Adjar Pratoto & Syamsul Huda (KE - 161)

dokumen-dokumen yang mirip
Studi Eksperimental Pengaruh Variasi Bahan Kering Terhadap Produksi dan Nilai Kalor Biogas Kotoran Sapi

Reduksi Volume Dan Pengarangan Kotoran Sapi Dengan Metode Pirolisis

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak kaya akan sumber daya alam dan terbatas ilmu. fosil mendapat perhatian lebih banyak dari kalangan ilmuan dan para

Metode Pirolisis Untuk Penanganan Sampah Perkotaan Sebagai Penghasil Bahan Bakar Alternatif

PERANCANGAN, PEMBUATAN, DAN PENGUJIAN ALAT PEMURNIAN BIOGAS DARI PENGOTOR H2O DENGAN METODE PENGEMBUNAN (KONDENSASI)

BAB II LANDASAN TEORI

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI DAN KOTORAN SAPI DALAM PEMBUATAN BIOGAS MENGGUNAKAN ALAT ANAEROBIC BIODIEGESTER

BAB I PENDAHULUAN. Krisis energi yang terjadi beberapa dekade akhir ini mengakibatkan bahan

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI MENJADI BRIKET SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PROSES KARBONISASI DAN NON-KARBONISASI

BAB II LANDASAN TEORI

TINJAUAN LITERATUR. Biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerob (tertutup dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH LAJU ALIRAN AGENT GAS PADA PROSES GASIFIKASI KOTORAN KUDA TERHADAP KARAKTERISTIK SYNGAS YANG DIHASILKAN

PENGARUH PENAMBAHAN EM-4 DAN UREA DALAM CAMPURAN BAHAN KERING DAN LIMBAH CAIR TEMPE TERHADAP PRODUKSI DAN NILAI KALOR BIOGAS PADA DIGESTER

OLEH : SHOLEHUL HADI ( ) DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUDJUD DARSOPUSPITO, MT.

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar

LAPORAN AKHIR PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH HEATING RATE PADA PROSES SLOW PYROLISIS SAMPAH BAMBU DAN SAMPAH DAUN PISANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan energi gas memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi. berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya.

OPTIMASI UNJUK KERJA FLUIDIZED BED GASIFIER DENGAN MEVARIASI TEMPERATURE UDARA AWAL

SISTEM GASIFIKASI FLUIDIZED BED BERBAHAN BAKAR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DENGAN INERT GAS CO2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Macam macam mikroba pada biogas

BAB I PENDAHULUAN. Sementara produksi energi khususnya bahan bakar minyak yang berasal dari

6/23/2011 GASIFIKASI

I. PENDAHULUAN. Sebenarnya kebijakan pemanfaatan sumber energi terbarukan pada tataran lebih

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN DENGAN AIR HEATER TANPA SIRIP

Oleh : Dimas Setiawan ( ) Pembimbing : Dr. Bambang Sudarmanta, ST. MT.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH

PENGARUH VARIASI RASIO UDARA-BAHAN BAKAR (AIR FUEL RATIO) TERHADAP GASIFIKASI BIOMASSA BRIKET SEKAM PADI PADA REAKTOR DOWNDRAFT SISTEM BATCH

PERBANDINGAN UNJUK KERJA KOMPOR METHANOL DENGAN VARIASI DIAMETER BURNER

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumber energi alternatif dapat menjadi solusi ketergantungan

Uji Pembentukan Biogas dari Sampah Pasar Dengan Penambahan Kotoran Ayam

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Karakterisasi Gasifikasi Biomassa Sampah pada Reaktor Downdraft Sistem Batch dengan Variasi Air Fuel Ratio

BAB I PENDAHULUAN. yang ada dibumi ini, hanya ada beberapa energi saja yang dapat digunakan. seperti energi surya dan energi angin.

