BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan

Anatomi Sinus Paranasal Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (simptoms kurang dari 3 minggu), subakut (simptoms 3 minggu sampai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari

Kaviti hidung membuka di anterior melalui lubang hidung. Posterior, kaviti ini berhubung dengan farinks melalui pembukaan hidung internal.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. endoskopis berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dasar diagnosis rinosinusitis kronik sesuai kriteria EPOS (European

BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya

BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung

BAB 1 PENDAHULUAN. Rinitis alergi adalah gangguan fungsi hidung akibat inflamasi mukosa hidung yang

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara fisiologis hidung berfungsi sebagai alat respirasi untuk mengatur

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik.

BAB I PENDAHULUAN. bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. 1. manifestasi klinis tergantung pada organ target. Manifestasi klinis umum dari

Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B

BAB I PENDAHULUAN. paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bronkitis pada Anak Pengertian Review Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan

BAB 6 PEMBAHASAN. Penelitian ini mengikutsertakan 61 penderita rinitis alergi persisten derajat

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sinus Paranasalis (SPN) terdiri dari empat sinus yaitu sinus maxillaris,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. nasi, kolumela dan lubang hidung (nares anterior). 1

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian. Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013.

BAB III METODE DAN PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE DAN PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi

11/29/2013 PENGINDERAAN ADALAH ORGAN- ORGAN AKHIR YANG DIKHUSUSKAN UNTUK MENERIMA JENIS RANGSANGAN TERTENTU

BAB 1 PENDAHULUAN. Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos, yang memiliki arti tidak pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang muncul membingungkan (Axelsson et al., 1978). Kebingungan ini tampaknya

BAB I PENDAHULUAN. bahwa prevalensi alergi terus meningkat mencapai 30-40% populasi

BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).

BAB 1. PENDAHULUAN. hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

REFERAT DEVIASI SEPTUM NASI

TRAUMA MUKA DAN DEPT. THT FK USU / RSHAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidung luar dan hidung dalam. Struktur hidung luar ada 3 bagian yang dapat

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Papilloma sinonasal diperkenalkan oleh Ward sejak tahun 1854, hanya mewakili

INDERA PENCIUMAN. a. Concha superior b. Concha medialis c. Concha inferior d. Septum nasi (sekat hidung)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis alergi (RA) merupakan rinitis kronik non infeksius yang paling

PENUNTUN KETERAMPILAN KLINIS. PEMERIKSAAN HIDUNG Dan PEMASANGAN TAMPON BLOK 2.6 GANGUAN RESPIRASI

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran serta polusi. Pada tahun 2013 industri tekstil di Indonesia menduduki

Yani Mulyani, M.Si, Apt STFB

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 5 HASIL DAN BAHASAN. adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. anterior hingga koana di posterior yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

BENDA ASING HIDUNG. Ramlan Sitompul DEPARTEMEN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama dijumpai pada usia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TUTORIAL 2 SISTEM TUBUH 2. Sistem Respirasi Manusia

BAB 1 PENDAHULUAN. karena berperan terhadap timbulnya reaksi alergi seperti asma, dermatitis kontak,

Definisi Bell s palsy

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Hipotesis higiene merupakan penjelasan terhadap peningkatan kejadian atopi

BAB 1 PENDAHULUAN. pada saluran napas yang melibatkan banyak komponen sel dan elemennya, yang sangat mengganggu, dapat menurunkan kulitas hidup, dan

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hidung dan Sinus Paranasal 2.1.1. Anatomi hidung Berdasarkan struktur anatominya, hidung dibagi menjadi hidung luar dan hidung dalam. Hidung luar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : 1) Kubah tulang, merupakan bagian yang paling atas yang tak dapat digerakkan, 2) Kubah kartilago, merupakan bagian dibawah kubah tulang yang dapat digerakkan, 3) Lobulus hidung, bagian yang paling bawah dan mudah digerakkan. Kubah kartilago dibentuk oleh kartilago lateralis supperior yang saling berfusi di garis tengah serta berfusi pula dengan tepi atas kartilago septum kuadrangularis. Bentuk dari sepertiga lobulus hidung dipertahankan oleh kartilago lateralis inferior. Lobulus menutupi vestibulum nasi dan dibatasi di sebelah medial oleh kolumela, di lateral ala nasi, dan anterosuperior oleh ujung hidung. Mobilitas lobulus hidung penting untuk ekspresi wajah, gerakan mengendus, dan bersin. 7

