GENERAL FITNESS TRAINING

dokumen-dokumen yang mirip
GENERAL FITNESS TRAINING

TEKHNIK DASAR MENDAYUNG ROWING

TEACHING METHODOLOGY

RIGGING Oleh: Dede Rohmat Nurjaya 1. PENDAHULUAN 2. Alat-alat Bantu Pengukuran

TRAINING METHODOLOGY

PENDAHULUAN Dayung adalah satu cabang olahraga yang membutuhkan kondisi tubuh prima agar dapat tampil sebaik mungkin pada saat latihan maupun ketika p

TAHAPAN PEMBINAAN ATLET DAYUNG JANGKA PANJANG. Oleh: Dede Rohmat Nurjaya

TAHAPAN PEMBINAAN ATLET JANGKA PANJANG

2014 METODE SET SYSTEM DAN METODE SUPER SET SYSTEM KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN DAYA TAHAN OTOT:

METODE PEMBINAAN KEBUGARAN ATLIT *) Oleh: Eka Swasta Budayati (FIK UNY)

BAB I PENDAHULUAN. Dayung merupakan salah satu jenis cabang olahraga aerobic. Air sebagai

PERIODISASI THEORY AND METHODOLOGY OF TRAINING TUDOR O BOMPA RINGKASAN OLEH DRS. OCTAVIANUS MATAKUPAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammad Fahmi Hasan, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zaid Muksin, 2014

BAB I PENDAHULUAN. satu karakteristik permainan sepak bola yaitu menendang dan mengoper bola

TRAINING METHODOLOGY

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga dayung di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berkembang

BAB III METODE PENELITIAN

: Pelatihan Cabang Olahraga Dayung (teori dan praktek) KODE MATA KULIAH : PL 418

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2015 DAMPAK PENERAPAN POLA LATIHAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Irman Rediansyah, 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. melalui olahraga. Budaya olahraga harus terus di kembangkan guna

2015 PENGARUH LATIHAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENURUNAN LEMAK TUBUH DAN PENINGKATAN KEMAMPUAN DAYA TAHAN AEROBIK (VO2 MAX)

Hal ini sesuai dengan Permenkes No.80 tahun 2013 tentang penyelenggaraan

KONSEP Latihan kebugaran jasmani

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakan Penelitian

KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHAN KEBUGARAN JASMANI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Fitria Dwi Andriyani, M.Or.

BAB I PENDAHULUAN JENIS SCULLING SWEEP ROWING KAYAK CANOE CANOE POLO

P E N G E M B A N G A N E K T R A K U R I K U L E R O L A H R A G A S E K O L A H H E D I A R D I Y A N T O H E R M A W A N

2015 PENGARUH BENTUK LATIHAN ENVELOPE RUN DAN LATIHAN BOOMERANG RUN DENGAN METODE LATIHAN REPETISI TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN SEPAK BOLA

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat berinteraksi atau beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara (juga dikenal sebagai Sea

TEORI DAN METODOLOGI LATIHAN OLEH: YUNYUN YUDIANA

PENGARUH LATIHAN DAYA TAHAN (ENDURANCE) TERHADAP PENINGKATAN VO2MAX PEMAIN SEPAKBOLA

PERENCANAAN YANG BAIK MERUPAKAN SALAH SATU ELEMEN PENTING DALAM BAGAIMANA MELATIH YANG EFEKTIF

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam buku Coaching dan aspek aspek Psikologis dalam coaching

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan tubuh (Giam dan Teh, 1992).

BAB I PENDAHULUAN. landasan awal dalam pencapaian prestasi (M. Sajoto, 1988)

LATIHAN KETAHANAN (ENDURANCE) Oleh: Prof. Dr. Suharjana, M.Kes Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gabungan dari jalan, lari dan lompat serta unsur kekuatan, kecepatan,

BAB I PENDAHULUAN. merupakan populasi yang besar. Menurut World Health Organization,2007 sekitar

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembinaan kondisi fisik merupakan syarat mutlak untuk mencapai prestasi

