BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KLASIFIKASI MINERAL. Makro : Kebutuhan minimal 100 mg/hari utk orang dewasa Ex. Na, Cl, Ca, P, Mg, S

BAB 6 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

Nama : Irritant. Lambang : Xi. Contoh : NaOH, C 6 H 5 OH, Cl 2. Nama : Harmful. Lambang : Xn

Jenis - Jenis Detonator PT. Dahana, Orica, DNX, dan MNK

ANALISIS KADAR ABU DAN MINERAL

SISTEM PIROTEKNIK PADA ROKET

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berawal dari aksi teror dalam bentuk bom yang meledak di Bali pada

STUDI TENTANG PENGARUH LEDAKAN 3 BAHAN PELEDAK BERKEKUATAN TINGGI PADA DINDING KONKRET BERTULANG

BAB I PENDAHULUAN. Mallard dan Chatelier tercatat sebagai orang pertama yang menyelidiki

BAB 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

BAB 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS BAHAN MAKANAN ANALISIS KADAR ABU ABU TOTAL DAN ABU TIDAK LARUT ASAM

JURNAL PRAKTIKUM SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 12 Mei 2014

K3 KEBAKARAN. Pelatihan AK3 Umum

BAB III KESIMPULAN. Nama Praktikan/11215XXXX 4

MATERI DAN PERUBAHANNYA. Kimia Kesehatan Kelas X semester 1

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

8.15 Pengamat Sosial -Prof Tajjudin Nur Effendi-

MODUL I SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Penurunan Titik Beku Larutan

BAB I PENDAHULUAN A. Judul percobaan B. Tujuan praktikum

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

ANALISIS SIFAT FISIS DAN MEKANIS PADA PELAPISAN KOMPOSIT MENGGUNAKAN TIMAH PUTIH

IDENTIFIKASI BAHAYA BAHAN KIMIA

LOGO ANALISIS KUALITATIF KATION DAN ANION

Materi 6. Oleh : Agus Triyono, M.Kes. td&penc. kebakaran/agust.doc 1

TUGAS AKHIR STUDI BENTUK, UKURAN DAN KEKERASAN HASIL COR ULANG SERBUK HASIL ATOMISASI SEMPROT UDARA TIMAH PUTIH

BAB I PENDAHULUAN. terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Centre (WTC) di New York,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai hasil dari penelitian yang telah dilakukan,

ALAT ANALISA. Pendahuluan. Alat Analisa di Bidang Kimia

IDENTIFIKASI BAHAYA B3 DAN PENANGANAN INSIDEN B3

LAPORAN KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI LIMBAH ALUMUNIUM FOIL

BAB III METODE PENELITIAN

KADAR ABU & MINERAL. Teti Estiasih - THP - FTP - UB

bdtbt.esdm.go.id TEKNIK PELEDAKAN Rochsyid Anggara, ST

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Oksidasi dan Reduksi

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

BAB VI REAKSI KIMIA. Reaksi Kimia. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas IX 67

BAB III. TEORI DASAR

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI PENUTUP. perusakan dan pembakaran. Wilayah persebaran aksi perkelahian terkait konflik

Pengertian Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia yang memiliki sifat reaktif dan atau sensitif terhadap

BAB II LANDASAN TEORI

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

BAHAN PELEDAK KOMERSIAL UNTUK INDUSTRI PERTAMBANGAN

METODOLOGI PENELITIAN

SOP MMBC EXPRESS last update: 04 Oktober 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Review I. 1. Berikut ini adalah data titik didih beberapa larutan:

BAB I PENDAHULUAN. Sampah menjadi masalah bagi sebagian besar masyarakat. indonesia, di daerah perdesaan banyak sekali sampah organik kebun

PENGELOLAAN BAHAN DAN LIMBAH KIMIA Oleh: Regina Tutik Padmaningrum Staff Jurdik Kimia, FMIPA, UNY