Gambar 2.1. Struktur Dinding Lateral Hidung 10 Sedangkan hidung dalam, terbentang dari os internum di anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Septum hidung merupakan garis tengah yang membagi hidung menjadi 2 buah rongga yang pada bagian lateral masing-masing rongga terdapat konka. Konka memiliki rongga udara yang tak teratur di antaranya, yaitu meatus superior, media, dan inferior. Duktus nasolakrimalis bermuara pada meatus inferior di bagian inferior. Sinus frontalis, etmoidalis anterior, dan maksilaris bermuara pada hiatus semilunaris dari meatus media. Sel sel sinus etmoidalis posterior bermuara pada meatus superior, sedangkan sinus sfenoidalis berakhir pada resesus sfenoetmoidalis. Ujung - ujung saraf olfaktorius menempati daerah kecil di bagian medial dan lateral dinding hidung dalam dan ke atas hingga kubah hidung. 7 2.1.2. Vaskularisasi dan persarafan rongga hidung

Suplai darah ke rongga hidung berasal dari cabang arteri maksilaris interna. Cabang sfenopalatina dari arteri maksilaris interna menyuplai daerah konka, meatus dan septum. Cabang etmoidalis anterior dan posterior dari arteri oftalmika menyuplai sinus frontalis dan etmoidalis serta atap hidung. Sinus maksilaris disuplai oleh cabang arteri labialis superior dan cabang infraorbitalis. Sedangkan sinus sfenoidalis mendapatkan suplai dari alveolaris dari arteri maksilaris interna dan cabang faringealis dari arteri maksilaris interna. 7 Vena-vena membentuk suatu pleksus kavernosa yang rapat di bawah membrana mukosa. Pleksus ini terlihat nyata di atas konka media dan inferior, serta bagian bawah septum dimana ia membentuk jaringan erektil. Drainase vena terutama melalui vena oftalmika, fasialis anterior, dan sfenopalatina. 7 Salah satu saraf yang berperan dalam rongga hidung adalah N. olfaktorius yang terdapat pada membrana mukosa. Saraf ini naik ke atas melalui lamina cribrosa dan mencapai bulbus olfactorius. Saraf saraf sensasi umum berasal dari divisi ophtalmica dan maxillaris N. trigeminus. Persarafan bagian anterior rongga hidung berasal dari n. etmoidalis anterior. Sedangkan bagian posteriornya berasal dari ramus nasalis, ramus nasopalatinus, dan ramus palatinus ganglion pterygopalatinum. 11 2.1.3. Sistem limfatik Jaringan limfatik anterior adalah kecil dan bermuara di sepanjang pembuluh fasialis yang menuju leher. Jaringan ini mengurus hampir seluruh bagian anterior hidung vestibulum dan daerah prekonka. 7 Jaringan limfatik posterior mengurus mayoritas anatomi hidung, menghubungkan ketiga saluran utama di daerah hidung belakang, yaitu saluran superior, media, dan inferior. 7 Kelompok superior, berasal dari konka media dan superior dan bagian dinding hidung yang berkaitan, berjalan di atas tuba eustakius dan bermuara pada kelenjar limfe retrofaringea. Kelompok media, berjalan di bawah tuba eustakius, mengurus konka inferior, meatus inferior, dan sebagian dasar hidung, dan menuju rantai kelenjar limfe jugularis.

