Seminar Nasional XVIII MAPEKI

dokumen-dokumen yang mirip
VARIASI SIFAT ANATOMI KAYU SENGON (Paraserienthes falcataria (L) Nielsen) DARI 2 JENIS PERMUDAAN YANG BERBEDA

C10. Oleh : Titik Sundari 1), Burhanuddin Siagian 2), Widyanto D.N. 2) 1) Alumni Fakultas Kehutanan UGM, 2) Staf Pengajar Fakultas Kehutanan UGM

KAYU JUVENIL (JUVENILE WOOD)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. organisme hidup yaitu tumbuhan (Praptoyo, 2010). Kayu termasuk salah satu hasil

VARIASI SIFAT ANATOMI KAYU MERANTI MERAH (Shorea leprosula) PADA 3 KLAS DIAMETER YANG BERBEDA

DIMENSI SERAT DAN PROPORSI SEL PER LINGKARAN TUMBUH KAYU SUNGKAI (Peronema canescens Jack) DARI KULON PROGO, YOGYAKARTA

Variasi Aksial dan Radial Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) yang Tumbuh di Kabupaten Sleman

KONTRAK PERKULIAHAN ANALISIS INSTRUKSIONAL GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN SATUAN ACARA PENGAJARAN KISI-KISI TES/CONTOH SOAL UJIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini kebutuhan kayu di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan

STRUKTUR DAN SIFAT KAYU SUKUN ( Artocarpus communis FORST) DARI HUTAN RAKYAT DI YOGYAKARTA. Oleh: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada INTISARI

STRUKTUR DAN SIFAT KAYU TREMBESI ( Samanea saman MERR) DARI HUTAN RAKYAT DI YOGYAKARTA

STRUKTUR ANATOMI KAYU DAUN LEBAR (HARDWOODS) dan KAYU DAUN JARUM (SOFTWOODS)

Gambar (Figure) 1. Bagan Pengambilan Contoh Uji (Schematic pattern for wood sample collection)

KAJIAN SIFAT FISIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) PADA BERBAGAI BAGIAN DAN POSISI BATANG

PENGARUH PERBEDAAN UMUR DAN BAGIAN BATANG KAYU AKASIA (Acacia auriculiformis A. Cunn. ex. Benth) SEBAGAI BAHAN MEBEL DAN KERAJINAN INTISARI

SIFAT MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS KAYU MERANTI MERAH

SIFAT ANATOMI BAMBU AMPEL (Bambusa vulgaris Schrad.) PADA ARAH AKSIALDAN RADIAL

SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU IPIL (Endertia spectabilis Steenis & de Wit Sidiyasa) BERDASARKAN LETAK KETINGGIAN DALAM BATANG

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kandungan Kayu Gubal dan Teras pada Dolog dan Papan Gergajian. Manglid (Manglieta glauca Bl.))

KADAR AIR DAN BERAT JENIS PADA POSISI AKSIAL DAN RADIAL KAYU SUKUN (Arthocarpus communis, J.R dan G.Frest)

Universitas Gadjah Mada 1

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU

Kualitas Kayu Meranti Merah (Shorea leprosula Miq.) Hasil Budi Daya. (Wood Quality of Cultivated Red Meranti (Shorea leprosula Miq.

POLA PEMBELAHAN JATI RAKYAT DAN SIFAT FISIK SERTA MEKANIK KAYU GERGAJIANNYA

KAJIAN BEBERAPA SIFAT DASAR BATANG PINANG (Areca catechu L.)

PERBANDINGAN SIFAT ANATOMI KAYU TUSAM (Pinus merkusii) ALAMI DAN TANAMAN

PENGARUH PERBEDAAN TEMPAT TUMBUH TERHADAP VARIASI SIFAT. ANATOMI BAMBU WULUNG (Gigantochloa atroviolaceae) PADA KEDUDUKAN AKSIAL

PEMANFAATAN KAYU KI ACRET (Spatholdea campanulata Beauv) SEBAGAI BAHAN BAKU PULP KERTAS MELALUI UJI TURUNAN DIMENSI SERAT

SIFAT FISIS KAYU: Berat Jenis dan Kadar Air Pada Beberapa Jenis Kayu

KAJIAN BEBERAPA SIFAT DASAR KAYU EKALIPTUS (Eucalyptus grandis) UMUR 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno,

