1. Pendahuluan. 1

dokumen-dokumen yang mirip
Kajian Pembuatan Karbon Aktif Batubara Sub-Bituminus (Coalite) dari PT Bukit Asam (Persero) Tbk untuk Memenuhi Spesifikasi Ekstraksi Logam Emas

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Mengapa Air Sangat Penting?

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT SINGKONG DENGAN MENGGUNAKAN FURNACE

STUDI PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TIGA JENIS ARANG PRODUK AGROFORESTRY DESA NGLANGGERAN, PATUK, GUNUNG KIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PENDAHULUAN

SUMARY EXECUTIVE OPTIMASI TEKNOLOGI AKTIVASI PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI KULIT KACANG TANAH (Arachis hypogaea) DENGAN AKTIVATOR ASAM SULFAT

BAB III METODE PENELITIAN. Ide Penelitian. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan Penelitian. Pelaksanaan Penelitian.

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN :

HASIL DAN PEMBAHASAN. = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam. AZT2.5 = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam +

Hafnida Hasni Harahap, Usman Malik, Rahmi Dewi

BAB III METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. meningkat. Peningkatan tersebut disebabkan karena banyak industri yang

Prarancangan Pabrik Karbon Aktif Grade Industri Dari Tempurung Kelapa dengan Kapasitas 4000 ton/tahun BAB I PENGANTAR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH BAHAN AKTIVATOR PADA PEMBUATAN KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA

PENGARUH JUMLAH UMPAN TERHADAP WAKTU TINGGAL DAN MUTU KARBON AKTIF DARI SEMIKOKAS AIR LAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013).

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KARAKTERISASI SEMI KOKAS DAN ANALISA BILANGAN IODIN PADA PEMBUATAN KARBON AKTIF TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN AKTIVASI H 2 0

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN AKTIVASI ARANG AKTIF BIJI ASAM JAWA (Tamarindus indica Linn.) MENGGUNAKAN AKTIVATOR H 3 PO 4 PADA PENYERAPAN LOGAM TIMBAL

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif

BAB III METODE PENELITIAN

ITM-05: PENGARUH TEMPERATUR PENGERINGAN PADA AKTIVASI ARANG TEMPURUNG KELAPA DENGAN ASAM KLORIDA DAN ASAM FOSFAT UNTUK PENYARINGAN AIR KERUH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba untuk penentuan daya serap dari arang aktif. Sampel buatan adalah larutan

HASIL DAN PEMBAHASAN y = x R 2 = Absorban

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

Jl. Soekarno Hatta, Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu, Telp Diterima 26 Oktober 2016, Disetujui 2 Desember 2016

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan adalah air bersih dan hygiene serta memenuhi syarat kesehatan yaitu air

I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X

PENGARUH WAKTU IRADIASI GELOMBANG MIKRO TERHADAP KUALITAS KARBON AKTIF DARI KAYU EUCALYPTUS PELLITA SEBAGAI ADSORBEN. Fitri, Rakhmawati Farma

HASIL DAN PEMBAHASAN. Analisis Struktur. Identifikasi Gugus Fungsi pada Serbuk Gergaji Kayu Campuran

ANALISIS SIFAT FISIS KERAMIK BERPORI BERBAHAN DEBU VULKANIK GUNUNG SINABUNG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Industri yang menghasilkan limbah logam berat banyak dijumpai saat ini.

No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 Semester I BAB I Prodi PT Boga BAB I MATERI

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Diagram konsumsi energi final per jenis (Sumber: Outlook energi Indonesia, 2013)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Temperatur terhadap Adsorbsi Karbon Aktif Berbentuk Pelet Untuk Aplikasi Filter Air

DAUR ULANG LIMBAH HASIL INDUSTRI GULA (AMPAS TEBU / BAGASSE) DENGAN PROSES KARBONISASI SEBAGAI ARANG AKTIF

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih

I. PENDAHULUAN. makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Akses terhadap air

Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri

RANCANG BANGUN TUNGKU PIROLISA UNTUK MEMBUAT KARBON AKTIF DENGAN BAHAN BAKU CANGKANG KELAPA SAWIT KAPASITAS 10 KG

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI MENJADI BRIKET SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PROSES KARBONISASI DAN NON-KARBONISASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu pada bulan September 2012

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMBUATAAN ARANG AKTIF DARI KULIT PISANG DENGAN AKTIVATOR KOH DAN APLIKASINYA TERHADAP ADSORPSI LOGAM Fe