Format Validasi Ahli terhadap Buku Ajar Reaksi Redoks dengan Konteks Kembang Api

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS KIMIA ORGANIK

LIMBAH. Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK 2. Titrasi Permanganometri. Selasa, 6 Mei Disusun Oleh: Yeni Setiartini. Kelompok 3: Fahmi Herdiansyah

BAHAN KIMIA BERBAHAYA ALDI KURNIA TAMA

STANDART OPERASIONAL PROSEDURE ( SOP ) PENGAWASAN SENJATA API DAN BAHAN PELEDAK

PEMBUATAN GEL FUEL BERBAHAN DASAR ALKOHOL DENGAN GELLING AGENT ASAM STEARAT DAN METIL SELULOSA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. Tujuan umum. Standar kompetensi dan kriteria unjuk kerja

Panduan Transaksi MMBC EKSPRESS

SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3. Bahan baku dengan mutu pro analisis yang berasal dari Merck (kloroform,

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 8: Cara uji kadar hidrogen klorida (HCl) dengan metoda merkuri tiosianat menggunakan spektrofotometer

SEJARAH. Pertama kali digunakan untuk memisahkan zat warna (chroma) tanaman

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KUALITATIF ANION

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangan Pabrik Asam Nitrat Dari Natrium Nitrat dan Asam Sulfat Kapasitas Ton/tahun

MATERIAL SAFETY DATA SHEET ANILINE 99%

TATA CARA PEMBERIAN SIMBOL DAN LABEL BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

ANALISA PEMAKAIAN BAHAN BAKAR DENGAN MELAKUKAN PENGUJIAN NILAI KALOR TERHADAP PERFOMANSI KETEL UAP TIPE PIPA AIR DENGAN KAPASITAS UAP 60 TON/JAM

Prarancangan Pabrik Asam Nitrat Dari Asam Sulfat Dan Natrium Nitrat Kapasitas Ton Per Tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium kimia Analis Kesehatan,

b. Mengubah Warna Indikator Selain rasa asam yang kecut, sifat asam yang lain dapat mengubah warna beberapa zat alami ataupun buatan.

Keluarga terduga teroris gemparkan Surabaya

Pemisahan dengan Pengendapan

ANION TIOSULFAT (S 2 O 3

Prarancangan Pabrik Nitrogliserin dari Gliserin dan Asam Nitrat dengan Proses Biazzi Kapasitas Ton/ Tahun BAB II DESKRIPSI PROSES

BAB VI KINETIKA REAKSI KIMIA

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERAWATAN BAHAN PRAKTIKUM KIMIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menelan banyak korban sipil tersebut. Media massa dan negara barat cenderung

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH

Kerugian Kecelakaan Kerja (Teori Gunung Es Kecelakaan Kerja)

BAB I. PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

PT. BINA KARYA KUSUMA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.

LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK PUSAT STANDARDISASI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I.

IMOWu STAINLESS STEEL PER uss S3OT. Small object (Nonferromagnetic stainless steel knife) Pengaturan sensitivitas terhadap benda :

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era globalisasi ini, pasar modal semakin banyak mendapat perhatian, baik

OKSIDASI OLEH SRI WAHYU MURNI PRODI TEKNIK KIMIA FTI UPN VETERAN YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Di masa sekarang ini pemerintah Indonesia sedang giat-giatnya

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELAS EKSPERIMEN PERTEMUAN KE-1

