BAB IV DATA HASIL PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DASAR TEORI 2.1. TERMODINAMIKA REAKSI REDUKSI Termokimia Reaksi

BAB II DASAR TEORI. Universitas Indonesia. Studi pengaruh temperatur..., Sarah, FT UI, 2008

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

ANALISA KINETIKA REAKSI PROSES REDUKSI LANGSUNG BIJIH BESI LATERIT SKRIPSI. Oleh Rosoebaktian Simarmata

BAB II DASAR TEORI. 3Fe 2 O 3 +C 2 Fe 3 O 4 +CO. Fe 3 O 4 +CO 3FeO+CO2 Fe 3 O 4 + C 3FeO+CO FeO+C Fe+CO

Material dengan Kandungan Karbon Tinggi dari Pirolisis Tempurung Kelapa untuk Reduksi Bijih Besi

UNIVERSITAS INDONESIA STUDI PENGARUH PENAMBAHAN KARBON PADA PROSES REDUKSI LANGSUNG BATU BESI SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Permasalahannya adalah, dengan tingkat konsumsi. masyarakat yang tinggi, bahan bakar tersebut lambat laun akan

BAB I PENDAHULUAN. yang ada dibumi ini, hanya ada beberapa energi saja yang dapat digunakan. seperti energi surya dan energi angin.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 2, 50/50 (sampel 3), 70/30 (sampel 4), dan 0/100 (sampel 5) dilarutkan dalam

BY SMAN 16 SURABAYA : Sri Utami, S. P LAJU REAKSI KESIMPULAN

PENGARUH PENAMBAHAN FLUX DOLOMITE PADA PROSES CONVERTING PADA TEMBAGA MATTE MENJADI BLISTER

UJI COBA PROSES REDUKSI BIJIH BESI LOKAL MENGGUNAKAN ROTARY KILN

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN

STUDI RANCANG BANGUN MICROWAVE BATCH FURNACE UNTUK PROSES REDUKSI PASIR BESI DENGAN OPTIMASI LAMA RADIASI

STUDI GASIFIKASI BATU BARA LIGNITE DENGAN VARIASI KECEPATAN UDARA UNTUK KEPERLUAN KARBONASI

BAB VI KINETIKA REAKSI KIMIA

Kesetimbangan Kimia. Bab 4

BAB IV PEMBAHASAN. -X52 sedangkan laju -X52. korosi tertinggi dimiliki oleh jaringan pipa 16 OD-Y 5

BAB I PENDAHULUAN. terpenting di dalam menunjang kehidupan manusia. Aktivitas sehari-hari

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman sekarang, manusia sangat bergantung pada kebutuhan listrik

4.1. TERMODINAMIKA ARSEN DALAM LELEHAN TEMBAGA DAN TERAK

REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI

4 Hasil dan Pembahasan

STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO

BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM

PENGARUH UKURAN PARTIKEL TERHADAP OPTIMASI DERAJAT REDUKSI Fe PADA BIJIH LATERIT LOW GRADE SKRIPSI

No Indikator Soal Valid

Tugas Sarjana Teknik Material 2008 Data dan Analisa

Diagram Latimer (Diagram Potensial Reduksi)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

BAB 3 INDUSTRI BESI DAN BAJA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

Metode Evaluasi dan Penilaian. Audio/Video. Web. Soal-Tugas. a. Writing exam skor: 0-100(PAN)

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh

KARAKTERISASI PELINDIAN PRODUK PEMANGGANGAN ALKALI (FRIT) DALAM MEDIA AIR DAN ASAM SULFAT

PENGOLAHAN BIJIH BESI DARI TASIKMALAYA DENGAN METODE REDUKSI

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

Oleh : Dimas Setiawan ( ) Pembimbing : Dr. Bambang Sudarmanta, ST. MT.

Gambar 4.2 Larutan magnesium klorida hasil reaksi antara bubuk hidromagnesit dengan larutan HCl

BAB I PENDAHULUAN. limbah organik dengan proses anaerobic digestion. Proses anaerobic digestion

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di

EFEK KADAR LARUTAN TERHADAP KECEPATAN PROSES PENGHILANGAN KARAT PADA BAJA LUNAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Erfan Handoko 1, Iwan Sugihartono 1, Zulkarnain Jalil 2, Bambang Soegijono 3

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

LEMBAR KERJA SISWA 2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Nilai densitas pada briket arang Ampas Tebu. Nilai Densitas Pada Masing-masing Variasi Tekanan Pembriketan

LEMBAR KERJA SISWA 4

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

Handout. Bahan Ajar Korosi

1 Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

Masuk tanggal : , revisi tanggal : , diterima untuk diterbitkan tanggal :

