Bab II Teknologi CUT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA

PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC

Pengaruh Kandungan Air pada Proses Pembriketan Binderless Batubara Peringkat Rendah Indonesia

Bab III CUT Pilot Plant

BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang

STUDI EXPERIMENT KARAKTERISTIK PENGERINGAN BATUBARA TERHADAP VARIASI SUDUT BLADE PADA SWIRLING FLUIDIZED BED DRYER.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Kata kunci: batubara peringkat rendah, proses upgrading, air bawaan, nilai kalor

AQUABAT SEBAGAI BAHAN BAKAR BOILER. Datin Fatia Umar

PENGARUH LAMA WAKTU DAN TEMPERATUR TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA MUDA (LIGNIT) DENGAN MENGGUNAKAN OLI BEKAS DAN SOLAR SEBAGAI STABILISATOR

OLEH : SHOLEHUL HADI ( ) DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUDJUD DARSOPUSPITO, MT.

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

Perbandingan Kualitas Batubara Hasil Pengeringan Antara Suhu Rendah Tekanan Rendah dengan Suhu Tinggi Tekanan Tinggi Batubara Jambi

PRAKOMISIONING DAN PENGUJIAN SUBSISTEM CUT PILOT PLANT

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang

MAKALAH PENYEDIAAN ENERGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 GASIFIKASI BATU BARA

BAB III TEORI DASAR. keterdapatannya sangat melimpah di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetis,

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya melimpah dan dapat diolah sebagai bahan bakar padat atau

BAB III PROSES PEMBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN BIOSOLAR DAN MINYAK JELANTAH SERTA SUHU PEMANASAN TERHADAP PENINGKATAN MUTU BATUBARA LIGNIT

SEMINAR TUGAS AKHIR. Oleh : Wahyu Kusuma A Pembimbing : Ir. Sarwono, MM Ir. Ronny Dwi Noriyati, M.Kes

BAB II TEORI DASAR 2.1 Batubara

1. MOISTURE BATUBARA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Aditya Kurniawan ( ) Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proses Pembakaran Dalam Pembakar Siklon Dan Prospek Pengembangannya

Karakterisasi Gasifikasi Biomassa Sampah pada Reaktor Downdraft Sistem Batch dengan Variasi Air Fuel Ratio

ANALISIS THERMOGRAVIMETRY DAN PEMBUATAN BRIKET TANDAN KOSONG DENGAN PROSES PIROLISIS LAMBAT

KAJIAN PERBANDINGAN PENGGUNAAN AKUABAT, MINYAK BERAT (MFO), DAN BATUBARA PADA PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA. Gandhi Kurnia Hudaya

BAB V EVALUASI SUMBER DAYA BATUBARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UJI ULTIMAT DAN PROKSIMAT SAMPAH KOTA UNTUK SUMBER ENERGI ALTERNATIF PEMBANGKIT TENAGA

JURNAL INTEGRASI PROSES PENGARUH MINYAK JELANTAH PADA PROSES UBC UNTUK MENINGKATKAN KALORI BATUBARA BAYAH

PENGARUH KOMPOSISI BATUBARA TERHADAP KARAKTERISTIK PEMBAKARAN DAUN CENGKEH SISA DESTILASI MINYAK ATSIRI

Prarancangan Pabrik Metanol dari Low Rank Coal Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

Gambar 4.1 Grafik nilai densitas briket arang ampas tebu

Gambar 1.1 Produksi plastik di dunia tahun 2012 dalam Million tones (PEMRG, 2013)

BAB 1 PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam

PERINGKAT BATUBARA. (Coal rank)

Studi Eksperimen Karakteristik Bahan Bakar Batubara Cair Sebagai Pengganti HFO dengan Menggunakan Batubara Peringkat Rendah Melalui Proses Upgrading

KARAKTERISASI SEMI KOKAS DAN ANALISA BILANGAN IODIN PADA PEMBUATAN KARBON AKTIF TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN AKTIVASI H 2 0

Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penentuan Properties Bahan Bakar Batubara Cair untuk Bahan Bakar Marine Diesel Engine

BAB 1 PENDAHULUAN. yang diperoleh dari proses ekstraksi minyak sawit pada mesin screw press seluruhnya

