BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat, khususnya kasus-kasus

2016 ANALISIS POLA MORAL SISWA SD,SMP,SMA,D AN UNIVERSITAS MENGENAI ISU SAINS GUNUNG MELETUS D ENGAN TES D ILEMA MORAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. murid, siswa, mahasiswa, pakar pendidikan, juga intektual lainnya.ada

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan.

BAB I PENDAHULUAN. Problem kemerosotan moral akhir-akhir ini menjangkit pada sebagian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gejolak dalam dirinya untuk dapat menentukan tindakanya.

BAB I PENDAHULUAN. yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL* 1

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pembelajaran di sekolah baik formal maupun informal. Hal itu dapat dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. Dari ketiga hal tersebut terlihat jelas bahwa untuk mewujudkan negara yang

BAB I PENDAHULUAN. produk dengan kualitas-kualitas yang lebih baik. Untuk memenuhi. sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sistem yang harus dijalankan secara terpadu dengan

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang

A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I P E N D A H U L U A N. Karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. sistem yang lain guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan

STRATEGI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 3 MALANG

BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia sebagaimana tertuang dalam. Undang Undang No 2/1989 Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Setiap manusia harus

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pengawasan orang tua terhadap kehidupan sosial anak, kondisi lingkungan anak

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan sebuah negara. Maka dari itu, jika ingin memajukan sebuah negara terlebih dahulu

Memahami Budaya dan Karakter Bangsa

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan untuk mengubah perilaku

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

I. PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. karena itu dibutuhkan sistem pendidikan dan manajemen sekolah yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Irma Khoirsyah Riati, 2016

BAB I PENDAHULUAN. didik. Tujuan yang diharapkan dalam pendidikan tertuang dalam Undang-undang

BAB I PENDAHULUAN. berubah dari tradisional menjadi modern. Perkembangan teknologi juga

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan dinamika perubahan sosial budaya masyarakat. mengembangkan dan menitikberatkan kepada kemampuan pengetahuan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis

BAB I PENDAHULUAN. sekarang merupakan persoalan yang penting. Krisis moral ini bukan lagi

BAB I PENDAHULUAN. dikenang sepanjang masa, sejarah akan menulis dikemudian hari. Di sekolahsekolah. pelajaran umum maupun mata pelajaran khusus.

2015 STUDI TENTANG PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SANTRI AGAR MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu sendi kehidupan. Melalui pendidikan,

I. PENDAHULUAN. memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi. penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN. negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan dalam mewujudkan sumber

BAB I PENDAHULUAN. Bab Pendahuluan Ini Memuat : A. Latar Belakang, B. Fokus Penelitian,C. Rumusan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) tentang

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

I. PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

BAB I PENDAHUHUAN. solusinya untuk menghindari ketertinggalan dari negara-negara maju maupun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kewibawaan guru di mata peserta didik, pola hidup konsumtif, dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan diseluruh jenjang

BAB I PENDAHULUAN. Kode etik adalah norma-norma yang mengatur tingkah laku seseorang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sebuah negara. Untuk menyukseskan program-program

BAB I PENDAHULUAN. antara lain pemerintah, guru, sarana prasarana, dan peserta didik itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu proses pendidikan tidak lepas dari Kegiatan Belajar Mengajar

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk hidup manusia dituntut memiliki perilaku yang lebih baik dari

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping

BAB I PENDAHULUAN. cinta kasih, dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN. serta bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Noviyanto, 2014

BAB I PENGANTAR Latar Belakang Masalah. Salah satu wacana yang menarik dalam studi globalisasi adalah hipotesis tentang

BAB I PENDAHULUAN. sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Akuntansi. Disusun Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. (aspek keterampilan motorik). Hal ini sejalan dengan UU No.20 tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. generasi muda bangsa. Kondisi ini sangat memprihatinkan sekaligus menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS dan PKn

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring berkembangnya zaman memberikan dampak yang besar bagi

