Modul ke: PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA BAHAN TAYANG MODUL 7 SEMESTER GASAL 2016 Fakultas FAKULTAS TEKNIK RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Program Studi Teknik SIPIL www.mercubuana.ac.id
Dalam bahasa Yunani, Istilah ideologi disebut idein, artinya melihat (idea) yang berarti juga gagasan, buah pikiran, dan logika. Disebut ideologi apabila ide atau gagasan itu dijadikan sebagai suatu sistem nilai yang dapat dijadikan tolok ukur dalam bersikap dan bertindak. Pengertian lain, secara harafiah, Ideologi berarti a system of Idea suatu rangkaian Ide yang terangkum menjadi satu. Dalam penggunaannya istilah ini dipakai secara khas dalam bidang politik untuk menunjukkan seperangkat nilai yang terpadu, berkenaan dengan hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ( Moerdiono, 1991 : 373 374 ).
Menurut beberapa pakar, pengertian ideologi adalah sebagai berikut : Ideologi adalah sejumlah doktrin kepercayaan pada simbol-simbol masyarakat suatu bangsa yang menjadi pegangan dan pedoman bekerja untuk mencapai tujuan masyarakat bangsa itu ( Mudyarto, 1991 : 239 ). Ideologi dipahami sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, nilai dan keyakinan yang ingin diwujudkan secara konkrit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ( Poespowardojo, 1991: 22).
Ideologi memiliki beberapa sifat, yaitu, Pertama dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan. Ketiga, Ideologi juga harus memiliki metode praktis bagaimana bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan
Memberikan orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia. Memberikan norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk melangkah dan betindak. Menjadikan bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya. Memberikan kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuannya. Memberikan pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati serta memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya.
Menurut, Wibisono (dalam Pasha, 2003: 138) bahwa unsur ideologi ada tiga, yaitu : Keyakinan, dalam arti bahwa setiap ideologi selalu menunjuk adanya gagasan-gagasan vital yang sudah diyakini kebenarannya untuk dijadikan dasar dan arah strategi bagi tercapainya tujuan yang telah ditentukan; Mitos, dalam arti bahwa setiap konsep ideologi selalu memitoskan suatu ajaran yang secara optimik dan determistik pasti akan menjamin tercapainya tujuan melalui cara-cara yang telah ditentukan pula; Loyalitas, dalam arti bahwa setiap ideologi selalu menuntut keterlibatan optimal atas dasar loyalitas dari para subjek pendukungnya.
Liberalisme Komunisme Fasisme Marxisme Sosialisme Fasisme Pancasila
Liberalisme merupakan paham atau ajaran yang mengagungkan kebebasan individu. Dalam ajaran liberalisme manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas, pribadi yang utuh dan lengkap serta terlepas dari manusia lainnya sehingga keberadaan individu lebih penting dari masyarakat. 1.. Fungsi negara adalah untuk menjaga supaya kebebasan individu terjamin dalam mengejar tujuan-tujuan pribadinya. Beberapa pokok pemikiran yang terkandung di dalam konsep liberalisme, adalah Inti pemikiran kebebasan individu. Negara liberalisme adalah sebagai respons terhadap pola kekuasaan negara yang absolut dan otoriter yang disertan dengan pembatasan.
Ideologi Komunis memiliki beberapa ciri khusus, seperti: Ateisme, artinya penganut ini tidak percaya adanya Tuhan dalam arti bahwa kehidupan manusia berdasarkan atas suatu evolusi. Dogmatisme, tidak mempercayai pikiran orang lain. Otoritas, pelaksanaan politik berdasarkan kekerasan. Pengkhianatan terhadap HAM, tidak mengakui adanya hakhak asasi manusia, hanya partai yang mempunyai hak. Diktator, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh partai komunis, golongan lain dilenyapkan. Interpretasi ekonomi, sistem ekonomi diatur secara sentralistik, artinya pengaturan dan penguasaan ekonomi diatur oleh pusat. Negara mengambil alih semua kekuasaan dan pengaturan ekonomi. Sistem pemerintahan (hanya) otoriter/ totaliter/ diktator.
