PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN 1 Menerangkan Pengertian Perubahan UP Memperkirakan Daya Serap Anggaran Jenis yang Bisa Dibayarkan dengan UP selama Satu Tahun Anggaran Menghitung Perubahan UP yang Dibutuhkan Menghasilkan Persetujuan Perubahan UP Menyiapkan Dokumen Lampiran Permintaan Pembayaran Perubahan UP
PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN 1 Menerangkan Pengertian UP Normal Menyebutkan Dasar Hukum Penarikan UP Normal Mengidentifikasi Jumlah Pagu dan Sumber Dana dalam DIPA Menguraikan Alokasi Pagu Kegiatan dan Output dalam DIPA Menghitung Pagu Jenis yang Bisa Dibayarkan dengan UP Menghitung Besaran UP yang Diajukan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 5
Uraian dan Contoh Pengertian Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adalah uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), diberikan kepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional kantor seharihari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPPUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang berisi permintaan pembayaran Uang Persediaan (UP). Uang Persediaan Normal yang dimaksud dalam modul ini adalah UP yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran satuan kerja pada awal Tahun Anggaran, setelah diterimanya dokumen pelaksanaan anggaran DIPA, diterbitkannya surat keputusan pejabat pengelola perbendaharaan oleh KPA, dan disusunnya rencana kebutuhan UP untuk periode satu bulan. Kata Normal penyusun pergunakan sematamata untuk memudahkan pembedaan dengan jenisjenis UP yang lain. Kepada setiap satker dapat diberikan Uang Persediaan. Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, sebelum diberlakukannya ketentuan dan/atau dilakukannya pengangkatan pejabat fungsional Bendahara, menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya. Uang Persediaan digunakan oleh Bendahara Pengeluaran untuk membayar tagihan atas belanja negara yang bernilai sampai dengan Rp50 juta (lima puluh juta rupiah) perbukti pembelian/kuitansi/bukti pembayaran. Namun demikian, Bendahara Pengeluaran diperkenankan membayar tagihan yang bernilai diatas Rp50 juta, antara lain untuk pembayaran honorariun dan biaya perjalanan dinas. Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, kepala satker dapat menunjuk Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP). Dalam pelaksanaan tugasnya, BPP membuat laporan pertanggungjawaban dan mengirimkannya kepada Bendahara Pengeluaran. Pembayaran dengan UP oleh Bendahara Pengeluaran atau BPP kepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa dapat melebihi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) setelah mendapat persetujuan Menteri Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 6
Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan. Pada setiap hari kerja, uang tunai yang berasal dari UP pada brankas Bendahara Pengeluaran atau BPP, tidak boleh lebih dari Rp50 juta (lima puluh juta rupiah). Bendahara Pengeluaran melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA. Penggantian UP dilakukan apabila UP telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Untuk Bendahara Pengeluaran yang dibantu oleh beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) harus melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masingmasing BPP. Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui Bendahara Pengeluaran, apabila UP yang dikelolanya telahdipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Dasar Hukum Penarikan UP Normal oleh satuan kerja K/L dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dalam peratura peraturan dibawah ini. 1) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 Cara Perhitungan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPPUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang berisi permintaan pembayaran Uang Persediaan (UP). Uang Persediaan Normal yang dimaksud dalam modul ini adalah UP yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran satuan kerja pada awal Tahun Anggaran, setelah diterimanya dokumen pelaksanaan anggaran DIPA, diterbitkannya surat keputusan pejabat pengelola perbendaharaan oleh KPA, dan disusunnya rencana kebutuhan UP untuk periode satu bulan. Kata Normal penyusun pergunakan sematamata untuk memudahkan pembedaan dengan jenisjenis UP yang lain. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 7
