BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL 4.1 Peralatan Peralatan adalah suatu benda atau alat yang berfungsi untuk membantu pekerjaan manusia di lapangan. Pekerjaan-pekerjaan yang ada di proyek merupakan pekerjaan yang berat dan tidak bisa dikerjakan oleh manusia tanpa alat- alat bantu, baik alat dengan bahan bakar ataupun yang konvensional. Dalam suatu proyek banyak membutuhkan peralatan, dari alat berat sebagai alat utama sampai dengan alat- alat kecil atau konvensional sebagai alat penunjang pekerjaan lapangan. a. Proses Pengadaan Peralatan Pengadaan peralatan- peralatan yang diperlukan dalam suatu pekerjaan proyek mengalami beberapa proses dari pendataan kebutuhan peralatan sampai dengan datangnya peralatan tersebut dan pembukuan jumlah peralatan yang sudah tersedia. Peralatan yang dibutuhkan disesuaikan dengan pekerjaan di lapangan lalu didata oleh Site Manager dengan persetujuan Project Manajer suatu proyek. Setelah itu data peralatan yang telah ditanda tangani oleh Project Manager, diberikan kepada Supervisor Mekanik untuk mengurus proses pengadaan peralatan tersebut. Kemudian Supervisor Mekanik akan membuat surat pengajuan alat (SPA) yang akan dikirim ke kantor pusat untuk di buatkan PO ke supplier alat dan juga dikirim ke Workshop alat, jadi bila alat tersedia pada Workshop, kantor pusat tidak perlu mengirimkan PO ke supplier alat. Selanjutnya peralatan yang dibutuhkan akan segera di kirimkan ke proyek untuk mempercepat pekerjaan IV-1
proyek. Alat yang datang ke proyek akan didata atau dibukukan dalam surat penerimaan barang (SPB). Semua alat yang tersedia didata secara rapi dari jumlah dan tanggal kedangan sampai dengan stock yang tersisa karena pemakaian atau kerusakan. IV-2
Site Manager (List peralatan sesuai kebutuhan lapangan) Pengajuan Menyetujui Project Manager Alat siap digunakan dilapangan Supervisor Mekanik SPA/Pembukuan alat SPA Kantor Pusat PO Suplier Alat SPA Workshop (jika alat tersedia di workshop maka, kantor pusat tidak Peralatan datang ke gudang mekanik proyek Gambar 4.1 Flow Chart Pengadaan Peralatan IV-3
b. Macam- macam peralatan peralatan dalam satu proyek : Menurut fungsinya peralatan dalam suatu proyek di bagi menjadi : 4.1.1 Peralatan Survey dan Pengukuran a. Auto Level Auto level merupakan alat utama dalam melakukan leveling survey yang berfungsi untuk menentukan jarak horizontal maupun vertical suatu titik (stasiun). Alat ini juga berungsi untuk mengukur ketinggian horizontal, dan biasanya digunakan untuk menentukan elevasi elevasi seperti galian tanah, ketinggian gedung per lantainya, dan dapat juga untuk mengetahui elevasi kontur tanah. Gambar 4.2 Auto Level b. Theodolith Theodolith merupakan alat bantu dalam proyek untuk menentukan as bangunan dan titik-titik as kolom pada tiap-tiap lantai agar bangunan yang dibuat tidak miring. Alat ini dipergunakan juga untuk menentukan elevasi tanah dan elevasi tanah galian timbunan. Cara operasionalnya adalah dengan mengatur nuvo dan unting- unting di bawah theodolith. Kemudian menetapkan salah satu titik sebagai acuan. Setelah itu, menembak titik-titik yang lain dengan patokan titik awal yang ditetapkan tadi. IV-4
Gambar 4.3 (a). Theodolith Manual (b). Theodolith Digital c. Total Stasion Alat ukur ini di gunakan pada saat awal proyek tujuannya untuk mengukur batas- batas area atau daerah posisi tanah. Selain itu alat ini juga di gunakan pada saat pemetaan untuk mengetahui koordinat- koordinat area, luasan area dan titik kontur area. Gambar 4.4 Total Station IV-5