Kelompok inferior, berasal dari septum dan sebagian dasar hidung, berjalan menuju kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna. 7 2.1.4. Anatomi sinus paranasal Sinus paranasal merupakan rongga-rongga udara yang terdapat di dalam os maxilla, os frontale, os sphenoidale, dan os ethmoidale. Sinus memiliki fungsi sebagai resonator suara, juga untuk mengurangi berat tengkorak. Bila muara sinus tersumbat atau sinus terisi cairan kualitas suara akan berubah. 11 Sinus maksilaris terdapat dalam korpus maksilaris yang berbentuk piramid dengan basis membentuk dinding lateral hidung dan apeks di dalam prosesus zigomatikus maksila. Membran mukosa sinus maksilaris dipersarafi oleh n. alveolaris superior dan n. infraorbitalis. 11 Sinus frontalis ada 2 buah yang dipisahkan oleh septum tulang yang sering menyimpang dari bidang median. Setiap sinus berbentuk segitiga dan meluas ke atas. Membran mukosanya dipersarafi oleh n. supraorbitalis. 11 Sinus sfenoidalis, juga terdiri atas 2 buah rongga di dalam corpus ossis sphenoidalis. Membran mukosanya dipersarafi oleh n. etmoidalis posterior. 11 Sinus etmoidalis yang terdapat di antara hidung dan mata. Sinus ini dibagi menjadi kelompok anterior, media, dan posterior. Kelompok anterior bermuara ke dalam infundibulum, kelompok media bermuara ke dalam meatus media, dan kelompok posterior bermuara ke dalam meatus superior. Membran mukosanya dipersarafi oleh n. etmoidalis anterior dan posterior. 11 2.1.5. Fisiologi hidung Hidung sebagai organ penting dalam jalur pernafasan manusia memiliki beberapa fungsi penting yaitu: 1) sebagai organ penghidu, 2) sebagai tahanan jalan nafas, 3) sebagai penyesuai udara, 4) sebagai purifikasi udara, dan 5) sebagai fungsi mukosiliar. 7 Teori struktural, teori revolusioner, dan teori fungsional menjelaskan fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal, antara lain 12 :

1. Fungsi respirasi, mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal 2. Fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa olfaktorius (penciuman), dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu 3. Fungsi fonetik, berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang 4. Fungsi statistik dan mekanik, untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas 5. Refleks nasal 2.1.6. Sistem transpor mukosiliar Transpor mukosiliar atau pembersihan mukosiliar adalah mekanisme pertahanan terhadap setiap zat / mikroorganisme asing yang masuk ke dalam hidung. Silia dan lapisan mukus merupakan komponen yang berperan penting dalam hal ini. Silia memiliki panjang sekitar 6 mikron dengan diameter 250 nm, jumlah silia bervariasi antara 50 100 setiap sel saluran nafas, dipengaruhi oleh usia dan posisinya di saluran nafas. Jumlahnya dalam saluran nafas diperkirakan sekitar 10 9 silia per cm 2. 13 Strukturnya terbentuk dari dua mikrotubulus sentral tunggal yang dikelilingi sembilan pasang mikrotubulus, semuanya terbungkus dalam membran sel berlapis tiga yang tipis dan rapuh. 7 Silia memiliki gerakan yang metakronis yang berfungsi mendorong mukus untuk bergerak ke arah nasofaring, kemudian ke orofaring dan hipofaring, yang selanjutnya sekretnya akan ditelan. 13 Kerja silia dapat terganggu oleh adanya udara yang sangat kering, yang sering terjadi di rumah pada bulan bulan musim dingin dengan pemanasan. Polusi udara (nitrogen dioksida dan sulfur dioksida) mengganggu efektivitas silia dalam berbagai cara. 7 Lapisan mukus merupakan sawar terhadap alergen, virus, dan bakteri. Beberapa molekul yang terlibat adalah defensin, lisozim, dan IgA. Mukus memiliki viskositas yang rendah, sehingga mempermudah laju gerak silia, dan juga mencegah glycoprotein dari lapisan mukus menempel pada glycocalyx dari

