I. PENDAHULUAN. menggalakkan pembangunan dalam berbagai bidang, baik bidang ekonomi,

dokumen-dokumen yang mirip
PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN PEMBERDAYAAN HIMPUNAN PETANI PEMAKAI AIR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN,

BAB I PENDAHULUAN. pemeliharaan yang dilakukan. Seperti halnya yang terjadi di Bali.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

BUPATI KEPULAUAN SELAYAR PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG IRIGASI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 22 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU,

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. pengertian dari irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 /PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN STATUS DAERAH IRIGASI

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH NOMOR : 02 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGAH,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 4 SERI E

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA,

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

INTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMBAHARUAN KEBIJAKSANAAN PENGELOLAAN IRIGASI PRESIDEN REBUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA TASIKMALAYA,

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30/PRT/M/2015 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON

BUPATI BOGOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2009

PENYUSUNAN PSETK (PROFIL SOSIAL EKONOMI DAN TEKNIK KELEMBAGAAN) DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN HIPPA DI KABUPATEN PROBOLINGGO PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hasil pertanian. Jumlah penduduk Idonesia diprediksi akan menjadi 275 juta

BUPATI GARUT P E R A T U R A N B U P A T I G A R U T NOMOR 474 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PRT/M/2015 TENTANG EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT,

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGGAI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23/PRT/M/2015 TENTANG PENGELOLAAN ASET IRIGASI

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 50 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBERDAYAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR MENTERI DALAM NEGERI,

BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 33 /PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN PEMBERDAYAAN P3A/GP3A/IP3A DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2012 Seri : E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II INDRAMAYU NOMOR : 20 TAHUN : 1996 SERI : D.11.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ALOR,

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF (PIP) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI (KPI) DI KABUPATEN KUDUS BUPATI KUDUS,

KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 50 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBERDAYAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR MENTERI DALAM NEGERI,

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I

PEMERINTAH KOTA PASURUAN SALINAN

PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 30 /PRT/M/2007

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

BUPATI PIDIE QANUN KABUPATEN PIDIE NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK N OMOR 04 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PARTISIPATIF KABUPATEN DEMAK

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG,

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI BUPATI LEBAK,

BAB I PENDAHULUAN. Bali memiliki sumberdaya air yang dapat dikembangkan dan dikelola secara

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1964 TENTANG PEMBINAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG IRIGASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI PESISIR SELATAN

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT,

BUPATI SIJUNJUNG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Partisipasi masyarakat menurut Soemarto (2003) adalah proses ketika

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian masih memegang

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 56 TAHUN 2010 TENTANG

PROVINSI ACEH PERATURAN BUPATI BIREUEN NOMOR 21 TAHUN 2015 TENTANG PENGUATAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI KABUPATEN BIREUEN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 3 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1984 TANGGAL 26 JANUARI 1984 PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBINAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN ASET IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT IRIGASI

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG POLA TANAM DAN RENCANA TATA TANAM PADA DAERAH IRIGASI TAHUN 2011/2012

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan sebuah negara berkembang yang terus berupaya menggalakkan pembangunan dalam berbagai bidang, baik bidang ekonomi, politik, hingga pembangunan bidang pertanian.sebagai sebuah negara kepulauandengan susunan tanah yang terdiri dari tanah alluvial, sebagian besar wilayah Indonesia sangat cocok dijadikan untuk areal persawahan dengan tumbuhan padi yang dapat berkembang subur di kebanyakan dataran rendahnya. Lahan tanah untuk pertanian sebagian besar tersedia di daerah pedesaan.oleh karena itu, dapat diperkirakan, bahwa struktur masyarakat pedesaan sangat terkait dengan struktur agraria yang berlaku, khususnya dalam hal penguasaan dan pengusahaan tanah pertanian untuk mempertahankan kemandirian dan ketahanan pangan. Dewasa ini, dalam rangka menuju kemandirian dan ketahanan pangan, pemerintah berupaya mendorong peningkatan produksi padi/beras di dalam negeri. Peningkatan produksi beras dalam negeri memberikan manfaat selain pada penghematan devisa nasional juga membuka kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu, lahan pertanian yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan berbagai macam cara untuk meningkatkan produksi padi/beras, salah satunya adalah dengan menggunakan sistem irigasi. Sistem irigasi merupakan salah satu sistem pertanian tradisional yang harus dikembangkan secara terus menerus dan diperbaiki guna mencapai hasil pertanian yang lebih baik, tahan hama, dan menghindari konflik diantara