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemanfaatan Kulit Singkong Sebagai Bahan Baku Karbon Aktif

Oleh RIO LATIFAN Pembimbing DIAH SUSANTI, ST., MT., P.hD. Surabaya, 11 Juli 2012

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2012 di Laboratorium. Fisika Material, Laboratorium Kimia Bio Massa,

BAB III METODE PENELITIAN

Jason Mandela's Lab Report

I. PENDAHULUAN. mengimpor minyak dari Timur Tengah (Antara News, 2011). Hal ini. mengakibatkan krisis energi yang sangat hebat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 L atar Belakang

PENGARUH SUHU, KONSENTRASI ZAT AKTIVATOR DAN WAKTU AKTIVASI TERHADAP DAYA SERAP KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KEMIRI

SKL 2 RINGKASAN MATERI. 1. Konsep mol dan Bagan Stoikiometri ( kelas X )

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Persiapan alat dan bahan. Meshing AAS. Kalsinasi + AAS. Pembuatan spesimen

I. PENDAHULUAN. Tanah merupakan salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam bidang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PASI NA R SI NO L SI IK LI A KA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Kerangka Penelitian Kerangka penelitian secara umum dijelaskan dalam diagram pada Gambar 3.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

I.1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan salah satu faktor rusaknya lingkungan yang akan berdampak pada makhluk hidup di sekitarnya.

ANALISIS GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR DENGAN MEDIA ABSORBSI KARBON AKTIF JENIS GAC DAN PAC

Studi Pemanfaatan Limbah Karbon Aktif sebagai Bahan Pengganti Agregat Halus pada Campuran Beton Ringan (Studi Kasus di PT PETRONIKA)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai selesai. Penelitian dilakukan

Pemanfaatan Limbah Biomassa Pertanian untuk Sumber Daya Selain Energi

UJICOBA PERALATAN PENYULINGAN MINYAK SEREH WANGI SISTEM UAP PADA IKM I N T I S A R I

BAB III. BAHAN DAN METODE

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DENGAN METODE AKTIVASI KIMIA

JURNAL REKAYASA PROSES. Kinetika Adsorpsi Nikel (II) dalam Larutan Aqueous dengan Karbon Aktif Arang Tempurung Kelapa

BAB III BAHAN, ALAT DAN CARA KERJA

Transkripsi:

Ethos (Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat): 139-148 EKSTRAKSI LOGAM EMAS/PERAK DARI LARUTAN BIJIH EMAS/PERAK DENGAN SISTEM PENYERAPAN MENGGUNAKAN KARBON AKTIF BATUBARA SUB-BITUMINUS (COALITE) 1 Solihin dan 2 Dono Guntoro 1,2 Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Unisba, Bandung e-mail: 1 solihintambangunisba@gmail.com Abstrak. Salah satu metoda dalam rangka penganekaragaman (diversifikasi) pemanfaatan batubara adalah dijadikan karbon aktif. Hal ini dapat dilakukan karena batubara merupakan suatu material yang unsur utamanya adalah karbon (C) yang sangat diperlukan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif, sebagaimana bahan baku lainnya seperti tulang, biji kopi, tempurung kelapa, serbuk gergaji, kulit kacang dan lain-lain.penelitian ini, mencoba membuat karbon aktif dengan bahan baku berasal dari batubara sub-bituminus yang telah dikarbonisasi (coalite). Coalite tersebut kemudian diaktifasi pada temperatur 900 0 C (secara bertahap) pada kondisi tanpa oksigen yang kemudian dialirkan uap air. Batubara hasil aktifasi tersebut kemudian dicoba digunakan sebagai media penyerap logam emas/perak dalam larutan bijih emas sianida (AuCN), yang pada industri pertambangan proses ini sering disebut carbon in leah (CIL). Mengingat pemakaian karbon aktif dalam industri yang sangat beragam dan telah diakui keandalannya, penelitian ini diharapkan memberikan hasil, antara lain sebagai berikut:1. Coalite yang telah dikarbonisasi, diharapkan dapat dijadikan bahan baku pembuatan karbon aktif. 2. Coalite setelah diaktifasi menjadi karbon aktif, diharapkan dapat digunakan sebagai media penyerap logam emas/perak, yang saat ini masih diimport. Dari penelitian ini, diharapkan dapat diketahui besaran optimum karbon aktif (gram), waktu penyerapan (jam) dan ukuran butir karbon aktif batubara (mesh). Untuk mengetahui kandungan emasnya, larutan kaya hasil pelindian dianalisis dengan spektrofotometri serapan atom (SSA). Setelah diketahui adanya penyerapan logam emas/perak terhadap butiran karbon aktif batubara baik sebelum ataupun setelah penyerapan, dilihat dengan scanning electron microscop (SEM). Keyword: karbon aktif, ekstraksi, coalite dan penyerapan 1. Pendahuluan Teknologi carbon in laech (CIL) dengan sistem pelindian menggunakan sianida (sianidasi) saat ini menjadi teknologi baku dalam pengolahan bijih emas. Pada awalnya, proses untuk memperoleh kembali (recovery) emas (Au) dan perak (Ag) dari bijihnya adalah dengan memanfaatkan sistem sementasi (pengendapan) serbuk seng (Zn), namun akhir-akhir ini proses konvensional tersebut sudah dianggap tidak efisien dan tidak selektif lagi, karena logam selain emas dan perak turut mengendap (Dayton, SH, 1987). Ketidak selektifan memperoleh kembali emas dengan pengendapan, saat ini perhatian tertuju pada sistem penyerapan (adsorpsi) menggunakan karbon aktif yang dalam ekstraksi emas dan perak pada proses pengalohan bahan galian tambang disebut carbon in laech. Karbon aktif pada proses CIL di atas, unsur utamanya dibentuk oleh karbon (C), sehingga bahan bakunya bisa digunakan batubara, hal ini karena batubara disusun oleh 139

