Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep

dokumen-dokumen yang mirip
KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PIDATO M. ANIS MATTA: ANALISIS PRAGMATIK SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

BENTUK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI MTS MUHAMMADIYAH 4 TAWANGHARJO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Dalam penulisan proposal skripsi ini peneliti mengumpulkan data-data dari

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588).

BAB 4 KESIMPULAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya kegiatan, peradaban kebudayaan manusia. Bahasa adalah alat

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi bersifat arbitrer yang dipergunakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa pada prinsipnya merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat

BAB I PENDAHULUAN. Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

WUJUD KALIMAT IMPERATIF TUTURAN GURU TAMAN KANAK-KANAK KARYA PKK PACONGKANG KABUPATEN SOPPENG

BAB I PENDAHULUAN. digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Manusia sebagai

TINDAK TUTUR IMPERATIF DALAM BAHASA SIDANG

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua sarana,

BAB I PENDAHULUAN. Media massa tidak hanya memberikan informasi kepada pembaca, gagasan, baik pada redaksi maupun masyarakat umum. Penyampaian gagasan

ANALISIS KALIMAT PERINTAH PADA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI ARTIKEL PUBLIKASI. Guna Mencapai Derajat S-1

ABSTRAK. Adi Susrawan, I Nyoman Wujud Kesantunan Imperatif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI PSIA.1 SMAN 1 Kubu Karangasem.

2. Punya pendirian, peduli sesama, berkomitmen dan bisa bertanggung jawab. Menurut aku, gentleman punya sifat yang seperti itu. Kalau punya pacar, dia

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRACT: Kata kunci: kesantunan, tuturan, imperatif. maksim penghargaan, maksim kesederhanaan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Adat istiadat merupakan suatu hal yang sangat melekat dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Definisi mengenai kalimat memang telah banyak ditulis orang.

Merupakan salah satu bentuk konstruksi sintaksis yang tertinggi. Secara tradisional: suatu rangkaian kata yang mengandung pengertian dan pikiran yang

BAB I PENDAHULUAN. tetapi juga pada pemilihan kata-kata dan kalimat-kalimat yang digunakan,

REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI

LINGUISTIKA, MARET 2017 ISSN: Vol. 24. No. 46

ANALISIS RAGAM KALIMAT DAN LEVEL KEMAHIRAN MENULIS BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN MAHASISWA JURUSAN ASEAN STUDIES WALAILAK UNIVERSITY THAILAND

HUMANIKA Vol. 23 No.1 (2016) ISSN Apa dan Mana Dalam Kalimat Deklaratif Sri Puji Astuti

BAB I PENDAHULUAN. bahasa tulis salah satu fungsinya adalah untuk berkomunikasi. Bahasa tulis dapat

TINDAK IMPERATIF DALAM WACANA PEMBELAJARAN DI SMKN I BANGIL. Mudzakir Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

BAB V PENUTUP. dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut.

ANALISIS KESANTUNAN IMPERATIF DALAM TERJEMAHAN ALQURAN SURAT AT TAUBAH: KAJIAN PRAGMATIK NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan

KESANTUNAN IMPERATIF BUKU TEKS BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KELAS VII

BAB II LANDASAN TEORI

METODE PENELITIAN. alih kode dan campur kode di lingkungan sekolah khususnya di Sekolah

I. PENDAHULUAN. satu potensi mereka yang berkembang ialah kemampuan berbahasanya. Anak dapat

REALISASI KESANTUNAN PRAGMATIK IMPERATIF KUNJANA RAHARDI DALAM RUBRIK SURAT PEMBACA PADA MAJALAHCAHAYAQU

diperoleh mempunyai dialek masing-masing yang dapat membedakannya

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT IMPERATIF KALANGAN GURU PAUD PERMATA BUNDA DESA SEI BULUH KECAMATAN SINGKEP BARAT KABUPATEN LINGGA

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku,

BAB I PENDAHULUAN. yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa lisan dan bahasa tulis salah satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari yang digunakan oleh manusia.

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian kesantunan bertutur dialog tokoh dalam film Sang

BAB V PENUTUP. pembahasan dalam tesis ini. Adapun, saran akan berisi masukan-masukan dari. penulis untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan usia pada tiap-tiap tingkatnya. Siswa usia TK diajarkan mengenal

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara yang berbeda-beda berdasarkan dengan pendekatan teori yang

KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF DALAM KOMUNIKASI ANTARA PENJUAL HANDPHONE DENGAN PEMBELI DI MATAHARI SINGOSAREN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

ANALISIS TUTURAN IMPERATIF DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SINTANG KECAMATAN SERAWAI KAJIAN PRAGMATIK

ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT PERINTAH GURU DALAM PROSES KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI SD NEGERI 09 PANGGANG, KABUPATEN JEPARA

ANALISIS KALIMAT IMPERATIF PADA BAHASA PEMBINA UPACARA DI SMA NEGERI 3 KOTA TANJUNGPINANG ARTIKEL E-JOURNAL

KESANTUNAN IMPERATIF DALAM BAHASA BATAK TOBA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan-kebijakan tersebut. Di awal kemerdekaan republik ini, dunia pendidikan

