BAB II AKUNTANSI BIAYA LINGKUNGAN

dokumen-dokumen yang mirip
9 - Manajemen Kos/Biaya Lingkungan

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

BAB II BIAYA LINGKUNGAN: PENGUKURAN DAN PELAPORAN. tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang

Environmental Accounting : an overview

BAB II BIAYA LINGKUNGAN: PENGUKURAN DAN PELAPORANNYA. Menurut ISO 14001, lingkungan adalah keadaan sekeliling dimana

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan dalam jumlak konteks yang berbeda seperti: akuntansi keuangan dan pelaporan.

BAB II BIAYA KUALITAS LINGKUNGAN. Menurut ISO 14001, lingkungan adalah keadaan sekeliling di mana organisasi

BAB I PENDAHULUAN. cenderung mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan

ESTIMASI BIAYA LINGKUNGAN ( Studi Kasus Penggunaan Air tanah pada Hotel 1 O 1 Yogyakarta)

BAB I PENDAHULUAN. Banyak perusahaan yang berjuang untuk mencapai ecoefficiency yang maksimal,

ANALISIS BIAYA LINGKUNGAN PADA RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA. Genzha Barcelona Estianto H. Andre Purwanugraha

BAB I PENDAHULUAN. warming, eco efficiency, dan kegiatan industri yang memberi dampak langsung

PELAPORAN BIAYA LINGKUNGAN DAN PENILAIAN KINERJA LINGKUNGAN (Studi Kasus Pada PT Tangjungenim Lestari Pulp and Paper)

BAB I PENDAHULUAN. wacana CSR berkembang. Munculnya KTT Bumi di Rio pada 1992

BAB I PENDAHULUAN. Persoalan lingkungan menjadi semakin menarik seiring dengan adanya

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II BIAYA LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. sebab itu perusahaan akan terus berusaha agar dapat melakukan kegiatan produksi

PENGUKURAN DAN PELAPORAN BIAYA LINGKUNGAN PADA PERUSAHAAN BATIK PLENTONG YOGYAKARTA

BAB II BIAYA LINGKUNGAN: PENGUKURAN DAN PELAPORANNYA. tumbuh, dimana meliputi unsur-unsur penting seperti tanah, air dan udara.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI Akuntansi Lingkungan (Environmental Accounting) IFAC (2005) menjelaskan bahwa pada level organisasi, Environmental

PENINGKATAN EFISIENSI PERUSAHAAN MELALUI KONSEP NON PRODUK OUTPUT (NPO) SEBAGAI BAGIAN INTERNALISASI BIAYA LINGKUNGAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

terutama mengenai alokasi biaya lingkungan. Akuntansi lingkungan menunjukkan

Kebijakan tentang rantai pasokan yang berkelanjutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, PENELITIAN TERDAHULU, KERANGKA PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. Organisasi yang baik dapat terwujud apabila komponen-komponen di dalamnya

BAB II PENGUKURAN DAN PELAPORAN BIAYA LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. yang terkait dengan isu green accounting tersebut di tahun 1980-an. Di

ANALISIS BIAYA LINGKUNGAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi

BAB I PENDAHULUAN. Isu kerusakan lingkungan yang mencuat akhir-akhir ini menimbulkan kesadaran dan

BAB V KESIMPULAN Kesimpulan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, maka dapat disimpulkan:

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA.

BAB I PENDAHULUAN. bumi yang diakibatkan oleh proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan untuk tetap eksis dalam dunia bisnis yang kompetitif ini. Suatu produk

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5%

STRATEGI TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH MELALUI TATA KELOLA YANG APIK (GHK)

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai salah satu cara untuk memantau kinerja produksinya. Pengukuran

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Peningkatan jumlah limbah dan penyempitan lahan yang digunakan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH SPESIFIK

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN LINGKUNGAN PADA RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA. Borromeus Gilang Swastyakso HY. Sri Widodo

BAB I PENDAHULUAN. Dalam persaingan yang ketat, peningkatan permintaan dan penghematan biaya

Standar Kita. Pentland Brands plc

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat

USAHA PEMANFAATAN BARANG BEKAS PLASTIK

BAB I PENDAHULUAN. bersejarah, flora, fauna dan masih banyak kekayaan alam yang lainnya. Namun semakin

BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan baik

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. strategi yang sesuai demi tercapainya going concern perusahaan serta sustainable

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

BAB I PENGUKURAN DAN PELAPORAN BIAYA LINGKUNGAN PADA PT. ANEKA ADHILOGAM KARYA

ANALISIS BIAYA KUALITAS LINGKUNGAN (STUDI PADA UNIT PAPERMILL DI PT PURA BARUTAMA) Alberta Vinanci Rahardjo. Pembimbing: HY.

