4 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
INSTALASI PERMESINAN PADA KAPAL PSP 01

Sumber: Susanto, Lampiran 1 General arrangement Kapal PSP Tangki bahan bakar 10. Rumah ABK dan ruang kemudi

BAB II LANDASAN TEORI

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

II. TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

1. EMISI GAS BUANG EURO2

SISTEM PENDINGINAN ENGINE

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

MODUL POWER THRESHER. Diklat Teknis Dalam Rangka Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Pertanian dan BABINSA

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

BAB IV SISTEM BAHAN BAKAR MESIN DIESEL LOKOMOTIF

Prosedur Pengetesan Injektor

BAB IV MENGOPRASIKANKAN GENERATOR SET

Gerak translasi ini diteruskan ke batang penghubung ( connectiing road) dengan proses engkol ( crank shaft ) sehingga menghasilkan gerak berputar

BAB III LANDASAN TEORI

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

PENCEGAHAN KEBAKARAN. Pencegahan Kebakaran dilakukan melalui upaya dalam mendesain gedung dan upaya Desain untuk pencegahan Kebakaran.

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

Program pemeliharaan. Laporan pemeliharaan

2 TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1 Spesifikasi teknis Kapal PSP 01

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X

BAB II TINJAUAN LITERATUR


TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA

PRAKTEK II TUNE UP MOTOR DIESEL. A. Tujuan:

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump)

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

ENGINE TUNE-UP CONVENTIONAL

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

IV. PENDEKATAN RANCANGAN

BAB III METODOLOGI. Genset 1100 watt berbahan bakar gas antara lain. 2 perangkat berbeda yaitu engine dan generator atau altenator.

No. Nama Komponen Fungsi

Pembakaran. Dibutuhkan 3 unsur atau kompoenen agar terjadi proses pembakaran pada tipe motor pembakaran didalam yaitu:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

1. OVERLOADING ( MUATAN BERLEBIH )

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Spesifikasi Oli dan Cairan Pendingin Untuk Kendaraan RIV

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

PELATIHAN PENGELASAN DAN PENGOPERASIAN KOMPRESOR

"CAP COMBI 2600 CL" (10,000 L tangki lumpur L air, total 15,250 L)

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

Fungsi katup Katup masuk Katup buang

Mobil lebih awet karena frekuensi bongkar-pasangnya relatif lebih kecil.

PEMANAS AIR GAS INSTAN

PENGARUH PENGGUNAAN RADIATOR PADA SISTEM PENDINGIN MOTOR DIESEL STASIONER SATU SILINDER TERHADAP LAJU KENAIKAN SUHU AIR PENDINGIN

3.2. Prosedur pengujian Untuk mengetahui pengaruhnya perbanding diameter roller CVT Yamaha mio Soul, maka perlu melakukan suatu percobaan. Dalam hal i

Gambar struktur fungsi solenoid valve pneumatic

LABORATORIUM PILOT PLAN SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

BAB III PEMERIKSAAN DAN PEMELIHARAAN PADA MESIN KOMPRESOR

II. TEORI DASAR. kelompokaan menjadi dua jenis pembakaran yaitu pembakaran dalam (Internal

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II. LANDASAN TEORI

Standby Power System (GENSET- Generating Set)

BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR SENTRAL DI PT.PLN APP DURIKOSAMBI

mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pihak


DAFTAR BARANG DAN BAHAN GUNA PERBAIKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG YANG MENDAPAT BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH UNTUK TAHUN ANGGARAN 2012

BAB 1 DASAR MOTOR BAKAR

PENGARUH FILTER UDARA PADA KARBURATOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SEPEDA MOTOR

DAFTAR BARANG DAN BAHAN GUNA PERBAIKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG YANG MENDAPAT BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH UNTUK TAHUN ANGGARAN 2011

Makalah PENGGERAK MULA Oleh :Derry Esaputra Junaedi FAKULTAS TEKNIK UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

PEMASANGAN. 1 Sambungan gas A B C. PERINGATAN! Silakan baca bab Keselamatan.

2.1.2 Siklus Motor Bakar Torak Bensin 4 Langkah

PERAWATAN FORKLIFT FD20ST-3

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN TEORI. luar yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak serta dapat mengatasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan

BAB III METODOLOGI. Genset 1100 watt berbahan bakar gas antara lain. 2 perangkat berbeda yaitu engine dan generator atau altenator.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

Material : Stainless Steel AISI 304; Besi karbon yang dicat (penutup depan & belakang)

INSTALASI PERMESINAN

MAKALAH SISTEM PENDINGIN PADA MOBIL

MENGANALISA DAN MEMPERBAIKI KERUSAKAN MESIN PENDINGIN

SISTEM INJEKSI BAHAN BAKAR DIESEL

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

MOTOR BAKAR TORAK. 3. Langkah Usaha/kerja (power stroke)

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam proses pengambilan data pada media Engine Stand Toyota Great

I. BEBERAPA KIAT PENGOPERASIAN MESIN PERONTOK PADI

KERJA PEAKTEK BAB III MANAJEMEN PEMELIHARAN SISTEM KERJA POMPA OLI PADA PESAWAT PISTON ENGINE TIPE TOBAGO TB-10

BAB IV DATA HASIL. Data komponen awal pada sistem pendingin meliputi : Tutup Radiator. Pada komponen ini yaitu tutup radiator mobil ini memiliki

