BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem Untuk dapat melakukan implementasi maka diperlukan perangkat Hardware dan Software yang digunakan. Hardware - Router Wifi Mikrotik RB951 - Modem ISP Utama (Buanter.net) - Modem 3G - Switch TP-Link TL-SG2424 24port - Access Point Software - Winbox 4.2 Implementasi Jaringan 4.2.1 Gambaran Perancangan Sistem Gambar 4.1 Topologi Baru Jaringan Lantai 3 41
42 Berbeda dengan topologi sebelumnya, dimana hanya terdapat 2 lantai yang terhubung dengan jaringan, pada penelitian ini dilakukan pengembangan ke lantai 3. Pada lantai 3 akan terdapat 1 switch, 1 Access Point, dan terhubung dengan 6 user. Gambar 4.2 Topologi Baru Jaringan Lantai 2 Pada lantai 2, ditambahkan sebuah jalur 3G yang akan digunakan sebagai jalur back-up apabila jalur utama yaitu ISP (Buanter Net). Selain itu semua user yang pada topologi sebelumnya dihubungkan pada 1 switch saja, pada topologi yang baru ini user tersebut dibagi menjadi dua bagian, dimana pada switch 2.1 terhubung dengan 3 user dan 1 Access Point, dan pada switch 2.2 terhubung dengan 6 user. Pembagian user ke kedua switch dilakukan berdasarkan letak dari pc user ke kedua switch, pada kasus ini PC 2.1 PC 2.3 lebih dekat dengan switch 1, sedangkan PC 2.4 PC 2.9 lebih dekat dengan switch 2.
43 Gambar 4.3 Topologi Baru Jaringan Lantai 1 Pada lantai 1 selain terhubung dengan 9 users, switch 1 juga terhubung dengan 2 Access Point. Alasan ditempatkannya 2 Access Point pada lantai ini yaitu untuk memperluas coverage wifi, sehingga apabila ada tamu yang datang, tamu tersebut dapat juga mengakses Internet melalui wifi. 4.2.2 Konfigurasi Router Mikrotik - Konfigurasi Awal Router Mikrotik Konfigurasi yang paling awal dilakukan adalah menghubungkan komputer ke router mikrotik (RB 951) lalu menggunakan software Winbox untuk mengkonfigurasi router Mikrotik. - Konfigurasi Awal Software Winbox Pada saat pertama kali mengaktifkan software winbox, user akan memilih router Mikrotik yang akan dikonfigurasi dengan memasukkan Mac Address atau IP Address dari router Mikrotik tersebut pada bagian ConnectTto kemudian dilanjutkan dengan memasukan username dan password untuk login ke dalam router. (pada umumnya, default username dan password adalah admin ).
44 Gambar 4.4 Tampilan Awal Winbox - Login Mikrotik Ketika proses otentikasi selesai dilakukan setelah user menekan tombol Connect, maka akan ditampilkan layar awal dari Winbox yang berisi menu-menu yang dapat dipakai untuk melakukan berbagai konfigurasi sesuai kebutuhan dari user. Gambar 4.5 Tampilan Menu Awal Winbox
45 - Konfigurasi Interface Konfigurasi pada semua interface dari Mikrotik dapat dilakukan melalui menu Interfaces di sebelah kiri layar awal Winbox dan akan muncul tampilan sebagai berikut. Gambar 4.6 Tampilan Menu Interface
46 - Konfigurasi IP Address Memberikan alamat IP pada interfaces dilakukan melalui menu IP>>Address kemudian klik tanda tambah (+). Berikut ini tampilan IP Address setelah dikonfigurasi. Gambar 4.7 Tampilan Menu Address Untuk ISP utama diberi address 192.168.1.100/24 dan berada pada network 192.168.1.0, sedangkan ISP back-up memiliki address 192.168.2.253/24 dan network 192.168.2.0. Untuk bridge sendiri menggunakan konfigurasi default yaitu address dari router Mikrotik itu sendiri (192.168.88.1/24) dan network 192.168.88.0
47 Gambar 4.8 Tampilan Keseluruhan Menu Address - Konfigurasi IP Route Tahap ini dilakukan untuk mengatur bagaimana cara mengakses Internet melalui route / gateway yang ditentukan untuk ISP (Internet Service Provider) pertama yaitu Buanter Net dan juga ISP kedua yang berperan sebagai back-up jika ISP pertama down yaitu Modem 3G. Gambar 4.9 Tampilan Menu Route
48 - Konfigurasi Wireless LAN Tahap ini dilakukan untuk memungkinkan koneksi secara wireless ke jaringan lokal (LAN) oleh perangkat yang mampu berkomunikasi secara wireless. Gambar 4.10 Tampilan Tab General dari Interface wlan1 pada Menu Wireless Table Gambar 4.11 Tampilan Tab Wireless dari Interface wlan1 pada Menu Wireless Table Sesuai yang ditampilkan pada gambar 4.11, tipe Wi-Fi yang digunakan adalah B/G/N, dengan wireless protocol 802.11 sesuai spesfikasi yang ditentukan IEEE.
