Diajukan Oleh : ASAF SIDIQ A

dokumen-dokumen yang mirip
PENANAMAN KARAKTER RELIGIUS DAN TANGGUNG JAWAB UNTUK SISWA KELAS 2 MIM PK KARTASURA BERDASARKAN BUKU DO A YUK BERDO A BERSAMA SAHABAT BINTANG

PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS DALAM KEGIATAN SHALAT DHUHA DAN ZUHUR BERJAMAAH DI SD MUHAMMADIYAH 3 NUSUKAN SURAKARTA TAHUN AJARAN

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

faktor eksternal. Berjalannya suatu pendidikan harus didukung oleh unsur-unsur pendidikan itu sendiri. Unsur-unsur pendidikan tersebut adalah siswa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

DALAM A DASAR

BAB I PENDAHULUAN. serta bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Subhanahu wata`ala, di dalam. Al-Quran surat Luqman ayat: 14 sebagai berikut:

Oleh: IMA NUR FITRIANA A

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peran penting bagi manusia. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERSEPSI KEPALA SEKOLAH, GURU, DAN SISWA TERHADAP SEKOLAH YANG MENYENANGKAN DI SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS KOTTA BARAT SURAKARTA

PENGEMBANGAN KARAKTER KEMANDIRIAN MELALUI PRORGAM BOARDING SCHOOL (Studi Kasus Pada Siswa Di MTs Negeri Surakarta 1 Tahun Pelajaran 2013/2014)

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan potensi ilmiah yang ada pada diri manusia secara. terjadi. Dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di zaman yang serba modern dan canggih ini, dimana perkembangan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan data dan analisis penelitian pada bab-bab sebelumnya dalam

A. Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan dinamika perubahan sosial budaya masyarakat. mengembangkan dan menitikberatkan kepada kemampuan pengetahuan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan

Oleh : Destyana Ayu Wulandari A

2015 STUDI TENTANG PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SANTRI AGAR MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERSEPSI GURU TERHADAP PENILAIAN AUTENTIK YANG TELAH DISEMPURNAKAN DALAM PERMENDIKBUD NOMOR 23 TAHUN 2016 DI SD MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS KOTTABARAT

BAB I PENDAHULUAN. menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pendidikan

IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA KELAS ATAS SD MUHAMMADIYAH 16 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Tujuan pendidikan nasional seperti disebutkan dalam Undang-Undang. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal (3)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang

BAB I PENDAHULUAN. kurang memperhatikan sektor pendidikannya. Pendidikan memiliki peran dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Upaya mewujudkan pendidikan karakter di Indonesia yang telah

BAB I PENDAHULUAN. peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk

BAB IV ANALISIS TENTANG PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU (MIT) NURUL ISLAM RINGINWOK NGALIYAN SEMARANG

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN HOLISTIK DI SEKOLAH DASAR ISLAM RAUDLATUL JANNAH WARU SIDOARJO PADA MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menyengsarakan orang lain bahkan bangsa lain. Oleh karena itu perlu mengolah

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan. yang semakin berat terutama untuk mempersiapkan anak didik agar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sesuai dengan Fungsi Pendidikan Nasional yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. pada terhambatnya kemajuan negara. Menurut Nata (2012: 51) pendidikan

PERANAN BUKU KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN LAYANAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SDIT MUHAMMADIYAH AL-KAUTSAR GUMPANG KARTASURA TAHUN AJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional, dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003, pasal 37

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental, yang juga

BAB I PENDAHULUAN. peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan. mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan Sistem

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemakaian seragam sekolah terhadap siswa di dalam suatu pendidikan

BAB IV ANALISIS PERAN GURU DALAM PROSES PENGEMBANGAN KECERDASAN. Peran Guru dalam Proses Pengembangan Kecerdasan Spiritual siswa di MI Walisongo

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada tataran perencanaan organisasi umumnya mendasarkan pada

I. PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter

BAB VI PENUTUP. Optimalisasi Pendidikan Holistik di Sekolah Dasar untuk Mencapai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menciptakaniklim budaya sekolah yang penuh makna. Undang-Undang