Realisasi Tuturan dalam Wacana Pembuka Proses Belajar- Mengajar di Kalangan Guru Bahasa Indonesia yang Berlatar Belakang Budaya Jawa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club

WUJUD PRAGMATIK KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PONDOK KELAPA BENGKULU TENGAH

BASINDO Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol 1 No 1 - April 2017 (14-24)

DESKRISPI KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA LISAN USTADZ MAULANA DENGAN TEMA BERSEDEKAH PADA ORANG TUA DAN DI BALIK SEBUAH MUSIBAH DI YOUTUBE

ANALISIS TUTURAN IMPERATIF PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DALAM KOMPAS.COM SKRIPSI. Oleh YAYU LESTARININGSIH NIM

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti saat melakukan penelitian di Sekolah Dasar 5

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dapat dilakukan oleh manusia melalui bahasa. Chaer (2010:14)

BAB II LANDASAN TEORI. imperatif antara lain penelitian yang dilakukan oleh Entin Atikasaridari program studi

JENIS KALIMAT IMPERATIF PADA TUTURAN GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES KEGIATAN PEMBELAJARAN DI SMK N 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya anak telah mengenal bahasa sebelum dia dilahirkan, karena

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA ANTARA SANTRI DENGAN USTAD DALAM KEGIATAN TAMAN PENDIDIKAN ALQUR AN ALAZHAR PULUHAN JATINOM KLATEN

TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 CIAMIS

BAB II LANDASAN TEORI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SILABUS

BAB I PENDAHULUAN. pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik (Syam, 1980:7).

Analisis Tuturan Imperatif Bahasa Jawa di Desa Sruweng Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen

BAB V PENUTUP. bab sebelumnya. Analisis jenis kalimat, bentuk penanda dan fungsi tindak tutur

KALIMAT IMPERATIF DALAM BAHASA LISAN MASYARAKAT DESA SOMOPURO KECAMATAN GIRIMARTO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM MENGUNGKAPKAN PERINTAH

TINDAK TUTUR IMPERATIF KHUTBAH JUMAT DALAM TABLOID SUARA MUHAMMADIYAH

BAB I PENDAHULUAN. ucap yang bersifat arbiter dan konvensional, yang dipakai sebagai alat komunikasi

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan adanya sarana agar komunikasi tersebut dapat berjalan dengan

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER

BAB II LANDASAN TEORI. Mandiraja, kabupaten banjarnegara (Kajian inferensi wacana) dengan penelitian

BAB IV PENUTUP. untuk mendeskripsikan KVA/KAV dalam kalimat bahasa Indonesia. Deskripsi ini

melalui makna kedua kata tersebut. Analisis diartikan sebagai semacam bertujuan untuk mengetahui sesuatu yang memungkinkan dapat mengetahui inti

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.

KALIMAT TANYA PESERTA BIMBINGAN SMART GENIUS SANDEN BANTUL YOGYAKARTA SEBUAH KAJIAN DESKRIPTIF

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. Bagian ini menjelaskan langkah-langkah yang berkaitan dengan jenis

BAB I PENDAHULUAN. (Chaer, 2010: 22). Sehingga dalam bertutur tentu menggunakan bahasa dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kemiripan makna dalam suatu bentuk kebahasaan dapat menimbulkan

TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF PADA TUTURAN KHOTBAH SALAT JUMAT DI LINGKUNGAN MASJID KOTA SUKOHARJO

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK USIA 7 TAHUN 3 BULAN DALAM BIDANG SINTAKSIS

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

KALIMAT PERINTAH BAHASA INDONESIA DALAM BAHASA PETUNJUK ARTIKEL E-JOURNAL

TINDAK TUTUR GURU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XII SMK NEGERI 1 NARMADA. Munawir Guru SMK Negeri 1 Narmada

Transkripsi:

Andriyanto, Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia... 9 Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Andriyanto Bahasa Indonesia-Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang. E-mail: a.yanto40@yahoo.com Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep, (2) jenis-jenis tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep, (3) pesan tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep. Data penelitian ini adalah wujud verbal bentuk tuturan imperatif yang digunakan guru-siswa dalam berinteraksi di sekolah. Data dikumpulkan dengan perekaman, observasi, catatan lapangan, dan wawancara yang ditata dalam bentuk transkripsi data. Hasil penelitian adalah: (1) bentuk tuturan imperatif formal dan nonformal bahasa Indonesia interaksi guru-siswa di sekolah, (2) jenis tuturan imperatif langsung dan jenis tuturan imperatif tidak langsung bahasa Indonesia interaksi guru-siswa di sekolah, dan (3) tiga belas pesan tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru-siswa di sekolah. Kata kunci: tuturan imperatif, bahasa guru, makna pragmatik imperatif Istilah imperatif merupakan istilah yang telah lama dikenal dalam dunia linguistik. Para pakar yang memberikan uraian imperatif, antara lain: Alisjahbana (1978), Keraf (1991), dan Ramlan (1996). Alisjahbana (1978:3) dengan kalimat perintah menyatakan, kalimat perintah merupakan ucapan yang isinya memerintah, memaksa, menyuruh, mengajak, meminta agar orang yang diperintah melakukan apa yang dimaksudkan dalam perintah itu. Ramlan (1996:39) dengan menggunakan istilah kalimat suruh menjelaskan bahwa berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat suruh mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak bicara. Keraf (1991:158) menjelaskan bahwa kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung perintah atau permintaan agar orang lain melakukan sesuatu, sebagaimana yang diinginkan oleh orang yang memerintah. Berdasarkan pandangan pakar linguistik tersebut, tuturan imperatif lebih banyak dinyatakan dengan kontruksi imperatif yang didasarkan struktur formal. Praktik komunikasi interpersonal, sesungguhnya makna imperatif bahasa Indonesia tidak hanya diungkapkan dengan konstruksi imperatif (suruh), melainkan dapat diungkapkan dengan konstruksi yang lain. Konstruksi dimaksud adalah konstruksi interogatif (pertanyaan) dan deklaratif (pernyataan). Makna pragmatik imperatif sebuah tuturan tidak selalu sejalan dengan wujud konstruksinya melainkan ditentukan oleh konteks situasi tutur yang menyertai, melingkupi, dan melatarinya. Dalam konteks situasi tutur tertentu, seorang penutur dapat menentukan menggunakan tuturan deklaratif atau interogatif untuk menyatakan makna pragmatik imperatif tertentu. Menurut Firt kajian bahasa tidak dapat dipisahkan tanpa mempertimbangkan konteks situasi yang meliputi partisipan, tindakan partisipan (baik tindak verbal maupun nonverbal), ciri-ciri situasi lain yang relevan dengan hal yang sedang berlangsung, dan dampak-dampak tindak tutur yang diwujudkan dengan bentuk-bentuk perubahan yang timbul akibat tindakan partisipan (dalam Wijana, 1996:5). Secara khusus, penelitian ini berusaha menyingkap bentukbentuk pemakaian tuturan imperatif dalam kegiatan bertutur di sekolah. Bentuk-bentuk tuturan imperatif di lingkungan sekolah merupakan fenomena yang menarik diteliti. Penelitian berjudul Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep diangkat karena guru-siswa di sekolah memiliki latar belakang bahasa ibu (pertama) yang bervariasi. Bervariasinya bahasa ibu dapat me- 9

10 JURNAL PENDIDIKAN HUMANIORA, HAL 9-15 mengaruhi cara guru-siswa berkomunikasi atau berinteraksi dengan menggunakan kalimat imperatif. Interaksi sehari-hari seperti praktik bertutur, pemakaian satuan kalimat imperatif dinyatakan dalam wujud tindak tutur. Tindak tutur pada dasarnya merupakan perwujudan konkret fungsi-fungsi bahasa. Fungsi komunikatif imperatif terwujud dalam bentuk tindak tutur. Tuturan imperatif erat hubungannya dengan jenis-jenis tindak tutur. Tindak tutur yang dimaksud seperti yang dikemukakan Nadar (2009:17-18) yaitu tindak lokusioner, ilokusioner, dan perlokusioner. Hubungan tuturan imperatif dengan tindak tutur adalah: (1) sebagai tindak lokusioner, tuturan imperatif merupakan pernyataan makna dasar konstruksi imperatif, (2) sebagai tindak ilokusioner makna imperatif pada dasarnya merupakan maksud yang disampaikan penutur dalam menyampaikan tuturan imperatif, dan (3) sebagai tindak perlokusioner sosok imperatif berkaitan dengan dampak yang timbul sebagai akibat tindak tutur. METODE Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yang berorientasi pada teori pragmatik. Menempatkan tuturan imperatif dalam ruang lingkup pragmatik, maka penelitian ini menggunakan teori pragmatik untuk menelaah tuturan imperatif gurusiswa yang bervariasi. Sumber data penelitian ini adalah wujud verbal tuturan imperatif interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep. Bentuk-bentuk tuturan imperatif yang digunakan guru-siswa dalam interaksi di sekolah diamati dengan teliti. Data penelitian ini adalah tuturan imperatif. Data tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Selain itu, dalam proses pengambilan data peneliti dilengkapi oleh alat rekam yang berupa recorder. Analisis data penelitian ini menggunakan model interaktif sebagaimana dikemukakan oleh Mills dan Huberman (1992:20) yang mendasarkan pada prinsip bahwa analisis data dilakukan selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Oleh karena itu analisis data dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yakni: (a) tahap pengumpulan data, dengan melakukan kegiatan perekaman, observasi, catatan lapangan, dan wawancara; (b) melakukan pereduksian data dengan kegiatan identifikasi data, deskripsi data, dan klasifikasi data; (c) penyajian data dengan kegiatan pengkodean data, dan pembuatan tabel; (d) melakukan penyimpulan dan verifikasi data sesuai dengan masalah; (e) temuan penelitian tentang bentuk tuturan imperatif interaksi guru-siswa di sekolah. HASIL Hasil penelitian diperoleh bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep terdiri dari dua bentuk. Pertama, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi gurusiswa di sekolah dilihat dari struktur formal bahasa Indonesia. Kedua, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia nonformal. Imperatif secara formal dibagi menjadi beberapa struktur formal. Pertama, bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi gurusiswa di sekolah berdasarkan struktur imperatif aktif. Tuturan imperatif aktif guru-siswa di sekolah digolongkan menjadi dua macam, imperatif aktif yang bercirikan transitif dan imperatif aktif yang bercirikan intransitif. Kedua adalah imperatif pasif. Ketiga, bentuk tuturan imperatif yang tegas. Keempat, bentuk tuturan imperatif biasa. Bentuk tuturan imperatif yang kelima adalah tuturan imperatif halus. Bentuk imperatif yang keenam adalah penggunaan kalimat larangan. Bentuk tuturan imperatif nonformal ada dua. Pertama tuturan deklaratif yang bermakna pragmatik imperatif dan yang kedua tuturan introgatif yang bermakna pragmatik imperatif. Bentuk tuturan imperatif ini dibangun dari kontruksi deklaratif ataupun introgatif yang memiliki makna pragmatik imperatif. PEMBAHASAN Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Bentuk tuturan imperatif terbagi menjadi dua, yaitu bentuk formal tuturan imperatif guru-siswa dan bentuk nonformal tuturan imperatif guru-siswa. Bentuk formal tuturan imperatif adalah realisasi maksud imperatif jika dihubungkan dengan ciri formal atau ciri struktural. Bentuk formal imperatif adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita hendaki. Secara formal bentuk imperatif ditandai dengan tanda titik (.) atau tanda seru (!), penggunaan partikel seru seperti -lah (Putrayasa, 2009: 31). Volume 1, Nomor 1, Maret 2013

