MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI,

dokumen-dokumen yang mirip
REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTAMBANGAN DAN ENERGI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1693 K/34/MEM/2001 TANGGAL 22 JUNI 2001 TENTANG PELAKSANAAN PABRIKASI PELUMAS DAN

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI,

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 1101 K/702/M.PE/1991 DAN 436/KPTS-II/1991 TENTANG

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup N0. 42 Tahun 1996 Tentang : Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Minyak Dan Gas Serta Panas Bumi

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1453 K/29/MEM/2000 TANGGAL : 3 November 2000

MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR : 019. K/34/M.PE/1998 TENTANG MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP-42/MENLH/10/1996 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 42/MENLH/10/1996 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 437 K/30/MEM/2003 TENTANG

*47349 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 48 TAHUN 1997 (48/1997)

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (LN Tahun 1960 Nomor 133, TLN Nomor 2070); 2.

BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

<Lampiran> KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

2016, No Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan Pasal 1

BAB III LANDASAN TEORI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2001 TENTANG

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indon

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MEMTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG

m Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaar~ ketentuan Pasal 6 dan Pasal 9

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR: 300.K/38/M.PE/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI,

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-26/M.

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1187 K/30/MEM/2002 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Nomor: 0007 tahun 2005.

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1065 TAHUN 2003 TENTANG

BUPATI PURWAKARTA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

2017, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, T

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN

PARTURAN DAERAH KABUPTEN TANGGAMUS NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERTAMBANGAN, ENERGI DAN LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH TIMAH

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 300.K/38/M.pe/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI NOMOR : /39/600.

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-03/M.

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 26 TAHUN 2010 TENTANG

: ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ORGANISASI : DINAS ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Halaman. 362.

2018, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH BESI

bahwa untuk memberikan kepastian hukum terhadap

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 62 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 053 TAHUN 2006 TENTANG WAJIB DAFTAR PELUMAS YANG DIPASARKAN DI DALAM NEGERI

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1990 TENTANG POKOK-POKOK ORGANISASI PERTAMINA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1990 TENTANG POKOK-POKOK ORGANISASI PERTAMINA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR : 4 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH BUPATI KULON PROGO,

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1982 TENTANG TATA PENGATURAN AIR

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

- 1 - PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 41 TAHUN 2013 TENTANG

BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA ACEH

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 09 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH NIKEL

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG IZIN LINGKUNGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2012 TENTANG IZIN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM PENGAIRAN DAN BINA MARGA KOTA BATU

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN,

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Nomor: 0044 TAHUN 2005.

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 344/KMK.06/2001 TANGGAL 30 MEI 2001 TENTANG PENYALURAN DANA BAGIAN DAERAH DARI SUMBER DAYA ALAM

DAFTAR ISI BAB I : KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI... 3 BAB II : SUSUNAN ORGANISASI... 4

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2015

PERATURAN BUPATI TANGERANG TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN DAN PENERBITAN IZIN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG,

BUPATI BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG

2017, No Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4435) sebagaimana telah beberapa k

Untuk : PERTAMA : Melakukan upaya-upaya untuk menanggulangi dan menghentikan segala bentuk penyalahgunaan pada penyediaan dan pelayanan bahan bakar

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 49 TAHUN 2015 TENTANG IZIN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2016, No Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); 2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (

2016, No Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan K

Transkripsi:

Keputusan Menteri Pertambangan Dan Energi No. 103.K Tahun 1994 Tentang : Pengawasan Atas Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Dalam Bidang Pertambangan Dan Energi MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI, Menimbang : bahwa guna berhasilnya pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan dalam bidang pertambangan dan energi dan sebagai pelaksanaan pasal 17 dan pasal 18 ayat 2 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, dipandang perlu untuk mengatur pengawasan terhadap peengelolaan dan pemantauan lingkungan; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 (LN Tahun 1960 Nomor 133, TLN Nomor 2070); 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 (LN Tahun 1967 Nomor 22 TLN Nomor 2831); 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 (LN Tahun 1971 Nomor 76, TLN Nomor 2971); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 (LN Tahun 1982 Nomor 12, TLN Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 (LN Tahun 1985 Nomor 74, TLN Nomor 3317); 6. Petroleum Vervoer Ordonnantie 1927 (S. 1927 Nomor 214); 7. Nijn Poliyie Reglement (S. 1930 Nomor 341); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 (LN Tahun 1969 Nomor 60, TLN Nomor 2916) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1992 (LN Tahun 1992 Nomor 129, TLN Nomor 3510); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 (LN Tahun 1989 Nomor 24, TLN Nomor 3394); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 (LN Tahun 1990 Nomor 24, TLN Nomor 3409);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 (LN Tahun 1993 Nomor 84, TLN Nomor 3538); 12. Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 1981 tanggal 1 Juni 1981 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1991 tanggal 1 Oktober 1991; 13. Keputusan Presiden Nomor 96/M Tahun 1993 tanggal 17 Maret 1993; 14. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 04/P/M/ Pertamb/1977 tanggal 28 September 1977; 15. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 02/P/M/ Pertamb/1979 tanggal 30 Juli 1979; 16. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 0185 K/008/ M.PE/1988 tanggal 18 Februari 1988; 16. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 0935 K/008/ M.PE/1988 tanggal 31 Agustus 1988; MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI TENTANG PENGAWASAN ATAS PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN DALAM BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI Pasal 1 Dalam keputusan menteri ini yang dimaksud dengan : a. Pengawasan atas Pengeolaan dan Pemantauan Lingkungan atas pelaksanaan rencana pengelolaaan lingkungan (RPL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) serta upaya pengelolaan lingkungan (UPL) dari aspek fisika, kimia dan biologi serta teknis mengenai kemampuan kerja suatu instalasi, peralatan lingkungan, teknik dan bahan yang dipergunakan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan; b. Instalasi adalah seperangkat konstruksi, peralatan beserta kelengkapannya yang terdapat dalam suatu sistem untuk melaksanakan kegiatan di bidang pertambangan dan energi; c. Peralatan Lingkungan adalah setiap alat yang dipergunakan untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta untuk penanggulangan dan pencegahan pencemaran dalam kegiatan pertambanngan dan energi;