ANALISA PROKSIMAT BRIKET BIOARANG CAMPURAN LIMBAH AMPAS TEBU DAN ARANG KAYU

Bab 2 Tinjauan Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS

BAB I PENDAHULUAN. sumber energi. Salah satu pemanfaatan batubara adalah sebagai bahan

Bab V Analisis Hasil Komisioning CUT Pilot Plant

PENGARUH VARIASI JUMLAH LUBANG BURNER TERHADAP KALORI PEMBAKARAN YANG DIHASILKAN PADA KOMPOR METHANOL DENGAN VARIASI JUMLAH LUBANG 12, 16 DAN 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KOMPOSISI PARTIKEL BATUBARA DAN PROSENTASE UDARA PRIMER PADA PEMBAKARAN BATUBARA SERBUK (PULVERIZED COAL)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PIROLISIS Oleh : Kelompok 3

Perlakuan Batubara Cair dan Injektor dalam Proses Penginjeksian Bahan Bakar Batubara Cair pada Mesin diesel.

Oleh : Dimas Setiawan ( ) Pembimbing : Dr. Bambang Sudarmanta, ST. MT.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II INJEKSI UAP PADA EOR

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X

UPAYA PENINGKATAN MUTU BATUBARA LIGNIT MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH

POTENSI BATUBARA DI SUMATERA SELATAN

Gambar 7.1 Sketsa Komponen Batubara

Prarancangan Pabrik Gasifikasi Batubara Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

PERANCANGAN DAN ANALISA ALAT PENGERING IKAN DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI BRIKET BATUBARA

ANALISIS VARIASI NILAI KALOR BATUBARA DI PLTU TANJUNG JATI B TERHADAP ENERGI INPUT SYSTEM

Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Menjadi Briket Sebagai Sumber Energi Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Non-Karbonisasi

II.1 PRINSIP DASAR GASIFIKASI BATUBARA

SKRIPSI VARIASI KOMPOSISI CAMPURAN BAHAN BAKAR BATUBARA DAN JERAMI PADI PADA TEKNOLOGI CO-GASIFIKASI FLUIDIZED BED TERHADAP GAS HASIL GASIFIKASI

PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER

Dasar Teori Tambahan. Pengadukan sampel dilakukan dengan cara mengaduk sampel untuk mendapatkan sampel yang homogen.

BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN EFESIENSI CFB BOILER TERHADAP KEHILANGAN PANAS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

OPTIMASI UNJUK KERJA FLUIDIZED BED GASIFIER DENGAN MEVARIASI TEMPERATURE UDARA AWAL

PENGANTAR GENESA BATUBARA

PERANCANGAN AWAL PABRIK TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA SKALA KOMERSIAL KAPASITAS 150 TON/JAM: UNIT PENGERING

ANALISIS PENGARUH ANTARA CAMPURAN LOW SULFUR WAXY RESIDU DENGAN BATUBARA JAMBI DENGAN MENGGUNAKAN PROSES COATING

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang

Dewatering Batubara Jorong, Kalimantan Selatan Dengan Menggunakan Minyak Goreng Bekas Dan Minyak Tanah

STUDI PENINGKATAN YIELD TAR MELALUI CO-PIROLISA BATUBARA KUALITAS RENDAH DAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

LAMPIRAN I DATA ANALISIS. Tabel 7. Data Hasil Cangkang Biji Karet Setelah Dikarbonisasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Uji Proksimat Bahan Baku Briket Sebelum Perendaman Dengan Minyak Jelantah

RASIO BAHAN BAKAR TERHADAP UMPAN PADA KARBONISASI BATUBARA DENGAN SISTEM PEMANASAN TIDAK LANGSUNG

A. Lampiran 1 Data Hasil Pengujian Tabel 1. Hasil Uji Proksimat Bahan Baku Briket Sebelum Perendaman Dengan Minyak Jelantah

UJICOBA PEMBAKARAN LIMBAH BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON

Bab 2 Tinjauan Pustaka

SISTEM GASIFIKASI FLUIDIZED BED BERBAHAN BAKAR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DENGAN INERT GAS CO2

BAB V BATUBARA 5.1. Pembahasan Umum Proses Pembentukan Batubara Penggambutan ( Peatification

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN BATUBARA DAN SABUT KELAPA

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH UKURAN PARTIKEL BATUBARA PADA SWIRLING FLUIDIZED BED DRYER TERHADAP KARAKTERISTIK PENGERINGAN BATUBARA