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

Aditya Kurniawan ( ) Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

PENELITIAN NILAI KALOR BIOMASSA : PERBANDINGAN ANTARA HASIL PENGUJIAN DENGAN HASIL PERHITUNGAN

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN MENGGUNAKAN AIR HEATER YANG DIPASANG DIDINDING BELAKANG TUNGKU

BAB II LANDASAN TEORI

UNJUK KERJA TUNGKU GASIFIKASI DENGAN BAHAN BAKAR SEKAM PADI MELALUI PENGATURAN KECEPATAN UDARA PEMBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN. adanya energi, manusia dapat menjalankan aktivitasnya dengan lancar. Saat

JURNAL PENGEMBANGAN BIODIGESTER BERKAPASITAS 200 LITER UNTUK PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

UJI PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN GAJAH DENGAN VARIASI PENAMBAHAN URINE GAJAH DAN AIR

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Pengembangan Desain Alat Produksi Gas Metana Dari Pembakaran Sekam Padi Menggunakan Filter Tunggal

SNTMUT ISBN:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Bel akang

Studi Eksperimen Konversi Biomassa menjadi SynGas Pada Reaktor Bubbling Fluidized Bed Gasifier

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik. Oleh: DWI RAMADHANI D

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pertumbuhan penduduk kota sekarang ini semakin pesat, hal ini berbanding

BAB III TEKNOLOGI PEMANFAATAN SAMPAH KOTA BANDUNG SEBAGAI ENERGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan

SCIENTIFIC CONFERENCE OF ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY IX

BAB I PENDAHULUAN. terkecuali Indonesia. Selain terbentuk dari jutaan tahun yang lalu dan. penting bagi kelangsungan hidup manusia, seiring dalam

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA THERMOGRAVIMETRY PADA PIROLISIS LIMBAH PERTANIAN DENGAN VARIASI KOMPOSISI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II. KAJIAN PUSTAKA. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetis,

SKRIPSI PEMURNIAN BIOGAS DARI GAS PENGOTOR CO2 DENGAN MENGGUNAKAN BUTIRAN PADAT KALSIUM HIDROKSIDA. Oleh: I MADE RAI DWIJA ANTARA

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A PENGEMBANGAN PROSES DEGRADASI SAMPAH ORGANIK UNTUK PRODUKSI BIOGAS DAN PUPUK

RANCANG BANGUN REAKTOR BIOGAS TIPE PORTABLE DARI LIMBAH KOTORAN TERNAK SAPI Design of Portable Biogas Reactor Type for Cow Dung Waste

ANALISIS PERAN LIMBAH SAYURAN DAN LIMBAH CAIR TAHU PADA PRODUKSI BIOGAS BERBASIS KOTORAN SAPI

Peningkatan Kadar Karbon Monoksida dalam Gas Mempan Bakar Hasil Gasifikasi Arang Sekam Padi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Tekno-Ekonomi Operasi Co-combustion Boiler Biomassa Kapasitas 10 kg/jam

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya jumlah penduduk. Namun demikian, hal ini tidak diiringi dengan

Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Menjadi Briket Sebagai Sumber Energi Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Non-Karbonisasi

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Karakteristik Pembakaran Briket Arang Tongkol Jagung

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X

BAB I PENDAHULUAN. energi yang salah satunya bersumber dari biomassa. Salah satu contoh dari. energi terbarukan adalah biogas dari kotoran ternak.

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkat, Peningkatan kebutuhan energi yang tidak diimbangi. pengurangan sumber energy yang tersedia di dunia.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan tidak akan jadi masalah jika jumlah yang dihasilkan sedikit. Bahaya

ANALISIS PERAN LIMBAH CAIR TAHU DALAM PRODUKSI BIOGAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Journal of Mechanical Engineering Learning

Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri

HASIL DAN PEMBAHASAN. ph 5,12 Total Volatile Solids (TVS) 0,425%

SCALE UP PROTOTYPE SCREW PYROLYSER UNTUK PIROLISIS SAMPAH KOTA TERSELEKSI

Jl. Kalimantan 37 Jember ABSTRACT

ANALISA PROKSIMAT TERHADAP PEMANFAATAN LIMBAH KULIT DURIAN DAN KULIT PISANG SEBAGAI BRIKET BIOARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hewani yang sangat dibutuhkan untuk tubuh. Hasil dari usaha peternakan terdiri

Pengembangan Desain dan Pengoperasian Alat Produksi Gas Metana Dari pembakaran Sampah Organik

BAB I PENDAHULUAN. pemikiran untuk mencari alternatif sumber energi yang dapat membantu

ANALISIS KINERJA DIGESTER BIOGAS BERDASARKAN PARAMETER OKSIGEN BIOGAS DIGESTER PERFORMANCE ANALYSIS BASED ON OXYGEN PARAMETER