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaaraan

BAB I PENDAHULUAN. bidang kehidupan salah satunya adalah bidang pendidikan. proses pembelajaran agar siswa secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. didik. Tujuan yang diharapkan dalam pendidikan tertuang dalam Undang-undang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. generasi yang cerdas dan berkarakter. Demikian pula dengan pendidikan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan, nilai-nilai atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. pribadi dalam menciptakan budaya sekolah yang penuh makna. Undangundang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUHAN. untuk mengenal Allah swt dan melakukan ajaran-nya. Dengan kata lain,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat memperoleh ilmu pengetahuan serta keterampilan yang berguna untuk masa

IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DEMOKRATIK DALAM MENGEMBANGKAN SEKOLAH EFEKTIF DI SD MUHAMMADIYAH 16 KARANGASEM TAHUN PELAJARAN

Tujuan pendidikan adalah membentuk seorang yang berkualitas dan

PENGIMPLEMENTASIAN PENDIDIKAN KARAKTER OLEH GURU SEJARAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Long life education adalah motto yang digunakan oleh orang yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Beralihnya masyarakat kita dari masyarakat yang masih sederhana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dengan orang lain. Negara kesatuan Republik Indonesia memiliki

A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan suatu tempat dimana bagi peserta didik untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I. terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan disegala bidang demi tercapainya tujuan bangsa, oleh karena itu

PENDIDIKAN NILAI NASIONALISME DI SD NEGERI 2 WATES KULON PROGO

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan aktifitas atau kegiatan yang selalu menyertai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keharusan bagi bangsa Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PEDOMAN DOKUMENTASI. 1. Profil SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul. 2. Struktur Komite SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul

2016 PENGARUH PELAKSANAAN FULL DAY SCHOOL TERHADAP INTERAKSI SOSIAL DAN SOSIALISASI ANAK DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. beberapa pihak yang terkait agar pendidikan dapat berlangsung. sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Pendidikan yang terjadi

Program Kerja Kesiswaan MTs. Wachid Hasyim Surabaya Tahun Pelajaran 2017/2018

Transkripsi:

INOVASI SD MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH KONDUSIF Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Diajukan Oleh : ASAF SIDIQ A 510130058 Kepada : PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA FEBRUARI, 2017 1

i 2

3 ii

iii 4

INOVASI SD MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH KONDUSIF ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi yang ada di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah triangulasi. Data dianalisis secara interaktif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif yaitu: (1) Bersalaman dengan siswa setiap pagi. (2) Sholat dhuha.(3) Hafalan surat pendek di musola dipimpin satu guru piket. (4) Rapat dan motivasi pagi. (5) Pembacaan iqro dan literasi pagi. (6) Siswa berdoa akan makan sebelum istirahat. (7) Membariskan siswa sebelum masuk kelas disertai dengan membaca doa setelah makan. (8) Sholat dhuhur berjama ah. (9) Evaluasi siang jika ada info penting. (10) Pembentukan jadwal piket. (11) Penegakan peraturan guru dan siswa. (12) Kerja bakti membersihkan mushola. Kata kunci : inovasi, sekolah kondusif ABSTRACT This research aims to understand the innovation that is in primary schools Muhammadiyah 5 Surakarta in creating a conducive school. The type of this research is qualitative research with case study approacth. The data source of this research is principal and teachers. Data collection techniques were used interviews, observation and documentation. Data validity of this research used triangulation. Data were analyzed interactivly consisting of data collection, data reduction, data display, and conclusion and verification. The results of this study indicate that there are innovations in SD Muhammadiyah Surakarta 5 in creating a conducive school, namely: (1) Shaking hands with the students every morning. (2) Duha prayer. (3) Memorizing short letter in musola led the teachers picket. (4) Meetings and motivation morning. (5) The reading and literacy Iqro morning. (6) Students pray will eat before the break. (7) line up the students before class is accompanied by reading the prayer after meals. (8) dhuhur prayer congregation. (9) Evaluation of lunch if any important info. (10) The establishment of picket schedule. (11) Enforcement of regulations teachers and students. (12) Working cleaning the mosque. Keywords: Innovation, Conducive Schools 1

