PEMERTAHANAN BUDAYA TOPENG MALANGAN Eny Dyah Yuniwati 1, Mudji Rahayu 2, Sri Utami 3 123 Universitas Wisnuwardhana Malang 1 nieyuniwati@gmail.com ABSTRAK Budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah wayang Topeng Malangan, namun kini semakin tenggelam oleh kesenian modern. Seni wayang Topeng Malangan Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa), seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo),dan karawitan model Blambangan. Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari Topeng Malangan. Salah satu cara pemertahanan budaya topeng Malangan adalah dengan cara mewariskan karakter, tarian Topeng pada masyarakat sekitar serta membuat sanggar seni. Kabupaten Malang juga telah menyisipkan kebudayaan Malang ini sebagai salah satu kurikulum sekolah, terutama tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Menengah. Bahkan di beberapa universitas Kata Kunci: pemertahanan, budaya, topeng Malangan 1. Pendahuluan Kota Malang merupakan kota yang sebagian besar wilayahnya berupa dataran tinggi disertai panorama yang indah. Terbukti dengan banyaknya taman yang asri serta bangunan arsitektur Eropa yang sampai kini masih tetap dipertahankan. Banyaknya objek wisata menarik disertai dengan pelayanan masyarakat yang sangat begitu ramah. Jumlah penduduk Kota Malang kira-kira mencapai 700.000 dengan luas sekitar 124.456 kilometer persegi. Kepadatan penduduk mencapai 5.000-12.000 jiwa perkilometer persegi. Masyarakat Malang terdiri dari berbagai etnik (terutama suku Jawa, Madura, sebagian kecil Arab dan China) Kekayaan etnik dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah wayang Topeng Malangan, namun kini semakin tenggelam oleh kesenian modern. Seni wayang Topeng Malangan Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran Seminar Nasional dan Gelar Produk SENASPRO 2016 409
(Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa), seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponor ogo),dan karawitan model Blambangan. Seni wayang Topeng Malangan sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Seni wayang Topeng Malangan adalah perlambang bagi sifat manusia, karena banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya (Sumarwahyudi, dkk.1999). 2. Metode Berdasarkan wawancara dengan salah satu pelaku seni wayang Topeng Malangan di Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung diperoleh informasi tentang sejarah tari ini. Menurutnya, Seni wayang Topeng Malangan diciptakan oleh Airlangga (putra dari Darmawangsa Beguh) dari Kerajaan Kediri. Ia kemudian menyebarkan seni tari itu sampai ke Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Ken Arok. Raja Singosari itu kemudian menggunakan Seni wayang Topeng Malangan untuk upacara adat, drama tari yang terdiri dari kisah Ramayana, Mahabarata, dan Panji. Selain itu, seni wayang Topeng Malangan juga digunakan untuk penghormatan pada para tamu dan ritual memuja arwah nenek moyang. Kemudian pada awal penyebaran agama Islam di Indonesia, para Walisanga mencoba memperbaiki seni wayang Topeng Malangan agar dapat disesuaikan dengan aturan agama Islam. Di antaranya adalah dengan mengubah tata busana seni wayang Topeng Malangan menjadi lebih sopan dan juga mengganti bahan alat musik seni wayang Topeng Malangan (gamelan) yang semula dari besi kemudian diganti kuningan. Tujuan penggantian bahan gamelan seni wayang Topeng Malangan menjadi kuningan adalah untuk memperkeras alunan musik tari tersebut karena dengan alunan yang keras, banyak rakyat yang akan datang ke tempat tarian itu. Dengan demikian, para Walisanga dapat menyebarkan agama Islam di tempat itu. Pada saat zaman penjajahan, seni