140 Solihin, et al. komponen utama karbon (C) sebagaimana bahan baku karbon aktif lainnya seperti tulang, biji kopi, tempurung kelapa, serbuk gergaji, kulit kacang dan lain-lain. Batubara di Indonesia saat ini pemanfaatannya masih relatif terbatas, terutama hanya sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan bahan bakar pada industri semen, sedangkan menurut data Pusat Sumberdaya Geologi, Badan Geologi, KESDM (2014) sumberdayanya mencapai ± 124,80 milyar ton dan cadanganya mencapai ± 32,38 milyar ton. Dengan kondisi tersebut, maka penelitian ini mencoba membuat karbon aktif yang bahan bakunya berasal dari batubara sub-bituminus yang telah dikarbonisasi dan sering disebut coalite. Karbon aktif dengan bahan baku batubara tersebut kemudian digunakan untuk me-recovery (menyerap) logam emas dan perak dari bijihnya dalam bentuk larutan emas sianida (AuCN). Istilah yang umum untuk rumpun dari bahan yang mengandung karbon berlubang (berpori) disebut karbon aktif, tidak bisa diberikan ciri khusus dengan rumus yang berhubungan dengan struktur atau dengan analisis kimia (Mc. Daugall, G.J., 1991). Kemampu-serapan dari karbon aktif yang berfungsi sebagai adsorbate, sangat dipengaruhi oleh terbentuknya pori - pori dari arang padat setelah melalui proses karbonisasi dan aktifasi. Daya serap antara adsorbate terhadap zat atau bahan yang diserap sebagai adsorbent, selain dipengaruhi oleh struktur, ukuran dan jumlah pori dari tiap butir karbon aktif, juga dipengaruhi oleh besarnya ukuran butir (mesh) serta banyaknya (berat) karbon aktif. Struktur dan jumlah pori dari tiap butiran bubuk karbon aktif, diketahui sangat menentukan kemampu-serapan terhadap adsorbate, suatu saat struktur pori tersebut akan mengalami kejenuhan yang dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi absorbate dan lamanya waktu kontak antara adsorbate dengan adsorbent. 2. Metode Penelitian Metodologi penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis yaitu suatu pendekatan dimana setelah data diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan dan analisis dengan menggunakan rumus-rumus baku yang umum serta banyak digunakan. Untuk memudahkan memperoleh data yang akan digunakan, dibahas dan diolah maka metodologi penelitian yang dilakukan adalah sbb : a. Data sekunder, diperoleh dengan cara membaca buku referensi, jurnal, makalah hasil seminar atau hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik penelitian ini. b. Data primer, diperoleh dengan cara melakukan penelitian langsung di lapangan dan di laboratorium. Penelitian ini merupakan tahun pertama dari rencana dua tahun, sehingga sebagaimana diketahui dan dapat dilihat pada Gambar 2.1 Bagan Alir Proses Adsorpsi bahwa pada tahap pertama ditujukan untuk melakukan kajian terhadap pembuatan karbon aktif yang bahan bakunya berasal dari batubara dengan spesifikasi karbon aktif ditujukan untuk memenuhi karbon aktif sebagai media penyerap (adsorpbent) pada proses ekstraksi logam emas/perak dari bijihnya. Pada tahap ke dua atau tahun ke dua, setelah diperolehnya karbon aktif dengan bahan baku berasal dari batubara adalah mengkaji atau mencoba pemakaian karbon aktif batubara tersebut pada proses ekstraksi ISSN 1693-699X EISSN 2502-065X