Bab 4 Data dan Analisis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

PROSES PELAPISAN SERBUK Fe-50at.%Al PADA BAJA KARBON DENGAN PENAMBAHAN Cr MELALUI METODA PEMADUAN MEKANIK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar

RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR. Oleh DEDY BAHAR 5960

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK

...ل لن سن اف ا ن ب ن ل باف د ل ل لللن

Esaputra Mangarul Rajagukguk, Sutopo

PENGARUH DEOKSIDASI ALUMINIUM TERHADAP SIFAT MEKANIK PADA MATERIAL SCH 22 Yusup zaelani (1) (1) Mahasiswa Teknik Pengecoran Logam

I. PENDAHULUAN. oleh H.K Onnes pada tahun 1911 dengan mendinginkan merkuri (Hg) menggunakan helium cair pada temperatur 4,2 K (Darminto dkk, 1999).

METODOLOGI. Langkah-langkah Penelitian

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

MATERI 1.1 Pengertian Materi Sebagai contoh : Hukum Kekekalan Materi 1.2 Sifat Dan Perubahan Materi Sifat Materi

Karakterisasi Gasifikasi Biomassa Sampah pada Reaktor Downdraft Sistem Batch dengan Variasi Air Fuel Ratio

I. PENDAHULUAN. material, antara lain sebagai komponen dari pembentukan gelas (Doweidar et al.,

Waktu (t) Gambar 3.1 Grafik hubungan perubahan konsentrasi terhadap waktu

I. PENDAHULUAN. hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa

PENGARUH LUBANG SALURAN PEMBAKARAN PADA TUNGKU GASIFIKASI SEKAM PADI

SOAL OLIMPIADE KIMIA SMA TINGKAT KOTA/KABUPATEN TAHUN 2011 TIPE II

HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c. Pada proses pembentukan magnetit, urea terurai menjadi N-organik (HNCO), NH + 4,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo

Gambar V.3 (a). Spektra FTIR dan (b). Difraktogram XRD material hasil sintesis (dengan variasi perbandingan molar Fe 3+ /Fe 2+ pada T = 60ºC dan

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP UKURAN PARTIKEL FE3O4 DENGAN TEMPLATE PEG-2000 MENGGUNAKAN METODE KOPRESIPITASI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Batu bara + O pembakaran. CO 2 + complex combustion product (corrosive gas + molten deposit

PENINGKATAN KADAR NIKEL BIJIH LIMONIT MELALUI PROSES REDUKSI SELEKTIF DENGAN VARIASI WAKTU DAN PERSEN REDUKTOR

KESETIMBANGAN KIMIA SOAL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

Transkripsi:

BAB IV DATA HASIL PENELITIAN 4.1. DATA KARAKTERISASI BAHAN BAKU Proses penelitian ini diawali dengan karakterisasi sampel batu besi yang berbentuk serbuk. Sampel ini berasal dari kalimantan selatan. Karakterisasi dilakukan dengan metode X-RAY Diffraction (XRD) untuk mengetahui unsur/senyawa apa saja yang terdapat dalam sampel batu besi tersebut. Berikut ini tabel data unsur/senyawa yang tedapat pada sampel : Tabel 4.1 Unsur/Senyawa pada Sampel Batu Besi Unsur / Senyawa Ada Tidak Fe 3 O 4 Fe 2 O 3 FeO Fe Si0 2 4.2. DATA HASIL REDUKSI LANGSUNG 4.2.1. Hasil Penelitian pada Temperatur 600 o C Pengujian pada temperatur 600 o C dilakukan terhadap sampel yang memiliki perbandingan batu besi dengan batu bara 1:1, 1:3, dan 1:5 dengan variasi waktu proses 5 menit, 10 menit, dan 20 menit. Setelah direduksi, sampel dikarakterisasi dengan XRD. Berikut ini adalah data yang didapat dari pengujian XRD :

