BAB II KERANGKA PENDEKATAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
III. KERANGKA PEMIKIRAN. Contingent Valuation Method (CVM), eksternalitas, biaya produksi dan metode

ANALISIS WILLINGNESS TO PAY

BAB. III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Menurut Sujarweni

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PRT/M/2015 TENTANG EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan luas lahan garapan. Pofil tersebut menunjukkan hasil sebagai berikut.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

BAB I PENDAHULUAN. Istilah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menjadi isu penting

KERANGKA PEMIKIRAN P 1 0 Q 1. Kurva Opportunity Cost, Consumers Surplus dan Producers Surplus Sumber : Kahn (1998)

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 4 SERI E

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 /PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN STATUS DAERAH IRIGASI

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2009

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 22 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI

KERANGKA PEMIKIRAN. akan digunakan dalam penelitian ini. Tahapan-tahapan metode CVM akan

BAB I PENDAHULUAN. udara bersih dan pemandangan alam yang indah. Memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan seperti hutan lindung sebagai

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS WILLINGNESS TO PAY

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF (PIP) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

BAB II KERANGKA TEORITIS

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di daerah hulu dan hilir Sungai Musi, yang

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH NOMOR : 02 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGAH,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ekonomi lingkungan atau ilmu ekonomi lingkungan merupakan ilmu yang

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagian dengan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

III. METODE PENELITIAN. Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI BUPATI LEBAK,

I. PENDAHULUAN. menggalakkan pembangunan dalam berbagai bidang, baik bidang ekonomi,

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2012 Seri : E

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

PEDOMAN TEKNIS KRITERIA DAN PERSYARATAN KAWASAN, LAHAN, DAN LAHAN CADANGAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

BUPATI BOGOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ALOR,

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012

BUPATI KEPULAUAN SELAYAR PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI GARUT P E R A T U R A N B U P A T I G A R U T NOMOR 474 TAHUN 2011 TENTANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa sumberdaya adalah komponen dari

2 c. bahwa guna memberikan dasar dan tuntunan dalam pembentukan kelembagaan pengelolaan irigasi sebagaimana dimaksud pada huruf a, diperlukan komisi i

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

Bab III Metodologi Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 30 /PRT/M/2007

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. sectional. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat

Contingent Valuation Method (CVM)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. Peningkatan jumlah industri ini diikuti oleh penambahan jumlah limbah, baik

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis dan maritim yang kaya akan sumber

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri.

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Kerangka pemikiran teoritis terdiri dari beberapa teori yang digunakan

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK N OMOR 04 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PARTISIPATIF KABUPATEN DEMAK

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI BIREUEN,

BUPATI PIDIE QANUN KABUPATEN PIDIE NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI )

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. KERANGKA PEMIKIRAN Asumsi dalam Pendekatan Willingness to Accept Responden. nilai WTA dari masing-masing responden adalah:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sektor lain untuk berkembang karena kegiatan pada sektor-sektor lain

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

IV. METODE PENELITIAN

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI

ANALISIS WILLINGNESS TO ACCEPT. 7.1 Analisis Willingness To Accept dengan Pendekatan Metode Contingent Valuation Method

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG IRIGASI

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

BAB II KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Valuasi, IrigasI, Usahatani, dan Padi a. Valuasi Mburu (2007) dalam Arobi dan Razif (2013) mendefinisikan valuasi sebagai usaha untuk menyatakan nilai moneter dalam perangkat dan pelayanan lingkungan dari sumber daya alam. Salah satu tujuan akhirnya adalah menentukan pertimbangan manusia dalam menentukan Willingness To Pay (WTP). Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa valuasi merupakan suatu penilaian yang diberikan oleh lingkungannya terhadap kegiatan pengembangan lingkungan dan manajemen kegiatannya. Menurut Suparmoko, et al (2014) setiap kegiatan atau kebijakan selalu ditemui biaya dan manfaat sebagai akibat dari kegiatan atau kebijakan tersebut. Sebagai dasar untuk menyatakan bahwa suatu kegiatan atau kebijakan itu layak atau tidak diperlukan suatu perbandingan yang menghasilkan suatu nilai atau suatu rasio tertentu. Valuasi merupakan suatu alat untuk mengukur suatu kegiatan dan kelayakan suatu nilai tertentu. Adanya valuasi memberikan penilaian terhadap suatu kondisi atau kebijakan yang ditawarkan sehingga dapat memberikan pertimbangan nilai yang harus diberikan manusia agar memberikan hubungan timbal balik yang menguntungkan antara manusia dan lingkungannya secara berkesinambangunan.