BAB I PENDAHULUAN. berkarakter. Hal ini sejalan dengan Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu wadah yang didalamnya terdapat suatu

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan degradasi moral. Mulai dari tidak menghargai diri sendiri,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gia Nikawanti, 2015 Pendidikan karakter disiplin pada anak usia dini

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja merupakan masa paling sensitif dalam kehidupan manusia yang biasanya berlangsung antara usia 12 hingga 18 tahun. Dalam masa ini seseorang bukan lagi anak kecil dan juga belum mencapai usia baligh sepenuhnya dan sedang melewati masa kritis kehidupan. Dengan kenyataan sekarang ini, banyak berita tentang kriminalitas yang dilakukan oleh remaja. Seperti maraknya tawuran yaitu perkelahian antar pelajar, dan pergaulan seks bebas yang dapat merusak moral. Website Okezone.com pada tanggal 14 Maret 2014 menunjukkan Aksi kriminal yang dilakukan oleh remaja kian meresahkan. Kasus terbaru yaitu kasus pembunuhan mahasiswi Universitas Bunda Mulia (UBM) Ade Sara Angelina Suroto. Pembunuhan dilakukan oleh sepasang kekasih Ahmad Imam Al Hafid dan Assyifa Ramadhani. Mereka tega menghabisi nyawa Ade Sara Angelina Suroto dengan menyetrum dan disumpal koran. Tak hanya itu, setelah meninggal Ade pun dibuang begitu saja di Tol Bintara KM 49, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Hal di atas menunjukkan faktor lingkungan keluarga, pergaulan, dan faktor tontonan dalam media televisi di era globalisasi juga dapat menjadi faktor perilaku kedua pembunuh tersebut. Eksistensi seseorang sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Hanya seseorang yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai seorang yang bermartabat dan disegani oleh orang lain. Thomas Lickona dalam Megawangi (2007:12), mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda

2 ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah : (1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama Berdasarkan tanda-tanda yang telah disebutkan tersebut, kondisi bangsa Indonesia saat ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru, karena pelaku dan korbannya adalah remaja, terutama pelajar dan mahasiswa. Bangsa Indonesia kini telah kehilangan karakter yang sudah ada dari dahulu yang semestinya di pertahankan oleh generasi penerus bangsa. Permasalahan mengenai karakter bangsa bukan hanya tugas dunia pendidikan tetapi tugas bangsa secara keseluruhan. Akan tetapi, pendidikan berperan sangat penting untuk membangun generasi yang berkarakter, sejalan dengan yang dikatakan oleh Presiden dalam Aqib (2011:13) mereka yang disebut berkarakter kuat dan baik adalah perseorangan, masyarakat atau bahkan bangsa yang memiliki akhlak, moral dan budi pekerti yang baik. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, menyatakan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

3 Guna mencapai tujuan pendidikan tersebut, khususnya pendidikan karakter pada siswa SMP dapat dilakukan melalui pembelajaran IPA. Melalui pembelajaran IPA ini guru dapat menyisipkan nilai-nilai yang berguna dalam menumbuhkan karakter siswa. Bisa melalui materi, proses dalam pembelajaran, maupun alat peraga yang digunakannya. Hal yang terpenting dalam penanaman pendidikan karakter yaitu selain melalui tahap dan proses yang lama juga memerlukan objek-objek yang dapat mendukungnya, salah satunya yaitu IPA. Siswa akan mengerti dan menanamkan dengan sendirinya karakter itu melalui proses belajar sehari-hari. Mereka dapat tumbuh menjadi siswa yang pandai dalam hal materi sekolah sekaligus siswa yang memiliki karakter mulia sehingga karakter dapat tumbuh dengan sendirinya melalui proses belajar sehari-hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih adanya perilaku siswa atau remaja yang kurang mempunyai sopan santun baik terhadap orang tuanya sendiri, tetangga bahkan terhadap gurunya. Peran pendidikan sangat penting untuk mendukung pembangunan agar menghasilkan insan yang berkualitas. Pendidikan karakter ini, segala sesuatu yang dilakukan guru harus mampu mempengaruhi karakter siswa sebagai pembentuk watak siswa, guru harus menunjukkan keteladanan. Segala hal tentang perilaku guru hendaknya menjadi contoh siswa, misalnya, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, cara guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak agar menjadi manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik. Kriteria manusia, warga masyarakat dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa secara umum didasarkan pada nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya itu sendiri. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam pendidikan di

