/HClO 4

KETERDAPATAN MINERAL DAN UNSUR JARANG PADA SEDIMEN PANTAI DAN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN SELAT PULAU BATAM DAN PULAU BINTAN

NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E

BAB I PENDAHULUAN. dan perekonomian. Data Kementerian ESDM (2014) menyatakan bahwa

INTERPRETASI GEOKIMIA UNSUR UTAMA DAN JEJAK KOMPLEKS VOLKANIK GUNUNG PONGKOR KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Study Proses Reduksi Mineral Tembaga Menggunakan Gelombang Mikro dengan Variasi Daya dan Waktu Radiasi

PENELITIAN ENDAPAN LUMPUR DI DAERAH PORONG KABUPATEN SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR

IDENTIFIKASI BATUAN GRANIT KECAMATAN SENDANA KOTA PALOPO MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS (RESISTIVITY)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Petrogenesa Batuan Beku di Daerah Godean

Petrogenesa Batuan Beku

DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA

BAB I PENDAHULUAN. komposisi utama berupa mineral-mineral aluminium hidroksida seperti gibsit,

Transkripsi:

Petrologi dan Geokimia Batuan Granitik Daerah Buttu Conggo Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat : Implikasinya terhadap keberadaan unsur radioaktif Muhammad Edwin 1, Adi Maulana 1, Kaharuddin 1 1 Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin Makassar. Sulawesi Selatan SARI Secara administratif daerah penelitian terletak di daerah Buttu Conggo Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 03 23'00" - 03 25'00" Lintang Selatan dan 119 20'00" - 119 22'00" Bujur Timur. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui batuan granit secara megaskopis dan mikroskopis serta mengetahui tipe granit, jenis granit dan mineral radioaktif berdasarkan hasil analisis kimia. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan analisis petrografi, X-Ray Flourecence (XRF) dan Inductively Coupled Plasma (ICP). Granit di daerah penelitian adalah metaluminous, jenis intrusi granit (tipe-i) dan kandungan magma yang bersifat kalk-alkalin dan terbentuk di wilayah busur benua. Mineral aksesoris terdiri dari zirkon, apatit, dan sphene. Unsur radioaktif dalam kisaran granit 7,59-8,0 ppm unsur uranium (U) dan 36,0-40,6 ppm untuk unsur thorium (Th). Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa unsur radioaktif pada sampel, khususnya thorium mengalami fraksinasi seiring dengan bertambahnya kadar silika (SiO 2 ). sementara kandungan uranium tidak mengalami perubahan secara signifikan. Kata kunci : Polewali, XRF, ICP, Granit, Mineral Radioaktif. 1. Pedahuluan Granit merupakan batuan beku plutonik yang terbentuk dari hasil pembekuan magma yang bersifat asam dimana memiliki kandungan silika lebih besar dari 66%. Secara umum kandungan mineral yang dimiliki oleh granit adalah kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit dan hornblende yang dapat diamati secara langsung dengan mata (megaskopis). Granit juga memiliki mineral-mineral asesoris yang dapat diketahui ketika melakukan pengamatan petrografi. Mineral-mineral asesoris tersebut dapat memberikan informasi tentang keberadaan kandungan mineral-mineral yang ekonimis seperti mineral radioaktif. Mineral radioaktif umumnya banyak dijumpai pada batuan beku yang bersifat asam terutama pada batuan granit. Maksud dari penelitian ini adalah melakukan studi tentang petrologi dan geokimia batuan granit pada daerah Buttu Conggo Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat dengan tujuan Untuk mengetahui batuan granit secara megaskopis, Untuk mengetahui batuan granit secara mikroskopis, Untuk mengetahui jenis dan tipe granit serta petrogenesa berdasarkan hasil analisis geokimia, serta Untuk mengetahui indikasi mineral radioaktif yang terkandung pada batuan granit di daerah penelitian. 2. Geologi Regional Berdasarkan peta geologi Lembar Majene dan Palopo Bagian Barat (Djuri dan Sudjatmiko, 1974), daerah penelitian merupakan intrusi yang umumnya bersusunan asam sampai intermedit seperti granit, granodiorit, diorit, sienit, monzonit kuarsa dan riolit. Setempat dijumpai gabro di G. Pangi, singkapan terbesar di G. Paroreang yang menerus sampai daerah G. Gandadewata di lembar Mamuju (Djuri dan Sudjatmiko, 1974). Umurnya diduga Pliosen karena menerobos batuan gunungapi Walimbong yang berumur Mio-Pliosen, serta berdasarkan kesebandingan dengan granit di Lembar Pasangkayu yang berumur 3,35 juta tahun / Pliosen. Granit, berwarna kelabu, putih kemerahan sampai kehitaman, berbutir sedang sampai sangat kasar, terhablur sempurna dengan bentuk subeuhedral, beberapa panidiomorfik. Mineral utamanya terdiri dari kuarsa, kalium felspar, plagioklas, hornblende, biotit dan setempat klorit, apatit dan bijih. Kuarsa dan felspar umumnya tumbuh bersama (intergrowth), dan setempat seritisasi dan karbonatisasi. Pada beberapa mineral terlihat retak-retak sebagai akibat pengaruh dari tekanan. Dibeberapa tempat mengandung emas. Granit ini mempunyai penyebaran yang luas terutama di bagian Selatan Lembar, beberapa tempat di bagian Timur. Batuan ini ada yang menamakan Granit Mamasa atau Granit Kambuno di Lembar Malili dan Lembar Poso. Umurnya diperkirakan pada Miosen Akhir - Pliosen Awal. 3. Metode Penelitian Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah : 1. Pengambilan data lapangan yaitu dengan dengan melakukan pengambilan sampel batuan sebanyak 12 sampel granit. 1

