EXPLORER SEARCH AND RESCUE

dokumen-dokumen yang mirip
S.A.R. terhadap orang dan material yang hilang atau dikhawatirkan. BAKORNAS PBA dimasukkan dalam BASARI, sehingga untuk

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 08 TAHUN 2012 TENTANG

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PENUTUPAN LATIHAN SEARCH AND RESCUE (SAR) MALAYSIA-INDONESIA (MALINDO) KE-33 TAHUN 2008

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 07 TAHUN 2009 TENTANG PENGGANTIAN BIAYA OPERASI SEARCH AND RESCUE (SAR)

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 LAMPIRAN BAB 1 ISTILAH DAN DEFINISI

BAB V PENUTUP. yang mengalami kecelakaan di perairan Indonesia koordinasi terhadap

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

1998 Amandments to the International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979 (Resolution MCS.70(69)) (Diadopsi pada tanggal 18 Mei 1998)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 23 TAHUN 2009 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN SAR NASIONAL,

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2014 DEPUTI BIDANG OPERASI SAR BADAN SAR NASIONAL

SISTEM OPERASI SAR NASIOAL

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 30 TAHUN 2001

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek

2017, No Perubahan Ketiga atas Organisasi dan Tata Kerja Badan SAR Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 684); 4. Peratur

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2006 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

STANDAR OPRASIONALPROSEDUR (SOP) SAR SAT SABHARA POLRES MATARAM

1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat SUBSTANSI MATERI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG OPERASI PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 05 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN OPERASI SAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. [Pick the date]

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL

Kantor SAR Propinsi Jawa Tengah

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah kesehatan dan keselamatan kerja masih merupakan salah satu

STANDAR PELAYANAN OPERASI SAR PADA KECELAKAAN KAPAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Kondisi Umum

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG OPERASI PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK

PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN I. PENDAHULUAN. 1. Umum

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN [LN 2009/1, TLN 4956] Pasal 402

PROCEDURE PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 22 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN OPERASI SAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RENCANA RESCUE DAN EVAKUASI MEDIS. Referensi : - IAMSAR Manual, Vol 2

PROCEDURE PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169); 2. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Te

1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat SUBSTANSI MATERI

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pencarian dan Pertolongan adalah segala usaha dan

No Laut Kepulauan (archipelagic sea lane passage) dan jalur udara di atasnya untuk keperluan lintas kapal dan Pesawat Udara Asing sesuai denga

BAB II TINJAUAN SAR. 2.1 Pengertian SAR Sejarah SAR

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia yang dapat memberikan kepuasan dan tantangan, sebaliknya dapat pula

RENCANA STRATEGIS BADAN SAR NASIONAL

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 (Hamburg, 27 April 1979)

PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR: PK. 01 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN POTENSI SAR BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENCARIAN, PERTOLONGAN DAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PENANGGULANGAN KEBAKARAN WALIKOTA SURABAYA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 4 TAHUN 2017 TENTANG UNIT SIAGA PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2012 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP BANDAR UDARA

: Unit ini meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam mengelola tanggap darurat search and rescue (SAR)

BAB II PEMUTAKHIRAN PETA LAUT

: MenerapkanKeterampilanSAR. 1. Menyiapkan kegiatan SAR

KATA PENGANTAR DEPUTI BIDANG POTENSI SAR SUKARTO MARSEKAL MUDA TNI

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR : PK. 21 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN LATIHAN SEARCH AND RESCUE (SAR)

REKRUTMEN SUMBER DAYA RESCUER DI KANTOR SAR KELAS A MANADO. Oleh : Steven H. Lumowa

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

LAPORAN KINERJA BADAN SAR NASIONAL TAHUN 2015

PROSEDUR KESIAPAN TANGGAP DARURAT

BAB II TINJAUAN UMUM SEARCH AND RESCUE. [Pick the date]

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK. 2 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR KOMPETENSI RESCUER DI LINGKUNGAN BADAN SAR NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 83 TAHUN 2017

Transkripsi:

EXPLORER SEARCH AND RESCUE 1

SEJARAH SAR INDONESIA Organisasi SAR di Indonesia mulai terbentuk dengan masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO (International Civil Aviation Organization) atau organisasi penerbangan sipil internasional pada tahun 1950, kemudian berubah menjadi IMO (International Maritime Organization) atau organisasi maritim internasional yang membuat peraturan internasional untuk keamanan dan keselamatan di laut (SOLAS atau Safety of Life at Sea). Kemudian pada tahun 1972 dikeluarkan Kepres No 11 tentang ditetapkannya BASARI (Badan SAR Indonesia) dan tingkat daerah / Wilayah disebut kantor SAR sementara untuk daerah yang tidak ada kantor SAR nya dibentuk FKSD (Forum Koordinasi SAR Daerah) di bawah Gubernur. Dengan masuknya Indonesia sebagai anggota resmi ICAO dan IMO maka secara resmi Indonesia telah ada suatu organisasi yang menangani musibah/kecelakaan penerbangan, pelayaran, bencana alam dan rekreatif. PENYELENGGARAAN ORGANISASI SAR Dalam penyelenggaraan operasi SAR dilaksanakan 5 tahap kegiatan (SAR Stages) dan ditunjang 5 komponen (SAR Component) dengan memperhatikan tingkat keadaan darurat suatu musibah. Operasi SAR segera diaktifkan setelah adanya musibah atau diketahui adanya keadaan darurat dan operasi dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau telah diyakinkan keadaan darurat tak terjadi atau bila hasil evaluasi, tidak ditemukan tanda-tanda korban tidak di lokasi pencarian. Keadaan darurat suatu musibah dibagi menjadi 3 tingkat : 1. Tingkat Meragukan (Uncartainity Rhase- Incerfa) 2. Tingkat Mengkhawatirkan (Alert Rhase - Alerfa) Merupakan kelanjutan dari incefa atau diketahui dalam keadaan mengkhawatirkan karena adanya ancaman terhadap keselamatannya. 2

3. Tingkat Memerlukan Bantuan (Distress Rhase - Destresfa) Merupakan kelanjutan dari tingkat Alerfa EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR) TEKNIK-TEKNIK PENCARIAN Dalam operasi ESAR, ada beberapa teknik pencarian yang digolongkan berdasarkan sifat atau situasi keadaan yang sedang dihadapi: 1. PRELIMINSRI MODE ; dilaksanakan pada saat kita mendengar terjadinya musibah. Dalam teknik ini tahap awal operasinya yaitu a) Mengumpulkan informasi awal, b) unti-unit/ potensi SAR diberitahu dan dikumpulkan, c) Sampai ke lokasi unit-unit tersebut debriefing oleh SMC. 2. CONFIEMENT MODE ; pemantapan/ penentuan garis-garis batas (Border) lokasi pencarian 3. DETECTION MODE ; pemeriksaan daerah yang dicurigai sebagai lokasi korban 4. TRACKING MODE ; melakukan penyapuan jejak atau barang-barang milik korban (survivor) yang tercecer. 5. EVACUATION MODE ; melakukan perawatan pada korban dan memindahkan korban ketempat yang aman (Tindakan Evakuasi) Metode-Metode Pencarian Korban (Survivor) 1. Trail Block Tim kecil (SRU) dikirim untuk memblokir jalan setapak yang keluar masuk lokasi pencarian. Tugas meraka yaitu mencatat nama-nama dan data daai setiap orang yang meninggalkan lokasi pencarian dan memberi tahu yang akan masuk 3

lokasi orang hilang. Tugas yang ke-2 yaitu mengawasi / memperhitungkan bahwa tidak seorangpun yang dapat lolos lewat tanpa diketahui, tugas yang terakhir menunggu perintah selanjutnya dari OSC atau SMC. 2. Road Block Tugasnya sama dengan Trail Block namun yang membedakan adalah lokasi yaitu dijalan-jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan. 3. Look Outs Tugasnya yaitu mengawasi atau mendeteksi tempat-tempat yang memerlukan pengamatan yang luas atau mendalam (dengan mengunakan teropong) dan menyisir lembah-lembah yang dalam. Tugas selanjutnya yaitu membuat tandatanda yang menarik perhatian survivor (dengan menggunakan asap, bunyi-bunyian, lampu, atau bendera). 4. Camp-in Camp-in adalah tempat atau lokasi dari trail block, road block, dan looks out yang mempunyai daerah yan cukup luas dan yang digunakan untuk mengawasi survivor. Camp-in bisa dijadikan Flying Camp (tempat beristirahat sementara SRU-SRU). 5. Track Traps Lokasinya sama dengan Camp-in tetapi lokasi tidak ditunggu dengan orang atau personil tetapi dilokasi tersebut disebarkan debu untuk mendapatkan jejak orang atau korban yang dicari. 6. String Line Yaitu teknik untuk menandai daerah yang sudah dilalui atau penandaan batas luar area pencarian dengan menggunakan bentangan tali yang bertanda. DETECTION Metode Detection 1. Tipe 1 Search Pemneriksaan pada daerah yang dianggap paling memungkinkan. Tipe ini mempunyai sifat pencarian Hastic Searching (terburu-buru) 4

