BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. agama. 1 Di sekolah umum (SD, SMP, SMA) pengajaran agama dipandang

BAB I PENDAHULUAN. menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dan pendidikan tinggi. Pengajaran sebagai aktivitas operasional pendidikan. dilaksanakan oleh tenaga pendidik dalam hal ini guru.

BAB I PENDAHULUAN. Persada, 2003), hlm Jalaluddin, Teologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Raja Grafindo

BAB I PENDAHULUAN. Amzah, 2007), hlm. 55. Pemikiran dan Kepribadian Muslim, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 150.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang serius. Banyak kritikan dari praktisi pendidikan, akademisi dan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. hlm U. Saefullah, Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 2012,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Umbara, Bandung, 2003, hlm Ahmad Juntika Nurihsan dan Akur Sudiarto, Manajemen Bimbingan dan Konseling di

BAB I PENDAHULUAN. Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 17 2

BAB I PENDAHULUAN. Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur an, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2012, hlm. 57.

BAB I PENDAHULUAN Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hlm. 2.

BAB I PENDAHULUAN. bahwa peserta didik telah memiliki bakat, fitrah minat, motivasi dan nilai-nilai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Maka yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2009, hal.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak

BAB I PENDAHULUAN. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006, hlm Endang Poerwanti, dkk, Perkembangan Peserta didik, Malang: UMM Press, 2002, hlm.

BAB V PEMBAHASAN. 1. Tinjauan Tentang Kegiatan Membaca Al- Qur an (Qiroatul Qur an) Al- Qur an (Qiroatul Qur an) Kelas VIII di MTsN Tulungagung yang

BAB I PENDAHULUAN. dari segi intelektual maupun kemampuan dari segi spiritual. Dari segi

BAB I PENDAHULUAN. sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Dalam Undang-Undang tentang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya, sehingga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam membangun dan mengembangkan karakter manusia yang seutuhnya.

BAB I PENDAHULUAN. Faturrahman Dkk, Pengantar Pendidikan, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2012, hlm 2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

BAB I PENDAHULUAN. hidup yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya : Bandung, 2008, hlm.1. 2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. penambahan, pengurangan, penggantian dan pengembangan yang selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung diluar kelas. Pendidikan tidak hanya bersifat formal, akan tetapi

BAB I PENDAHULUAN. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan(Dengan Pendekatan Baru), PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm

BAB I PENDAHULUAN. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm 10. PT Rineka Cipta, 2008), hlm Sinar Grafis, 2009) hlm.3

BAB I PENDAHULUAN. hlm Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. akan tercapai, karena dengan demikian peradaban dunia yang tinggi dan

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan. melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk

A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis,

BAB I PENDAHULUAN. proses belajar pertama tersebut anak akan diberikan pengenalan tentang huruf.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Nazili Saleh Ahmad, Pendidikan dan Masyarakat, Sabda Media,Yogyakarta, 2011, hlm. v.

BAB I PENDAHULUAN. prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban.2

peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran, perbaikan saranasarana pendidikan, dan lain-lain. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan

memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB I PENDAHULUAN. mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun

BAB I PENDAHULUAN. 1 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta, 2007, hlm. 54.

BAB I PENDAHULUAN. kompleks sehingga sulit dipelajari dengan tuntas. Oleh sebab itu masalah

BAB II KAJIAN TEORI. Lebih lanjut strategi pembelajaran aktif merupakan salah satu strategi yang

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan

BAB I PENDAHULUAN. beragama yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki

BAB I PENDAHULUAN. segala bidang khususnya di dunia usaha sangat begitu ketat dan diikuti dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

BAB I PENDAHULUAN. Karya, Bandung, 2008, hlm Kamus Besar Bahasa Indonesia lengkap, CV Mini Jaya Abadi, Jakarta, 2000, hlm. 58.

I. PENDAHULUAN. individu. Pendidikan merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan kewajiban bagi seluruh. pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, Bandung: CV Pustaka Setia, November 2011, hlm 98

BAB I PENDAHULUAN. mengalir begitu cepat ini memberikan pengaruh terhadap perilaku peserta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia terus

BAB I PENDAHULUAN. dalam Undang-undang Sistem Pendididkan Nasional Nomor 2 tahun 1989 yang berbunyi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

kognitif (intelektual), dan masyarakat sebagai psikomotorik.

BAB I PENDAHULUAN. komponen, yaitu : pengajar (Dosen, Guru, Instruktur, dan Tutor) siswa yang

BAB I PENDAHULUAN. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka menjadi. pemerintah, masyarakat, maupun keluarga. Namun demikian, pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. tahun dan 9 tahun. Anak-anak yang bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (dan

BAB I PENDAHULUAN. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, Hal. 89

A. Latar Belakang Masalah

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm. 34 2

BAB I PENDAHULUAN. Persada, 2007), hlm E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 173.