d. Teknik yang dipergunakan adalah tata cara atau prosedur yang akan dipergunakan dalam usaha pertambangan umum, minyak dan gas bumi serta pengusahaan sumber daya panas bumi, ketenagalistrikan dan energi baru untuk menjamin pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta untuk penanggulangan pencemaran dan mendukung kelestarian lingkungan; e. Bahan adalah bahan yang dipergunakan untuk penanggulangan dan pencegahan pencemaran dan bahan lainnya yang berpotensi menimbulkan pencemaran dalam kegiatan pertambanngan dan energi; f. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bertanggungjawab dibidang pertambangan minyak dan gas bumi atau sumber daya panas bumi atau pertambangan uum atau listrik dan pengembangan energi. Pasal 2 (1) Pengawsana atas pengelolaan dan pemantauan lingkungan termaksud dalam pasal 1 huruf a : a. untuk kegiatan pertambangan umum dilakukan oleh Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT); b. untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi serta pengusahaan sumber daya panas bumi dilakukan oleh Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT); c. untuk kegiatan ketenagalistrikan dan energi baru dilakukan oleh Pemantauan Lingkungan Tenaga Listrik (PPLTL); (2) dalam pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat 1 huruf a dan b untuk setiap hari di lapangan, Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang menunjuk Kepala / Wakil Kepala Teknik Tambang, Kepala / Wakil Kepala Teknik dan Penyelidik/ wakil penyelidik atau pejabat yang setingkat yang bertanggung jawab kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. Pasal 3 Direktur Jenderal dapat menunjuk pihak lain yang memenuhi persyaratan untuk membantu pelaksanaan pengawasan rencana pengelolaan lingkungan, rencana pemantauan lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan serta penaggulangan dan pencegahan pencemaran dalam usaha pertambangan umum, pertambangan minyak dan gas bumi serta pengusahaan sumber daya panas bumi, ketenagalistrikan dan energi baru. Pasal 4 Pengawasan pengelolaan dan pemantauan lingkungan termaksud dalam pasal 2 dilakukan secara administratif dan teknis operasional, yaitu : A. Bidang Pertambangan Umum a. Secara Administratif :

1. Mengevaluasi laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan / pemantauan lingkungan; 2. Mengevaluasi laporan hasil analisis kualitas bahan buangan limbah; 3. Mengevaluasi realisasi pelaksanaan reklamasi; 4. Mengevaluasi RKL dan RPL serta UKL dan UPL sebagai hasil inspeksi dan atau akibat perubahan tata cara penambangan dan pengolahan / pemurnian serta penggunaan peralatan sebagai bahan untuk peninjauan kembali (review dan audit) RKL dan RPL atau UKL dan 5. Mengevaluasi informasi laporan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan ; 6. Mengevaluasi pemakaian bahan kimia untuk penanggulangan pencemaran dan bahan kimia lainnya untuk usaha pertambangan umum yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran; 7. Mengevaluasi laporan studi teknis konstruksi dan peralatan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan; b. Teknis Operasional : 1. Melaksanakan inspeksi secara berkala; 2. Melakukan inspeksi khusus apabila diduga atau terjadi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta dalam hal adanya maksud perubahan RKL dan RPL atau UKL dan 3. Melakukan inspeksi teknis peralatan pengolah limbah / penanggulangan pencemaran yang akan dipergunakan untuk memantau unjuk kerjanya. B. Bidang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi serta Pengusahaan Sumber daya Panas Bumi. a. Secara Administratif : 1. Mengevaluasi laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan / pemantauan lingkungan; 2. Mengevaluasi laporan hasil analisis kualitas bahan buangan / limbah; 3. Mengevaluasi laporan hasil analis lainnya sesuai dengan RPL yang disetujui; 4. Mengevaluasi realisasi pelaksanaan reklamasi;

