Oleh: M. Hamid Anwar, M. Phil

dokumen-dokumen yang mirip
KONTROVERSI CITRA PEREMPUAN DALAM OLAHRAGA. Oleh M. Hamid Anwar, M. Phil. Saryono, M. Or. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, dan politik masih menjadi masalah yang sangat kompleks. Fenomena ini

II. TINJAUAN PUSTAKA

KESEHATAN REPRODUKSI DALAM PERSPEKTIF GENDER. By : Basyariah L, SST, MKes

BAB I PENDAHULUAN. Pada masyarakat yang menganut sistem patriarkhi seringkali menempatkan lakilaki

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Media seni-budaya merupakan tempat yang paling banyak

1Konsep dan Teori Gender

BAB I PENDAHULUAN. tidak pantas atau tabu dibicarakan. 1. lainnya secara filosofis, sebenarnya manusia sudah kehilangan hak atas

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Gender adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan budaya, di mana lakilaki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. istri, dengan atau tanpa anak. Sedangkan menurut Sumner dan Keller

BAB I PENDAHULUAN. manusia kedua setelah laki-laki. Tatanan sosial memberi kedudukan perempuan

BAB I PENDAHULUAN. bergaul, bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya. Tidak ada salahnya

BAB I PENDAHULUAN. tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat kodrat sebagai ciptaan

* Terdapat dua teori besar dalam ilmu social yang. 1. Teori struktural fungsionalisme, dan 2. Teori struktural konflik

2016 REPRESENTASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM IKLAN

RESUME MATERI SOSIOLOGI OLAHRAGA Oleh: M. Hamid Anwar

I. PENDAHULUAN. Pada dasarnya sebagai manusia, kita membutuhkan untuk dapat berinteraksi

Kesehatan reproduksi dalam perspektif gender. By : Fanny Jesica, S.ST

BAB I PENDAHULUAN. seorang pengarang yang dituangkan dalam bentuk tulisan berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. upaya dari anggota organisasi untuk meningkatkan suatu jabatan yang ada.

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa

BAB IV KESIMPULAN. Perempuan sebagai subjek yang aktif dalam urusan-urusan publik

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pengalaman pengarang. Karya sastra hadir bukan semata-mata sebagai sarana

BAB V PENUTUP. Pada bagian ini peneliti akan mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan

GENDER DALAM PERKEMBANGAN MASYARAKAT. Agustina Tri W, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada

Gambar 1.1 : Foto Sampul Majalah Laki-Laki Dewasa Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengarang menciptakan karya sastra sebagai ide kreatifnya. Sebagai orang yang

BAB I PENDAHULUAN. 104).Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini keragaman fenomena sosial yang muncul di kota-kota besar di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

2016 EKSISTENSI MAHASISWI D ALAM BERORGANISASI D I LINGKUNGAN FAKULTAS PEND ID IKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alfian Rizanurrasa Asikin, 2014 Bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa

Teori Sosial. (Apa Kontribusinya Terhadap Pemahaman Olahraga di Masyarakat)

BAB I PENDAHULUAN. homoseksual atau dikenal sebagai gay dan lesbian masih kontroversial.

BAB 1 PENDAHULUAN. Konstruksi identitas jender, Putu Wisudantari Parthami, 1 FPsi UI, Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. a. Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki dan peran. perempuan ditentukan (Suprijadi dan Siskel, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. oleh daya saing dan keterampilan (meritokration). Pria dan wanita sama-sama

I. PENDAHULUAN. masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial emosional.

BAB II KAJIAN TEORI. dan Eksploitasi Wanita dalam Novel The Lost Arabian Women karya Qanta A.