Suparmoko, et al (2014) menambahkan valuasi ekonomi sangat dibutuhkan dalam penentuan besarnya pungutan dalam hal pengambilan sumberdaya alam dan sebagai akibat limbah yang mencemari lingkungan, bahkan untuk menentukan ganti rugi lingkungan yang harus dibayar oleh pemrakarsa yang menimbulkan pencemaran sehingga menurunkan fungsi lingkungan dan aset milik masyarakat. b. Irigasi Menurut Arifah (2008) irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belanda atau irrigation dalam bahasa Inggris. Irigasi dapat pula diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mendatangkan air dari sumberdaya guna keperluan pertanian, mengalirkan dan membagikan air secara teratur dan setelah digunakan dapat pula di buang kembali. Istilah pengairan dapat diartikan sebagai usaha pemanfaatan air pada umumnya, berarti irigasi termasuk di dalamnya. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2006 mendefinisikan irigasi sebagai usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Selanjutnya dalam pasal 2 disebutkan irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi. Lebih lanjut, ada beberapa istilah penting dalam keirigasian yang disebutkan dalam peraturan pemerintah tersebut, diantaranya sebagai berikut.

1) Sistem irigasi meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia. 2) Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi. 3) Operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi dan pembuangannya, termasuk kegiatan membuka/menutup pintu bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun rencana pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/bangunan, mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi. 4) Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. c. Usahatani Kadarsan (1993) dalam Isaskar (2012) menjelaskan usahatani adalah suatu tempat orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan keterampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian. Hal tersebut dilengkapi oleh Ginting (2012) yang mendefinisikan usahatani adalah usaha yang dilakukan petani dalam memperoleh pendapatan dengan jalan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja dan modal yang mana sebagian dari pendapatan yang diterima digunakan untuk membiayai pengeluaran yang berhubungan dengan usahatani. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan

bahwa usahatani merupakan kegiatan pengelolaan unsur-unsur produksi dengan memberdayakan unsur alam, tenaga kerja, modal dan input produksi lainnya untuk memperoleh sesuatu dari hasil kegiatan pertanian. d. Padi Padi atau Oryza sativa L. merupakan salah satu tanaman budidaya yang termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae. Padi merupakan tanaman semusim yang memiliki akar serabut, struktur batang berupa rangkaian pelepah daun. Umumnya padi berwarna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar. Masyarakat Indonesia padi merupakan makanan pokok yang penting dalam memenuhi kebutuhan pangannya. 2. Klasifikasi Bentuk Sistem Irigasi Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang irigasi dalam pasal 1 jaringan irigasi dapat diklasifikasi menjadi beberapa bagian sebagai berikut. a. Jaringan irigasi primer Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.

b. Jaringan irigasi sekunder Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya. c. Jaringan irigasi tersier Jaringan irigasi adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta bangunan pelengkapnya. 3. Klasifikasi Jenis Jaringan Irigasi Menurut Dinas Pekerjaan Umum (PU) Banyuwangi irigasi dapat diklasifikasikan berdasarkan sarana/kelas jaringan yaitu sebagai berikut. a. Jaringan Irigasi Teknis Jaringan irigasi teknis adalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunanbangunannya dibuat permanen, dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur dan alat pengukur debit air, sehingga yang dialirkan ke petak-petak sawah dapat diatur dan diukur dengan baik. Sistem jaringan ini, antara saluran pembawa dengan saluran pembuang (drainase) terpisah secara jelas.