Tabel 4.2 Data Hasil Reduksi Langsung Batu Besi pada Temperatur 600 o C Temperatur 600 o C Waktu Perbandingan Serbuk Batu Besi dan Batu Bara (Menit) Perbandingan 1 : 1 Perbandingan 1 : 3 Perbandingan 1 : 5 Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe 5 - - - - - - 10 - - - - - 20 - - - - - 4.2.2. Hasil Penelitian Penelitian pada Temperatur 800 o C Pengujian pada temperatur 800 o C dilakukan terhadap sampel yang memiliki perbandingan batu besi dengan batu bara 1:1, 1:3, dan 1:5 dengan variasi waktu proses 5 menit, 10 menit, dan 20 menit. Setelah direduksi, sampel dikarakterisasi dengan XRD. Data yang diperoleh terdapat pada tabel 4.3 dibawah ini : Tabel 4.3 Data Hasil Reduksi Langsung Batu besi pada Temperatur 800 o C Temperatur 800 o C Waktu Perbandingan Serbuk Batu Besi dan Batu Bara (Menit) Perbandingan 1 : 1 Perbandingan 1 : 3 Perbandingan 1 : 5 Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe 5 - - - 10 - - - - 20 - - - 4.2.3. Hasil Penelitian pada Temperatur 1000 o C Pengujian pada temperatur 1000 o C dilakukan terhadap sampel yang memiliki perbandingan batu besi dengan batu bara 1:1, 1:3, dan 1:5 dengan variasi waktu proses 5 menit, 10 menit, dan 20 menit. Setelah direduksi, sampel dikarakterisasi dengan XRD. Hasil yang diperoleh terdapat pada tabel 4.4 dibawah ini :

Tabel 4.4 Data Hasil Reduksi Langsung Batu Besi pada Temperatur 1000 o C Temperatur 1000 o C Waktu Perbandingan Serbuk Batu Besi dan Batu Bara (Menit) Perbandingan 1 : 1 Perbandingan 1 : 3 Perbandingan 1 : 5 Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe Fe 2 O 3 Fe 3 O 4 FeO Fe 5 - - - - 10 - - - 20 - - -

BAB V ANALISA dan PEMBAHASAN 5.1. REDUKSI LANGSUNG PADA TEMPERATUR 600 o C Berdasarkan data yang diperoleh, hasil pengujian pada temperatur 600 o C ternyata menghasilkan Fe pada perbandingan batu besi dengan batu bara 1:3 dan 1:5. Padahal berdasarkan diagram Bouudard, temperatur minimum yang diperlukan untuk mereduksi FeO menjadi Fe adalah 700 o C, yakni pada perpotongan antara garis kesetimbangan wustit/fe dengan garis kesetimbangan Bouduard. Setelah mencari pada beberapa literatur, akhirnya masalah munculnya Fe pada temperatur dibawah 700 o C ini dapat dipecahkan. Berdasarkan buku Direct Reduced Iron (Technology and Economics of Production and Use) menuliskan bahwa hal ini dapat dijelaskan karena FeO merupakan fasa yang tidak stabil [8]. Di bawah temperatur 570 o C maka FeO akan terdekomposisi menjadi Fe3O4 dan Fe, dengan reaksi[8] 4FeO Fe3O4 + Fe Jadi, kemungkinan besar Fe yang terbentuk pada temperatur 600 o C adalah bukan hasil dari proses reduksi langsung, melainkan dekomposisi dari Fe. Dari Diagram Bouduard[8] terlihat bahwa proses reduksi FeO menjadi Fe terjadi pada perpotongan garis kesetimbangan Bouduard dan garis kesetimbangan Wustit pada 700 o C. Berarti FeO baru akan tereduksi menjadi Fe pada temperatur 700 o C. Sedangkan dibawah temperatur 700 o C yang terjadi adalah reduksi Fe 3 O 4 menjadi FeO sebagaimana ditunjukkan oleh perpotongan garis kesetimbangan magnetit/wustit dengan garis kesetimbangan Bouduard pada 650 o C.

Gambar 5.1 Diagaram Gaussner Bouduard [8] Sedangkan untuk perbandingan kadar karbon yang lain tidak terbentuk Fe, hal ini dikarenakan proes reduksi belum menyentuh temperatur kritis untuk mereduksi FeO dan Fe 3 O 4, dimana temperatur kritis tersebut adalah 700 o C. 5.2. REDUKSI LANGSUNG PADA TEMPERATUR 800 o C Pada 800 o C, Fe terbentuk pada semua perbandingan temperatur dan semua perbandingan batu besi dengan batu bara. Ini sesuai dengan diagram Bouduard dimana reduksi FeO menjadi Fe akan terbentuk pada temperatur diatas 700 o C. Proses terbentuknya Fe telah dijelaskan oleh Haque dan Ray [12] dimana proses reduksi terjadi antara padatan Oksida Fe dengan gas CO. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut: C + O2 CO2 CO2 + C 2CO 3Fe2O3+CO 2Fe3O4+CO2 Fe3O4+CO 3FeO+CO2 FeO+CO Fe+CO2