ANALISIS THERMOGRAVIMETRY DAN PEMBUATAN BRIKET TANDAN KOSONG DENGAN PROSES PIROLISIS LAMBAT

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun

Transkripsi:

Adjar Pratoto & Syamsul Huda (KE - 161)... 801 Efek Variasi Warna Lapisan Film pada Panel Solar-termal terhadap Proses Perpindahan Kalor Edi Marzuki, Indra Resmana, Yogi Sirodz G, Mulya Juarsa, Januar Akbar (KE - 162)... 805 Peningkatan Nilai Tambah Kotoran Sapi Penghasil Arang Dengan Slow Pirolisis Mega Nur Sasongko, Widya Wijayanti, Abraham, Aris Wijaya (KE - 163)... 811 Variasi Rasio Carbon-Nitrogen Bahan Kering Terhadap Produksi Dan Nilai Kalor Biogas Kotoran Sapi Sukadana, Tenaya, Awing W. (KE - 164)... 815 Penentuan Komposisi Gas Keluar Water-Cooled Hot Gas Line Menggunakan Perangkat Lunak Computational Fluid Dynamics Caturwati NK, Yusvardi Y, Firmansyah (KE - 166)... 821 Karakteristik Fluida Magnetorheological Mr-112 Eg Saat Terkena Beban Impact Pada Kondisi Medan Magnet Berkekuatan Rendah Intan P. Purwanto, Danang P, M. Khoif Billah, M. Agung Bramantya (KE - 167)... 825 KAJI EKSPERIMENTAL PEMISAHAN ALIRAN KEROSEN-AIR (Variasi Sudut Kemiringan Side Arm Pada Rasio Diameter = 1) Dewi Puspitasari, Indarto, Purnomo, dan Khasani (KE - 168)... 828 Pengurangan Kerugian Jatuh Tekanan Menggunakan Biopolimer Serbuk Lendir Belut dan Lele pada Pipa Saluran Tangki Air Harian Kapal Marcus A. Talahatu, Gunawan dan Indah Puspitasari (KE - 169)... 840 Studi Numerik Pengaruh Putaran Impeler dan Bukaan Damper Induce Draft (ID) Fan pada Pabrik Semen Nur Ikhwan, Suwarmin, Is Bunyamin Suryo (KE - 170)...844 Pengembangan Sistem Filter Putar Berbasis Aliran Couette-Taylor Prajitno (KE - 171)...849 Studi Eksperimental Karakterisitik Aliran Melintasi Silinder Teriris Tipe-D dengan sudut Pengirisan ( s) = 53 0 Tersusun Secara Side by Side di Dekat Dinding Datar. Suprapto,Eka Daryanto, Triyogi Yuwono, Wawan Aries Widodo (KE - 172)... 853 Karakteristik Drag pada Lapis Batas Turbulen diatas Pelat Datar Beralur xvii

KE - 163 Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XI (SNTTM XI) & Thermofluid IV Dari hasil penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Semakin tinggi temperatur pirolisis akan menyebabkan semakin besar pengurangan massa spesimen dan semakin banyak char (arang) yang terbentuk, sehingga warna padatan hasil pirolisis semakin gelap atau hitam yang menunjukkan besarnya kadar C. 2. Pada laju pemanasan yang sama, biomassa kotoran sapi yang dipirolisis dengan temperatur 100-500 o C selama 2 jam memiliki kenaikan nilai kalor yaitu sebesar 6-10% dibandingkan biomassa kotoran sapi yang tidak dipirolisis. 3. Semakin cepat laju pemanasan maka nilai kalornya akan semakin kecil hal ini disebabkan karena seiring dengan kenaikan laju pemanasan pada pirolisis lambat memberikan massa char yang cenderung semakin sedikit, karena gas yang dikeluarkan semakin banyak. Referensi Bock, B. 2006. Feasibility of Renewable Energy from poultry litter in the TVA Region. EPRI, Palo Alto, CA and Tennessee Valley Authority. Muscle Shoals, AL. 1010486. Funazukuri, T., R. Hudgins and P. Silveston. 1986. Product distribution in pyrolysis of cellulose in microfluidized bed. J. Anal. Pyrolysis. Vol. 9: 139-158. Samy Sadaka. 2007. Pyrolysis. Department of Agricultural and Biosystems Engineering Iowa State University. Nevada. Tanoue, K., Widya, W., Yamasaki, K., Kawanaka, T., Yoshida, A., Nishimura, T., Taniguchi, M., Sasauchi, K., Numerical Simulation of the thermal conduction of packed bed of woody biomass particles accompanying volume reduction induced by pyrolysis, J. Jpn. Inst. Energy, 89 (10), 948 (2010) Tanoue, K., T. Hinauchi, T. Oo, T. Nishimura, M. Taniguchi, and K. Sasauchi, Modeling of heterogeneous chemical reactions caused in pyrolysis of biomass particles, Advanced Powder Technology 18, 825-840 (2007) 814

