melakukan aktivitas yang diperlukan.

dokumen-dokumen yang mirip
Fungsi dari Perlengkapan Ambulance ( Stretcher ) Stretcher a. Folding Stretcer ( Tandu Lipat ) b. Scoop Stretcher

SATUAN ACARA PENYULUHAN DETEKSI DINI PADA CA MAMAE

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penulisan, dan

SATUAN ACARA PENYULUHAN RANGE OF MOTION (ROM)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENDIDIDKAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT STROKE DAN ROM (RANGE OF MOTION)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) LATIHAN FISIK RENTANG GERAK / RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF

Lampiran 1 SURAT IJIN PENELITIAN

LAPORAN PENGABDIAN MASYARAKAT KEGIATAN PENYULUHAN TENTANG REMATIK PADA LANSIA. TIM PENGABMAS Yenni, M.kep, Ns, Sp, Kep kom. Ns. Emira Apriyeni, S.

BAB 1 PENDAHULUAN. penatalaksanaanpatah tulang, sebab seringkali penanganan patah tulang ini. kekerasan yang timbul secara mendadak (Syaiful, 2009).

ROM (Range Of Motion)

dan komplikasinya (Kuratif), upaya pengembalian fungsi tubuh

PENGARUH LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF TERHADAP KEKUATAN OTOT PADA PASIEN POST OPERASI FRAKTUR HUMERUS DI RSUD Dr. MOEWARDI

BAB I PENDAHULUAN. dengan penutupan dan penjahitan luka (Syamsuhidajat, 2011). dibagian perut mana saja (Dorland, 1994 dalam Surono, 2009).

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah persalinan sectio caesarea. Persalinan sectio caesarea adalah melahirkan janin

Oleh : DWI BRINA HESTILIANA J

Latihan Aktif Dan Pasif / Range Of Motion (ROM) Pada Pasien. Stroke Non Hemoragik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Keperawatan pasca operasi merupakan periode akhir dari keperawatan

IKRIMA RAHMASARI J

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jumlah pengendara kendaraan bermotor dan pengguna jalan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit pada anggota gerak yang disebabkan oleh traumatik. Trauma merupakan

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) MOBILISASI DAN PENCEGAHAN STROKE BERULANG DI RUANGAN SYARAF RSUP DR. M DJAMIL PADANG

BAB 1 PENDAHULUAN. fisik yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur. Kebanyakan fraktur

BAB I PENDAHULUAN. perut kuadran kanan bawah (Smeltzer, 2002). Di Indonesia apendisitis merupakan

BAB I PENDAHULUAN. tindakan perbaikan kemudian akan diakhiri dengan penutupan dengan cara. penjahitan luka (Sjamsuhidajat & De Jong, 2013).

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan. Bab ini penulis akan membahas tentang tindakan keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. atau permukaan rawan sendi. Karena tulang dikelilingi oleh struktur jaringan

Tindakan keperawatan (Implementasi)

BAB IV PEMBAHASAN. Of Motion ( ROM ) aktif pada Tn. K dengan post operasi fraktur di ruang

BAB I PENDAHULUAN. sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia. Maka Islam menegaskan perlunya

BAB I PENDAHULUAN. oksigen (O2). Yang termasuk relaksan otot adalah oksida nitrat dan siklopropane.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan kehidupan masyarakat sekarang telah mengalami perubahan dalam

B AB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. disebabkan karena kecelakaan yang tidak terduga. kecelakaan lalu lintas adalah fraktur.

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan dengan tindakan operasi pemasangan Plate and Screw, yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. Citra diri merupakan sebuah keadaan dalam pikiran tentang diri. Anda, kehilangan citra dirinya dan merasa buruk tentang diri mereka

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA POST ORIF CLOSE FRAKTUR CLAVICULA DEXTRA DENGAN PEMASANGAN PLATE AND SCREW DI RSO PROF. DR. SOEHARSO SURAKARTA

FORMAT PENGKAJAN FISIK KLIEN GERONTIK. Jenis Kelamin : Suku : Agama : Status Perkawinan : Tanggal Pengkajian :

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan operasi sangat beresiko, lebih dari 230 juta operasi mayor

CATATAN PERKEMBANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Ambulasi adalah aktifitas berjalan (Kozier, 1995 dalam Asmadi, 2008).