wayang Topeng Malangan sudah hampir punah, hanya pejabat-pejabat tinggi atau pemerintah Kolonial Belanda saja yang mengerti tentang Seni wayang Topeng Malangan. Tetapi ada seorang pelayan Belanda bernama Panji Reni yang ditugaskan mencuci topeng. Ia kemudian tertarik untuk mempelajari tari tersebut. Akhirnya, ia mencoba membuat topeng di Polowijen, Blimbing dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kemudian, ayah Pak Karimun (Ki Man) juga mempelajari Seni wayang Topeng Malangan tersebut dan mencoba membuat topeng di Kedung Monggo, Kecamatan Pakisaji, Malang. Pada tahun 1933, Pak Karimun belajar menari topeng bersama ayahnya, akhirnya ia menjadi pengrajin topeng serta pendiri sanggar tari karena takut Seni wayang Topeng Malangan akan punah. Mungkin apa yang menjadi fenomena saat ini adalah suatu kebenaran. Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang 410 SENASPRO 2016 Seminar Nasional dan Gelar Produk
memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari Topeng Malangan. Menurut salah satu anggota sanggar wayang Topeng Malangan di Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung saat ditanya, saat ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Desa. Yang lebih banyak dilakukan oleh kelompok seni ini adalah melestarikan budaya Topeng Malangan dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malangan dengan alat-alat yang sederhana dan tari Topeng Malangan. Seiring dengan hal itu, budaya komunitas masyarakat Malang pun kian memudar. Mungkin mulai berkurangnya rasa memiliki Topeng Malangan sebagai identitas adalah salah satu bentuk kehilangan Malang yang tidak langsung terasa.yang lebih terlihat nyata adalah hilangnya fasilitas publik yang bisa menjadi wadah berkumpul dan mengapresiasikan segala potensi seperti di Taman Indrokilo, GOR Pulosari, dan sarana publik lain. Dewan Kesenian Malang juga semakin sepi. Satu per satu semuanya disulap menjadi perumahan atau pertokoan guna mendukung urbanisasi. Selain dengan cara mewariskan karakter, tarian Topeng pada masyarakat sekitar serta membuat sanggar seni. Kabupaten Malang juga telah menyisipkan kebudayaan Malang ini sebagai salah satu kurikulum sekolah, terutama tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Menengah. Bahkan di beberapa universitas seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Merdeka juga memiliki jurusan seni tari dan salah satu kurikulumnya membahas tentang Tari Topeng Malangan. Demikian halnya dengan para pelaku seni di Desa Jatiguwi kecamatan Sumberpucung berusaha menghadapi tantangan alam maupun tantangan sekelompok manusia itu sendiri, agar dapat bertahan hidup dan mencapai kehidupan yang lebih baik. Kondisi ini merupakan suatu hal yang harus dihadapi oleh para pelaku seni demi mempertahankan kelestarian seni wayang Topeng Malangan agar tetap terjaga. Sumberpucung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur dengan luas ± 3.589,035 Ha, dengan jumlah pendudukan 55.435 orang. Kecamatan Sumberpucung terdiri dari 7 desa yang terletak di bagian wilayah Kabupaten Malang yaitu Desa Sumberpucung, Jatiguwi, Sambigede, Senggreng, Ternyang, Ngebruk, dan Karangkates. Sebagian besar mata pencahariannya adalah petani dan pedagang di samping ada yang bermatapencaharian perkebunan, buruh pabrik, dan buruh tani. Seminar Nasional dan Gelar Produk SENASPRO 2016 411
Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung terletak di kaki gunung Kawi dengan luas 459 km² berpenduduk 8.713 jiwa merupakan salah satu kantong persebaran seni budaya tari topeng Malangan. Keberadaan kesenian tari topeng di desa ini sekarang masih terbilang cukup dikenal di samping dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji. Hal ini didukung oleh letak geografis kawasan Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung yang relatif mudah dijangkau oleh konsumen kesenian tari topeng karena jaraknya dari jalan raya Malang-Sumberpucung hanya berkisar 35 kilometer ke arah Selatan. Kondisi ini membantu mempermudah proses sosialisasi hasil kesenian khas Malang ini kepada masyarakat umum, khususnya kepada penduduk Malang Raya. Kondisi di atas secara eksternal juga didukung dengan polesan konstruksi budaya Hindu-Jawa di lokasi sekitar dukuh tempat sanggar kesenian Topeng Malangan itu berdiri. Hal ini mengingat akar sejarah kemunculan tari topeng adalah hasil ritual kebudayaan Hindu. Dukungan kultural ini bisa dirasakan karena di sekitar kawasan sanggar kesenian ini yang terletak di dukuh Krajan Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung masih bisa ditemui pemeluk agama Hindu meskipun mayoritas penduduk sudah memeluk agama Islam. Polesan budaya tersebut bisa dilihat dari adanya bangunan pura yang saat ini jarang ditemui di wilayah Malang, yang berjarak tidak lebih dari 300 meter dari pusat desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung. Sebagai salah satu wilayah yang memiliki cukup banyak sanggar kesenian tradisional, serta letak wilayah yang cukup jauh dari pusat kota Malang, kami tim Pengabdian yang berada dilingkungan Universitas Wisnuwardhana Malang bermaksud akan melakukan pengabdian bagi masyarakat pada para pelaku seni di sanggar kesenian dalam kegiatan pemertahanan kesenian tradisional dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kreativitas para pelaku seni Wayang Topeng Malangan di desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Seperti yang dikemukakan pada analisis situasi, bahwa kecamatan Sumberpucung khususnya Desa Jatiguwi memiliki setidaknya 2 sanggar kesenian yang menjadi mitra dalam pengabdian masyarakat ini, yaitu Sanggar (1) Seni Karawitan Malangan Madyo Laras pimpinan Susilo, dan ( 2) Tari dan Wayang Topeng Malangan Amisandi Budaya pimpinan Heri Suprianto, yang kesemuanya terletak di Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi mitra dalam mempertahankan kesenian wayang Topeng Malangan sebagai seni adi luhung yang menjadi kebanggaan warga desa Jatiguwi. Secara umum permasalahan timbul disebabkan masuknya budaya Westernisasi yang melanda di Indonesia seiring globalisasi yang semakin meluas yang mengakibatkan budaya lokal terkikis sedikit demi sedikit. Hal ini berdampak juga pada kesenian wayang Topeng Malangan yang semakin ditinggalkan oleh masyarakat karena pementasan wayang Topeng Malangan memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari pentas wayang Topeng Malangan ini. Menurut ketua Sanggar Madyo Laras, bapak Susilo dan Sanggar Amisandi Budaya, bapak Heri Suprianto, saat ini jarang job menari Topeng Malangan selain saat 412 SENASPRO 2016 Seminar Nasional dan Gelar Produk
peringatan HUT Kabupaten Malang dan peringatan HUT Desa (Bersih Desa). Kondisi ini tentunya memprihatinkan karena lambat laun akan menenggelamkan keberadaan seni tradisional wayang Topeng Malangan yang menjadi kebanggaan Kabupaten Malang pada umumnya. Di samping itu, anggota yang menjadi komunitas kedua sanggar seni tersebut semakin lama semakin memudar. Oleh karena itu, permasalahan utama yang dihadapi kedua sanggar tersebut dalam mempertahankan keberadaan seni tari wayang Topeng Malangan adalah sebagai berikut ini. 1) Bagaimana memberikan suatu kegiatan pembinaan kesenian kepada para pelaku seni di kedua sanggar tersebut agar seni tradisional wayang Topeng Malangan tetap terlestarikan dengan