PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN

TAMBAHAN UANG PERSEDIAAN

PENGELOLAAN UANG PERSEDIAAN SUMBER DANA PNBP

Peraturan Menteri Keuangan. Nomor 190/PMK.05/2012 tentang TATA CARA PEMBAYARAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PENYIAPAN DOKUMEN PENGGANTIAN UANG PERSEDIAAN REVOLVING

PENGGANTIAN UANG PERSEDIAAN

2016, No dari Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia; Mengingat : 1. Undang-Undang

PELAKSANAAN PENGELOLAAN UANG PERSEDIAAN SUMBER DANA PNBP

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIANOMOR 277/PMK.05/2014TENTANG RENCANA PENARIKAN DANA, RENCANA PENERIMAAN DANA, DAN PERENCANAAN KAS

PENGELOLAAN UANG PERSEDIAAN SUMBER DANA PINJAMAN LUAR NEGERI

GAMBARAN UMUM PEMBUKUAN

PERCEPATAN PELAKSANAAN ANGGARAN DAN PELAPORAN DANA DEKONSENTRASI

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PMK.02/2015 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017 (Lembaran Negara Republik Indon

2 1. Dana Operasional Menteri/Pimpinan Lembaga yang selanjutnya disebut dengan Dana Operasional adalah dana yang disediakan bagi Menteri/Pimpinan Lemb

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

228/PMK.05/2010 MEKANISME PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ATAS PAJAK DITANGGUNG PEMERINTAH

BERITA NEGARA. No.444, 2013 KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI. Kuangan Negara. Ketenagakerjaan. Ketransmigrasian. Pengelolaan. Pedoman.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SISTEM PENGELUARAN NEGARA

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Pengembangan Sumber Daya Air (PUSAIR). Dalam pelaksanaan kerja praktek

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN RENCANA PENARIKAN DANA BULANAN DAN RENCANA PENERIMAAN DANA

2015, No penetapan pejabat perbendaharaan dan mekanisme pengujian keuangan lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; d. bahwa berdasa

M O N E. LANGKAH STRATEGI PELAKSANAAN ANGGARAN Jakarta, 2017 DIREKTORAT JENDERAL PENGEMBANGAN DAERAH TERTENTU KPPN JAKARTA VI

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : P.37/Menlhk-Setjen/2015 TENTANG

BAHAN AJAR Pengendalian Pelaksanaan Aktivitas

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

ANGGARAN PENGADILAN MAUPUN UNIT PELAKSANA TEKNIS SERTA LAPORAN KEUANGANNYA TAHUN 2011

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 268/PMK.05/2014

2017, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pembayaran Tunjangan Kinerja Pegawai pada Kementerian Negara/Lembaga; Menging

Metode Pembayaran Tagihan Negara

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 44 /PMK.05/2009 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 130/PMK.05/2010 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

PENGELOLAAN UANG PERSEDIAAN SUMBER DANA PHLN

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 162/PMK.05/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PMK.05/2011 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.349, 2010 KEMENTERIAN KEUANGAN. Fasilitas Likuiditas. Pembiayaan Perumahan. Pedoman.

2017, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuang

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

1 of 6 18/12/ :41

LAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA BELANJA SATUAN KERJA MELALUI KPPN UNTUK BULAN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 (dalam rupiah)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang TATA CARA PEMBAYARAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 162/PMK.05/2013 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

PENCAIRAN DANA. B. Standar Kompetensi Memahami tata cara pelaksanaan pencairan dana melalaui KPPN.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA,

PANDUAN ADMINISTRASI KEUANGAN APBN SATKER DINAS KETAHANAN PANGAN PROVINSI JAWA TENGAH TA

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.77/MENHUT-II/2014 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

MENTER!KEUANGAN REPUBUK INDONESIA SALINAN

BERITA DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2014 NOMOR SERI F NOMOR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

POKOK-POKOK PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 10/PMK.02/2017 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TA 2017

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 117/PMK.07/2010 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2017 NOMOR : SP DIPA /2017

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Dana Belanja Pensiun. PT. Taspen. Prosedur.