1. PENDAHULUAN Indonesia memiliki banyak sekolah baik negeri ataupun swasta yang tersebar di berbagai wilayah, tetapi belakangan ini banyak kabar atau berita tentang SD yang kekurangan murid, bahkan ada banyak SD yang harus di gabung atau bahkan di tutup karena masalah tersebut. Tetapi ada juga SD yang kelebihan murid kususnya SD yang bagus atau favorit. Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah murid adalah kualitas pendidikan SD tersebut. Jika kualitas pendidikan SD bagus maka akan banyak yang akan mendaftar tetapi jika kualitas pendidikan SD tersebut kurang maka yang mendaftar akan sedikit. Istilah pendidikan merupakan suatu hal yang tidak asing lagi bagi semua orang. Definisi pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Samino (2015: 35) pendidikan adalah pengalihan pengetahuan, kebudayaan dan lain-lainnya dari generasi tua kepada generasi muda atau generasi penerus. Pada perkembangan pemikiran masyarakat seperti sekarang ini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Sebab, persaingan untuk mempertahankan hidup semakin ketat dengan sulitnya lapangan pekerjaan sebagai modal untuk mempertahankan hidup dan melanjutkan keturunan. Jika dulu pada zaman kakek nenek kita, pendidikan dianggap kurang penting karena juga tidak terlepas dengan kesulitan hidup, maka pada saat ini sesulit apapun hidup yang dihadapi, pendidikan tetap menjadi prioritas yang utama bagi semua orang khususnya bagi masyarakat Indonesia. Fungsi pendidikan menurut Undang- Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2

Salah satu hal yang erat kaitannya dengan pendidikan adalah sekolah, sekolah sangat penting dalam proses pendidikan, karena sekolah adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Dalam KKBI sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.menurut tingkatannya, ada sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan sekolah tinggi. Jadi Sekolah adalah suatu hal yang penting untuk melaksanakan pendidikan, maka dari itu sekolah harus melakukan inovasi supaya sekolah tersebut tidak kalah saing dengan sekolah sekolah lain. Sa ud (2008: 5) mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok (masyarakat). Jika dikaitkan dalam pendidikan, inovasi selalu berupa penemuan yang dimanfaatkan dalam pendidikan untuk memecahkan atau membuat sesuatu lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan (Supriyanto 2009: 2). Untuk menciptakan sekolah yang efektif dalam pendidikan maka sekolah terlebih dahulu harus harus kondusif. Menurut KBBI kondusif adalah kondisi yang tenang atau yang lebih mudah diartikan adalah suatu kondisi yang tidak semrawutan yang mendukung untuk terjadinya aktifitas atau tujuan tertentu. Sehingga dapat disimpulkan arti sekolah yang kondusif disini berarti sekolah yang berhasil mengelola dan membina guru-gurunya. Banyak SD baik negeri atau swasta di Surakarta yang telah melakukan inovasi-inovasi dalam bidang pendidikan. salah satunya adalah SD Muhammadiyah 5 Surakarta. Inovasi-inovasi yang di terapkan di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dilaksanakan guna mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif, dan dalam pelaksanaannya menimbulkan adanya perubahan yang positif yang dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah peserta didik yang mendaftar di SD Muhammadiyah 5 Surakarta tiap tahun. Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa di SD Muhammadiyah 5 Surakarta terdapat inovasi-inovasi guna mewujudkan sekolah yang kondusif, sehingga dipilihlah fokus penelitian ini dengan judul Inovasi Sd Muhammadiyah 5 Dalam Mewujudkan Sekolah Yang Kondusif. Fokus dalam 3