Andriyanto, Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia... 11 Struktur Formal Imperatif Bahasa Indonesia Tuturan imperatif formal dikelompokkan menjadi (1) tuturan imperatif aktif, (2) tuturan imperatif pasif, (3) tuturan imperatif tegas, (4) tuturan imperatif biasa, (5) tuturan imperatif halus, dan (6) kalimat larangan. Imperatif formal yang berupa tuturan imperatif aktif transitif dan aktif intransitif dituturkan guru-siswa dalam segala kondisi. Pada situasi santai, ketika jam istirahat berlangsung, tuturan imperatif aktif transitif terjadi dalam interaksi guru-siswa. Situasi yang santai, secara tidak langsung memunculkan keakraban antara penutur dan mitra tutur sehingga hampir tidak ada jarak sosial diantara peserta tutur. Pada situasi ini muncul bentuk tuturan imperatif aktif transitif yang dituturkan guru kepada guru, guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa dengan ditandai penggunaan verba dasar pada tuturan imperatifnya. Penggunaan verba dasar pada tuturan imperatif merupakan ciri dari tuturan imperatif aktif transitif. Ini sesuai dengan pendapat Rahardi (2005:90) yang mengatakan tuturan imperatif aktif transitif verbanya harus dibentuk tanpa berawalan -men-. Situasi resmi seperti pembelajaran, memunculkan tuturan imperatif aktif transitif interaksi gurusiswa. Verba imperatif yang digunakan adalah verba dasar. Salah satu ciri tuturan imperatif aktif transitif adalah penggunaan verba dasar pada tuturannya. Selain itu, tuturan imperatif aktif transitif dalam interaksi guru-siswa dipengaruhi oleh faktor dekat atau akrab peserta tutur. Pada tuturan imperatif aktif transitif interaksi guru-siswa ditemukan adanya pelesapan pada salah satu fungsi kalimat. Menurut Samsuri (1982:278), pelesapan salah satu fungsi kalimat pada percakapan lisan biasa terjadi. Dalam suatu percakapan pelesapan salah satu fungsi kalimat tertentu dapat ditafsirkan pengertiannya dengan baik oleh pemakai bahasa. Tuturan imperatif aktif intransitif interaksi gurusiswa terjadi dalam segala situasi tuturan. Tuturan imperatif aktif intransitif yang dituturkan guru-siswa dalam situasi santai terjadi saat jam istirahat berlangsung. Data tuturan tersebut dikatakan tuturan imperatif aktif intransitif karena ditandai dengan penggunaan preposisi di depan verba imperatif. Situasi nonresmi memunculkan bentuk tuturan imperatif aktif intransitif yang dituturkan guru kepada guru, guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa saat jam isitirahat berlangsung. Tuturan imperatif aktif intransitif ditandai dengan penggunaan verba yang tidak perlu diikuti oleh fungsi objek. Konteks situasi resmi memunculkan tuturan imperatif aktif intransitif interaksi guru-siswa. Tuturan imperatif aktif intransitif ditandai dengan penggunaan awalan ber- pada verbanya. Tuturan imperatif aktif intransitif dalam konteks resmi juga terjadi pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini ditandai dengan penggunaan frasa preposisi di awal verbanya. Selain itu, berdasarkan temuan penelitian terdapat tuturan imperatif aktif intransitif dalam situasi resmi seperti pembelajaran yang ditandai dengan penggunaan verba yang tidak perlu diikuti objek. Bentuk tuturan imperatif pasif interaksi gurusiswa segala konteks tuturan. Berdasarkan ciri struktural, data tuturan tersebut ditandai dengan penggunaan awalan -di- pada verba imperatifnya. Selain itu, maksud tuturan imperatif tersebut tidak langsung tertuju pada mitra tutur namun, seolah-olah orang ketiga yang diperintah. Tuturan imperatif pasif terjadi pada tuturan guru kepada guru, guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa. Konteks situasi tuturan nonresmi memunculkan bentuk tuturan imperatif pasif dengan penanda berupa penggunaan a- walan di- pada verba imperatifnya. Konteks resmi seperti pembelajaran di kelas tidak luput dari penggunaan tuturan imperatif pasif yang dituturkan guru kepada siswa. Tuturan imperatif pasif yang dituturkan guru kepada siswa saat proses belajar-mengajar berlangsung yang ditandai dengan penggunaan awalan di- pada verba imperatifnya. Situasi resmi seperti pembelajaran, ditemukan juga bentuk tuturan imperatif pasif yang dituturkan siswa kepada guru. Kalimat perintah tegas dibentuk dari sebuah klausa tidak lengkap, biasanya berupa kata kerja dasar yang disertai dengan intonasi kalimat perintah. Dalam bahasa tulis, intonasi ini ditandai dengan tanda seru (!). Dari segi verba dapat pula dilengkapi dengan objek atau keterangan agar tidak menimbulkan salah paham (Chaer, 2008:197). Bentuk tuturan imperatif tegas guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep terjadi pada situasi tutur yang resmi dan situasi santai atau nonresmi. Konteks situasi nonresmi memunculkan bentuk tuturan imperatif tegas yang tejadi pada tuturan guru kepada guru dan siswa kepada siswa. Tuturan ini ditandai dengan penggunaan penanda yang berupa klausa tidak lengkap dan penggunaan kata dasar pada verba imperatif yang diikuti dengan intonasi tinggi

