PERINGKAT BATUBARA. (Coal rank)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V BATUBARA 5.1. Pembahasan Umum Proses Pembentukan Batubara Penggambutan ( Peatification

PENGANTAR GENESA BATUBARA

Degradasi mikrobial terhadap bahan organik selama diagenesis

BAB IV HASIL ANALISIS SAMPEL BATUBARA

BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang

Bab II Teknologi CUT

Gambar Batubara Jenis Bituminous

Dasar Teori Tambahan. Pengadukan sampel dilakukan dengan cara mengaduk sampel untuk mendapatkan sampel yang homogen.

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

BAB I PENDAHULUAN. Hal 1

BAB III TEORI DASAR. keterdapatannya sangat melimpah di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan

BAB V EVALUASI SUMBER DAYA BATUBARA

Gambar 7.1 Sketsa Komponen Batubara

BAB IV ENDAPAN BATUBARA

BAB IV EKSPLORASI BATUBARA

BAB IV ENDAPAN BATUBARA

Gambar 1.1 Proses Pembentukan Batubara

BAB IV ENDAPAN BATUBARA

BAB IV ENDAPAN BATUBARA

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian

Bahan Bakar Padat. Modul : Bahan Bakar Padat

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

BAB IV ENDAPAN BATUBARA

BAB IV ANALISIS SAMPEL

KAJIAN PENINGKATAN NILAI KALOR BATUBARA KUALITAS RENDAH DENGAN PROSES SOLVENISASI SKRIPSI OLEH : SILFI NURUL HIKMAH NPM :

BAB III LANDASAN TEORI

SIMULASI BLENDING BATUBARA DI BAWAH STANDAR KONTRAK DALAM BLENDING DUA JENIS GRADE BEDA KUALITAS PADA PT AMANAH ANUGERAH ADI MULIA SITE KINTAP

BAB IV ANALISA SUMBER DAYA BATUBARA

Petrologi Batuan Sedimen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. MOISTURE BATUBARA

A. JUDUL KAJIAN TEKNIS TERHADAP SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. GLOBALINDO INTI ENERGI KALIMANTAN TIMUR

BAB III TEORI DASAR. secara alamiah dari sisa tumbuh- tumbuhan (menurut UU No.4 tahun 2009).

STUDI PENINGKATAN YIELD TAR MELALUI CO-PIROLISA BATUBARA KUALITAS RENDAH DAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG 4. Indonesia Mt

meningkatan kekuatan, kekerasan dan keliatan produk karet. Kata kunci : bahan pengisi; komposisi kimia; industri karet

Analisis Kualitas Batubara Berdasarkan Nilai HGI dengan Standar ASTM

Geologi dan Potensi Sumberdaya Batubara, Daerah Dambung Raya, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan BAB IV

PENGARUH LAMA WAKTU DAN TEMPERATUR TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA MUDA (LIGNIT) DENGAN MENGGUNAKAN OLI BEKAS DAN SOLAR SEBAGAI STABILISATOR

Geokimia Minyak & Gas Bumi

BAB V PEMBAHASAN 5.1 ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA Analisis Pengawetan Struktur Jaringan dan Derajat Gelifikasi

Prarancangan Pabrik Metanol dari Low Rank Coal Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. masalah yang berhubungan dengan ilmu Geologi. terhadap infrastruktur, morfologi, kesampaian daerah, dan hal hal lainnya yang

Oleh : Ahmad Helman Hamdani NIP

ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS

BAB V PEMBAHASAN. Analisis dilakukan sejak batubara (raw coal) baru diterima dari supplier saat

PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) ANALISIS KIMIA PROKSIMAT BATUBARA

BAB IV HASIL DAN ANALISA

I. GEOLOGY BATUBARA. I. Pembentukan Batubara

LAMPIRAN A CONTOH PERHITUNGAN YIELD

PENGARUH KOMPOSISI PARTIKEL BATUBARA DAN PROSENTASE UDARA PRIMER PADA PEMBAKARAN BATUBARA SERBUK (PULVERIZED COAL)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

OLEH : SHOLEHUL HADI ( ) DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUDJUD DARSOPUSPITO, MT.

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.

Karakterisasi Gasifikasi Biomassa Sampah pada Reaktor Downdraft Sistem Batch dengan Variasi Air Fuel Ratio

Oleh : Dimas Setiawan ( ) Pembimbing : Dr. Bambang Sudarmanta, ST. MT.