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia dan dimulainya era pasar bebas

BAB I PENDAHULUAN. Mada University Press, 2009), hlm Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan (Yogyakarta: Gadjah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat, hal ini dapat terlihat dari adanya kekhawatiran kemungkinan

ANALISA KEBUTUHAN AIR BERSIH KOTA BATAM PADA TAHUN 2025

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

PENDEKATAN ECO-EFFISIENSI DALAM PENGELOLAAN USAHA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air sangat dibutuhkan oleh semua mahkluk hidup tanpa terkecuali

Pengaruh Pencemaran Sampah Terhadap Kualitas Air Tanah Dangkal Di TPA Mojosongo Surakarta 1

BAB II LANDASAN TEORI DAN NALAR KONSEP

ADVANCED MANAGEMENT ACCOUNTING (Akuntansi Manajemen Lanjut)

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis di Indonesia menunjukkan persaingan yang

PERBEDAAN AMDAL DAN ANDAL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 8 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 2

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI DAN PENGALOKASIAN BIAYA LINGKUNGAN PADA PT ASPEX KUMBONG

AKUNTANSI LINGKUNGAN TINJAUAN TERHADAP SISTEM INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN ATAS BIAYA LINGKUNGAN

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi merupakan keseluruhan dari pengamatan yang menjadi fokus penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

CAPAIAN GREEN CONSTRUCTION DALAM PROYEK BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN MODEL ASSESSMENT GREEN CONSTRUCTION

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Definisi dan Hubungan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II KERANGKA TEORI. adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikroorganisme.

BAB I PENDAHULUAN. dan lingkungan. Kondisi realitas yang terjadi banyak perusahaan manufaktur

Transkripsi:

BAB II AKUNTANSI BIAYA LINGKUNGAN 2.1 Biaya Lingkungan 2.1.1 Biaya Lingkungan dan ecoefficiency Biaya Lingkungan merupakan biaya dari dampak yang dihasilkan oleh aktivitas-aktivitas organisasi atau perusahaan terhadap lingkungannya. Dalam memahami biaya lingkungan, memahami konsep ecoefficiency itu sangat penting. Hal ini disebabkan karena inti dari konsep ecoefficiency adalah mempertahankan organisasi atau perusahaan dapat memproduksi barang dan jasa yang lebih bermanfaat dan berkualitas sambil mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut Hansen & Mowen dalam Managerial Accounting menjelaskan bahwa ada tiga pesan penting yang terdapat pada ecoefficiecy, yaitu: 1. Perbaikan ekologi dan ekonomi yang dapat saling melengkapi. 2. Perbaikan lingkungan bukan cuma sekedar amal atau derma, tetapi sebagai persaingan 3. Pelengkap pengembangan yang berkesinambuangan/sustainable development (memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri) 12

13 Efisiensi dari ecoeffiecncy dapat meningkat disebabkan oleh beberapa sumber yaitu: 1. Pelanggan mulai menginginkan produk yang lebih bersih, tidak merusak lingkungan dan pembuangannya ramah lingkungan. 2. Para pegawai lebih suka bekerja di perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya, seperti kondisi kerja yang bersih dan aman mampu meningkatkan pekerja menjadi lebih produktivitas. 3. Perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan mendapatkan keuntungan eksternal seperti modal yang lebih rendah dan tingkat asuransi yang lebih rendah. 4. Kinerja lingkungan yang baik menghasilkan keuntungan sosial yang sangat signifikan. Seperti membawa keuntungan kesehatan manusia. Hal ini mampu merperbaiki citra perusahaan dan memperkuat kemampuan untuk menjula produk dan jasanya. 5. Fokus pada perbaikan lingkungan, mampu membuat manajer harus menciptakan inovasi dan mencari peluang baru untuk dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan. 6. Pengurangan biaya lingkungan dapat mempertahankan atau menciptakan keunggulan bersaing. Para manajer harus mengetahui biaya lingkungan yang diciptakan oleh aktivitas perusahaannya dan mengetahui cara mengatasinya. Untuk mengetahui hal tersebut, maka para manajer harus mengetahui konsep ecoefficiency. Pemahaman yang tepat tentang ecoefficiency, mampu