KAJIAN DIAMETER - PERSENTASE KAYU TERAS TERHADAP KUALITAS KAYU JATI (Tectona grandis Linn. F) DARI HUTAN RAKYAT GUNUNG KIDUL

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 3(1): 1-7 (2010)

C11. SIFAT PEREKATAN KAYU AKASIA FORMIS (Acacia auriculiformis) DARI HUTAN RAKYAT PADA VARIASI ARAH AKSIAL, RADIAL DAN UMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS BAMBU DENGAN STABILISASI DIMENSI. The Increasing of Bamboo Quality Using Dimensional Stabilization

DAMPAK PENGASAPAN KAYU TERHADAP SIFAT FISIK KAYU AKASIA (Acacia mangium Willd) DAN KAYU LABAN (Vitex pubescens Vahl)

KONTRAK PERKULIAHAN ANALISIS INSTRUKSIONAL GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN SATUAN ACARA PENGAJARAN KISI-KISI TES

PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP DIMENSI SERAT DAN NILAI TURUNAN SERAT KAYU AKASIA DAUN LEBAR (Acacia mangium Willd)

PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN KELAS DIAMETER TERHADAP PROPORSI SEL KAYU AKASIA DAUN LEBAR (Acacia mangium Wild) Oleh/By AHMAD JAUHARI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SIFAT ANATOMI DAN FISIS KAYU JATI DARI MUNA DAN KENDARI SELATAN Anatomical and Physical Properties of Teak from Muna and South-Kendari

KARAKTERISTIK DAN VARIASI SIFAT FISIK KAYU MANGIUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kering tidak lebih dari 6 bulan (Harwood et al., 1997). E. pellita memiliki

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung.

HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN KUALITAS KAYU YANG DIHASILKAN

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman ekaliptus mempunyai sistematika sebagai berikut: Hutan Tanaman Industri setelah pinus. Ekaliptus merupakan tanaman eksotik

ISBN KAJIAN SIFAT FISIS BATANG NIBUNG (Oncosperma tigilarium)

OlehlBy: Supartini dan Agus Kholik ABSTRACT

KARAKTERISTIK STRUKTUR NANO DINDING SEL DAN KAITANNYA DENGAN SIFAT-SIFAT KAYU (STUDI KASUS KAYU JATI KLON UMUR 7 TAHUN) ANDI DETTI YUNIANTI

BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan akan banyak terjadi peristiwa yang bisa dialami oleh pohon yang

Karakteristik Struktur Anatomi Kayu Kuku (Pericopsis mooniana Thwaiters) The Anatomical Characteristics of Pericopsis mooniana Thwaiters

(Anatomical Structure of Surian Wood (Toona sinensis Roem))

PADA ARAH AKSIAL DAN RADIAL ( Physical Properties of Manglid Wood

BAB 3 HUBUNGAN ANTARA KAYU DAN AIR: PENYUSUTAN KAYU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

RANCANGAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Mata Kuliah Pilihan : Ilmu Kayu Kode MK/SKS :

Jl. Agro No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU BONGIN (Irvingia malayana Oliv) DARI DESA KARALI III KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH

Fakultas Kehutanan, Universitas Negeri Papua, Jl. Gn. Salju Amban, Manokwari

SIFAT FISIS, MEKANIS DAN PEMESINAN KAYU RARU (Cotylelobium melanoxylon) SKRIPSI

VARIASI KADAR ABU DALAM TERAS LUAR KAYU JATI

C13 PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN PEG 1000 DAN POSISI RADIAL POHON PADA USAHA PENINGKATAN KUALITAS KAYU JATI UMUR MUDA DARI HUTAN RAKYAT DI GUNUNGKIDUL

Pengaruh Perbedaan Umur dan Bagian Batang Bambu Legi (Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz) Sebagai Bahan Mebel dan Kerajinan

ANGKA BENTUK DAN MODEL VOLUME KAYU AFRIKA (Maesopsis eminii Engl) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT DIANTAMA PUSPITASARI

