Modul 31. ( No. ICOPIM 5-485)

dokumen-dokumen yang mirip
Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-461)

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

( No. ICOPIM : )

PADA PERFORASI USUS (No. ICOPIM: 5-454)

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 )

Modul 24 REPOSISI (MILKING) PADA INVAGINASI SALURAN PENCERNAAN (No. ICOPIM: 5-458)

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 30 Bedah Digestif ABDOMINAL PERINEAL RESECTION OPERASI MILES ( No. ICOPIM 5-484)

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

GASTROSTOMI TEMPORER ( No. ICOPIM 5-431)

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

REPAIR PERFORASI SEDERHANA (No. ICOPIM: 5-467)

Modul 22 SIGMOIDEKTOMI, RESEKSI ANTERIOR, LOW RESEKSI ANTERIOR (No. ICOPIM: 5-455)

Modul 13 OPERASI REPAIR HERNIA DIAFRAGMATIKA TRAUMATIKA (No. ICOPIM: 5-537)

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-894)

Modul 29 Bedah Digestif DRAINASE ABSES APENDIK ( No. ICOPIM 5-471)

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 2 (ICOPIM 5-311)

Modul 19 Bedah Digestif GASTROENTEROSTOMI PINTAS (BY PASS) ( No. ICOPIM 5-442)

Modul 5. (No. ICOPIM: 5-530)

Modul 7 EKSKOKLEASI KISTA RAHANG (ICOPIM 5-243)

(Partial Gastrectomy dengan anastomosis jejujum) (No. ICOPIM 5-437)

Modul 13. (No. ICOPIM: 5-520)

Modul 4. (No. ICOPIM: 5-493)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 12 EKSISI DAN MARSUPIALISASI RANULA (ICOPIM 5-501)

Modul 32. (No. ICOPIM: 5-511)

Modul 6 NEFROSTOMI & DRAINASE PIONEPHROSIS (No. ICOPIM: 5-550)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-871)

PERIKARDIOSENTESIS TERBUKA Bedah TKV (ICOPIM 5-371)

Modul 4 Bedah TKV PEMASANGAN PIPA INTRATORAKAL ATAU WATER SEAL DRAINASE ( WSD ) ( ICOPIM 8-740)

Modul 10 EKSISI KISTA BRANKIALIS (ICOPIM 5-291)

Modul 17 BEDAH TKV DEBRIDEMENT DAN AMPUTASI EKTRIMITAS KARENA GANGRENE (ICOPIM 5-847)

Modul 33. (No. ICOPIM 5-511)

Modul 18 DISEKSI SUBMANDIBULA (ICOPIM 5-262)

Modul 1 PEMASANGAN KATETER VENA SENTRAL (KTS) ( No. ICOPIM : )

Modul 9 REKONSTRUKSI VASKULAR PERIFER (TRAUMA) (ICOPIM 5-380)

Modul 17 (ICOPIM 5-251)

APENDEKTOMI TERBUKA (No. ICOPIM: 5-470)

Modul 12. (No. ICOPIM: 5-505)

MODUL 14 (ICOPIM 5-384)

Modul 3 LOBEKTOMI TOTAL / SUBTOTAL KELENJAR TIROID (ICOPIM 5-061)

Modul 4 SISTOSTOMI & PUNKSI BULI-BULI (No. ICOPIM: 5-572)

APENDEKTOMI TERBUKA (No. ICOPIM: 5-470)

Modul 11 (ICOPIM 5-311)

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

Modul 25 EKSISI LUAS KANKER KULIT (KEPALA LEHER) (ICOPIM 5-899)

Modul 6 OPERASI A-V SHUNT (BRECIA CIMINO) (ICOPIM 5-392)

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

PENYAKIT HIRSCHSPRUNG

1 Tumbuh Kembang Anak

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

10 Usaha Kesehatan Sekolah Dan Remaja

195 Batu Saluran Kemih

Modul 15 LAPAROTOMI DAN TORAKO-LAPAROTOMI ( No. ICOPIM 5-541)

Modul 15 Bedah KL TIROIDEKTOMI SUBTOTAL (ICOPIM 5-062)

BAB I PENDAHULUAN. Meissner dan pleksus mienterikus Auerbach. Sembilan puluh persen kelainan ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mortalitas pascaoperasi (postoperative mortality) adalah kematian yang

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang

BAB I. PENDAHULUAN. terhentinya migrasi kraniokaudal sel krista neuralis di daerah kolon distal pada

68 Gagal Ginjal Kronik (GGK)

LAPORAN PENDAHULUAN PERAWATAN KOLOSTOMI Purwanti,

Fistula Urethra Batasan Gambaran Klinis Diagnosa Penatalaksanaan

16 Gangguan Perilaku Pada Anak: Encopresis

15 Gangguan Perilaku Pada Anak: Temper Tantrum

PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

VENTRICULO PERITONEAL SHUNTING (VPS) : PERBANDINGAN ANTARA VPS TERPANDU LAPAROSKOPI & VPS DENGAN TEKNIK BEDAH TERBUKA KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat dan Jong, 2005).

CLINICAL EXPOSURE BLOK NEUROPSIKIATRI

PERAWATAN KOLOSTOMI Pengertian Jenis jenis kolostomi Pendidikan pada pasien

Modul 19 (ICOPIM: 5-262)

Transkripsi:

Modul 31 Bedah Digestif OPERASI HARTMANN ( No. ICOPIM 5-485) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran umum: Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi, dari kolon dan rektum, mengerti dan memahami keluhan dan tanda klinis, diagnosis, pengelolaan, pengobatan, prognosis kelainan dan karsinoma pada kolon, rektum dan komplikasi beserta perawatan pasca operasinya. 1.2. Tujuan Pembelajaran khusus : Setelah mengikuti sesi ini peserta latih akan memiliki kemampuan untuk : 1. Menjelaskan anatomi kolon dan rektum 2. Mampu menjelaskan gejala dan tanda klinis serta diagnosis kelainan atau karsinoma pada kolon dan rektum 3. Mampu menjelaskan kelainan atau karsinoma pada kolon dan rektum 4. Mampu menjelaskan indikasi pemeriksaan dan mengevaluasi hasil pemeriksaan imaging dalam rangka diagnostik kelainan atau karsinoma pada kolon dan rektum 5. Mampu menjelaskan indikasi dan melakukan endoskopi dalam rangka diagnostik 6. Mampu menjelaskan morfologi dan staging karsinoma kolon dan rektum 7. Mampu menjelaskan indikasi operasi Hartmann baik dengan komplikasi maupun tanpa komplikasi 8. Mampu melakukan operasi Hartmann dan mengatasi komplikasinya 2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN 1. Anatomi, tofografi kolon dan rektum 2. Etiologi, macam, diagnosis dan rencana pengelolaan kelainan atau karsinoma kolon dan rektum 3. Indikasi operasi Hartman 4. Teknik operaasi Hartmann dan komplikasinya 5. Work-up penderita dengan kelainan 6. Perawatan penderita pasca operasi Hartmann 3. WAKTU METODE A. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui metode: 1) small group discussion 2) peer assisted learning (PAL) 3) bedside teaching 4) task-based medical education B. Peserta didik paling tidak sudah harus mempelajari: 1) bahan acuan (references) 2) ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran 3) ilmu klinis dasar C. Penuntun belajar (learning guide) terlampir D. Tempat belajar (training setting): bangsal bedah, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi. 4. MEDIA 1. Workshop / Pelatihan 2. Belajar mandiri 3. Kuliah 4. Group diskusi 5. Visite, bed site teaching 6. Bimbingan Operasi dan asistensi 7. Kasus morbiditas dan mortalitas 8. Continuing Profesional Development = Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) 1

5. ALAT BANTU PEMBELAJARAN Internet, telekonferens, audio visual, dll. 6. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas: Anatomi dan tofografi kolon dan rektum Penegakan diagnosis Terapi (tehnik operasi) Komplikasi dan penanganannya Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/fasilitas: Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai. 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: Pre test Isi pre test Anatomi dan tofografi dari kolon dan rektum Diagnosis Terapi (tehnik operasi) Komplikasi dan penanggulangannya Follow up Bentuk pre test MCQ, Essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan Buku acuan untuk pre test 2