Mesin Diesel. Mesin Diesel

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur

ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN B. RANCANGAN FUNGSIONAL

Transkripsi:

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sistem Kerja Mesin Diesel Mesin Mitsubishi 4D30-C yang merupakan mesin truk mengalami beberapa modifikasi agar dapat beroperasi maksimal ketika digunakan menjadi mesin kapal. Modifikasi yang dilakukan diantaranya pada sistem penyalaan, sistem bahan bakar, sistem pelumasan, sistem transmisi, dan sistem pendinginan mesin. Perbandingan sistem kerja mesin 4D30-C ketika dipakai sebagai mesin truk dan ketika dijadikan mesin disajikan pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 2 Perbandingan sistem kerja mesin Mitsubishi 4D30-C ketika dipakai sebagai mesin truk dan ketika dijadikan mesin No. Sistem kerja mesin Mitsubishi 4D30-C Keadaan ketika sebagai mesin truk 1. Sistem penyalaan Menggunakan dua buah accu masing-masing berkapasitas 100 Ah dan bertegangan 12 volt. 2. Sistem bahan bakar Menggunakan tangki bahan bakar berbahan logam. 3. Sistem pelumasan Bagian karter atau penampung pelumas dapat menampung oli sebanyak empat liter. 4. Sistem transmisi Menggunakan gearbox empat kecepatan maju dan satu kecepatan mundur. 5. Sistem pendinginan mesin Air tawar yang telah mendinginkan mesin didinginkan dalam kotak radiator oleh hembusan angin. Keadaan ketika menjadi mesin Menggunakan empat buah accu masing-masing berkapasitas 100 Ah dan bertegangan 12 volt. Menggunakan tangki bahan bakar berbahan fiberglass. Bagian karter atau penampung pelumas diperbesar sehingga dapat menampung oli sebanyak dua belas liter. Menggunakan transfer case tipe marine gearbox buatan Hangzhou Foda gearbox group dengan perbandingan reduksi 3:1. Air tawar yang telah mendinginkan mesin didinginkan dalam kotak radiator yang berhimpit dengan kotak penampung air laut. Perpindahan panas terjadi dari air tawar menuju air laut namun tanpa bercampurnya kedua jenis air tersebut.

43 4.1.1 Mesin diesel Berdasarkan klasifikasi motor diesel yang dijabarkan oleh Soenarta dan Furuhama (1985), mesin Mitsubishi 4D30-C yang digunakan oleh merupakan motor diesel empat langkah, berpendingin air, memiliki empat buah silinder bersusunan bentuk baris dan berkedudukan silinder vertikal, serta memiliki tipe pembakaran kamar terpisah, yaitu jenis kamar mula dimana terdapat ruang bakar tambahan diatas ruang bakar utama di kepala silinder. Mesin Mitsubishi 4D30-C memiliki empat langkah kerja dalam satu siklusnya yaitu, langkah isap (intake), langkah tekan (compression), langkah tenaga (power), dan langkah buang (exhaust). Keempat langkah kerja ini terjadi dalam dua kali putaran poros engkol. Foto mesin Mitsubishi 4D30-C yang terpasang di disajikan pada Lampiran 9. 4.1.2 Sistem penyalaan Mesin 4D30-C pada merupakan mesin truk Mitsubishi Canter yang berasal dari Singapura. Mesin ini menggunakan sistem penyalaan secara elektrik. Cara kerjanya adalah arus listrik yang dihasilkan accu menyebabkan dinamo starter berputar dan torsi yang dihasilkannya memutar poros engkol (crankshaft). Dinamo starter yang menempel pada bagian kiri mesin merupakan pembawaan mesinnya dan memakai sistem gear untuk memutar poros engkol. Putaran pada poros engkol itulah yang menyebabkan mesin bekerja secara berkelanjutan menurut siklusnya. Pada kondisi awal truk Canter hanya mengunakan dua buah accu sebagai penunjang sistem penyalaannya, kemudian dimodifikasi dengan menggunakan 4 buah accu yang masing-masing berkapasitas 100 Ah dan bertegangan 12 volt. Dua buah accu untuk menyuplai listrik bagi dinamo starter dan dua buah lainnya untuk menyuplai listrik bagi lampu kabin, lampu ruang mesin, dan GPS. Sistem pengisian accu memakai dynamo charge atau alternator. Alternator ini terletak pada bagian depan mesin dan dihubungkan dengan sabuk (belt). Foto sistem penyalaan disajikan pada Lampiran 10. Diagram alir sistem penyalaan pada disajikan pada Gambar 28 di bawah ini:

44 Accu Dinamo starter Alternator Mesin Kapal PSP 01 Keterangan: : Aliran arus listrik : Tenaga putar Gambar 28 Diagram alir sistem penyalaan pada 4.1.3 Sistem bahan bakar Tangki bahan bakar pada terbuat dari fiberglass dan berbentuk balok. Dimensi panjang x lebar dan tingginya berukuran 105 cm x 70 cm x 61 cm dan didapat volumenya sebesar 448,35 liter. Tangki tersebut tersebut terletak di belakang kamar mesin pada bagian bawah geladak. Bahan bakar yang akan melalui pompa bahan bakar untuk dikirim menuju injektor sebelumnya harus melewati filter bahan bakar yang berjumlah dua buah. Penggunaan filter ganda tersebut agar bahan bakar yang dikirim lebih bersih dari kotoran dan air sehingga tidak menyumbat injektor. Pompa bahan bakar pada mesin ini berjumlah dua buah, yaitu pompa transfer untuk memindahkan bahan bakar dari tangki menuju pompa injeksi, dan pompa injeksi untuk menyalurkan bahan bakar menuju injektor. Pada saluran setelah pompa injektor, terdapat pipa pembalik yang berfungsi mengembalikan bahan bakar yang berlebihan menuju kembali ke tangki bahan bakar. Foto sistem bahan bakar disajikan pada Lampiran 11. Diagram alir sistem bahan bakar pada disajikan pada Gambar 29 di bawah ini:

45 Tangki bahan bakar Filter bahan bakar pertama Pompa transfer Injektor Pompa injeksi Filter bahan bakar kedua Mesin Kapal PSP 01 Keterangan: : Aliran bahan bakar dengan tekanan normal : Aliran bahan bakar dengan tekanan berlebih Gambar 29 Diagram alir sistem bahan bakar pada 4.1.4 Sistem transmisi Sistem transmisi pada dimodifikasi menggunakan transfer case tipe marine gear box buatan Hangzhou Foda Gear Box Group Co.LTD. Transfer case tersebut memiliki reduksi 3:1 yang berarti tiga kali putaran mesin menghasilkan satu kali putaran poros propeller. Foto sistem transmisi Kapal PSP 01 disajikan pada Lampiran 12. Diagram alir sistem transmisi pada disajikan dalam Gambar 30 di bawah ini: Mesin Kapal PSP 01 Transfer case Poros propeller Keterangan: : Penyaluran daya Gambar 30 Diagram alir sistem transmisi pada 4.1.5 Sistem pelumasan Sistem pelumasan pada terdiri dari dua macam, yaitu pelumasan untuk mesin 4D30-C dan pelumasan untuk transmisi. Sistem pelumasan secara umum mempunyai banyak fungsi seperti mengurangi keausan pada komponen mesin yang bergesekan, mencegah kebocoran kompresi, meredam suara, mencegah korosi, dan untuk membersihkan mesin dari sisa-sisa

46 kotoran akibat gesekan. Sistem pelumasan ini sangat penting agar tenaga yang dihasilkan mesin dapat tersalurkan dengan baik ke propeller. Pelumasan pada mesin 4D30-C telah mengalami modifikasi agar ketahanannya terjaga. Mesin truk Mitsubishi Canter didesain untuk medan darat dan ketika diubah menjadi mesin kapal yang menghasilkan panas lebih besar karena beoperasi pada putaran mesin konstan, tentunya kapasitas pelumasnya harus ditambah. Mesin tersebut dimodifikasi pada bagian karter atau penampung oli menjadi lebih besar sehingga dapat menampung pelumas sebanyak dua belas liter. Kapasitas ini tiga kali lebih banyak dari asalnya yang berisi empat liter pelumas. Foto sistem pelumasan disajikan pada Lampiran 13. Transfer case pada sistem transmisi menggunakan pelumas sebanyak tiga liter. Baik pelumasan mesin maupun pelumasan transfer case menggunakan pelumas dengan viskositas (kekentalan) SAE 40. 4.1.6 Sistem pendinginan mesin Sistem pendinginan pada mesin 4D30-C menggunakan radiator. Sistem ini memungkinkan suhu mesin tetap stabil dan suara mesin lebih halus. Sistem ini menggunakan air tawar atau cairan pendingin lainnya (radiator coolant) sebagai media penghantar panas. Air bersirkulasi pada lubang atau jaket pendingin (water jacket) yang terletak dalam blok silinder (cylinder block) dan kepala silinder (cylinder head) lalu kembali ke kotak radiator. Agar efektif mendinginkan air yang telah panas tersebut, isi kotak radiator berbentuk seperti sarang tawon agar memperluas bidang pendingin. Air tetap bersirkulasi karena digerakkan oleh pompa air (water pump) sebagai penggeraknya. Pada Mitsubishi Canter, air dalam radiator didinginkan oleh hembusan angin yang datang ketika truk berjalan atau oleh hembusan kipas. Agar sistem pendinginan tetap optimal ketika mesin tersebut dioperasikan di perairan, maka hembusan angin digantikan oleh air laut. Kotak radiator tersebut dimodifikasi agar dapat menampung air tawar dan air laut namun tetap tidak tercampur agar mesin tidak mengalami korosi. Air laut berasal dari air yang menggenangi bawah dek dan dipompakan ke radiator agar mendinginkan air tawar dan sistem ini tergabung dengan sistem pompa lambung. Air laut yang telah mendinginkan air