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kasus peledakan bom yang dilakukan oleh kelompok teroris umumnya bermotif ideologi, politik, agama, ekonomi atau balas dendam dan mendapat perhatian luas dari masyarakat baik didalam negeri maupun dunia internasional karena dapat menimbulkan rasa takut ditengah kehidupan masyarakat serta secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap kesetabilan keamanan dalam negeri dan dapat berdampak negatif terhadap investasi asing maupun menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Sejak tahun 2000-an hingga pertengahan tahun 2009 Puslabfor Polri dan semua Labfor Cabangnya di Polda-Polda diseluruh Indonesia telah banyak melakukan pemeriksaan baik terhadap Tempat Kejadian Perkara maupun analisis barang bukti ledakan bom yang terjadi di beberapa wilayah Republik Indonesia dimana kasus terakhir diperiksa adalah ledakan bom di JW Marriot-Ritz Carlton yang terjadi pada bulan Juli 2009 yang lalu. Dan dari data di Puslabfor Polri diperoleh data bahwa > 70 % dari kasus bom yang dianalisa menggunakan bahan peledak utama (main charge) campuran kalium klorat, sulfur dan aluminium powder. Kasus bom lainnya yang mendapat perhatian dunia adalah bom Bali I tahun 2002 yang cukup dahsyat dan banyak memakan korban manusia serta menimbulkan kerugian harta benda yang besar, sehingga ada pendapat yang menyatakan bahwa ledakan tersebut berasal dari ledakan mikro nuklir. Dari analisis residu ledakan yang dilakukan oleh Puslabfor Polri dan Australian Federal Police (AFP) terdapat perbedaan hasil anslisis yaitu Puslabfor Polri tidak menemukan adanya ion klorat, tetapi menemukan Tri Nitro Toluena (TNT), Cyclotrimethylenetrinitramine atau cyclonit ( RDX) dan Pentaerythritol tetranitrate ( PETN ), sementara AFP menemukan adanya ion klorida, ion kalium dan ion sulfat dalam konsentrasi tinggi tetapi tidak menemukan TNT, RDX dan PETN, sehingga AFP menyimpulkan bahwa bahan peledak utama bom Bali I menggunakan campuran bahan peledak kalium klorat dan sulfur. 1

Perbedaan hasil analisa ini menjadi menarik untuk dipelajari oleh karena itu diperlukan penelitian dan pembuktian secara ilmiah sehingga tidak menimbulkan polemik ditengah masyarakat. Kami berpendapat bahwa tidak ditemukannya ion klorat pada analisis yang dilakukan Puslabfor Polri adalah disebabkan oleh mekanisme ledakan bom Bali I menggunakan booster TNT yang dililiti detonating cord sesuai dengan keterangan salah satu tersangka yakni Ali Imron dalam Buku Putih Bom Bali (2004), sehingga dari ledakan booster memperbesar shock wave (gelombang kejut) dan menghasilkan suhu cukup tinggi ( > 2000 0 C ) yang dapat mengubah kalium klorat ( titik didih 400 0 C) dan sulfur (titik didih 445 0 C) menjadi fase uap, akibatnya antara shock wave dan suhu tinggi saling bersinergi untuk meledakkan main charge dan terjadi reaksi yang dahsyat karena berlangsung pada fase uap. Oleh karena reaksi berjalan pada fase uap maka reaksi yang terjadi lebih sempurna yang berarti konsentrasi ion klorat yang terdekomposisi lebih tinggi atau dengan kata lain ion klorida dan ion sulfat yang terbentuk semakin tinggi, sebaliknya konsentrasin ion klorat yang sisa semakin rendah. Campuran kalium klorat, sulfur dan aluminium powder digolongkan sebagai flash powder yang banyak digunakan pada industri kembang api, petasan, korek api yang biasanya menghasilkan cahaya dan jika terjadi ledakan biasanya lemah atau ledakan berkekuatan rendah. Namun demikian jika dirancang dengan formulasi tertentu dan menggunakan wadah atau kontainer kuat dan sempit (confined) maka campuran ini dapat terdetonasi sehingga pada kondisi ini bahan peledak tersebut sudah dapat digolongkan sebagai bahan peledak high explosive. Campuran bahan peledak kalium klorat yang sudah dikenal antara lain adalah dengan bahan organik seperti gula atau minyak yang dikelompokkkan sebagai Improvised Explosive Devic (Saferstein, 2002). Pada buku The Terrorist Hanbook, Gunzenboom Pyro-Technologies (2002) dijelaskan bahwa kelompok teroris telah menegembangkan penggunaan kalium klorat sebagai bahan peledak untuk bom rakitan yaitu dengan campuran vaselin atau petroleum jelly dengan perbandingan sebagai berikut yaitu kalium klorat 9 bagian berbanding vaselin 1 bagian dimana apabila terhadap campuran ini diberi shock wave akan terjadi ledakan yang lebih kuat dari black powder