14 membuat manajer mengambil keputusan yang tepat dalam meningkatkan kualitas produknya dengan mengurangi dampak lingkungan yang diciptakan dari hasil produk itu. 2.1.2. Biaya Lingkungan dan Model Biaya Kualitas Lingkungan Informasi tentang biaya lingkungan yang tepat, benar dan lengkap dapat berpengaruh kepada keputusan manajer. Informasi ini tesaji dengan tepat apabila biaya-biaya lingkunganya dapat diidentifikasi secara tepat dan benar sesuai keadaan lingkungan sekitar perusahaan. Pendekatan yang menarik untuk dapat mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan itu adalah dengan model kualitas lingkungan total. Dalam model ini, keadaan ideal adalah tidak ada kerusakan lingkungan (sama dengan keadaan cacat nol pada manjemen kualitas total). Berarti tidak ada kerusakan lingkungan yang diciptakan oleh perusahaan. Biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena kualitas lingkungan yang buruk atau ada kemungkinan kualitas lingkungan yang buruk dapat terjadi akibat aktivitas perusahaan. Jadi, biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan. Dengan definisi ini, biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi 4 bagian yang tersaji dalam tabel berikut

15 Tabel 2.1 Klasifikasi Biaya Lingkungan (Model Biaya Kualitas) Klasifikasi biaya Pengertiaannya Contoh Lingkungan: Biaya Pencegahan (Prevention costs) Biaya Deteksi (detection costs) Biaya Kegagalan internal (internal failure costs) Biaya-biaya untuk aktivitas dalam mencegah d iproduksinya limbah atau sampah yang dihasilkan yang dapat merusak lingkungan Biaya-biaya untuk aktivitas dalam menentukan bahwa produk, proses, dan aktivitas lain perusahaan telah memenuhi standar lingkugan yang berlaku. Biaya-biaya untuk aktivas menghilangkan dan mengelolah limbah dan sampah ketika memproduksi. Tujuannya : 1. memastikan limbah dan sampah yang diproduksi tidak dibuang kelingkungan luar. 2. Mengurangi tingkat limbah yang dibuang sehingga jumlahnya tidak melewati lingkungan. standar -Evaluasi dan pemilihan pemasok -Evaluasi dan pemilihan alat untuk mengendalikan polusi -desain proses dan produk untuk mengurangi dan menghapus limbah, -melatih pegawai mempelajari dampak lingkungan -Memperoleh sertifikasi ISO 14001 -dll -audit aktivitas lingkungan -pemeriksaan produk dan proses agar ramah lingkungan. -pengembangan ukuran kinerja lingkungan. -dll -pengelolahan limbah beracun. -pengoperasiaan peralatan yang dapat mengurangi atau menghilangkan polusi. -lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah -daur ulang limbah. Biaya Kegagalan Eksternal (external failure costs Biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan.