Ekstraksi Logam Emas/Perak dari Larutan Bijih Emas/Perak 141 logam emas/perak dari bijihnya, yang prosedur atau tahapan pekerjaannya adalah sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.1. 3. Hasil dan Pembahasan Sebagaimana program atau rencana penelitian yang diusulkan ke Kementrian Ristek dan Dikti, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPKM), yang secara diagram alir dapat dilihat pada Gambar 2.1. Penelitian disetujui dan dilaksanakan dalam dua tahun, dengan target tahun pertama yang ingin dicapai adalah pengkajian pembuatan karbon aktif dengan spesifikasi diharapkan dapat memenuhi persyaratan sebagai media adsorpsi untuk ekstraksi logam emas/perak dari bijihnya. Sehingga oleh karena itu, dalam makalah penelitian tahun ke satu ini, dibatasi hanya pada penelitian pengkajian pembuatan karbon aktif batubara dengan spesifikasi karbon aktif batubara untuk ekstraksi logam emas/perak, sedangkan terhadap penelitian karbon aktif batubara yang digunakan dalam ekstraksi logam emas/perak dari bijihnya akan dilakukan di tahun ke dua berikutnya. Gambar 2.1 Diagram Alir Percobaan Adsorpsi Logam Emas/Perak dengan Pelaksanaan Tahun Ke 1 dan 2 Vol 4, No.1, Januari 2016

142 Solihin, et al. Sebagai langkah atau pekerjaan awal di tahap atau tahun ke 1 ini yang dilakukan adalah pengadaan bahan baku karbon aktif yaitu batubara semi kokas yang berasal dari P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Batubara ini juga merupakan bahan baku produk briket di P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim yang sering disebut coalite sehingga tidak perlu melakukan karbonisasi dan tinggal langsung melakukan aktifasi baik secara fisika maupun kimia. Ukuran bahan baku karbon aktif batubara coalite yang diperoleh dari P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan masih berukuran kasar berkisar 0,5 2 CM, sedangkan karbon aktif batubara untuk proses ektraksi logam emas/perak dari bijihnya dipersyaratkan mempunyai ukuran -10+16 Mesh (1 0,6 MM), sehingga oleh karenanya perlu adanya perlakuan pengecilan ukuran (communition). Selanjutnya terhadap produk ini, kemudian dilakukan aktifasi fisik dalam tungku (furnace) Carbolite yang dilengkapi dengan seperangkat alat pembangkit uap, thermo couple dan pengatur suhu (thermo start). Tahun Ke 1 dan 2 Pengontrol ph Larutan AuCN Butiran Karbon Aktif Batang Pengaduk Magnet Alat Pengaduk Magnet Otomatis Pengatur RPM 3. Hasil dan Pembahasan Gambar 2.2: Mekanisme Alat Adsorpsi Emas/ Perak Proses aktifasi fisik merupakan proses lanjutan dari karbonisasi agar pori-pori batubara (coalite) semakin terbuka. Reaksi aktifasi terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama berkurangnya keteraturan struktur karbon aktif akibat pemanasan, hasil ini membuka pori-pori yang masih tertutup. Tahap kedua yaitu karbon dari sistem ring aromatik mulai terbakar, yang menghasilkan keaktifan dan memperbanyak pori. Ada dua macam proses aktifasi yaitu aktifasi secara fisika dan aktifasi secara kimia. Aktifasi kimia biasanya dilakukan pada bahan dasar kayu. Pada cara aktifasi kimia bahan dasarnya direndam dengan bahan kimia seperti asam fospor, seng klorida, asam sulfat, potassium thicyanat, hidroksida dan karbonat dari logam alkali serta klorida dari potassium, kalsium dan magnesium. Bahan-bahan kimia tersebut dapat meluruhkan ISSN 1693-699X EISSN 2502-065X