KEKUATAN OTOT LENGAN ATLET ATLETIK PPLP (PUSAT PENDIDIKAN LATIHAN PELAJAR ) DKI JAKARTA. Fatah Nurdin 1, Aisyah Kemala 2

2015 PERBANDINGAN METODE CONTINOUS TRAINING DAN INTERVAL TRAINING TERHADAP PENINGKATAN DAYA TAHAN AEROBIK PADA ATLET SEPAKBOLA

I. PENDAHULUAN. kodratnya dengan tidak bergerak dan tidak beraktivitas. Banyak manfaat

II. TINJAUAN PUSTAKA. maupun untuk putri. Unsur fisik yang diperlukan dalam nomor tolak ini adalah

BAB I PENDAHULUAN. ternyata berhubungan dengan penurunan resiko terkena penyakit

BAB I PENDAHULUAN. melekat kecintaanya terhadap cabang olahraga ini. Sepuluh tahun terakhir ini

MEMBENTUK DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI MELALUI METODE LATIHAN MAXEX.

2015 UJI VALID ITAS D AN RELIABILITAS KONSTRUKSI ALAT UKUR POWER END URANCE TUNGKAI

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN LARI AEROBIK DAN LATIHAN RENANG TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA Passing dan Ketepatan Tembakan Sepak Bola

PRINSIP-PRINSIP LATIHAN OLEH: YUNYUN YUDIANA

KONSEP PENDIDIKAN KEB. JASMANI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa. menimbulkan kelelahan yang berlebihan. ( Muhajir : 2004 )

SURVEI TINGKAT GENERAL ENDURANCE ATLET SEPAKBOLA PADA KLUB CAKRA BUANA KOTA TULUNGAGUNG TAHUN 2014/2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. melakukan aktivitas fisik dengan baik untuk memacu semangat belajar.

Tinjauan Umum dan Peran Sport Medicine dalam Meningkatkan Prestasi Atlet. Oleh : dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sehari-hari. Setiap orang tentunya mempunyai tujuan yang

PROFIL VO2MAX DAN DENYUT NADI MAKSIMAL PEMAIN DIKLAT PERSIB U-21

I. PENDAHULUAN. Untuk mencapai kinerja (Performance) yang lebih baik dari seorang pemain

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, sehingga tubuh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. Taekwondo merupakan cabang olahraga bela diri yang berasal dari negara

BAB I PENDAHULUAN. Siti Nur Kholifah, 2014

2015 MENINGKATKAN DAYA TAHAN CARDIOVASCULAR MELALUI ZUMBA DANCE

MEMBANGUN PRESTASI OLAHRAGA BERDASAR ILMU OLAHRAGA

PATOFISIOLOGI CEDERA

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga futsal kini menjadi olahraga permainan yang diminati dari

METODE LATIHAN. Indah Prasetyawati Tri Purnama Sari FIK UNY 2013

BAB I PENDAHULUAN. wanita atau laki-laki sampai anak-anak, dewasa, dan orangtua bahwa dengan

BAHAN AJAR TEORI & METODOLOGI LATIHAN ORKES KOMPONEN KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHANNYA. Oleh: Cerika Rismayanthi, M.Or FIK UNY

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga merupakan suatu aktivitas yang sangat diperlukan oleh tubuh

2014 PENGARUH METODE LATIHAN SMALL SIDED GAMES DAN KEBUGARAN JASMANI TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS ANAEROBIK

BAB I PENDAHULUAN. para atlet sepak bola yang berkualitas. Namun masih banyak yang harus dilakukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cabang olahraga atletik adalah salah satu nomor cabang yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Prayogi Guntara, 2014 Pengaruh Recovery Aktif Dengan Recovery Pasif Terhadap Penurunan Kadar Asam Laktat

Mata Kuliah Olahraga 1 Soal-soal dan jawaban

KETAHANAN (ENDURANCE)

HUBUNGAN KEKUATAN MAKSIMAL OTOT TUNGKAI DAN FREKUENSI LANGKAH (CADENCE) TERHADAP KECEPATAN SPRINT

BAB I PENDAHULUAN. tua, orang muda, bahkan anak-anak. Banyak diantara anak-anak yang ingin

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jaringan intraseluler. Sedangkan yang dimaksud dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat. Nikmatnya makan, minum, tidur, serta kemampuan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. sempurna. Tidak hanya kondisi fisik yang mesti dilatih, tetapi aspek lain pun perlu dilatih

LATIHAN PENDAHULUAN DAN LATIHAN PENUTUP PADA OLAHRAGA

BAB I PENDAHULUAN. sudah berkembang luas. Masing-masing individu dituntut untuk bertanggung jawab

BEBAN KERJA & PRODUKTIVITAS PERTEMUAN KE-2

2015 PERBANDINGAN LATIHAN KEKUATAN SISTEM SUPERSET DENGAN SISTEM SET TERHADAP PENINGKATAN POWER TUNGKAI

Oleh: Dr. Lismadiana,M.Pd. l.