16 Menurut International Federation of Accounting (IFAC) dalam Bangun dan Sunarni Wiwik (2013), dalam jurnalnya tentang pelaporan biaya lingkungan dan penilaian kinerja lingkungan (Studi Kasus Pada PT Tangjungemin Lestari Pulp and Paper) menjelaskan ada enam kategori biaya lingkungan. Enam kategori tersebut disajikan pada tabel 2.2. Tabel 2.2 Kategori Biaya Lingkungan Menurut IFAC 1. Biaya Material dari Output Produk (Material Costs of Product Output) Termaksud biaya penyediaan sumber daya seperti air dan biaya pembelian bahan lain yang akan diproduksi menjadi suatu output produk 2. Biaya Material dari Output Non-Produk (Material Costs of Non-Product Outputs) Termaksud biaya pembeliaan dan pengelolahan sumber daya dan bahan lainnya yang menjadi output non-produk (limbah dan emisi) 3. Biaya Kontrol Limbah dan Emisi (Waste and Emission Control Cost) Termaksud biaya untuk penanganan, pengelolahan dan pembuangan limbah dan emisi; biaya perbaikan dan kompensasi yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan, dan setiap biaya yang timbul karenakepatuhan terhadap peraturan pemerintah yang berlaku. 4. Biaya Pencegahan dan Pengelolahan Lingkungan (Prevention and other Enviromental Management Costs) Termaksud biaya yang timbul karena adanya kegiatan pengelolahan lingkungan yang bersifat preventif. Termaksud juga biaya pengelolahan lingkungan lainnya seperti perencanaan perbaikan lingkungan, pengukuran kualitas lingkungan, komunikasi dengan masyarakat dan kegiatan-krgiatan yang relevan. 5. Biaya Penelitian dan Pengembangan (Research and Development Costs) Termaksud biaya yang timbul karena adanya proyek-proyek penelitian dan pengembangan yang berhubungandengan isu-isu lingkungan. 6. Biaya Tak Berwujud (Less Tangible Costs) Termaksud biaya internal dan eksternal yang tak berwujud. Contohnya adalah b iaya yang timbul karena adanya kewajiban untuk mematuhi pertauran pemerintah agar di massa depan tidak muncul masalah lingkungan, biaya yang timbul untuk menjaga citra perusahaan, biaya yang timbul karena menjaga hubungan dengan stakeholderdan eksternalitas.

17 Dilihat dari keempat klasifikasi biaya lingkungan yang ada, biaya kegagalan eksternal yang paling merusak. Hal hal ini disebabkan oleh biaya-biaya yang merupakan tanggung jawab perusahaan harus terealisais. 2.1.3. Biaya Kegagalan Eksternal Lingkungan (Enviromental External Failure) Biaya kegagalan eksternal adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan setelah perusahaan melepas limbah dan sampah kedalam lingkungan. Terdapat dua jenis biaya kegagalan eksternal, yaitu 1. Biaya kegagalan eksternal yang terealisasi (Realized external failure costs) Merupakan biaya yang dibayar oleh perusahaan, seperti contoh : pembersihan danau yang tgercemar, pembersihan minyak yang tumpah, pembersihan tanah yang tercemar, penggunaan bahan baku dan energi secara tidak efisien, penyelesaian klaim kecelakaan pribadi dari praktik kerja yang tidak ramah lingkungan, penyelesaian klaim kerusakan properti, pembaruan tanah keadaam alamiah, dan hilangnya penjualan karena reputasi tanah yang buruk. 2. Biaya kegagalan eksternal yang tidak direalisasikan (unrealized external failure costs) Merupakan biaya sosial yang disebabkan oleh perusahaan yang dialami dan dibayar oleh pihak-pihak diluar perusahaan. Biaya sosial dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu (1) biaya yang berasal dari degradasi lingkungan dan (2) biaya yang berhubungan dengan dampak

18 buruk terhadap kesejahteraan masyarakat. Contoh biaya sosial mencakup perawatan medis karena udara yang terpolusi, hilangnya kegunaan danau sebagai tempat rekreasi karena pencemaran, dan rusaknya ekosistem karena pembuangan sampah padat. 2.2 Hotel dan Air Pengertian hotel menurut Ridwan (2014) adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus. Pengertian hotel yang ada di Indonesia berdassarkan surat keputusan menparpostel, bahwa hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan, penginapan, makan dan minum serta jasa penunjangn lainnya bagi umum yang dikellah secara komersial. Dengan kata lain pengertian hotel dapat disimpulkan menjadi : 1. Suatu jenis akomodasi 2. Menggunakan sebagian atau seluruh bangunan yang ada 3. Menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya 4. Disediakan bagi umum 5. Dikelolah secara komersial, yang dimaksud dengan komersial adalah dikelolah dengan memperhitungkan untung atau ruginya, serta tujuan