membran apikal epitel. Pada individu sehat, mukus dari saluran nafas mengandung 97% air dan hanya 3% zat padat yang 30% terdiri dari musin. 13 Arah gerakan mukus dalam hidung umumnya ke belakang dikarenakan silia lebih aktif pada meatus media dan inferior yang terlindung, maka cenderung menarik lapisan mukus dari meatus komunis ke dalam celah celah ini. Pada septum arah gerakannya ke belakang dan ke bawah menuju dasar. Pada dasar hidung, arahnya ke belakang dan cenderung bergerak di bawah konka inferior ke dalam meatus inferior. Sedangkan sisi medial konka, arah gerakan ke belakang dan ke bawah, lewat di bawah tepi inferior meatus yang bersangkutan. Kecepatan gerakan mukus dipengaruhi oleh kerja silia yang berbeda di berbagai bagian hidung. Kecepatan pada segmen hidung anterior mungkin hanya seperenam dari segmen posterior, yaitu sekitar 1 20 mm/menit. 7 Ada dua penyebab gangguan pada pembersihan mukosiliar, yaitu: 1) gerak silia yang dihambat secara langsung, seperti pada kasus defek genetik pada protein sentral aksonem, atau 2) disfungsi sementara yang disebabkan oleh infeksi dan pengaruh lingkungan. Beberapa kasus yang sering mengganggu proses pembersihan mukosiliar adalah diskinesia silia primer dan sekunder, kistik fibrosis, PPOK, asma, dan gangguan rinologi lain ya. 13 2.2. Rinitis Alergi 2.2.1. Definisi rinitis alergi Rinitis alergi adalah suatu penyakit respon inflamasi yang diperantarai oleh IgE pada membran mukosa hidung setelah terpajan oleh alergen inhalan. Gejalanya meliputi rinore (anterior atau posterior), hidung tersumbat, hidung gatal, dan bersin. 14 2.2.2. Klasifikasi rinitis alergi Rinitis alergi dahulu diklasifikasikan berdasarkan waktu serangannya, dibagi menjadi seasonal (musiman), parennial (menahun), dan occupational (terkait pekerjaan). Rinitis alergi parennial sering disebabkan oleh alergen yang berasal dari dalam rumah seperti debu, tungau, jamur, dan insekta. Sedangkan rinitis

alergi seasonal berkaitan dengan variasi alergen di luar lingkungan rumah seperti polen (serbuk sari) ataupun jamur. Namun klasifikasi ini masih belum memuaskan, sehingga ARIA WHO melakukan revisi dan mengklasifikasikannya berdasarkan lamanya serangan dan derajat keparahan. 2 Tabel 2.1 Klasifikasi Rinitis Alergi 2 Klasifikasi Gejala Gejala berlangsung kurang dari 4 hari/minggu Intermittent atau kurang dari 4 minggu Gejala berlangsung lebih dari 4 hari/minggu Persistent dan lebih dari 4 minggu Tidak ditemukan gangguan tidur, aktivitas Mild harian, olahraga, bersantai, aktivitas sekolah dan bekerja Ditemukan adanya gangguan tidur, gangguan Moderate Severe terhadap aktivitas harian, olahraga, bersantai, aktivitas sekolah dan bekerja Berdasarkan tabel di atas, maka rinitis alergi diklasifikasikan menjadi: Rinitis alergi dengan gejala intermittent mild Rinitis alergi dengan gejala intermittent moderate-severe Rinitis alergi dengan gejala persistent mild Rinitis alergi dengan gejala persistent moderate-severe 2.2.3. Faktor resiko rinitis alergi Gejala dari rinitis alergi berkembang sebelum usia 20 tahun pada 80% kasus. Pada anak yang memiliki riwayat rinitis alergi pada kedua orang tuanya, akan mendapatkan rinitis alergi pada usia yang lebih muda dibanding dengan anak yang memiliki riwayat rinitis alergi pada salah satu orang tuanya. Rinitis alergi berkembang pada 1 dari 5 orang anak pada usia 2-3 tahun dan kurang lebih 40%