47 tawar akan menjadi hangat karena perpindahan panas dari air tawar tersebut akhirnya dibuang lewat sisi kiri kapal. Foto sistem pendinginan mesin pada Kapal PSP 01 disajikan dalam Lampiran 14. Diagram alir sistem pendinginan mesin yang tergabung dengan sistem pompa lambung pada disajikan pada Gambar 31 di bawah ini: Air laut yang menggenangi bagian bawah kamar mesin Mesin Kapal PSP 01 Pompa Kotak penampung air laut Kotak radiator Pembuangan Keterangan: : Aliran air tawar : Aliran air laut : Perpindahan panas Gambar 31 Diagram alir sistem pendinginan mesin yang tergabung dengan sistem pompa lambung pada 4.2 Kesesuaian Instalasi Permesinan Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats 4.2.1 Sistem pompa pada lambung kapal Sistem pompa lambung pada berfungsi untuk memompakan air yang tergenang di bawah kamar mesin keluar kapal. Air tersebut merupakan air laut yang masuk melalui celah kasko kapal serta celah badan kapal yang dilalui poros propeller. Air laut dipompakan keluar kapal menggunakan pompa air yang telah dimodifikasi dan langsung digerakkan mesin kapal dengan sistem puli dan sabuk.

48 Foto sistem pompa lambung pada disajikan pada Lampiran 15, dan kesesuaian instalasi sistem pompa lambung pada dengan pedoman FAO disajikan pada Tabel 3 di bawah ini: Tabel 3 Kesesuaian instalasi sistem pompa lambung pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Pedoman FAO 2009 1 Kapal harus memiliki dua buah pompa yang digerakkan secara otomatis (dengan mesin) dan manual. 2 Terdapat sekat yang rapat antara ruang mesin dan palka. 3 Pompa lambung menghisap air yang menggenangi bagian bawah ruang mesin dan palka. 4 Terdapat saringan pompa (filter pump) yang letaknya mudah diraih dan tersambung dengab pipa fleksibel sehingga mudah dibongkar dan dibersihkan pada ruang mesin dan palka. 5 Saringan pompa terbuat dari pipa PVC dengan lubang 8 mm. ujungnya buntu. Pipa penghisap sampai bagian tengah filter. 6 Pipa yang menuju pompa harus tahan oli, kuat terhadap hisapan, dan diameternya minimal seukuran inlet (lubang masuk). 7 Terdapat katup tiga arah. Sebagai alternatif lain dapat digunakan katup dua arah yang terbuat dari stainless steel atau perunggu. Katup yang berbentuk bola lebih disukai sebagai pintu katup karena posisi on dan off lebih terlihat. 8 Debit pompa lambung pada kapal harus memenuhi kapasitas berikut: Jika panjang kapal < 6 m, pompa manual dengan tangan harus mempunyai debit minimal 70 liter/menit. Jika panjang kapal berkisar 6-15 m, pompa manual dengan tangan berikut pompa otomatisnya minimal berdebit total 140 liter/menit. 9 Pompa dengan impeller (pendorong) terbuat dari karet dan harus memiliki jalur pengeluaran sepanjang 10 mm dengan katup yang berasal dari pompa sistem pendingin mesin. pompa tersebut dapat berupa pompa elektrik, tapi tidak terhubung dengan baterai untuk penyalaan mesin. 10 Katup harus digunakan jika outlet (jalur pengeluaran) atau bagian apapun dari pipa berjarak kurang dari 350 mm diatas garis air.

49 Lanjutan Tabel 3 No. Pedoman FAO 2009 11 Pompa lambung yang digerakkan secara manual dan terpasang tetap diatas geladak dapat berupa pompa berbentuk piston (piston pump). 12 Kapal harus memiliki alarm untuk menunjukkan ketinggian air di ruang mesin. Persentase instalasi sistem pompa lambung pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 58,33%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) memiliki dua buah pompa lambung yang digerakkan secara otomatis (dengan mesin) dan manual. 2) Terdapat sekat yang rapat antara ruang mesin dan palka. 3) Terdapat filter yang terbuat dari pipa PVC berlubang untuk menyaring air yang akan menuju pompa lambung. 4) Pipa yang menuju pompa lambung harus tahan oli, kuat terhadap hisapan, dan diameternya minimal seukuran lubang masuk (inlet). 5) Debit pada pompa lambung pada, baik pompa otomatis maupun pompa manual lebih dari 140 liter/menit. 6) Jalur outlet pada pompa lambung baejarak lebih dari 350 mm, sehingga boleh tidak menggunakan katup pada jalur outlet tersebut. 7) Pompa lambung yang digerakkan secara manual terpasang tetap digeladak dan pompanya berupa piston (piston pump). Adapun persentase instalasi sistem pompa lambung pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 41,67%. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: 1) Pompa lambung pada hanya menghisap air yang menggenangi ruang mesin, dan tidak menghisap air di palka. 2) Terdapat saringan pompa namun tidak tersambung dengan pipa fleksibel, melainkan tersambung dengan pipa PVC sehingga sulit dibongkar dan dibersihkan. 3) Tidak terdapat katup tiga arah pada pengatur pompa lambung.

50 4) Pompa tidak menggunakan impeller berbahan karet. 5) Kapal tidak memiliki alarm untuk menunjukkan ketinggian air yang menggenangi kamar mesin. 4.2.2 Sistem bahan bakar Kesesuaian instalasi sistem bahan bakar pada dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada tabel 4 di bawah ini: Tabel 4 Kesesuaian instalasi sistem bahan bakar pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Pedoman FAO 2009 1 Tangki bahan bakar terbuat dari pelat baja yang dilas. Ketebalan pelat 4 mm dapat digunakan pada tangki hingga kapasitas 400 liter, pelat 5 mm pada tangki hingga 4.500 liter. Pengerasan diperlukan pada panel yang lebih besar dari 0,4 m 2 pada pelat 0,4 mm, dan 0,55 m 2 pada pelat 5 mm, serta tangki harus menggunakan cat anti karat. 2 Tangki bahan bakar dengan ukuran panjang lebih dari 1,2 m harus memiliki sekat yang tebalnya sama dengan tangki. 3 Penutup pada lubang pembersih tangki minimal berukuran 200 x 200 mm. Terpasang dengan baut dan dilengkapi dengan gasket tahan oli. 4 Ukuran diameter dalam dari pipa (untuk pengisian bahan bakar) minimum 38 mm dengan sumbat berbentuk sekrup (berulir) dan menonjol diatas dek. 5 Selang karet pendek yang lentur dan tahan bahan bakar diesel pada lubang pengisian bahan bakar. 6 Semua penjepit selang karet pada lubang pengisian bahan bakar terbuat dari stainless steel dan berjumlah ganda. 7 Diameter dalam dari pipa ventilasi minimal berukuran 12 mm dan minimal setinggi 450 mm diatas dek. 8 Meteran penunjuk bahan bakar yang memiliki katup katu yang dapat menutup sendiri pada bagian bawahnya. Alternatif lainnya ialah pemeriksaan batas ketinggian bahan bakar dengan batang melalui lubang pengisian. 9 Tempat berkumpulnya bahan bakar di bagian dasar tangki dengan katup penguras dan dilengkapi dengan sumbat.

51 Lanjutan Tabel 4 No. Pedoman FAO 2009 10 Katup penghenti dengan kemungkinan menghentikan aliran bahan bakar dari luar ruang mesin untuk mencegah bahaya api. 11 Pipa tembaga tanpa sambungan dan telah diperkuat (biasanya dengan proses pemanasan ketika diproduksi) dengan ketebalan dinding minimal 0,8 mm dan terpasang tetap dengan klem pengunci yang terdapat sebelum filter bahan bakar pertama. 12 Selang bahan bakar yang terbuat dari anyaman logam yang pendek dan fleksibel serta tahan terhadap getaran mesin yang terletak sebelum pompa bahan bakar. 13 Katup tiga jalur jika memiliki dua buah tangki bahan bakar. 14 Filter bahan bakar utama dan pemisah air (water separator). 15 Pompa bahan bakar. 16 Filter bahan bakar. 17 Pompa injektor. 18 Injektor. 19 Pipa saluran balik bahan bakar terbuat dari tembaga, tanpa sambungan, serta diperkuat (dengan pemanasan pada proses produksinya). Persentase instalasi sistem bahan bakar pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 52,63 %. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) Tangki bahan bakar pada ukuran panjangnya kurang dari 1,2 m, yaitu 1,05 m sehingga boleh tidak memakai sekat pada tangkinya. 2) Lubang pengisian bahan bakar memakai selang karet pendek yang lentur dan tahan terhadap bahan bakar diesel. 3) Sebelum filter bahan bakar pertama, terdapat pipa tembaga tanpa sambungan dan telah diperkuat (biasanya dengan proses pemanasan ketika diproduksi) dengan ketebalan dinding minimal 0,8 mm serta terpasang tetap dengan klem pengunci.

52 4) tidak memiliki dua buah tangki bahan bakar sehingga boleh tidak memakai katup tiga jalur pada saluran bahan bakar sebelum filter pertama. 5) Terdapat filter bahan bakar utama dan pemisah air (water separator) yang letaknya sebelum pompa bahan bakar. 6) Terdapat pompa bahan bakar yang mengalirkan bahan bakar dari tangki menuju pompa injektor. 7) Terdapat filter bahan bakar tambahan yang memastikan bahan bakar tersaring sempurna sebelum menuju pompa injektor. 8) Terdapat pompa injektor yang mengalirkan bahan bakar menuju injektor. 9) Terdapat injektor yang berfungsi menyemprotkan bahan bakar dalam bentuk kabut halus menuju ruang bakar. 10) Terdapat pipa saluran pembalik bahan bakar yang terbuat dari tembaga tanpa sambungan dan diperkuat. Pipa saluran pembalik ini berfungsi mengembalikan bahan bakar yang berlebihan tekanannya untuk kembali ke tangki bahan bakar. Adapun persentase instalasi sistem bahan bakar pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 47,37 %. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: 1) Tangki bahan bakar tidak terbuat dari pelat baja yang dilas, melainkan terbuat dari fiberglass. 2) Tidak terdapat lubang untuk membersihkan tangki bahan bakar. Lubang tersebut seharusnya terdapat pada samping tangki bahan bakar. 3) Lubang untuk pengisian bahan bakar pada tidak memiliki sumbat berbentuk sekrup dan lubang tersebut tidak menonjol diatas dek. 4) Tidak terdapat penjepit stainless steel pada lubang pengisian tangki bahan bakar. 5) Tidak terdapat pipa ventilasi pada tangki bahan bakar yang terpisah dari lubang pengisian bahan bakar. 6) Tanda batas ketinggian bahan bakar tidak memiliki katup yang dapat menutup sendiri pada bagian bawahnya.

53 7) Tidak terdapat tempat berkumpulnya bahan bakar berikut katup pengurasnya pada bagian dasar tangki bahan bakar. 8) Tidak terdapat katup penghenti bahan bakar untuk menghentikan aliran bahan bakar secara darurat ketika terjadi bahaya kebakaran. 9) Selang bahan bakar yang terletak diantara filter bahan bakar utama beserta pemisah air dengan pompa bahan bakar tidak terbuat dari anyaman logam. 4.2.3 Sistem kelistrikan 4.2.3.1 Rangkaian instalasi kelistrikan Kesesuaian instalasi rangkaian kelistrikan pada dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada Tabel 5 di bawah ini: Tabel 5 Kesesuaian instalasi rangkaian kelistrikan pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Pedoman FAO 2009 1 Dua buah baterai yang terpisah, yang dapat digunakan untuk menyalakan mesin secara individual atau bersama-sama. Baterai yang digunakan untuk menyalakan mesin sebaiknya tidak digunakan untuk keperluan lainnya. 2 Dua buah kabel dengan dua buah kutub saklar (mesin berperan sebagai konduktor ketika penyalaan). Saklar utama terletak sedekat mungkin dengan baterai. 3 Baterai diletakkan sedekat mungkin dengan motor starter. 4 Gunakan kabel sesuai ukuran yang telah ditentukan oleh pabrikan mesin. 5 Semua titik kontak pemakaian dilepaskan ketika saklar utama dalam kondisi off, dengan perkecualian pada alarm ketinggian air lambung kapal dan pompa lambung otomatis. 6 Papan saklar. Lampu navigasi utama harus menggunakan sekering yang terpisah. 7 Semua saklar dan sekering harus ditandai dengan jelas. Persentase instalasi sistem rangkaian instalasi kelistrikan pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 85,71 %. Instalasi yang memenuhi syarat adalah:

54 1) Terdapat dua buah baterai yang terpisah, baterai yang digunakan untuk menyalakan mesin terpisah dari baterai yang digunakan untuk keperluan lainnya. 2) Terdapat dua buah kabel dengan dua kutub saklar. Selain itu saklar utama terletak sedekat mungkin dengan baterai. 3) Baterai diletakkan dekat dengan motor starter untuk meminimalkan kehilangan arus listrik akibat panjangnya kabel. 4) Kabel menggunakan ukuran yang telah ditentukan olah pabrikan mesin. 5) Terdapat papan saklar utama. Selain itu, lampu navigasi utama menggunakan sekering yang terpisah. 6) Semua saklar dan sekering ditandai dengan jelas. Adapun persentase instalasi sistem rangkaian instalasi kelistrikan pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 14,29 %. syarat adalah : Instalasi yang tidak memenuhi Semua titik kontak pemakaian tidak dilepaskan ketika saklar utama dalam kondisi off. 4.2.3.2 Baterai Kesesuaian instalasi baterai pada dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada Tabel 6 di bawah ini: Tabel 6 Kesesuaian instalasi baterai pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 1 Untuk penggunaan umum, dapat digunakan baterai dengan siklus mendalam (deep cycle battery). Siklus mendalam yang dimaksud adalah baterai yang memiliki siklus pengisian dan pengeluaran. 2 Baterai untuk penyalaan mesin dapat memakai baterai otomotif, dan sebaiknya memiliki 50% lebih besar dari yang diperlukan untuk penyalaan mesin. 3 Instrument pengukur tegangan sangatlah penting untuk memastikan kerja baterai untuk keperluan umum tidak lebih dari 60% (12 volt).

55 Lanjutan Tabel 6 No. Ketetapan FAO 2009 4 Baterai sebaiknya terkunci dengan kokoh di ruang mesin atau tempat lain yang berventilasi baik (pada suatu kotak atau loker). 5 Ketika pengisian maksimum melebihi 5 KW, baterai harus diletakkan pada kotak yang berventilasi. Persentase instalasi baterai pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 100%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) Baterai untuk penyalaan mesin memakai baterai otomotif dan memiliki lebih dari 50 % dari yang diperlukan baterai untuk penyalaan mesin. 2) Untuk penggunaan umum, menggunakan baterai dengan siklus mendalam (deep cycle battery). Siklus mendalam yang dimaksut adalah baterai yang memiliki siklus pengisian dan pengeluaran. 3) Terdapat instrument pengukur tegangan untuk memastikan kerja baterai untuk keperluan lainnya cukup dan tidak melebihi dari 60 % kebutuhan. 4) Baterai terkunci dengan kokoh di ruang mesin. 5) Pengisian tidak pernah melewati 5 kw sehingga baterai tidak harus diletakkan pada kotak khusus berventilasi. 4.2.4 Sistem pembuangan gas pembakaran Kesesuaian instalasi sistem pembuangan gas pembakaran pada Kapal PSP 01 dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada Tabel 7 di bawah ini: Tabel 7 Kesesuaian instalasi sistem pembuangan gas pembakaran pada Kapal PSP 01 Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 1 Terdapat pintu keluar untuk ujung pipa knalpot pada bagian paling atas dari rumah geladak.

56 Lanjutan Tabel 7 No. Ketetapan FAO 2009 2 Cara yang terbaik adalah mengarahkan lubang pembuangan ke atas melewati saluran ventilasi yang besar. 3 Pipa knalpot beserta peredam (silencer) harus terbungkus dengan insulasi barbahan glasswool atau rockwool dan terlindungi dengan penutup yang sesuai seperti oleh lembaran tipis alumunium. 4 Pipa knalpot dapat menjadi sangat panas. Oleh karenanya harus ada jarak minimum antara pipa knalpot dengan bagian kapal yang terbuat dari kaya atau FRP (fiber reinforce plastik) sebesar 100 mm. 5 Sistem pembuangan gas kering sebaiknya tahan terhadap kebocoran untuk mencegah gas beracun. 6 Diameter pipa knalpot pada bagian akhir minimal besarnya sama dengan manifold knalpot pada mesin. 7 Sambungan pipa knalpot dengan cara flens lebih baik karena lebih mudah dibongkar daripada sambungan dengan sekrup. 8 Terdapat perangkap untuk mengumpulkan air yang terkondensasi. 9 Gunakan pipa dengan tekukan yang landai. 10 Terdapat baja yang fleksibel dibawah dekat manifold knalpot dan disuplai oleh pabrikan mesin. 11 Terdapat pengusir asap knalpot (exhaust air ejector) pada ujung pipa knalpot. 12 Pipa knalpot harus memiliki penyokong agar tidak membebani exhaust engine manifold. Persentase instalasi sistem pembuangan gas pembakaran secara kering pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 33,33%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) Terdapat pintu keluar untuk ujung pipa knalpot pada bagian paling atas dari rumah geladak. 2) Pipa knalpot beserta peredamnya (silencer) harus terbungkus dengan insulasi berbahan glasswool atau rockwool dan terlindungi dengan penutup yang sesuai.

57 3) Pipa knalpot yang panas memiliki celah dengan bagian kapal yang terbuat dari kayu sebesar minimal 100 mm. 4) Diameter pipa knalpot pada bagian akhir besarnya minimal sama dengan manifold knalpot pada mesin agar tidak menghambat laju gas pembakaran yang dikeluarkan oleh mesin. Adapun persentase instalasi sistem pembuangan gas pembakaran secara kering pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 66,67%. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: 1) Jalur lubang pembuangan ke atas namun tidak melewati saluran ventilasi yang besar, karena tidak terdapat saluran ventilasi. 2) Sistem pembuangan gas pada mengalami kebocoran sehingga asap knalpot memenuhi ruang mesin. 3) Sambungan pipa knalpot tidak memakai sistem flens yang seharusnya dapat lebih mudah dibongkar untuk perawatan dibandingkan dengan sambungan sekrup. 4) Tidak terdapat bagian dari pipa knalpot yang berfungsi untuk mengumpilkan air yang terkondensasi. 5) Pipa knalpot pada tidak menggunakan pipa dengan tekukan yang landai. 6) Tidak terdapat baja yang fleksibel pada bagian bawah manifold knalpot yang seharusnya disuplai oleh pabrikan mesin. 7) Tidak terdapat sistem pengusir asap knalpot (exhaust air ejector) pada ujung pipa knalpot. 8) Pipa knalpot tidak menggunakan penyokong sehingga pipa knalpot tersebut membebani sambungan knalpot pada mesin (exhaust engine manifold). 4.2.5 Perawatan mesin 4.2.5.1 Pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin Kesesuaian pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada Tabel 8 di bawah ini:

58 Tabel 8 Kesesuaian pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 Kapal PSP 01 1 Ketinggian minyak pelumas pada mesin. 2 Ketinggian air pendingin (jika mesin menggunakan pendinginan air). 3 Ketersediaan gemuk otomatis untuk melumasi poros propeller. 4 Ketersediaan bahan bakar untuk perjalanan. Persentase pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 75%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) Memeriksa ketinggian pelumas pada mesin. 2) Memeriksa ketinggian air pendingin. 3) Memeriksa ketersediaan bahan bakar. Adapun persentase pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 25%. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: Tidak terdapat ketersediaan pelumas dalam mangkok gemuk. 4.2.5.2 Pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin Kesesuaian pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 dengan pedoman FAO 2009 disajikan pada Tabel 9 di bawah ini: Tabel 9 Kesesuaian pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 1 Air pendingin mesin harus bersirkulasi.