Transkripsi:

GENERAL FITNESS TRAINING Oleh: Dede Rohmat Nurjaya (Disampaikan pada acara Penataran Pelatih Cabang Olahraga Dayung pada Pengda (Pengurus Daerah), PPLP (Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Pelajar), PPLM (Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa) dan Perguruan Tinggi Se-Indonesia, Surabaya 24-27 Mei 2009). 1.0 PENDAHULUAN Fitness atau kebugaran didefinisikan sebagai keberhasilan seseorang dalam beradaptasi dengan tekanan fisik dan mental yang ditemui dalam hidupnya. Latihan fitness secara umum didefiniskan sebagai program latihan yang disusun secara ilmiah dan sistematis untuk membantu atlet dalam beradaptasi dengan beban fisik yang dihadapinya dalam suatu latihan yang terkontrol. Adaptasi dimulai dengan memberikan beban fisik pada tubuh atlet melalui suatu latihan yang terkontrol. Aktivitas fisik pada tingkat tertentu yang diterapkan pada tubuh dapat meyebabkan kelelahan. Setelah tubuh atlet beristirahat sejenak untuk pemulihan maka tubuh atlet akan beradaptasi dengan beban tersebut. Adaptasi ini selanjutnya akan membuat tubuh tidak lagi kelelahan jika diberi beban yang sama. 2.0 UNSUR-UNSUR UTAMA DALAM LATIHAN OLAHRAGA 2.1 Orientasi pada Tujuan Latihan selalu bertujuan untuk meningkatkan prestasi atlet. 2.2 Latihan kelompok Sekalipun latihan adalah persoalan individu tetapi dapat pula dilakukan secara berkelompok sehingga lebih ekonomis dan mendorong emosional peserta untuk meningkatkan prestasinya. 2.3 Latihan yang efektif Program pelatihan untukmeningkatkan kualitas fisik atlet akan lenih efektif dalam mengembangkan kebugaran atlet. 2.4 Latihan yang sistematis Suatu program latihan harus disusun secara teratur baik dalam hal metode maupun perencanaan. 2.5 Latihan yang ilmiah Program pelatihan harus didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah.

2.6 Peranan pelatih Tanggung jawab pelatih adalah untuk membantu atlet dalam segala hal ketika latihan. 3.0 UNSUR-UNSUR UTAMA DALAM LATIHAN FITNESS 3.1 Mobilitas (Mobility) Pertimbangan pertama dalam mengkaji latihan fitness adalah soal mobilitas. Mobilitas didefinisikan sebagai kemampuan dari sendi (joint) dan rangkaian sendi untuk bergerak, menekuk dan memanjang. Dalam olahraga dayung mobilitas dianggap sebagai penggunaan gaya yang optimal untuk menggerakkan dayung (stroke). Mobilitas akan dibahas lebih lanjut di bab 4 pada buku ini. 3.2 Kekuatan (Strength) Pertimbangan kedua dalam mengkaji latihan fitness adalah kekuatan (strength). Kekuatan didefinisikan sebagai kemampuan otot atau sekelompok otot dalam melakukan gerakan mekanis. Latihan kekuatan adalah latihan untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan ini. Strength dibahas lebih pada bab 5. 3.3 Daya Tahan (Endurance) Pertimbangan ketiga adalah daya tahan (Endurance). Endurance didefinisikan sebagai kemampuan atlet bertahan melawan kelelahan pada saat mengalami beban kerja untuk suatu periode tertentu. Endurance tergantung kepada kekuatan aerobic dan anaerobic maksimum dan kemampuan memanfaatkannya. Endurance dibahas lebih lanjut di bab 6 pada buku ini. 4.0 MOBILITAS Perbaikan pada aspek mobilitas akan meningkatkan ketrampilan teknis yang dikuasai atlet, mengurangi resiko kecelakaan dan peluang yang lebih baik untuk mengembangkan kekuatan dan daya tahan (strength and endurance).