12 JURNAL PENDIDIKAN HUMANIORA, HAL 9-15 saat diucapkan. Selain konteks nonresmi, tuturan ini juga dituturkan guru-siswa dalam situasi resmi seperti pembelajaran di kelas. Bentuk tuturan imperatif tegas yang dituturkan guru kepada siswa merupakan bentuk tuturan imperatif tegas yang ditandai dengan penggunaan frasa tidak lengkap atau penutur hanya menggunakan kata dasar saja untuk menyatakan maksud imperatif. Situasi yang sudah diketahui oleh partisipan tutur, penutur cendrung menggunakan bentuk tuturan tegas hanya dengan menyebutkan nama mitra tutur atau dengan menyebut menggunakan kata ganti orang. Bentuk tuturan imperatif tegas juga terjadi pada tuturan siswa kepada guru ketika proses belajarmengajar berlangsung. Bentuk tuturan imperatif ini terjadi karena guru memposisikan sebagai teman siswa, sehingga terjadi keakraban antara partisipan tutur yang memunculkan bentuk tuturan imperatif tegas dari siswa kepada guru. Bentuk tuturan imperatif tegas terjadi juga pada tuturan siswa kepada siswa. Bentuk tuturan imperatif biasa menurut Chaer (2008:197) dibentuk dari sebuah klausa berpredikat verba yang diberi partikel-lah dan menanggalkan subjeknya. Selain itu tuturan imperatif biasa terjadi dalam segala kondisi tuturan, jika tuturan imperatif itu betujuan untuk memerintah orang tertentu, maka subjek pada tuturan imperatif tersebut harus ditampilkan. Konteks situasi tuturan nonresmi seperti saat jam istirahat berlangsung memunculkan bentuk tuturan imperatif biasa. Selain itu, situasi resmi memunculkan bentuk tuturan imperatif biasa yang terjadi pada tuturan guru kepada guru seperti rapat persekolahan. Proses belajar-mengajar memunculkan bentuk tuturan imperatif biasa yang dituturkan guru kepada siswa tuturan ini ditandai dengan menggunakan partikel - lah pada klausa berpredikat verba pada tuturan guru. Secara struktural Imperatif halus dibentuk dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan tingkat kesopanannya. Kata-kata tersebut adalah mohon, harap, minta, silahkan, sebaiknya, dan hendaknya (Chaer, 2008:198). Selain itu, Ramlan (1996:42) dan Hasan dkk (2003:355) mengatakan, bahwa penambahan kata tolong, coba, sudilah, dan kiranya. pada kalimat dapat memperhalus tuturan imperatif. Imperatif halus dengan kadar suruhan sangat halus biasanya berisi permintaan. Konteks situasi resmi memunculkan bentuk tuturan imperatif yang dituturkan guru kepada guru seperti rapat persekolahan, tuturan guru kepada siswa dan tuturan siswa kepada guru seperti pembelajaran di kelas, serta tuturan siswa kepada siswa seperti saat rapat anggota OSIS. Konteks nonresmi seperti ketika di luar kelas, memunculkan tuturan imperatif yang dituturkan guru kepada guru. Tuturan yang dituturkan guru kepada guru saat jam istirahat berlangsung ditandai dengan penggunaan frasa dimohon pada tuturan imperatif guru. Secara formal Ramlan (1996:43) dan Hasan dkk (2003:357), menandai tuturan imperatif larangan dengan menggunakan kata jangan (lah). Kalimat larangan menggunakan kata-kata pencegahan seperti jangan, dilarang, tidak boleh, dan gabungan kata sebaiknya...tidak, sebaiknya...jangan, hendaknya...tidak, dan mohon...tidak. Situasi santai saat jam istirahat berlangsung interaksi guru dengan siswa atau sebaliknya sering terjadi. Pada tuturan tersebut guru melarang siswa untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang lain yang ditandai dengan kata jangan pada tuturan imperatif guru. Bentuk tuturan imperatif larangan terjadi pada tuturan siswa kepada siswa yang cenderung lebih langsung. Hal ini terjadi karena kedekatan dan keakraban partisipan tutur sehingga bentuk tuturan imperatif larangan akan semakin langsung dan tegas. Konteks situasi yang resmi seperti pembelajaran di sekolah memunculkan bentuk tuturan imperatif larangan yang disampaikan guru kepada siswa. Konteks terjadinya tuturan disini adalah melarang siswa untuk mengacungkan tangan. Tuturan imperatif larangan guru ditandai dengan penggunaan kata jangan pada tuturan imperatifnya. Struktur Nonformal Imperatif Bahasa Indonesia Struktur nonformal imperatif adalah kontruksi selain imperatif. Kontruksi ini dapat berupa kalimat deklaratif ataupun kalimat introgatif. Rahardi (2005:93) dan Chaer (2010:90) menyatakan untuk maksud memerintah orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, dan bahkan dengan kalimat interogatif. Makna pragmatik imperatif tidak hanya diwujudkan dengan kontruksi tuturan imperatif, melainkan dengan tuturan nonimperatif atau kontruksi-kontruksi lain. Tuturan dengan kontruksi deklaratif banyak digunakan untuk menyatakan makna pragmatik imperatif perintah, dengan menggunakan tuturan kontruksi deklaratif muka si mitra tutur dapat terselamatkan. Volume 1, Nomor 1, Maret 2013