4 Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri serta nilai-nilai dari ajaran agama, dalam rangka membina generasi muda. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang yakni meningkatnya kenakalan para remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian masal dan berbagai kasus lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian siswa melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu siswa memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat, yang didukung metode pembentukan karakter yang tepat dalam pembinaan generasi muda secara islami. Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional (2010 : 9-10) terindentifikasi 18 nilai pendidikan karakter diantaranya adalah sebagai berikut : nilai-nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. Adapun tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah

5 mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa, mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri kreatif, berwawasan kebangsaan, mengembangkan lingkungan. Kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. Pencapaian tujuan tersebut akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat secara mental, moral dalam mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu dalam upaya pembentukan karakter individu/siswa diperlukan kepedulian semua insan yang bertanggungjawab dalam proses pendidikan. Menurut Nurla Isna Annilah (2011:18), pendidikan karakter sebenarnya lebih menitikberatkan pada pengalaman daripada sekedar pemahaman, oleh karena itu, melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas positif dapat membantunya mengenal dan mempelajari kenyataan yang dihadapi. Pelayanan yang baik oleh seorang guru berupa kerjasama, pendampingan, dan pengarahan optimal yang merupakan komponen yang diberlakukan secara nyata, sebab hal itu memberikan kesan positif bagi siswa dan mempengaruhi cara berpikir sekaligus karakternya. IPA merupakan ilmu yang dalam penyusunannya memerlukan proses dan metode tertentu. Bukan sekedar dari pendapat maupun adat istiadat, melainkan melalui metode-metode ilmiah serta saling berkaitan. Dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan. Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang

6 berkaitan dengan alam. Ruang lingkup IPA meliputi makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifat-sifatnya. Dimana meliputi aspek Fisika, Kimia, dan Biologi. Dari uraian di atas, mengenai pengertian pendidikan dan IPA, maka pendidikan IPA merupakan suatu penerapan dalam pendidikan dan IPA untuk tujuan dalam pembelajaran termasuk di SMP. Menurut Tohari (1978:3), pendidikan IPA merupakan usaha untuk menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA, memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasai materi IPA berupa fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori IPA. Jadi pendidikan IPA merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar guna untuk mengungkapkan gejala-gejala yang terdapat di alam dengan menerapkan metode ilmiah. Disusunlah teori-teori berdasarkan kenyataan dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Berfungsi untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga dapat memahami proses IPA dan dapat mengembangkannya dimasyarakat. SMP Daarut Tauhid Bandung merupakan salah satu Boarding School yang didirikan oleh K.H Abdullah Gymnastiar atau sering di panggil dengan AA Gym, memiliki tujuan untuk : mempersiapkan lulusan yang berkualitas, cerdas, kreatif dan siap menghadapi tantangan kedepan serta memberikan pondasi pembentukan manusia seutuhnya, yakni manusia yang beriman, bertaqwa, berilmu pengetahuan, berteknologi, berakhlaq mulia, cerdas, sehat, menuju ridho Allah SWT. SMP Daarut Tauhiid Bandung menerapkan sistem pembelajaran pembiasaan yang di dalamnya menjelaskan tentang membangun karakter Baku (baik dan kuat), karakter baik yaitu ikhlas, jujur terlaksana dan tawadhu. karakter kuat yaitu disiplin, berani dan tangguh. Untuk para siswa nya, mulai dari kelas tujuh sampai kelas sembilan.