Variasi Rasio Carbon-Nitrogen Bahan Kering Terhadap Produksi Dan Nilai Kalor Biogas Kotoran Sapi Sukadana, Tenaya, Awing W. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana-Bali Email : pengumpian_09@yahoo.com Abstrak Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan- bahan organik oleh bakteri anaerob. Nilai kalor yang terkandung pada biogas tergantung pada konsentrasi CH 4. Semakin tinggi kandungan CH 4, maka nilai kalor biogas juga semakin tinggi, atau sebaliknya. Salah satu yang mempengaruhi produksi CH 4 pada biogas adalah rasio C-N pada bahan kering. Rasio C-N yang baik adalah berkisar antara 25:1 30:1. Kotoran sapi memiliki rasio C-N sebesar 18:1, harus ditambahkan bahan lainnya yaitu sekam padi yang memiliki rasio C-N sebesar 65:1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui pengaruh variasi rasio C-N terhadap produksi dan nilai kalor biogas kotoran sapi. Pengujian ini dilakukan dengan sistem tumpak alami dengan variasi C-N adalah 18, 25.0, 26.5, 27,9 dan 29.3. Data yang diamati adalah perubahan tekanan harian biogas dalam digester, perubahan temperatur pemanasan air, perubahan masa biogas dan komposisi gas pada biogas. Hasil penelitian, pada rasio C-N 27,9 bahan kering menghasilkan produksi biogas tertinggi sebesar 0,059698 kg dengan nilai kalor biogas tertinggi secara eksperimental sebesar 23,112256 kj dan nilai kalor teoritis dalam hal ini nilai kalor eksperimnetal sebesar 75,03375 kj. Kata kunci : rasio C-N, produksi biogas, nilai kalor eksperimental, nilai kalor teoritis Abstract Biogas produced from the fermentation of organic matter by anaerobic bacteria. The calorific value contained in biogas depends on the concentration of CH 4. The higher the content of CH 4, the calorific value of biogas is also higher, or vice versa. One of the things that affect the production of CH 4 in biogas is the C-N ratio on dry matter. C-N is a good ratio is between 25:1-30:1. Cow manure has a C-N ratio of 18:1, so it should be added to other materials, namely rice husk which has a C-N ratio of 65:1. The purpose of this study is to know the effect of the C-N ratio to the production and calorific value of manure biogas. The test is performed with a batch system with the is C-N ratio 18, 25.0, 26.5, 27,9 and 29.3. Observed data is a pressure change at digester, hot water temprature change the mass of biogas change and gas composition on biogas. The results obtained at ratio C-N 27,9 dry matter had the highest production is equal to 0.059698 kg and the highest calorific value of biogas by experimental is 23.112256 kj and theoretical calorific value in this lower heating value is 75.03375 kj. Key words : C-N ratio, biogas production, experimental calorific value, theoretical calorific value Pendahuluan Peran energi sangat penting, dewas ini semua aktivitas kehidupan manusia tergantung pada energi. Sarana pendukung kehidupan manusia, seperti penerangan, transportasi, peralatan rumah tangga, peralatan industri tergantung pada energi. Manusia saat ini masih tergantung pada energi yang berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam dan batubara. Saat ini energi merupakan persoalan dunia. Peningkatan permintaan energi akibat dari pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi dan perkembangan perekonomian, berpengaruh pada konsumsi energi semakin meningkat. Peningkatan konsumsi energi tidak diimbangi dengan jumlah pasokan energi yang mencukupi, sehingga muncul masalah krisis energi. Dalam 815