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: AYUDIA SEKAR PUTRI J

Oleh: IDA WAHYU NINGSIH J KARYA TULIS ILMIAH

PENATALAKSANAAN INFRA RED DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASCA GIPS FRAKTUR RADIUS 1/3 DISTAL SINISTRA DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

Jurnal Kebidanan 07 (02) Jurnal Kebidanan http : /

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) SENAM NYERI HAID. Sasaran Penyuluhan : Keluarga Bapak Buang Budi Santosa Khususnya Saudari Rahayu I.

BAB I PENDAHULUAN. semakin kompleknya masalah dibidang kesehatan yang timbul dewasa ini, disertai

BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur dapat terjadi pada semua tingkat umur (Perry & Potter, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. cacing (appendiks). Infeksi ini bisa terjadi nanah (pus) (Arisandi,2008).

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN. saraf di FK USU dan saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul: AKUT.

BAB I PENDAHULUAN. bebas dari penyakit, cacat, bahkan kelemahan maka dalam sistem kesehatan. menyeluruh, dan dapat terjangkau masyarakat luas.

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan Undang-Undang No. 23

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. diprediksikan jumlah lansia sebesar 28,8 juta jiwa (11,34%) dengan usia

fisiologis. Konsep mobilisasi mula-mula berasal dari ambulasi dini yang merupakan pengembalian secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi

PENGARUH POSISI LATERAL INKLIN 30 0 TERHADAP KEJADIAN DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE DI BANGSAL ANGGREK I RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN MOBILITAS

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN POST

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA PASIEN PASKA STROKE NON HEMORAGIK DEKSTRA STADIUM AKUT

BAB I PENDAHULUAN. osteoporosis, biasanya dialami pada usia dewasa dan dapat juga disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. hemoragik di Jawa Tengah adalah 0,03%. Sedangkan untuk stroke non

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls

BAB I PENDAHULUAN. Appendisitis merupakan peradangan yang terjadi pada Appendiks vermiformis

KEEFEEKTIFAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS PADA PASIEN STROKE

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berdasarkan data World Health Organization (2010) setiap

BAB I PENDAHULUAN. atau keadaan patologis (Dorland,1994) tungkai bawah yang terdiri dari tulang tibia dan

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

BAB I PENDAHULUAN. Payudara atau kelenjar mammae merupakan pelengkap alat reproduksi wanita dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan permasalahan yang kompleks, baik dari segi kesehatan,

BAB I PENDAHULUAN. upaya penyembuhan (kuratif) dan upaya pemulihan (rehabilitatif), yang

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA POST OPERASI FRAKTUR COLLUM FEMORIS DEXTRA DENGAN PEMASANGAN AUSTION MOORE PROTHESIS DI RS ORTHOPEDI SURAKARTA

Budi Setyono, Lilis Murtutik, Anik Suwarni

TUGAS MADIRI BLADDER TRAINING

Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian. Hubungan Status Fungsional dengan Konsep Diri Pasien Stroke. di RSUP Haji Adam Malik Medan

trauma pada flexsus brachialis, fraktur klavikula, dan fraktur humerus

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG SOP SENAM HAMIL

BAB I PENDAHULUAN. Departemen Kesehatan (2002) menyatakan semua tenaga kesehatan. (Undang Undang Kesehatan No. 23, 1992).

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI POST OPERASI CLOSE FRAKTUR RAMUS PUBIS DEXTRA DAN SINISTRA

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP ) PERAWATAN LUKA POST OPERASI APPENDIKTOMI PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN. kuantitas hidup dalam masyarakat.pembangunan kesehatan, yaitu: menggerakkan. memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas

BAB I PENDAHULUAN. dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Terutama

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sebagai alat pergerakan yang membantu manusia untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. perdarahan atau non perdarahan (Junaidi Iskandar, 2002: 4).

