BABV Jf^JJ^f KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN V*g!* i A. Kesimpulan Dari hasil penelitian Pengaruh Hubungan Proses Pendidikan STPDN Terhadap Kinerja Purna Praja Di Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari hasil penelitian pengaruh sub sistem pengajaran STPDN (Xi) terhadap kinerja purna praja (Y), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,510 dan setelah dikonfirmasikan dengan r tabel hitung lebih besar dari r tabel (0,510 > 0,334), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dengan interprestasi hubungan sedang, karena berada pada interval koefisien 0,40-0,599. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh kesimpulan kinerja purna praja 26,01% dipengaruhi sub sistem pengajaran. 2. Hasil penelitian pengaruh sub sistem pelatihan STPDN (X2) terhadap kinerja purna praja (Y), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,691 dan setelah dibandingkankan dengan r tabel product moment pada taraf kesalahan ditetapkan 5%, ternyata harga r hitung lebih besar dari r tabel (0,691 > 0,334), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dengan interprestasi koefisien korelasi kuat, karena berada pada interval koefisien 0,60-0,799. Kemudian
141 berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh kesimpulan kinerja purna praja 47,75% dipengaruhi sub sistem pelatihan. 3. Dari hasil penelitian pengaruh sub sistem pengasuhan STPDN (XO terhadap kinerja purna praja (Y), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,386 dan setelah dikonfirmasikan dengan r tabel hitung lebih besar dari r tabel (0,386 > 0,334), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dengan interprestasi hubungan rendah, karena berada pada interval koefisien 0,20-0,399. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh kesimpulan kinerja purna praja 14,90% dipengaruhi sub sistem pengasuhan. 4. Dari hasil penelitian pengaruh sub sistem pengajaran STPDN (Xi) terhadap sub sistem pelatihan (X2), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,236 dan setelah dikonfirmasikan dengan r tabel hitung lebih kecil dari r tabel (0,236 < 0,334), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dengan interprestasi hubungan rendah, karena berada pada interval koefisien 0,20-0,399. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh kesimpulan bahwa antara sub sistem pelatihan dan sub sistem pengajaran saling mempengaruhi sebesar 5,570%.
142 5. Hasil penelitian pengaruh sub sistem pelatihan STPDN (X2) terhadap sub sistem pengasuhan (X3), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,014 dan setelah dikonfirmasikan dengan r tabel hitung lebih kecil dari r tabel (0,014 < 0,334), sehingga Ha ditolak dan Ho diterima dengan interprestasii hubungan sangat rendah, karena berada pada interval koefisien 0,00-0,199. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh kesimpulan bahwa antara sub sistem pelatihan dan sub sistem pengasuhan saling mempengaruhi sebesar 0,019%. 6. Dari hasil penelitian pengaruh sub sistem pengajaran STPDN (Xi) terhadap sub sistem pengasuhan (X3), menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) 0,640 dan setelah dikonfirmasikan dengan r tabel hitung lebih besar dari r tabel (0,640 > 0,334), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dengan interprestasii kuat, karena berada pada interval koefisien 0,60-0,799. Berdasarkan hasil perhitungan koefisisen determinasi diperoleh kesimpulan bahwa antara sub sistem pengajaran dan pengasuhan saling mempengaruhi sebesar 40,96%. 7. Hasil penelitian pengaruh proses pendidikan STPDN (Xi, X2, dan X3) terhadap kinerja purna praja (Y), menunjukkan analisa regrasi (R) 0,619 dan setelah dikonsultasikan dengan F tabel, dengan
143 didasarkan pada dk pembilang = 3 dan penyebut = 31 untuk taraf kesalahan 5% Ft = 2,91; dan 1% Ft = 4,49, ternyata F hitung lebih besar dari F tabel, maka koefisien korelasi yang diuji signifikan. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan koefisisen determinasi diperoleh kesimpulan kinerja purna praja 38,316% dipengaruhi oleh sub sistem pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan di STPDN. B. Implikasi Berdasarkan kesimpulan di atas, maka implikasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: 1. STPDN harus melakukan perubahan kurikulum pengajaran baik mengenai materi kuliah maupun bobot satuan kredit semesternya guna mengantisipasi dinamika perkembangan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan mempertimbangkan dimasukkannya materi yang berkaitan dengan kewirausahaan dan manajemen pelayanan publik. Selain itu perlu adanya perbaikan metode pendidikan, sarana prasarana, peningkatan kualitas tenaga pendidik dan studi lapangan untuk tiap mata kuliah. 2. Untuk sub sistem pelatihan, diperiukan tenaga pelatih yang memiliki spesialisasi keahlian dibidangnya dan pengadaan sarana prasarana
144 yang dapat mendukung keberhasilan penyampaian materi pelatihan. 3. Melakukan pembenahan terhadap kinerja pengasuh, dengan cara memperhatikan minat dan bakat dalam rekrutmen pengasuh, meningkatkan kualitas pengasuh melalui kursus atau pelatihan bimbingan konseling, agar dapat membantu praja penyelesaian masalahnya dengan efektif dan sesuai sasaran dengan metode pengasuhan yang lebih humanistik. 4. Sistem penilaian prestasi pendidikan praja STPDN masih perlu dikaji ulang berdasarkan tujuan pendidikan dengan standar-standar yang mudah ditetapkan demi obyektifitas penilaiannya, utamanya untuk sub sistem pengasuhan. Saat ini evaluasi Kepribadian praja ditentukan berdasarkan 16 aspek kepribadian dirasakan oleh pengasuh terlalu rumit sehingga perlu dibuat pedoman baru yang lebih tepat dan benar-benar berorientasi pada pengembangan kepribadian pamong praja. C. Saran 1. Selama ini nilai prestasi pendidikan praja, hanya nilai prestasi pengajaran saja yang tercantum pada ijazah, padahal sub sistem pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan merupakan satu sistem yang utuh dalam sistem pendidikan STPDN sesuai Kepmendagri No. 96 tahun 1996 tentang rencana Induk Pendidikan STPDN. Oleh
karena itu dipandang perlu supaya nilai sub sistem! pengasuhan tercantum juga dalam ijazah praja untui akan datang. Di samping itu prestasi pendidikan yang pada ijazah tersebut sebaiknya dapat dijadikan salah satu indikator dalam penempatan dan pemberian jabatan setelah bertugas di daerah. 2. Antara waktu wisuda yang biasanya dilaksanakan pada bulan Agustus dengan awal pelaksanaan tugas di daerah pada bulan Nopember, sebaiknya ditinjau kembali karena akan berdampak negatif terhadap kinerja purna praja STPDN. Interval waktu sekitar kurang lebih 3 bulan tersebut bisa merubah pembentukan karakter kepamongan di lapangan sehingga mereka justru tidak mampu memberikan warna bagi kinerja pegawai pemerintah daerah yang sering mendapat sorotan masyarakat tetapi malahan terpengaruh dengan lingkungan kerja barunya. Akibatnya mulai muncul sifat kurang terpuji, seperti terlambat bahkan tidak masuk kantor.
S&Si&fr