2016 FENOMENA CERAI GUGAT PADA PASANGAN KELUARGA SUNDA

I. PENDAHULUAN. masing-masing regu terdiri dari sebelas orang pemain, yang lazim disebut. sebanyak-banyaknya ke dalam gawang lawan dan mempertahankan

BAB I PENDAHULUAN. masih belum berakhir dan akan terus berlanjut. bekerja sebagai ibu rumah tangga dan diartikan sebagai kodrat dari Tuhan,

BAB I PENDAHULUAN. pria dan wanita, dilandaskan kepada pengakuan bahwa ketidaksetaraan gender yang

Konsep Dasar Gender PERTEMUAN 4 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2015 LADY BIKERS 250CC PLUS DALAM GAMBARAN FEMININITY DAN MASCULINITY

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terjadinya ketidakadilan gender kiranya dapat dipicu oleh masih kuatnya

2. Teoretisasi Gender

12 Universitas Indonesia

ANALISIS KEBIJAKAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DALAM KONTEK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PADA PEMBANGUNAN NASIONAL DI KAB.

BAB 1 PENDAHULUAN. seorang pengarang akan mencoba menggambarkan realitas yang ada ke dalam

Kaum Adam, Jadilah Pria Sejati

BAB I PENDAHULUAN. berperan penting atau tokoh pembawa jalannya cerita dalam karya sastra.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Patriakat merupakan sistem pengelompokkan sosial yang menempatkan posisi

BAB I PENDAHULUAN. dari tulisan-tulisan ilmiah. Tidak juga harus masuk ke dalam masyarakat yang

sebagai penjembatan dalam berinteraksi dan berfungsi untuk

BAB I PENDAHULUAN. antara lain sepeda, sepeda motor, becak, mobil dan lain-lain. Dari banyak

BAB I PENDAHULUAN. Gender merupakan konstruksi sosial mengenai perbedaan peran dan. kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran dan

MENGGUGAH PARTISIPASI GENDER DI LINGKUNGAN KOMUNITAS

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

BAB 6 PEMBAHASAN. Pada bab ini akan membahas dan menjelaskan hasil dan analisis pengujian

BAB I PENDAHULUAN. ataupun perasaan seseorang dari apa yang dialaminya. Ekspresi kreatif tersebut

SEX EDUCATION. Editor : Nurul Misbah, SKM

BAB V PENUTUP. mucul dalam tayangan acara Wisata Malam, yaitu kode Appearance

Laki-laki yang berdasarkan Alkitab. (1 Korintus 16:13) Rasul Paulus menuliskan kata-kata ini kepada jemaat di Korintus:

BAB V PENUTUP. Kehadiran dan kepiawaian Zulkaidah Harahap dalam. memainkan instrumen musik tradisional Batak Toba, secara tidak

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERAN GENDER DENGAN PERSAHABATAN HETEROSEKSUAL DI TEMPAT KERJA

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu

GENDER DAN PENDIDIKAN: Pengantar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman dahulu sebagian besar manusia memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan

Opini Edisi 5 : Tentang Seksualitas: Masyarakat Sering Menggunakan Standar Ganda

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki

Pendidikan seksualitas remaja. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 4 RELEVANSI PEMURIDAN YANG SEDERAJAT BAGI KEHIDUPAN BERGEREJA DI INDONESIA

Gender, Interseksionalitas dan Kerja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sepakbola adalah olahraga yang paling terpopuler di dunia dan permainan

BAB I PENDAHULUAN. efektif dan efisien untuk berkomunikasi dengan konsumen sasaran.

MATA KULIAH: PSIKOLOGI DAN BUDAYA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?, Bandung, Penerbit Mizan, 1999, p. 101

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan pribadi individu untuk menjadi dewasa. Menurut Santrock (2007),

PENGALAMAN REMAJA DALAM MENERIMA PENDIDIKAN SEKS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Transseksual merupakan permasalahan yang kompleks. Di satu sisi, di

Transkripsi:

KONTROVERSI CITRA PEREMPUAN DALAM OLAHRAGA Oleh: M. Hamid Anwar, M. Phil Email: m_hamid@uny.ac.id