yaitu dengan kecepatan detonasi berada pada area kecepatan detonasi high explosive atau dengan kata lain sifat ledakan yang terjadi relatif kuat. Menurut J. Kohler dan Rudolf Meyer dalam bukunya Explosive edisi keempat tahun 1993, bahwa penggolongan bahan peledak low explosive dan high explosive adalah didasarkan pada kecepatan detonasinya yaitu dengan kecepatan detonasi pada kisaran antara 1500-9000 m/det digolongkan kedalam bahan peledak high explosive, sedangkan dengan kecepatan yang lebih rendah dari 1500 m/det digolongkan dalam bahan peledak low explosive. Dari penelitian yang dilakukan Puslabfor Bareskrim Polri bekerja sama dengan PT. Dahana Tasikmalaya pada tahun 2007 diperoleh hasil bahwa kecepatan detonasi dari campuran kalium klorat, sulfur dan aluminium dalam kontainer pipa paralon dan pipa besi yang dipicu oleh detonator pabrik diperoleh kecepatan detonasi sebesar 2700 m/det, hal ini menunjukkan bahwa kecepatan detonasi campuran bahan peledak tersebut berada pada kisaran kecepatan detonasi high explosive. Penelitian terhadap penggunaan kalium klorat sebagai bahan peledak adalah sangat terbatas dimana penelitian biasanya dilakukan dalam skala laboratorium terutama berkaitan dengan sifat-sifat klorat sebagai oksidator kuat terutama berkaitan dengan sifat kinetika kimianya. Lajos Szirovica (2009) telah mempelajari sifat kinetika reaksi klorat (ClO - 3 ) dengan SO - 3 dan H 2 SO 3 yaitu untuk menentukan kecepatan reaksi dengan mengukur konsentrasi dari konsentrasi Cl - dan H +. Demikian juga publikasi atau informasi tentang penggunaan kalium klorat sebagai bahan peledak khususnya bahan peledak high explosive sangat terbatas dan sulit diperoleh tetapi publikasi yang ada umumnya hanya berkaitan dengan penggunaanya sebagai pyrotechnic atau kebutuhan pada dunia industri yang lainnya. Oleh karena itu kami ingin melakukan penelitian tentang penggunaan bahan kimia campuran tepung kalium klorat, sulfur dan aluminium ini sebagai bahan peledak yang bersifat high explosive yaitu dengan merancang ledakan bom rakitan menggunakan kontainer pipa galvanis serta sebagai pemicu ledakan dibuat bervariasi antara lain berupa detonator rakitan, detonator pabrik, detonator pabrik dengan tandem booster TNT, dan memodifikasi booster dengan memberi lapisan plat Pb maupun membuat rongga antara booster dengan main charge.

Kemudian juga dilakukan peledakan dengan menggunakan booster daya gel magnum sebagai perbandingan. Selanjutnya masing-masing bom rakitan sesuai dengan rancangan tersebut diatas diledakan dan dihitung kecepatan detonasinya menggunakan Dautriche Methode untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan tandem booster terhadap kecepatan detonasi bahan peledak tersebut. Analisis terhadap residu ledakan dilakukan secara kualitatif dengan reaksi kimia (spot test) dan dengan alat Ion Scan, selanjutnya analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Kromatografi Ion untuk mengetahui konsentrasi ion klorat yang terdekomposisi menjadi ion klorida sehingga diharapkan dapat menjelaskan permasalahan yang berkaitan dengan bom Bali I 2002 terutama tentang adanya perbedaaan hasil analisis dari Puslabfor Bareskrim Polri dengan temuan Polisi Federal Australia tentang bahan peledak utama yang digunakan. 1.2. Perumusan Permasalahan Campuran tepung kalium klorat, sulfur, dan aluminium yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai bahan pyrotechnic dan banyak digunakan pada pembuatan korek api dan petasan atau juga dikenal sebagai flash powder untuk pembuatan kembang api, dalam penggunaannya hanya menimbulkan ledakan kecil (low explosive) disertai timbulnya asap atau nyala api. Akan tetapi pada kenyataannya di Indonesia khususnya sejak tahun 2000 hingga kasus terakhir pada bulan Juli 2009 yang lalu kelompok teroris banyak menggunakannya sebagai bahan peledak high expolsive yang dapat menimbulkan kerusakan yang besar disertai dengan korban manusia dan kebakaran hebat. Salah satu kasus bom rakitan yang menjadi perhatian dunia karena ledakannya sangat dahsyat dan menimbulkan kerusakan harta benda yang besar disertai kebakaran hebat maupun memakan korban manusia cukup banyak adalah Bom Bali tahun 2002. Dari aspek hukum dan investigasi Polri sudah berhasil menangkap dan membongkar jaringan teroris pelaku bom tersebut, tetapi dari aspek ilmiah khususnya tentang jenis bahan peledak yang digunakan masih ada kontroversi yang perlu dibuktikan secara ilmiah yaitu adanya perbedaan hasil analisis antara