pada usia 6 tahun. Sekitar 30% berkembang pada usia remaja. 15 Pada anak-anak rinitis alergi lebih dominan terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan. Tetapi pada orang dewasa prevalensinya lebih sering terjadi pada perempuan. 16 Beberapa faktor resiko lainnya yang berpengaruh adalah : Riwayat atopi dari keluarga. Ada peranan genetik yang turut menentukan kondisi ini. Beberapa penelitian menemukan adanya bentuk polimorfisme pada beberapa kromosom (1,2,3,5,6,7,9,11,12,13,14,16,17,19,dll) dan juga dijumpai adanya perbedaan distribusi allel yang berkaitan alergi (IL-4 dan gen IL-4R) pada beberapa ras. 17 Serum IgE > 100 IU/ml pada anak sebelum usia 6 tahun. Hasil positif pada uji cukit kulit / Skin Prick Test (SPT). 16 Terpapar alergen. Alergen inhalan merupakan faktor utama. Alergen inhalan yang paling sering terlibat adalah debu, tungau rumah (Dermatophagoides pteronyssinus & Euroglypus maynei), polen, jamur, bulu binatang, polusi (NO, Sulfur dioksida, CO, ozon). Makanan jarang menyebabkan terjadinya rinitis alergi. 2 2.2.4. Patofisiologi rinitis alergi Rinitis alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I yang dimediasi oleh IgE. Reaksi terdiri atas 2 fase yaitu: 1) reaksi fase cepat, yang terjadi segera setelah paparan dengan alergen, 2) reaksi fase lambat, yang terjadi setelah 4-8 jam setelah paparan alergen.

Gambar 2.2. Mekanisme Rinitis Alergi 18 Reaksi alergi tipe I diawali dengan adanya sensitisasi. Pada fase ini, setiap alergen / antigen yang masuk ke mukosa akan diangkut oleh antigen presenting cell (APC) melalui MHC Class II ke sel CD+4 T limfosit (T cell). T cell akan berdiferensiasi menjadi sel Th1 dan Th2. Selanjutnya sel Th2 akan melepaskan berbagai sitokin seperti IL-4 dan IL-13. Sitokin tersebut akan berikatan dengan reseptor di permukaan sel B dan mengaktifkan sel B untuk memproduksi IgE spesifik antigen yang akan berikatan pada permukaan sel mast dan basofil pada reseptor Fc. 19 Jika suatu saat alergen yang sama terpapar kembali pada mukosa hidung yang telah tersensitisasi, maka alergen tersebut akan berikatan dengan kompleks IgE dan akan menyebabkan terjadinya degranulasi sel mast dan basofil yang akan mengeluarkan mediator mediator neuroaktif dan vasoaktif seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, heparin, kinin, dan protease. 19 Mediator seperti histamin akan langsung mempengaruhi pembuluh darah (meningkatkan permeabilitas vaskular dan kebocoran plasma) dan ujung saraf sensoris, sedangkan leukotrien

menyebabkan vasodilatasi. Aktivasi dari saraf sensoris akan menimbulkan rasa gatal dan berbagai refleks sentral. Hal tersebut meliputi refleks bersin dan refleks parasimpatis yang menstimulasi sekresi banyak mukus di hidung dan kejadian vasodilatasi. Hiperresponsif saraf sensoris merupakan gejala yang paling menonjol pada rinitis alergi. 20 Pada reaksi fase lambat, mediator inflamasi yang paling berperan adalah eosinofil. Aktivasi dari eosinofil ini akan mengeluarkan beberapa produk granul yang toksik seperti major basic protein (MBP), eosinophil cationic protein (ECP), dan eosinophil peroxidase (EPO) yang dapat merusak sel sel epitel dari rongga hidung. 19 2.2.5. Manifestasi klinis rinitis alergi Beberapa gejala klinis yang mengarah ke rinitis alergi jika dijumpainya 2 atau lebih gejala yang berlangsung lebih dari 1 jam selama beberapa hari, yaitu 2 : Rinore (hidung berair) Bersin, yang sering kambuh (> 5 kali/serangan) Hidung tersumbat Hidung terasa gatal ± Konjungtivitis Namun ada beberapa gejala yang tidak berhubungan dengan rinitis alergi dan dapat menjadi diagnosa banding yaitu 2 : Gejala unilateral Hidung tersumbat tanpa gejala lain Rinore yang mukopurulen Rinore posterior (post nasal drip) disertai lendir kental Ada nyeri Epistaksis berulang Anosmia 2.2.6. Diagnosis rinitis alergi