2. Tipe II Search Tipe ini disebut juga Open Grid yaitu pemeriksaan yang cepat dan sistematis dengan metode penyapuan dengan mengguanakan batas waktu pencarian. 3. Tipe III Search Yaitu tipe pencarian yang lebih ketat, cermat, dan sistematis terhadap area pencarian. MARKER Marker adalah rambu yang digunakan dalam operasi ESAR, dipasang oleh SRU diarea pencarian. Marker ini berisi informasi mengenai operasi ESAR disatu area pencarian dan merupakan tanggung jawab dari SRU yang mengisinya. Fungsi marker ini adalah apabila tim pencari lain atau bahkan survivor menemukan marker tersebut mereka akan mengetahui informasi tentang adanya sebuah misi operasi ESAR didaerah tersebut. Bentuk marker (khususnya dari SARDA DIY) adalah kertas tebal berukuran kuarto berwarna orange. Biasanya marker ini diisi oleh SRU untuk menandai : titik awal CSR (Common Search Point), titik akhir penyapuan, titik penemuan jejak atau barang yang dicurigai milik survivor, dan biasanya dipasang di pohon atau tonggok kayu yang ditancapkan. Secara rinci marker ini berisi : a) Tim pencari (SRU-SRU) b) Tanggal dan jam pencarian c) Nomer Marker d) Peta Topografi yang digunakan e) Informasi grid lokasi f) Tipe pencarian g) Tipe penyapuan (biasanya menggunakan istilah dengan angka-kata-angka, contohnya 3 compas 2, dimana 3 adalah jumlah personil dalam satu SRU dan 2 adalah jarak sapuan antar personil dalam satu SRU). h) Arah gerak pencarian (dengan menggunakan Azimuth/sudut kompas). i) Infomasi penyapuan (berisi koordinat dan ketinggian posisi marker). j) Informasi penemuan k) Deskripsi penemuan. 5

KOMUNIKASI OPOERASI SAR Fungsi Komunikasi Operasi SAR Disetiap operasi SAR peranan komunikasi mempunyai arti yang sangat penting dan sangat diperlukan dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan setiap operasi SAR. Dalam hal ini komunikasi mempunyai fungsi pokok sebagai berikut: 1. Komando dan Pengendalian Komunikasi dipergunakan oleh pengandali operasi (SMC) untuk memberikan komando kepada unit-unit operasi dilapangan serta pengandalian jalannya operasi SAR. 2. Koordinasi Komunikasi sebagai sarana koordinasi antara semua unsur-unsur yang terlibat dalam operasi, baik antara pendukung opersi yang berada di lapangan maupun dengan komponen pendukung lainnya. METODE KOMUNIKASI Dalam prakteknya terdapat bebberapa metode komunikasi yang bisa dipakai dalam operasi SAR yaitu: 1. Caraka Metode ini merupakan cara paling aman dalam penyampaiannya meskipun lambat dan sangat terbatas jarak jangkauannya serta tergantung pada keadaan medan dan cuaca. 2. Kawat Sarana komunikasi ini aman dilaksanakan dan kecepatannya terjamin, namun jarak jangkauannya tergantung pada fasilitas yang tersedia. 3. Radio Merupakan metode yang paling sering digunakan dalam setiap operasi SAR khususnya operasi-operasi yang dilaksanakan oleh SRU-SRU bantu darat, meskipun metode ini merupakan metode yang paling tidak aman karena rawan terhadap gangguan pemakai frekuensi lain, keadaan medan, serta cuaca. Disisi lain metode ini mempunyai kecepatan tinggi. 4. Optis 6

Sarana ini sangat efektif bila sarana komunikasi lainnya tidak tersedia maupun rusak serta menguntungkan bagi SRU yang tidak menguasai metode komunikasi lain atau oleh korban yang tidak mempunyai peralatan komunikasi radio. Metode ini jarak jangkauannya terbatas dan tergantung oleh keadaan cuaca. Pada setiap operasi SAR pengendali operasi (SMC) selalu dibantu oleh beberapa staff SMC diantaranya adalah perwira komunikasi (operator radio) yang bertugas serta bertanggung jawab penuh pada sarana serta system komunikasi di pos pengendali operasi, selain itu perwira komuniksi juga harus menyiapkan semua peralatan komunikasi dan pendukungnya, menyiapkan jaringan komunikasi operasi, baik jaring komando dan pengendali maupun jaring koordinasi serta bertanggungjawab pada kelancaran lalu lintas berita yang sangat berperan dalam suatu operasi SAR. Dan tentu saja seorang operator radio juga harus mampu menguasai perangkat komunikasi yang digunakan. Prosedur Komunikasi Radio dalam operasi SAR 1. Berbicara singkat, jelas dan tegas serta menggunakan bahasa yang mudah dimengerti (tidak mempergunakan Q code, atau 8 code ). 2. Menggunakan frekuensi yang sudah ditentukan. 3. perangkat komunikasi harus selalu ON, kecuali SMC atau OSC memerintahkan untuk mematikannya. 4. Diluar jadwal melapor, semua SRU harus stand by dan pesawat harus selalu ON, kecuali bila SMC atau OSC memerintahkan untuk mematikan pesawat. 5. Antar SRU tidak diperkenankan untuk saling berkomunikasi kecuali atas ijin SMC / OSC. Syarat-syarat Operator Radio SRU 1. Menguasai prosedur menggunkan perangkat radio yang dipergunakan. 2. Menguasai prosedur komunikasi radio operasi SAR. 7