KONDUKTIVITAS PANAS EMPAT JENIS KAYU DALAM KONDISI KADAR AIR YANG BERBEDA

SIFAT PERTUMBUHAN KAYU JATI DARI HUTAN RAKYAT GUNUNGKIDUL

SIFAT ANATOMI EMPAT JENIS KAYU KURANG DIKENAL DI SUMATERA UTARA (Anatomical Properties of Four Lesser Known Species in North Sumatra)

JENIS KAYU DARI HUTAN RAKYAT UNTUK MEBEL DAN KERAJINAN

IDENTIFIKASI SEMAI HIBRID ACACIA (A. mangium x A. auriculiformis) MENGGUNAKAN PENANDA MORFOLOGI TAKSONOMI DAUN

OPTIMASI PEMANFAATAN SALAH SATU JENIS LESSER KNOWN SPECIES DARI SEGI SIFAT FISIS DAN SIFAT MEKANISNYA SKRIPSI OLEH: KRISDIANTO DAMANIK

PENGARUH PENGERINGAN ALAMI DAN BUATAN TERHADAP KUALITAS KAYU GALAM UNTUK BAHAN MEBEL

Struktur Anatomi Kayu Beberapa Jenis Buah-Buahan. Anatomical Structure of Fruit Woods

Ultra-Struktur Kayu Tekan Damar (Agathis loranthifolia Salisb.) dalam Hubungannya dengan Sifat Fisis Kayu. and Its Relation to Physical Properties

STRUKTUR ANATOMI KAYU TAHONGAI (Kleinhovia hospita Linn)

V HASIL DAN PEMBAHASAN

berdasarkan definisi Jane (1970) adalah bagian batang yang mempunyai warna lebih tua dan terdiri dari sel-sel yang telah mati.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. umumnya disebabkan oleh beberapa hal seperti berkurangnya luas kawasan hutan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH UMUR DAN SORTIMEN TERHADAP SIFAT PENGERINGAN KAYU Acacia auriculiformis PADA PENGERINGAN METODE RADIASI MATAHARI INTISARI

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Key words: Pinus merkusii, Tapanuli strain, Aceh strain, wood characteristic

MEMAHAMI ANTIKLINAL DAN PERIKLINAL DALAM PROSES PERTUMBUHAN POHON DAN KUALITAS KAYU MUHDI

UJI EKSPERIMENTAL KUAT CABUT PAKU PADA KAYU

PENGGERGAJIAN KAYU. Oleh : Arif Nuryawan, S.Hut, M.Si NIP

BAB III METODE PENELITIAN

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) BIOLOGI KAYU BIO 4217 PENGAMPU MATA KULIAH:

PENGENALAN JENIS KAYU Manfaat Pengenalan Jenis Kayu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka (frame) struktural yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

EMILVIAH YEPIN 1), SIPON MULADI 2) DAN EDI SUKATON 2) ABSTRACT. 32 Yepin dkk. (2002). Variasi Komponen Kimia Kayu Pendu

4 STRUKTUR ANATOMI SALURAN RESIN PADA PINUS MERKUSII KANDIDAT BOCOR GETAH

Tekat D Cahyono 1), Syarif Ohorella 1), Fauzi Febrianto 2) Corresponding author : (Tekat D Cahyono)

Oleh /by : Gunawan Pasaribu. Key word: Endemic wood species, physical, mechanical, and North Sumatra

Transkripsi:

Seminar Nasional XVIII MAPEKI Studi Kualitas Kayu Akasia Hibrida (Acacia hybrid) Hasil Persilangan Acacia mangium dengan Acacia auriculiformis dari Aspek Sifat Anatomi dan Fisika Kayu Harry Praptoyo* Bagian Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta Abstract The aims of this study were to study the wood quality of acacia hybrid, crossing between acasia mangium with acacia auriculiformis, grown in trial forest, Ketu, Wonogiri and also to determine the period of juvenile formed on Acacia mangium hybrid. Three healthy trees of mangium hybrid (mangium x auriculiformis) wood were selected and harvested for the observation. This research applied a completely randomized design (CRD). Both anatomical (fiber dimension) and physical (spesific gravity and longitudinal shrinkage) wood properties were examined. Research result showed that Acacia mangium hybrid in this study was still in a period of juvenile wood based on an analysis of fiber length and longitudinal shrinkage. Fiber length showed rapid increase from pith to bark. Average Longitudinal shrinkage was found more than 1%. Characteristic properties of hybrid acacia wood anatomy in this study showed solitary vessel, radial multiple and groups, and paratracheal parenchyma cells with little vasicentric, one sizes of rays and have no resin channals. The proportion of fibers, vessels, rays and parenchyma were 62.99%, 11.04%, 14.94% and 11.04% respectively. While the fiber length ranges were 0.66-1.03 mm and fiber diameter ranged 19.37-25.04μ, cell walls thickness varied from 3.86 to 5.16 μ as well. Physical properties of the hybrid acacia wood had a specific gravity ranging from 0:33 to 0:55 and longitudinal shrinkage was ranging from 1:15 to 3:46%. Keywords : Acacia hybrids, Fiber dimension, Longitudinal shringkage, Spesific gavity, Juvenile Korespondensi penulis : Telp (0274) 550541 *email : harpa_cepu@yahoo.com 1. Pendahuluan Tujuan daripada penyilangan antara Acacia mangium dengan Acacia auriculiformis adalah untuk menghasilkan spesies hybrid yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada kedua induknya. Batangnya lurus seperti Acacia mangium dan memiliki kemampuan self pruning seperti Acacia Auriculiformis. (Ibrahim 1993 dalam Sunarti 2007). Laju pertumbuhan kayu yang cepat dikhawatirkan akan memberi kontribusi yang cukup besar dalam memperbesar proporsi kayu juvenil. Haygreen dan Bowyer (1996) menyebutkan Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 11

bahwa dengan memaksimumkan lebar lingkaran tumbuh pada tahun-tahun permulaan akan menyebabkan ukuran inti kayu juvenil maksimum. Persentase kayu juvenil mempunyai kontribusi yang besar dalam penentuan kualitas kayu maka penelitian mengenai periode juvenil kayu akasia hibrida perlu untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas kayu akasia hibrida hasil persilangan antara mangium dengan auriculiformis yang tumbuh di hutan penelitian Wonogiri melalui penentuan periode juvenil. 2. Bahan dan Metode Tiga pohon akasia mangium hibrida (mangium x auriculiformis), diameter pada dbh 15-17 cm dengan tinggi bebas cabang 4m. Sampel kayu diambil dari batang pokok bebas cabang berbentuk disk pada ketinggian 1.3 m (dari permukaan tanah) dari pohon akasia Sampel uji anatomi dibuat per 1cm dari hati ke kulit. Sampel anatomi dengan proses maserasi. Sampel sifat fisik dibuat dan diuji berdasarkan British Standard BS 373 dengan pengambilan dari disk dan strip papan mengikuti pengambilan sampel untuk anatomi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut: (a) (b) Gambar 1. Sampel kayu akasia hibrida (a) dan skema pengambilan sampel kayu (b) 3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Sifat anatomi kayu akasia hibrida 3.1.1. Sifat makroskopis dan mikroskopis kayu Akasia hibrida Berdasarkan hasil pengamatan ciri struktur kayu Akasia mangium hibrida (mangium x auriculiformis) menunjukkan bahwa Akasia hibrida (mangium x auriculiformis) memiliki tesktur kayu halus-sedang berdasarkan ukuran sel pembuluh dan sel serabutnya, tidak memiliki saluran damar. Penyebaran pembuluh tunggal, ganda radial 2 sel dan beberapa penyebaran berkelompok. Diameter tangensial pembuluh 150-200µm dengan rerata 180 µm. Akasia hibrida memiliki diameter pembuluh lebih kecil dibandingkan diameter akasia mangium 210 µm (Ogata et al., 2008). Jumlah pembuluh per satuan luas antara 4-9/mm 2. Serial jari-jari kayu umumnya 1-2 sel, kadang-kadang 1-3 tergantung sampel kayunya. Parenkim longitudinal tidak banyak hanya 11%, umumnya paratrakeal dan sedikit vasisentrik. Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 12

