BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kacang Hijau

PENDAHULUAN. Latar Belakang. pembangunan pertanian dan sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cabe (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman serealia sumber karbohidrat kedua

I. PENDAHULUAN. terutama pangan dan energi dunia, termasuk Indonesia akan dihadapkan pada

KAJIAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI GOGO MELALUI PEMANFAATAN LAHAN SELA DI ANTARA KARET MUDA DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu makanan pokok di

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Padi

PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan komoditas pangan penghasil

I. PENDAHULUAN. Adalah penting bagi Indonesia untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan substansi pokok dalam kehidupan manusia sehingga

TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Lahan Kering Masam

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan tanaman pangan semusim yang termasuk golongan rerumputan

I. PENDAHULUAN. ini. Beras mampu mencukupi 63% total kecukupan energi dan 37% protein.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terlihat dari rata-rata laju pertumbuhan luas areal kelapa sawit selama

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dibudidayakan. Padi termasuk dalam suku padi-padian (Poaceae) dan

I. PENDAHULUAN. Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat

BAB I PENDAHULUAN. Padi merupakan tanaman pangan pokok penduduk Indonesia. Di samping

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan pangan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, baik di dunia maupun nasional.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KERAGAAN KACANG TANAH VARIETAS KANCIL DAN JERAPAH DI LAHAN GAMBUT KALIMANTAN TENGAH

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara agraris yang artinya pertanian memegang

I. PENDAHULUAN. dibudidayakan karena padi merupakan tanaman sereal yang paling banyak

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan bijibijian

TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan Produktivitas Padi di Indonesia dan Permasalahannya

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. meningkat. Sementara lahan pertanian khususnya lahan sawah, yang luas

PENDAHULUAN. ternyata dari tahun ke tahun kemampuannya tidak sama. Rata-rata

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan pangan ketiga di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu

TINJAUAN PUSTAKA Padi Gogo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan penting di dunia setelah

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Ketergantungan terhadap bahan pangan impor sebagai akibat kebutuhan. giling (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2015).

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. Bayam (Amaranthus tricolor L.) dari sudut pandang manusia awam

karakter yang akan diperbaiki. Efektivitas suatu karakter untuk dijadikan karakter seleksi tidak langsung ditunjukkan oleh nilai respon terkorelasi

I. PENDAHULUAN. Pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan turut meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Ubikayu merupakan sumber bahan makanan ketiga setelah padi dan jagung.

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani Tanaman Sorgum. Berdasarkan klasifikasi botaninya, Sorghum bicolor (L.) Moench termasuk

I. PENDAHULUAN. Kacang hijau merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang sangat

PENDAHULUAN Latar Belakang

KAJIAN POLA TANAM TUMPANGSARI PADI GOGO (Oryza sativa L.) DENGAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt L.)

I. PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk

BAB I PENDAHULUAN. pengolahan seperti tempe, tahu, tauco, kecap dan lain-lain (Ginting, dkk., 2009).

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

1. PENDAHULUAN. banyak mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia, oleh karena itu

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tergenang air pada sebagian waktu selama setahun. Saat ini pemanfaatan lahan

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan

I. PENDAHULUAN. tanaman padi salah satunya yaitu pemupukan. Pupuk merupakan salah satu faktor

TINJAUAN PUSTAKA Budidaya Jenuh Air

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicum esculentum) merupakan tanaman semusim yang tergolong

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. Komoditi jagung memiliki peranan cukup penting dan strategis dalam pembangunan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sejak tahun Sentra produksi ubi jalar adalah Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah,

I. PENDAHULUAN. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas penting

PENDAHULUAN. kelapa sawit terluas di dunia. Menurut Ditjen Perkebunan (2013) bahwa luas areal

ARTIKEL ILMIAH OPTIMALISASI PENGGUNAAN LAHAN PERKEBUNAN KAKAO BUKAAN BARU DENGAN TANAMAN SELA (PADI GOGO)

TINJAUAN PUSTAKA Ratun Tanaman Padi

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia produksi nanas memiliki prospek yang baik. Hal ini dilihat dari

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Produktivitas Tahun Luas Area (ha) Produksi (ton) (ton/ha)

I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tanaman industri penting penghasil

BAB I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi

POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman serealia yang memiliki sumber

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi beras perkapita per tahun

TINJAUAN PUSTAKA. yang dikeringkan dengan membuat saluran-saluran drainase (Prasetyo dkk,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kedelai (Glycine max L. Merrill) adalah komoditas yang

Gambar 1. Varietas TAKAR-1 (GH 4) Edisi 5-11 Juni 2013 No.3510 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42%

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman pangan yang penting di dunia, selain padi

