LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 74 2001 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 23 TAHUN 2001 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2001-2010 DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WATA ALLA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan arahan bagi rencana pembangunan potensi kepariwisataan, guna mewujudkan peningkatan pembangunan di lokasi-lokasi wisata di Kabupaten Garut, perlu menetapkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah di Kabupaten Garut; b. bahwa untuk maksud tersebut huruf a di atas, perlu di tetapkan dengan Peraturan Daerah. 367
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Tahun 1950 ); 2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890); 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); 4. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427); 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); 6. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469); 7. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); 368
9. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 10. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 11. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851); 12. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3854); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3176); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 16. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1969 tentang Kepariwisataan; 17. Keputusan Presiden Presiden Republik Nomor 15 Tahun 1983 tentang Kebijakan Pengembangan Kepariwisataan; 369
18. Keputusan Presiden Presiden Republik Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden; 19. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Garut Nomor 1 Tahun 1986 tentang Penunjukkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Yang Melakukan Penyidikan Terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah Yang Memuat Ketentuan Pidana (Lembaran Daerah Tahun 1986 Nomor 5); 20. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 24 Tahun 2000 tentang Visi Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 38); 21. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pola Dasar Pembangunan Kabupaten Garut Tahun 2001-2005 (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 39); 22. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 26 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Tahun 2001-2005 (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 40); 23. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Sekretariat DPRD Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 2). 370
Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GARUT MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2001-2010. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kabupaten Garut; b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Garut; c. Bupati adalah Bupati Garut; d. Dinas adalah Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Garut; e. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, peseroan komendeter perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau oragnisasi yang sejenis, lembaga dan pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya; f. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata; g. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusaha obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut; h. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggraan jasa pariwisata dan usaha lain yang terkait di bidang tersebut; 371
i. Usaha Pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata dan usaha lain yang terkait di bidang tersebut; j. Obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata; k. Kawasan Pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata; l. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah; m. Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya. BAB II KEDUDUKAN DAN FUNGSI RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH Bagian Pertama Kedudukan Pasal 2 Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut mempunyai kedudukan sebagai landasan penyusunan kebijaksanaan strategis pembangunan pariwisata Kabupaten Garut dalam presprektif jangka panjang 10 (sepuluh) tahun guna mengantisifasi kecenderungan dan perkembangan kegiatan pariwisata yang berwawasan dalam rangka mewujudkan Garut sebagai tujuan Pariwisata yang berwawasan lingkungan; 372
Bagian Kedua Fungsi Pasal 3 Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. pedoman bagi penyusunan rencana dan pelaksanaan pembangunan pariwisata secara konprehensif sesuai karakteristik potensi kewilayahan dengan berdasarkan kepada pendekatan system satuan kawasan wisata; 2. pedoman bagi penyusunan aturan-aturan yang diperlukan untuk pengelolaan dan pengembangan pariwisata dalam rangka menciptakan iklim yang kondusif guna mewujudkan Garut sebagai tujuan wisata; 3. Wahana peningktan kompentensi aparatur dan propesionalisme penyelenggara kepariwisataan. BAB III SISTEMATIKA RENCANA PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH Pasal 4 (1) SistematIka Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut, disusun sebagai berikut : a. BAB I PENDAHULUAN b. BAB II TINJAUAN MAKRO PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN c. BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN d. BAB IV POTENSI DAN PERMASALAHAN PARIWISATA KABUPATEN GARUT 373
e. BAB V RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN GARUT f. BAB VI INDIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN GARUT (2) Isi dan uraian Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini, terdapat dalam Lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. BAB IV PENINJUAN KEMBALI Pasal 5 (1) Peninjauan kembali Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali, kecuali terjadi forcemajor; (2) Peninjauan kembali Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut meliputi peninjauan terhadap perumusan rencana, yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan dengan tetap memperhatikan tujuan dan sasaran utama pengembangan sektor kepariwisataan daerah; (3) Hasil peninjauan kembali Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Daerah. BAB V KETENTUAN PENGGUNAAN Pasal 6 (1) Instansi Pemerintah maupun Swasta dalam penyusunan rencana detail kepariwisataan wajib mengacu kepada Peraturan Daerah ini; 374
(2) Setiap orang atau badan yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang kepariwisataan, wajib mematuhi Peraturan Daerah ini serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VI KETENTUAN PIDANA Pasal 7 (1) Bagi setiap orang atau badan yang melanggar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Peraturan Daerah ini, diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan penjara atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,00,- (lima juta rupiah); (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran; (3) Bagi Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran terhadap Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Garut, dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VII PENYIDIKAN Pasal 8 (1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku; (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di Bidang Retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; 375
b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; d. Pemeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e; h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; j. menghentikan penyidikan; k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana. 376
BAB VIII PEMBINAAN PENGAWASAN Pasal 9 (1) Pembinaan dan Pengawasan terhadap pengawasan terhadap pelaksanaan rencana induk pengembangan pariwisata daerah ini secara teknis dilakukan oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Garut; (2) Tata cara pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini akan diatur lebih lanjut dalam Keputusan Bupati. BAB IX KETENTUAN LAIN DAN PENUTUP Pasal 10 Apabila pengembangan pariwisata daerah yang sudah ada sebelum Peraturan Daerah ini diundangkan tidak sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang, maka : a. bagi kegiatan pengembangan pariwisata daerah yang sudah memiliki izin dalam pelaksanaan tidak mengubah perwujudan struktur/ pola pengembangan pariwisata daerah, maka kegiatan tersebut dapat diteruskan; b. bagi kegiatan pengembangan pariwisata daerah yang sudah memiliki izin dan dalam pelaksanaan merubah perwujudan struktur/ pola pengembangan pariwisatadaerah, maka kegiatan tersebut harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku; c. bagi kegiatan pengembangan pariwisata daerah yang tidak memiliki izin, namun dalam pelaksanaannya mengubah perwujudan struktur/ pola pengembangan pariwisata daerah, maka kegiatan tersebut harus di hentikan. 377
Pasal 11 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya, ditetapkan dalam Keputusan Bupati. Pasal 12 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Garut. Ditetapkan di Garut pada tanggal 24 Agustus 2001 B U P A T I G A R U T, t t d D E D E S A T I B I Diundangkan di Garut pada tanggal 29 Agustus 2001 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN GARUT, t t d R A H M A T S U D J A N A LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2001 NOMOR 74 SERI E 378