2. Analisis laboratorium yaitu dengan melakakuan analisis petrografi yang dilakukan di laboratorium mineral Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin Makassar dan analisis geokimia dengan metode X-Ray Flourecence (XRF) dan Inductively Coupled Plasma (ICP) yang dilakukan di PT. Intertek Utama Services Jakarta. pengamatan petrografi yaitu apatit, sphene, zircon, dan mineral opak. Memiliki tekstur khusus yaitu tekstur intergrowth (1) dan mymerkitic (2) (Gb.3). Tabel 1. Persentase kandungan mineral pada batuan granit daerah penelitian 4. Diskusi 4.1 Ciri Fisik Granit pada daerah penelitian yang terdiri dari 12 sampel batuan secara umum memiliki memiliki ciri fisik yaitu warna segar putih, warna lapuk cokelat, tekstur kristanilitas holokristalin, granularitas faneritik, relasi equigranular, bentuk subhedral anhedral, komposisi mineral kuarsa, plagioklas, ortoklas, hornblende, dan biotit, struktur massif. (Gb. 1). Gb. 1. Singkapan granit pada daerah Dara Difoto ke arah N115 E dari stasiun EDW/GR/ST01 Sejumlah 5 sampel batuan mewakili granit yang tersebar pada daerah peneltian di daerah Buttu Conggo dilakukan analisis petrografi di laboratorium mineral Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin Makassar. Kode sampel dibedakan berdasarkan angka yaitu EDW/GR/ST01 (1), EDW/GR/ST07 (07), EDW/GR/ST08 (8), EDW/GR/ST10A (10A), dan EDW/GR/ST10B (10B). Karakter petrografi granit daerah penelitian dirangkum dalam Tabel 1. Hasil analisis petrografi dengan klasifikasi IUGS oleh Streckeisen (1974) menunjukan jenis granit yaitu Monzogranite (Gb. 2) dengan Mineral primer yang di indetifikasi pada granit mempunyai persentase 93 95 % yaitu kuarsa (30 35%), plagioklas (20 25%), ortoklas (10 17 %), hornblende (9 15 %), dan biotit (9 15 %). Sedangkan mineral assesories yang di indetifikasi pada granit mempunyai persentase 1-3 % tiap stasiun Gb. 2. Sampel batuan granit yang diplot di klasifikasi IUGS menurut Streckeisen (1974) 2