d. Plumb Laser PD3 Pada saat proses pembangunan gedung bertingkat akan selalu memperhatikan vertikalitas atau kelurusan bangunan. Ini dilakukan untuk menghindari adanya kemiringan atau pergeseran as-as bangunan pada saat perkerjaan. Kemiringan dan pergeseran ini biasanya dikarenakan kurangnya ketelitian pekerja saat melakukan tahap vertikalitas. Plumb Laser ini digunakan untuk melihat kelurusan titik bangunan dengan cahaya lasernya. Pada saat pembangunan, ditetapkan satu titik yang dilubangi pada setiap lantainya. Setelah itu akan diletakan plumb laser mengarah keatas di lantai bawah dan mengarah ke bawah di lantai atas yang mau dilihat kelurusannya. Jika bangunan lurus maka cahaya laser dari bawah dan atas kan bertemu di titik tengah, namun jika ada pergeseran as atau kemiringan maka cahaya laser tidak akan bertemu melainkan berpapasan. Gambar 4.5 Plumb Laser e. Meteran Meteran merupakan alat ukur panjang yang wajib dimiliki oleh semua orang yang bekerja di proyek, terutama yang terjun langsung kelapangan. Karena meteran ini digunakan untuk mengukur material- material yang digunakan, sesuai IV-6
dengan ukuran yang di minta oleh shop drawing. Selain itu setiap QC akan mengontrol perkerjaan di lapangan dengan melakukan pengukuran material terpasang dengan patokan permintaan shop drawing. Bila material yang terpasangan tidak sesuai maka pekerjaan harus diulang atau jika bisa diperbaiki maka perlu diperbaiki. Gambar 4.6 Meteran f. Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur diameter sutu benda. di dalam suatu proyek jangka sorong ini di gunakan untuk mengukur diameter tulangan atau besi, pipapipa dan semua material yang berbentuk lingkaran. Pengukuran ini di lakuan dengan tujuan untuk mengecek apakah material- material tersebut sesuai dengan kebutuhan yang di pesan. Gambar 4.7 Jangka Sorong IV-7
g. Sipat Sipat adalah suatu alat survey yang di gunakan oleh surveyor sebagai penanda atau marking. Penandaan ini dimaksudkan agar perkerjaan yang akan kita kerjaan sesuai dengan garis gambar kerja, tidak bergeser dan tepat sesuai gambar. Ini biasanya di gunakan sebelum memasang tulangan dan bekisting kolom, jadi area plat di marking dengan sipat dulu. Agar kolom yang kita kerjakan sesuai dengan gambar kerja dan berdiri lurus dari lantai ke lantai. Gambar 4.8 Sipatan Marking 4.1.2 Peralatan Fabrikasi a. Bar Bender Bar bender Merupakan alat yang digunakan untuk membengkokkan tulangan berdiameter besar, seperti pada pembengkokan tulangan sengkang, pembengkokan pada sambungan/overlap tulangan kolom, juga pada tulangan balok, plat dan dinding geser. Bar bender haruslah ada dalam suatu proyek besar karena untuk memenuhi kebutuhan pembesian baik itu precast atau pemasangan secara manual. Alat ini bekerja dengan menggunakan daya listrik dari genset dan memakai sistem hidrolis. IV-8
Gambar 4.9 Bar Bender b. Bar Cutter Bar cutter digunakan untuk memotong baja tulangan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Menurut tenaga penggeraknya, bar cutter terbagi menjadi 2 jenis : 1. Bar Cutter manual Bar Cutter manual adalah alat pemotong baja beton menggunakan penggerak tenaga manusia dengan kapasitas maksimum diameter 16 mm. Alat ini berbentuk seperti gunting pada umumnya. Namun penggunaannya dan dimensinya lebih besar. Gambar 4.10 Bar Cutter Manual 2. Bar Cutter listrik Keuntungan dari Bar Cutter listrik dibandingkan Bar Cutter manual adalah Bar Cutter listrik dapat memotong besi tulangan dengan diameter besar dengan mutu baja cukup tinggi disamping dapat mempersingkat waktu pengerjaan. IV-9