masyarakat terkait soal penggunaan common property.kebijakan pengelolaan irigasi yang selama ini dapat dilihat dengan tercapainya swasembada pangan, khususnya beras pada tahun 1984. Pengelolaan sistem irigasi saat itu dilakukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Sistem irigasi dikembangkan dalam rangka membantu upaya pembangunan pedesaan yang memang menjadi prioritas pemerintah.dengan demikian dapat dikatakan bahwa upaya pembangunan perdesaan telah dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui berbagai kebijakan dan program-program yang telah ditetapkan.upaya-upaya itu telah menghasilkan berbagai kemajuan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat perdesaan.namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak wilayah perdesaan yang belum berkembang secepat wilayah lainnya. Pembangunan perdesaan merupakan bagian yang penting dari pembangunan nasional, mengingat kawasan perdesaan yang masih dominan (82% wilayah Indonesia adalah perdesaan) dan sekitar 50% penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan perdesaan (Statistik Potensi Desa, 2012:2). Pembangunan perdesaan bersifat multidimensional dan multisektor.oleh karena itu, diperlukan keterpaduan dan keterkaitan dalam pelaksanaannya. Dalam rangka melakukan percepatan pembangunan perdesaan, telah dan akan terus dilakukan berbagai program dan kegiatan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan, pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelibatan masyarakat dalam proses pengelolaan pembangunan perdesaan. Sistem irigasi merupakan salah satu program yang dilakukan untuk percepatan pembangunan pedesaan. Diharapkan dengan adanya sistem irigasi

yang baik, hasil panen petani akan semakin meningkat, yang kemudian berimbas pada peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan. Irigasi merupakan komponen penting bagi kegiatan pertanian di Indonesia.Pada awalnya, kebijakan pemerintah tentang pengelolaan sistem irigasi di tingkat usaha tani telah ditetapkan dalam 2 (dua) landasan hukum, yaitu Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia No. 13/PRT/M/2012 tentang Pedoman Pengelolaan Aset Irigasi.Selanjutnya keluar pula aturan terbaru sekaitan dengan pengeolaan irigasi, yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI No. 12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.Ketiga landasan hukum ini menekankan bahwa pengelolaan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air. Artinya, segala tanggung jawab pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi di tingkat tersier menjadi tanggung jawab lembaga perkumpulan petani pemakai air. Hal ini secara khusus tertera dalam Pasal 1 ayat 18 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI No. 12/PRT/M/2015 bahwa: Perkumpulan petani pemakai air adalah kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang dibentuk oleh petani pemakai air sendiri secara demokratis, termasuk lembaga lokal pengelola irigasi. Selanjutnya, menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI No. 12/PRT/M/2015, pada Pasal 1 ayat 3 menyatakan bahwa: Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Dengan demikian