BAB I PENDAHULUAN. bidang perindustrian. Salah satu konsumsi nikel yang paling besar adalah sebagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN EFESIENSI CFB BOILER TERHADAP KEHILANGAN PANAS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan

II.1 PRINSIP DASAR GASIFIKASI BATUBARA

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI MENJADI BRIKET SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PROSES KARBONISASI DAN NON-KARBONISASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak kaya akan sumber daya alam dan terbatas ilmu. fosil mendapat perhatian lebih banyak dari kalangan ilmuan dan para

Perbandingan Kualitas Batubara Hasil Pengeringan Antara Suhu Rendah Tekanan Rendah dengan Suhu Tinggi Tekanan Tinggi Batubara Jambi

PENGARUH KOMPOSISI BATUBARA TERHADAP KARAKTERISTIK PEMBAKARAN DAUN CENGKEH SISA DESTILASI MINYAK ATSIRI

PROPOSAL TUGAS AKHIR ANALISA KUALITAS BATUBARA

KARAKTERISASI SEMI KOKAS DAN ANALISA BILANGAN IODIN PADA PEMBUATAN KARBON AKTIF TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN AKTIVASI H 2 0

TUGAS AKHIR PEMBUATAN BIOCOAL DARI CAMPURAN BATUBARA LIGNIT, SEKAM PADI, DAN TEMPURUNG KELAPA (PENGARUH TEMPERATUR KARBONISASI DAN UKURAN MATERIAL)

BAB II TEORI DASAR 2.1 Batubara

PENGARUH RESIRKULASI LINDI TERHADAP LAJU DEGRADASI SAMPAH DI TPA KUPANG KECAMATAN JABON SIDOARJO

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH VARIASI BAHAN PEREKAT TERHADAP LAJU PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN BATUBARA DAN SABUT KELAPA

PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUBARA BERDASARKAN USGS CIRCULAR No.891 TAHUN 1983 PADA CV. AMINDO PRATAMA. Oleh : Sundoyo 1 ABSTRAK

seekementerian PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA FAKULTAS TEKNIK SOAL UJIAN PERIODE SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2012/2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN BIOSOLAR DAN MINYAK JELANTAH SERTA SUHU PEMANASAN TERHADAP PENINGKATAN MUTU BATUBARA LIGNIT

FORUM IPTEK Vol 13 No. 03 BRIKET GAMBUT DENGAN SERBUK KAYU KEMUNGKINAN SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF. Oleh : Ir. Sulistyono*)

Oleh: Sigit Arso W., David P. Simatupang dan Robert L. Tobing Pusat Sumber Daya Geologi Jalan Soekarno Hatta No. 444, Bandung

TUGAS AKHIR KONVERSI ENERGI

BAB VI PROSES MIXING DAN ANALISA HASIL MIXING MELALUI UJI PEMBAKARAN DENGAN PEMBUATAN BRIKET

ANALISIS THERMOGRAVIMETRY DAN PEMBUATAN BRIKET TANDAN KOSONG DENGAN PROSES PIROLISIS LAMBAT

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengeringan Low Rank Coal dengan Menggunakan Metode Pemanasan tanpa Kehadiran Oksigen

BAB III METODE PENELITIAN

Bab IV Pengambilan Sampel dan Hasil Analisis. IV.1 Pengambilan Sampel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS HALUOLEO

Geokimia Organik 5. Pembentukan dan Komposisi Minyak Bumi - Pembentukan Minyak Bumi - Pentingnya Waktu dan Suhu dalam Pembentukan Minyak Bumi

Transkripsi:

PERINGKAT BATUBARA (Coal rank)

Peringkat batubara (coal rank) Coalification; Rank (Peringkat) berarti posisi batubara tertentu dalam garis peningkatan trasformasi dari gambut melalui batubrara muda dan batubara tua hingga grafit. Proses transformasi fisika dan kimia yang tetap disebut coalification (atau carbonification) Peringkat batubara adalah equivalent dengan derajat metamorfisma.

