TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENAMBAHAN ASAM FULVAT DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM BROILER

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Standar Performa Mingguan Ayam Broiler CP 707

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Hidup dan Karkas

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan kaidah-kaidah dalam standar peternakan organik. Pemeliharaan

TINJAUAN PUSTAKA Probiotik

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging dengan bobot badan 1,9 kg

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

I. PENDAHULUAN. Peternakan broiler merupakan salah satu sektor usaha peternakan yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA. telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Suprijatna, 2006). Karakteristik ayam broiler yang baik adalah ayam aktif, lincah,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam petelur merupakan ayam yang dipelihara khusus untuk diambil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Isa Brown, Hysex Brown dan Hyline Lohmann (Rahayu dkk., 2011). Ayam

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam tipe petelur yang jantan dikenal dengan sebutan ayam jantan tipe medium,

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. (Setianto, 2009). Cahaya sangat di perlukan untuk ayam broiler terutama pada

I. PENDAHULUAN. pembangunan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Permintaan masyarakat akan

I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perusahaan penetasan final stock ayam petelur selalu mendapatkan hasil samping

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan

I. TINJAUAN PUSTAKA. memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi

PENDAHULUAN. masyarakat. Permintaan daging broiler saat ini banyak diminati oleh masyarakat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

I. PENDAHULUAN. sangat cepat dibandingkan dengan pertumbuhan unggas lainnnya. Ayam broiler

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan jenis ayam kampung yang banyak dikembangkan di

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. ayam hutan merah atau red jungle fowls (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau

I. PENDAHULUAN. Usaha peternakan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Negara China, Amerika maupun Australia. Itik Peking merupakan itik yang dapat

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam lokal persilangan merupakan ayam lokal yang telah mengalami

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telurnya. Jenis puyuh yang biasa diternakkan di Indonesia yaitu jenis Coturnix

BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang. Peningkatan cekaman panas yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan waktu, pertambahan jumlah penduduk,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler tidak dibedakan jenis kelamin jantan atau betina, umumnya dipanen

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggul dari tetuanya (Sudaryani dan Santosa, 2000). Menurut Suharno (2012)

TINJAUAN PUSTAKA. Bahan Organik. Ekstraksi dengan Alkali. Bahan Humat (Larut) Humin (Tidak Larut) Ekstraksi dengan Alkali. Asam Humat (Tidak Larut)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

HASIL DAN PEMBAHASAN. Peubah* Konsumsi Ekstrak Daun Konsumsi Saponin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fungsi, yaitu sebagai ayam petelur dan ayam potong.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan

I. PENDAHULUAN. Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca. dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono, 1991).

TINJAUAN PUSTAKA. termasuk ke dalam ordo Galliformes, famili Phasianidae, genus Gallus dan

TINJAUAN PUSTAKA. Broiler adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut ayam hasil

PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menghasilkan bibit induk atau bibit sebar. Ayam yang akan digunakan sebagai

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh

TINJAUAN PUSTAKA A. Puyuh

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam ras petelur adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 8. Performa Ayam Petelur Strain ISA-Brown Umur Minggu

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kendala pada peternak disebabkan mahalnya harga bahan baku, sehingga

I. PENDAHULUAN. pesat. Perkembangan tersebut diiringi pula dengan semakin meningkatnya

TINJAUAN PUSTAKA. Konsumsi Ransum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gram dan mendekati 2 kg pada umur 37 hari dan siap potong (Weeks dan. Ayam pedaging mengandung protein dan asam amino

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Standar Performa Mingguan Ayam Broiler CP 707

I. PENDAHULUAN. juga mempunyai potensi untuk dikembangkan karena memilki daya adaptasi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. strain Cornish dengan betina yang besar yaitu Plymouth Rocks yang merupakan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan protein hewani dapat

Tingkat Kelangsungan Hidup

MATERI DAN METODE. Materi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pendek, yaitu pada umur 4-5 minggu berat badannya dapat mencapai 1,2-1,9 kg

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh

PENDAHULUAN. telurnya karena produksi telur burung puyuh dapat mencapai

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN

I. PENDAHULUAN. yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat makanan yang

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

I PENDAHULUAN. Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena,

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Daging unggas adalah salah jenis produk peternakan yang cukup disukai. Harga yang relatif terjangkau membuat masyarakat atau