2.2.6.1. Anamnesis Dalam anamnesis perlu ditanyakan gejala-gejala yang dialami pasien. Gejala rinitis alergi berbeda dengan rinitis infeksiosa. Respon alergi biasa ditandai oleh bersin, kongesti hidung, dan rinore yang encer dan banyak. Tidak ada demam dan biasanya sekret tidak mengental atau menjadi purulen. Gejala penyerta seperti mual, bersendawa, kembung diare, somnolen atau insomnia dapat juga memberi kesan suatu alergen yang ditelan, serta membedakan pasien-pasien ini dari penderita rinitis virus. Pola serangan (hilang timbul / menetap), durasi dan derajat keparahan perlu ditanyakan serta riwayat penyakit alergi dalam keluarga. 7 2.2.6.2. Pemeriksaan fisik Mukosa hidung pada pasien alergi biasanya basah, pucat, dan berwarna merah jambu keabuan. Konka tampak membengkak. Polip dapat timbul pada antrum maksilaris dan regio etmoidalis, kemudian meluas ke dalam meatus superior dan media. 7 Selain itu dijumpai juga tanda khas, yaitu: 1) Allergic shiners / Dennie- Morgan lines, yaitu bayangan gelap di daerah periorbita karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung, 2) Allergic salute, garis yang timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan, 3) Allergic crease, garis horizontal pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. 21 Pada pemeriksaan mata dapat dijumpai adanya injeksi dan pembengkakan pada konjungtiva palpebra dengan lakrimasi yang berlebihan. 22 2.2.6.3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan secara in vivo dapat dilakukan dengan Skin Prick Test. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang sensitivitas dan spesifisitasnya baik, di atas 80%. 14 SPT merupakan pemeriksaan yang cepat untuk menentukan alergen yang spesifik dikarenakan reaksi akan muncul pada 15-20 menit setelah paparan. Tetapi respon fase lambat dapat berlangsung dalam waktu 4-8 jam setelah paparan alergen. 23 Beberapa yang menjadi kontraindikasi SPT adalah pasien dengan asma berat yang tak terkontrol, adanya penyakit kulit seperti ekzema, penyakit

kardiovaskular yang berat dan tidak stabil, dan pasien dalam pengobatan betablocker. 14 Tabel 2.2 Interpretasi Hasil Skin Prick Test 23 Ukuran (mm) Skala Interpretasi <4 0+ Negative 5 10 2+ Mildly sensitive 10 15 3+ Moderate sensitive >15 4+ Very sensitive Pemeriksaan secara in vitro dapat dilakukan dengan menggunakan Radioallergosorbent Test (RAST). Pemeriksaan ini juga digunakan untuk menentukan alergen spesifik IgE berdasarkan spesimen serum pasien. RAST menjadi pilihan jika didapati adanya kelainan kulit seperti dermatographism, ekzema berat, dermatitis yang meluas, dan pasien anak yang tidak kooperatif. Pemeriksaan ini dapat dilakukan tanpa mengkhawatirkan terjadinya efek samping seperti reaksi anafilaksis. Pemeriksaan lain yang juga digunakan untuk mengevaluasi pasien suspek rinitis alergi adalah rinometri akustik, rinomanometri, tes provokasi alergen hidung, dan apusan hidung (mengukur kadar eosinofil di mukosa hidung). 14