PENGARUH VARIASI RASIO UDARA-BAHAN BAKAR (AIR FUEL RATIO) TERHADAP GASIFIKASI BIOMASSA BRIKET SEKAM PADI PADA REAKTOR DOWNDRAFT SISTEM BATCH

BAB I PENDAHULUAN. terkecuali Indonesia. Selain terbentuk dari jutaan tahun yang lalu dan. penting bagi kelangsungan hidup manusia, seiring dalam

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

Bab II Teknologi CUT 2.1 Peningkatan Kualitas Batubara 2.1.1 Pengantar Batubara Batubara merupakan batuan mineral hidrokarbon yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang telah mati dan terkubur di dalam bumi berjuta-juta tahun lamanya. Batubara merupakan jenis bahan bakar dengan perbandingan karbonhidrogen yang sangat tinggi[5]. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kandungan utama batubara adalah karbon. Batubara terbentuk melalui proses coalification (Gambar 2.1), dimana tumbuh-tumbuhan yang terkubur kemudian melepas CO 2 karena adanya peningkatan temperatur dan tekanan di dalam bumi membentuk humus. Dengan bantuan bakteri aerobik dan anaerobik, humus berubah menjadi gambut (peat) yang merupakan cikal bakal terbentuknya batubara (batubara muda). Semakin lama batubara tersebut terkubur, terjadi perubahan komposisi pada batubara seperti terlihat pada Gambar 2.2. Gambar 2.1 Skema proses coalification [5]

Gambar 2.2 Proses perubahan peringkat batubara [6] Perubahan komposisi yang dimaksud meliputi perubahan kandungan karbon (carbon content), zat-zat volatil (volatile matter), kandungan kalor, serta kandungan air (moisture content) dalam batubara. Semakin tua batubara, kandungan karbon dan kandungan kalornya semakin tinggi, sementara kandungan zat-zat volatil dan kandungan airnya semakin sedikit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembentukan batubara merupakan suatu perubahan berkelanjutan dari tanaman menjadi batubara muda dan kemudian menjadi lignite hingga menjadi antrachite. Proses pembentukan batubara di atas menjadi dasar pengklasifikasian batubara. Klasifikasi batubara menurut ASTM dapat dilihat pada Tabel 2.1. Pada pengklasifikasian batubara tersebut, peringkat batubara dibedakan berdasarkan kandungan karbon, kandungan volatile matter, serta kandungan kalor pembakaran batubara itu sendiri. Dapat dilihat bahwa batubara jenis lignite, subbituminous, dan bituminous pembedanya adalah kandungan kalor. Sedangkan bituminous dan antrachite dibedakan oleh kandungan karbon dan volatile matter-nya. Hal ini disebabkan kandungan kalor pada batubara jenis bituminous dan antrachite hampir sama.

Tabel 2.1 Pembagian peringkat batubara menurut ASTM[1] 2.1.2 Konsep Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara Salah satu faktor yang mempengaruhi kandungan kalor batubara adalah kandungan air. Batubara dengan peringkat rendah cenderung memiliki kandungan air yang tinggi dibandingkan batubara dengan peringkat lebih tinggi. Dengan kandungan air yang tinggi, panas yang dihasilkan dari pembakaran batubara sebagian digunakan untuk menguapkan air sehingga panas yang dapat dimanfaatkan berkurang. Batubara dengan kandungan air tinggi merupakan salah satu ciri khas karakteristik batubara Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.2 bahwa kandungan air batubara Indonesia dapat mencapai 45%. Proses peningkatan kualitas batubara Indonesia pada dasarnya dapat dilakukan dengan menghilangkan atau setidaknya mengurangi kandungan air pada batubara. Untuk itu, pada dasarnya, diperlukan suatu proses pengeringan untuk mencapai pengurangan kandungan air tersebut. Kandungan air dalam batubara itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu kandungan air permukaan (surface moisture) dan kandungan air yang terikat pada partikel batubara (inherent moisture). Surface moisture dapat dengan mudah