4.1. Perkembangan Mobilitas Pelatihan mobilitas dipakai untuk meningkatkan atau menjaga kemampuan sendi dalam bergerak. Latihan mobilitas harus dilakukan lebih dulu sebelum latihan lainnya dan tidak boleh dilakukan dalam keadaan lelah kecuali dalam porsi yang terbatas. Ada tiga jenis latihan mobilitas : aktif, pasif dan kinetic, seperti bisa dilihat pada gambar 1.Sesi latihan mobilitas terdiri dari urut-urutan sebagai berikut : 1. Menaikkan suhu badan dengan berlari-lari ringan dan latihan pemanasan. 2. Bergerak aktif dan pelan-pelan untuk setiap sendi, dengan gerakan-gerakan yang terkendali. 3. Latihan pasif dengan partner, atau bantuan alat-alat,berat badan dll. Variasi gerakan ditambah. 4. Latihan kinetic dikombinasikan dengan latihan strength dan mobilitas; disertai gerakan-gerakan dinamis olahraga (khusus untuk atlet tingkat lanjut)

5. Melakukan gerakan-gerakan yang spesifik. 6. Warm down 4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi latihan mobilitas Berikut ini adalah factor-faktor yang harus dipertimbangkan ketika merencanakan dan mengimplementasikan sesi latihan mbilitas : 1. Merenggangkan elastisitas gerakan otot dan tendon dan ligament yang menunjang persendian. 2. Adanya kendala structural pada konstruksi sendi dan tulang, berupa hyperthrophy otot yang menghalangi persendian untuk bebas bergerak. 3. Kekuatan kontraksi otot dan kemampuan perenggangan (stretch) dari otot yang berlawanan. 4. Derajat koordinasi antara bagian-bagian yang bergerak. 5. Efek dari luka/kecelakaan pada otot atau persendian. 6. Lingkungan internal dan eksternal 7. Usia dan jenis kelamin dari atlet 8. Tingkat perkembangan atlet 4.3. Latihan mobilitas Ada ribuan jenis latihan mobilisasi yang bias dipilih.pada lampiran A disediakan beberapa pilihan yang dapat membantu anda untuk saat sekarang. Kita harus banyak membaca referensi untuk mengetahui apa yang paling cocok dengan kebutuhan kita. 5.0 KEKUATAN (STRENGTH) Strength atau kekuatan adalah kemampuan untuk melakukan suatu gaya (force), merupakan karakteristik fisik dasar yang menentukan prestasi dalam olahraga. Strength bisa diklasifikasikan sebagai berikut : Maximum strength : kemampuan maksimal dari otot untuk melakukan gaya mekanik. Power : Kemampuan otot untukmengatasi hambatan dengan kontraksi brkecepatan tinggi. Strength endurance : Kemampuan otot untuk menahan kelelahan ketika diberi beban untuk suatu periode tertentu.

5.1. Pengembangan Kekuatan Upaya menunjang perkembangan seorang atlet dalam olahraga dayung diantaranya adalah pemilihan latihan-latihan tertentu yang dapat meningkatkan kekuatan/strength yang sesuai dengan olahraga. Hal ini mutlak perlu dan yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan dasarnya harus diselenggarakan dengan baik. Persiapan dasar ini disusun berdasarkan prestasi dalam latihan. Pengkondisian latihan adalah hal yang sangat penting pada awal sesi latihan terutama bagi atlet-atlet muda. Latihan ini bisa dalam bentuk permainan seperti basket, sepakbola, polo air dsb. Atau bisa juga berupa program latihan yang dikhususkan untuk peningkatan kekuatan/strength. Latihan strength biasanya dilakukan dengan suatu metode yang disebut circuit training. Circuit training adalah metode latihan dimana beberapa kelompok otot yang berbeda digerakkan dengan urutan tertentu. Efek dari circuit training bervariasi tergantung pada jumlah dan jenis latihan, perulangan, istirahat dan model latihan. Selanjutnya circuit training dapat disusun untuk menyiapkan suatu landasan latihan yang benar (contohnya melakukan latihan sendirian atau dengan partner) atau mengembangkan strength yang sesuai dengan olahraga (contohnya melakukan latihan dengan beban latihan besar memakai barbell atau mesin latihan lainnya). Circuit training disebut sebagai station training jika beberapa gerakan dilakukan otot dilakukan pada satu tempat yang tidak berubah-ubah. Station training selanjutnya mengacu pada pengorganisasian latihan secara menyeluruh. Prinsip dasar dari Circuit training a. Dapat menggunakan tempat dimana saja yang sekiranya cocok. b. Tidak diperlukan alat-alat khusus c. Beberapa orang bias berlatih bersama-sama d. Qualitas latihan bias dikontrol e. Atlet bias berlatih sesuai level yang dikehendakinya f. Titik lemah atlet bisa dikenali dan diperbaiki