b. Jaringan Irigasi Semi Teknis Jaringan irigasi semi teknis dalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunannya dibuat permanen atau semi permanen, dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur akan tetapi tidak dilengkapi dengan bangunan/alat pengukur debit air. Dalam sistem jaringan ini, antara saluran pembawa dengan saluran pembuang (drainase) tidak sepenuhnya terpisah. c. Jaringan Irigasi Sederhana Jaringan irigasi sederhana adalah jaringan irigasi yang konstruksi bangunanbangunannya masih bersifat tidak permanen (sementara), dan jaringan ini juga tidak dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur maupun bangunan/alat pengukur debit air dan antara saluran pembawa dengan saluran pembuang (drainase) tidak terpisah, masih menjadi satu. d. Jaringan Irigasi Pedesaan Jaringan irigasi pedesaan adalah jaringan irigasi yang bersifat tradisional, yang dibangun dan dikelola sepenuhnya secara swadaya oleh sekelompok petani/desa. Berdasarkan klasifikasi bentuk dan jenis jaringan irigasi tersebut berguna untuk mengetahui penerapan jenis irigasi yang ada di Indonesia khususnya daerah penelitian. Adapun bentuk jaringan irigasi akan digunakan dalam membedakan aliran

sungai irigasi yang menjadi sumber irigasi di daerah responden. sedangkan jenis jaringan irigasi digunakan untuk menjelaskan keadaan dan kondisi irigasi di daerah responden. Kemudian, tinjauan pustaka tersebut akan menjadi acuan bagi peneliti untuk menjelaskan keadaan umum irigasi di daerah penelitian. 4. Kerangka Umum Teknik Valuasi Menurut Suparmoko, et al (2014) dan berdasarkan Permen LH nomor 15 tahun 2012 dalam Arobi dan Razif (2013) ada beberapa metode teknik valuasi yang dapat digunakan dalam melaksanakan valuasi sumber daya alam. Metode-metode tersebut diklasifikasikan dan dijelaskan sebagai berikut. a. Teknik Harga Pasar 1) Harga pasar yang sebenarnya Teknik ini digunakan pada objek yang memiliki nilai barang atau memiliki referensi harga di pasaran. Teknik ini banyak digunakan untuk menganalisis biaya dan manfaat suatu proyek. Sebagai contoh apabila ada pembangunan sebuah proyek yang terdapat di suatu daerah produksi pertanian, maka nilai proyek dan besaran biaya kerugian dari kehilangan produksi pertanian tersebut dapat diukur menggunakan teknik ini. 2) Modal Manusia (Human Capital) Teknik ini menggunakan modal manusia sebagai harga pasar. Berdasarkan teknik ini modal manusia dianggap memiliki nilai kemampuan berproduksi (produktivitas), nilai kesehatan, nilai waktu kerja dan sebagainya. Salah satu bentuk

dari teknik modal manusia adalah teknik biaya (cost of illness technique) meliputi biaya pengobatan, obat-obatan, hilangnya penghasilan karena tidak masuk kerja, penurunan produktivitas setelah sembuh dari sakit, konsultasi dan tindakan dokter. Hal tersebut dihitung sebagai dampak suatu kegiatan terhadap manusia sebagai tenaga kerja suatu proyek. Teknik ini juga dikenal sebagai teknik penghasilan yang hilang (foregone earnings). 3) Biaya Kesempatan (Opportunity cost) Biaya kesempatan diartikan sebagai hilangnya kesempatan akibat dari adanya suatu kegiatan. Teknik menggunakan acuan kehilangan dari kesempatan alternatif yang bersifat (mutually exclusive) akibat adanya kegiatan dari proyek tersebut. Kesempatan alternatif dapat berupa berbagai macam kegiatan atau beraneka ragam, maka sebagai pembanding dipilih kegiatan yang memberikan penghasilan atau imbalan paling tinggi. b. Teknik Harga Pengganti 1) Nilai kekayaan (Hedonic property prices) Teknik ini menilai kualitas lingkungan sebuah proyek misalnya perumahan. Kualitas lingkungan di daerah tersebut akan memengaruhi harga sebuah rumah akibat jasa atau guna kualitas lingkungan yang ada di sekitarnya. Lingkungan meliputi lokasi, sifat tetangga, udara, pemandangan dan lain-lain dianggap sebagai produk pelengkap (complementary goods and services) bagi rumah tersebut. Valuasi