penelitian ini membahas tentang inovasi apa saja yang ada di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif bagaimanakah pelaksanaannya dan apa hambatan dalam melaksanakan inovasi-inovasi tersebut. 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui inovasi yang ada di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif. Tempat yang dipilih dalam penelitian ini adalah SD Muhammadiyah 5 Surakarta. waktu pelaksanaan antara bulan januari sampai februari 2017. Sumber data penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah triangulasi. analisis data penelitian ini adalah analisis interaktif yang dilakukan dalam empat kegiatan yang saling terkait: pengumpulan data, reduksi data, menampilkan data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif (1) Bersalaman dengan siswa setiap pagi. (2) Sholat dhuha.(3) Hafalan surat pendek di musola dipimpin satu guru piket. (4) Rapat dan motivasi pagi. (5) Pembacaan iqro dan literasi pagi. (6) Siswa berdoa akan makan sebelum istirahat. (7) Membariskan siswa sebelum masuk kelas disertai dengan membaca doa setelah makan. (8) Sholat dhuhur berjama ah. (9) Pembentukan jadwal piket. (10) Kerja bakti membersihkan mushola.inovasi ini sesuai dengan pendapat Dupper dalam (Wuryandani 2014: Jurnal Pendidikan Karakter, Nomor 2) untuk menciptakan iklim lingkungan sekolah yang yang positif perlu memperhatikan kriteria sebagai berikut. (1) Keadaan fisik sekolah yang menarik. (2) Sekolah memiliki upaya untuk membangun, dan memelihara hubungan yang peduli, saling menghormati, mendukung, dan kolaboratif antara anggota staf sekolah, siswa, dan keluarga. (3)Siswa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. (4) Siswa menganggap aturan 4

sebagai hal yang jelas, adil, dan tidak terlalu keras. (5) Sekolah aman bagi siswa, keluarga, dan guru. (6) Tersedia layanan belajar. (7) Sekolah memiliki tingkat akademik dan perilaku yang tinggi dan memberikan dukungan untuk pencapaian tujuan. (8) Memiliki upaya untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional semua siswa. (9) Guru sebagai model dalam memelihara sikap. (10) Memandang orang tua dan anggota masyarakat sebagai sumber daya yang berharga, dan mereka didorong untuk terlibat aktif di sekolah. 3.2 Pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif Pelaksanaan inovasi SD Muhammadiyah 5 Surakarta a) Bersalaman dengan siswa Saat guru sudah berada di sekolah guru langsung menempatkan dirinya di dekat gerbang sekolah dan jika ada siswa yang datang tanpa dikomando atau tanpa disuruh siswa langsung menyalami guru tersebut. Hal ini bertujuan agar siswa belajar menghormati orang yang lebih tua serta lebih mempererat hubungan antar guru dan siswa, sehingga suasana disekolah dapat lebih bersahabat. Sehingga lama kelamaan, siswa memiliki kebiasaan setiap bertemu guru siswa pasti bersalaman dengan guru tersebut. b) Sholat Dhuha Kegiatan sholat Dhuha dilaksanakan pada jam 06.30-06.45, Setelah siswa menyalami guru, agar siswa tidak berkeliaran sana-sini, siswa diminta guru untuk meletakkan tasnya di kelas dan langsung menuju musola untuk wudhu dan sholat Dhuha terlebih dahulu, setelah itu menempatkan diri untuk persiapan hafalan surat pendek. c) Hafalan surat surat pendek Kegiatan hafalan surat pendek dilaksanakan pada jam 06.45-07.15, dilaksanakan di mushola SD Muhammadiyah 5 Surakarta, sebelum kegiatan hafalan dimulai guru piket mengatur barisan tempat duduk siswa sesuai kelas masing-masing agar siswa lebih teratur dan suasana 5