Circuit training untuk pengkondisian secara umum harus dapat melatih semua bagian dari tubuh dengan memilih jenis-jenis latihan yang berbeda-beda. Patut dicatat bahwa latihan ini tidak harus berhubungan dengan teknik dayung yang dikehendaki, tapi sebagai konsekuensinya harus dijaga agar latihan jangan sampai berjalan secara tidak seimbang. Adapted from Training av bevegelighet by Eystein Enoksen and Asbjorn Gjerset in the series Treningslaere from the Norwegian Sport Federation.

Program pengkondisian akan menciptakan landasan untuk membangun strength pada level yang lebih tinggi, khususnya strength yang relevan dengan olahraga. Harus dicatat bahwa program FISA CDP level I diperuntukkan bagi atlet muda dan pemula, pada buku ini penekanan pada pemanfaatan program kondisioning seiring dengan penambahan beban secara bertahap. Landasan ini akan membantu mengurangi kecelakaan pada latihan lain yang lebih beresiko. Pengembangan strength ini membutuhkan alat-alat bantu (barbell, mesin latihan dll) agar beban latihan bisa ditambah secara fleksibel. Hal ini lebih dibutuhkan lagi untuk program circuit training yang dirancang untuk meningkatkan maximum strength. Sikap hati-hati sangat diperlukan pada saat melakukan latihan strength ini. Latihan strength harus harus dilakukan berdasarkan instruksi yang benar dan diawasi secara ketat oleh pelatih atau penasehatnya. FISA CDPlevel II dan III menyediakan informasi lebih banyak lagi pengembangan kekuatan / strength yang relevan dengan olahraga dayung, khususnya dengan penambahan beban menggunakan barbell atau mesin latihan. 5.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi latihan kekuatan / Strength Faktor-faktor berikut ini harus dipertimbangkan ketika merencanakan dan mengimplementasikan program latihan kekuatan : 1. Mobilitas dan latihan pengkondisian yang menggunakan gerakan mutlak harus dipakai untuk meyakinkan bahwa perkembangan atlet akan berjalan normal, khususnya untuk atlet muda dan pemula. 2. Tidak disarankan untuk menambah beban latihan sampai persiapan dasarnya dilakukan dengan benar. 3. Atlet harus diajarkan teknik yang benar dan selalu dibawah pengawasan ketika menjalankan latihan dengan beban yang lebih besar. 4. Latihan mobilitas pasif dan kinetic tidak boleh dipakai ketika otot-otot dalam keadaan lelah. 5. Aktivitas latihan harus segera dihentikan kalau atlet merasakan sakit pada bagian otot yang sedang dilatih.