49 - Konfigurasi DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) Tahap ini dilakukan untuk mengatur range IP address yang akan diberikan kepada host yang terhubung secara wireless. Pada jendela IP Pool dapat dilihat pada kolom Addresses tertera 192.168.88.10-192.168.88.253 yang berarti IP address yang akan diberikan adalah IP address yang tersedia pada range tersebut. Gambar 4.12 Tampilan Menu DHCP Client dan IP Pool - Konfigurasi Automatic Failover Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan konfigurasi dengan kondisi ketika terputusnya koneksi Internet ke ISP utama, sistem akan secara otomatis melakukan failover ke ISP back-up. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan Script dan Netwatch. Script Script merupakan file berisi perintah yang dalam hal ini digunakan untuk memerintah sistem untuk mengalihkan koneksi Internet dari yang satu ke yang lain. Untuk konfigurasi automatic failover ini, diperlukan dua script yaitu: script failover dan back-to-main.
50 Gambar 4.13 Tampilan Script List Gambar 4.14 Tampilan Script failover
51 Pada saat koneksi ke Internet melalui rute ISP utama terputus, script failover akan mengaktifkan ISP back-up, dan jika ISP utama tidak terputus, ISP back-up akan dimatikan. Gambar 4.15 Tampilan Script back2main Script back2main berfungsi untuk mengembalikan koneksi Internet ke ISP utama ketika ISP utama sudah dapat terhubung kembali. Netwatch Netwatch berfungsi untuk mengawasi / memonitor sebuah alamat IP host yang berguna sebagai patokan kondisi Down dan Up dari koneksi Internet, dimana ketika terjadi kondisi Down, maka script failover akan dijalankan, dan jika kondisi kembali Up, maka script back2main akan dijalankan.
52 Gambar 4.16 Tampilan Menu Netwatch Gambar 4.17 Tampilan Tab Host Alamat IP pada bagian Host merupakan alamat IP dari Google. Interval pada Netwatch diberi nilai 5 detik, yang berarti Netwatch akan melakukan pengecekan setiap 5 detik.
53 Gambar 4.18 Tampilan Tab Down Gambar 4.19 Tampilan Tab Up 4.3 Evaluasi Jaringan back-up yang disediakan yaitu berupa jaringan 3G hanya dipakai apabila jaringan Internet dari ISP pertama (Buanter.net) terputus. Setelah dilakukan implementasi jaringan Mikrotik dan automatic failover di PT. Jagat Genta Teknologi, tahapan berikutnya adalah melakukan evaluasi sistem dengan melakukan percobaan terhadap kinerja sistem.
54 Tahap evaluasi dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1. Melakukan uji coba koneksi lokal (LAN) 2. Melakukan uji coba koneksi jaringan Internet 3. Melakukan uji coba automatic failover 4.3.1 Uji Coba Koneksi Lokal (LAN) Tahap pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah jaringan lokal (LAN) yang dirancang sudah terhubung dengan baik. Percobaan ini dilakukan dengan cara melakukan ping ke IP router Mikrotik yang memiliki alamat 192.168.88.1 dari beberapa komputer yang terhubung melalui kabel dan nirkabel pada lantai 1, 2, dan 3. Gambar 4.20 Uji Coba Pada Komputer di Lantai 1 yang Terhubung Melalui Kabel
55 Gambar 4.21 Uji Coba Pada Laptop yang Terhubung Melalui Wifi di Lantai 1 Gambar 4.22 Uji Coba Pada Komputer di Lantai 2 yang Terhubung Melalui Kabel
56 Gambar 4.23 Uji Coba Pada Laptop yang Terhubung Melalui Wifi di Lantai 2 Gambar 4.24 Uji Coba Pada Laptop Di Lantai 3 yang Terhubung Melalui Kabel
57 Gambar 4.25 Uji Coba Pada Laptop yang Terhubung Melalui Wifi di Lantai 3 Adanya ping reply saat dilakukan ping ke IP 192.168.88.1 menunjukan terhubungnya komputer yang diuji sampai ke router Mikrotik yang digunakan. Berdasarkan hasil dari uji coba seperti yang ditampilkan pada gambar-gambar di atas dapat disimpulkan bahwa koneksi dari jaringan lokal pada PT. Jagat Genta Teknologi sudah terhubung dengan baik dengan router Mikrotik yang digunakan pada penelitian ini. 4.3.2 Uji Coba Koneksi Jaringan Internet Uji coba ini dilakukan untuk mengetahui apakah jaringan Mikrotik yang implementasikan sudah berjalan dengan baik. Percobaan ini dilakukan dengan cara mengakses Internet dengan koneksi dari ISP pertama dan melihat IP yang kita terima dari www.speedtest.net.