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.284, 2010 KEMENETERIAN KEUANGAN. Tunjangan Profesi Guru. Daerah. Pedoman.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA BELANJA SATUAN KERJA MELALUI KPPN DAN BUN SEMESTER I TAHUN 2016 (dalam rupiah)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL POLITIK DAN PEMERINTAHAN UMUM BOGOR, 1 FEBRUARI 2016

LANDASAN HUKUM KEUANGAN DANA DEKONSENTRASI

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 92/PMK.05/2011 TENTANG RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN SERTA PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN LAYANAN UMUM

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Me ne ra pka n Ta ta Ca ra Pe mbukua n Da n SP2D UP. Me ne ra pka n Ta ta Ca ra Pe mbukua n SP2D LS. Me ne ra pka n Ta ta Ca ra Pe mbukua n SP2D GUP

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Anggaran. Rehabilitasi. Rekonstruksi. Nanggroe Aceh Darussalam. Pedoman.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 71/PMK.07/2011 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 83/PMK.05/2008 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 269/PMK.05/2014 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA BELANJA SATUAN KERJA MELALUI KPPN DAN BUN UNTUK BULAN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2017 (dalam rupiah)

Transkripsi:

PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN 1 Menerangkan Pengertian Perubahan UP Memperkirakan Daya Serap Anggaran Jenis yang Bisa Dibayarkan dengan UP selama Satu Tahun Anggaran Menghitung Perubahan UP yang Dibutuhkan Menghasilkan Persetujuan Perubahan UP Menyiapkan Dokumen Lampiran Permintaan Pembayaran Perubahan UP

PERHITUNGAN UANG PERSEDIAAN 1 Menerangkan Pengertian UP Normal Menyebutkan Dasar Hukum Penarikan UP Normal Mengidentifikasi Jumlah Pagu dan Sumber Dana dalam DIPA Menguraikan Alokasi Pagu Kegiatan dan Output dalam DIPA Menghitung Pagu Jenis yang Bisa Dibayarkan dengan UP Menghitung Besaran UP yang Diajukan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 5

Uraian dan Contoh Pengertian Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adalah uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), diberikan kepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional kantor seharihari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPPUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang berisi permintaan pembayaran Uang Persediaan (UP). Uang Persediaan Normal yang dimaksud dalam modul ini adalah UP yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran satuan kerja pada awal Tahun Anggaran, setelah diterimanya dokumen pelaksanaan anggaran DIPA, diterbitkannya surat keputusan pejabat pengelola perbendaharaan oleh KPA, dan disusunnya rencana kebutuhan UP untuk periode satu bulan. Kata Normal penyusun pergunakan sematamata untuk memudahkan pembedaan dengan jenisjenis UP yang lain. Kepada setiap satker dapat diberikan Uang Persediaan. Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, sebelum diberlakukannya ketentuan dan/atau dilakukannya pengangkatan pejabat fungsional Bendahara, menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya. Uang Persediaan digunakan oleh Bendahara Pengeluaran untuk membayar tagihan atas belanja negara yang bernilai sampai dengan Rp50 juta (lima puluh juta rupiah) perbukti pembelian/kuitansi/bukti pembayaran. Namun demikian, Bendahara Pengeluaran diperkenankan membayar tagihan yang bernilai diatas Rp50 juta, antara lain untuk pembayaran honorariun dan biaya perjalanan dinas. Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, kepala satker dapat menunjuk Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP). Dalam pelaksanaan tugasnya, BPP membuat laporan pertanggungjawaban dan mengirimkannya kepada Bendahara Pengeluaran. Pembayaran dengan UP oleh Bendahara Pengeluaran atau BPP kepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa dapat melebihi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) setelah mendapat persetujuan Menteri Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 6

Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan. Pada setiap hari kerja, uang tunai yang berasal dari UP pada brankas Bendahara Pengeluaran atau BPP, tidak boleh lebih dari Rp50 juta (lima puluh juta rupiah). Bendahara Pengeluaran melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA. Penggantian UP dilakukan apabila UP telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Untuk Bendahara Pengeluaran yang dibantu oleh beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) harus melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masingmasing BPP. Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui Bendahara Pengeluaran, apabila UP yang dikelolanya telahdipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Dasar Hukum Penarikan UP Normal oleh satuan kerja K/L dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dalam peratura peraturan dibawah ini. 1) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 Cara Perhitungan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPPUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang berisi permintaan pembayaran Uang Persediaan (UP). Uang Persediaan Normal yang dimaksud dalam modul ini adalah UP yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran satuan kerja pada awal Tahun Anggaran, setelah diterimanya dokumen pelaksanaan anggaran DIPA, diterbitkannya surat keputusan pejabat pengelola perbendaharaan oleh KPA, dan disusunnya rencana kebutuhan UP untuk periode satu bulan. Kata Normal penyusun pergunakan sematamata untuk memudahkan pembedaan dengan jenisjenis UP yang lain. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 7

Kepada setiap satker dapat diberikan Uang Persediaan. Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, sebelum diberlakukannya ketentuan dan/atau dilakukannya pengangkatan pejabat fungsional Bendahara, menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya. Uang Persediaan digunakan oleh Bendahara Pengeluaran untuk membayar tagihan atas belanja negara yang bernilai sampai dengan Rp50 juta (lima puluh juta rupiah) perbukti pembelian/kuitansi/bukti pembayaran. Namun demikian, Bendahara Pengeluaran diperkenankan membayar tagihan yang bernilai diatas Rp50 juta, antara lain untuk pembayaran honorariun dan biaya perjalanan dinas. Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga, kepala satker dapat menunjuk Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP). Dalam pelaksanaan tugasnya,bppmembuat laporan pertanggungjawaban dan mengirimkannya kepada Bendahara Pengeluaran. Pembayaran dengan UP oleh Bendahara Pengeluaran atau BPPkepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa dapat melebihi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) setelahmendapat persetujuan Menteri Keuangan c.q. DirekturJenderal Perbendaharaan. Pada setiap hari kerja, uang tunai yang berasal dari UP pada brankas Bendahara Pengeluaran atau BPP, tidak boleh lebih dari Rp50 juta (lima puluh juta rupiah). Bendahara Pengeluaran melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA. Penggantian UP dilakukan apabila UP telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Untuk Bendahara Pengeluaran yang dibantu oleh beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) harus melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masingmasing BPP.Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui Bendahara Pengeluaran, apabila UP yang dikelolanya telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen). Contoh 1.1 Diasumsikan suatu satker mempunyai data pagu anggaran dalam DIPA/POK seperti dibawah ini, buatlah perhitungan jumlah UP Normal yang dapat ditarik oleh bendahara pengeluaran! Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 8

Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 030943 KTR PERTANAHAN BABAT Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 828,000 5.275,000 3.780,000 Smbr Dana 056.01.08 Prog. Pertanahan Nasional 828,000 5,275,000 3.780,000 1978 Penertiban Tanah Negara 828,000 5,275,000 3.780,000 1978.994 Layanan Perkantoran 828,000 5,275,000 001 Gaji dan Tunjangan 828,000 5111 Gaji dan Tunjangan 668,000 5121 Honorarium 5122 Lembur 124,000 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 5,275,000 A PERLTN/PERLENG KAPAN 674,000 5211 Blj. Barang Operasional 674,000 B LANGGANAN DAYA JASA 865,000 5221 Jasa 865,000 C PERAWATAN GEDUNG 1.342,000 5231 Pemeliharaan 1.342,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.139,000 5231 Pemeliharaan 1.139,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 9