Polri yang tidak menemukan klorat sedangkan Polisi Federal Australia menyimpulkan bahwa bahan peledak yang digunakan adalah klorat. Diperkirakan timbulnya ledakan yang sangat kuat (high explosive) adalah disebabkan oleh penggunaan tandem booster TNT pada rangkaian bom rakitan tersebut seperti yang diterangkan oleh salah satu tersangka Ali Imron, maka dengan adanya booster tersebut akan menghasilkan suhu ekstra tinggi yang berarti bahwa reaksi berjalan pada fase uap/gas sehingga terjadi reaksi yang dahsyat dan ledakan bersifat high explosive. Berdasarkan penjelasan diatas maka dalaqm penelitian ini dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu : Apakah penggunaan tandem booster TNT yang pada ledakannya menghasilkan suhu ekstra tinggi dapat mengubah campuran bahan peledak tepung kalium klorat, sulfur dan aluminium menjadi fase uap mengakibatkan reaksi yang terjadi lebih cepat dan dahsyat sehingga sifat ledakan menjadi high explosive, dan ion klorat tidak terdeteksi lagi pada residu ledakan tetapi terdeteksi sebagai ion klorida sebagai mana hasil analisis Australian Federal Police pada residu ledakan bom Bali tahun 2002. 1.3. Hipotesa. Bahwa pada reaksi suhu ekstra tinggi yang dihasilkan dari ledakan tandem booster TNT, campuran bahan peledak tepung kalium klorat, sulfur dan aluminium dapat diubah menjadi fase uap sehingga reaksi lebih cepat dan dahsyat serta ledakan yang terjadi bersifat high explosive dan pada residu ledakan tidak terdeteksi lagi ion klorat tetapi sebagai ion klorida dalam konsentrasi tinggi. 1.4. Tujuan Penelitian. Untuk membuktikan apakah penggunaan tandem booster TNT pada bom rakitan dengan rangkaian yang menyerupai atau ada kemiripan dengan rangkaian bom Bali 2002 dapat mengubah kecepatan detonasi bahan peledak campuran tepung kalium klorat, sulfur dan aluminium menjadi high explosive karena reaksi

berjalan pada suhu tinggi yang dapat mengubah campuran bahan peledak tersebut menjadi fase uap, sehingga pada`residu ledakan tidak ditemukan ion klorat ditemukan tetapi terdeteksi sebagai ion klorida dalam konsentrasi tinggi. 1.4. Manfaat Penelitian. Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : a. Sebagai bahan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bahan peledak (explosive material) terutama pemanfaatan kalium klorat sebagai bahan peledak high explosive. b. Untuk memberi masukan kepada pimpinan Polri dalam menyamakan pandangan dan pendapat antara Polri dan Australian Fedral Police khususnya tentang analisis residu bom Bali I tahun 2002. c. Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi petugas Puslabfor Bareskrim Polri sebagai pedoman analisis residu bahan peledak dan untuk antisipasi terhadap aksi peledakan bom yang mungkin dilakukan oleh teroris dimasa mendatang.