5.3. Latihan Kekuatan (Strength) Lampiran B, Strength Training Guidelines dapat dipakai untuk membantu merancang program latihan kekuatan. Sedangkan lampiran C menyajikan contoh-contoh tentang program Circuit Training. 6.0 DAYA TAHAN (ENDURANCE) Daya tahan atau endurance adalah kemampuan atlet untuk bertahan menghadapi kelelahan ketika diberikan beban kerja untuk suatu periode waktu tertentu. Latihanlatihan yang benar dapat meningkatkan daya tahan untuk periode waktu tertentu dalam olahraga. Berdasarkan periode waktu dalam suatu cabang olahraga. Ukuran daya tahan atlet dapat digolongkan sebagai jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. Jangka pendek adalah kebutuhan daya tahan dengan rentang waktu antara 45 detik sampai 2 menit, jangka menengah antara 2 sampai 8 menit dan jangka panjang lebih dari 8 menit. Umumnya lomba dayung 2000m tergolong ke dalam jangka menengah. Tingkat daya tahan ini membutuhkan kapabilitas aerobic dan anaerobic tertentu. Berkembangnya daya tahan tubuh akan diikuti dengan peningkatan efisiensi fungsional dari kardiovaskular, system metabolisme dan system syaraf. Agar efisiensi fungsional ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka pengembangannya harus sejalan dengan kekuatan dan kemampuan teknis atlet. 6.1. Meningkatkan Daya Tahan Pengembangan daya tahan dalam olahraga dayung peningkatan system energy aerobic dan anaerobic. Tetapi penekanan yang lebih besar harus diberikan pada energy aerobic karena pada saat lomba energy aerobic ini terpakai antara 75% 80% (Lihat bab tentang Dasar-dasar Physiology Dayung). Latihan daya tahan yang menekankan pada system aerobic akan memperbaiki transportasi oksigen dan penggunaan oksigen oleh serat-serat otot. 6.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi latihan daya tahan. Latihan daya tahan ini selain penting untuk perkembangan physiologi atlet juga dapat memberikan keuntungan lain yaitu atlet akan lebih mampu mengembangkan kemampuan teknisnya pada saat latihan.

Peranan pelatih sangat penting untuk memberi masukan pada periode yang lebih pendek dan menambah beban secara bertahap seiring berjalannya waktu karena kemajuan fisiologis dan teknis seorang atlet memang mebutuhkan waktu latihan yang panjang. Peningkatan daya tahan dan kemampuan teknis memungkinkan atlet untuk tampillebih lama dengan periode yang lebih panjang seperti digariskan dalam FISA Coaching Development Program Course. 6.3. Methode Pelatihan untuk Daya Tahan Latihan daya tahan umumnya menghabiskan porsi terbesar dalam program latihan seorang atlet. Ada banyak variable dalam latihan daya tahan, tetapi pada lampiran D terdapat satu ringkasan programlatihan aerobic untuk dayung. Metode ini harus dilakukan di air tetapi bias juga diadaptasikan dengan model lain seperti lari, renang, lintas alam, sepeda dan program latihan kekuatan lainnya. (Lihat Metodologi Latihan Dasar). Metode training untuk meningkatkan system energy aerobic dan anaerobic sudah dibahas dalam Dasar-dasar Fisiologi Dayung. Tetapi dalam bab ini ditekankan ulang tentang upaya memperbaiki kemampuan aerobic atlet. Metode lain yang berkenaan dengan kemampuan anaerobic atlet dibahas pada FISA CDP Level II. 7.0 RINGKASAN Informasi dan metode latihan yang disajikan pada bagian diatas adalah dasar yang sangat penting bagi atlet dayung pemula yang masih muda. Yang disajikan adalah teknik yang baik untuk mengembangkan aspek fisik atlet, sehingga dapat menguasai aspek teknis dan selanjutnya atlet dapat mengambil dari olahraga dayung.

Sumber: FISA, (1999). Junior Rowing Guide. FISA Youth Commission. FISA. Coaching Development Program Level I,II,III. Hand Book, (1987). FISA Development Program. FISA, (2000). World Rowing Guide. FISA. FISA, (1999). Junior Rowing Guide. FISA Youth Commission. L Davenport Michael, Editor (2000). Candidate s Manual Level III. USRowing s Coaching Education Program. Nolte Volker (2005). Rowing Faster, Training, Rigging, Technique, Racing. Human Kinetics Publishers, INC, Champaign, Illinois. Robertson Sheila and Way Richard, Long-Term Athlete Depelopment. Coach Report Vol 11 No.3. Thompson Paul, (2005). Sculling, Training, Technique & Performance. The Crowood Press Ltd, Ramsbury, Marlborough. US Rowing. 2002-2003 US Rowing National Team Testing Protocol.

LAMPIRAN