dihilangkan dari batubara dengan proses pengeringan biasa, sedangkan untuk menghilangkan inherent moisture diperlukan energi yang lebih besar terutama untuk memecah molekul batubara yang berikatan dengan air. Selain itu, tanpa perlakukan khusus, air akan dengan mudah berikatan kembali dengan partikel batubara membentuk inherent moisture untuk membentuk kesetimbangan dengan lingkungan sekitar. Hal ini disebut equilibrium moisture content. Air kembali berikatan dengan batubara karena pada saat proses pengeringan, ikatan yang ditinggalkan oleh inherent moisture dibiarkan kosong begitu saja. Sehingga ketika proses pengeringan selesai, air dapat kembali berikatan dengan molekul batubara. Tabel 2.2 Karakteristik Batubara Indonesia[4] Total Moisture 15-45 % Volatile Matter 25-45 % Fixed Carbon 30-50 % Ash <10 % Total Sulfur <2 % Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa untuk mengeringkan batubara ada dua hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah pengurangan kandungan air batubara itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah mencegah agar air kembali berikatan dengan batubara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum, peningkatan kualitas batubara dapat dicapai dengan menurunkan equilibrium moisture content batubara. 2.2 Peningkatan Kualitas Batubara dengan Teknologi CUT Coal Upgrading Technology (CUT) merupakan teknologi peningkatan kualitas batubara Indonesia yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung. Secara umum, CUT merupakan teknologi peningkatan kualitas batubara dengan teknik unggun terfluidakan dengan menggunakan medium uap superpanas (superheated steam fluidized bed drying). Batubara mentah yang memiliki kandungan air yang masih tinggi dikeringkan dengan metode fluidisasi dengan medium fluidisasi uap superpanas. Proses fluidisasi memungkinkan terjadinya perpindahan panas yang efektif karena adanya proses

konveksi antara partikel batubara dengan medium fluidisasi. Dengan menggunakan uap superpanas sebagai medium fluidisasi, kualitas batubara akan meningkat seiring dengan berkurangnya moisture content batubara. Selain itu, dengan menggunakan uap superpanas pula, proses pengeringan dapat dilangsungkan pada temperatur yang cukup tinggi tanpa ada resiko terbakarnya sendiri batubara. Teknologi CUT ini juga memungkinkan terjadinya pengurangan moisture equilibrium content batubara karena terjadi ekstraksi tar pada saat proses pengeringan. Tar yang terekstrak ini kemudian akan melapisi partikel batubara sehingga air tidak akan kembali ke batubara. Ilustrasi proses ekstraksi tar di atas dapat dilihat pada Gambar 2.3. Gambar 2.3 Ilustrasi proses ekstraksi tar[1] Teknologi CUT ini dapat mengurangi kandungan air batubara hingga menjadi 5%. Hal ini dapat dilihat dari hasil eksperimen pengeringan batubara dengan menggunakan teknologi CUT pada Tabel 2.3. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa kandungan air pada batubara yang telah dikeringkan mencapai 4,56% adb. Selain itu, dapat dilihat pula bahwa kandungan kalori hasil pengeringan dapat mencapai 5711 kalori/gram. Tabel 2.3 Hasil upgrading batubara[8]

2.3 Perbandingan CUT dengan Teknologi Lain Selain dengan teknologi CUT, proses peningkatan kualitas batubara sudah banyak dikembangkan. Beberapa proses teknologi peningkatan kualitas batubara yang sudah ada diantaranya: 1. Metode Encoal Metode Encoal, Gambar 2.4, menggunakan proses bertingkat dengan temperatur tinggi. Dari proses Encoal ini dapat dihasilkan dua macam bahan bakar, bahan bakar padat (PDF, Process Derived Fuel) dan bahan bakar cair (CDL, Coal Derived Liquid). Proses ini berlangsung pada temperatur 1000 o F. Gambar 2.4 Diagram Proses Metode Encoal 2. Metode Fleissner Metode Fleissner merupakan proses peningkatan kualitas batubara yang dikembangkan oleh Hans Fleissner. Pada proses ini, pengeringan menggunakan uap air jenuh pada temperatur 230-280 o C dan tekanan berkisar pada 3-6 MPa. 3. Metode K-Fuel Proses peningkatan kualitas batubara dengan metode K-Fuel dikembangkan oleh Koppelman. Batubara dipanaskan pada kisaran temperatur 325-475 o C dengan tekanan berkisar pada 3-5 MPa. Kandungan air dan volatile matter dipisahkan selama proses berlangsung.