Kehilangan Karbon Aktif (%) dan Nilai Iodin (mg/gram) Ekstraksi Logam Emas/Perak dari Larutan Bijih Emas/Perak 143 senyawa-senyawa organik yang ada dalam bahan baku. Setelah itu bahan baku karbon aktif diaktifkan dengan menggunakan aliran uap air atau gas lain seperti CO2 atau N2 pada suhu pemanasan 700o C sampai 1000o C. Sehingga seolah-olah proses karbonisasi dilakukan secara bersama-sama dengan proses aktifasi. Pada aktifasi fisika terjadi pemisahan antara proses karbonisasi dan proses aktifasi (Hassler, 1974). Proses aktifasi dengan steam menggunakan temperatur antara 700-1000 C tanpa oksigen, pada temperatur ini karbon sangat agresif dan akan mengurangi hasil oleh permukaan burn-off. Suatu kondisi proses aktifasi yang cocok akan menghasilkan jumlah pori yang banyak, sehingga total luas permukaan kisi-kisi (internal surface) akan meningkat dan tentu menambah daya serapnya. Pada percobaan ini, aktifasi dilakukan pada berbagai fraksi dengan kecepatan pemanasan secara bertahap yaitu 400 C per menit. Setelah mencapai temperatur 9000 C, kemudian diturunkan sehingga mencapai temperatur 2500 C. Waktu yang diperlukan untuk 1 siklus pemanasan adalah 8 jam. Dari proses preparasi conto batubara coalite digiling dan diayak sehingg diperoleh 5 (lima) fraksi ukuran butir yaitu -4 + 10Mesh, -10 + 16 Mesh, -16 + 28 Mesh, -28 + 48 Mesh dan -48 + 100 Mesh dengan berat masing-masing 100 gram, batubara ini siap untuk dilakukan aktifasi. Setelah dilakukan aktifasi fisik diperoleh karbon aktif batubara dengan nilai iodin dan persen kehilangan berat sebagaimana dapat dilihat pada Tabel dan Gambar 3.1 di bawah ini. Dengan melihat ukuran fraksi yang dihubungkan dengan presentase kehilangan berat dan setelah diuji nilai iodine number-nya, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel dan Gambar 3.1 di atas, dapat disimpulkan bahwa: Chart Title y = 53.934x + 223.19 R² = 0.9435-4 + 10-10 + 16-16 +28 y = 6.619x + 11.285 R² = 0.7431-28 + 48-48 +100 Kehilangan (%) 19.85 28.31 24.85 31.20 51.50 Nilai Iodin (mg/gram) 258.46 361.48 386.89 418.5 499.62 Gambar 3.1: Kurva Hasil Proses Aktifasi Fisik Coalite P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan pada Berbagai a. Batubara (coalite) yang berasal dari P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim cukup baik dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku karbon aktif, hal ini dapat dilihat dari nilai iodine yang relatif cukup besar yaitu 499,62, Vol 4, No.1, Januari 2016