Dibawah temperatur 1000 o C reaksi reduksi yang terjadi adalah dengan menggunakan CO[13]. Sedangkan di atas 1000 o C reaksi yang lebih dominan adalah reaksi reduksi besi oksida dengan karbon. [14]. Berdasarkan penelitian, hasil yang diperoleh antara hubungan penambahan karbon dengan intensitas terbentuknya Fe dapat dilihat pada gambar 5.2. 1400 1200 1176 1000 924 Intenitas Fe 800 600 400 615 488 778 807 458 400 5 menit 10 menit 20 menit 200 276 0 1 3 5 Kadar Karbon Gambar 5.2 Grafik Pengaruh Penambahan Karbon vs Intensitas Fe pada Temperatur 800 o C Peningkatan kadar karbon cenderung meningkatkan intensitas terbentuknya Fe. Peningkatan intensitas Fe terjadi pada waktu tahan 10 menit dan 20 menit. Pada waktu tahan 10 menit, dengan kadar karbon 1:1 didapat intensitas Fe 488, kemudian meningkat pada penambahan kadar karbon 1:3 menjadi 924 dan akhirnya menjadi 1176 ketika penambahan karbon 1:5. Sedangkan pada waktu tahan 20 menit intensitas Fe 615, ketika ditambahkan perbandingan Fe menjadi 1:3 didapat intensitas Fe 778, dan kemudian meningkat menjadi 807 pada 1:5. Peningkatan kadar Fe disebabkan pengaruh penambahan karbon yang berpengaruh terhadap porositas [8]. Porositas pada sampel sangat berpenngaruh pada laju reduksi. Porositas akan meningkat seiring dengan penambahan karbon,

akibatnya laju difusi CO pada sampel akan meningkat sehingga memungkinkan peningkatan jumlah reaksi reduksi yang terjadi antara CO dengan besi oksida. Penyimpangan terjadi pada waktu tahan 5 menit, dimana intensitas Fe mengalami penurunan pada kadar karbon 1:5 (400). Penurunan intensitas Fe ini disebabkan oleh reaksi oksidasi kembali dari batu besi sesuai dengan reaksi : 2Fe + O = 2FeO ΔF = -124100 + 29,9T kal/mol 2 Wustit yang dihasilkan dari oksidasi Fe ini akan teroksidasi kembali sesuai dengan persamaan: 6FeO + O = 2Fe O ΔF = -149240 + 59,8T kal/mol 2 3 4 Oksidasi dari batu besi ini terjadi karena karbon yang digunakan untuk mereduksi sudah habis, ditambah pula ada kemungkinan masuknya oksigen dari luar furnace, sebab pada pintu furnace terdapat celah yang diakibatkan oleh refraktori yang keropos. Pada temperatur 800 o C dengan perbandingan batu besi dan batu bara 1:1 dan waktu tahan 10 menit tidak terdapat Fe 3 O 4. Tidak terdapatnya Fe 3 O 4 ini mungkin disebabkan Fe 3 O 4 teroksidasi kembali menjadi Fe 2 O 3 sesuai dengan reaksi : 4Fe O + O = 6Fe O ΔF = -119240 + 67,24T kal/mol 3 4 2 2 3 Oksidasi kembali dari Fe 3 O 4 ini terjadi dikarenakan karbon yaang digunakan untuk mereduksi Fe telah habis sehingga Gas CO yang dihasilkan berkurang dan tidak efektif lagi untuk mereduksi FeO dan Fe 3 O 4. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Toru Yamashita dkk. [15] pada temperatur 800 o C tidak akan terjadi reaksi reduksi apabila tekanan parsial antara CO dan CO 2 rendah (0.2). Reduksi mulai terjadi dengan laju yang lambat apabila perbandingan tekanan parsial antara CO dan CO 2 melebihi 0.6 5.3. REDUKSI LANGSUNG PADA TEMPERATUR 1000 O C Pada proses reduksi langsung di temperatur 1000 o C berhasil didapatkan Fe pada semua perbandingan batu besi dan batu bara. Hal ini dikarenakan proses reduksi telah berada pada titik temperatur stabil untuk besi. Sehingga proses reduksi dari FeO menjadi Fe akan berjalan dengan baik dan stabil.