lingkungan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan harga asset (rumah) tersebut dengan yang sama model dan kelasnya dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Teknik ini juga disebut sebagai hedonic pricing approach. 2) Perbedaan tingkat upah Teknik ini digunakan pada jenis pekerjaan yang sama namun dilakukan di lingkungan yang berbeda. Lingkungan yang berbeda dianggap memiliki kualitas yang berbeda sehingga memengaruhi perbedaan tingkat upah sebagai cerminan kualitas lingkungan kerja pada masing-masing lokasi tersebut. 3) Biaya perjalanan (Travel cost method) Teknik ini digunakan untuk menilai suatu kawasan wisata. Pengeluaran dan waktu yang dikorbankan selama perjalanan untuk mencapai wisata tersebut dianggap sebagai nilai lingkungan yang wisatawan bersedia untuk membayarnya. Biaya waktu diukur berdasarkan tingkat rata-rata tingkat penghasilan per jam atau per hari yang berlaku di daerah tersebut. c. Teknik Delphi Teknik menggunakan nilai lingkungan yang sudah ada berdasarkan pendapat para ahli yang telah banyak dipraktekkan dalam pengambilan keputusan. Teknik ini menggunakan pengalaman dan pengetahuan serta latar belakang kehidupan ahli dalam penentuan nilai lingkungan. d. Teknik Survei

Survei ini menggunakan pertimbangan biaya dan manfaat suatu proyek apabila tetap dilanjutkan atau dibatalkan. Teknik berguna untuk menentukan nilai ganti rugi akibat adanya suatu proyek, baik melalui jasa keindahan alam dan sumbangan lain yang diberikan alam. Teknik ini menggunakan kesediaan membayar (willingness to pay) atau kesediaan menerima ganti rugi (willingness to accept) dari para pemakai sumberdaya alam dan lingkungan tersebut. Teknik ini dilakukan dengan mewawancarai responden secara langsung agar suatu proyek dibatalkan atau menerima pembayaran. Berdasarkan penjabaran kerangka umum diatas dapat diketahui bahwa untuk mengestimasi nilai lingkungan yang dipakai oleh manusia dapat menggunakan preferensi responden terhadap kesediaan kesediaan untuk menerima ganti kerugian (willingness to accept) atau membayar iuran (willingness to pay) atas jasa lingkungan yang hilang/diterimanya. Teknik ini berguna untuk mendapatkan partisipasi masyarakat pemakai guna menjaga kelestarian dan keberlanjutan jasa lingkungan. Hal ini dirumuskan dalam konsep Contingent Valuation Method (CVM). 5. Pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) Contingent Valuatiion Method merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur nilai barang yang tidak dipasarkan/tidak memiliki harga pasar melalui pertanyaan langsung terhadap individu-individu mengenai kesediaan mereka membayar/willingness to pay untuk pelayanan lebih baik (Rahim, 2008). Menurut Cho, Bowker dan Newman (2008) mendefinisikan sebagai sebuah ekonomi berbasis survei untuk menilai sumberdaya alam yang memberikan jasa amenity.