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dalam pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. Kebutuhan terhadap gizi ini dapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Latar Belakang. Produktivitas padi nasional Indonesia dalam skala regional cukup tinggi

I. PENDAHULUAN. memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Nilai ekonominya yang tinggi

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang bernilai

BAB VI PEMBAHASAN. lambat dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman kacang tanah, penghanyutan

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penyediaan beras untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional masih merupakan problema yang perlu diatasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat (± 2 % per tahun), perubahan konsumsi penduduk dari non-beras ke beras, perubahan fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian, timbulnya masalah baru seperti musim kering yang panjang, banjir dan keterlambatan waktu tanam, produktivitas padi sawah irigasi yang merupakan sumber utama beras nasional sudah mengalami tingkat pelandaian (leveling off). Perubahan fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian merupakan faktor penyebab yang sangat penting memperlihatkan telah terjadi perubahan fungsi lahan sawah ke sektor lain seluas 1,6 juta ha dan 1 juta ha diantaranya terjadi di Pulau Jawa selama kurun waktu 1981-1999. Bila tidak ada terobosan-terobosan baru untuk mengatasi masalah kebutuhan pangan ini, maka Indonesia akan terus-menerus mengimpor beras dari negara-negara lain. Sementara ketersediaan beras di pasar Internasional juga mempunyai keterbatasanketerbatasan. Sebagai gambaran, berdasarkan data statistik tahun 1998 2003 impor beras ke Indonesia berkisar antara 1,4 5,7 juta ton per tahun (Noor, 1996; Irawan et al, 2001; Supijatno, 2003; BPS, 2003; Adiratma, 2004). Oleh karena itu masalah kekurangan beras merupakan masalah nasional yang perlu dicari berbagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu alternatif yang potensial adalah mengembangkan areal budidaya padi lahan kering/padi gogo sebagai tanaman sela di areal perkebunan diantaranya adalah areal perkebunan karet belum menghasilkan (TBM) Areal ini memungkinkan dimanfaatkan untuk penanaman padi gogo hingga tanaman karet berumur 3-4 tahun (Steinway, 2003;

Supijatno, 2003). Keuntungan pemanfaatan areal ini selain akan dapat mendukung peningkatan produksi beras nasional, juga akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pekebun karet maupun perusahaan perkebunan yang bergerak dibidang perkaretan baik negara maupun swasta. Selain itu akan mengintensifkan dan mengefisienkan pemeliharaan tanaman karet sebelum menghasilkan. Dengan demikian pengembangan budidaya padi gogo di areal perkebunan karet belum manghasilkkan akan turut mempertangguh usaha pembangunan perkebunan karet di Indonesia. Luas total areal perkebunan karet yang ada di seluruh Indonesia hingaa saat ini tercatat 3,3 juta ha, tersebar di 23 wilayah provinsi. Dari luasan tersebut, perkebunan karet rakyat tercatat sekitar 2,8 juta ha (85%) dengan jumlah petani yang terlibat di dalamnya 1,4 juta kepala keluarga, selebihnya 0,5 juta ha (15%) merupakan perusahaan perkebunan negara dan swasta. Setiap tahun berkisar 3-4 % merupakan areal tanaman karet baru (new replanting). Areal ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya padi gogo (Supijatno, 2003; BPS, 2004; Boerhendhy dan Agustina, 2006; Departemen Pertanian, 2006). Berdasarkan data di atas maka luas potensi pengembangan lahan padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan setiap tahun berkisar 99.000 132.000 ha. Selain itu mulai tahun 2006 pemerintah telah melaksanakan program revitalisasi perkebunan untuk percepatan pembangunan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi komoditi tanaman karet, kelapa sawit dan kakao. Target program revitalisasi khusus untuk perkebunan karet 5 tahun pertama ke depan adalah seluas 300.000 ha (Departemen Pertanian, 2006). Dari program ini potensi tambahan ketersediaan lahan pengembangan padi gogo di areal perkebunan karet seluas 60.000 ha setiap tahun. Dari uraian di atas maka potensi pengembangan budidaya padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan di Indonesia cukup besar. 2

Namun dalam pengembangan padi gogo di areal perkebunan karet terdapat beberapa kendala faktor lingkungan terhadap pertumbuhan dan produksi padi gogo. Kendala tersebut diantaranya adalah rendahnya intensitas cahaya matahari yang diperoleh tanaman terutama pada karet umur 2 tahun ke atas, kadar bahan organik tanah yang relatif rendah, ketersediaan air tanah terbatas, miskin unsur hara tanah, ph tanah yang rendah, dan sering ditemukannya gejala keracunan unsur besi (Fe) dan aluminium (Al) terhadap padi gogo (Noor,1996; Prasetyo, 2003). Hal ini mengakibatkan gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga produktivitas padi gogo yang dihasilkan relatif rendah (Supijatno, 2003). Sebagaimana diketahui selama ini, padi gogo tergolong tanaman yang butuh banyak cahaya, sehingga kekurangan cahaya pada kondisi naungan dapat mengakibatkan tereduksinya laju fotosintesis dan turunnya sintesis karbohidrat (Murty et al., 1992; Watanabe et al., 1993; Jiao et al., 1993; Yeo et al., 1994). Gangguan fisiologi ini akan mengakibatkan tingkat produktivitas padi gogo yang rendah di bawah kondisi naungan. Pada intensitas cahaya rendah biasanya juga terjadi gangguan translokasi karbohidrat ke bagian-bagian tubuh tanaman dan mempengaruhi perubahan pertumbuhan morfologi dan anatomi daun. Perubahan tersebut adalah sebagai mekanisme pengendalian jumlah dan kualitas cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh kloroplast daun. Daun varietas padi gogo yang toleran cahaya rendah berbeda dengan yang peka dilihat dari warna kehijauan daun, luas daun, ketebalan daun, ketegakan daun dan bentuk daun (Sopandie et al., 1999; Chozin et al., 2000). Varietas padi gogo yang toleran cahaya rendah memperlihatkan kandungan pati daun dan batang lebih tinggi dari pada yang peka saat dinaungi 50 % pada fase vegetatif aktif (Sopandie et al., 1999 dan 2001a). Intensitas cahaya rendah pada kondisi naungan dapat mempengaruhi hasil dan kualitas biji padi gogo (Steinway et al, 2003). 3

Toleransi fisologis dan morfologis tanaman untuk mempertahankan pertumbuhannya tetap baik pada kondisi intensitas cahaya rendah akibat naungan antara lain dilakukan dengan mengurangi kecepatan respirasi, meningkatkan luas daun guna memperoleh permukaan daun yang lebih besar dalam melakukan absorbsi cahaya, dan meningkatan laju fotosintesis pada setiap unit energi cahaya yang diterima tanaman (Fitter and Hay, 1981; Gardener et al, 1985). Hale dan Orcutt (1987) menyebutkan, toleransi tanaman terhadap naungan dapat dilakukan melalui dua cara yaitu meningkatkan luas daun sebagai upaya mengurangi penggunaan metabolit dan mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan direfleksikan oleh daun. Kekuatan melawan degradasi klorofil akibat kurangnya cahaya sangat penting bagi daya toleransi tanaman terhadap naungan yaitu dengan meningkatkan jumlah kloroplast per luas daun (Hale dan Orchut, 1987), dan meningkatkan jumlah klorofil pada kloroplast (Okada et al., 1992). Hal ini ditunjukkan oleh genotipe toleran padi gogo yang memiliki kadar khlorofil lebih tinggi dibanding yang peka (Chowdury et al., 1994; Sulistyono et al., 1999). Lubis et al. (1993), menyatakan bahwa untuk pengembangan budidaya padi gogo sebagai tanaman sela di bawah naungan tegakan, diperlukan varietas-varietas dengan kriteria : berumur 80-120 hari (genjah sampai sedang), tinggi tanaman 110-125 cm, jumlah anakan sedang, bentuk batang agak serak, tahan penyakit blast, toleran Al, kekeringan dan naungan. Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana telah diuraikan di atas maka dalam upaya pengembangan budidaya padi gogo di areal perkebunan karet, salah satu diantaranya yang perlu dilakukan adalah pengujian beberapa varietas unggul padi gogo untuk mendapatkan varietas yang toleran naungan dan berproduksi tinggi serta 4

melakukan pengkajian perbaikan-perbaikan teknologi budidaya padi gogo hkususnya yang berkaitan dengan perbaikan kondisi tanah melalui penerapan beberapa metode pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Perumusan Masalah Dalam pengembangan budidaya padi gogo di areal perkebunan karet terdapat beberapa kendala faktor lingkungan yang dihadapi tanaman yaitu rendahnya intensitas cahaya matahari yang diperoleh tanaman karena naungan terutama karet umur 2 tahun ke atas, kadar bahan organik relatif rendah, miskin unsur hara, ph tanah asam, ketersediaan air tanah terbatas, dan sering ditemukannya gejala keracunan unsur besi (Fe) dan aluminium (Al) terhadap tanaman padi gogo. Keadaan ini mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan morfologi tanaman serta gangguan proses metabolisme sehingga produktivitas padi gogo yang diperoleh menjadi rendah. Untuk mengatasi masalah ini maka diperlukan usaha pengembangan varietas padi gogo yang adaptif naungan, antara lain dapat dilakukan melalui pengujian pertumbuhan dan produksi beberapa varietas unggul padi gogo untuk mendapatkan varietas yang adaptif naungan dan berproduksi tinggi serta melakukan penelitian perbaikan-perbaikan teknologi budidaya padi gogo khususnya yang berkaitan dengan perbaikan kondisi tanah melalui pengkajian beberapa metoda pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Penelitian dilakukan dengan pendekatan analisis komprehensif yang mencakup analisis parameter morfologi tanaman, komponen hasil, fisiologi, biokimia, anatomi, penyerapan karbon tanaman, gulma, pertumbuhan vegetatif karet, kesuburan tanah dan hama penyakit tanaman. 5