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. banyak diminati di kalangan masyarakat, hal ini disebabkan rasa

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia berasal dari Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

Transkripsi:

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Broiler merupakan galur ayam hasil rekayasa genetika teknologi yang memiliki karakteristik ekonomi dan ciri khas pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi ransum rendah, siap potong dalam usia relatif muda dan menghasilkan daging yang memiliki serat lunak (Bell dan Weaver, 2002). Standar pertumbuhan ayam broiler CP 707 disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Standar Pertumbuhan Ayam Broiler CP 707 Umur (minggu) Konsumsi Pakan Berat Badan FCR 1 150 175 0,86 2 515 487 1,06 3 1175 932 1,26 4 2120 1467 1,45 5 3297 2049 1,61 6 4625 2634 1,76 7 6021 3177 1,89 Sumber: Charoen Pokphand (2011) Temperatur dan kelembaban relatif merupakan faktor penting bagi kelangsungan hidup ternak. Ayam sebagai hewan homeotermis, dapat mengatur suhu tubuhnya relatif konstan, sekalipun temperatur lingkungan berubah-ubah. Kondisi suhu lingkungan yang optimal bagi ayam adalah 21 ºC (Suprijatna et al., 2005). Tingginya kelembaban relatif akan menghambat penguapan panas melalui panting. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan optimal ayam broiler berkisar antara 50-60% (Appleby et al., 2004). Ayam broiler kurang toleran terhadap suhu lingkungan yang tinggi, terutama setelah ayam berumur lebih dari tiga minggu (Gunawan dan Sihombing, 2004). Pada ayam broiler berumur diatas tiga minggu, keadaan suhu lingkungan optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 20-25 ºC dengan kelembaban berkisar antara 50-70% (Borges et al., 2004). Apabila suhu tubuh ayam broiler lebih rendah daripada suhu lingkungan, maka nutrien yang ada di dalam tubuh sebagian besar digunakan oleh ayam broiler untuk memproduksi 3

panas tubuh (Bruzual et al., 2000). Suhu optimum kandang untuk pemeliharaan ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Suhu Optimum Kandang Ayam Broiler Umur (minggu) Suhu (ºC) Kelembaban (%) 1 30-32 50%-70% 2 29 50%-70% 3 28 50%-70% 4 26 50%-70% 5 23 50%-70% >5 22 50%-70% Sumber : Charoen Pokphand (2011) Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa meningkatnya kepadatan kandang akan menyebabkan berkurangnya konsumsi ransum, menurunnya pertumbuhan, menurunkan efisiensi makanan, meningkatnya mortalitas dan meningkatnya kanibalisme. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepadatan kandang yaitu temperatur lingkungan, tipe kandang, ukuran ayam dan umur ayam (Mazia, 2009). Kapasitas kandang ayam pedaging sesuai dengan tingkat umur disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kapasitas Kandang Ayam Pedaging Sesuai dengan Tingkat Umur Umur (hari) Kapasitas (ekor/m 2 ) 1 7 40 50 8 14 20 25 >14 8 12 Sumber : Mazia (2009) Hasil penelitian Sufi (2008) menyatakan bahwa konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, serta bobot badan akhir dipengaruhi oleh kepadatan kandang. Pada kepadatan kandang 10 ekor/m 2 memiliki tingkat konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan bobot badan akhir yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan kandang 12 dan 14 ekor/m 2. Kepadatan kandang yang semakin 4