Buku Putih Energi Nasional 2005 2025, cadangan minyak bumi Indonesia hanya tersisa hingga 23 tahun ke depan. Permasalahan kelangkaan energi mendapat perhatian khusus pemerintah. Kebijakan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil dan peningkatan penggunaan energi terbarukan yang dituangkan dalam bentuk sasaran energi Nasional tahun 2025. Salah satu upaya untuk memenuhi target adalah penggunaan sumber energi biomassa. Sumber energi biomassa adalah biogas, biogas tergolong dalam energi yang berasal dari bahan- bahan organik, umumnya berasal dari limbah organik seperti, kotoran manusia, kotoran hewan, sisa-sisa tumbuhan. Limbah organik tersebut mudah didapat dan terjamin kontinuitasnya, terpenting adalah limbah organik tersebut ramah lingkungan. Hal ini sebagai faktor utama pertimbangan biogas sebagai sumber energi. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan- bahan organik oleh bakteri anaerob. Gas yang dihasilkan sebagian besar gas metana (CH 4 ) dan karbondioksida (CO 2 ), dan gas lainnya. Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi CH 4. Semakin tinggi kandungan CH 4 maka semakin besar kandungan energi pada biogas, atau sebaliknya (Pambudi, 2008). Faktor yang mempengaruhi produksi gas CH 4 di dalam biogas adalah hubungan antara jumlah karbon (C) dan nitrogen (N) yang terdapat pada bahan organik dinyatakan sebagai rasio C-N. Rasio C-N yang baik pada slurry adalah berkisar antara 25:1 30:1 (Singh Dissanayake, 1977). Kotoran sapi mempunyai rasio C-N sebesar 18. Karena itu perlu ditambah dengan bahan lainnya yang mempunyai rasio C-N yang tinggi, seperti, limbah pertanian, sisa dapur dan sampah organik lainnya. Bahan organik yang memiliki rasio C-N tinggi adalah sekam padi. Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Kadar karbon (C) pada sekam padi sebesar 38,9 % dan kadar nitrogen (N) dalam sekam padi sebesar 0,6 %. Tujuan penelitian adalah Mengetahui dan menganalisa pengaruh penambahan variasi rasio C-N 18, 25.0, 26.5, 27,9 dan 29.3 terhadap produksi. Meningkatkan pemahaman mengenai pembuatan biogas dan memanfaatkan limbah organic sebagai sumber energi alternative bagi masyarakat. STUDI PUSTAKA Proses Pembuatan Biogas Pada pembuatan biogas dari bahan baku kotoran sapi atau kerbau yang banyak mengandung selulosa. Bahan baku dalam bentuk selulosa akan lebih mudah dicerna oleh bakteri anaerob. Reaksi pembentukan CH4 adalah : (Price dan Cheremisinoff, 1981). (C6H10O5)n + n H2O CH4 3n CO2 + 3n Reaksi kimia pembuatan biogas ada tiga tahap, yaitu : pertama reaksi hidrolisa/tahap pelarutan : (C6H10O5) n (s) + n H2O (l) n C6H12O6 Kedua reaksi asidogenik/tahap pengasaman Reaksi : n (C6H12O6) 2n (C2H5OH) + 2nCO2(g) + kalor 2n (C2H5OH)(aq) + n CO2(g) 2n (CH3COOH)(aq) + n CH4(g) Ketiga reaksi metanogenik/tahap gasifikasi. Pada tahap ini, bakteri metana membentuk gas metana secara perlahan secara anaerob. Proses ini berlangsung selama 14 hari dengan suhu 25 o C di dalam digester. Pada proses ini akan dihasilkan 70% CH4, 30 % CO2, sedikit H2 dan H2S (Price dan Cheremisinoff, 1981). Reaksi : 2n (CH3COOH) CO2(g) 2n CH4(g) + 2n Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Biogas, Perbandingan C-N Bahan Isian. Rasio C-N adalah perbandingan kadar karbon(c) dan kadar Nitrogen (N) dalam satuan bahan. Lamanya produksi biogas disebabkan oleh mutu pakan yang lebih rendah, sehingga rasio C-N-nya tinggi akibatnya perkembangan mikroba pembentuk gas lebih lama dibandingkan yang bermutu tinggi. Tinggi rendahnya mutu ini tergantung pada nilai N (nitrogen) di dalam ransum. Namun demikian nilai N juga tergantung pada C (karbon). Jadi, 816