4.3 Geokimia Analisis geokimia dilakukan terhadap beberapa conto batuan yang dianggap mewakili penyebaran batuan di lapangan yaitu pada stasiun EDW/GR/ST01, EDW/GR/ST08, dan EDW/GR/ST10A. Analisis kimia ini dilakukan PT. Intertek Utama Services. Batasan untuk pembahasan kimia batuan granit ini adalah hanya dilakukan analisis terhadap major element (Tabel 2) dan trace element (Tabel 3). Kode sampel dibedakan berdasarkan warna. Tabel 2. Komposisi kimia major element (wt%) pada batuan granit daerah penelitian. Komposisi kimia EDW/GR/ST01 EDW/GR/ST08 EDW/GR/ST10A (1) (2) Senyawa Utama (wt%) SiO2 70.56 69.13 70.60 TiO2 0.49 0.58 0.42 Al2O3 14.89 15.25 14.29 Fe2O3 1.69 1.92 1.12 MnO 0.080 0.097 0.093 CaO 1.21 0.91 1.69 MgO 0.51 0.73 0.50 Na2O 5.49 4.23 5.43 K2O 4.18 6.02 4.05 P2O5 0.200 0.224 0.243 LOI 0.5 0.5 0.6 Total 99.81 99.66 99.04 Gb. 3. Kenampakan petrografis granit pada conto sayatan pada sampel EDW/GR/ST01 yang memperlihatkan mineral kuarsa (E2), plagioklas (D2) ortoklas (E3), Hornblende (G5), biotit (G10), apatit (I9), sphene (E15), dan mineral opak (I3), Difoto dengan mikroskop polarisasi perbesaran 50x pada nikol sejajar dan silang serta mineral zirkon (F22), Difoto dengan mikroskop polarisasi perbesaran 1000x pada nikol sejajar dan silang. tekstur khusus intergrowth (1) dan mymerkitic (2) (B3), Difoto dengan mikroskop polarisasi perbesaran 50x pada nikol silang. Ket: (1) Tekstur intergrowth tekstur yaitu berupa pertumbuhan bersama antara mineral kuarsa dan alkali feldspar (Clarke, 1992). (2) Tekstur Mymerkitic yaitu dimana bentuk pertumbuhan mineral kuarsa dengan plagioklas yang berbentuk menyerupai cacing/jari-jari yang keberadaannya tidak teratur, (Clarke, 1992). Tabel 3. Komposisi kimia trace element (ppm) pada batuan granit daerah penelitian. Trace element EDW/GR/ST01 EDW/GR/ST08 EDW/GR/ST10A (ppm) Al 77400 80700 80300 Ca 26300 31300 32600 Cr 190 169 95 Cu 54 6 4 Fe 2.92 3.19 3.36 K 33400 34900 34400 Mg 11300 13300 14000 Mn 587 664 681 Ni 14 14 13 P 870 1000 1090 S 4810 150 100 Sc 8 11 12 Ti 2810 3320 3590 V 62 77 89 Zn 47 55 53 Ag <0.1 <0.1 <0.1 As 8 3 2 Ba 1260 1410 1190 Be 2.3 2.6 2.5 Bi 0.55 0.19 0.34 Cd 0.09 0.13 0.05 Co 12 10 11 Cs 7.8 8.0 11.5 Ga 16.7 17.9 17.9 Ge 1.3 1.4 1.4 Hf 0.5 0.4 0.6 In <0.05 <0.05 <0.05 3