Tabel 1. Sifat makroskopis dan mikroskopis kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) Ciri Struktur Kayu Lingkaran tahun Pembuluh: Persebaran Ukuran diameter (µ) Parenkim: Bentuk Jari-jari: Ukuran, Bertingkat/tidak Tekstur Proporsi sel : Serabut Pembuluh Jari-jari Parenkim Keterangan Tidak terlihat Tunggal, ganda radial sebagian berkelompok 130-200µ Paratrakeal, sebagian vasisentrik Satu ukuran, Tidak bertingkat Halus-Sedang 62,99 % 11,04 % 4,94 % 11,04 % Dari hasil pengamatan ini, lingkaran tahun pada kayu akasia mangium hibrida ((mangium x auriculiformis) tidak terlihat dengan jelas, hal ini dapat dilihat pada penampang melintangnya. Bentuk parenkrim jari-jari memiliki satu macam ukuran dan tidak bertingkat. Gambar 2. Penampang melintang akasia hibrida (mangium x auriculiformis) Panjang serat kayu akasia hibrida 0,66-1,03 mm lebih pendek dibanding akasia mangium 0.7-1.4 mm. Akasia hibrida memiliki diameter sel 19-25 µm, hampir sama dengan ukuran diameter serat akasia mangium berkisar 15-30 µm. Sementara itu akasia hibrida memiliki dinding sel yang lebih tebal yaitu 3.86-5.16 µ, bila dibandingkan tebal dinding sel akasia mangium yang hanya berkisar 1.5-2.5 µm. (Ogata et al., 2008) 3.1.2. Panjang serat Hasil pengukuran panjang serat kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) pada kedudukan radial, menunjukkan bahwa nilai panjang serat kayu akasia hibrida, dari dekat hati sampai dekat kulit pada jarak 1 cm, 2 cm, 3cm, 4 cm, 5 cm dan 6 cm dari hati (pusat kayu) adalah sebesar 0.66 mm, 0.75 mm, 0.88 mm, 0.93 mm, 0.95 mm dan 1.03 mm. Nilai rata-rata panjang serat akasia hibrida menunjukkan peningkatan cukup tajam dari hati ke kulit. Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 13

Tabel 2. Panjang serat (mm) kayu akasia hibrida pada kedudukan radial Ulangan 1 2 3 4 5 6 1 0.70 0.73 0.98 1.03 0.98 1.01 2 0.63 0.73 0.82 0.86 1.00 1.08 3 0.66 0.80 0.86 0.91 0.88 1.00 Rata-rata 0.66 0.75 0.88 0.93 0.95 1.03 (a) (b) Gambar 3. Foto (a) dan grafik (b) panjang serat kayu akasia hibrida Kenaikan nilai panjang serat yang cukup tajam dari hati ke kulit, menunjukkan bahwa kayu akasia hibrida masih berada dalam periode kayu juvenil. Kretschmann (1998) menyatakan bahwa panjang serat pada kayu juvenil umumnya rendah kemudian meningkat sampai mencapai kayu dewasa. Setelah memasuki periode kayu dewasa panjang seratnya cenderung untuk konstan. Green et al. (2005) menyatakan panjang serat pada kayu juvenil lebih pendek dibanding kayu dewasa. Hasil analisis regresi dan korelasi, diperoleh nilai R 2 =0,97. dengan persamaan regresi Y = 0.203 ln (X) + 0.646, dimana Y nilai panjang serat kayu (mm) dan X jarak kayu dari hati (cm). Grafik panjang serat menunjukkan semakin jauh dari hati, nilai panjang serat kayu semakin tinggi. 3.1.3. Diameter serat Hasil pengukuran diameter serat kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) pada kedudukan radial, dapat dilihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Diameter serat (µ) kayu akasia hibrida pada kedudukan radial Ulangan 1 2 3 4 5 6 1 24.28 22.35 22.97 22.02 18.20 19.70 2 20.74 27.59 24.23 25.98 21.92 23.46 3 25.14 21.33 24.68 27.12 17.99 24.55 Rata-rata 23.39 23.76 23.96 25.04 19.37 22.57 Nilai rata-rata diameter serat kayu akasia hibrida dari hati ke kulit tidak menunjukkan tren kenaikan ataupun penurunan, bahkan cenderung stabil. Panshin dan de Zeeuw (1980) Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 14