BAB I PENDAHULUAN. Aturan tersebut dapat kita lihat aplikasinya dalam jalur pendidikan formal yang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ranah kognitif merupakan ranah psikologis siswa yang terpenting. Dalam perspektif psikologi, ranah kognitif yang berkedudukan pada otak ini adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Berbeda dengan organ tubuh lainnya, organ otak sebagai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktivitas akal pikiran, melainkan juga menara pengontrol aktivitas perasaan dan perbuatan. Tanpa ranah kognitif, tentunya seorang siswa tidak dapat berpikir. Selanjutnya, tanpa kemampuan berpikir siswa tersebut tidak dapat memahami dan meyakini faidah materi-materi pelajaran yang disajikan kepadanya. Tanpa berpikir juga sulit bagi siswa untuk menangkap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran yang ia ikuti, termasuk materi pelajaran agama. Oleh karena itu, ada juga benarnya mutiara hikmah yang berbunyi, Agama adalah (memerlukan) akal, tiada beragama bagi orang yang tidak berakal. 1 Perkembangan kognitif adalah perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Kognitif adalah sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. 2 1 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2010), hlm. 82. 2 Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 103. 1

Kemampuan kognitif seorang anak yang masuk ke sekolah dasar mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar. 3 Unsur yang penting dalam perkembangan kognitif seseorang adalah latihan dan pengalaman. Latihan berpikir, merumuskan masalah, dan memecahkannya, serta mengambil kesimpulan akan membantu seseorang untuk mengembangkan pemikiran atau intelegensinya. Misalnya, seorang anak memerlukan banyak latihan dalam berbicara supaya penggunaan bahasanya berkembang dan akhirnya juga mempengaruhi perkembangan pemikirannya. Jelas bahwa proses latihan sejak bayi sampai dengan remaja yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif seseorang itu penting. Supaya proses pembentukan pengetahuan itu berkembang, pengalaman sangat menentukan. Semakin orang mempunyai banyak pengalaman mengenai persoalan, lingkungan, atau objek yang dihadapi, ia akan semakin mengembangkan pemikiran dan pengetahuannya. 4 Latihan dan pengalaman dapat diperoleh salah satunya dengan cara pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses, dimana potensi-potensi ini (kemampuan, kapasitas) manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaankebiasaan supaya disempurnakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat/ hlm. 106. 3 Desmita, Psikologi,hlm. 156. 4 Paul Suparno, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 2

media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. 5 Sejalan dengan itu, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, dijelaskan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. 6 Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah upaya mengembangkan kemampuan/ potensi individu sehingga bisa hidup optimal baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki niali-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidupnya. Pendidikan juga dipandang sebagai usaha sadar yang bertujuan, dan usaha mendewasakan anak. Kedewasaan sebagai asumsi dasar pendidikan mencakup kedewasaan intelektual, sosial, dan moral, tidak semata-mata kedewasaan dalam arti fisik. 7 Kemudian dalam pasal 30 ayat 2 dijelaskan bahwa pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama. 8 Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di madrasah/ sekolah adalah Pendidikan Agama Islam, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pendidikan Agama dapat ditempuh bermacam-macam jalur, antara lain informal seperti pondok pesantren. Dapat juga melalui jalur formal yaitu lewat 5 Zuhairi, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 151. 6 Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Media Wacana Press, 2003), hlm. 9. 7 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002), hlm. 2. 8 Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003, hlm. 23. 3

lembaga lembaga pendidikan Islam, misalnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) ataupun bisa juga di lembaga penddikan sekolah umum, misalnya Sekolah Dasar (SD). Pada pendidikan madrasah mata pelajaran agama Islam dibagi ke dalam beberapa sub mata pelajaran, yaitu: Al-Qur an Hadis, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah (kebudayaan) Islam, dan bahasa Arab, sehingga porsi mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih banyak. Sementara pada pendidikan non madrasah, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam digabung menjadi satu, namun di dalamnya, pada dasarnya juga meliputi Al-Qur an Hadis, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah (kebudayaan) Islam. 9 Pendidikan Agama di sekolah umum diberikan waktu 2-3 jam, sedangkan di madrasah sekitar 7 sampai 12 jam pelajaran untuk setiap minggunya. 10 Dengan melihat kurikulum Pendidikan Agama di madrasah dan sekolah berbeda, maka diasumsikan bahwa pengalaman dan latihan yang diperoleh siswa yang berasal dari madrasah dan sekolah berbeda. Pengalaman dan latihan untuk Pendidikan Agama di madrasah lebih lama, yaitu sekitar antara 7 sampai 12 jam pelajaran untuk setiap minggunya sedangkan yang dari sekolah 2-3 jam. Di madrasah dengan alokasi waktu lebih lama berarti pengalaman dan latihan yang diperoleh siswa lebih banyak, maka siswa yang lulusan madrasah perkembangan kognitifnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lulusan sekolah umum. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan ranah kognitif bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa yang lulusan madrasah lebih tinggi dari pada siswa yang lulusan sekolah umum. Di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati terdapat perbedaan siswa menurut lulusan sekolah mereka. Di satu pihak, ada siswa-siswi lulusan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan pihak lain, ada siswa-siswi lulusan Sekolah Dasar (SD). Perbedaan lulusan sekolah tersebut jelas akan berimbas pada adanya perbedaan kemampuan ranah kognitif siswa, contohnya pada bidang studi Al- 2004), hlm. 177. 9 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 10 Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Visi, Misi dan Aksi), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 196. 4