Oleh: JOHANA SYA BANAWATI J KARYA TULIS ILMIAH

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA PASIEN STROKE HEMORAGE DEXTRA DI RSUD PANDANARANG BOYOLALI

INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk Indonesia sampai tahun ini mencapai 237,56 juta orang (Badan

KARYA TULIS ILMIAH Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi

1 Asimetri Kemampuan usia 4 bulan. selalu meletakkan pipi ke alas secara. kedua lengan dan kepala tegak, dan dapat

SATUAN ACARA PENYULUHAN PERAWATAN PRE OPERASI DAN POST OPERASI

BAB I PENDAHULUAN. lalu lintas yang cukup tinggi. Data Kepolisian RI tahun 2009 menyebutkan

TUGAS MANDIRI 1 Bladder Training. Oleh : Adelita Dwi Aprilia Reguler 1 Kelompok 1

BAB 1 PENDAHULUAN. di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita subur

Transkripsi:

LAMPIRAN 1 MOBILISASI DINI 1) Pengertian Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara, 2006). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi kurang seprti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garison, 2004). Sementara mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian (Capernito, 2000). Mobilisasi dibagi dalam tiga rentang gerak yaitu rentang gerak pasif, rentang gerak aktif, dan rentang gerak fungsional. Adapun rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Sementara rentang gerak aktif untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya saat berbaring pasien menggerak-gerakkan kakinya. Sedangkan rentang gerak fungsional berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktivitas yang diperlukan. xxiii

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah suatu upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis. Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan pasien. Secara psikologis mobilisasi akan memberikan kepercayaan pada pasien bahwa dia mulai merasa sembuh. Perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan pada pasien atau keluarga yang menunggu. Pasien dan keluarga akan dapat mengetahui manfaat mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi dalam pelaksanaan mobilisasi (Barbara, 2006). 2) Tujuan Mobilisasi Menurut Garrison (2004), tujuan mobilisasi antara lain : a) Mempertahankan fungsi tubuh b) Memperlancar peredaran darah sehingga mempercepat penyembuhan luka c) Membantu pernapasan menjadi lebih baik d) Mempertahankan tonus otot e) Memperlancar eliminasi alvi dan urin f) Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal dan atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian. g) Memberi kesemapatan perawat dan pasien untuk berinteraksi atau berkomunikasi. xxiv

3) Evaluasi dari tindakan evaluasi yang dilakukan : Mobilisasi dilakukan 6-9 kali sehari. Hari ketiga post op sebagian besar klien atau 57.14% (klien 1,4,6,7) didapatkan kekuatan otot 3/5 (Sedang = Gerakan otot penuh melawan gravitasi, tetapi tidak ada pergerakan melawan tahanan) dan sebagian kecil atau 14.28% (klien 3) dengan kekuatan otot 4/5 (Baik = Gerakan otot penuh melawan gravitasi, dengan pergerakan sebagian melawan tahanan) sertas sebagian klien atau 28.57% (klien 2, 5) dengan kekuatan otot 5/5 (Normal = Gerakan otot penuh melawan gravitasi dan tahanan). Dari hasil penilaian status fungsional klien 1,3,6,7 yaitu tingkat ketergantungan sedang dan klien 2,4,5 dengan tingkat ketergantungan ringan. Lama hari rawat : klien 4,5 pulang pada post op hari ke 3 hal tersebut terkait jenis anastesi adalah general anastesi, umur klien 4 yaitu 45 tahun dan klien 5 yaitu 21 tahun, dan phalanges. Klien 7 dalam general anastesi namun pulang baru post op ke 5 hal tersebut dikarenakan klien dengan multipel fraktur yang terjadi pada ekstremitas bawah (fraktur femur dan ekstremitas atas fraktur clavikula). Klien 1,2,3 pulang pada post op ke 7 (riwayat spinal anastesi) klien 6 pulang post op hari ke 5 (spinal anastesi). xxv

Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. 2005. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta Purwanti, R & Purwaningsih, W. (2013). Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Aktif Terhadap Kekuatan Otot Pada Pasien Post Operasi Fraktur Humerus di RSUD Dr. MOEWARDI. Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta GASTER Vol. 10 No. 2 Agustus 2013. Rachmawati, L.D.W. (2010). Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kondisi Post Operasi Fraktur Humeri 1/3 Tengah Dextra Dengan Pemasangan Plate Dan Screw. Jurnal Pena, Vol. 19 No. 1, September 2010. xxvi

LAMPIRAN 2 HASIL FOTO RONTAGEN PRE DAN POST OP ORIF 1. Klien 1 (Fraktur Tibia dan Fibula) Pre OP Post ORIF 2. Klien 2 (Fraktur Fibula dan Angkle) Pre OP Post ORIF 3. Klien 3 (Fraktur Femur Sinistra) Pre OP Post ORIF xxv