Kemampuannya memotong dapat dilakukan sekaligus seperti tulangan diameter 10 mm dapat dilakukan pemotongan 6 buah sekaligus, 4 buah tulangan diameter 16 mm, 2 buah tulangan diameter 19 mm, 1 buah tulangan diameter 25 mm. Gambar 4.11 Bar Cutter Listrik c. Mesin Las Mesin las adalah alat yang di gunakan untuk menyambungkan besi atau tulangan dari bagian yang satu kebagian lainnya yang akan di sambungkan secara permanen. Selain itu alat ini juga dapat digunakan sebagai alat pemotong logam atau besi yang berukuran besar. Alat ini terdapat dua jenis, yaitu yang mempunyai trafo/ listrik sendiri yang dapat digunakan sebagai bahan bakar atau tenaga untuk alat ini ada ada yang menggunakan gas oksigen dan asitelin sebagai bahan bakarnya. IV-10
Gambar 4.12 (a) Mesin Las trafo (b) Mesin las gas 4.1.3 Alat- alat Pelaksanaan Pengecoran a. Truck Mixer Truck Mixer merupakan alat pengangkut beton dari tempat pembuatannya (Batching Plant) ke lokasi proyek. Truk ini terus mengaduk dan selama proses pengangkutan molen Truck Mixer harus selalu dalam keadaan berputar sesuai dengan berlawanan arah jarum jam dalam perjalanannya agar pasta beton yang ada didalamnya tidak mengeras. Untuk memperlambat kekeringan atau pemisahan agregat di gunakan admixture yang disebut dengan SP (Super Plastizer ), sehingga mutu adukan tidak berubah ketika tiba di lokasi. Saat hendak mengeluarkan adukan maka putarannya akan berubah menjadi searah jarum jam. Truk yang digunakan berkapasitas, 7 m3. Truck Mixer dilengkapi oleh tangki air yang berada di atas alat pengaduk yang berfungsi untuk membersihkan pengaduk dari sisa-sisa campuran beton setelah digunakan untuk mencampur. Truk ini disediakan oleh perusahaan suplier beton yang telah di pilih oleh engineer dan di setujui oleh pihak owner pada saat proses approval material. Pada proyek rumah IV-11
susun bertingkat tinggi (Wisma Atlet ) Kemayoran Blok D10-1 (DNB 16 04) ini, memilih untuk menggunakan supplier beton dari PT. Adhimix Beton. Gambar 4.13 Truck Mixer b. Concrete Bucket Concrete Bucket adalah suatu alat yang di gunakan dalam proses pengecoran. Alat ini berbentuk seperti corong besar yang akan di isikan beton dari truck mixer untuk proses pengecoran pada struktur kolom, dan shearwall. Pada proses pengecoran concrete bucket ini akan di mobilisasikan oleh alat berat yaitu Tower Crane. Gambar 4.14 Concrete Bucket IV-12
c. Concrete Pump Concrete Pump digunakan apabila lokasi pengecoran yang akan dikerjakan pada di ketinggian tertentu. Untuk mengalirkan beton ke lokasi tersebut digunakan pipa-pipa penyambung. Cara kerja alat ini adalah dengan memberikan tekanan di dalam pipa kepada adukan beton sehingga adukan dapat sampai ke lokasi yang akan dicor. Beton dari truck mixcer akan di masukan kedalam tampungan concrete pump untu disemprotkan ke lokasi pengecoran melalui sambungan pipa tersebut. Concrete pump ini biasanya di gunakan pada saat pengecoran plat, balok dan ramp. Gambar 4.15 Concrete Pump a. Beton Decking dan Sepatuan Kolom Setelah pekerjaan pembesian selesai maka akan dipasang tahu beton atau beton decking, ini berfungsi untuk mejaga jarak antara tulangan dengan bekisting sekaligus sebagai ukuran selimut betonnya. Sedangkan sepatuan kolom berfungsi untuk meluruskan pemasangan bekisting dengan garis marking struktur yang akan di cor. Sepatu kolom ini di pasang disisi sudut bawah dari struktur. IV-13