menyatakan bahwa perubahan ukuran diameter serat yang konstan dari bagian dekat empulur ke kulit terdapat pada beberapa jenis Populus. Zobel dan van Buijtenen (1989) menyatakan pertumbuhan diameter sel kayu adalah hormonal sebagai pengaruh dari produksi auksin. Hasil analisis regresi dan korelasi, diperoleh nilai R 2 =0,125 dengan persamaan regresi Y = 24.16-1.04 ln (x) Gambar 4. Grafik diameter serat dalam arah radial Grafik tersebut, menunjukkan bahwa diameter serat kayu akasia hibrida pada arah radial cenderung stabil dari hati ke kulit, dengan sedikit fluktasi yang tajam pada bagian tengah ke kulit, namun tidak ada hubungan signifikan antara diameter serat dengan kedudukan radial. 3.1.4. Tebal dinding sel Hasil tebal dinding sel kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) pada kedudukan radial, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Tebal dinding (µ) sel kayu akasia hibrida pada kedudukan radial Ulangan 1 2 3 4 5 6 1 4.49 2.75 3.61 3.65 3.56 4.03 2 3.70 4.40 3.98 4.62 4.21 6.01 3 5.50 4.44 4.94 6.02 4.90 5.44 Rata-rata 4.56 3.86 4.17 4.76 4.22 5.16 (a) Gambar 5. Foto (a) dan grafik (b) tebal dinding sel kayu akasia hibrida Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa tebal dinding sel kayu akasia hibrida meningkat dari bagian kayu dekat hati ke kulit. Bath (2001) menyebutkan bahwa perbedaan kayu juvenil dengan kayu dewasa terletak pada dinding sel yang tipis, serat pendek dan sudut fibril yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa kayu akasia hibrida masih berada dalam periode (b) Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 15

kayu juvenil. Geimer (1996) menyatakan pada kayu juvenil tebal dinding sel mengalami peningkatan yang cukup tajam, selanjutnya cenderung konstan seiring dengan proses pembentukan kayu dewasa. 3.2. Sifat fisika kayu akasia hibrida 3.2.1. Penyusutan longitudinal Hasil penyusutan longitudinal kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) pada kedudukan radial, dapat dilihat pada Tabel 5 berikut: Tabel 5. Penyusutan longitudinal (%) kayu akasia hibrida pada kedudukan radial Ulangan 1 2 3 4 5 6 1 1.44 1.37 7.91 1.36 1.54 1.97 2 1.74 2.45 2.02 1.35 3.40 1.85 3 0.27 0.27 0.44 1.28 1.53 1.60 Rata-rata 1.15 1.36 3.46 1.33 2.16 1.81 Nilai penyusutan longitudinal ini menunjukkan kayu akasia hibrida masih dalam periode juvenil. Hal ini karena penyusutan longitudinalnya yang tinggi diatas 1%. Haygreen dan Bowyer (1996) menyatakan bahwa nilai penyusutan longitudinal pada kayu juvenil berkisar antara 0,57 0,9 %, sedangkan pada kayu dewasa berkisar antara 0,1%. Geimer (1996) dan Kretschmann (1998) juga menyatakan bahwa kayu juvenil umumnya memiliki nilai penyusutan longitudinal yang lebih tinggi. 3.2.2. Berat jenis Gambar 6. Grafik penyusutan longitudinal dalam arah radial Hasil perhitungan berat jenis kayu akasia hibrida (mangium x auriculiformis) pada kedudukan radial, menunjukkan bahwa nilai rata-rata berat jenis kayu akasia hibrida memiliki kecenderungan meningkat dari bagian kayu dekat hati ke kulit. Kenaikan berat jenis yang cukup tajam dari hati ke kulit, menunjukkan bahwa kayu akasia hibrida masih berada dalam periode kayu juvenil, sebagaimana bisa dilihat pada Tabel 6 berikut : Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 16