2.2.7. Algoritma tatalaksana rinitis alergi Gambar 2.3. Algoritma Tatalaksana Rinitis Alergi24

2.2.8. Komplikasi rinitis alergi Survei epidemiologi secara retrospektif maupun prospektif memperlihatkan bahwa rinitis alergi sering berkaitan dan bahkan menjadi faktor penyebab dari asma, sinusitis, dan otitis media efusi. Pada 70% anak yang menderita alergi dan rinitis kronis dijumpai adanya gambaran radiologis yang abnormal pada sinusnya. Begitu juga pada anak-anak yang menderita OME, 40-50% memiliki riwayat rinitis alergi yang telah dikonfirmasi dengan Skin Prick Test (SPT) dan dijumpai peningkatan serum antibodi IgE. 25 2.3. Kualitas Hidup Kualitas hidup memiliki banyak arti tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Kualitas hidup menurut WHO (1994), didefinisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki, atau wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan sistem dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial dan hubungan pada karakteristik lingkungan mereka. Oleh sebab itu kualitas hidup pada setiap orang akan berbeda hasilnya. Kualitas hidup memberikan manfaat bagi penyelenggara kesehatan, antara lain: 1) Sebagai parameter keberhasilan suatu terapi, 2) Indikator diperlukannya terapi suportif, 3) Indikator prognostik, 4) Membantu dalam membuat keputusan, 5) Informasi dalam alokasi sumberdaya dan kebijakan kesehatan. 26 Untuk dapat menentukan taraf kualitas hidup seseorang diperlukan sebuah instrumen berupa kuesioner yang mengandung sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan aspek kulitas hidup. Kuesioner dapat bersifat umum dan dapat bersifat khusus terhadap suatu penyakit. Kuesioner yang sering dipakai untuk menentukan kualitas hidup secara umum meliputi WHOQOL dan SF-36. Sedangkan kuesioner yang lebih khusus (spesifik) digunakan untuk mengevaluasi pengaruh suatu penyakit terhadap kualitas hidupnya. Rinitis alergi adalah salah satu penyakit yang berdampak terhadap fungsi fisik pasien, emosional, sosial dan lingkungan sekolah atau pekerjaan penderita. Gangguan belajar sering ditemukan

pada anak-anak, sedangkan pada orang dewasa sering didapati adanya penurunan poduktivitas dan konsentrasi. 27 Untuk rinitis alergi, kuesioner yang sudah tervalidasi adalah kuesioner Rhinitis Quality of Life Questionnaire (RQLQ) yang terdiri atas 28 pertanyaan, 7 area, dan skala 0-6. 9 2.4. Cuci Hidung Cuci hidung bukanlah merupakan suatu hal yang baru, melainkan sudah ada sejak kurang lebih 15 abad yang lalu pada masyarakat India kuno. Jalaneti dalam bahasa India adalah perkembangan awal cuci hidung yang merupakan salah satu dari enam bagian dari terapi yoga (kriyas). Cuci hidung diyakini dapat membersihkan pernafasan dan akan mengembalikan kejernihan pikiran. Penelitian ilmiah mengenai cuci hidung pertama kali muncul dalam British Medical Journal pada tahun 1895. Tahun 2007, sebuah studi meta-analisis dengan RCT menunjukkan bahwa penggunaan terapi cuci hidung terhadap perbaikan gejala inflamasi pada hidung menunjukkan hasil peningkatan yang signifikan dengan standard mean deviation (SMD) 1,14. Cuci hidung merupakan terapi yang murah, sederhana, dan dapat ditoleransi dengan efek samping yang minimal. 28 2.4.1. Mekanisme kerja Beberapa teori menjelaskan bagaimana peranan cuci hidung terhadap perbaikan gejala hidung. Teori tersebut menjelaskan kaitan antara penggunaan cuci hidung dengan pergerakan silia, pembersihan mukus, dan juga waktu transpor mukosiliar. Lapisan mukus di rongga hidung merupakan pertahanan lini pertama terhadap segala jenis invasi dari organisme berbahaya. Cuci hidung dengan larutan salin dapat meningkatkan pergerakan mukus tersebut ke arah nasofaring. Lapisan mukus juga mengandung beberapa mediator inflamasi seperti histamin, prostaglandin, leukotrien, defensins dan protein lain yang akan dibersihkan melalui bilasan hidung menggunakan larutan salin. 29 Parsons. et al dalam penelitiannya menunjukkan bahwa cuci hidung dengan larutan salin hipertonik memperbaiki waktu transpor mukosiliar pada pasien rinosinusitis (akut & kronis). 30