(a) (b) Gambar 4.16 (a) Beton Decking dan (b) Sepatu Kolom b. Trowel Alat ini digunakan untuk meratakan dan menghaluskan pekerjaan pengecoran, biasanya digunakan menghaluskan pengecoran plat lantai agar menjadi lebih mudah dan cepat biasanya alat ini digunakan pada lokasi tertentu saja yang tidak berhubungan langsung dengan fasad bangunan seperti tempat parkir. Gambar 4.17 Trowel c. Vibrator Vibrator adalah alat penggetar yang di gunakan dalam proses pengecoran. Vibrator ini berfungsi untuk meratakan dan memadatkan adukan beton pada struktur yang sedang di lakukan pengecoran. Pada saat proses perkerjaan IV-14
pengecoan, kolom, dan shearwall maka vibrator ini akan di masukan dalam keadaan vertikal namun pada pengecoran balok, pelat lantai dan ramp, vibrator ini akan di tidurkan atau horizontal. Gambar 4.18 Vibrator d. Kompressor Udara ( Air Compressor ) Alat ini digunakan untuk membersihkan debu atau kotoran yang menempel baik itu pada pelat lantai, kolom maupun balok. Untuk pekerjaan pembersihan, diantaranya : bekisting yang akan dicor, pembersihan permukaan beton yang akan disambung atau permukaan pelat yang akan dipasang keramik/lantainya. Gambar 4.20 Kompresor Udara IV-15
e. Perancah Cape East Cape east adalah salah satu jenis perancah yang di gunakan sebagai kontruksi pembantu untuk menahan bekisting struktur balok dan plat. Cape east ini terdiri dari dua unsur penting yaitu U- Head dan Jack Base. U- Head ini terletak di ujung atas dari besting ini, dan Jack Base terletak di ujung bawahnya. U-head ini berfungsi untuk menahan balok kayu diatasnya yang nantinya balok kayu tersebut di gunakan untuk menahan polywood yang berfungsi untuk menjadi bekisting pada balok dan pelat lantai. Sedangkan Jack Base berfungsi untuk menapak di lantai bawahnya, jack base ini seperti kaki yang menahan berdirinya dari bekisting Cape East ini. Cape east ini memiliki tangan atau cabang yang bias di bongkar pasang, di lapangan tangan cape east ini di namakan scaffold. Pada tangan ini juga memiliki bagian U- Head namun tidak memiliki jack base karena dia menopang pada Cape East utama. Fungsi dari tangan Cape East ini sama dengan Cape east utama yaitu sebagai penahan bekisting balok dan pelat lantai. Tangan Cape Easrt ini di pasang dan di lepas dengan jangka wktu dan jarak yang telah di tentukan oleh spesifikasi teknis yang telah di bua dan di setujui. IV-16
Gambar. 4.21. Cape East IV-17
IV-18
IV-19
IV-20
IV-21
Scaffolding Jenis perancah lainnya adalah Scaffolding yang berfungsi sebagai kontruksi pembantu pada saat pembangunan gedung. Scaffolding ini juga dapat digunakan sebagai penyangga bekisting kontruksi balok dan pelat seperti pada perancah jenis Cape East. Namun, pada proyek ini scaffolding hanya di gunakan untuk pembuatan akses jalan dan pemasangan stair / tangga. Akses jalan berfungsi sebagai jalur sementara pekerja dari area aman proyek ke titik perkerjaan proyek sedangkan stair/ tangga ini berfungsi untuk memudahkan pekerja dan tamu untuk memudahkan akomodasi naik turun ke setiap lantainya. Akses jalan dan stair/ tangga ini terbuat dari rangkaian scaffolding yang di tutup rapat dengan Deck Net sehingga akses ini sangat aman untuk para pekerja dan para tamu yang pemula. IV-22