Lebih lengkap dikatakan bahwa, CVM is a survei-based economic technique for the valuation of nonmarket resources, typically environmental attributes and amenities. Patunru (2004) menambahkan Contingent Valuation Method (CVM) adalah salah satu metodologi berbasis survei untuk mengestimasi seberapa besar penilaian moneter terhadap komoditas lingkungan. Teknik ini menggunakan survei untuk mengetahui preferensi responden mengenai peningkatan atau penurunan kualitas lingkungan. Preferensi tersebut dilakukan melalui survei untuk mengetahui berapa banyak responden yang bersedia menerima/willingness To Accept (WTA) untuk menerima biaya ganti kerugian (kompensasi) akibat hilangnya suatu sumberdaya alam/lingkungan dan sebagai penghitung kesediaan membayar/willingness To Pay (WTP) untuk pelestarian atau perbaikan sumberdaya alam dan/atau lingkungan tertentu yang diambil berdasarkan data primer (Patunru, 2004). Teknik ini telah digunakan dalam penelitian Misra, et al (1991); Tresnadi (2000); Norwood, et al (2005); Whitehead (2006); Cho, et al (2008); Weldesilassie, et al (2009); Alhassan, et al (2013); yang menggunakan CVM sebagai metode untuk menentukan nilai jasa/barang yang tidak dipasarkan dan menentukan kesediaan membayar untuk menerima pelayanan yang lebih baik. Hal tersebut dinyatakan melalui preferensi responden terhadap sumber daya alam non-pasar/tidak dipasarkan dengan mengajukan pertanyaan Willingness To Accept (WTA) atau Willingness To Pay (WTP) terhadap ganti rugi kehilangan jasa/barang dari sumber daya alam atau untuk peningkatan pelayanan.

Lebih lengkap Hanley dan Spash (1993) dalam Arifah (2008) menyebutkan pengajuan pertanyaan CVM dapat dilakukan melalui empat macam cara sebagai berikut. 1. Metode tawar-menawar (bidding game), yaitu jumlah nilai dibuat terus semakin tinggi dari nilai awal (starting point) yang diajukan pada responden sampai diperoleh nilai WTP maksimum yang sanggup dibayarkan oleh responden. 2. Metode referendum tertutup (dichotomous choice), yaitu metode yang menggunakan satu alat pembayaran yang disarankan pada responden, baik mereka setuju/tidak setuju (jawaban Ya/Tidak ). 3. Metode kartu pembayaran (payment card), yaitu metode dengan penggunaan selang nilai yang disajikan pada sebuah kartu yang memungkinkan jenis pengeluaran responden dalam kelompok pendapatan yang ditentukan oleh 54 perbandingan jenis pekerjaan mereka, sehingga membantu responden untuk menyesuaikan jawaban mereka. 4. Metode pertanyaan terbuka (open-ended questions), yaitu suatu metode dimana individu ditanyakan nilai maksimum WTP mereka tanpa adanya penyaranan nilai awal pada mereka. Responden seringkali menemukan kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut, khususnya bagi responden yang tidak memiliki pengalaman tentang hal-hal yang menjadi bahan pertanyaan dari pewawancara. 6. Faktor-faktor Yang Memengaruhi WTP iuran pengelolaan irigasi Penelitian Alhassan, et al (2013) nilai WTP secara signifikan dipengaruhi oleh lokasi lahan, status kepemilikan lahan dan nilai sewa lahan. Penelitian Arifah (2009) menyebutkan nilai WTP dipengaruhi oleh luas lahan, pengetahuan petani terhadap