Kepada setiap satker dapat diberikan Uang Persediaan. Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, sebelum diberlakukannya ketentuan dan/atau dilakukannya pengangkatan pejabat fungsional Bendahara, menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya. Uang Persediaan digunakan oleh Bendahara Pengeluaran untuk membayar tagihan atas belanja negara yang bernilai sampai dengan Rp50 juta (lima puluh juta rupiah) perbukti pembelian/kuitansi/bukti pembayaran. Namun demikian, Bendahara Pengeluaran diperkenankan membayar tagihan yang bernilai diatas Rp50 juta, antara lain untuk pembayaran honorariun dan biaya perjalanan dinas. Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, kepala satker dapat menunjuk Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP). Dalam pelaksanaan tugasnya,bppmembuat laporan pertanggungjawaban dan mengirimkannya kepada Bendahara Pengeluaran. Pembayaran dengan UP oleh Bendahara Pengeluaran atau BPPkepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa dapat melebihi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) setelahmendapat persetujuan Menteri Keuangan c.q. DirekturJenderal Perbendaharaan. Pada setiap hari kerja, uang tunai yang berasal dari UP pada brankas Bendahara Pengeluaran atau BPP, tidak boleh lebih dari Rp50 juta (lima puluh juta rupiah). Bendahara Pengeluaran melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA. Penggantian UP dilakukan apabila UP telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Untuk Bendahara Pengeluaran yang dibantu oleh beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) harus melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masingmasing BPP.Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui Bendahara Pengeluaran, apabila UP yang dikelolanya telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Contoh 1.1 Diasumsikan suatu satker mempunyai data pagu anggaran dalam DIPA/POK seperti dibawah ini, buatlah perhitungan jumlah UP Normal yang dapat ditarik oleh bendahara pengeluaran! Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 8
Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 030943 KTR PERTANAHAN BABAT Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 828,000 5.275,000 3.780,000 Smbr Dana 056.01.08 Prog. Pertanahan Nasional 828,000 5,275,000 3.780,000 1978 Penertiban Tanah Negara 828,000 5,275,000 3.780,000 1978.994 Layanan Perkantoran 828,000 5,275,000 001 Gaji dan Tunjangan 828,000 5111 Gaji dan Tunjangan 668,000 5121 Honorarium 5122 Lembur 124,000 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 5,275,000 A PERLTN/PERLENG KAPAN 674,000 5211 Blj. Barang Operasional 674,000 B LANGGANAN DAYA JASA 865,000 5221 Jasa 865,000 C PERAWATAN GEDUNG 1.342,000 5231 Pemeliharaan 1.342,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.139,000 5231 Pemeliharaan 1.139,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 9
E KOORD/PENGAWA SAN 1.255,000 5241 Perjalanan 1.255,000 1978.007 Pemeriksaan Tanah 3.780,000 010 Sarana Prasarana 3.780,000 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 3.780,000 Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan Dari contoh pada DIPA diatas, pagu jenis belanja barang (52) dan belanja modal (53) yang dapat dibayarkan dengan UP adalah sebagai berikut: 1. Jenis Barang a. BKPK 5211 Rp 674.000.000 b. BKPK 5221 Rp 865.000.000 c. BKPK 5231 (C) Rp1.342.000.000 d. BKPK 5231 (D) Rp1.139.000.000 e. BKPK 5241 Rp1.255.000.000 + Jumlah Rp5.275.000.000 2. Jenis Modal a. BKPK 5321 Rp3.780.000.000 Jumlah Total Rp9.055.000.000 Dari perhitungan diatas, ternyata jumlah total pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP sebesar Rp9.055.000.000. Jumlah tersebut menunjukkan bendahara pengeluaran harus menggunakan ketentuan penarikan UP yang keempat, yaitu maksimal Rp500 juta untuk pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP diatas Rp6 miliar. Dalam praktik, meskipun ada batas maksimal besaran UP, tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan satker masingmasing. Pada contoh diatas, sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 pasal 46 ayat (2), bendahara pengeluaran satuan kerja dimungkinkan menarik UP sebesar maksimal Rp500 juta, dengan mempertimbangkan rencana penggunaan untuk belanja barang (52) dan belanja modal (53) perbulan dalam satu Tahun Anggaran. Meskipun demikian, jumlah UP yang diajukan tetap harus mempertimbangkan kebutuhan riil dana UP yang akan digunakan untuk pembayaran transaksi. Sebagai contoh, dalam jenis belanja modal terdapat Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 10