Vladimir Lenin ( Rusia ) lead the Bolshevik Revolution
Fasisme yang berkembang di Jerman menjadi Nazisme, memiliki beberapa ciri khas, antara lain: a. Rasialisme. Semua orang harus tunduk pada pikiran yang telah diletakkan oleh ideologi. Dogma yang diletakkan oleh pelaksanaan ideologi, harus diikuti dengan patuh tanpa kritik dari mana pun datangnya. b. Diktator. Ajaran ini dogmatis, kritik dianggap suatu kejahatan. Perlawanan terhadap ajaran. kekuasaan pemerintah dilaksanakan dengan cara kekerasan. c. Imperialisme. Atas dasar ideologi mereka melakukan penguasaan atas bangsa lain. Akibatnya imperialisme adalah suatu akibat logis dari paham yang realistis itu. d. Rakyat diperintah dengan cara-cara yang membuat mereka takut dengan demikian patuh kepada pemerintah. e. Sistem pemerintahanya otoriter
Landasan pemikiran: suatu bangsa perlu mempunyai pemerintahan yang kuat dan berwibawa sepenuhnya atas berbagai kepentingan rakyat dan dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, kekuasaan negara perlu dipegang koalisi sipil dengan militer yaitu partai yang berkuasa bersama-sama pihak angkatan bersenjata;
Sosialisme adalah paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik perseorangan. Titik berat paham ini pada masyarakat bukan pada individu. Sebagai suatu aliran pemikiran/ paham tidak dapat dilepaskan dari pengaruh liberalisme. Inti dari paham sosialisme adalah suatu usaha untuk mengatur masyarakat secara kolektif. Artinya semua individu harus berusaha memperoleh layanan yang layak demi terciptanya suatu kebahagiaan bersama.
Pancasila dinyatakan sebagai ideologi negara Republik Indonesia dengan tujuan bahwa Segala sesuatu dalam bidang pemerintahan ataupun semua yang berhubungan dengan hidup kenegaraan harus dilandasi dalam titik tolaknya, dibatasi dengan gerak pelaksanaanya, dan diarahkan dalam mencapai tujuannya dengan Pancasila
Makna ideologi Pancasila adalah sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia yang normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1. Pancasila sebagai Ideologi Persatuan. 2. Pancasila sebagai Ideologi Pembangunan. 3. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka.
Pancasila sebagai Ideologi Persatuan. Latar Belakang : Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen, serba kemajemukan, terdiri dari berbagai suku bangsa. Masyarakat Indonesia bersifat multi etnis, multi religius, dan multi ideologis.
Peranan Pancasila yang menonjol sejak permulaan penyelenggaraan negara Republik Indonesia adalah fungsinya dalam mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Dalam konteks politik inilah Pancasila dipersepsikan sebagai ideologi persatuan. Pancasila diharapkan mampu memberikan jaminan akan terwujudnya misi politik, karena merupakan hasil rujukan nasional, dimana masing-masing kekuatan sosial masyarakat merasa terikat dan ikut bertanggung jawab atas masa depan bangsa dan negaranya. Pancasila berfungsi pula sebagai acuan bersama, baik dalam memecahkan perbedaan serta pertentangan politik di antara golongan dan kekuatan politik,
Sebagai Dasar Negara, Pancasila menjadi pedoman dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu segala aspek kehidupan baik pembangunan ideologi, pembangunan bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan harus bersandar pada nilai Pancasila. Termasuk dalam pembangunan segala bidang, Pancasila harus menjadi paradigma Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Pancasila sebagai suatu ideology tidak bersifat kaku dan tertutup namun bersifat terbuka. Ideology Pancasila bersifat actual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Keterbukaan ideology Pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar pancasila namun mengeksplisitkan wawasannya secara lebih konkrit, sehingga memiliki kemampuan yang lebih tajam untuk memecahkan masalah-masalah baru dan actual
Nilai-nilai dan cita-citanya digali dan diambil dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat sendiri. Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang, melainkan hasil musyawarah dan konsensus masyarakat. Ideologi tebuka senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan aspirasi, pemikiran serta akselerasi dari masyarakat dalam mewujudkan cita-citanya untuk hidup berbangsa dalam mencapai harkat dan martabat kemanusiaan. Pancasila sebagai ideologi terbuka, yaitu pancasila merupakan ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman tanpa mengubah nilai dasarnya.
Hadirnya ideologi Pancasila berperan untuk: Menggambarkan cita-cita bangsa, kearah mana bangsa ini akan bergerak; Menciptakan rasa kebersamaan bangsa Indonesia sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika; dan Menggairahkan seluruh komponen bangsa dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara Republik Indonesia
Negara adalah berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa Konsekuensinya setiap warga memiliki hak asasi untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masingmasing. Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekularisme karena hakikatnya manusia berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan. Tidak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama, antar dan inter pemeluk agama serta antar pemeluk agama. Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketakwaan itu bukan hasil peksaan bagi siapapun juga. Memberikan toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan agama dalam negara. Segala aspek dalam melaksanakan dan menyelenggatakan negara harus sesuai dengan nilainilai Ketuhanan yang Maha Esa terutama norma-norma
Terima Kasih RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH