BAB IV UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN OLEH PT. KUTAI BALIAN NAULI DALAM MELAKUKAN PERLUASAN LAHAN

dokumen-dokumen yang mirip
DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 26/Permentan/OT.140/2/2007 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I L A M P U N G KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I LAMPUNG NOMOR 111 TAHUN 1998 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA PERKEBUNAN BISMILLAHHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

BADAN PERTANAHAN NASIONAL

- 1 - B U P A TI B O L A A N G M O N G O N D O W U T A R A KEPUTUSAN BUPATI BOLAANG MONGONDOW UTARA NOMOR 96 TAHUN 2012

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG

BUPATI BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 33/Permentan/OT.140/7/2006 TENTANG PENGEMBANGAN PERKEBUNAN MELALUI PROGRAM REVITALISASI PERKEBUNAN

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

BUPATI BULUNGAN PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 08 TAHUN 2006 TENTANG

PERMASALAHAN PENGELOLAAN PERKEBUNAN

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 357/Kpts/HK.350/5/2002 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN MENTERI PERTANIAN,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

BADAN PERTANAHAN NASIONAL

Bab II HAK HAK ATAS TANAH. A. Dasar Hukum Hak-Hak Atas Tanah menurut UUPA. I. Pasal pasal UUPA yang menyebutkan adanya dan macamnya hak hak atas

GUBERNUR BENGKULU PERATURAN DAERAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BUPATI BERAU

PERATURAN DAERAH DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN BARAT NOMOR: 18 TAHUN 2002 T E N T A N G PENYELENGGARAAN PERUSAHAAN INTI RAKYAT PERKEBUNAN

2 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377); 3. Undang-Un

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70/Permentan/PD.200/6/2014 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA BUDIDAYA HORTIKULTURA

Lingkup hunbungan kemitraan meliputi :

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG IZIN PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU, NON KAYU PADA TANAH MILIK/HUTAN RAKYAT

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

TATA CARA PERUBAHAN STATUS TANAH HAK MILIK MENJADI HAK GUNA BANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN PERSEROAN TERBATAS

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PERIZINAN LINTAS KABUPATEN/KOTA UNTUK USAHA PERKEBUNAN

PERMASALAHAN PENGELOLAAN PERKEBUNAN

PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN LOKASI DI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH,

(Surat Persetujan Penerbitan Benih Kelapa Sawit)

BUPATI LAMPUNG BARAT

BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II SINTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.23/Menhut-II/2007 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Rebuplik Indonesia Tahun 1945;

MENTERI KEHUTANAN, MENTERI PERTANIAN DAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL,

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PERLINDUNGAN HUTAN

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 348/Kpts/TP.240/6/2003 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA HORTIKULTURA MENTERI PERTANIAN,

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.382/Menhut-II/2004 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU (IPK) MENTERI KEHUTANAN,

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 397/Kpts-II/2005

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 15 TAHUN 2010 T E N T A N G TATA CARA IZIN USAHA INDUSTRI PRIMER HASIL HUTAN KAYU RAKYAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

GUBERNUR PROVINSI PAPUA

BUPATI BARITO KUALA KEPUTUSAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR / 249 /KUM/2011 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG PERIZINAN DAN PEMBINAAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN POLA KEMITRAAN

2 kenyataannya masih ada, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria; c. bahwa ha

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2001 NOMOR 79 SERI C NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 48 TAHUN 2001

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

PEMBERIAN HAK GUNA USAHA DAN HAK GUNA BANGUNAN : PROSES, SYARAT-SYARAT, HAK DAN KEWAJIBAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Budidaya. Izin Usaha.

TENTANG PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 1993 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU PADA KAWASAN BUDIDAYA NON KEHUTANAN

DUKUNGAN PASCAPANEN DAN PEMBINAAN USAHA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KABUPATEN BARITO KUALA,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Definisi hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik

GUBERNUR PAPUA KEPUTUSAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 132 TAHUN 2010 TENTANG

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

TATA CARA PENETAPAN HAK GUNA USAHA KEMENTERIAN AGARIA DAN TATA RUANG/ BADAN PERTANAHAN NASIONAL DIT. PENGATURAN DAN PENETAPAN HAK TANAH DAN RUANG

BAB I PENDAHULUAN. pertanian dan perkebunan baik yang berskala besar maupun yang berskala. sumber devisa utama Negara Indonesia.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN KENDAL

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 10.1/Kpts-II/2000 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN MENTERI

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 68 Tahun : 2015

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 69 TAHUN 1996 TENTANG PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN, SERTA BENTUK DAN TATA CARA PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II KAPUAS HULU

PEMERINTAH KABUPATEN MUARO JAMBI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KONAWE SELATAN NOMOR: 3 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 33/Kpts-II/2003 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 Tentang : Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban, Serta Bentuk Dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 1993 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI IRIAN JAYA NOMOR 121 TAHUN 2001 T E N T A N G

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BURU NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 11 TAHUN 2010

Disampaikan dalam Semiloka Refeleksi setahun nota kesepakatan bersama (NKB) Selasa, 11 November 2014 Hotel Mercure Ancol, Ancol Jakarta Baycity

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 138/PUU-XIII/2015 Penggunaan Tanah Hak Ulayat untuk Usaha Perkebunan

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

BAB IV UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN OLEH PT. KUTAI BALIAN NAULI DALAM MELAKUKAN PERLUASAN LAHAN Baik dalam lembaga pembebasan tanah maupun pengadaan tanah, tanah yang dibutuhkan pihak pemerintah untuk kepentingan umum hanya dapat diambil dan dipergunakan oleh pihak yang memerlukan jika sipemilik tanah setuju. Persetujuan tersebut melalui musyawarah yang mencapai kesepakatan. Substansi ketentuan ini bersifat keperdataan yang meliputi ketentua Pasal 1320 jo. Pasal 1338 KUHPerdata. Yang berarti bahwa harus memenuhi syarat-syarat sahnya persetujuan yang dilaksanakan para pihak dan dilandaskan dengan itikad baik. 29 Di sini juga PT Kutai Balian Nauli berupaya mendapatkan tanah dengan cara itikad baik dengan masyarakat. Dalam hal ini upaya-upaya yang dilakukan PT. Kutai Balian Nauli untuk mendapatkan tanah dengan itikad baik dalam rangka perluasan lahan yaitu: 1. Pendekatan secara musyawarah dengan kelompok tani untuk membeli lahan tanah yang sudah ada yang telah dikuasai oleh kelompok tani Istilah pengadaan tanah jika dianalisis mengandung arti lebih baik, karena dapat menghindari adanya paksaan, intimidasi dalam proses pengambilan tanah milik masyarakat. Pengambilan tanah dilakukan dengan memperhatikan peranan 29 Pasal 1320 KUHPerdata menyebutkan supaya terjadi suatu persetujuan yang sah perlu dipenuhi 4 syarat; 1.kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya, 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan, 3. suatu pokok persoalan tertentu, 4. suatu sebab yang tidak terlarang. Dan pada Pasal 1338 KUHPerdata (1) Ditegaskan semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undangundang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, (2) persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang, (3) persetujuan hanya dilakukan dengan itikad baik.

tanah dalam kehidupan masyarakat dan prinsip penghormatan terhadap hak-hak yang sah atas tanah. Musyawarah yang dilakukan itu harus merupakan wadah untuk menjelaskan kepada kelompok tani tentang mengapa dan untuk apa tanah itu diambil. Dalam forum musyawarah salah satu hal yang dibicarakan dan yang terpenting adalah masalah ganti kerugian. Pembayaran ganti kerugian itu adalah bagian dari wujud konkrid pengakuan pengambilan tanah itu. Ganti kerugian itu sangat baik jika berupa pembangunan fasilitas umum yang dapat dimamfaatkan dan dinikmati seluruh masyarakat setempat. Dengan musyawarah PT Kutai Balian Nauli dituntun untuk tetap saling menghargai pendapat atau pandangan satu sama lain dengan kelompok tani. Melalui musyawarah maka akan tercermin keinginan untuk menselaraskan antara angan-angan dan kenyataan. Disini PT Kutai Balian Nauli memerlukan kerjasama dengan kelompok tani 2. Mengajukan izin lokasi perluasan lahan kepada pemerintah daerah melalui Badan Pertanahan Nasional Untuk memperoleh izin lokasi perluasan lahan PT Kutai Balian Nauli wajib mengajukan permohonan yaitu untuk tanah yang luasnya tidak lebih dari 15 Ha ( lima belas hektar) diajukan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dengan tembusan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Menteri Dalam Negeri Cq Direktur Jenderal Agraria ( Kepala Badan Pertanahan Nasional). Permohonan izin lokasi untuk tanah yang luasnya tidak lebih dari 200 Ha ( dua ratus hektar) diajukan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dengan tembusan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan Menteri

Dalam Negeri Cq Direktur Jenderal Agraria (Kepala Badan Pertanahan Nasional). Sedang untuk tanah yang luasnya lebih dari 200 Ha (dua ratus hektar) permohonan izin lokasi dan luas tanah diajukan kepada Gubenur Kepala Daerah Tingkat I. Dalam hal ini, permohonan tersebut Gubernur Kepala Daerah wajib mengajukan permohonan kepada Menteri Dalam Negeri dilengkapi dengan pertimbangan dari Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Permohonan izin lokasi perluasan tanah sebagaimana dimaksud diatas harus dilengkapi dengan : a. Akte pendirian perusahaan yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman atau dari Pejabat yang Berwenang bagi Badan Hukum lainnya. b. Nomor Pokok Wajib Pajak c. Gambar kasar/sketsa tanah yang dibuat oleh pemohon. d. Keterangan tentang letak, luas dan jenis tanah (kebun/sawah) yang dimohon. e. Pernyataan bermaterai cukup tentang kesediaan memberikan ganti rugi atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik tanah yang terkena rencana proyek pembangunan atau megikutsertakan pemilik tanah dalam bentuk penataan kembali penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah. f. Uraian rencana proyek yang akan dibangun disertai dengan analisa dampak lingkungan. Survei awal ke lokasi lahan yang akan dibangun perkebunan kelapa sawit oleh PT Kutai Balian Nauli sangat penting. Hal ini untuk memastikan ketersediaan lahan dan potensinya data survey yang harus didapat diantaranya luas dan lokasi lahan yang tersedia untuk dibangun perkebunan kelapa sawit harus

dapat diketahui pula kalayakan lahan secara ekonomis dan agronomis. Informasi penting yang lain yang harus diperoleh adalah status lahan tersebut masuk kawasan budidaya kehutanan (KBK) atau kawasan budidaya non kehutanan (KBNK), juga status kepemilikannya. Status lahan dapat diketahui dengan mengeceknya ke Badan Pertanahan Nasional dan Dinas Kehutanan. Berkenaan dengan permohonan penetapan izin lokasi dan perluasan tanah yang luasnya 200 Ha (dua ratus hektar) atau lebih, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I wajib meminta pertimbangan dari Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II setelah berkonsultasi dengan Ins Ansi teknis yang terkait wajib memberikan pertimbangan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Penyelesaian permohonan penetapan izin lokasi perluasan lahan yang luasnya 200 Ha (dua ratus hektar) atau lebih diproses secara terkoordinasi oleh Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat I bidang Pemerintahan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Direktorat Agraria Propinsi (Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional). Keputusan pemberian izin lokasi perluasan lahan disiapkan oleh Kepala Direktorat Agraria Propinsi (Kepala Wilayah Badan Pertanahan Nasional) dan diselesaikan dalam waktu 3 (tiga) bulan dan selambat-lambatnya 5 (lima) bulan terhitung sejak permohonan diterimanya secara lengkap

3. Memberikan besarnya ganti rugi kepada masyarakat adat melalui musyawarah Musyawarah menurut Pasal 1 ayat (5) Keppres No. 55 Tahun 1993 adalah suatu kegiatan saling mendengar dengan sikap saling menerima pendapat dan keinginan yang didasarkan atas kesukarelaan antara pihak pemegang hak atas tanah dan pihak yang memerlukan tanah, untuk memperoleh kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian. Musyawarah merupakan sarana yang paling menentukan berhasil tidaknya dengan baik pengambilan tanah dalam rangka pelaksaan pengadaan tanah. Tidak akan terelakkan perbedan pendapat antara kedua belah pihak terutama kesediaan si pemilik unutuk melepaskan tanahnya, apalagi tentang besar dan ganti rugi. PT Kutai Balian Nauli dalam hal ini mengadakan musyawarah dengan masyarakat adat setempat agar masyarakat adat setempat melepaskan tanah mereka dengan ganti rugi yang layak.. Tidak boleh ada anggapan bahwa pengambilan tanah mereka yang digunakan untuk kepentingan umum yang lebih luas itu harus menghadap kepada orang-orang masyarakat hukum adat yang pengetahuan dan tingkat kehidupannya yang masih rendah. Disini bukan persoalan orang pandai harus menghadap kepada orang yang rendah pendidikannya, bukan persoalan pejabat menghadap bawahannya bukan persoalan orang atasan meminta kepada bawahannya. Jadi musyawarah dilakukan untuk menjelaskan kepada masyarakat hukum adat setempat tentang mengapa dan untuk apa tanah hak ulayat itu diambil. Melalui forum musyawarah itu diupayakan secara maksimal agar masyarakat hukum adat yang bersangkutan memberi

persetujuan dan rela tanah ulayat itu diambil. Hal inilah sebagai wujud konkrit dari ketentuan UUPA (Pasal 3) bahwa tanah ulayat itu diakui keberadaanya (eksistensinya) jika kenyataan masih ada. Dan kenyataanya masih ada itu harus dimaknai bahwa lembaga hak ulayat itu masih hidup, diakui dan dipatuhi oleh masyarakt hukum adat itu dan hak ulayat yang tidak ada tidak boleh dihidupkan kembali. Namun, hak ulayat itu harus tunduk kepada kepentingan nasional dan negara, persatuan bangsa, dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Persoalan mengenai ganti rugi adalah menyangkut masalah hak-hak dari si pemilik tanah yang tanahnya dibebaskan, sehingga dapatlah dikatakan bahwa unsur mutlak harus ada dalam pelaksanaan pengadaan tanah harus mengadakan musyawarah dengan para pemilik/pemegang hak atas tanah dan atau benda/tanaman yang ada di atasnya berdasarkan harga umum setempat. 4. Membeli lahan petani plasma Berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku, untuk mewadahi perekonomian petani plasma yang tergabung dalam kelompok tani dan gabungan kelompok tani di dalam kemitraan usaha dengan perusahaan inti, perlu dibentuk koperasi petani peserta plasma. Peraturan dan perundangan yang menjadi pedoman adalah Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 1992 tentang Koperasi, SKB Mentan-Menkop tahun 1998 tentang KKPA, Undang-Undang RI Nomor 18 tahun 2004 tentang perkebunan, dan peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 tahun 2006 tentang Program Revitalisasi Perkebunan. Dengan demikian, koperasi

plasma adalah sebuah koperasi yang kegiatan atau anggota dan domisilinya berkaitan langsung dengan kebun plasma. PT Kutai Balian Nauli memanfaatkan koperasi plasma dengan melaksanakn kemitraan yang efektif dan meyukseskan pembangunan kebun plasma, baik pada masa konstruksi, masa produksi hingga pelunasan, maupun masa pasca kredit lunas (minimal satu siklus tanaman kelapa sawit). Pelaksanaan kegiatan pengelolaan kemitraan antara PT Kutai Balian Nauli dengan koperasi plasma dituangkan dalam perjanjian kerjasama yang diketahui oleh Pemda Kalimantan Timur. Perjanjian kerjasama antara PT KBN dan koperasi plasma ini harus jelas dan terbuka dan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit milik PT. KBN meliputi areal seluas 6.000 hektar, terletak di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. Lokasi perkebunan milik PT. KBN berdampingan dengan lahan petani plasma yang mempunyai anggota para 1.080 Kepala Keluarga (KK) petani yang masing-masing mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit seluas 2 hektar. Dengan demikian dari plasma / koperasi ada tambahan perkebunan kelapa sawit seluas 2160 hektar yang berada dalam satu hamparan, sehingga memudahkan pengembangan, pengelolaan dan pembinaan serta pengawasan areal. Dalam hal ini PT Kutai Balian Nauli dapat memperluas lahan dengan membeli dari petani plasma apabila mereka ingin menjual tanah mereka sebagai wujud kerjasama dengan koperasi Plasma.

BAB IV PENUTUP Berdasarkan uraian-uraian diatas dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka yang menjadi kesimpulan dan saran bagi penutup dari tulisan ini adalah sebagai berikut: A. Kesimpulan 1. Dalam hal ini PT Kutai Balian Nauli dalam proses melakukan perluasan lahan membutuhkan banyak prosedur untuk mendapatkan lahan dalam rangka pemberian status hak guna usahanya yaitu PT Kutai Balian Nauli meminta dukungan masyarakat untuk mendapatkan tanah melalui persetujuan yang telah ditandatanganni oleh Bupati, Camat, dan Kepala Desa. Setelah mendapat persetujuan masyarakat PT Kutai Balian Nauli langsung mengajukan izin lokasi, mengajukan izin usaha perkebunan, mengajukan izin AMDAL, mengajukan izin pembukaan lahan dan pemakaian alat berat, menetapkan KADASTERAL (batas lahan). Setelah mendapat semua izin dari Bapati Kutai Timur barulah PT Kutai balian Nauli memperoleh Sertifikat Hak Guna Usaha. 2. PT Kutai Balian Nauli untuk mendapatkan tanah guna perluasan lahan hak guna usaha mendapat beberapa hambatan diantaranya adalah okupasi liar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar yang ingin menduduki lahan PT Kutai Balian Nauli tanpa alas hak yang dilakukan secara liar, sulitnya mendapatkan izin perluasan lahan yang sangat lama disertai banyaknya pungutan yang dilakukan

oleh oknum yang terkait di Pemerintahan, tumpang tindih hak atas tanah dengan perusahaan lainnya, keadaan sosial ekonomi penduduk sekitar yang membutuhkan tenaga kerja karena kesenjangan sosial, masyarakat hukum adat yang mengakui lahan PT Kutai Balian Nauli sebagai tanah ulayat mereka. 3. PT Kutai Balian Nauli dalam rangka perluasan lahan juga melakukan upayaupaya untuk memperluas lahan yaitu melakukan pendekatan secara musyawarah kepada Pemerintah Daerah melalui Badan Pertanahan Nasional, memeberikan besarnya ganti rugi kepada masyarakat adat melalui musyawarah, membeli lahan dari petani plasma yang ada di sekitar PT Kutai Balian Nauli. Dalam hal ini PT Kutai Balian dalam sektor perkebunan membantu pemerintah menigkatkan pendapatan masyarakat agar tidak terjadi pengangguran dan menambah devisa negara. B. Saran Masalah pengadaan tanah pada perkembangannya sampai saat ini adalah merupakan masalah yang selalu terjadi, dan sampai saat ini terus diupayakan upaya terbaik untuk memecahkan permasalahan tersebut agar masyarakat sebagai pemilik/penguasa hak atas tanah dan pihak-pihak yang membutuhkan tanah tidak menjadi pihak yang dirugikan dalam proses pembangunan. Oleh karena itu dalam tulisan ini dapat diberikan beberapa saran : a. Pembangunan akan selalu membutuhkan tanah sebagi tempat mendirikan fasilitas-fasilitas yang mendukung keperluan hidup bernegara. Pemerintah

telah membuat peraturan perundangan untuk mengatur tatacara mendapatkan tanah untuk keperluan pembangunan untuk kepentingan umum untuk melindungi pemilik/penguasa hak atas tanah. Namun demikian Pemerintah dalam hal ini khususnya kepala daerah harus lebih serius lagi untuk melindungi hak-hak atas tanah yang dimiliki/dikuasai oleh masyarakat. Dan juga pejabat lainnya yang bekewajiban dalam pengadaan tanah harus memililki kesadaran hukum yang tinggi mengenai fungsi tanah bagi masyarakat dalam kelangsungan hidupnya dalam pengadan tanah, agar melakukan pengadaan tanah dengan benar sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Untuk mengantisipasi pengadaan tanah yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku perlu dilakukan penegakan hukum bagi para pelaku pengadan tanah yang memenipulasi kepentingan umum dan tidak menghormati hak-hak atas tanah masyarakat perlu dilakukan penegakan hukum secara konsekuen dengan memberi sanksi yang dimuat dalam peraturan pengadaan tanah tersebut. c. Pada umumnya kesulitan untuk mendapatkan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum terletak pada masyarkat tidak ingin melepaskan haknya atas dasar jaminan tinggkat ekonomi yang lebih baik yang akan diperolehnya setelah ia melepaskan haknya. Dengan kata lain ganti rugi adalah permasalahan utama dalam pengadaan tanah. Hal ini akan dapat teratasi jika penyuluhan dan sikap pelayanan yang tepat oleh berbagi pihak terutama Panitia Pengadaan Tanah dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu

harus ditumbuhkan penerapan asas perlindungan hukum dan asas legalitas didalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah tersebut. Dan sudah selayaknya pemerintah menentukan suatu peraturan perundang-undangan tantang ganti rugi tanah.