E KOORD/PENGAWA SAN 1.255,000 5241 Perjalanan 1.255,000 1978.007 Pemeriksaan Tanah 3.780,000 010 Sarana Prasarana 3.780,000 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 3.780,000 Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan Dari contoh pada DIPA diatas, pagu jenis belanja barang (52) dan belanja modal (53) yang dapat dibayarkan dengan UP adalah sebagai berikut: 1. Jenis Barang a. BKPK 5211 Rp 674.000.000 b. BKPK 5221 Rp 865.000.000 c. BKPK 5231 (C) Rp1.342.000.000 d. BKPK 5231 (D) Rp1.139.000.000 e. BKPK 5241 Rp1.255.000.000 + Jumlah Rp5.275.000.000 2. Jenis Modal a. BKPK 5321 Rp3.780.000.000 Jumlah Total Rp9.055.000.000 Dari perhitungan diatas, ternyata jumlah total pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP sebesar Rp9.055.000.000. Jumlah tersebut menunjukkan bendahara pengeluaran harus menggunakan ketentuan penarikan UP yang keempat, yaitu maksimal Rp500 juta untuk pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP diatas Rp6 miliar. Dalam praktik, meskipun ada batas maksimal besaran UP, tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan satker masingmasing. Pada contoh diatas, sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 pasal 46 ayat (2), bendahara pengeluaran satuan kerja dimungkinkan menarik UP sebesar maksimal Rp500 juta, dengan mempertimbangkan rencana penggunaan untuk belanja barang (52) dan belanja modal (53) perbulan dalam satu Tahun Anggaran. Meskipun demikian, jumlah UP yang diajukan tetap harus mempertimbangkan kebutuhan riil dana UP yang akan digunakan untuk pembayaran transaksi. Sebagai contoh, dalam jenis belanja modal terdapat Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 10

pagu sebesar Rp3.780.000.000. Penggunaan dana UP untuk belanja modal tersebut, harus diidentifikasi jumlah nominal yang akan dibayarkan oleh bendahara pengeluaran, apakah tidak terdapat pembayaran diatas Rp50 juta, sebagai batas maksimal pembayaran melalui UP yang harus dibayarkan melalui pembayaran langsung (LS). Penyiapan Dokumen Permintaan Pembayaran Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh bendahara pengeluaran, adalah menyiapkan dokumen lampiran permintaan pembayaran Uang Persediaan (Normal) yang dipersyaratkanyaitu antara lain daftar perhitungan kebutuhan UP sesuai pasal 50 ayat (1) PMK 190/PMK.05/2012 (contoh formulir terlampir). Latihan a. Latihan 1.1 Sebuah satuan kerja diasumsikan mempunyai DIPA/POK dengan pagu seperti dibawah ini, hitunglah jumlah UP Normal yang dapat ditarik oleh bendahara pengeluaran satker tersebut! Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 321456 BALAI POM MALANG Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 1.254,000 9.480,000 1.620,000 Smbr Dana 051.01.03 Pgwsn. Obat & Makanan 1.254,000 9,480,000 1.620,000 1971 Pmriksn. Obat & Makanan 1.254,000 9,480,000 1.620,000 1971.994 Layanan Perkantoran 001 Gaji dan Tunjangan 1.254,000 9,480,000 1.254,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 11

5111 Gaji dan Tunjangan 5121 Honorarium 978,000 140,000 5122 Lembur 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 9,480,000 A PERLTN/PERLE NGKAPAN 1,624,000 5211 Blj. Barang Operasional 1,624,000 B LANGGANAN DAYA JASA 1,875,000 5221 Jasa 1,875,000 C PERAWATAN GEDUNG 2.382,000 5231 Pemeliharaan 2.382,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.169,000 5231 Pemeliharaan 1.169,000 E KOORD/PENGA WASAN 2.430,000 5241 Perjalanan 1971.008 Pemeriksaan Obat 010 Sarana Prasarana 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 1971.009 Pemeriksaan Makanan 010 Sarana Prasarana 2.430,000 720,000 720,000 720,000 900,000 900,000 5321 Blj. Peralatan dan 900,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 12