Andriyanto, Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia... 13 Kontruksi imperatif seperti ini, dapat dianggap sebagai alat penyelamat muka karena maksud imperatif tidak tertuju secara langsung kepada si mitra tutur. Tuturan dengan kontruksi deklaratif untuk menyatakan makna pragmatik imperatif terjadi pada (1) tuturan guru kepada guru, (2) tuturan guru kepada siswa, (3) tuturan siswa kepada siswa, dan (4) siswa kepada siswa dalam segala konteks situasi tuturan. Bentuk tuturan interogatif merupakan pilihan penutur dalam menyampaikan maksud imperatif kepada pendengar atau mitra tutur di SMP Negeri 1 Sumenep. Bentuk tuturan introgatif yang bermakna pragmatik imperatif sering dituturkan oleh guru ataupun siswa ketika berinteraksi sehari-hari. Bentuk tuturan introgatif yang bermakna pragmatik imperatif terjadi pada situasi resmi seperti pembelajaran serta dalam situasi nonresmi seperti interaksi guru-siswa saat jam istirahat berlangsung. Bentuk tuturan imperatif seperti ini digunakan guru kepada guru, guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa dalam segala situasi tuturan. Jenis-jenis Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Jenis tuturan imperatif yang digunakan guru-siswa ketika berinteraksi sehari-hari di SMP Negeri 1 Sumenep ada dua. Imperatif langsung dan imperatif tidak langsung. Blum-Kulka (1987:83) menjelaskan, tindak tutur langsung merupakan pengekspresian tutur menggunakan wujud verbal berupa tuturan yang modus dan maknanya sama antara kata-kata dengan maksud pengutaraannya. Nadar (2009:19) mengatakan, jenis tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tuturan tidak langsung bergantung pada konteksnya. Penggunaan jenis tuturan langsung dan jenis tuturan tidak langsung oleh guru-siswa di sekolah disebabkan konteks tuturan yang berbeda-beda. Konteks yang dimaksud adalah segala latar belakang yang menyertai munculnya tuturan imperatif guru-siswa di sekolah. Penggunaan jenis tuturan langsung dan tidak langsung pada dasarnya merupakan cara yang dilakukan penutur dalam menyampaikan maksud tuturannya agar dipahami oleh pendengar atau mitra tutur. Penggunaan jenis tuturan imperatif langsung sering dituturkan guru kepada siswa ketika interaksi di dalam kelas. Hal ini dilakukan guru, karena proses pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan mendesak sehingga pemilihan jenis tuturan imperatif langsung merupakan hal yang tepat. Pemilihan jenis tuturan imperatif langsung juga terjadi pada interaksi siswa kepada guru di dalam kelas. Pemilihan jenis imperatif langsung oleh siswa kepada guru karena guru memilki faktor kedekatan dengan siswa. Guru dianggap sebagai teman, sehingga jarak sosial diantara keduanya semakin sempit. Pemilihan jenis tuturan imperatif tidak langsung dalam interaksi guru-siswa di sekolah khususnya di dalam kelas terjadi pada tuturan siswa kepada guru. Selain itu ditemukan, jenis imperatif tidak langsung yang dituturkan guru kepada siswa saat proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan guru untuk menyegarkan suasana pembelajaran. Pada dasarnya jenis imperatif tidak langsung dituturkan siswa kepada guru dalam konteks tuturan resmi dan santai. Jenis Pesan Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Jenis pesan tuturan imperatif berhubungan dengan makna yang terkandung dalam tuturan. Makna yang dimaksud dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Terdapat tiga belas makna tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep di antaranya: (1) makna perintah, (2) makna suruhan, (3) makna permintaan, (4) makna permohonan, (5) makna desakan, (6) makna bujukan, (7) makna imbauan, (8) makna persilaan, (9) makna ajakan, (10) makna permintaan izin, (11) makna larangan, (12) makna harapan, dan (13) makna anjuran. Makna Perintah Tuturan imperatif yang bermakna perintah dalam interaksi guru-siswa di sekolah terjadi dalam segala kondisi tuturan. Penggunaan tuturan imperatif yang bermakna perintah terjadi pada situasi yang resmi yaitu pembelajaran di kelas dan situasi yang santai atau saat jam istirahat berlangsung. Tuturan imperatif yang bermakna perintah ditandai dengan penggunaan kata dasar lengkap pada tuturannya. Makna Suruhan Jenis pesan imperatif yang bermakna suruhan ditandai dengan penggunaan kata coba pada tuturannya. Jenis pesan ini, terjadi pada tuturan guru kepada guru, guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan

14 JURNAL PENDIDIKAN HUMANIORA, HAL 9-15 siswa kepada siswa dalam segala konteks situasi tuturan. Tuturan imperatif yang bermakna suruhan yang dituturkan guru kepada guru dalam situasi santai yaitu saat jam istirahat berlangsung, dengan penanda kata coba tuturannya. Makna Permintaan Penggunaan tuturan imperatif yang bermakna permintaan ditandai dengan penanda kata tolong, minta, dan mohon. Penggunaan tuturan imperatif yang bermakna permintaan terjadi pada tuturan guru kepada siswa dan siswa kepada siswa. Pada data tuturan 164, 165, dan 166 merupakan tuturan imperatif yang bermakna permintaan dengan penanda kata mintalah, minta tolong, dan tolong. Tuturan ini dituturkan guru kepada siswa ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Pada tuturan tersebut, guru meminta siswa agar belajar dengan siswa lain yang lebih pandai. Makna Permohonan Tuturan imperatif yang bermakna permohonan ditandai dengan penggunaan penanda kata mohon dan penggunaan partikel -lah pada tuturannya. Tuturan imperatif yang bermakna permohonan terjadi pada tuturan guru kepada guru dalam konteks situasi tuturan yang santai. Penanda pada tuturan ini berupa kata dimohon pada tuturannya. Makna Desakan Jenis tuturan imperatif yang bermakna desakan ditandai dengan pengunaan kata ayo dan mari sebagai pemarkah makna. Tuturan imperatif yang bermakna desakan dituturkan guru kepada siswa saat proses belajar-mengajar berlangsung. Guru menggunakan penanda ayo pada tuturannya. Tuturan imperatif yang bermakna desakan juga dituturkan guru kepada guru dalam situasi santai. Makna Bujukan Jenis tuturan imperatif yang bermakna bujukan ditandai dengan penggunan penanda kata berupa ayo, mari, dan tolong pada setiap tuturannya.tuturan imperatif yang bermakna bujukan terjadi pada tuturan guru kepada siswa, siswa kepada guru, dan siswa kepada siswa dalam segala konteks tuturan. Tuturan guru kepada siswa terjadi dalam konteks resmi yaitu saat proses belajar-mengajar berlangsung. Guru dalam tuturannya menggunakan penanda ayo pada tuturannya. Tuturan siswa kepada guru dan tuturan siswa kepada siswa terjadi dalam situasi nonresmi yaitu tepatnya saat jam istirahat berlangsung. Penanda ayo yang bermakna desakan digunakan siswa dalam tuturannya. Makna Imbauan Jenis pesan imperatif yang bermakna imbauan ditandai dengan penggunaan partikel -lah dengan penanda harap dan mohon. Tuturan imperatif yang bermakna imbauan terjadi pada tuturan guru kepada siswa dalam situasi resmi seperti pembelajaran di kelas. Guru dalam tuturannya menggunakan partikel -lah sebagai penanda tuturan bermakna imbauan. Makna Persilaan Jenis pesan pada tuturan imperatif yang bermakna persilaan dapat ditandai dengan pengunaan frasa silahkan dan dipersilahkan. Imperatif yang bermakna persilaan dalam interaksi sehari-hari di sekolah terjadi pada tuturan guru kepada siswa dalam segala konteks tuturan. Konteks situasi yang resmi seperti pembelajaran, tuturan imperatif yang bermakna persilaan dituturkan guru kepada siswa dengan penanda tuturan berupa kata silahkan. Makna Ajakan Imperatif yang bermakna ajakan ditandai dengan penggunaan frasa mari dan ayo. Tuturan imperatif yang bermakna ajakan terjadi pada tuturan guru kepada siswa dan tuturan siswa kepada siswa. Tuturan imperatif ajakan yang dituturkan guru kepada siswa terjadi ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Guru ketika bertutur kepada siswa menggunakan kata ayo yang menandakan tuturan guru bermakna ajakan. Tuturan yang bermakna ajakan terjadi juga pada tuturan siswa kepada siswa dalam situasi yang santai yaitu saat jam istirahat berlangsung. Makna Permintaan Izin Jenis pesan tuturan imperatif yang bermakna permintaan izin ditandai dengan penggunaan penanda berupa kata mari dan boleh. Tuturan imperatif yang bermakna ini dituturkan siswa kepada guru dalam konteks situasi yang resmi, yaitu saat proses belajarmengajar berlangsung. Siswa menggunakan penanda boleh kepada guru dalam tuturan imperatifnya yang menandakan tuturan imperatif tersebut bermakna permintaan izin. Makna Larangan Jenis pesan tuturan imperatif yang bermakna larangan ditandai dengan penggunaan penanda berupa kata jangan dan awas. Penggunaan imperatif yang bermakna larangan terjadi pada tuturan guru Volume 1, Nomor 1, Maret 2013