58 Gambar 4.26 Uji Coba www.speedtest.net Untuk ISP Utama Gambar 4.27 Uji Coba www.speedtest.net Untuk Jaringan 3G Berdasarkan gambar-gambar di atas, didapat informasi mengenai IP Address dari ISP utama dan juga back-up serta kondisi saat
59 masing-masing ISP digunakan, dimana kedua jaringan baik utama maupun back-up sudah terhubung dengan Internet dengan baik. Selain menggunakan www.speedtest.net, informasi detail mengenai ISP yang digunakan juga dapat dilihat menggunakan layanan yang disediakan oleh www.whatismyip.com dan whois.net. Gambar 4.28 Tampilan Data ISP Utama dan Back-Up yang Digunakan 4.3.3 Uji Coba Automatic Failover Percobaan ini dilakukan untuk validasi apakah teknik failover dapat berjalan dengan baik atau tidak yaitu dengan mencoba melakukan ping terus menerus ke salah satu alamat website dan pada percobaan ini kami menggunakan alamat www.google.com. Untuk percobaan failover ini dilakukan dengan mengkondisikan kegagalan ISP dengan mencoba mematikan gateway yang terhubung dengan masing masing ISP. Percobaan dilakukan pada mikrotik dengan menggunakan fitur ping pada winbox.
60 Gambar 4.29 Tampilan Ping ISP Utama Jaringan terkoneksi dengan baik dimana dapat dilihat dari hasil ping ke www.google.com.
61 Gambar 4.30 Tampilan Ping saat Failover ke Jaringan 3G Pada loop ke -10 terjadi timeout dikarenakan pemindahan dari ISP utama ke ISP back-up ketika ISP utama terputus. Dapat dilihat dengan perbedaan besarnya nilai ping dari ISP back-up.
62 Gambar 4.31 Tampilan Ping saat Kembali ke ISP Utama Pada loop 21, terjadi timeout lagi dikarenakan automatic failover mengembalikan koneksi Internet ke ISP utama ketika Mikrotik mendeteksi koneksi Internet ISP Utama sudah kembali Up. Dapat dilihat pada loop 22 dan 23 nilai ping kembali ke nilai rata pada ISP utama.
63 Berikut ini adalah simulasi lain yang dilakukan untuk uji coba automatic failover tersebut. Gambar 4.32 Tampilan saat ISP Utama Terhubung Pada window browser di sebelah kiri-bawah (bagian yang diberi kotak) menunjukan IP public dari ISP utama yang digunakan oleh PT. Jagat Genta Teknologi yaitu Buanter.net. Pada window Winbox dapat dilihat pada kotak bagian atas terdapat tulisan main ISP reachable yang berarti ISP utama saat ini sedang terhubung, sedangkan pada kotak bagian bawah menunjukan besarnya ping saat sedang terkoneksi pada ISP utama.
64 Gambar 4.33 Tampilan saat Failover ke Jaringan Back-Up 3G Sama seperti sebelumnya, pada window browser di sebelah kiri-bawah (bagian yang diberi kotak) menunjukan IP public dari ISP utama yang digunakan oleh PT. Jagat Genta Teknologi yaitu Buanter.net. Pada window Winbox dapat dilihat pada kotak bagian atas terdapat tulisan main ISP unreachable yang berarti ISP utama saat ini sedang terputus dan backup ISPPP reachable yang berarti ISP back-up saat ini terhubung dan sedang digunakan, ISPPP pada Winbox tersebut hanya sekedar penamaan untuk ISP, dua buah P terakhir tidak memiliki kepanjangan arti tersendiri. Pada kotak bagian bawah menunjukan besarnya ping saat sedang terkoneksi pada ISP back-up.
65 Gambar 4.34 Tampilan saat Kembali Lagi ke ISP Utama Pada window Winbox dapat dilihat pada kotak bagian atas terdapat tulisan main ISP reachable yang pada gambar 4.30 sebelumnya unreachable yang berarti ISP utama saat ini sudah terhubung kembali dan pada kotak bagian bawah menunjukan besarnya ping saat kembali terkoneksi pada ISP utama. Berdasarkan ketiga evaluasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa informasi yang diperoleh, seperti: jaringan lokal sudah terhubung dengan baik dan juga sudah terkoneksi dengan internet, kedua ISP utama dan back-up (Buanter.Net dan Indosat) sudah dapat digunakan, dan metode automatic failover dapat berjalan dengan baik untuk memindahkan jalur koneksi ke ISP utama dan back-up. Selain itu juga terdapat kondisi dimana back-up link atau dalam hal ini koneksi 3G dari Indosat yang menggunakan sistem kuota (7GB/bulan dengan bandwidth up to 7 Mbps) dan jika digunakan secara bersamaan pada saat ISP utama dalam keadaan normal, ada kemungkinan ketika ISP utama down, kuota dari ISP back-up habis dikarenakan penggunaan 2 link secara bersamaan pada saat kondisi ISP utama normal (terhubung dengan baik). Dengan pertimbangan
66 tersebut maka tidak dilakukan load balancing untuk memanfaatkan 2 jalur koneksi tersebut. Pada saat terjadi failover, aplikasi pada umumnya perlu reconnect. Sebagai contoh, pada saat mengakses sebuah hyperlink suatu website dan pada saat itu juga terjadi failover, maka pengguna hanya cukup me-refresh web browser untuk melanjutkan penggunaan Internet, tetapi tidak perlu sampai menutup browser dan me-restart browser kembali.