7 Penelitian yang telah dilakukan oleh Asep Awaludin Basori (2013) mengenai pelaksanaan program mentoring agama Islam sebagai alternatif pembentukan perilaku siswa dalam pendidikan berbasis karakter di SMP IT Qordova Kabupaten Bandung, menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, implementasi pembelajaran dalam mentoring agama Islam di SMP IT Qordova merupakan salah satu alternatif model pendidikan karakter bagi siswa SMP yang ditujukan untuk membentengi remaja dari pengaruh moral yang destruktif dan membentuk perilaku siswa sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam tujuan pendidikan nasional maupun dalam skala mikro yang tertuang dalam tujuan pendidikan di satuan pendidikan khusunya di SMP IT Qordova Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang PEMBENTUKAN KARAKTER BAKU (BAIK DAN KUAT) SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP DAARUT TAUHIID BOARDING SCHOOL BANDUNG. B. Identifikasi dan Perumusan Masalah Berdasarkan pada permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti merumuskan masalah umum dalam penelitian ini adalah Bagaimana pembentukan karakter Baku (Baik dan Kuat) siswa pada pembelajaran IPA di SMP Daarut Tauhid Boarding School Bandung? Secara khusus, maka penelitian ini dibatasi pada sub masalah yang didentifikasi sebagi berikut: 1. Bagaimana perencanaan pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung?

8 2. Bagaimana pelaksanaan pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung? 3. Bagaimana evaluasi pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut? 4. Bagaimana karakter Baku pada siswa kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung? C. Tujuan Penelitian Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA di SMP Daarut. Sedangkan secara khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Untuk mendeskripsikan perencanaan pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung. 2. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung. 3. Untuk mendeskripsikan evaluasi pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA kelas VIII di SMP Daarut Tauhiid Boarding School Bandung. 4. Untuk mendeskripsikan karakter Baku pada siswa kelas VIII di SMP Daarut. D. Manfaat Hasil Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam dunia pendidikan, baik sebagai pengembang pendidikan, lembaga pendidikan non formal serta

9 khususnya bagi SMP Daarut dan siswa yang terlibat langsung dalam penelitian ini. 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan pembentukan karakter Baku siswa yang dapat memberikan dampak positif pada pembelajaran IPA. 2. Manfaat Praktis a. Lembaga yang diteliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif kepada lembaga. Peneliti berharap agar hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan serta dapat dijadikan evaluasi yang dianggap positif untuk perbaikan proses pembelajaran kedepannya, baik dari segi teori, metode, dan media yang digunakan. b. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA di SMP Daarut. Hal ini menjadi bagian dari kawasan teknologi pendidikan, yaitu kawasan implementasi. c. Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan wawasan keingintahuan peneliti tentang pembentukan karakter Baku siswa pada pembelajaran IPA. Selain itu, peneliti dapat mendapatkan pengalaman berpikir dalam memecahkan persoalan pendidikan. E. Struktur Organisasi Penulisan

10 Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab sesuai dengan pedoman penulisan karya ilmiah (2013) yang telah ditentukan oleh UPI, yang diuraikan sebagai berikut : Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini membahas mengenai latar belakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah penelitian tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan struktur organisasi penulisan. Bab II Kajian Teori. Bab ini berisi landasan teoritik yang mendukung data penelitian. Dalam bab ini membahas mengenai pembentukan karakter, proses pembelajaran, dan bidang studi IPA. Bab III Metode Penelitian. Pada bab III ini dibahas mengenai metodologi dari penelitian yang dilakukan. Pada bab III ini terdiri dari lokasi, populasi dan sampel penelitian, desain penelitian, metode penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik uji instrumen, teknik analisis data, dan prosedur atau langkah-langkah penelitian. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Pada bab IV ini terdiri dari deskripsi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Bab V Kesimpulan dan Saran. Dalam bab V ini terdapat dua hal pokok yaitu kesimpulan yang berisikan poin utama dari hasil penelitian dan juga saran atau rekomendasi.