(a) Gambar 4.22 (a) Akses jalan dan (b) Stair/ tangga (b) f. Bekisting Bekisting adalah merupakan suatu konstruksi pendukung pada pekerjaan konstruksi beton dan biasanya terbuat dari bahan kayu,allmunium dan sebagainya. Berbagai material dapat digunakan namun pemilihan jenisnya harus mempertimbangkan dari segi teknis dan nilai ekonomisnya. Berdasarkan cara pengerjaannya bekisting dapat dibentuk secara konvensional yang langsung dikerjakan dilapangan maupun dengan sistem pabrikasi atau merupakan pengembangan dari sebuah sistem bekisting yang mudah dipasang, kuat, awet dan mudah dibongkar. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konstruksi bekisting adalah sebuah konstruksi non permanent yang mampu memikul beban sendiri berat beton basah, beban hidup dan sebagai sarana pendukung dalam mencetak konstruksi beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa serta bentuk permukaan IV-23
yang diinginkan, dengan demikian bekisting berperan dalam proses produksi konstruksi beton. Dengan mendasarkan pada pengertian sebelumnya bahwa bekisting merupakan konstruksi bersifat sementara maka hakekat dari pada bekisting itu adalah konstruksi sederhana tapi harus kuat, dan mampu menahan beban yang bekerja selama proses pekerjaan bekisting, pengecoran serta pasca pengecoran. Pada dasarnya konstruksi bekisting memiliki tiga hal fungsi Menentukan bentuk dari konstruksi beton yang dibuat. Memikul dengan aman beban yang ditimbulkan oleh spesi beton serta beban luar lainya yang menyebabkan perubahan bentuk pada beton. Namun perubahan ini tidak melampui batas toleransi yang ditetapkan. Bekisting harus dapat dengan mudah dipasang, dilepas dan dipindahkan. Mempermudah proses produksi beton masal dalam ukuran yang sama. Gambar 4.23 Bekisting IV-24
g. Tower Crane Alat ini berfungsi sebagai alat pengangkut, dengan adanya alat ini akan memudahkan mobilisasi alat, bahan atau apapun yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Tower Crane dioperasikan oleh tenaga yang berpengalaman sehingga dapat menyesuaikan kapasitas alat dengan barang yang diangkut. Pengangkutan ini tentu untuk mempermudah pelaksanaan pembangunan agar pembangunan dapat berjalan cepat dan efektif. Proyek rumah susun bertingkat tinggi (Wisma Atlet ) Kemayoran Blok D10-1 (DNB 16 04) ini memakai 2 Tower Crane dengan tinggi dan kapasitas maksimal. Gambar 4.24 Tower Crane h. Pipa Conduit Merupakan pipa yang digunakan untuk kelistrikan, alat ini dipasang pada saat setelah penyelesaian pekerjaan pembesian sebelum di cor. Untuk penempatan pipa ini di tentukan oleh shop drawing MEP. IV-25
Gambar 4.25 Pipa Conduit 4.1.4 Peralatan Pendukung Disamping alat diatas, untuk kelancaran pekerjaan digunakan pula alat bantu konvensional lainnya, seperti : 1. Helm 5. Kakatua / Gegep 9. Palu 2. Tang / Pemotong 6. Cangkul 10. SendokSemen 3. Sekop 7. Lampu Lapangan 11. Dan Lain-lain 4. Ember 8. Selang Plastik 4.1.5 Peralatan Kelistrikan Generator set (GenSet) adalah pemberi suplai tenaga listrik yang digunakan untuk operasional proyek. Generator yang digunakan diletakkan ditempat khusus dan dioperasikan sesuai kebutuhan proyek. Proyek ini menggunaka genset berkapasitas 250 KVA. IV-26