Nilai Iodin (NI) {mg/gram} 144 Solihin, et al. sedangkan karbon aktif yang berasal dari tempurung kelapa produksi P.T. Brataco besarnya adalah 330,96 mg/gram. b. Karbon aktif dengan nilai iodine seperti di atas memiliki daya serap yang relatif cukup baik dan tidak kalah nilainya bila dibandingkan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa yang sekarang banyak digunakan dalam industri. c. ukuran butir bahan baku karbon aktif (batubara/coalite) sangat berpengaruh terhadap kenaikan nilai iodine number yang mana fraksi makin halus memberikan nilai iodine yang makin besar tetapi perlu diperhatikan bahwa fraksi yang makin halus akan menaikkan juga presen kehilangan berat karbon saat proses aktifasi. Sebagaimana diketahui bahwa karbon aktif import yang umum digunakan dalam proses CIL mempunyai ukuran butir dengan fraksi -10+16 mesh serta nilai iodin pada kisaran 1.050-1.150 mg/gr. Bila dilihat pada Gambar 3.1 tersebut di atas, untuk fraksi -10+16 mesh mempunyai nilai iodine 386,89 mg/gr, maka oleh karena itu masih cukup jauh dari target yang dipersyaratkan. Dalam upaya pencapaian nilai iodin pada kisaran 1.050-1.150 mg/gr sesuai dengan yang direkomendasikan karbon aktif untuk proses CIL, maka dalam penelitian ini aktifasi dicoba divariasikan antara fraksi terhadap waktu pemanasan puncak 60, 120 dan 180 menit, serta temperatur pemanasan puncak 700, 800 dan 9000 C, kemudian diuji nilai iodinnya sehingga hasilnya dapat dilihat pada Tabel dan Gambar 3.2 sampai dengan 3.4 di bawah ini. Chart Title y = 47.374x + 143.06 y = 34.808x 39.216x R² = 0.8876 + 143.16 114.11 R² = 0.8873 0.9513-4 + 10-10 + 16-16 +28-28 + 48-48 +100 NI, T 700, t 60 158.46 261.48 315.31 329.18 361.48 NI, T 700, t 120 182.13 211.76 225.71 312.58 305.76 NI, T 700, t 180 150.06 201.56 215.31 289.88 301.98 Gambar 3.2: Kurva Pengaruh Ukuran Butir Terhadap Nilai Iodine dari Karbon Aktif Hasil Proses Aktifasi Fisik dengan Kondisi Temperatur Pemanasan 7000C dan Waktu Pemanasan t = 60, 120 dan 180 Menit ISSN 1693-699X EISSN 2502-065X

Nilai Iodin (NI) {mg/gram} Nilai Iodin (NI) {mg/gram} Ekstraksi Logam Emas/Perak dari Larutan Bijih Emas/Perak 145 Chart Title y = 67.759x + 103.76 y = 54.421x 56.679x R² = 0.9282 + 120.44 103.06 R² = 0.9375 0.9402-4 + 10-10 + 16-16 +28-28 + 48-48 +100 NI, T 800, t 60 208.46 198.48 297.57 368.32 462.33 NI, T 800, t 120 198.98 200.55 269.15 356.98 392.87 NI, T 800, t 180 178.46 188.78 287.87 308.22 402.13 Gambar 3.3: Kurva Pengaruh Ukuran Butir Terhadap Nilai Iodine dari Karbon Aktif Hasil Proses Aktifasi Fisik dengan Kondisi Temperatur Pemanasan 8000C dan Waktu Pemanasan t = 60, 120 dan 180 Menit Chart Title y = 59.78x + 170.9 72.306x 81.588 y = 64.727x R² = 0.9395 + 99.478 R² 0.935 R² = 0.8565-4 + 10-10 + 16-16 +28-28 + 48-48 +100 NI, T 900, t 60 258.46 271.48 329.03 398.32 493.94 NI, T 900, t 120 170.98 231.56 245.76 391.88 452.35 NI, T 900, t 180 198.46 221.99 223.80 381.91 442.14 Gambar 3.4 Kurva Pengaruh Ukuran Butir Terhadap Nilai Iodine dari Karbon Aktif Hasil Proses Aktifasi Fisik dengan Kondisi Temperatur Pemanasan 9000C dan Waktu Pemanasan t = 60, 120 dan 180 Menit Bila dilihat dan dibandingkan antara Tabel atau Gambar 3.2 sampai dengan 3.4 dapat disimpulkan bahwa: 1) Pengaruh fraksi ukuran butir terhadap nilai iodine dari karbon aktif hasil proses aktifasi fisik sangat signifikan hal ini dapat dilihat bahwa makin halus ukuran butir bahan karbon aktif (coalite) nilai iodin makin besar, hal ini dapat dilihat dari kurva yang semakin naik. Vol 4, No.1, Januari 2016

146 Solihin, et al. 2) Di antara waktu pemanasan dan temperatur dari masing-masing fraksi, nilai iodin terbesar diperoleh pada temperatur pemanasan 9000 C dengan waktu pemanasan puncak ditahan selama t = 60 menit, meskipun tetap nilai iodin yang diperoleh tidak bias mencapai target karbon aktif yang dipersyaratkan untuk proses CIL sebagaimana karbon aktif import. Dengan kondisi sebagaimana dijelaskan di atas, maka untuk mensiasati hal tersebut, kami memperoleh informasi dari hasil penelitian yang berbeda dengan bahan baku yang sama yaitu batubara (coalite) dari P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan meskipun tidak bisa mencapai nilai iodin kisaran 1.050-1.150 mg/gr namun nilainya sudah mendekati yaitu antara 765 sampai dengan 1.004 mg/gr. Sebagai gambaran, bagaimana kondisi karbon aktif baik sebelum dan setelah proses aktifasi yang siap digunakan untuk proses CIL, pada Gambar 3.5 di bawah ini dapat dilihat hasil foto hasil scanning electron microscop (SEM). 3.5 - a Foto SEM Coalite Kasar, Pembesaran 1000 X, Pori Masih Diselimuti Tar & Diisi Bahan Lain yang Belum Hilang Saat Karbonisasi 3.5 b Coalite Sedang & Halus, Pembesaran 1000 X Lubang Pori Nampak Agak Jelas, Tetapi Masih Diselimuti Tar & Diisi Bahan Lain Yang Belum Hilang Saat Karbonisasi ISSN 1693-699X EISSN 2502-065X