Mesin Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan b. Latihan 1.2 Dengan menggunakan contoh formulir terlampir, susunlah perhitungan kebutuhan UP sebagai dokumen lampiran permintaan pembayaran UP (Normal)! c. Latihan 1.3 Dari hasil perhitungan pada latihan 1.2, coba jelaskan pola kebutuhan dana UP satker tersebut, dari sisi jumlah perbulan dan selisih antarbulan dalam satu tahun anggaran. d. Latihan 1.4 Berdasarkan jawaban latihan 1.2 dan 1.3, coba perkirakan besaran UP (Normal) yang seharusnya diajukan oleh bendahara pengeluaran satker tersebut! e. Latihan 1.5 Tuliskan dokumen apa saja yang harus dilampirkan/disiapkan oleh bendahara pengeluaran dalam pengajuan SPPUP Normal! Perubahan Uang Persediaan a. Pengertian Perubahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut PUP adalah uang muka kerja dengan jumlah melebihi rumus/formula UP Normal, yang bersifat daur ulang (revolving), dan diberikan kepada bendahara pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional kantor seharihari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Dalam pasal 46 ayat (3) PMK 190/PMK.05/2012 dinyatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaanatas permintaan KPA, dapat memberikan persetujuan UP melampaui besaran Uang Persediaan (UP) Normal dengan mempertimbangkan: 1) frekuensi penggantian UP tahun yang lalu lebih dari ratarata 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan selama 1 (satu) tahun, 2) perhitungan kebutuhan penggunaan UP dalam 1 (satu)bulan melampaui besaran UP. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 13

b. Dasar Hukum Penarikan UP Perubahanl oleh bendahara pengeluaran satuan kerja K/L dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dalam peraturanperatuan dibawah ini. 1) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 c. Cara Perhitungan Besaran Perubahan UP yang dapat diajukan oleh satuan kerja K/L, tidak diatur secara khusus oleh Menteri Keuangan, melainkan diserahkan kepada masingmasing satker untuk menghitung sendiri. Bagi satker yang memiliki pagu DIPA cukup besar (diatas Rp6M) dan jumlah pagu tersebut direncanakan akan dibayarkan dengan UP, maka satker tersebut dapat mengajukan Perubahan UP melebihi UP (Normal) sesuai kebutuhan dan besar pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP. Perubahan UP ini mempunyai karakteristik sama dengan UP Normal, yang harus dipertanggungjawabkan setelah realisasi minimal sebesar 50% setiap bulan, sepanjang satu tahun anggaran, serta bersifat revolving. Sehingga, jika suatu satker telah mendapatkan persetujuan Perubahan UP diatas batas maksimal UP Normal, maka setiap bulan daya serap realisasi uang persediaannya lebih besar dari UP Normal. d. Contoh 2.1 Diasumsikan suatu satker mempunyai data pagu anggaran dalam DIPA/POK seperti dibawah ini, buatlah perhitungan jumlah Perubahan UP yang dapat diajukan oleh bendahara pengeluaran: Kode Satker//F/ SF/P/K/O/K/ KB Nama Satiker, Keg, Output, Komponen, dan Klas Blj. 030943 KTR PERTANAHANBAB AT Pegawai Barang (dalam ribuan rupiah) Modal 828,000 5.275,000 3.780,000 Smbr Dana 056.01.08 Prog. Pertanahan Nasional 828,000 5,275,000 3.780,000 1978 Penertiban Tanah Negara 828,000 5,275,000 3.780,000 Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 14

1978.994 Layanan Perkantoran 828,000 5,275,000 001 Gaji dan Tunjangan 828,000 5111 Gaji dan Tunjangan 668,000 5121 Honorarium 124,000 5122 Lembur 136,000 002 Oprsnal dan Pemeliharaan 5,275,000 A PERLTN/PERLENG KAPAN 674,000 5211 Blj. Barang Operasional 674,000 B LANGGANAN DAYA JASA 865,000 5221 Jasa 865,000 C PERAWATAN GEDUNG 1.342,000 5231 Pemeliharaan 1.342,000 D PERAWATAN KENDARAAN 1.139,000 5231 Pemeliharaan 1.139,000 E KOORD/PENGAWA SAN 1.255,000 5241 Perjalanan 1.255,000 1978.007 Pemeriksaan Tanah 3.780,000 010 Sarana Prasarana 3.780,000 5321 Blj. Peralatan dan Mesin 3.780,000 Keterangan: Data diatas fiktif dan format disesuaikan untuk kebutuhan contoh dan latihan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 15