ORGANIC METHAMORPHISM Methamorphism of organic matter,dimulai setelah organisma mati mengalami pembusukan dan berlangsung jutaan tahun, menghasilkan secara meningkat perbedaan unsur-unsur, yaitu perbedaan jenis petroleum, gas dan batubara. Macam proses yang kompleks terdiri dari 2 tigkatan utama yaitu : Fase biokimia Fase geokimia

Fase Biokimia Tingkatan biokimia (atau biogenetik) daripada metamorfisme organik adalah aksi orgsnisme hidup, khususnya dominan bakteri dan fungi (jamur). Dalam pembentukan batubara, material tanaman mengalami proses peatifikasi (humifikasi) terhadap humic matter. Komposisi microbiologi tidak dapat terjadi di atas temperatur tertentu (> ± 80 0 C)

Fase Geokimia Fase geokimia didominasi oleh pengaruh peningkatan temperatur dan tekanan, disebabkan oleh peningkatan kedalaman penimbunan unsur organik di bawah tutupan sedimen (sedimentary overburden). Tidak jelas batas kedua fase tersebut, tetapi bisa dikatakan reaksi berakhir pada tingkat gambut dan aksi geokimia menjadi agen utama pada tingkat brown-coal dan hard-coal.

Batubara ( Coal / Humic Coal) Terdiri dari dominan unsur C, H dan O. Belerang dan nitrogen dan unsur-unsur teras elemen lainnya hadir hanya dalam jumlah yang kecil. Kayu sebagai asal batubara, mengandung kurang lebih: C = 50% H = 6% O = 43%. Grafit yang terbentuk pada tahap akhir coalifikasi terdiri dari 100% C Coalifikasi adalah suatu proses pengayaan yang konstan terhadap karbon dengan pengurangan H dan O, pelepasan terutama H2O. CO 2, CH 4, dan hidrokarbon lainnya.

Klassifikasi Peringkat Batubara Parameter kimia sebagai penentu coal rank Carbon, hydrogen, dan hydrogen asal dari elementary analysis, dihitung bersama-sama dengan kandungan air dan ash-free (w.a.f basis) Kandungan volatile matter atau nilai komplementernya daripada kandungan fixed carbon berasal dari proximate analysis sebagaimana menghitung w.a.f basis, Nilai kalori daripada batubara dihitung bersama-sama dengan kelembaban (moist), mineral matter, free basis dan kandungan air (total moisture). (Coal Rank)

Dari unsur oxygen tidak pernah digunakan sebab untuk determinasi tidak cukup akurat dan secara eksak sulit ditentukan, Hydrogen terbukti sebagai indikator peringkat (rank) hanya untuk batubara anthracite, Kandungan elemen karbon digunakan sangat luas, khususnya untuk lingkungan saintifis untuk determinasi peringkat batubara, Kandungan C digunakan hanya untuk low-rank coal dan meta-anthracite. Kandungan volatile matter dan fixed carbon hanya dapat pada batubara tua berperingkat tinggi, dan tidak bisa pada peringkat rendah disebabkan volatile matter diatas 33% atau dibawah 67 fixed carbon, Di sisi lain : Nilai kalori dan kandungan air adalah parameter sangat baik untuk batubara muda dan batubara tua berperingkat derajat rendah, tetapi tidak baik untuk peringkat tinggi.

American system Berdasarkan atas : fixed cabon untuk batubara berperingkat tinggi, dan Nilai kalori yang diexpresikan dalam British Thermal Unit (Btu) untuk batubara berderajat rendah. Sistem Amerika terdiri dari 4 grup peringkat utama dan 13 sub-grup dengan nama masingmasing. Misalnya low-volatle bituminous Penamaan tersebut di atas sangat umum digunakan. (lihat tabel: Tabel Peringkat Batubara)

Sistem Klassifikasi International Untuk batubara tua, didasarkan pada : Volatile matter untuk peringkat tinggi, Nilai kalori (diekspresikan dengan kalori) untuk batubara peringkat rendah, Batas antara batubara muda dan batubara tua terletak pada nilai kalori 5700 kcal/kg. Tidak ada penamaan batubara berdasakan peringkat, tetapi perbedaannya hanya berdasarkan 9 klas batubara.

Sistem Klassifikasi International Untuk batubara muda, meskipun nilai kalori cukup bisa dipakai sebagai parameter, komite Internasional memilih water content sebagai indikator, dan menetapkan 6 klas (10-15) untuk batubara muda Sistim Eropa keseluruhan mencakup 15 kelas batubara

Metode penentuan peringkat (Rank) Kandungan fixed carbon dan nilai kalori ditentukan berdasarkan metode standard analysis sifat batubara.