pagu sebesar Rp3.780.000.000. Penggunaan dana UP untuk belanja modal tersebut, harus diidentifikasi jumlah nominal yang akan dibayarkan oleh bendahara pengeluaran, apakah tidak terdapat pembayaran diatas Rp50 juta, sebagai batas maksimal pembayaran melalui UP yang harus dibayarkan melalui pembayaran langsung (LS). Penyiapan Dokumen Permintaan Pembayaran Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh bendahara pengeluaran, adalah menyiapkan dokumen lampiran permintaan pembayaran Uang Persediaan (Normal) yang dipersyaratkanyaitu antara lain daftar perhitungan kebutuhan UP sesuai pasal 50 ayat (1) PMK 190/PMK.05/2012 (contoh formulir terlampir). Latihan a. Latihan 1.1 Sebuah satuan kerja diasumsikan mempunyai DIPA/POK dengan pagu seperti dibawah ini, hitunglah jumlah UP Normal yang dapat ditarik oleh bendahara pengeluaran satker tersebut! Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 321456 BALAI POM MALANG Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 1.254,000 9.480,000 1.620,000 Smbr Dana 051.01.03 Pgwsn. Obat & Makanan 1.254,000 9,480,000 1.620,000 1971 Pmriksn. Obat & Makanan 1.254,000 9,480,000 1.620,000 1971.994 Layanan Perkantoran 001 Gaji dan Tunjangan 1.254,000 9,480,000 1.254,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 11
5111 Gaji dan Tunjangan 5121 Honorarium 978,000 140,000 5122 Lembur 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 9,480,000 A PERLTN/PERLE NGKAPAN 1,624,000 5211 Blj. Barang Operasional 1,624,000 B LANGGANAN DAYA JASA 1,875,000 5221 Jasa 1,875,000 C PERAWATAN GEDUNG 2.382,000 5231 Pemeliharaan 2.382,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.169,000 5231 Pemeliharaan 1.169,000 E KOORD/PENGA WASAN 2.430,000 5241 Perjalanan 1971.008 Pemeriksaan Obat 010 Sarana Prasarana 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 1971.009 Pemeriksaan Makanan 010 Sarana Prasarana 2.430,000 720,000 720,000 720,000 900,000 900,000 5321 Blj. Peralatan dan 900,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 12
Mesin Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan b. Latihan 1.2 Dengan menggunakan contoh formulir terlampir, susunlah perhitungan kebutuhan UP sebagai dokumen lampiran permintaan pembayaran UP (Normal)! c. Latihan 1.3 Dari hasil perhitungan pada latihan 1.2, coba jelaskan pola kebutuhan dana UP satker tersebut, dari sisi jumlah perbulan dan selisih antarbulan dalam satu tahun anggaran. d. Latihan 1.4 Berdasarkan jawaban latihan 1.2 dan 1.3, coba perkirakan besaran UP (Normal) yang seharusnya diajukan oleh bendahara pengeluaran satker tersebut! e. Latihan 1.5 Tuliskan dokumen apa saja yang harus dilampirkan/disiapkan oleh bendahara pengeluaran dalam pengajuan SPPUP Normal! Perubahan Uang Persediaan a. Pengertian Perubahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut PUP adalah uang muka kerja dengan jumlah melebihi rumus/formula UP Normal, yang bersifat daur ulang (revolving), dan diberikan kepada bendahara pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional kantor seharihari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Dalam pasal 46 ayat (3) PMK 190/PMK.05/2012 dinyatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaanatas permintaan KPA, dapat memberikan persetujuan UP melampaui besaran Uang Persediaan (UP) Normal dengan mempertimbangkan: 1) frekuensi penggantian UP tahun yang lalu lebih dari ratarata 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan selama 1 (satu) tahun, 2) perhitungan kebutuhan penggunaan UP dalam 1 (satu)bulan melampaui besaran UP. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 13
b. Dasar Hukum Penarikan UP Perubahanl oleh bendahara pengeluaran satuan kerja K/L dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dalam peraturanperatuan dibawah ini. 1) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 c. Cara Perhitungan Besaran Perubahan UP yang dapat diajukan oleh satuan kerja K/L, tidak diatur secara khusus oleh Menteri Keuangan, melainkan diserahkan kepada masingmasing satker untuk menghitung sendiri. Bagi satker yang memiliki pagu DIPA cukup besar (diatas Rp6M) dan jumlah pagu tersebut direncanakan akan dibayarkan dengan UP, maka satker tersebut dapat mengajukan Perubahan UP melebihi UP (Normal) sesuai kebutuhan dan besar pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP. Perubahan UP ini mempunyai karakteristik sama dengan UP Normal, yang harus dipertanggungjawabkan setelah realisasi minimal sebesar 50% setiap bulan, sepanjang satu tahun anggaran, serta bersifat revolving. Sehingga, jika suatu satker telah mendapatkan persetujuan Perubahan UP diatas batas maksimal UP Normal, maka setiap bulan daya serap realisasi uang persediaannya lebih besar dari UP Normal. d. Contoh 2.1 Diasumsikan suatu satker mempunyai data pagu anggaran dalam DIPA/POK seperti dibawah ini, buatlah perhitungan jumlah Perubahan UP yang dapat diajukan oleh bendahara pengeluaran: Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 030943 KTR PERTANAHANBAB AT Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 828,000 5.275,000 3.780,000 Smbr Dana 056.01.08 Prog. Pertanahan Nasional 828,000 5,275,000 3.780,000 1978 Penertiban Tanah Negara 828,000 5,275,000 3.780,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 14