Andriyanto, Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia... 15 kepada siswa, guru kepada guru, dan siswa kepada siswa. Tuturan imperatif yang bermakna larangan terjadi dalam segala konteks tuturan. Makna Harapan Jenis pesan pada tuturan imperatif yang bermakna harapan ditandai dengan penggunaan penanda berupa kata harap dan semoga. Tuturan imperatif yang bermakna harapan terjadi pada tuturan guru kepada guru, siswa kepada siswa, dan guru kepada siswa dalam segala konteks tuturan. Penutur pada tuturan ini menggunakan penanda tuturan berupa kata diharapkan dan harap yang bermakna harapan. Makna Anjuran Penggunaan tuturan imperatif yang mengandung pesan anjuran dalam interaksi guru-siswa di sekolah terjadi pada interaksi guru kepada guru, siswa kepada siswa, dan guru kepada siswa pada segala konteks situasi tuturan. Jenis pesan tuturan imperatif bahasa Indonesia yang bermakna anjuran ditandai penggunaan penanda berupa frasa hendakanya dan sebaiknya. Konteks tuturan imperatif ini yang dituturkan guru kepada guru terjadi pada situasi santai yaitu saat jam istirahat berlangsung. SIMPULAN & SARAN Simpulan Bertolak dari temuan penelitian dan pembahasan, hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Terdapat variasi bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia yaitu bentuk formal dan nonformal. Bentuk formal di antaranya terdiri atas imperatif aktif, pasif, tegas, biasa, halus, dan larangan. Bentuk nonformal terdapat dua yaitu tuturan deklaratif dan tuturan interogatif yang bermakna pragmatik imperatif. Jenis tuturan imperatif langsung dan tidak langsung menjadi pilihan penutur dalam interaksi guru-siswa di sekolah. Terdapat tiga belas pesan tuturan imperatif yang muncul dalam interaksi guru-siswa di sekolah di antaranya adalah perintah, suruhan, permintaan, permohonan, desakan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, larangan, harapan, dan anjuran. Saran Berdasarkan simpulan di atas, saran yang diajukan sebagai berikut. Bagi guru khususnya guru bahasa Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan varian dalam memilih bentuk tuturan imperatif yang sesuai dengan konteks tuturan. Pemilihan bentuk tuturan imperatif yang cocok dengan konteksnya termasuk dalam kompetensi sosial yang harus dimiliki guru.bagi peneliti berikutnya yang sejalan dengan substansi penelitian ini, temuan penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang penelitan yang dilakukan. DAFTAR RUJUKAN Alisjahbana, ST. 1978. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat. Blum-Kulka, S. 1987. Indirectnees and Politenees Request: Some or Defferent? dalam Journal of Pragmatics II. Chaer, A. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, A. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta. Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., Moeliono, AM. 2003.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Keraf, G. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah. Jakarta: Grasindo. Miles, M.B., & A.M. Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universita Indonesia Press. Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Putrayasa, I.B. 2009. Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: PT. Refika Aditama. Rahardi, K. 2005. Pragmatik. (Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia). Jakarta: Erlangga. Ramlan, M. 1996. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Malang: Sastra Hudaya. Wijana, I.D.P. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.