Sejumlah hipotesa yang menjelaskan peranan cuci hidung terhadap perbaikan gejala hidung antara lain 31 : 1. Perbaikan terhadap pembersihan mukosiliar 2. Mengurangi edema mukosa 3. Mengurangi mediator inflamasi 4. Membersihkan kotoran (kerak) dan lendir kental di rongga hidung. 2.4.2. Indikasi dan kontraindikasi serta efek samping Cuci hidung diindikasikan pada pasien-pasien dengan gangguan sinonasal, di antaranya dapat berupa rinosinusitis (akut & kronis), rinitis alergi & non alergi, ISPA, dan terapi pasca bedah sinus endoskopi. 8 Penggunaannya perlu diperhatikan pada pasien rinitis terkait usia, rinitis alergi, perforasi septum hidung, dan rinosinusitis yang berkaitan dengan infeksi HIV. 32 Namun pada pasien dengan trauma wajah atau trauma basis cranii, terapi ini dikontraindikasikan. Cuci hidung dengan larutan salin menghasilkan efek samping yang minimal, di antaranya berupa iritasi lokal, rasa gatal, rasa terbakar, otalgia, dan cairan yang tertinggal di rongga sinus. 29 2.4.3. Bahan cuci hidung Larutan yang digunakan untuk membilas rongga hidung dapat berupa larutan isotonis atau hipertonis, buffer ataupun non-buffer. Penelitian Talbot et al menunjukkan bahwa penggunaan larutan salin hipertonis 3% menurunkan waktu transpor mukosiliar lebih baik daripada penggunaan saline 0,9% dengan perbandingan waktu 3,1 menit banding 0,14 menit. 31 Hal ini sejalan dengan penelitian Immanuel yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan penggunaan larutan salin hipertonis dan isotonis terhadap penurunan waktu transpor mukosiliar. 33 Larutan salin hipertonis menurunkan kekentalan daripada lendir mukus, sehingga mempengaruhi waktu transpor mukosiliar. Salin hipertonis juga mengurangi edema mukosa secara difusi melalui kandungan osmolaritasnya. Larutan ini dapat mengiritasi membran rongga hidung.

Efek ph terhadap kecepatan pembersihan mukosiliar juga diteliti. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan kecepatan pembersihan mukosiliar pada kelompok yang diberikan larutan salin hipertonis buffer (ph 8) dan larutan salin hipertonis non-buffer. 34 Tabel 2.3 Komposisi Larutan untuk Irigasi Rongga Hidung 16 Referensi NaCl (%) Garam (nonion) Air Hangat Soda Kue Buffer Wormald, 2009 0,9 1 sendok teh 500 ml 1 sendok teh + Tomooka, 2000 1,6 ½ sendok teh 250 ml - - Rombago, 2002 2 1 sendok teh 480 ml ½ sendok teh + Brown, 2004 2 1,5 950 ml - - Talbot, 1997 3 2-3 sendok teh 950 ml 1 sendok teh + Fellows, 2006 0,9 1 sendok teh 480 ml - - Beberapa jenis obat yang juga sering ditambahkan pada penggunaan cuci hidung adalah antibiotik dan antifungi. Gentamisin dan Tobramisin adalah antibiotik yang paling sering digunakan. Salep Bactroban sering dipakai untuk mengeradikasi infeksi stafilokokus. Amfoterisin B yang dilarutkan dalam air steril (100µg/ml) dapat memperbaiki gejala sinusitis dan polip hidung. Namun dalam penelitian lain oleh Gosepath et al, bahwa penggunaan antiseptik dan antifungi (Betadine, hydrogen peroxide, amphotericin B, itraconazole) dapat menurunkan pembersihan mukosiliar. 29 2.4.4. Metode cuci hidung 1. Persiapkan alat dan bahan berupa spuit 10 cc, larutan salin (NaCl 0,9% atau NaCl 3%), tisu, dan wadah tampung. 2. Isi wadah tampung dengan larutan salin yang akan digunakan. 3. Lepaskan jarum dari spuit dan isi spuit tersebut dengan larutan salin yang akan digunakan. 4. Posisikan kepala agar miring 45 ke salah satu sisi sehingga salah satu lubang hidung berada di atas yang lainnya.

5. Posisikan spuit lurus terhadap lubang hidung (jangan menekan bagian tengah dan septum hidung) dan mulut terbuka. 6. Bernafaslah melalui mulut dan semprotkan cairan tersebut ke dalam rongga hidung bagian atas hingga keluar melewati lubang hidung yang dibawahnya. 7. Ketika spuit sudah kosong, maka hembuskan udara secara lembut melalui kedua lubang hidung untuk membersihkan sisa cairan dan mukus yang tertinggal. 8. Bersihkan hidung dengan menggunakan tisu. 35,36 Gambar 2.4. Teknik Melakukan Cuci Hidung 35