1978.994 Layanan Perkantoran 828,000 5,275,000 001 Gaji dan Tunjangan 828,000 5111 Gaji dan Tunjangan 668,000 5121 Honorarium 124,000 5122 Lembur 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 5,275,000 A PERLTN/PERLENG KAPAN 674,000 5211 Blj. Barang Operasional 674,000 B LANGGANAN DAYA JASA 865,000 5221 Jasa 865,000 C PERAWATAN GEDUNG 1.342,000 5231 Pemeliharaan 1.342,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.139,000 5231 Pemeliharaan 1.139,000 E KOORD/PENGAWA SAN 1.255,000 5241 Perjalanan 1.255,000 1978.007 Pemeriksaan Tanah 3.780,000 010 Sarana Prasarana 3.780,000 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 3.780,000 Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 15
Dari contoh pada DIPA/POK diatas, pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP adalah sebagai berikut: 1. Jenis Barang: a. BKPK 5211 Rp 674.000.000 b. BKPK 5221 Rp 865.000.000 c. BKPK 5231 (C) Rp1.342.000.000 d. BKPK 5231 (D) Rp1.139.000.000 e. BKPK 5241 Rp1.255.000.000 + Jumlah Rp5.275.000.000 2. Jenis Modal: a. BKPK 5321 Rp3.780.000.000 Jumlah Total Rp9.055.000.000 Dari perhitungan diatas, ternyata jumlah total jenis belanja barang (52) dan belanja modal (53) yang dapat dibayarkan dengan UP sebesar Rp9.055.000.000. Dari jumlah tersebut, jika menggunakan rumus/formula UP Normal, bendahara pengeluaran satker memperoleh UP sebesar maksimal Rp500 juta. Dengan asumsi pengajuan periode revolvingsatu bulan sekali, maka penyerapan maksimal dana DIPA dengan UP Normal hanya sebesar 6 miliar (Rp500 juta x 12 bulan). Akan tetapi, dengan perubahan UP, bendahara pengeluaran satker dapat mengajukan UP lebih besar dari Rp500 juta. Hal ini dikarenakan jumlah total pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP cukup besar, yaitu Rp9.055.000.000. Apabila seluruh pagu tersebut seluruhnya akan dibayarkan dengan UP, maka bendahara pengeluaran harus menarik UP sebesar kurang lebih Rp754 juta (Rp9.055.000.000 dibagi 12 bulan). Dengan kata lain, UP Normal harus dirubah dari Rp500 juta menjadi Rp754 juta perbulan, selama 12 bulan dalam satu TA. Meskipun demikian, dalam praktik, besaran Perubahan UP yang diajukan bendahara pengeluaran satker, disesuaikan dengan kebutuhan dan daya serap yang tercantum dalam RPD serta kesesuaian jenis dan nominal belanja modal dimaksud, apakah bisa dibayarkan dengan UP atau tidak (harus dengan pembayaran langsung/ls). Dalam hal ini, akan terlihat dalam rincian rencana penggunaan dana UP yang disusun bendahara pengeluaran, khususnya untuk jenis belanja modal. e. Penyiapan Permintaan Pembayaran Untuk mendapatkan pembayaran Perubahan UP dari KPPN, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) satuan kerja K/L harus menyiapkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dengan lampiran sebagai berikut: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 16
1) SPP (form A). 2) Surat Pernyataan dari KPA. 3) Rincian Kebutuhan Dana UP. 4) Surat Persetujuan Kepala Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat. Rangkuman Uang Persediaan Normal dapat diartikan sebagai uang muka kerja yang diberikan oleh KPPN selaku Kuasa BUN di daerah, kepada satuan kerja K/L melalui bendahara pengeluaran, yang diperuntukkan untuk membiaya belanja satker dengan nilai sampai dengan Rp50 juta. UP ini diberikan setelah satker K/L tersebut menerima DIPA. Besaran UP Normal yang diajukan oleh satuan kerja K/L untuk pertama kali setelah menerima DIPA adalah: 1) Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP sampaidengan Rp900.000.000 (sembilan ratus juta rupiah). 2) Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atas Rp900.000.000 (sembilan ratus juta rupiah) sampai dengan Rp2.400.000.000 (dua miliar empat ratus jutarupiah). 3) Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atas Rp2.400.000.000 (dua miliar empat ratus juta rupiah) sampai dengan Rp6.000.000.000 (enam miliar rupiah). 4) Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atasrp6.000.000.000 (enam miliar rupiah). Perubahan UP diberikan kepada satuan kerja K/L yang mempunyai pagu DIPA lebih besar dari pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP. Perubahan UP ini mempunyai karakter sama dengan UP Normal yang bersifat revolving sepanjang satu tahun anggaran, sehingga daya serap tiap periodenya/bulan minimal 50%. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas permintaan KPA, dapat memberikan persetujuan UP melampaui besaran Uang Persediaan (UP) Normal dengan mempertimbangkan: a. frekuensi penggantian UP tahun yang lalu lebih dari ratarata 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan selama 1 (satu) tahun, b. perhitungan kebutuhan penggunaan UP dalam 1 (satu)bulan melampaui besaran UP. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 17