lebih kondusif, kegiatan hafalan ini dipimpin oleh satu orang guru piket. Lalu guru guru lainnya yang tidak piket menuju ke kantor untuk persiapan motivasi pagi. d) Motivasi pagi Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan hafalan surat pendek siswa yaitu jam 06.45-07.15. guru guru yang tidak piket berkumpul di kantor untuk kegiatan motivasi pagi yang dipimpin oleh kepala sekolah, kegiatan ini di awali dengan guru secara bersama-sama membaca surat juz 30 sekarang sudah sampai surat An Naba dengan maksud agar guruguru dapat hafal supaya guru lebih memiliki kompetensi untuk mengajarkan ke siswanya. Setelah membaca surat pendek dilanjutkan dengan rapat pagi yang dipimpin kepala sekolah, rapat pagi ini bertujuan untuk membahas suatu kegiatan, saling sharing antar guru dan kepala sekolah dan untuk merencanakan suatu kegiatan tertentu. Setelah rapat pagi salah satu guru di tunjuk untuk memberikan motivasi kepada guru lainnya supaya guruguru lainnya dapat termotivasi dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. e) Kegiatan membaca iqro dan literasi pagi Kegiatan membaca iqro dan literasi pagi dilaksanakan dari jam 07.45-08.00, kegiatannya yaitu siswa menghampiri guru walikelas masing masing untuk membaca iqro bergantian, siswa yang belum atau sudah membaca iqro diminta untuk membaca buku, supaya kelas lebih terkendali, setiap walikelas mempunyai cara sendiri sendiri entah membawa buku dari perpustakaan ke kelas supaya siswa tidak bolak baik atau bisa membawa siswanya ke perpustakaantakaan agar dapat membaca buku yang disukainya. Kegiatan ini bertujuan agar selama pembacaan iqro siswa terkendali dan tidak bermain sendiri atau mengganggu teman yang lainnya. f) Kegiatan berdoa akan makan sebelum istirahat dan kegiatan membariskan siswa setelah istirahat. 6

Kegiatan berdoa akan makan sebelum istirahat dan kegiatan membariskan siswa setelah istirahat dilaksanakan dari jam 09.45-10.00. kegiatan membaca doa sebelum istirahat bertujuan agar siswa memiliki kebiasaan berdoa sebelum makan. Lalu kegiatan membariskan siswa setelah istirahat bertujuan agar siswa lebih disiplin dan tertata pada saat akan memasuki kelas. Pada saat berbaris siswa diminta membaca doa setelah makan supaya siswa memiliki kebiasan berdoa setelah makan. g) Sholat Dzuhur berjamaah Sholat Dzuhur berjamaah dilaksanakn pada saat istirahat ke dua. Kegiatannya yaitu setelah bel siswa tanpa dikomando langsung menuju ke Musola untuk sholat Dzuhur berjamaah, salah satu siswa diminta untuk Adzan dan sholat dipimpin oleh salah satu guru laki laki baik itu pak Anam atau pak Sugiarto. Kegiatan Sholat Dzuhur berjamaan bertujuan selain untuk beribadah dengan Allah SWT kegiatan ini juga bertujuan untuk mendisiplinkan siswa serta melatih siswa untuk bertanggungjawab untuk menjalankan perintah untuk beribadah kepada Allah SWT serta melatih siswa agar Sholat dengan benar. Pada saat Sholat Dzuhur berjamaah agar siswa terkondisikan dengan baik maka salah satu guru mengawasi jalannya Sholat Dzuhur berjamaah supaya siswa bersungguh sungguh dalam Sholat serta agar siswa tidak mengganggu temannya. Siswa yang menjalankan sholat dzuhur berjamaah yaitu siswa kelas 3-6, karena kelas 1-2 sudah pulang. h) Kerja bakti Kerja bakti yang ada di SD Muhammadiyah 5 Surakarta adalah membersihkan mushola setiap hari serta area sekolah pada saat tertentu. Kerja bakti ini bertujuan agar siswa lebih peduli dengan lingkungannya serta menanamkan karakter kebersihan, serta agar siswa nyaman saat berada di sekolah karena sekolah yang bersih dan rapi dapat membuat siswa lebih semangat dalam belajar. Dalam lingkungan kelas untuk menjaga kebersihan kelas setiap hari siswa yang piket wajib untuk 7

membersihkan kelas setelah pembelajaran telah usai supaya kondisi lingkungan kelas nyaman sehingga pembelajaran dapat maksimal. 3.3 Hambatan dan solusi dalam pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif Hambatan pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif terdiri dari segi kepala sekolah, guru, siswa, orang tua lingkungan serta situasi dan kondisi. Dari hasil wawancara dan observasi tentang hambatan dalam pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif di peroleh hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Masih ada guru atau siswa yang melanggar aturan yang sudah di tetapkan sekolah. b) Orang tua wali murid dan lingkungan masyarakat yang kurang peduli. c) Situasi dan kondisi sekolah yang kurang mendukung. Solusi yang diterapkan guru dalam menghadapi hambatan inovasi dalam mewujudkan sekolah kondusif di SD Muhammadiyah 5 Surakrta antara lain sebagai berikut: a) Di mulai dari diri guru terlebih dahulu, setiap guru harus menjalankan aturan, peran dan tugasnya masing-masing dikarenakan guru adalah orang yang dijadikan teladan bagi murid. b) Ditegur, jika ada siswa atau guru yang melanggar aturan main yang telah disepakati di sekolah maka wajib di tegur, tidak hanya guru yang menegur siswa tetapi siswa juga boleh menegur guru jika guru berbuat salah atau lupa. Tetapi pada saat di tegur guru atau siswa tidak boleh marah. c) Saling memotivasi dan mendukung agar suasana di sekolah menjadi lebih harmonis. d) Menjalin hubungan yang baik antara orang tua wali murid dengan masyarakat sekitar. 8