Ekstraksi Logam Emas/Perak dari Larutan Bijih Emas/Perak 147 Lubang pori mulai terbuka tetapi masih ada pengotor, Penyebaran pori = 30%, Ukuran pori = 25-35 µm Lubang pori mulai terbuka, Penyebaran pori = 40%, Ukuran pori = 15 20 µm 3.5 c Karbon Aktif Kasar & Sedang, Pembesaran 1000 X 3.5 - d Karbon Aktif Halus, Pembesaran 1000 & 2000 X, Lubang pori sudah terbuka & bersih (tanpa tar & bahan lain), Penyebaran pori = 65%, Ukuran pori = 2 7 µm, Siap Digunakan untuk Proses CIL Vol 4, No.1, Januari 2016

148 Solihin, et al. 4. Kesimpulan Dari hasil pengamatan, percobaan terhadap penelitian ini dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: 1) Batubara (coalite) yang berasal dari P.T. Bukit Asam, Tanjung Enim cukup baik dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku karbon aktif, hal ini dapat dilihat dari nilai iodine yang relatif cukup besar yaitu 499,62, sedangkan karbon aktif yang berasal dari tempurung kelapa produksi P.T. Brataco besarnya adalah 330,96 mg/gram. 2) Karbon aktif dengan nilai iodine seperti di atas memiliki daya serap yang relatif cukup baik dan tidak kalah nilainya bila dibandingkan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa yang sekarang banyak digunakan dalam industri. 3) ukuran butir bahan baku karbon aktif (batubara/coalite) sangat berpengaruh terhadap kenaikan nilai iodine number yang mana fraksi makin halus memberikan nilai iodine yang makin besar tetapi perlu diperhatikan bahwa fraksi yang makin halus akan menaikkan juga presen kehilangan berat karbon saat proses aktifasi Di antara waktu pemanasan dan temperatur dari masing-masing fraksi, nilai iodin terbesar diperoleh pada temperatur pemanasan 9000 C dengan waktu pemanasan puncak ditahan selama t = 60 menit, meskipun tetap nilai iodin yang diperoleh tidak bias mencapai target karbon aktif yang dipersyaratkan untuk proses CIL sebagaimana karbon aktif import. Daftar Pustaka Dayton, S.H, 1987, Gold Processing Update, E& Mj, V. 188. No. 6 (June) pp. 25-29 Mc. Dougall, G.J, 1991, The Phisical Nature and Manufacture of Activated Carbon, J S. Afr. Inst. Min. Metall, Vol. 91, No. 4 (April), pp. 109-12. Milansmisek, 1970, Manufacture of active carbon, Applications of active carbon Chapters 2 and 5 in Active Carbon Milan Smisek and Slovoj Cerny, Editors Elsevier Amsterdam-London-New York pp 42 & 256-257. Rumbino, Yusuf, 2002, Kajian Kemungkinan Penggunaan Karbon Aktif Batubara Bayah Sebagai Media Penyerap Logam Cd, Cu dan Mn, Tesis Bidang Khusus Teknologi Pemanfaatan Batubara, Program Pasca Sarjana Rekayasa Pertambangan, Institut Teknologi Bandung Van Vliet, B.M., 1985, Comparative Efficacy of extractive and thermal regeneration of activated carbon, Proceeding of the 14th IWSA, International Congress, Zurich. Calvin Karo Kari Gurusinga, 2013, Peta Sebaran Lokasi Batubara Indonesia, PSDG, Badan Geologi, KESDM. AWWA B 604 (American Water Works Association B604-12 Granular Activated Carbon edition 2012) ISSN 1693-699X EISSN 2502-065X