1. Buku Teks Ilmu Bedah Schwarzt 2. Buku Teks Ilmu Bedah Norton 3. Buku Teks Maingot s Abdominal Operation 4. Buku Teks Essentials of Anorectal Surgery 5. Buku Ajar Ilmu Bedah Indonesia, De Jong, Sjamsuhidayat 6. Atlas of Surgical Technique Zollinger 7 th ed, McGraw Hill Inc. 7. Engtrom F Paul et all, Colon Cancer, NCCN Clinical practice guidelines in oncology,v.2.2006 Bentuk Ujian / test latihan Ujian OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium I. Bedah. Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan. Ujian akhir kognitif nasional, dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II) oleh Kolegium I. Bedah. Ujian akhir profesi nasional (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I. Bedah 7. REFERENSI : 1. Buku Teks Ilmu Bedah Schwarzt 2. Buku Teks Ilmu Bedah Norton 3. Buku Teks Maingot s Abdominal Operation 4. Buku Teks Essentials of Anorectal Surgery 5. Buku Ajar Ilmu Bedah Indonesia, De Jong, Sjamsuhidayat 6. Atlas of Surgical Technique Zollinger 7 th ed, McGraw Hill Inc. 7. Engtrom F Paul et all, Colon Cancer, NCCN Clinical practice guidelines in oncology,v.2.2006 8. URAIAN : OPERASI HARTMANN 8.1.Introduksi a.definisi: Suatu tindakan pembedahan yang dilakukan dengan melakukan reseksi kolon sigmoid atau rektum karena suatu kelainan atau tumor di sigmoid dan rektum. Tindakan berupa proksimal end colostomy untuk diversi dan stump distal ditutup. Stoma dapat bersifat temporer atau menjadi suatu stoma yang permanen. b.ruang Lingkup: Lesi/ kelainan sepanjang kolon sigmoid sampai ke rektum.dalam kaitan penegakan diagnosis dan pengobatan lebih lanjut diperlukan beberapa disiplin ilmu yang terkait: patologi anatomi dan radiologi c.indikasi operasi: - Peritonitis lokal dan general yang disebabkan oleh perforasi karena kanker pada kolon sigmoid dan rektum. - Trauma pada kolon dan rektum proksimal yang tidak menjamin dilakukannya anastomosis primer karena secara teknik sulit, tumor dengan rekurensi yang tinggi, dan tanpa atau kurang bowel preparation. - Obstruksi yang disebabkan oleh tumor atau karsinoma sigmoid dan rektum. - Divertikulitis sigmoid d. Kontra indikasi dioperasi : Keadaan umum tidak memungkinkan dilakukan operasi e. Diagnosis banding: - Karsinoma sigmoid - Inflamatory bawel disease - Divertikulitis sigmoid f. Pemeriksaan Penunjang: - Foto polos abdomen 3 posisi - Kolon inloop - Kolonoskopi 3

Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang ahli bedah mempunyai kompetensi melakukan operasi Hartmann serta penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan RS Jaringan Pendidikan. 8.2. Kompetensi terkait dengan modul / List of skill Tahapan Bedah Dasar (Semester I-III) Persiapan operasi: o Anamnesis o Pemeriksaan fisik o Pemeriksaan Penunjang o Informed Consent o Asisten 2, asisten 1 pada saat operasi o Follow up dan rehabilitasi Tahapan bedah lanjut (semester IV-VII) dan chief resident (semester VIII-IX) Persiapan operasi: o Anamnesis o Pemeriksaan Fisik o Pemeriksaan Penunjang o Informed Consent Melakukan operasi (Bimbingan mandiri) o Penangan Komplikasi o Follow up dan rehabilitasi 8.3. Algoritma Dan Prosedur Algoritma (tidak ada) 8.4. Teknik Operasi cprosedur operasi Hartmann dilakuka: Penderita diberi narkose dengan endotracheal tube, penderita berbaring dalam posisi terlentang. Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik, kemudian lapangan operasi dipersempit dengan linen/ doek steril. Dibuat insisi midline supra sampai infra umbilikal. Insisi diperdalam lapis demi lapis linea alba dibuka secara tajam, hingga mencapai peritoneum. Peritoneum dibuka secara tajam. Dilakukan identifikasi lesi/ kelainan pada kolon dan rektum. Bila didapatkan keganasan dilakukan staging pada operasi. Segmen kolon sigmoid atau rektum yang direncanakan untuk direseksi dipisahkan dari peritoneum dan mesosigmoid, demikian pula rektum dipisahkan dengan perituneum dengan meminimalisasi manipulasi pada angiolimfatik untuk mencegah spreading tumor. Identifikasi dan preservasi ureter dan pleksus saraf otonom pada pelvis. A. sigmoidalis dan a. hemoroidalis superior diikat dan dipotong untuk dapat memobilisasi sigmoid dan rektum. Dilanjutkan dengan reseksi tumor / lesi dibagian proksimal dan distal menurut prinsip onkologi Stump bagian distal dari kolon sigmoid atau rektum dijahit sedangkan stump proksimalnya dibuat suatu end-kolostomi. Bila lesi berupa tumor, jaringan yang direseksi diharus diperiksakan secara patologi anatomi Perdarahan dirawat, luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan meninggalkan drain intrperitoneal pada kasus intra abdominal yang septik. 8.5. Komplikasi operasi Perdarahan Infeksi Cedera ureter kiri, pleksus otonom pelvis. Komplikasi stoma, retraksi, striktur, iritasi kulit, hernia parastomal 8.6. Mortalitas Angka mortalitas perioperatif rendah sekitar 9% 8.7. Perawatan Pasca Bedah 4

Pasca bedah penderita dirawat diruangan untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dini yang membahayakan jiwa penderita seperti perdarahan. Diet diberikan setelah penderita sadar dan pasase usus baik. Drain dilepas dengan memperhatikan produksi dan kualitas. Jahitan luka diangkat pada hari ke-7. Mobilisasi penderita. 8.8. Follow Up Operasi Hartmann merupakan operasi darurat, sehingga pada follow-up harus direncanakan untuk operasi definitif atau rekonstruksi: Keadaan umum pasien Kelancaran stoma, irigasi Penanganan penyakit yang mendasari dilakukannya operasi Hartmann. Bila syarat untuk melakukan reanostomosis telah terpenuhi, pasien disiapkan untuk operasi reanostomosis. 8.9. Katakunci : Karsinoma sigmoid, divertikulitis, inflamatory bowel diseases, operasi Hartmann 9. DAFTAR CEK PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI HARTMANN 5

No Daftar cek penuntun belajar prosedur operasi PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed consent 2 Laboratorium 3 Pemeriksaan tambahan 4 Antibiotik propilaksis 5 Cairan dan Darah 6 Peralatan dan instrumen operasi khusus ANASTESI 1 Narcose dengan general anesthesia PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI 1 Penderita diatur dalam posisi sesuai dengan letak kelainan 2 Lakukan desinfeksi dan tindakan asepsis / antisepsis pada daerah operasi. 3 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril. TINDAKAN OPERASI 1 Insisi kulit sesuai dengan indikasi operasi 2 Selanjutnya irisan diperdalam menurut jenis operasi tersebut diatas 3 Prosedur operasi sesuai kaidah bedah digestif PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Komplikasi dan penanganannya 2 Pengawasan terhadap ABC 3 Perawatan luka operasi Sudah dikerjakan Belum dikerjakan Catatan: Sudah / Belum dikerjakan beri tanda 10. DAFTAR TILIK 6

Berikan tanda dalam kotak yang tersedia bila keterampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan (1); tidak memuaskan (2) dan tidak diamati (3) 1. Memuaskan Langkah/ tugas dikerjakan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun 2. Tidak memuaskan Tidak mampu untuk mengerjakan langkah/ tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun 3. Tidak diamati Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih Nama peserta didik Nama pasien Tanggal No Rekam Medis No 1 Persiapan Pre-Operasi DAFTAR TILIK Kegiatan / langkah klinik Penilaian 1 2 3 2 Anestesi 3 Tindakan Medik/ Operasi 4 Perawatan Pasca Operasi & Follow-up Peserta dinyatakan : Layak Tidak layak melakukan prosedur Tanda tangan pelatih Tanda tangan dan nama terang 7