Trace element EDW/GR/ST01 EDW/GR/ST08 EDW/GR/ST10A (ppm) Li 22.3 19.3 23.1 Mo 17.8 3.6 2.2 Nb 11.7 14.7 13.4 Pb 54 38 33 Rb 165 170 183 Re <0.05 <0.05 <0.05 Sb 0.3 0.4 0.2 Se <1 <1 <1 Sn 2.4 2.7 2.3 Sr 486 505 491 Ta 1.40 1.75 1.50 Te <0.1 <0.1 <0.1 Th 40.6 36.0 36.5 Tl 1.21 1.13 1.22 U 8.00 8.00 7.59 W 26.5 6.3 3.1 Y 18.8 24.7 24.0 Zr 7.8 6.2 7.7 Ce 98.8 116 101 Dy 3.6 4.6 4.7 Er 1.9 2.4 2.5 Eu 1.2 1.4 1.4 Gd 5.1 6.2 6.6 Ho 0.6 0.8 0.9 La 51.0 55.2 50.3 Pr 9.78 11.6 10.1 Nd 30.9 38.3 34.8 Sm 5.4 7.1 7.1 Tb 0.65 0.79 0.83 Tm 0.2 0.3 0.3 Yb 1.6 2.1 2.1 Lu 0.26 0.34 0.35 Diagram harker yang mewakili batuan granit pada daerah penelitian menunjukkan korelasi negative dengan kenaikan SiO 2 terhadap Al 2 O 3, TiO 2, Fe 2 O 3, K 2 O,, dan MgO di mana makin kecil nilai SiO 2 makin besar nilai oksida. korelasi positif diperlihatkan pada senyawa Na 2 O dan CaO memperlihatkan korelasi positif terhadap SiO 2 dimana makin besar nilai SiO 2 makin kecil nilai oksida.. Sedangkan pada MnO dan P 2 O 5 relatif stabil pada semua stasiun daerah penelitian (Gb. 4). Secara spesifik dengan klasifikasi AFM Irvine dan Baragar (1971) dimana pada klasifikasi ini akan membedakan antara calc-alkaline and tholeiitic series dimana pada klasifikasi ini terdiri atas 3 senyawa yaitu A = Na 2 O + K 2 O, F = FeOt, dan M = MgO. Hasil ploting dari klasifikasi ini menghasilkan bahwa daerah penelitian mempunyai kandungan magmatic yang bersifat calkalkaline yang merupakan penciri batuan beku asam dan batuan plutonik (Gb. 5) Penentuan nama batuan granit pada daerah penelitian menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh Cox et al, 1979. Klasifikasi ini berdasarkan atas unsur SiO 2 vs. (Na 2 O + K 2 O). Terlihat bahwa seluruh contoh batuan masuk ke dalam bagian granit (Gb. 6). Gb. 4. Variasi diagram Harker (1909) dalam Clarke (1992) mewakili batuan beku granit daerah penelitian. Gb. 5. Komposisi kimia yang diplot pada klasifikasi AFM menurut Irvine dan Baragar (1971). Berdasarkan tingkat saturasi alumina Shand (1943) dalam Clarke (1992), batuan beku granit pada daerah penelitian termasuk ke dalam jenis metaluminous dan walaupun pada stasiun EDW/GR/ST08 termasuk ke dalam jenis peraluminous di mana menunjukkan rasio A/CNK > 1 namun tetap digolongkan ke dalam jenis metaluminous karena masih mendekati batas jenis metaluminous. Tipe granitoid batuan granit pada daerah penelitian termasuk 4