perbandingan C dan N akan menentukan lama tidaknya proses pembentukan biogas (Yunus, 1995). Lama Fermentasi, menurut Sweeten (1979), yang dikutip oleh Fontenot (1983), proses fermentasi di dalam tangki pencerna dapat berlangsung 60-90 hari, tetapi menurut Sahidu (1983), hanya berlangsung 60 hari saja dengan terbentuknya biogas pada hari ke-5 dengan suhu pencernaan 28 o C, sedangkan menurut Hadi (1981), biogas sekitar 10 hari. Temperatur, Tempertur yang tinggi akan memberikan hasil biogas yang baik. Bakteri hanya dapat subur bila suhu disekitarnya berada pada suhu kamar. Suhu yang baik untuk proses pembentukan biogas berkisar antara 20-40 0 C dan suhu optimum antara 28-30 0 C. Temperatur untuk kemampuan hidup bakteri pemroses biogas berkisar 27 0 C-28 0 C. (Paimin, 2001). Kandungan Bahan Kering, Bahan isian dalam pembuatan biogas harus berupa bubur. Bentuk bubur ini dapat diperoleh bila bahan bakunya mempunyai kandungan air yang tinggi. Bahan baku dengan kadar air yang rendah dapat dijadikan berkadar air tinggi dengan menambahkan air ke dalamnya dengan perbandingan tertentu sesuai dengan kadar bahan kering bahan tersebut. Bahan baku yang paling baik mengandung 7-9 % bahan kering (Paimin, 2001). Aktivitas normal dari mikroba metan membutuhkan sekitar 90% air dan 7-10% bahan kering. Dengan demikian isian yang paling banyak menghasilkan biogas adalah yang mengandung 7-9% bahan kering. Formasi Nilai Kalor Formasi kalor adalah kalor yang dilepaskan atau diserap ketika 1 mol substansi terbentuk dari sebuah elemen. Tabel 1. Formasi nilai kalor gas Substansi Kalor (kj/mol) Massa Molar (gram) Kalor (MJ/kg) O 2, N 2 0-0 H 2 O Uap 241,8 18 13,43 H 2 O Cair 285,7 18 15,87 CO 2 393,8 44 8,95 CO 110,6 28 3,95 CH 4 74,9 16 4,68 CH 2 (Kerosene) 25,4 14 1,81 Nilai kalor yang dibebaskan selama pembakaran dihitung dari jumlah formasi nilai kalor dari produk pembakaran dikurangi jumlah formasi nilai kalor dari reaktan ( metan, oksigen dan nitrogen ). Tabel diatas memberikan nilai kalor standar dari beberapa jenis gas. METODE PENELITIAN Variabel Yang Diukur Ada dua buah variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : Variabel bebas adalah variasi rasio C-N yaitu 18, 25.0, 26.5, 27,9 dan 29.3. Variabel terikat adalah nilai kalor biogas dan produksi biogas. Gambar 1. Instalasi Penelitian Alat- alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Digester sebagai tempat fermentasi anaerob bahan biogas. Pipa PVC Diameter ½ inchi sebagai penyalur biogas. Knee L Drat sebagai penyambung pipa. Kran Gas sebagai pengatur keluar masuknya biogas dari digester. Manometer H 2 O digunakan untuk mengukur tekanan biogas pada digester. Ember sebagai tempat pencampuran bahan kering (kotoran sapi dengan sekam padi).timbangandigunakan untuk mengukur berat slurry. Kayu Pengaduk pengaduk bahan kering (kotoran sapi dengan sekam padi) dan pengaduk bahan kering dengan air. Kompor digunakan untuk menyalakan api dari biogas. Panci digunakan sebagai wadah air ketika air dipanaskan. Termometer digunakan 817