59 Lanjutan Tabel 9 No. Ketetapan FAO 2009 2 Pemeriksaan pipa air, pipa knalpot, saluran bahan bakar, pipa oli terhadap kemungkinan kebocoran. 3 Tekanan oli. 4 Periksa indikator pengisian baterai (accu). Persentase pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 100%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: 1) Memastikan air pendingin bersirkulasi. 2) Memeriksa pipa air pendingin, pipa knalpot, saluran bahan bakar, dan pipa oli terhadap kemungkinan kebocoran. 3) Memeriksa tekanan oli. 4) Memeriksa indikator pengisian baterai (accu). 4.2.5.3 Pemeriksaan tiap empat belas hari Kesesuaian pemeriksaan tiap empat belas hari pada dengan pedoman FAO disajikan pada Tabel 10 di bawah ini: Tabel 10 Kesesuaian pemeriksaan tiap empat belas hari pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 1 Pemeriksaan ketegangan pada sabuk alternator. Dengan ketegangan yang memadai, dimungkinkan menekan sabuk sejauh 5-10 mm. 2 Kuras kotoran dan air yang mengendap pada kotak pengendap pada tangki bahan bakar danfilter bahan bakar. 3 Periksa ketinggian air accu. Tambahkan dengan air murni terdistilasi jika dibutuhkan. 4 Baut mesin dan baut propeller harus diperiksa kekencangannya. 5 Periksa paking mesin. Ganti jika diperlukan.

60 Persentase pemeriksaan tiap empat belas hari pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 20%. Instalasi yang memenuhi syarat adalah: Memeriksa ketinggian air accu. Tambahkan dengan air murni terdistilasi jika dibutuhkan. Sedangkan persentase pemeriksaan tiap empat belas hari pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 80%. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: 1) Pemeriksaan ketegangan sabuk alternator tidak dilakukan. 2) Tidak melakukan pembuangan air dan kotoran yang berada dalam filter bahan bakar. 3) Tidak ada pemeriksaan kekencangan baut mesin dan baut propeller. 4) Tidak ada pemeriksaan pada paking mesin. 4.2.5.4 Pemeriksaan tiap 100 150 jam mesin beroperasi Kesesuaian pemeriksaan tiap 100-150 jam mesin beroperasi pada Kapal PSP 01 dengan pedoman FAO disajikan pada Tabel 11 di bawah ini: Tabel 11 Kesesuaian pemeriksaan tiap 100-150 jam mesin beroperasi pada Kapal PSP 01 Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 Ya Tidak 1 Ganti oli mesin. 2 Ganti filter oli. 3 Ganti filter bahan bakar. 4 Ganti oli transmisi. Persentase pemeriksaan tiap 100 150 jam mesin beroperasi pada Kapal PSP 01 yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 0 %. Adapun persentasi pemeriksaan tiap 100-150 jam mesin beroperasi pada yang tidak memenuhi pedoman dari safety guide for small fishing boats yang dikeluarkan FAO sebesar 100%. Pemeriksaan yang tidak memenuhi syarat adalah:

61 1) Mengganti oli mesin diatas 100-150 jam mesin beroperasi. 2) Mengganti filter oli diatas 100-150 jam mesin beroperasi. 3) Mengganti oli transmisi diatas 100-150 jam mesin beroperasi. 4) Tidak pernah melakukan peenggantian filter bahan bakar. 4.2.6 Ventilasi kamar mesin Kesesuaian pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin pada Kapal PSP 01 dengan pedoman FAO disajikan pada Tabel 12 di bawah ini: Tabel 12 Kesesuaian instalasi ventilasi kamar mesin pada Berdasarkan Pedoman FAO 2009 tentang Safety Guide For Small Fishing Boats No. Ketetapan FAO 2009 1 Terdapat saluran untuk membuang udara panas yang letaknya tinggi dan saluran untuk memasukkan udara segar. Kedua saluran tersebut harus berjauhan letaknya. Untuk mesin yang berukuran besar harus terdapat kipas elektrik untuk membuang udara panas keluar. 2 Jika mesin memiliki sistem pembuangan gas buang kering (dry exhaust system), sangat memungkinkan untuk meletakkan pipa pembuangan pada lubang ventilasi keluar dan mengeluarkan udara panas dengan aksi efektif dibawah sistem pembuangan kering seperti yang tergambarkan. 3 Untuk negara beriklim tropis, saluran melintang yang bersekat-sekat sebaiknya mempunyai luas 10 cm 2 tiap kw tenaga mesin (8 cm 2 per HP). Saluran udara dapat memiliki sekat yang berbeda-beda selama berada pada area sekat melintang yang sama. Persentase instalasi sistem pembuangan gas pembakaran secara kering pada yang memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 0 %. Sedangkan persentase instalasi sistem pembuangan gas pembakaran secara kering pada yang tidak memenuhi pedoman dari Safety Guide for Small Fishing Boats yang dikeluarkan FAO sebesar 100 %. Instalasi yang tidak memenuhi syarat adalah: 1) Tidak terdapat saluran untuk membuang panas pada ruang mesin.

62 2) Pipa knalpot tidak diletakkan pada lubang ventilasi keluar tetapi menjulur keluar melalui lubang di atap. 3) Tidak terdapat saluran melintang yang bersekat sekat yang berfungsi untuk memaksimalkan pengeluaran udara panas dari ruang mesin.