4. Klien 4 (Fraktur Humerus Dextra) Pre OP Post ORIF 5. Klien 5 (Fraktur fraktur os falangproximaldig IV manus) Pre OP Post ORIF 6. Klien 6 (Fraktur Femur Dextra) Pre OP Post ORIF xxvi

7. Klien 7 (Fraktur Femur Dextra dan Clavikula Dextra) Pre OP Post ORIF Pre OP Post ORIF xxvii

LAMPIRAN 3 PENGKAJIAN STATUS FUNGSIONAL (BERDASARKAN PENILAIAN BARTHEL INDEX) Inisial Klien : No. RM : Diagnosa Medis : N O 1 Fungsi Mengendalikan rangsang defekasi (BAB) S K O R 0 1 Uraian Tak terkendali/ tak teratur (perlu pencahar) Kadang-kadang tak terkendali Sebelum sakit Saat masuk RS Nilai Skor Minggu 1 di RS Minggu 2 di RS Saat Pulang 2 Mandiri 0 Tak terkendali/ pakai kateter 2 Mengendalikan rangsang berkemih (BAK) 1 Kadang-kadang tak terkendali (1x24jam) 2 Mandiri 3 4 Membersihkan diri (cuci muka, sisir rambut,sikat gigi) Penggunaan jamban, masuk dan keluar (melepaskan,mema kai celana, membersihkan, menyiram) 0 Butuh pertolongan orang lain 1 Mandiri 0 1 Tergantung pertolongan orang lain Perlu pertolongan pada beberapa kegiatan, tetapi dapat mengerjakan sendiri kegiatan yang lain 2 Mandiri xxviii

0 Tidak mampu 5 Makan 1 Perlu ditolong memotong makanan 2 Mandiri 6 Berubah sikap dari berbaring ke duduk 0 Tidak mampu 1 Perlu banyak bantuan untuk bisa duduk (2 orang) 2 Bantuan (2 orang) 3 Mandiri 0 Tidak mampu 7 Berpindah/berjalan 1 2 Bisa (pindah) dengan kursi roda Berjalan dengan bantuan 1 orang 3 Mandiri 8 Memakai baju 0 1 Tergantung orang lain Sebagian dibantu (misalnya; mengancing baju) 2 Mandiri 0 Tidak mampu 9 Naik turun tangga 1 Butuh pertolongan 2 Mandiri xxix

10 Mandi 0 Tergantung orang lain 1 Mandiri TOTAL SKOR NAMA PERAWA : Gede Pronajaya., S.Kep Total Skor : 20: Mandiri 12-19 : Ketergantungan Ringan 9-11 : Ketergantungan Sedang 5-8 : Ketergantungan Berat 0-4 : Ketergantungan Total xxx

LAMPIRAN 5 SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) ALAT BANTU JALAN Pokok Bahasan Sub Pokok bahasan Sasaran Tempat Hari/Tanggal Waktu Penyuluh : Mobilisasi Dini (Ambulansi) : Alat Bantu Jalan : Klien dan Keluarga dengan masalah Fraktur Ekstremitas Post OP ORIF : Ruang Perawatan Bedah Lantai V RS Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto : Menyesuaikan Kondisi Klien dan Keluarga : 30 menit : Gede Pronajaya, S.Kep A. Tujuan Instruksional Umum Setelah dilakukan penyuluhan tentang alat bantu jalan selama 30 menit diharapkan pengetahuan klien dan keluarga dengan masalah fraktur ekstremitas post op ORIF tentang alat bantu jalan meningkat. B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah diberikan penyuluhan tentang alat bantu jalan diharapkan klien dan keluarga dengan masalah fraktur ekstremitas post op ORIF di Ruang Perawatan Bedah Lantai V RS Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto. 1. Pengertian alat bantu jalan 2. Macam-macam alat bantu jalan 3. Cara menggunakan alat bantu jalan C. Materi 1. Pengertian alat bantu jalan 2. Macam-macam alat bantu jalan 3. Cara menggunakan alat bantu jalan