untuk mengukur kenaikan suhu air pada saat dipanaskan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :Kotoran sapi yang masih segar, Sekam padi, dan Air PEMBAHASAN dengan rasio C-N 27,9 sebesar 55,01703448 kj. Berdasarkan pengujian secara teoritis, terhadap nilai kalor atas maupun bawah dihasilkan oleh rasio C-N 27,9 dengan nilai kalor atas sebesar 79,65525 kj dan nilai kalor bawah sebesar 75,03375. Produksi Harian Biogas Harian Gambar 3. Grafik Variasi Campuran Bahan Kering Terhadap Perbandingan Nilai Kalor Eksperimental Dengan Nilai Kalor Bawah Gambar 2. Grafik hubungan waktu terhadap massa harian biogas Untuk variasi rasio C-N 18, 25.0, dan 26.5 Produksi awal biogas terjadi pada hari ke 9, untuk variasi rasio C-N 27,9 dan 29.3 mulai menghasilkan biogas pada hari ke 10. Terjadinya perbedaan hari awal terbentuknya biogas dikarenakan kandungan sekam padi pada variasi rasio C-N 27,9 dan 29.3 lebih banyak jika dibandingakn dengan variasi rasio C-N 18, 25.0, dan 26.5. Bahan organik seperti sekam padi banyak mengandung selulosa dan lignin, sehingga akan lebih lama diuraikan oleh bakteri. Peningkatan produksi biogas berlangsung hingga hari ke 21, untuk variasi rasio C-N 18 produksi biogas mengalami puncaknya pada hari ke 23. Variasi rasio C-N 25.0, dan 26.5 produksi biogas mengalami puncaknya pada hari ke 24. variasi rasio C-N 27,9 dan 29.3 masing-masing mengalami puncak produksi biogas pada hari ke 25 dan 26. variasi rasio C-N 27,9 memiliki peningkatan produksi biogas paling tinggi. Sehingga variasi rasio C-N 27,9 adalah campuran yang terbaik yang memberikan produksi biogas yang optimum. Perbandingan Nilai Kalor Biogas Berdasarkan pengujian secara eksperimental, nilai kalor tertinggi dihasilkan dari biogas Variasi komposisi rasio Carbon Nitrogen bahan kering dapat menghasilkan nilai kalor biogas yang berbeda- beda. Hal ini dikarenakan perbedaan komposisi campuran bahan kering akan menghasilkan komposisi gas pada biogas yang berbeda- beda. Sehingga, pada saat pengujian nilai kalor baik secara teoritis maupun eksperimental akan dihasilkan nilai kalor yang berbeda. Dari pengujian nilai kalor eksperimental dengan nilai kalor teoritis biogas terdapat perbedaan nilai diantara keduanya. Karena pada percobaan nilai kalor secara eksperimental tidak menangkap uap air dari biogas, sehingga yang digunakan sebagai perbandingan dari nilai kalor teoritis adalah nilai kalor bawah. Perbedaan antara nilai kalor eksperimental dengan nilai kalor bawah sebesar 17,10665 % pada rasio C-N 27,9. Perbedaan nilai kalor ini disebabkan pada uji nilai kalor eksperimental tidak semua kalor dari biogas diserap oleh air. Hal ini karena terjadinya losses energi kalor, seperti kalor biogas yang diserap oleh panci, kalor yang terlepas ke lingkungan, kalor yang diserap oleh kompor dan lain sebagainya. Sehingga, nilai kalor eksperimental lebih kecil dibandingkan dengan nilai kalor bawah. Kesimpulan Pada rasio C-N 27,9 bahan kering menghasilkan produksi biogas tertinggi sebesar 818

0,059698 kg dengan nilai kalor biogas tertinggi secara eksperimental sebesar 23,112256 kj dan nilai kalor teoritis dalam hal ini nilai kalor eksperimnetal sebesar 75,03375 kj. DAFTAR PUSTAKA Borman, Gary L., Kenneth W. Ragland, 1998, Combustion Engineering, International Edition, McGraw-Hill, Singapore Bruce E. Poling, John M. Prausnitz, John P. O Connell, (2007), The Properties of Gases and Liquids, McGraw-Hill, Singapore. Dieter Deublin, Angelika Steinhauser, (2008), Biogas From Waste and Renewable Resources, Wiley-VCH Verlag GmbH and Co. KGaA, Germany. Gary L. Borman, Kenneth W. Ragland, (1998), Combustion Engineering, McGraw-Hill International Edition, Singapore. Geersen, Theo M., 1998, Physical Properties of Natural Gas, N.V. Nederlandse Gasunie, Groningen Jean and Badeau Pierre, (2009), Biomass Gasification,Chemistry Processes and Applications,Nova Science Publisher,Inc., New York Kementrian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia, (2005), Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025, Jakarta. Kementrian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia, (2006), Buku Putih Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2025, Jakarta. Wahyuni, Sri, (2011), Menghasilkan Biogas Dari Aneka Limbah, PT Argro Media Pustaka, Jakarta. 819

Paper No KE 164 Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XI (SNTTM XI) & Thermofluid IV 820 6