5. Mengevaluasi pemakaian bahan kimia untuk penanggulangan pencemaran dan bahan kimia lainnya untuk usaha pertambangan minyak dan gas bumi yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran; 6. Mengevaluasi peralatan pengolah dan pemantauan limbah yang akan digunakan perusahaan; 7. Mengevaluasi kesigapan perusahaan dalam penaggulangan pencemaran lingkungan; 8. Mengevaluasi informasi / laporan kerusakan dan atau pemcemaran lingkungan; 9. Mengevaluasi laporan studi teknis yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan; 10. Mengevaluasi rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta upaya pengelolasan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan sebagai akibat perubahan tata cara eksplorasi, eksploitasi, pemurnian dan pengolahan, pengangkutan dan penjualan termasuk pelabuhan khusus serta peralatan sebagai bahan untuk peninjauana kembali (review dan audit) RKL dan RPL atau UKL dan b. Teknis Operasional : 1. Melaksanakan inspeksi secara berkala sesuai dengan sifat dan jenis instalasi, peralatan dan teknik pengolah dan pemantau limbah yang dipergunakan ; 2. Melakukan inspeksi khusus apabila diduga atau terjadi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta dalam hal adanya maksud perubahan RKL dan RPL atau UKL dan 3. Melakukan inspeksi teknis peralatan pengolah limbah / penanggulangan dan pencegahan pencemaran yang akan dipergunakan untuk memantau unjuk kerjanya. C. Bidang Ketenagalistrikan. a. Secara Administratif : 1. Mengevaluasi laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan / pemantauan lingkungan; 2. Mengevaluasi laporan hasil analisis kualitas bahan buangan ; 3. Mengevaluasi informasi kerusakan dan atau pencemaran lingkungan; 4. Auditing laporan setelah mendapat masukan dari peninjauan lapangan.

b. Teknis Operasional : 1. Melakukan inspeksi secara berkala ; 2. Melakukan inspeksi khusus apabila diduga atau terjadi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta dalam hal adanya maksud perubahan RKL dan RPL atau UKL dan Pasal 5 (1) Dalam pelaksanaan pemeriksaan lapangan, segala biaya tambahan yang timbul untuk pemeriksaan laboratorium dibebankan kepada Perusahaan / Pemrakarsa. (2) Semua biaya yang diperlukan untuk melakukan perubahan RKL dan RPL dan pengawasannya dibebankan kepada Perusahaan / Pemrakarsa. Pasal 6 Pengawasan aspek sosial, ekonomi dan budaya sebagaimana dimaksud dalam RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 7 (1) Apabila PIT atau PPLTL dalam melakukan pengawasan menemukan hal-hal yang menyimpang dari peraturan yang berlaku, maka PIT atau PPLTL memberikan peringatan kepada Perusahaan/ Pemrakarsa. (2) Pada usaha pertambangan minyak dan gas bumi serta pengusahaan sumber daya panas bumi dan pertambangan umum peringatan tersebut pada ayat 1 pasal ini dapat disampaikan secara tertulis dalam buku tambang atau secara lisan. (3) Apabila dianggap perlu peringatan tersebut pada ayat 2 pasal ini dapat dikukuhkan dengan surat Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang cq. Direktur Direktorat Teknik Pertambangan Umum atau Direktur Direktorat Teknik Pertambangan Minyak dan Gas Bumi sesuai bidang tugasnya masing-masing. (4) Apabila dianggap perlu untuk kepentingan pengawasan, PIT atau PPLTL dapat mengambil contoh air buangan / limbah dan lain-lain untuk dianalisa di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Bandung atau PPPTMGB LEMIGAS - Jakarta atau laboratorium lain yang ditunjuk oleh direktur jenderal. Pasal 8 Apabila diduga terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat usaha pertambangan umum, pertambangan minyak dan gas bumi serta

pengusahaan sumber daya panas bumi, atau ketenagalistrikan, atau energi baru Pelaksana Inspeksi Tambang atau PPLTL sesuai dengan tugasnya dapat mengadakan koordinasi penanggulangan pencemaran atau kerusakan lingkungantersebut dengan instansi terkait. Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri ini, maka Lampiran 1 dan 2 Surat Edaran Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 02 E / 008 / M.PE / 1988 tanggal 9 Juli 1988 dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 10 Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 19 Januari 1994. MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI ttd. I.B. SUDJANA