dalam Igneuos type (I-type) granit. Walaupun Stasiun EDW/GR/ST08 mendekati batas Sedimentary-type (S-type) tetapi nilai indeks A/CNK masih menunjukkan di bawah 1,1 sehingga masih termasuk di dalam Igneous-type (Itype). Hasil perhitungan diperoleh dari A/CNK - A/NK dengan penjelasan A = mol Al 2 O 3 ; C = mol CaO; N = mol Na 2 O, K = mol K 2 O; CNK = C + N + K; NK = K + N. (Gb. 7). Gb. 8 Kandungan trace element batuan beku granit yang diplot pada spider diagram Gb. 6. Komposisi kimia batuan yang diplot di dalam klasifikasi menurut TAS (Cox et al, 1979) Gb. 9 Kandungan rare earth element batuan beku granit yang diplot pada spider diagram 4.4 Geotektonik Gb. 7. Komposisi kimia batuan yang diplot ke dalam Klasifikasi jenis batuan beku granit menurut saturation alumina (Shand,1943 dalam Clarke, 1992). Dari data analisa kimia pada unsur trace element (Gb. 9) dan Rare Earth Element (Gb. 10) pada daerah penelitian dibuatkan grafik spider plot untuk mengetahui mobilitas unsur-unsur yang terkandung dalam batuan granit. Berdasarkan diagram Harker dalam Clarke (1992) terlihat terjadi korelasi negatif antara Al 2 O 3, Fe 2 O 3, K 2 O, MgO, dan P 2 O 5 terhadap SiO 2, serta korelasi positif antara Na 2 O dan CaO terhadap SiO 2, Sebagai akibat kristalisasi fraksional dari mineral-mineral seperti plagioklas, ortoklas, biotit, hornblende, sphene, dan apatit. Urut urutan kristalisasi batuan beku granit daerah penelitian ditentukan berdasarkan hasil analisis kimia dan analisis petrografis dengan berlandaskan pada teori evolusi magma. Dari kenampakan sayatan dan hasil kimia tersebut maka di interpretasikan bahwa ada dua kali fase pembentukan batuan granit pada daerah penelitian yaitu pertama terjadi fase kristalisasi fraksional dimana pada fase ini terbentuk unsur-unsur penyusun batuan. Setelah terakumulasi unsur-unsur dalam suatu tempat dengan kondisi berbeda sehingga terjadi penurunan temperatur membentuk pertumbuhan mineral hornblende dan biotit 5

dimana unsur Fe dan Mg mengalami pertukaran pada saat pertumbuhan kristalnya, setelah terbentuknya mineral hornblende dan biotit kemudian mineral ini terakumulasi ke bagian bawah karena memiliki berat jenis yang besar, sehingga magma yang berada pada bagian atas itu kaya akan unsur Si, Al, K, Na, dan Ca. setelah itu terjadi penurunan suhu yang mengakibatkan terbentuknya mineral feldspar dimana unsur Ca dan Na mengalami pertukaran sehingga terjadi akumulasi material asam, kemudian terjadi penurunan suhu secara signifikan yang akan membentuk mineral kuarsa yang bentuk mineralnya yang tidak sempurna, ini disebabkan karena terjadi fase ke dua yaitu fase fluida eksolution, fase ini terjadi peleburan H 2 O dan CO 2 sehingga membentuk unsur-unsur yang bersifat volatile baik berupa Unsur S, F, Cl, CH 4 dan CO 2. Dari fase kedua ini bisa membentuk tekstur khas yang ada pada sampel pengamatan petrografi. Untuk penentuan geotektonik daerah penelitian ditentukan berdasarkan data petrografi dan data kimia, juga didasarkan pada data sekunder dari hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan tektonik pulau Sulawesi. Dari data petrografi dan data geokimia menjelaskan bahwa jenis granit pada stasiun EDW/GR/ST01, EDW/GR/ST08 dan EDW/GR/ST10A daerah penelitian ini merupakan jenis metaluminous yang terbentuk pada daerah continental (Clarke, 1992). Dari data kimia menurut klasifikasi (Chappell dan White. 1974 dalam Winter, 2001), menjelaskan batuan daerah penelitian termasuk dalam tipe Intrusi Granit (I-Tipe). Dimana tipe ini memiliki kandungan SiO 2 53-76%, tingkat Na 2 O/K 2 O sangat rendah, tipe ini terbentuk pada daerah continental arc. Menurut klasifikasi Batchelor dan Bowden (1985), batuan granit pada daerah penelitian terbentuk pada proses Mantle- Fractionates (Gb. 10). Menurut klasifikasi Peacer et al (1984) berdasarkan unsur Y, Nb dan Pb, batuan granit pada daerah penelitian terbentuk pada volcanic arc granite (Gb. 11). Melihat berbagai hasil analisis petrografi dan kimia yang didapatkan bahwa jenis magma pembentuk batuan granit adalah bersifat calc-alkaline dan terbentuk pada daerah busur benua (continental arc), maka dapat disimpulkan bahwa batuan beku granit di daerah penelitian terbentuk pada daerah intraplate yaitu pada daerah tengah lempeng kontinen dimana terjadi tumbukan atau collision. Gb. 10. Klasifikasi Geotektonik batuan beku granit yang diplot menurut klasifikasi Batchelor dan Bowden (1985) Gb. 11. Klasifikasi Geotektonik batuan beku granit yang diploti menurut klasifikasi Pearce et al (1984) 4.5 Mineral Radioaktif Untuk penentuan kandungan mineral yang mengandung unsur radioaktif pada daerah penelitian digunakan dengan 2 pendekatan yaitu dengan melihat kandungan mineral pada pengamatan petrografi dan kandungan trace element yaitu unsur Uranium (U) dan Thorium (Th) pada analisis kimia batuan granit. enentuan kandungan mineral radioaktif pada pengamatan petrografi dikhususkan pada mineral assesories yang menyusun batuan granit, berdasarkan hasil pengamatan petrografi kandungan mineral radioaktif yang terdapat pada daerah penelitian itu tersebar pada beberapa titik lokasi penelitian dimana dapat dilihat persentase kandungan mineral radioaktif pada tabel berikut ini : 6