Seri Peringkat Batubara (The coal rank series) GAMBUT, adalah bagian permulaan seri koalifikasi. GAMBUT, memiliki kandungan air hingga 90%, tetapi kebanyakan akan hilang dengan pengeringan. GAMBUT, memiliki kandungan carbon antara 50 60%. Batas antara gambut dan batubara muda yaitu kandungan air lebih dari 70% (ash-free) dan nilai kalori kuang dari 1800 kcal/kg (moist ashfree)

Batubara Muda (Brown Coal) Argumen mengenai subjek batubara muda ini sangat panjang mengenai definisi, batasan, subdivisi, Di Amerika, dibedakan batubara muda dan lignit : Batubara muda (=unconsolidated) Lignit (= consolidated lignite coal) (tidak memuaskan) Batubara muda berada pada semua peringkat antara gambut dan batubara tua (lihat tabel peringkat batubara)

Batas bawah batubara muda adalah pada total moisture content 70% a.f., equivalen dengan nilai kalori sekitar 1800 kcal/kg dan batas bawahnya pada nilai kalori 5700 kcal/kg. Pada American group dari pada batubara sub-bituminous kurang lebih mengcover transisi dari brown-coal dan hard-coal. Bandingannya dengan sistem Internasional jatuh pada tengah-tengah grup sub-bituminous B, bagian atas A dan C, berhubungan dengan brown-coal. Bagian bawah B dan C berhubungan dengan Hard-coal (batubara tua)

Batubara Muda (Brown Coal) Di Eropa, khususnya di Jerman; batubara muda dibagi kedalam: Soft Brown Coal: secara garis besarnya berhubungan dengan klass 13-15 Batas pada 67% C (±4000 kcal/kg atau ± 35% H 2 O atau DOM 42 43) Matt atau dull brown coal: pada klas 11 + 12 Batas pada 71% C (± 5500 kcal/kg atau ± 25% H 2 O dan DOM ± 49) Bright atau lusterous brown coal: pada klas 9 + 10, batas pada 77%C (± 7000 Kcal/Kg atau DOM ± 56). HARD COAL

Batubara Muda (Brown Coal) Batubara muda (Brown Coal) kadang-kadang disebut brown lignite, dull dan bright brown coal kadang-kadang disebut hard brown coal atau black lignite. Sebagai tambahan: Suatu batubara, terutama yang bewarna coklat, sedikit bergaris-garis hitam hal ini menunjukkan batubara muda, Bila batubara, berwarna hitam dan garis-garis coklat yang jarang menunjukkan batubara tua.

Batubara tua (Hard Coal), pada klass 3 9 berhubungan dengan batubara bituminous dan klas 0 2 dengan batubara anthracite, Graphite, secara teoritis adalah tingkatan terahir dari batubara yang mencapai 100% konsentrasi kandungan carbon, tetapi dalam praktek graphite sangat jarang dijumpai dalam sayatan meta-anthracite, graphite di alam selalu diakibatkan metamorfisme batuan keras pada temperatur sangat tinggi.

Beberapa pengaruh dalam proses coalifikasi Abnormal coalification processes; Abnormal pressure, misalnya karena perlipatan secara orogenetik, apat mengakibatkan evolusi struktur yang berpengaruh luas terhadapat evolusi kimiawi. Radioactivity, memberikan efek terhadap coalification dimana uranium dan thorium yang terkonsentrasi dalam batubara dan partikel alfa bombard (membom) unsur organik, menyebabkan coalification tingkat tinggi pada lingkaran pengaruh (ceating distinct contact halos) Fenomena ini jarang terjadi, biasanya terbatas hanya psekitar butiran mineralradioaktif dalam batubara Intrusi batuan beku dapat mempengaruhi DOM daripada seam (lapisan) batubara dengan 2 cara:

Pengaruh Intrusi pada batubara Effek pertama adalah metamorfisma regional oleh intrusi magma kedalam seri batuan sedimen diatas, atau biasanya dibawah coal seam. Penambahan temperatur menghasilkan peninggian DOM sekitar intrusi (contoh kasus batubara Gondwana di Afrika Selatan, dimana batubara sekitar ntrusi cendrung teraltrasi membentuk anthracite)

Tabel Peringkat Batubara (Coal Rank)