iuran irigasi, pendapatan, dan jumlah tanggungan keluarga. Adanya pengaruh dari faktor-faktor tersebut diketahui setelah dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian Arifah (2009) diketahui bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan atau ketidaksediaan petani dalam membayar iuran pengelolaan irigasi adalah tingkat pendidikan dan produktivitas lahan. Hasil penelitian nilai ekonomi air irigasi (water value) usahatani padi diperoleh sebesar 938.293/ha yang menunjukkan petani memiliki kemampuan untuk membayar iuran pengelolaan irigasi. Iuran pengelolaan irigasi ditentukan melalui pendekatan WTP yaitu sebesar Rp70.000/ha. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda diketahui faktor-faktor yang memengaruhi WTP adalah luas lahan, tingkat pengetahuan petani terhadap iuran irigasi, pendapatan dan keluarga. Hasil penelitian Akter mengestimasi nilai WTP Bangladesh untuk penggunaan irigasi berkisar US$ 23.85 per musim panen. Nilai WTP dipengaruhi oleh umur responden, pendidikan jumlah tanggungan keluarga, pendapatan, kepemilikan lahan, skema manajemen sistem irigasi dan keputusan untuk menukar pola panen. Berdasarkan temuan penelitiannya, disimpulkan bahwa ia sangat menganjurkan adanya perbaikan perbaikan pada sektor pertanian khususnya dalam meningkatkan efisiensi dan mempromosikan keberlanjutan penggunaan irigasi. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi tersebut dianalisis menggunakan teknik analisis regresi berganda. Muhidin dan Abdurrahman (2007) menjelaskan analisis regresi berganda adalah alat untuk meramalkan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih terhadap suatu variabel terikat untuk membuktikan ada

tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengukur hubungan dua variabel atau lebih dan untuk menntukan arah hubungan variabel-variabel tersebut. Supranto (2001) menjelaskan untuk memperkirakan nilai variabel tidak bebas (dependent variable) atau disebut dengan variabel Y dapat dihitung melalui variabel-variabel yang memengaruhi nilai Y, maka dijelaskan hubungan tersebut menggunakan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut: (untuk populasi) Y B B X B X B X... B X i 0 1 1 2 2 3 3 k ki i Y i b b X b X... b 0 1 1 2 2 k X ki i (untuk sampel) Keterangan: i = 1,2,,n b, 0 b, 1 b,, 2 b, k i adalah pendugaan atas k dan B B, B X,..., B 0, 1 2 2. i 2. Penelitian Terdahulu Penelitian Weldesilassie, et al (2009) dalam menentukan nilai kesediaan membayar/willingness to pay (WTP) dilakukan dengan cara mengajukan opsi mengenai dana yang sanggup dibayarkan oleh responden melalui skema open-ended follow up. Pertanyaan pertama diajukan dengan menanyakan apakah responden sanggup membayar dalam rentang ETB 20 atau ETB 40. Apabila responden menjawab iya pada tawaran pertama, maka responden ditanyakan kembali dengan nilai yang lebih tinggi antara ETB 30 atau ETB 50. Jika responden menjawab tidak

pada tawaran tersebut maka diajukan pertanyaan selanjutnya dengan nilai lebih rendah, pilihan antara ETB 15 atau ETB 30. Kemudian berdasarkan skenario tersebut responden ditanyakan nilai WTP maksimum yang sanggup dibayarkan. Hasil penelitian Putri, et al (2013) di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran menyebutkan persepsi terhadap air masih rendah karena perilaku masyarakat free rider, sehingga perlu adanya kebijakan mengenai pengelolaan air agar sumberdaya air dapat tetap terjaga dan lestari. Analisis nilai ekonomi menggunakan metode Willingness To Pay (WTP) menunjukkan total nilai ekonomi air sebesar Rp 1.705.844.764,00 per tahun. Syaukat dan Siwi (2009) menyebutkan tidak adanya pengenaan iuran untuk kebutuhan distribusi dan perawatan irigasi mengarah pada ketidakberlanjutan pengelolaan irigasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka nilai iuran tertinggi dapat dijadikan referensi dalam penetapan iuran irigasi di daerah setempat. Penerapan dapat dilakukan secara bertahap yang diiringi peningkatan kualitas pengelolaan irigasi agar dapat berjalan efektif dan efisien dapat direalisasikan. Berdasarkan penelitian sebelumnya menunjukkan Willingness To Pay (WTP) dipengaruhi secara signifikan oleh lokasi lahan pertanian, kepemilikan/status lahan, sewa lahan, pendapatan, pengetahuan petani Alhassan, et al (2013); Cho, et al (2008); Arifah (2008). Hershey (1993) dalam penelitiannya menyatakan kualitas air dan manajemen irigasi merupakan faktor penting dalam proses irigasi, karena tanaman yang sehat memerlukan kualitas air yang baik pula, sedangkan manejemen berguna untuk melakukan pengendalian air sesuai kebutuhan tanaman. Namun dalam penelitian tersebut kedua faktor ini belum diuji terhadap faktor-faktor yang