Gambar 4.26 Generator Set 4.1.6 Deck Net Deck Net adalah alat keselamatan kerja yang di pakai pada pinggir bangunan di sekitar dinding yang berguna untuk menahan bahan bangunan agar tidak jatuh langsung kebawah yang dapat mengaibatan kecelakaan kerja di karenakan tertimpa bahan- bahan bangunan. Gambar 4.27 Deck Net IV-27
4.1.7 Lampu Alat ini berfungsi untu penerangan didalam proyek apabila ada perkerjaan pada malam hari. Lampu ini banyak terdapat pada lantai basement. Dan di lantai yang sedang ada perkerjaan pada saat malam hari. Gambar 4.28 Lampu 4.2 Material Selain Peralatan- peralatan seperti diatas, dalam suatu perkerjan proyek juga membutuhkan material sebagai bahan dasar. Material adalah suatu zat atau bahan yang dapat di gunakan untuk membuat sesuatu yang lebih berdaya guna. Dimana dalam suatu proyek pembangunan gedung mapun infrastruktur lainnya membuthkan material material sebagai bahan dasarnya. a. Proses Pengadaan Material Dalam proses pengadaan material ini tidak semudah pada proses pengadaan pada peralatan, ini di karenakan dalam menggunakan material material banyak hal- hal yang sangat di perhitungan. Hal- hal yang biasanya di perhitungkan dalam pemilihan material adalah mutu, biaya, garansi, estetik dan lain lain. Setelah Engineer menerima Dokumen Kontrak, Gambar Forcon dan Spesifikasi Teknis dari Owner, Engineer akan mengajukan Shop Drawing dan Approval IV-28
Material ke pada Owner. Approval Material ini adalah suatu dokumen yang berisikan tentang permintaan atas persetujuan penggunaan material sesuai dengan kebutuhan dan berisikan keunggulan- keunggulan dari material tersebut. Approval Material ini dibuat oleh Engineer dengan mengujikan beberapa material dari tiga Suplier yang mengajukan ke pada Engineer agar Materialnya dapat di gunakan dalam proyek ini. Setelah mendapatkan persetujuan dari owner,maka Engineer dapat memberikan data kebutuhan material kepada Quantity Surveyor untuk di data dan di hitung volume kebutuhannya sesuai dengan perkerjaan yang sedang di lakukan. Dan Engineer juga memberikan data material tersebut kepada Supervisor Gudang untuk mendata dan memesan serta mengatur keluar masuknya material sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu Supervisor Gudang akan segera mengirimkan SPM (Surat Permintaan Material) kepada Kantor Pusat agar di buatkan PO dan dikirimkan ke Suplier material yang telah di setujui diatas. Proses kedatangan material dari pembuatan PO berlangsung selama tiga hari lalu setelah material datang ke proyek maka supervisor Gudang akan membuatkan SPM (Surat Penerimaan barang) dan di bukukan sesuai dengan tanggal kedatangan dan stok yang tersisa di proyek. Untuk bahan material Beton pemesanan material di sesuaikan dengan Schedulle Beton (Jadwal beton) yang telah di buat sebelumnya sesuai dengan penjadwalan perkerjaan pengecoran pada proyek dan telah di ketahui oleh supplier beton terlebih dahulu untuk mempersiapkannya. b. Macam- macam material yang di butuhkan dalam suatu proyek Material material yang di butuhan dalam suatu proyek di bagi menjadi dua bagian yaitu material pokok dan material tambahan. IV-29