Tujuan Penelitian 1. Mempelajari perubahan karakter morfologi, komponen hasil, fisiologi, biokimia dan anatomi varietas padi gogo sebagai respon terhadap perlakuan naungan, bahan organik dan metode pengolahan tanah. 2. Mendapatkan varietas padi gogo yang beradaptasi terhadap pengaruh faktor naungan. 3. Mendapatkan metode pengolahan tanah yang sesuai untuk budidaya tanaman padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan. 4. Mendapatkan dosis pupuk organik yang sesuai untuk budidaya padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan. 5. Mempelajari dampak budidaya padi gogo di areal tanaman karet belum menghasilkan terhadap perkembangan gulma, penyerapan karbon oleh tanaman padi gogo, pertumbuhan vegetatif karet, perubahan kesuburan tanah dan hama penyakit tanaman. Hipotesis Penelitian 1. Varietas padi gogo yang diuji memiliki respon yang berbeda dalam hal karakteristik pertumbuhan morfologi, komponen hasil, biokimia dan anatomi akibat faktor naungan, pemberian bahan organik dan metode pengolahan tanah. 2. Di antara varietas-variatas padi gogo yang diuji terdapat minimal satu varietas yang adaptif terhadap kondisi naungan. 3. Di antara metode pengolahan tanah yang diuji terdapat salah satu metode yang sesuai untuk budidaya padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan. 4. Di antara dosis pupuk organik yang diuji terdapat salah satu dosis yang sesuai untuk budidaya padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan. 5. Terdapat dampak budidaya padi gogo di areal tanaman karet belum menghasilkan terhadap perkembangan gulma, penyerapan karbon oleh tanaman padi gogo, 6

pertumbuhan vegetatif karet, perubahan kesuburan tanah dan hama penyakit tanaman. Tahapan Penelitian Untuk menguji hipotesis yang diajukan maka dalam penelitian ini dillakukan tiga kali tahapan kegiatan percobaan, terdiri atas : 1. Percobaan 1: Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Perlakuan Naungan dan Dosis Bahan Organik di Rumah Kasa. 2. Percobaan 2: Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Metode Pengolahan Tanah dan Dosis Bahan Organik di Areal Tanaman Karet Umur 2 Tahun. 3. Percobaan 3: Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Metode Pengolahan Tanah dan Dosis Bahan Organik di Areal Tanaman Karet Umur 3 Tahun. Hasil Diharapkan Diperoleh suatu varietas, metode pengolahan tanah dan dosis bahan organik yang sesuai diterapkan untuk teknik budidaya tanaman padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan umur 2 tahun dan 3 tahun (TBM 2 dan TBM 3). 7

Secara diagram alir, alur penelitian mulai dari identifikasi masalah sampai kepada percobaan-percobaan yang dilaksanakan dapat digambarkan sebagai berikut : Masalah Pengembangan padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan (TBM) ada beberapa kendala yang dihadapi : o intensitas cahaya matahari rendah, o kadar bahan organik rendah, o miskin unsur hara, o ph tanah asam, o ketersediaan air tanah terbatas, o dan sering ditemukannya gejala keracunan Fe dan Al Percobaan 1 Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Perlakuan Naungan dan Dosis Bahan Organik di Rumah Kasa. Percobaan 2 Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Metode Pengolahan Tanah dan Dosis Bahan Organik di Areal Tanaman Karet Umur 2 Tahun. Percobaan 3 Pertumbuhan dan Produksi Varietas Padi Gogo Pada Beberapa Metode Pengolahan Tanah dan Dosis Bahan Organik di Areal Tanaman Karet Umur 3 Tahun. Hasil Diharapkan Diperoleh suatu varietas, metode pengolahan tanah dan dosis bahan organik yang sesuai diterapkan untuk teknik budidaya tanaman padi gogo di areal perkebunan karet belum menghasilkan umur 2 tahun dan 3 tahun (TBM 2 dan TBM 3). 8