Qur an Hadis. Mata pelajaran Al-Qur'an Hadis MTs ini merupakan kelanjutan dan kesinambungan dengan mata pelajaran Al-Qur'an Hadis pada jenjang MI dan MA, terutama pada penekanan kemampuan membaca Al-Qur'an Hadis, pemahaman surat-surat pendek, dan mengaitkannya dengan kehidupan seharihari. Kecakapan kognitif siswa yang amat perlu dikembangkan termasuk dalam mata pelajaran Al-Qur an Hadis ada dua macam, yakni: 1. Strategi belajar memahami isi materi pelajaran 2. Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Tanpa pengembangan dua macam kecakapan kognitif ini, agaknya siswa sulit diharapkan mampu mengembangkan ranah afektif dan psikomotornya sendiri. 11 Oleh karena itu, tahap pertama yang harus dikembangkan dalam pembelajaran Al-Qur an Hadis yaitu perkembangan kognitifnya, yang kemudian ditindaklanjuti dengan tahapan kedua (afeksi) dan tahapan ketiga (psikomotorik). Idealnya, siswa lulusan MI lebih tinggi kemampuan ranah kognitifnya, karena mereka yang berasal dari MI mendapatkan mata pelajaran Al-Qur an Hadis yang intensitasnya lebih banyak dari pada mereka yang berasal dari SD. Akan tetapi realitasnya hal tersebut tidak selalu benar, karena kemampuan ranah kognitif siswa yang berasal dari SD juga relatif tinggi, bahkan kadang lebih tinggi dibandingkan dengan para siswa yang berasal dari MI. Hal ini dapat dibuktikan dari daftar nilai Al-Qur an Hadis pada materi memahami Al-Qur'an Hadis sebagai pedoman hidup yang peneliti peroleh dari guru mata pelajaran Al- Qur an Hadis di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati. Dari daftar nilai tersebut diketahui bahwa Siti Hanifah seorang siswa lulusan SD mendapatkan nilai Al- Qur an Hadis 80 sedangkan Sukarno seorang siswa lulusan MI mendapatkan nilai Al-Qur an Hadis 50. Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan mengangkat judul: Studi 11 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 51. 5

Komparasi Kemampuan Ranah Kognitif Bidang Studi Al-Qur an Hadis Antara Lulusan MI Dan SD Kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati Tahun Ajaran 2011/2012. B. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan, maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis lulusan MI kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012? 2. Bagaimana kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis lulusan SD kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012? 3. Seberapakah perbedaan kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis antara lulusan MI dan SD kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012? C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis lulusan MI kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012. 2. Untuk mengetahui kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis lulusan SD kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012. 3. Untuk mengetahui seberapa perbedaan kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis antara lulusan MI dan SD kelas VII di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tahun ajaran 2011/2012. Adapun manfaat penelitian ini sehubungan dengan kemampuan ranah kognitif Al-Qur an Hadis antara lain: 6

1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan baru tentang perbedaan kemampuan ranah kognitif bidang studi Al-Qur an Hadis antara lulusan MI dan SD, sehingga dapat dijadikan acuan dalam memilih jalur pendidikan. 2. Manfaat Praktis Bagi guru: a. Memberi informasi pada praktisi pendidikan (khususnya guru Al-Qur an Hadis) di MTs Ihyaul Ulum Wedarijaksa Pati tentang kemampuan ranah kognitif Al-Qur an Hadis siswa kelas VII antara yang berasal dari MI dan yang berasal dari SD. b. Meningkatkan perhatian guru terutama guru Al-Qur an Hadis dalam meningkatkan kemampuan ranah kognitif terutama bagi siswa yang prestasinya kurang baik. Bagi Sekolah: a. Penelitian ini dapat memberi masukan untuk mengembangkan kurikulum mata pelajaran Al-Qur an Hadis. b. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan tentang studi Al-Qur an Hadis. Bagi siswa: a. Meningkatkan kesadaran untuk belajar Al-Qur an Hadis lebih giat lagi. b. Dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran. 7