D. Strategi pelaksanaan NO KEGIATAN METODE MEDIA WAKTU 1. Pendahuluan a. Mengucapkan salam b. Memperkenalkan diri c. Menyampaikan tujuan d. Kontrak waktu Ceramah 5 menit 2. Pelaksanaan 1. Menjelaskan tentang pengertian alat bantu jalan 2. Menjelaskan tentang macam-macam alat bantu jalan 3. Menjelaskan tentang cara penggunaan alat bantu jalan Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab leaflet 20 menit 3. Penutup a. Memberikan kesempatan para peserta untuk bertanya b. Mengajukan pertanyaan pada peserta penyuluhan c. Menyimpulkan hasil penyuluhan d. Memberi salam Ceramah 5 menit E. Evaluasi 1. Prosedur : langsung 2. Bentuk pertanyaan : essay 3. Jumlah pertanyaan : 3 pertanyaan 4. Waktu : 5 menit

F. Sumber Suratun dkk. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. 2008. EGC. Jakarta Barbara, Kozier dkk. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & ERB, Edisi 5. 2009. EGC. Jakarta

MATERI ALAT BANTU JALAN 1. PENGERTIAN Alat bantu jalan yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien supaya dapat berjalan dan bergerak (Suratun, 2008). Alat bantu jalan merupakan sebuah alat yang dipergunakan untuk memudahkan klien dalam berjalan agar terhindar dari resiko cidera dan juga menurunkan ketergantungan pada orang lain Alat bantu jalan pasien adalah alat bantu jalan yang digunakan pada penderita/pasien yang mengalami penurunan kekuatan otot dan patah tulang pada anggota gerak bawah serta gangguan keseimbangan (Barbara, 2009). 2. MACAM-MACAM ALAT BANTU JALAN Kruk Axila Tongkat Walker Kruk Kursi roda 3. CARA PENGGUNAAN ALAT BANTU JALAN a) Kruk Kruk yaitu tongkat/ alat bantu untuk berjalan, biasanya digunakan secara ber-pasangan yang diciptakan untuk mengatur keseimbangan pada saat akan berjalan. Tujuan Meningkatkan kekuatan otot, pergerakan sendi dan kemampuan mobilisasi Menurunkan resiko komplikasi dari mobilisasi Menurunkan ketergantungan pasien dan orang lain Meningkatkan rasa percaya diri klien Indikasi Pasien dengan fraktur ekstremitas bawah. Pasien dengan postop amputasi ekstremitas bawah. Pasien dengan kelemahan kaki / post stroke.

Cara menggunakan : CARA NAIK Lakukan posisi tiga titik Bebankan berat badan pada kruk Julurkan tungkai yang tidak sakit antara kruk dan anak tangga Pindahkan beban berat badan dari kruk ketungkai yang tidak sakit Luruskan kedua kruk dengan kaki yang tidak sakit diatas anak tangga CARA TURUN Bebankan berat badan pada kaki yang tidak sakit Letakkan kruk pada anak tangga dan mulai memindahkan berat badan pada kruk, gerakkan kaki yang sakit kedepan Luruskan kaki yang tidak sakit pada anak tangga dengan kruk Ajarkan klien tentang cara duduk di kursi dancara beranjakdari kursi. CARA DUDUK Klien diposisi tengah depan kursi dengan aspek posterior kaki menyentuh kursi Klien memegang kedua kruk dengan tangan berlawanan dengan tungkai yang sakit. Jika kedua tungkai sakit kruk ditahan dan pegang pada tangan klien yang lebih kuat Klien meraih tangan kursi dengan tangan yang lain dan merendahkan tubuh kekursi CARA BANGUN Lakukan tiga langkah di atas dalam urutan sebaliknya. Cuci tangan

Gambar. Kruk b) Tongkat Tongkat adalah alat yang ringan, dapat dipindahkan, setinggi pinggang dan terbuat dari kayu atau logam (Barbara et.al, 2009). Tipe tongkat: Tongkat standar yang berbentuk lurus, tongkat standar mempunyai panjang 91 cm. Tongkat kaki tiga Tongkat kaki empat. Persyaratan tongkat meliputi (Suratun, 2008): Ujung tongkat yang mengenai lantai diberi karet setebal 3,75 cm untuk memberi stabilitas optimal pada klien. Ukuran tongkat setinggi pangkal paha Siku klien dapat defleksi (pembelokan) diatas tongkat Tujuan mobilisasi Mempertahankan tonus otot Meningkatkan peristaltik usus sehingga mencegah obstipasi Memperlancar peredaran darah Mempertahankan fungsi tubuh Mengembalikan pada aktivitas semula