dapat dikatakan bahwa untuk mengalirkan air sampai pada areal persawahan diperlukan jaringan irigasi, dan air irigasi diperlukan untuk mengairi persawahan, oleh sebab itu kegiatan pertanian tidak dapat terlepas dari air. Permasalahan yang ditemui dewasa ini sekaitan dengan sistem irigasi adalah banyaknya fungsi prasarana irigasi, baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun fungsinya, yang banyak mengalami penurunan akibat banyaknya jaringan irigasi mengalami degradasi.mengatasi masalah tersebut, diperlukan sistem pengelolaan irigasi yang baik dan mengakomodir kepentingan seluruh petani pemakai air. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam mewujudkan pengelolaan irigasi yang berkelanjutan, berjalannya fungsi irigasi sangat tergantung pada partisipasi aktif petani terhadap operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi serta kontribusi dalam penyediaan biaya operasi dan pemeliharaan jaringan melalui iuran pelayanan irigasi, dimana Perkumpulan Petani Pemakai Air (selanjutnya disebut dengan P3A) berwenang memungut iuran tersebut.namun kenyataannya, pelaksanaan program tersebut tidak menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Ketidakberhasilan berbagai kebijakan pemerintah dalam pengelolaan irigasi disebabkan pendekatan top-down yang diterapkan di dalam pembangunan keirigasian selama ini tidak sesuai dengan sifat irigasinya yang memiliki karaktersitik sosioteknik yang ditunjukkan oleh rendahnya partisipasi petani, rendahnya efisiensi dan efektivitas pengelolaan dan cepatnya terjadi kerusakan pada jaringan irigasi. Dengan pendekatan top-down tersebut, P3A yang diharapkan memainkan peran yang lebih besar dalam pengelolaan irigasi belum berkembang sesuai dengan harapan.

Jika dilihat dari sudut ideologi, P3A merupakan sebuah lembaga yang memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat petani yang sejahtera melalui hasil pertanian yang dikelola agar sesuai dengan cita-cita Pancasila (sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia), yaitu menciptakan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera (D inas PU Pengairan, 1999:23).Pembentukan P3A harus sesuai dengan asas Pancasila, yaitu gotong royong dan berwawasan lingkungan.sementarajika ditinjau dari sisi kelembagaan, P3A merupakan sebuah lembaga yang menjadi wadah bagi petani yang menggantungkan hasil pertanian dari saluran irigasi.selanjutnya, jika ditinjau secara praktis, P3A merupakan sebuah lembaga yang diharapkan memiliki inisisatif swadaya ataupun swakelola dalam melestarikan kedayagunaan jaringan irigasi, sementara pemerintah sesuai daerah kewenangannya bertanggungjawab untuk mendukung inisiatif yang muncul dari petani. Sekaitan dengan P3A di Indonesia, di beberapa daerah menggunakan nama yang berbeda, seperti HIPPA di Jawa Timur, Subak di Bali, Mitra Cai di Jawa Barat, dan lain sebagainya.terlepas dari perbedaan nama itu, tetap satu hal yang tidak bisa disangkal adalah arti penting dari keberadaan P3A ini, karena keberadaannya memiliki titik strategis ( entry point) dalam menggerakkan sistem agribisnis di pedesaan. Sekitan dengan itu, segala sumberdaya yang ada di pedesaan perlu diarahkan/diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar petani (kelompoktani).bahkan P3A dianggap sebagai suatu badan yang dapat membantu untuk menyukseskan programprogram pemerintah di bidang pertanian. Tujuan pembentukan P3A ini antara lain: a) membantu dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air pada tingkat

usahatani, b) membagi air pada blok tersier secara merata, c) memelihara bangunan-bangunan tersier air secara baik, d) mengatur pelaksanaan jadwal tanam dan pola tanam yang telah ditentukan oleh pemerintah, e) membayar iuran pelayanan irigasi, dan f) meredakan konflik terhadap pembagian air. Berdasarkan tujuan tersebut, maka kelembagaan P3A secara organisatoris, teknis, dan finansial diharapkan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam pembangunan, rehabilitasi, eksploitasi, dan pemeliharaan jaringan irigasi beserta bangunan pelengkapnya dalam petak tersier, kwarter, desa, dan subak sehingga terlihat bahwa lembaga tersebut sebenarnya dapat memberikan kontribusi yang besar bagi keberhasilan pengelolaan air irigasi di tingkat tersier. (Fitria, 2008). Tidak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini, diperlukan kelembagaan P3A yang kuat, mandiri, dan berdaya. Kelembagaan P3A yang kuat ini diharapkan mampu melakukan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dengan baik dan berkelanjutan, dan pada akhirnya mampu meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian dalam mendukung upaya peningkatan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.kelembagaan ini juga terdapat di Kabupaten Solok Selatan, yang merupakan gabungan dari petani-petani pemakai air dan secara bersama-sama melakukan pengelolaanjaringan irigasi. Kabupaten Solok Selatan merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Barat dan sebagian masyarakatnya memiliki profesi sebagai petani yang masuk dalam keanggotaan P3A.Pengelolaan irigasi di Kabupaten Solok Selatan, khususnya di daerah irigasi Bandar Sawah Padang, telah dilaksanakan program WISMP ( Water Resources and Irrigation Sector