baik. 2) Bagaimana upaya mengembangkan kreativitas para pelaku seni di kedua sanggar tersebut khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Berdasarkan dari permasalahan yang dimiliki oleh kedua mitra tersebut diperlukan suatu terobosan baru yang perlu dilakukan agar seni tradisional wayang Topeng Malangan tetap eksis berkiprah di tengah-tengah era globalisasi ini. Untuk menjaga kelangsungan hidup dari seni tradisional yang difungsikan untuk hal-hal yang menyangkut kebutuhan dalam kehidupan manusia, kegiatan pemertahanan seni tradisional dengan pembinaan dan pengembangan kreativitas ini pada masyarakat pedesaan perlu diperbanyak dan diintensifkan. Satu hal yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung adalah memberikan pengarahan kepada generasi muda pada umumnya serta para pelaku seni pada khususnya dengan sebuah kegiatan pembinaan kesenian sebagai identitas diri sebagai pelaku seni yang benar-benar memahami seni wayang Topeng Malangan dengan baik dan terhindar dari pengaruh yang justru akan merusak nilai seni tersebut. Mengingat kedua mitra tersebut memiliki masalah yang sama dalam bidang mempertahankan seni wayang Topeng Malangan, maka kami perlu menawarkan suatu kegiatan yang ditawarkan kepada mitra yakni berupa kegiatan Pembinaan dan Pengembangan kreativitas yang akan dilaksanakan dalam bentuk Pembinaan dengan metode yang tepat yang dapat menarik perhatian para pelaku seni selama pelatihan berlangsung dan pengembangan kreativitas yang meliputi kemampuan pelaku seni membuat kostum tari yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan pakem yang sudah ditetapkan, membuat Topeng Malangan, demikian kedua pelaksanaan kegiatan tersebut diharapkan dapat: 1) Meningkatkan keprofesionalan para pelaku seni tradisional wayang Topeng Malangan. 2) Meningkatkan kreativitas seni di kalangan pelaku seni tradisional. Berdasarkan uraian masalah yang dihadapi di atas, maka kegiatan yang Seminar Nasional dan Gelar Produk SENASPRO 2016 413
dilakukan adalah dengan mengadakan pengabdian dalam bentuk Pembinaan yang berupa pelatihan dan Pengembangan Kreativitas pelaku seni. 1) Pembinaan Seni Tari Wayang Topeng Malangan Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan metode pembinaan tari wayang Topeng Malangan di antaranya adalah para pelaku seni wayang Topeng Malangan berasal dari latar belakang kemampuan yang berbeda, atau ada yang berasal dari keluarga seniman dan non seniman, maka diperlukan teknik penyampaian yang menarik agar mereka tidak merasa bosan dalam mengikuti pelatihan. Ada beberapa tahapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan tari untuk memilih metode yang umum dipakai sebagai berikut: a. Metode Ceramah. Metode ini digunakan untuk mengawali setiap kegiatan guna menyampaikan informasi tentang materi yang diberikan, mulai dari deskripsi tari, fungsi tari, karakter gerak, struktur tari, busana tari dan musik iringannya. Dalam metoda ceramah ini sering pula diselingi dengan peragaan gerak tari secara global saja, karena gerak detailnya diberikan pada peragaan langsung (metode demonstrasi). b. Metode Demonstrasi. Materi ceramah dapat divisualisasikan atau diperagakan langsung oleh Pembina secara bertahap dalam metoda demonstrasi ini. Diawali dengan memberikan contoh-contoh gerak dasar, cara melangkahkan kaki, merasakan tumpuan berat badan, memasang kuda-kuda atau kaki sebelah mana yang menjadi penyangga, cara mengayunkan tangan (metayungan) dan sebagainya. Semua contoh-contoh gerak di atas dilakukan secara pelan oleh Pembina (pelatih tari). Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat mengikuti secara seksama dan menghayatinya secara mendalam. Dalam metoda ini diperlukan trik-trik lain yang humoris untuk membangun semangat peserta didik agar mereka tidak merasa bosan. Selain mengikuti cara demonstrasi, peserta anak didik melihat dan mempraktikkan langsung dari bimbingan seorang pembina, faktor menonton pertunjukan tari adalah faktor yang sangat efektif pula, baik menonton langsung maupun melalui hasil rekaman (Film). c. Metode Tanya Jawab. Cara seperti ini memang digunakan untuk peserta didik mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan meteri yang diajarkan, sebagai evaluasi terselubung mengenai tingkat pemahaman peserta didik. Mereka diberikan kesempatan untuk negosiasi, apakah Pembina telalu cepat memberikan materi atau terlalu pelan dan sebagainya. Bagian ini biasanya dilakukan pada saat peserta didik istirahat. d. Evaluasi. Evaluasi adalah suatu cara untuk mengukur ketrampilan para peserta binaan dalam menari, yang dilakukan oleh pembina secara bervariasi. Dalam pembinaan tari wayang Topeng malangan yang dilakukan, pembina mengadakan evaluasi adegan secara bertahap mulai dari Patih (pembuka), Jejer, Budalan (Bodholan atau Grebeg), Selingan (tari Bapang), serta Gunung Sari (adegan penutup). 414 SENASPRO 2016 Seminar Nasional dan Gelar Produk
2) Pengembangan Kreativitas Pengembangan kreativitas dilakukan dengan kegiatan memberikan keterampilan khusus cara membuat topeng dan membuat busana pertunjukan yang lebih menarik sesuai dengan perkembangan zaman oleh para ahlinya. 3. Hasil Hasil yang dicapai untuk masing-masing kegiatan secara rinci adalah sebagai berikut. a) Pembinaan berupa kegiatan Pelatihan dengan menggunakan metode terpilih. Untuk kegiatan ini,terpenuhi target pesertanya adalah 60 peserta (38 anggota kedua sanggar yang akan mengikuti kegiaatan selanjutnya, sedangkan lebih kurang 22 peserta merupakan undangan bagi para masyarakat di wilayah kecamatan Sumberpucung, para pemerhati seni), indikator terjadinya aktivitas para pelaku dan pemerhati seni dalam kegiatan pelatihan dengan metode pelatihan secara bertahap mulai dari pelaksanaan metode ceramah (tahap awal) sampai kegiatan evaluasi (tahap akhir). Pada capaian akhir adalah bahwa para pelaku seni tersebut memiliki wawasan keilmuan tari wayang Topeng Malangan secara mendalam mulai dari deskripsi tari, fungsi tari, karakter gerak, struktur tari, busana tari dan musik iringannya, serta mampu memvisualiasikan dengan sempurna b) Kegiatan Pengembangan Kreativitas Pelaku Seni Untuk kegiatan ini, sesuai indikator kinerjanya adalah para pelaku seni yang memiliki keterampilan lain terlibat aktif dalam pembuatan busana tari dengan sentuhan desain modern tanpa meninggalkan pakem yang sudah ada, pembuatan topeng agar tetap terjaga kelestariannya. Seminar Nasional dan Gelar Produk SENASPRO 2016 415
DAFTAR PUSTAKA [1] Claire, Holt. 2000. Melacak Jejak-jejak Perkembangan Seni Indonesia. Diterjemahkan oleh Soedarsono. Bandung : MSPI. [2] Dibia, I Wayan.1992. Prembon: Sebuah Dramatari dan Konsep Olah Seni. Jakarta : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. [3] Edi, Setyawati. 2002. Indonesian Heritage. Jakarta : Groiler International. [4] Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta [5] Murgiyanto, S.M. 1982/1983. Topeng Malang: Pertunjukan Dramaturgi Tradisional di Daerah Kabupaten Malang. Jakarta: Proyek Sasana Budaya Depdikbud. [6] Soedarsono. 1979. Beberapa Catatan Tentang Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta : Konservatori. [7] Sumintarsih, dkk. 2012. Wayang Topeng sebagai Wahana Pewarisan Nilai. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta. 416 SENASPRO 2016 Seminar Nasional dan Gelar Produk