Latar Belakang Kondisi perempuan dalam konteks sosial senantiasa cenderung dirugikan (mis: belum pernah ada peristiwa pemerkosaan yang korbanya laki-laki) Peran perempuan dalam pranata sosial cenderung sebagai sub-ordinat dari laki-laki Olahraga senantiasa dikaitkan dengan budaya maskulin. Peran serta perempuan dalam aktivitas olahraga masih sangat terbatas. Pandangan miring kerap kali muncul dilekatkan pada perempuan yang terlibat secara serius dalam olahraga keras (sepakbola, tinju, dsb)

Permasalahan Bagaimana seorang perempuan merefleksikan dirinya sendiri dalam konteks keterlibatanya dengan dunia olahraga? Bagaimana pandangan masyarakat secara umum terhadap kaum perempuan dalam olahraga? Bagaimana pendapat para ahli/ pengamat sosial terhadap peran perempuan dalam konteks budaya, termasuk didalamnya olahraga?

Refleksi Perempuan atas Realitas Dirinya dalam Olahraga Perempuan secara umum (kecuali yang benarbenar atlit ) pada kenyataan terjebak dalam ambiguitas. Dari hasil wawancara menyatakan sama sekali tidak ada masalah atas keterlibatannya dalam aktivitas olahraga. Namun hasil observasi menunjukkan bahwa mereka tetap justru mempertahankan kenyataan dirinya yang memang harus dibedakan dengan laki-laki (contoh: pemilihan pada cabang-cabang tertentu saja yang pada kenyataan relatif lebih sempit cakupannya). Hal ini menandaskan bahwa dunia olahraga secara umum memang dominan merupakan wilayah maskulin)

Pandangan Masyarakat Secara umum sepakat, namun pada beberapa cabang tertentu saja. Perempuan yang terlibat dalam olahraga keras apalagi ekstrim adalah sesuatu yang aneh/ tabu Tontonan perempuan berolahraga seringkali berubah dari sebuah tontonan yang menunjukkan kepiawaian teknis menjadi sebuah suguhan yang bernuansa sensualitas (contoh: berbagai komentar saru sering muncul dari para suporter voli pantai perempuan dibandingkan pujian terhadap teknik yang ditunjukkan pemain)

Pandangan Para Ahli/Pengamat Sosial Ratna Megawangi dalam Bukunya Membiarkan Berbeda membedakan faham aliran Gender menjadi 2 (dua) yaitu: 1. Aliran Nature 2. Aliran Nurture

Aliran Nature Aliran ini dipengaruhi Oleh teori Struktural Fungsional yang meyakini bahwa memperbincangkan masalah perbedaan gender tidak bisa dilepaskan dari masalah biologis (potensi seksualitasnya). Peran perempuan yang lembut dan keibuan terkait erat dengan fungsi kodrat strukturnya untuk menjalani proses reproduksi. Atau dengan kata lain bisa dikatakan bahwa sudah semestilah perempuan memang begitu adanya (lemah lembut, emosional, sensitif, dll)

Aliran Nurture Aliran ini dipengaruhi oleh teori sosial konflik. Aliran ini meyakini bahwa posisi perempuan yang serta feminim merupakan murni rekayasa sosial, sehingga wajib untuk dilawan. Penganut aliran ini tercermin pada para kaum perempuan yang memandang bahwa pria dan wanita pada dasarnya sama dan bisa disamakan dalam segala hal (contoh: gerakan kaum feminis)

Kenyataan Pandangan Umum Masyarakat Rata-rata mempunyai kepercayaan pada aliran nature, memandang bahwa memang semestinya perempuan berbeda dengan laki-laki. Secara tidak langsung meyakini bahwa olahraga secara umum lebih cocok bagi kaum laki-laki

Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan secara umum merefleksikan dirinya memang berbeda dengan laki-laki. Hal ini nampak jelas melalui proses observasi maupun dari beberapa literatur yang mencoba dirunut. Meskipun ketika ditanya mereka menyatakan tidak, namun kenyataannya pada dataran praktik keolahragaan mereka tidak bisa menghindarkan diri dari batas keperempuanannya. Masyarakat secara umum mempersepsikan miring terhadap posisi kaum perempuan dalam ruang olahraga