Management Project) yang diterapkan tahun 2007-2009 (tahap I) dan dilanjutkan dengan periode 2014-2015 (tahap II). WISMP ini merupakan usaha pemerintah dalam mendorong dan menetapkan desentralisasi pengembangan dan pengelolaan SDA yang dibiayai oleh World Bank dan biaya pendamping dan paralel financing dari pemerintah Indonesia yang mencakup 4 komponen, yaitu; (1) peningkatan pengelolaan SDA Wilayah Sungai; (2) peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif; (3) Peningkatan Pengelolaan dan Rehabilitasi Sistem Irig asi; dan (4) Pengelolaan Proyek dan Bantuan Teknis(BPS Kab Solok Selatan, 2015:23). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sistim irigasi yang handal sangat diperlukan dan dapat dilakukan melalui peran P3A yang kompetitif yang dapat mendukung peningkatan produksi pertanian.berdasarkan hal ini, partisipasi petani P3A dalam pengelolaan irigasi sangat dibutuhkan. Partisipasi ini akan muncul melalui persepsi positif yang diberikan petani terhadap perkumpulan P3A. Persepsi petani terhadap pengelolaan jaringan irigasi merupakan pendapat dan penilaian petani terhadap kinerja dari lembaga P3A dalam mengelola jaringan irigasi. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, persepsi petani yang tergabung dalam P3A terhadap pengelolaan irigasi di daerah irigasi Bandar Sawah Padang sangat mempengaruhi hasil penelitian ini, oleh sebab itu penelitian ini bertujuanuntuk menjaring persepsi petani irigasi di daerah Irigasi Bandar Sawah Padang terhadap pengelolaan irigasi, sehingga nantinya dapat terjaring suatu kesimpulan yang dapat menegaskan bahwa program pengelolaan irigasi mampu menjadi suatu wadah yang dapat menaikkan hasil produksi tani di Kabupaten Solok Selatan umumnya, yang nantinya akan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani dan juga akan mempengaruhi ketahanan pangan khususnya beras.berdasarkan hal

ini, perlu dikaji mengenai persepsi petani terhadap pengelolaan irigasi di daerah irigasi Bandar Sawah Padang Kabupaten Solok Selatan. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang di atas, penelitian ini mengkaji mengenai perspepsi petani terhadap pengelolaan irigasi.dewasa ini, sistem irigasi digunakan oleh seluruh petani di hampir seluruh wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.Mengingat luasnya kajian penelitian, maka peneliti membatasi kajian pada daerah irigasi Bandar Sawah Padang di Kabupaten Solok Selatan. Permasalahan dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut: bagaimana persepsi petani terhadap pengelolaan irigasi di daerah irigasi Bandar Sawah Padang Kabupaten Solok Selatan? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui persepsi petani terhadap pengelolaan irigasi di daerah irigasi Bandar Sawah Padang Kabupaten Solok Selatan. D. Kegunaan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan dan manfaat sebagai berikut: 1. Menjadi bahan referensi atau rujukan kepada pemerintah atau pihak terkait dalam rangka mengetahui persepsi petani terhadap pengelolaan irigasi. 2. Memberikan rekomendasi kepada stakeholders pengelola irigasi untuk masa mendatang di Kabupaten Solok Selatan.