4.2.1 Material Utama a. Beton Ready Mix Beton Ready Mix merupakan material utama untuk sebuah bangunan. Pengunaan beton ready mix dipandang lebih praktis dan lebih efisien, hal ini di karenakan pengadaannya lebih cepat sesuai kebutuhan, tempat/ lapangan kerja yang di perlukan lebih eisien, serta mutu yang di hasilkan lebih terjamin karena merupakan hasil pabrikasi. Beton ini terdiri dari beberapa campuran material berupa kerikil, pasir, semen dan dapat di tambah zat aditif atau pun bila di perlukan di tambah dengan beton integral dengan kadar sesuai kebutuhan kekuatan. kekuatan beton yang di gunakan dalam proyek ini berbeda beda sesuai dengan strukturnya. Proses pengadaan material beton ini sama dengan proses diatas dan telah di sesuaikan dengan schedule pemesanan beton yang telah di buat oleh Supervisor Gudang. Saat beton datang ke proyek, proses pengujian slump akan di lakukan dengan ketentuan nilai slump yang telah di tentukan dalam spesifiasi teknis. Pengujian slump ini di lakukan oleh Quantity Control untuk di buakan laporan ceklis slump. Bila nilai slump yang di lakukan tidak sesuai dengan ketentuan spesifikasi teknis, maka beton tersebut akan di kembalikan ke supplier. Ada beberapa hal yang harus di pehatikan dalam pengunaan beton ready mix dalam perkerjaan kontruksi, yaitu : Pihak kontraktor sebagai instansi yang memesan beton ready mix sebaiknya meminta kepada pabrik pembuat beton untuk melakukan mix design sesuai spesifikasi yang di rencanakan. Untuk langkah selanjutnya pihak pabrik pembuat beton supaya melaukan trial mix atau membuat beberapa contoh beton dengan melakukan beberapa percobaan percampuran antara semen, agregat kasar, agregat halus, dan air. Setelah jadi kemudian di lakukan proses curing dengan cara direndam di dalam air, setelah mas curing selesei, ketika umur beton 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari supaya di lakukan engujian kuat tekan IV-30
beton di laboratorium, tujuannya adalah untuk mengetahui kekuatan beton untuk mendapatkan campuran beton yang sesuai dengan mutu beton yang di pesan. Pihak penyedia beton ready mix yang melakukan mix design dan trial mix harus melaporkan hasil pengujian kepada pihak kontraktor untuk meyakinkan bahwa beton yang di pesan sudah di lakukan pengujian dan sesuai dengan mutu beton yang di pesan. Setelah mendapatkan campran material beton yang sudah sesuai dengan mutu beton yang di inginkan maka spesifiksi tersebut dapat di gunakan di lapangan. (a) Gambar 4.30 (a) Beton Ready mix dan (b) Slump Test (b) b. Besi Material ini juga merupakan material utama dalam sebuah proyek pembangunan. Besi ini akan di jadikan sebagai tulangan untuk memperkuat IV-31
struktur. Jumlah tulangan dan diameter tulangan yang di gunakan telah di tentukan didalam shop drawing. Dalam pengunaan besi sebagai tulangan, besi itu harus melalui beberapa pengujian seperti pengujian Tarik dan uji bending. Setelah dua pengujian itu berhasil maka besi tersebut dapat di gunakan. Selain itu juga harus memenuhi Peraturan Beton Indonesia (SNI. 2-1971). Besi yang di gunakan sebagai tulangan dalam proyek pembangunan apartemen ini dalah besi ulir dengan ukuran diameter tulangan sesuai dengan spesifikasi struktur. Besi Ulir D29 = Tulangan Pile Cap, Besi Ulir D25 = Tulangan utama balok, dinding dan Retaining Wall, Besi Ulir D19 = Tulangan utama balok anak dan tulangan utama kolom, Besi Ulir D16 = Tualangan sengkang balok Besi Ulir D13 = Tulangan Shear Wall Besi Ulir D10 = Tulangan sengkang balok, peminggang balok dan kolom, tulangan pelat lantai. Penyimpanan material besi tidak boleh langsung menyentuh muka tanah da tidak boleh terontaminasi dengan material lain seperti air ataupun zat yang mengandung minyak, karena untuk menghindari cacat besi sepeti karat atau retak. IV-32