memengaruhi WTP, sehingga belum dapat dipastikan apakah kedua faktor tersebut benar atau tidak memengaruhi nilai WTP petani untuk pengelolaan dan perawatan irigasi. B. Kerangka Pemikiran Jaringan irigasi merupakan input penting dalam usahatani padi, diantaranya mengenai layanan pengelolaan dan kualitas air irigasi agar tercapai peningkatan produktivitas. Air berperan penting dalam memelihara unsur hara yang diperlukan dalam proses produksi dan guna intensifikasi kegiatan on-farm. Untuk memastikan hal tersebut diperlukan penelitian terhadap irigasi yang menjadi sumber air bagi usahatani padi. Menurut BPS (2013 luas lahan sawah turun sebesar 0,06 persen yaitu dari 56.364 Ha pada tahun 2012 menjadi 56.327 Ha pada tahun 2013. Sebaliknya luas lahan bukan sawah dan bukan pertanian naik sebesar 0,01 persen dari 262.216 Ha pada tahun 2012 menjadi 262.253 Ha pada tahun 2013. Kemungkinan salah satu penyebab laju konversi lahan tersebut akibat buruknya sarana produksi di bidang pertanian dan rendahnya produktivitas sehingga kegiatan pertanian menjadi kurang menguntungkan bagi petani, salah satu dari sarana tersebut dapat ditinjau berdasarkan layanan pengelolaan irigasi. Adanya perbedaan karakteristik daerah hulu dan hilir menyebabkan keadaan layanan pengelolaan dan kualitas air irigasi menjadi berbeda, diantaranya disebabkan irigasi daerah hilir yang telah melewati banyak pemukiman/industri dibandingkan daerah hulu sehingga kemungkinan pencemaran daerah hilir menjadi lebih tinggi.

Aktivitas masyarakat yang dilewati oleh saluran irigasi akan memengaruhi keadaan irigasi tersebut. Keadaan layanan pengelolaan dan kualitas air irigasi dan profil petani akan menentukan kesediaan iuran petani dan besaran iuran yang mampu dibayarkan. Nilai iuran dari petani sampel dapat dianalisis dengan Willingness To Pay (WTP) Method untuk menentukan nilai WTP. Selain itu untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP tersebut dapat dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan penjabaran kerangka pemikiran diatas maka disusun bagan kerangka pemikiran sebagai berikut. Profil Petani - Umur - Tingkat pendidikan - Jumlah anggota keluarga - Pengalaman bertani - Luas lahan garapan - Variabel status lahan Kesediaan Iuran Lokasi Keadaan Layanan Irigasi - Kondisi saluran utama - Keteraturan debit air - Jadwal pengairan - Kondisi pintu air Irigasi Kualitas Irigasi - Cemaran kimia - Cemaran sampah - Keberadaan binatang air Tidak Ya Willingness To Pay (WTP) Method

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional C. Hipotesis Berdasarkan penjabaran diatas maka disusun hipotesis sebagai berikut. 1. Diduga sebagian besar petani daerah hulu dan hilir di Daerah Istimewa Yogyakarta memperoleh keadaan layananan irigasi dalam kategori baik. 2. Diduga terdapat perbedaan kualitas air irigasi daerah hulu dan hilir di Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Diduga nilai WTP dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, jumlah keluarga, pengalaman bertani, luas lahan garapan, keadaan layanan irigasi, kualitas air irigasi, dummy status lahan, dan dummy lokasi.