4. Metode Hot Water Drying (HWD) Proses HWD ini pada prinsipnya adalah memasak batubara pada medium air dengan tekanan dan temperatur yang tinggi yaitu 3-17 MPa dan 230-350 o C. Secara natural, kandungan air pada batubara akan keluar dengan sendiri pada kondisi tekanan dan temperatur yang sangat tinggi. Kemudian, dengan menjaga batubara pada fasa cair dengan tekanan tinggi, air tidak akan masuk kembali ke batubara karena tar yang terbentuk mengisi rongga yang semula ditempati oleh air. 5. Metode USUI Metode USUI merupakan proses peningkatan kualitas batubara dengan konsep pengeringan pada tekanan vakum. Batubara dipanaskan pada temperatur 200 o C dan tekanan dijaga konstan 160 Torr. 6. Metode Syncoal Peningkatan kualitas batubara dengan Metode Syncoal berlangsung dengan temperatur mencapai 600 o F untuk memanaskan batubara pada kondisi tanpa oksigen (inert). Metode Syncoal ini menghasilkan batubara dengan kandungan air mencapai 1% serta pengurangan sulfur sampai 0,3%. 7. Metode UBC Metode UBC (Upgrading Brown Coal) merupakan teknologi peningkatan kualitas batubara yang sudah dikomersialisasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang Tekmira). Dalam teknologi UBC ini, ada tiga proses utama yaitu, slurry preparation/dewatering, solid/liquid separation, dan briquetting. Batubara dicampur dengan minyak bumi ringan membentuk coal oil slurry. Campuran batubara dengan minyak bumi ringan ini kemudian dikeringkan pada temperatur 140 o C dan tekanan 3,5 Bar sehingga kandungan air batubara menguap. Yang tersisa hanyalah campuran batubara dengan minyak bumi ringan tersebut. Minyak yang ada kemudian mengisi rongga-rongga batubara yang sebelumnya ditempati oleh air, sehingga air tidak kembali ke batubara. Kemudian dilakukan pemisahan batubara dengan minyak yang tersisa, dan yang terakhir dilakukan pembriketan. Skema proses UBC secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Skema proses UBC[9] Perbandingan kondisi operasi metode-metode di atas dengan teknologi CUT dapat dilihat pada Gambar 2.6. Pada Gambar 2.6 tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar teknologi peningkatan kualitas batubara membutuhkan kondisi operasi yang cukup ekstrim sehingga membutuhkan peralatan yang cukup mahal. Dari gambar juga dapat disimpulkan bahwa CUT dan UBC adalah dua metode yang kondisi operasinya relatif tidak terlalu ekstrim. Namun, dari segi modal awal, UBC membutuhkan investasi yang lebih besar karena UBC merupakan teknologi Jepang. Selain itu, teknologi UBC memerlukan tambahan material lain yaitu minyak bumi ringan sehingga menambah biaya produksi. Gambar 2.6 Perbandingan kondisi operasi beberapa metode peningkatan kualitas batubara[1]

2.4 Pengembangan CUT Pilot plant Setelah dilakukan penelitian dalam skala laboratorium, pengembangan CUT dilanjutkan pada tahapan pilot plant. Pembangunan pilot plant sendiri merupakan suatu batu loncatan sebelum dilakukan pengembangan skala komersial dengan kapasitas yang lebih besar. Tujuan pembangunan pilot plant adalah untuk menguji apakah sistem CUT ini dapat dikembangkan secara komersial. Data-data operasi yang nantinya didapat dari pilot plant ini akan dijadikan acuan untuk pengembangan skala komersial. Untuk teknologi CUT ini, pengembangan pilot plant dilangsungkan berkat kerjasama antara PAMA dengan ITB. CUT Pilot Plant ini sendiri didesain dengan kapasitas produksi 5000 ton/bulan, atau sama dengan 7 ton/jam. Commercial Plant Pengembangan commercial plant merupakan tahapan puncak dari proses pengembangan CUT. Commercial plant merupakan perwujudan dari pilot plant dengan kapasitas yang lebih besar. CUT Commercial Plant direncanakan akan dibangun dengan kapasitas 150 ton/jam. Dalam pengembangannya, data-data yang didapat dari pengoperasian CUT Pilot Plant sangat diperlukan. Data-data yang diperlukan diantaranya performansi masing-masing komponen maupun subsistem, kondisi fluidisasi dan pengeringan yang diperlukan dalam kalkulasi scale up CUT Commercial Plant, standar pengoperasian CUT Pilot Plant hingga permasalahan yang muncul pada saat pengembangan CUT Pilot Plant.