19 utamanya adalah mendapatkan keuntungan berupa uang sebagai tolak ukurnya. Air mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan makhluk lainnya dialam ini. Tidak ada satupun kehidupan di dunia ini yang tidak membutuhkan air. Air merupakan hal pokok bagi konsumsi manusia dantelah menjadi salah satu kekayaan yang sangat penting. Pengaruh air sangat luas bagi kehidupan karena membantu manusia untuk melakukan aktivitas dan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sumber air baku bagi suatu penyediaan air bersih sangat penting. Karena selain kuantitas yang mencukupi juga dari segi kualitas yang akan berpengaruh terhadapa prosespengelolahan. Disamping itu letak sumber air dapat mempengaruhi bentuk jaringan transmisi, distribusi dan sebagainya (Ridwan, 2014). Air tanah adalah air yang berasal dari curah hujan yang kemudian mengalami infiltrasi dan perkolasi. Infiltrasi adalah meresapnya air kedalam permukaan tanah. Air yang telah meresap kedalam tanah akan terus bergerak ke bawah yaitu kedalam profil tanah hingga menemui lapisan tanah yang kedap air sehingga air akan terkumpul sebagai air tanah. Pergerakan aifr menuju lapisan tanah yang lebih dalam inilah yang disebut dengan sebagai perkolasi. Menurut Ridwan (2014), pada umumnya kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan dapat dibagi dalam :

20 a. Kebutuhan domestik, adalah kebutuhan air bersih untuk pemenuhan kegiatan sehari-hari atau rumah tangga seperti : untuk minum, memasak, kesehatan individu (mandi cuci dan sebagainya, menyiram tanaman, dan pengangkutan air buangan dapur atau toilet). b. Kebutuhan Non Domestik, adalah kebutuhan air bersih yang digunakan untuk beberapa kegiatan seperti: - Kebutuhan institusional,adalah kebutuhan air bersih untuk kegiatan perkantoran dan tempat pendidikan atau sekolah. - Kebutuhan kormesial dan industri, adalah kebutuhanair bersih untuk kegiatan hotel, pasar, pertokoan, dan restoran. Sedangkan kebutuhan air bersih untuk industri biasanya digunakan untuk air pendinginan, air pada boiler untuk pemanas, bahanbaku proses. - Kebutuhan fasilitas umum, adalah kebutuhan air bersih untuk kegitan tempat-tempat ibadah, rekreasi, dan terminal. 2.3. Biaya Lingkungan, Hotel, dan Air Air menjadi suatu permasalahan bagi hotel dan masyarakat sekitar hotel terlebih khusus buat kota Yogyakarta, karena air menjadi salah satu sumberkebutuhan yang utama. Dilain sisi masyarakat membuatuhkan air yang mereka dapat dari air sumur(air tanah), sedangkan Hotel juga membutuhkan kapasitas air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Hotel yang tidak dapat dipenuhi oleh PDAM,sehingga hotel menggambil air

21 tanah yang digunakan juga oleh masyarakat. hal ini membuat masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan airnya seperti biasa karena air yang biasa digunakan oleh masyarakat digunakan juga oleh hotel. Dalam UUD 1945 Pasal 33 no. 3 berbunyi Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Peraturan dalam UUD 1945 Pasal 33 no. 3 menjelaskan bahwa air digunakan untuk kemakmuran rakyat. Sehingga ini berdampak pada biaya lingkunga, klasifikasi biaya kegagalan eksternal tentang biaya sosial yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Hal ini memberitahukan bahwa ada tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pihak hotel untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar hotelnya. Informasi biaya lingkungan inilah yang akan mampu membuat manajer mengambil keputusan yang tepat dalam membebankan biaya sosial terhadap jasa hotel yang ditawarkan. Selain itu menurut International Federation of Accountants (IFAC) dalam Bangun dan Sunarni Wiwik (2013) menyatakan salah satu kalsifikasi biaya lingkungan adalah biaya tak berwujud (less Tangible Cost) di mana contohnya seperti, biaya yang timbul karena adanya kewajiban untuk mematuhi peraturan pemerintah agar dimasa depan tidak muncul masalah lingkungan, biaya yang timbul untuk menjaga citra perusahaan, dan biaya yang timbul untuk menjaga hubungan dengan stakeholder dan eksternalitas.