tinggi juga meningkatkan suhu dan kelembaban. Pengaruh kepadatan kandang terhadap suhu udara kandang disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Pengaruh Kepadatan Kandang Terhadap Suhu Udara Kandang Kepadatan Suhu (ºC) (ekor/m 2 ) Pagi Siang Sore 10 26,30 31,28 28,84 13 26,39 31,43 29,13 16 26,48 31,56 29,36 Sumber : Kususiyah (1992) Cekaman panas (heat stres) terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah panas yang dilepaskan dari tubuh ke lingkungan dengan jumlah panas yang dihasilkan tubuh sehingga terjadi perubahan fisiologis dan metabolisme dalam upaya mempertahankan diri dengan pengembangan sistem homeostasis yang ada. Cekaman panas berdampak pada terganggunya pembentukan sel-sel darah putih serta terjadinya pelepasan glukokortikoid yang dapat mengganggu kekebalan (imunitas) tubuh (Sugito, 2007). Kekebalan tubuh ayam broiler dapat dilihat dari bobot bursa fabrisius dan jumlah benda darah putih (leukosit). Bursa fabrisius merupakan salah satu organ limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentukan antibodi (Scanes et al., 2004). Wirapati (2008) melaporkan bahwa persentase bobot bursa fabrisius ayam broiler umur lima minggu yaitu sekitar 0,04%-0,12% dari bobot hidup. Unggas yang mempunyai bobot relatif bursa fabricius lebih besar akan lebih tahan terhadap berbagai penyakit (Heckert et al., 2002). Leukosit merupakan sel darah yang memiliki inti sel dan memiliki kemampuan gerak yang independen (Frandson, 1992). Leukosit berperan dalam merespon kekebalan tubuh. Swenson (1984) menyatakan bahwa jumlah leukosit unggas lebih banyak dibandingkan dengan leukosit pada mamalia, yaitu berkisar antara 20.000-30.000/mm 3. 5

Konsumsi Ransum Konsumsi ransum adalah ransum yang dimakan dengan jumlah dan waktu tertentu dan digunakan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Konsumsi ransum pada ayam pedaging tergantung pada strain, umur, aktivitas serta temperatur lingkungan (Wahju, 2004). Faktor lain yang mempengaruhi konsumsi ransum antara lain adalah besar dan bangsa ayam, suhu lingkungan, tahap produksi dan energi dalam ransum. Suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan menurunnya konsumsi ransum. Penelitian Lu et al. (2007) menunjukkan bahwa konsumsi ransum dan pertambahan bobot hidup ayam broiler umur 5-8 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 34 ºC adalah 93,6 dan 22,29 gram/ekor, keduanya nyata lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang dipelihara pada suhu lingkungan 21 ºC yakni 169 dan 61,45 gram/ekor. Konsumsi ransum setiap minggu bertambah sesuai dengan pertambahan bobot badan. Setiap minggunya ayam mengkonsumsi ransum lebih banyak dibandingkan dengan minggu sebelumnya (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan untuk menjamin pertumbuhan berat badan dan menjamin produksi daging agar menguntungkan (Sudarso dan Siriwa, 2007). Pertambahan Bobot Badan Pertambahan bobot badan (PBB) mencerminkan tingkat kemampuan ayam broiler dalam mencerna ransum untuk diubah menjadi bobot badan. Pertambahan bobot badan sebagai kriteria untuk mengukur pertumbuhan. Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai proses yang sangat kompleks meliputi pertambahan bobot hidup dan pertambahan semua bagian tubuh secara merata dan serentak (Maynard et al., 1979). Menurut Rose (1997), pertumbuhan meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh akan peningkatan sel-sel individual dimana pertumbuhan itu mencakup empat komponen utama yaitu adanya peningkatan ukuran skeleton, peningkatan total lemak tubuh dalam jaringan adipose dan peningkatan ukuran bulu, kulit dan organ dalam. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa peningkatan bobot badan mingguan tidak terjadi secara seragam. Setiap minggu pertumbuhan ayam pedaging mengalami peningkatan hingga mencapai pertumbuhan maksimal, 6