3. Menguasai kondisi medan yang menjadi area operasi SRU-nya sehingga bisa mengurangi hambatan komunikasi radio lapangan. Prosedur Pelaporan SRU: Keberangkatan SRU: SRU yang siap berangkat menuju CSR harus memberi laporan kepada SMC / OSC. 1. Chek perangkat komunikasi. 2. Regu/panggilan. 3. Team leader. 4. Jumlah personil dan kondisi. 5. Jam berangkat dan perkiraan waktu bisa di CSP. 6. Peralatan operasi/regu yang dibawa serta perbekalan. SRU Tiba di CSP. 1. Laporkan saat sampai di CSP (disesuaikan dengan jadwal pelaporan atau perintah SMC / OSC). 2. Situasi di CSP (kondisi medan dan cuaca) 3. Kondisi personil. 4. Rencana operasi. 5. kemungkinan ada bantuan lain yang diperlukan SRU. Sesuai jadwal pelaporan atau perintah SMC / OSC, SRU harus selalu melaporkan operasi yang memuat: 1. Posisi saat melapor (koordinat dan ketinggian serta orientasi medan). 2. Kondisi personil tim. 3. Keadaan medan dan kondisi cuaca. 4. Hasil yang telah dicapai. 5. Hambatan yang ditemui. 6. Rencana operasi selanjutnya. 7. Evaluasi SRU mengenai operasi yang sudah berjalan. 8

ALUR KOMUNIKASI OPERASI SAR SC SMC OSC SRU SRU : Jalur Komando dan Pengendalian : Jalur Koordinasi Keterangan: SC (SAR COORDINATOR) Dijabat oleh seorang pejabat yang karena fungsi dan wewenangnya mampu memberikan dukungan kepada Kantor Koordinasi Rescue (KKR) / Sub Koordinasi Rescue (SKR) untuk menggerakkan unsur-unsur SAR. SMC (SAR MISSION COORDINATOR) Dijabat oleh seoarang yang ditunjuk oleh BASARNAS/KKR/SKR karena memiliki kemampuan/kualifikasi yang ditentukan atau telah mengikuti pendidikan. Dan tugasnya adalah melaksanakan evaluasi kejadian, perencanaan serta koordinasi pencarian. Tugas ini berlaku untuk satu kejadian SAR. OSC (ON SCENE COMMANDER) Dijabat oleh seseorang yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasikan serta serta mengendalikan unsur SAR di lapangan. Berarti melaksanakan tugas-tugas SMC yang didelegasikan kepadanya. Dengan sendirinya OSC juga diperlukan persyaratan seperti SMC. OSC ini ada apabila SMC merasa perlu untuk kalancaran tugastugasnya. SRU (SEARCH RESCUE UNIT) 9

Adalah unsur SAR atau fasilitas personil yang secara nyata melaksanakan operasi SAR. Wewenangnya terbatas pada/untuk pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan oleh SMC/OSC, yaitu memberikan atau memberitahu kemajuan pelaksanaan tugas kepada SMC. SRU ini dapat berupa unsur SAR dari berbagai instansi (instansi militer, lembaga pemerintah/swasta, organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda, dsb). Dan tentunya personil tersebut telah terlatih dan dilengkapi dengan baik serta kesiapan fisik dan mental prima. From To SITUATIONS TEAM REPORT (SITREP) ALPHA BRAVO CHARLIE DELTA ECHO 1. 2. 3. 4. 5. 6. Off Air at Keterangan : (ALPHA) : Posisi saat melapor (BRAVO) : Penyapuan terakhir dan Teknik penyapuan (CHARLIE) : Lebar Penyapuan (DELTA) : Rencana Penyapuan dan teknik penyapuan (ECHO) : Info : 1) Kondisi personil tim 2) Keadaan medan dan cuaca 3) Hasil yang dicapai 4) Hambatan yang ditemui 5) Evaluasi SRU 10