Tabel 6. Berat jenis kayu akasia hibrida pada kedudukan radial Ulangan 1 2 3 4 5 6 1 0.32 0.34 0.34 0.34 0.44 0.44 2 0.32 0.4 0.38 0.39 0.48 0.52 3 0.36 0.43 0.41 0.4 0.47 0.4 Rata-rata 0.33 0.39 0.38 0.38 0.46 0.45 Taylor (1982) dalam Zobel dan van Buijtenen (1989), kayu juvenil mulai dari lingkaran tahun 1 sampai ke-10 menunjukkan nilai berat jenis yang meningkat. Pada setiap ketinggian pohon, lingkaran tahun ke-1 sampai ke-5 memiliki berat jenis yang lebih tinggi kemudian menurun perlahan mulai lingkaran tahun ke-5 sampai ke-10. Haygreen dan Bowyer (1996) menyatakan proporsi kayu akhir pada kayu juvenil lebih rendah dibanding kayu dewasa. Sementara itu Larson (1969) dalam Zobel dan van Buijtenen (1989) menyatakan bahwa pada Pinus resinosa, kayu juvenil memiliki proporsi kayu awal yang tinggi dan proporsi kayu akhir yang lebih rendah pada sel trakeidnya. Gambar 7. Grafik berat jenis dalam arah radial Hasil analisis regresi, diperoleh nilai R² = 0.712. Grafik tersebut menunjukkan bahwa semakin jauh dari hati maka nilai berat jenis kayu semakin tinggi, hal ini ditunjukan dengan nilai persamaan regresi Y = 0.064 ln (x) + 0.329, dimana Y merupakan nilai berat jenis kayu dan X merupakan jarak kayu dari hati (cm). 4. Kesimpulan Kayu akasia hibrida masih merupakan kayu juvenil oleh karena itu kualitas kayu akasia hibrida dalam penelitian ini tidak baik sebagai kayu konstruksi. Karakteristik sifat anatomi kayu akasia hibrida dalam penelitian ini diantaranya penyebaran pembuluh tunggal, ganda radial dan berkelompok, bentuk sel parenkim paratrakeal dan sedikit vasisentrik, jari-jari satu macam ukuran dan tidak bertingkat dan tidak memiliki saluran damar. Proporsi sel serabut, pembuluh, jari-jari dan parenkim bertutut-turut 62,99%, 11,04%, 14,94% dan 11,04%. Dimensi sel, panjang serat berkisar antara 0,66-1,03 mm; diameter serat antara 19,37-25,04 µ dan tebal dinding sel kayu berkisar antara 3,86-5,16 µ. Sifat fisika kayu akasia hibrida memiliki nilai berat jenis berkisar antara 0,33-0,55 dan penyusutan longitudinal berkisar antara 1,15-3,46%. Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 17

Referensi Bhat, K.M., P.B.Priya & P.Rugmini. (2001). Characterisation Juvenile Wood in Teak. Wood Science and Technology Journal, 34, 517-532. Geimer, R.L. (1996). Influence of Juvenile Wood on Dimensional Stability and Tensile Properties of Flakeboard. Wood and Fiber Science, 29 (2),103-120. Green W. David, M. Wiemann & T. M. Gorman, (2005). Characterization of Juvenile Wood in Western Softwood Species. U. S. Department of Agriculture. Forest Service. Forest Products Laboratory Haygreen, J. G. & J.L. Bowyer. (1996). Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu Pengantar. (terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Kretschmann, D. E., H. A. Alden & S. Verrill. (1998). Properties and Uses of Wood, Composites, and Fiber Products. Properties of Juvenile Wood. Retrieved from http://www.fpl.fs.fed.us. Ogata, K., T.Fujii, H.Abe & P. Baas. (2008). Identification of The Timbers of Southeast Asia and Western Pacific. Kaiseisha Press. Japan. Pandit, I.K.N. (2000). Metoda Identifikasi Kayu Juvenil. Proceeding Seminar Nasional III, Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia. Jatinangor, Sumedang Panshin & de Zeeuw. (1980). Textbook of Wood Technology. Third Edition. Mc Graw Hill Book Company. New York. Prawirohatmodjo, S. (2001). Variabilitas Sifat-Sifat Kayu. Bagian Penerbitan Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta Sunarti, S. (2007). Identifikasi Benih dan Semai Hibrid Acacia mangium x Acacia auriculiformis menggunakan Penanda Morfologi dan Penanda Molekuler Scar. (Tesis). Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Zobel, B.J. & van Buijtenen, J.P. (1989). Wood variation, Its causes and control. Springer- Verlag. Berlin Heidelberg New York. Prosiding Seminar Nasional XVIII MAPEKI 4-5 November 2015, Bandung 18