Dari contoh pada DIPA/POK diatas, pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP adalah sebagai berikut: 1. Jenis Barang: a. BKPK 5211 Rp 674.000.000 b. BKPK 5221 Rp 865.000.000 c. BKPK 5231 (C) Rp1.342.000.000 d. BKPK 5231 (D) Rp1.139.000.000 e. BKPK 5241 Rp1.255.000.000 + Jumlah Rp5.275.000.000 2. Jenis Modal: a. BKPK 5321 Rp3.780.000.000 Jumlah Total Rp9.055.000.000 Dari perhitungan diatas, ternyata jumlah total jenis belanja barang (52) dan belanja modal (53) yang dapat dibayarkan dengan UP sebesar Rp9.055.000.000. Dari jumlah tersebut, jika menggunakan rumus/formula UP Normal, bendahara pengeluaran satker memperoleh UP sebesar maksimal Rp500 juta. Dengan asumsi pengajuan periode revolvingsatu bulan sekali, maka penyerapan maksimal dana DIPA dengan UP Normal hanya sebesar 6 miliar (Rp500 juta x 12 bulan). Akan tetapi, dengan perubahan UP, bendahara pengeluaran satker dapat mengajukan UP lebih besar dari Rp500 juta. Hal ini dikarenakan jumlah total pagu jenis belanja yang dapat dibayarkan dengan UP cukup besar, yaitu Rp9.055.000.000. Apabila seluruh pagu tersebut seluruhnya akan dibayarkan dengan UP, maka bendahara pengeluaran harus menarik UP sebesar kurang lebih Rp754 juta (Rp9.055.000.000 dibagi 12 bulan). Dengan kata lain, UP Normal harus dirubah dari Rp500 juta menjadi Rp754 juta perbulan, selama 12 bulan dalam satu TA. Meskipun demikian, dalam praktik, besaran Perubahan UP yang diajukan bendahara pengeluaran satker, disesuaikan dengan kebutuhan dan daya serap yang tercantum dalam RPD serta kesesuaian jenis dan nominal belanja modal dimaksud, apakah bisa dibayarkan dengan UP atau tidak (harus dengan pembayaran langsung/ls). Dalam hal ini, akan terlihat dalam rincian rencana penggunaan dana UP yang disusun bendahara pengeluaran, khususnya untuk jenis belanja modal. e. Penyiapan Permintaan Pembayaran Untuk mendapatkan pembayaran Perubahan UP dari KPPN, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) satuan kerja K/L harus menyiapkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dengan lampiran sebagai berikut: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 16

1) SPP (form A). 2) Surat Pernyataan dari KPA. 3) Rincian Kebutuhan Dana UP. 4) Surat Persetujuan Kepala Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat. Rangkuman Uang Persediaan Normal dapat diartikan sebagai uang muka kerja yang diberikan oleh KPPN selaku Kuasa BUN di daerah, kepada satuan kerja K/L melalui bendahara pengeluaran, yang diperuntukkan untuk membiaya belanja satker dengan nilai sampai dengan Rp50 juta. UP ini diberikan setelah satker K/L tersebut menerima DIPA. Besaran UP Normal yang diajukan oleh satuan kerja K/L untuk pertama kali setelah menerima DIPA adalah: 1) Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP sampaidengan Rp900.000.000 (sembilan ratus juta rupiah). 2) Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atas Rp900.000.000 (sembilan ratus juta rupiah) sampai dengan Rp2.400.000.000 (dua miliar empat ratus jutarupiah). 3) Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atas Rp2.400.000.000 (dua miliar empat ratus juta rupiah) sampai dengan Rp6.000.000.000 (enam miliar rupiah). 4) Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah) untuk pagu jenis belanja yang bisa dibayarkan melalui UP di atasrp6.000.000.000 (enam miliar rupiah). Perubahan UP diberikan kepada satuan kerja K/L yang mempunyai pagu DIPA lebih besar dari pagu klasifikasi belanja yang dapat dibayarkan dengan UP. Perubahan UP ini mempunyai karakter sama dengan UP Normal yang bersifat revolving sepanjang satu tahun anggaran, sehingga daya serap tiap periodenya/bulan minimal 50%. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas permintaan KPA, dapat memberikan persetujuan UP melampaui besaran Uang Persediaan (UP) Normal dengan mempertimbangkan: a. frekuensi penggantian UP tahun yang lalu lebih dari ratarata 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan selama 1 (satu) tahun, b. perhitungan kebutuhan penggunaan UP dalam 1 (satu)bulan melampaui besaran UP. Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan 17