e) Jika ada situasi atau kondisi yang kurang mendukung misalkan hujan atau ada rapat dinas mendadak maka guru harus melaksanakan inovasi tersebut semaksimal dan sebisa mungkin. f) Melaksanakan evaluasi pelaksanaan inovasi-inovasi tersebut setiap akhir semester, agar dapat berjalan lebih baik lagi. Dari paparan diatas dapat di ketahui bahwa di SD Muhammadiyah 5 Surakarta sudah mengantisipasi hambatan hambatan yang terdapat dalam pelaksanaan inovasi-inovasi dalam mewujudkan sekolah kondusif. 4. PENUTUP 4.1 Inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah kondusif adalah sebagai berikut: (1) Bersalaman dengan siswa setiap pagi. (2) Sholat dhuha.(3) Hafalan surat pendek di musola dipimpin satu guru piket. (4) Rapat dan motivasi pagi. (5) Pembacaan iqro dan literasi pagi. (6) Siswa berdoa akan makan sebelum istirahat. (7) Membariskan siswa sebelum masuk kelas disertai dengan membaca doa setelah makan. (8) Sholat dhuhur berjama ah. (9) Pembentukan jadwal piket. (10) Kerja bakti membersihkan mushola. 4.2 Pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif Dalam pelaksanaannya inovasi-inovasi yang ada di SD Muhammadiyah 5 Surakarta berjalan dengan baik, walaupun masih ada kendala-kendala yang menghambat pelaksanaan inovasi-inovasi tersebut, baik kendala dalam diri guru, siswa, orang tua, maupun kendala dari lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. 4.3 Hambatan dan solusi dalam pelaksanaan inovasi di SD Muhammadiyah 5 Surakarta dalam mewujudkan sekolah yang kondusif a). Hambatan (1) Masih ada guru atau siswa yang melanggar aturan yang sudah di tetapkan sekolah. (2) Orang tua wali murid dan lingkungan masyarakat 9

yang kurang peduli. (3) Situasi dan kondisi sekolah yang kurang mendukung. b). Solusi (1) Di mulai dari diri guru terlebih dahulu, setiap guru harus menjalankan aturan, peran dan tugasnya masing-masing dikarenakan guru adalah orang yang dijadikan teladan bagi murid. (2) Ditegur, jika ada siswa atau guru yang melanggar aturan main yang telah disepakati di sekolah maka wajib di tegur, tidak hanya guru yang menegur siswa tetapi siswa juga boleh menegur guru jika guru berbuat salah atau lupa. Tetapi pada saat di tegur guru atau siswa tidak boleh marah. (3) Saling memotivasi dan mendukung agar suasana di sekolah menjadi lebih harmonis. (4) Menjalin hubungan yang baik antara orang tua wali murid dengan masyarakat sekitar. (5) Jika ada situasi atau kondisi yang kurang mendukung misalkan hujan atau ada rapat dinas mendadak maka guru harus melaksanakan inovasi tersebut semaksimal dan sebisa mungkin. DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Samino. 2015. Kepemimpinan Pendidikan. Solo: Fairuz Media. Sa ud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Supriyanto, eko, et al.2009. Inovasi Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press Universitas Muhammadiyah Surakarta. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Wuryandani, Wuri et al. "Internalisasi Nilai Karakter Disiplin Melalui Penciptaan Iklim Kelas Yang Kondusif Di Sd Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Karakter No 2. 10