setelah itu mengalami penurunan. Bonnet et al. (1997) menyatakan bahwa PBB ayam pedaging umur 4 s/d 6 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 32 ºC sebesar 515 gram/ekor, sedangkan pada suhu 22 ºC PBB ayam pedaging sebesar 1084 gram/ekor. Konversi Ransum Menurut Wahju (2004), konversi ransum adalah jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu unit PBB, semakin besar ukuran dan tua ternak maka nilai konversinya akan semakin tinggi. Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah temperatur, kualitas ransum, kualitas air, pengafkiran, penyakit, manajemen pemeliharaan dan juga faktor pemberian ransum, penerangan dan faktor sosial (Anggorodi, 1979). Mortalitas Mortalitas merupakan indikator kematian yang diukur dengan persentase. Angka mortalitas merupakan perbandingan antara jumlah seluruh ayam yang mati dengan jumlah total ayam yang dipelihara (Bell dan Weaver, 2002). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas antara lain bobot badan, tipe ayam, iklim, kebersihan, suhu lingkungan, sanitasi peralatan, kandang serta penyakit. Pemeliharaan ayam broiler dinyatakan berhasil jika angka kematian secara keseluruhan kurang dari 5%. Angka mortalitas dipengaruhi umur, ayam broiler umur lima hingga delapan minggu memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan umur dua hingga empat minggu (Bell dan Weaver, 2002). Beberapa penyakit yang biasanya menyerang ayam broiler di suatu peternakan antara lain: 1. Chronic Respiratory Disease (CRD). Amer et al. (2009) menyatakan bahwa pemeliharaan ayam broiler dalam kandang dengan kepadatan yang tinggi dan sirkulasi udara yang kurang baik dapat menyebabkan ayam broiler terinfeksi bakteri Mycoplasma gallisepticum. Mycoplasma gallisepticum menyerang saluran pernafasan di bagian kantong udara. Kantong udara dipenuhi mukus. Tahap infeksi yang lebih akut 7

menyebabkan mukus berwarna kuning dan kental (Bell dan Weaver, 2002). Gejala yang terlihat pada ayam muda adalah adanya indikasi kesulitan bernafas seperti bersin dan nafas yang bersuara (ngorok). Jika termasuk dalam kasus yang parah maka mortalitas dapat mencapai 30% (Ginting, 1988). Menurut Bell dan Weaver (2002), gejala CRD pada ayam dewasa adalah ayam terlihat depresi dan tidak aktif, konsumsi ransum menurun namun mortalitasnya rendah. 2. Sudden Death Syndrome (SDS). Sudden Death Syndrome merupakan kematian yang dikarenakan metabolic disorder. Sudden Death Syndrome biasanya menyerang ayam broiler jantan, bobot badan tinggi, dengan pertumbuhan yang cepat. Kepadatan kandang yang tinggi juga meningkatkan resiko terinfeksi SDS (Bolton et al., 1972). Konfirmasi hasil nekropsi mengenai SDS sulit didapatkan karena tidak ada tanda khusus, daging dalam keadaan baik dan gizzard dalam keadaan terisi penuh. Kematian yang mendadak ini sering disebut juga sebagai heart attack atau flipover (Leeson dan Summers, 2005). Faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya Sudden Death Syndrome adalah kontinuitas pencahayaan (Onowiwu et al., 1979), penyimpangan kandungan kalsium dan fosfor dalam pakan (Scheideler et al., 1995), dan frekuensi makan (Bowes dan Julian, 1988). Pakan Ayam Broiler Pakan adalah campuran dari bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang secara khusus mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya (SNI, 2006a dan SNI, 2006b). Pakan ternak terdiri atas pakan buatan pabrik dan buatan sendiri. Pakan buatan pabrik biasanya dikenal dalam bentuk pelet dengan ukuran yang bervariasi, sedangkan pakan buatan sendiri dapat dibuat sepanjang bahan baku tersedia dengan berbasis bahan baku lokal. Fungsi ransum yang diberikan pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan pokok untuk hidup, membentuk sel-sel dan jaringan tubuh, serta menggantikan bagian-bagian yang merupakan zat-zat yang diperlukan ayam adalah karbohidrat, lemak, dan protein akan membentuk energi sebagai hasil 8