Tabel 4. Persentase kandungan mineral radioaktif pada sampel batuan granit Nama Mineral EDW/GR /ST01 EDW/GR /ST07 EDW/GR /ST08 EDW/GR /ST10A EDW/GR/ ST10B Zirkon 1 2 1 1 1 Sphene 1 1-1 - Apatit 1 1 1-1 Berdasarkan dari data kimia, penentuan mineral radioaktif dilihat dari kandungan unsur uranium dan thorium pada, karena mineral radioaktif umumnya ada pada batuan beku dengan tingkat kandungan SiO 2 > 66%. Kandungan unsur uranium umumnya pada batuan beku bisa mencapai 1% atau sama dengan 10000 ppm menurut data dari Raju (2005). Berikut ini tabel kandungan unsur uranium dan thorium pada sampel batuan pada daerah penelitian : Gb. 12. Diagram yang menunjukkan hubungan antara SiO 2 dan unsur U pada batuan granit Tabel 5. Kandungan unsur Uranium dan Thorium pada sampel batuan granit Nama Unsur (ppm) Uranium (U) Thorium (Th) Nomor Stasiun EDW/GR/ST01 8.00 40.6 EDW/GR/ST08 8.00 36.0 EDW/GR/ST10A 7.59 36.5 Data geokimia unsur utama (SiO 2 ) yang diplot pada diagram terhadap unsur uranium (U) menunjukan penurunan kandungan unsur U terhadap SiO 2 serta kesesuaian evolusi melalui fraksinasi magma di mana semakin naik kandungan SiO 2 semakin turun kandungan unsur U pada batuan granit (Gb. 12). Sedangkan Data geokimia unsur utama (SiO 2 ) yang diplot pada diagram terhadap unsur thorium (Th) menunjukan kenaikan kandungan unsur Th terhadap SiO 2 serta kesesuaian evolusi melalui fraksinasi magma di mana semakin naik kandungan SiO 2 semakin naik pula kandungan unsur Th pada batuan granit (Gb. 13). Dari data geokimia yang diplot pada diagram yaitu untuk menunjukkan hubungan antara unsur zirkonium (Zr) terhadap unsur uranium (U) dan Thorium (Th) menunjukan kenaikan kandungan unsur U dan Th terhadap Zr di mana semakin naik kandungan Zr maka semakin naik kandungan unsur U ataupun Th pada batuan granit (Gb.14 dan 15). Melihat berbagai hasil analis kimia dan petrografi maka kandungan mineral radioaktif pada sampel batuan granit ini memenuhi standar untuk melakukan eksplorasi tambang uranium di mana untuk melakukan tambang uranium minimal kandungan unsur uranium 2.7 ppm menurut Stephen (1994). Gb. 13. Diagram yang menunjukkan hubungan antara SiO 2 dan unsur Th pada batuan granit Gb. 14. Diagram yang menunjukkan hubungan antara Unsur Zr dan U pada batuan granit 7