Gambar. Tongkat c) Walker Kruk Walker ditujukan bagi klien yang membutuhkan lebih banyak bantuan dari yang bisa diberikan oleh tongkat. Tipe standar walker terbuat dari alumunium yang telah dihaluskan. Walker mempunyai empat kaki dengan ujung dilapisi karet dan pegangan tangan yang dilapisi plastik. Walker standar membutuhkan kekuatan parsial pada kedua tangan dan pergelanga tangan; ekstensor siku yang kuat, dan depresor bahu yang kuat pula. Selainitu klien juga harus mampu menahan setengah berat badan pada kedua tungkai. Perawat mungkin harus menyesuaikan tinggi walker sehingga penyangga tangan berada dibawah pinggang klien dan siku klien agak fleksi. Walker yang terlalu rendah dapat menyebabkan klien membungkuk, sementara yang terlalu tinggi dapat membuat klien tidak dapat meluruskan lengannya. Cara penggunaan walker kruk: Ketika klien membutuhkan bantuan maksimal. Gerakkan walker kedepan kira-kira 15cm sementara berat badan bertumpu pada kedua tungkai Kemudian gerakkan kaki kanan hingga mendekakti walker sementara berat badan dibebankan pada tungkai kiri dan kedua tangan. Selanjutnya, gerakkan kaki kiri hingga mendekati kaki kanan sementara berat badan bertumpu pada tungkai kanan dan kedua lengan. Jika salah satu tungkai klien lemah

Gerakkan tungkai yang lemah kedepan secara bersamaan sekitar 15 cm (6 inchi) sementara berat badan bertumpu pada tungkai yang kuat Kemudian, gerakkan tungkai yang lebih kuat ke depan sementara beratbadan bertumpu pada tungkai lemah dan kedua lengan. Gambar. Walker Kruk d) Kursi Roda Indikasi penggunaan kursi roda: Paraplegia Tidak dapat berjalan atau tirah baring Pada pelaksanaan prosedur tindakan, misal klien akan foto rontgen Pasca amputasi kedua kaki Hal-hal yang harus diperhatikan: Tentukan ukuran tubuh klien Tentukan kemampuan klien intuk mengikuti perintah Kekuatan otot dan pergerakan sendi klien, Adanya paralisis. Gambar. Kursi Roda

PERTANYAAN EVALUASI 1. Sebutkan macam-macam alat bantu jalan? 2. Sebutkan cara penggunaan kruk? 3. Sebutkan cara penggunaan walker kruk? JAWABAN: 1. Macam-macam alat bantu jalan a. Kruk Axila b. Tongkat c. Walker Kruk d. Kursi roda 2. Cara menggunakan kruk CARA NAIK Lakukan posisi tiga titik Bebankan berat badan pada kruk Julurkan tungkai yang tidak sakit antara kruk dan anak tangga Pindahkan beban berat badan dari kruk ketungkai yang tidak sakit Luruskan kedua kruk dengan kaki yang tidak sakit diatas anak tangga CARA TURUN Bebankan berat badan pada kaki yang tidak sakit Letakkan kruk pada anak tangga dan mulai memindahkan berat badan pada kruk, gerakkan kaki yang sakit kedepan Luruskan kaki yang tidak sakit pada anak tangga dengan kruk Ajarkan klien tentang cara duduk di kursi dancara beranjakdari kursi. CARA DUDUK Klien diposisi tengah depan kursi dengan aspek posterior kaki menyentuh kursi Klien memegang kedua kruk dengan tangan berlawanan dengan tungkai yang sakit. Jika kedua tungkai sakit kruk ditahan dan pegang pada tangan klien yang

lebih kuat Klien meraih tangan kursi dengan tangan yang lain dan merendahkan tubuh kekursi CARA BANGUN Lakukan tiga langkah di atas dalam urutan sebaliknya. Cuci tangan 3. Cara menggunakan walker kruk Gerakkan walker kedepan kira-kira 15cm sementara berat badan bertumpu pada kedua tungkai\ Kemudian gerakkan kaki kanan hingga mendekakti walker sementara berat badan dibebankan pada tungkai kiri dan kedua tangan. Selanjutnya, gerakkan kaki kiri hingga mendekati kaki kanan sementara berat badan bertumpu pada tungkai kanan dan kedua lengan.