Gambar 4.31 (a). besi ulir D25 (b) besi ulir D19 dan besi ulird16 (c). besi ulir D13 dan (d). besi ulir 4.2.2 Material Tambahan D10 a. Paku Paku di gunakan untuk menyatukan polywood dengan balok. Polywood yang akan di guakan untuk bekisting juga di satukan dengan girder bekisting dengan paku. Ukuran paku yang digunakan dalam proyek ini di sesuaikan dengan kebutuhan dan ukuran dari polywood dan baloknya. Gambar 4.32 Paku IV-33
b. Calbon Kalbon merupakan material tambahan yang cukup penting. Kegunaan dari kalbon ini adalah untuk menyatukan beton lama dengan beton yang baru, selain itu kalbon ini juga di gunakan sebagi perekat antar tulangan dengan beton. Agar beton dan tulangan menyatu dan menempel. Ciri fisik dari kalbon berbentuk cairan kental berwarna putih, bila di diamkan dengan tempat terbuka dia akan mengeras. Jadi secara fisik kalbon ini sama seperti lem pada umumnya. Cara pengunaannya, dengan cara mencairkan kalbon dengan air secukupnya lalu di siram kedalam struktur yang akan di cor, perkerjaan ini di lakukan sebelum perkerjaan pengecoran. Dalam proyek ini mengunakan kalbon dengan merk Altobond. Gambar 4.33 Altobond c. Antisol Antisol ini merupakan material tambahan yang di gunakan sebagai perawatan beton setelah pengecoran. Setelah perkerjaan pengecoran selesai dan masa waktu pengeringan beton sudah selesai, maka besting akan di buka. Setelah di buka maka akan masuk dalam perkerjaan perwatan beto yaitu Curing. Untuk pelat IV-34
lantai dan balok curing dilakukan selama 3 hari dengan air biasa, namun untuk kolom dan shearwall curing cukup dilakukan selama 1 hari dengan antisol ini. Gambar 4.34 Antisol d. Sika Separol Sika Separol merupakan pelumas yang akan di gunakan untuk melumasi polywood pada bekisting, ini di maksudkan agar ketika beton sudah kering dan bekistingnya akan di buka, maka beton tidak menempel pada polywood bekisting. Dan hasil cetakan betonnya halus tidak berantakan. Gambar 4.35 Sika Separol IV-35
e. Water Stop Water stop ini di gunakan untuk beton kedap air. Biasanya di gunaan pada retaining wall dan dinding dinding luar. Agar air dari luar tidak meresap kedalam beton merembas kedalam bangunan. Water stop ini di pasang di bawah dinding sebelum proses pengecoran di lakukan. Gambar 4.36 Water Stop f. Stop Cor Material tambahan ini di butuhkan pada saat proses perkerjaan pengecoran. Pengunaan stop cor ini di maksudkan sebagai pembatas pengecoran stop cor ini terjadi untuk aplikasi lantai atap / kolam / yang menahan air. Gambar 4.37 Stop Cor IV-36
g. Sika 215 Material ini di gunakan untuk memperbaiki beton yang sudah jadi. Setelah selesai pembukaan bekisting dan proses curing. Maka pemeriksaan keadaan beton secara fisik akan di lakukan, bila teradi keretakan atau keropos maka akan di lakukan grouting dengan sika 215. Namun bila kerusakan yang terjadi pada beton sampai terlihat tulangannya, maka akan dilakukan pembongkaran dan pengecoran ulang. Penyimpanan material ini harus di ruangan khusus, dan tidak boleh di letakan langsung diatas lantai. Lantainya harus di lapisi barulah material ini di letakan secara rapi, dan dalam pengunaannya, sebaiknya mengunakan yang terletak di bawah dulu, di karenakan dikawatirkan sika ini akan mengeras. Orang yang dapat masuk kedalam udang penyimanan material ini hanya boleh orang orang gudang yang sudang mengeri karakteristik material ini dan harus mengunakan masker dan sarung tangan. Gambar 4.38 Sika 215 IV-37