Gb. 15. Diagram yang menunjukkan hubungan antara unsur Zr dan Th pada batuan granit 5. KESIMPULAN 1. Kenampakan megaskopis granit yaitu terdiri mineral kuarsa, plagioklas, ortoklas, hornblende, dan biotit, struktur massif. 2. Kenampakan mikroskopis granit yaitu tediri dari mineral utama seperti kuarsa, plagioklas dengan jenis plagioklas oligoklas, ortoklas, hornblende dan biotit serta mineral asesoris yaitu apatit, sphene, zircon dan mineral opak. 3. Jenis granit pada daerah penelitian yaitu pada stasiun EDW/GR/ST01, EDW/GR/ST08 dan EDW/GR/ST10A termasuk ke dalam jenis metaluminous. Tipe granit pada pada daerah penelitian yaitu termasuk Igneous Type (I-Type). Pembentukan batuan granit terjadi pada daerah continental Arc (Orogenik). 4. Indikasi mineral radioaktif yang terkandung pada batuan granit di daerah penelitian yaitu zircon, sphene, dan apatit dengan kandungan unsur Urnium (U) yaitu 7.59 8.00 ppm dan kandungan unsur Thorium (Th) yaitu 36.0 40.6 ppm. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi. Bandung. Fenton, C L., & M. A. Fenton, 1940. The Rock Book. Doubleday & Company, Inc, Garden City, New York. Irvine, T.N., & W.R.A. Baragar, 1971, A Guide To The Common Volcanic Rocks, Journal Of Petrology 42, 2033-2048, Canadian. Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Ikatan Ahli Geologi Indonesia Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. Bandung. Hal. 1-27. Pearce, J., Harris, N., & A. Tindle, 1984, Trace Element Discrimination Diagrams For Tectonic Interpretation Of Granitic Rocks, J. Petrol., 25. Streckeisen, A, 1974, Classification and nomenclature of plutonic rocks: Recommendations of the IUGS Subcommission on the Systematics of Igneous Rocks, Geologische Rundschau Internationale Zeitschrift für Geologie, Stuttgart. Stephen, E.K, 1994, Mineral Resources, Economics And The Environment, Macmillan College Publishing Company, Inc United Stated Amerika. Raju, D.R, 2005, Radioactive Minerals Geological Society of India, P.B, No. 1922, Gavipuram P.O., Bangalore. Winter, D.J, 2001, Introduction Igneous and Metamorphic Petrology, Phil. Trans. Roy. Soc, London. Prentice Hall. DAFTAR PUSTAKA Batchelor, R.A, and P. Bowden, 1985, Petrogenetic Interpretation Of Granitoid Rock Series Using Multicationic Parameters, Chemical Geology 48, 43-55 Clarke, D.B, 1992, Granitoid Rocks, Departement of earth sciences Dalhousie University Halifax. Cox, K.G, 1979, The Interpretation Of Igneous Rocks. George Allen & Unwin. Djuri dan Sudjatmiko, 1974, Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi Selatan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi 8