Akan tetapi pada perbandingan 1:1 dan waktu tahan 5 menit tidak didapat Fe 3 O 4. Tidak terdapatnya Fe 3 O 4 mungkin disebabkan karena teroksidasinya kembali Fe3O4 menjadi Fe 2 O 3 sesuai dengan reaksi: 4Fe O + O = 6Fe O ΔF = -119240 + 67,24T kal/mol 3 4 2 2 3 Teroksidasinya Fe3O4 mungkin dikarenakan oleh ketidakhomogenan sampel. Ketidakhomogenan sampel dapat mengakibatkan kadar karbon pada permukaan karbon lebih sedikit dibandingkan dengan kadar karbon pada bagian dalam. Akibatnya, pada saat bereaksi karbon pada permukaan akan cepat habis sehingga gas CO semakin menipis dan memungkinkan sampel bereaksi dengan oksigen. Pengaruh penambahan karbon terhadap intensitas Fe pada temperatur 1000 o C dapat dilihat pada grafik dibawah ini : 700 600 500 637 561 501 584 541 Intensitas Fe 400 300 200 100 384 174 396 376 5 menit 10 menit 20 menit 0 1 3 5 Kadar Karbon Gambar 5.3 Grafik Pengaruh Penambahan Karbon vs Intensitas Fe pada Temperatur 1000 o C Berdasarkan grafik diatas, peningkatan kadar karbon pada waktu tahan 5 menit menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas Fe secara simultan. Pada waktu tahan 5 menit peningkatan intensitas Fe setiap periode penambahan karbon adalah 174, 396, dan 584. Sedangakan pada waktu tahan 10 menit menunjukkan penurunan intensitas Fe pada saat penambahan karbon 1:5. Pada awalnya

intensitas Fe meningkat dari 384 menjadi 501 sebelum turun ke 376. Bahkan, pada waktu tahan 20 menit penambahan karbon cenderung menurunkan nilai intensitas Fe. Intensitas Fe yang tadinya 637 turun menjadi 561 sebelum turun ke 541. Padahal, literatur mengatakan bahwa peningkatan kadar karbon akan meningkatkan porositas sampel. [8] Porositas sampel ini menyebabkan laju difusi semakin cepat, dan pada akhirnya dapat meningkatkan intensitas Fe yang dihasilkan. Kemungkinan besar penyebab menurunnya intensitas Fe pada saat reduksi langsung dengan waktu 10 menit dikarenakan karbon yang tedapat pada sampel telah habis terbakar sehingga gas CO yang dihasilkanlkan menipis. Akibatnya gas CO yang sedikit itu tidak dapat mereduksi Fe lebih banyak lagi. Gambar 5.4 Kondisi Sampel Pada Saat Gasifikasi Karbon [8] Selain itu, ketidak homogenan pada sampel juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap reduksi langsung. Sampel yang kadar karbon dibagian permukaannya lebih sedikit tentu akan sulit untuk menghasilkan gas CO yang cukup banyak hingga dapat meeduksi Fe yang berada di bagian dalam. Pada perbandingan 1:3 intensitas Fe yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan intensitas Fe pada perbandingan 1:1. Peristiwa ini disebabkan oleh adanya luasan permukaan yang lebih tinggi pada perbandingan 1:3 dibandingkan dengan 1:4. Karena luas permukaannya lebih luas, maka kinetika reaksi reduksi akan berjalan dengan cepat.

Pada proses reduksi langsung ini tidak ditemukan FeO, hal ini dikarenakan FeO bersifat tidak stabil pada temperatur rendah, sehingga dapat terurai kembali menjadi Fe dan Fe 3 O 4, sesuai dengan reaksi [8] : 4FeO Fe 3 O 4 + Fe Reaksi di atas menghasilkan Fe 3 O 4 dan Fe 2 O 3 hasil dari dekomposisi FeO, akibatnya intensitas magnetit dan Fe akan meningkat. Untuk mengetahui mekanisme yang terjadi pada saat proses reduksi langsung dapat diihat pada gambar dibawah : Gambar 5.5 Perubahan Pada Sampel 1000 o C Setiap Penambahan Karbon Berdasarkan gambar 5.5 dapat kita ketahui fenomena yang terjadi setiap penambahan karbon untuk sampel yang direduksi pada temperatur 1000 o C. pada

gambar tersebut terlihat adanya perubahan ketinggian peak Fe 2 O 3 dan Fe 3 O 4. Walaupun tidak dapat dianalisa secara kuantitatif, namun adanya perubahan pada lebar dan tinggi peak menunjukkan adanya perubahan konsentrasi dan intensitas. Jika peak mengalami penurunan maka intensitasnya mengalami penurunan. Sebagaimana peak Fe 2 O 3 mengalami penurunan berarti mengalami penurunan intensitas, berarti Fe 2 O 3 telah tereduksi menjadi Fe 3 O 4. Hal ini bisa dilihat dari peak Fe 3 O 4 yang mengalami peningkatan atau intensitasnya menjadi lebih tinggi. Kemudian Fe 3 O 4 mengalami penuruan peak sedangkan peak Fe tetap, maka fenomena yang terjadi adalah tereduksinya Fe 3 O 4 menjadi FeO dan Fe. maka intensitas Fe yang dihasilkan akan semakin meningkat.