pembakarannya (Sudaryani dan Santoso, 1995). Kebutuhan dan kandungan zat makanan ayam broiler disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Tabel 5. Kebutuhan Zat Makanan Ayam Broiler Umur Zat Makanan (hari) EM (kkal/kg) Protein (kcal) Ca (%) P avl (%) Lysin (%) Meth (%) 0 18 hari 3050 22,00 0,95 0,45 1,30 0,50 19 30 hari 3100 20,00 0,92 0,41 1,15 0,44 Sumber : Leeson dan Summers (2005) Keterangan : EM = Energi Metabolis, P avl = P available (P tersedia) Tabel 6. SNI Pakan Broiler Starter dan Finisher Parameter No Satuan Starter a Finisher b 1 Kadar Air % Maks. 14,0 Maks. 14,0 2 Protein Kasar % Min. 19,0 Min. 18,0 3 Lemak Kasar % Maks. 7,4 Maks. 8,0 4 Serat Kasar % Maks. 6,0 Maks. 6,0 5 Abu % Maks. 8,0 Maks. 8,0 6 Kalsium % 0,90-1,20 0,90-1,20 7 Fosfor Total % 0,60-1,00 0,60-1,00 8 Fosfor Tersedia % Min. 0,40 Min. 0,40 9 Total Aflatoksin mg/kg Maks. 50,0 Maks. 50,0 10 Energi Metabolis kkal/kg Min. 2900 Min. 2900 11 Asam Amino Lisin % Min. 1,10 Min. 0,90 Metionin % Min. 0,40 Min. 0,30 Metionin + sistin % Min. 0,60 Min. 0,60 Sumber : a SNI 01-3930-2006 b SNI 01-3931-2006 9

Feed Additive Imbuhan pakan atau feed additive adalah suatu bahan yang dicampurkan di dalam pakan yang dapat mempengaruhi kesehatan, produktivitas, maupun keadaan gizi ternak, meskipun bahan tersebut bukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi (Adams, 2000). Imbuhan pakan yang sudah umum digunakan dalam industri perunggasan adalah antibiotika, enzim, prebiotik, probiotik asam organik flavor pewarna dan antioksidan. Dari semua imbuhan pakan, antibiotika merupakan imbuhan pakan yang paling luas penggunaannya di seluruh dunia. Prebiotik merupakan bahan pakan berupa serat yang tidak dapat dicerna oleh ternak berperut tunggal (monogastrik). Prebiotik disebut juga sebagai nutrisi yang sesuai bagi bakteri menguntungkan, tetapi tidak cocok bagi bakteri yang kurang menguntungkan. Dengan kata lain, prebiotik dapat meningkatkan bakteri yang menguntungkan dalam usus (Gibson et al., 1998). Asam Fulvat Asam fulvat adalah asam organik yang timbul secara alamiah saat terjadi penguraian zat organik yang disebut humus atau senyawa humat. Asam fulvat merupakan bagian dari asam humat yang dapat larut dalam alkali dan dalam asam pada kondisi netral. Stevenson (1994) membagi humat dalam tiga kategori yaitu asam fulvat, asam humat dan humin. Asam fulvat berwarna kuning terang sampai kuning kecoklatan. Menurut Schnitzer dan Khan (1978) asam fulvat memiliki kemasaman total yang lebih besar dan mempunyai berat molekul yang lebih ringan sehingga lebih mudah bergerak atau berpindah. Asam fulvat tertinggal dalam larutan setelah pemindahan asam humat dengan asidifikasi (Weber, 2008). Proses humifikasi dapat dilihat pada Gambar 1. 10

Bahan organik Bahan Humat Bahan Non Humat Tidak larut Larut Tidak larut dalam basa dan asam Larut dalam basa & tidak larut dalam asam Larut dalam basa dan asam Humin Humat Asam Fulvat Gambar 1. Diagram Humifikasi Asam Fulvat Sumber : Stevenson (1994) Asam fulvat memiliki kadar oksigen 44%-54% % dan kadar nitrogen sebesar 0,7%-2,6% %. Kadar karboksil asam fulvat dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada asam humat (Tan, 1982). Menurut Lehninger (1982), air melarutkan berbagai senyawa organik yang mempunyai gugus karboksil. Kelarutannya terjadi karena adanya kecenderungan molekul air yang membentuk ikatan hidrogen. Komposisi kimia asam fulvat dan asam humat dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Persentase Komposisi Kimia Asam Fulvat dan Asam Humat Elemen C Asam Humat (%) 50 60 Asam Fulvat (%) 40 50 H 4 6 44 50 O 4 6 4 6 N 2 6 <2 6 S 0 2 0 2 Sumber : Stevenson (1982) Asam humat dan asam fulvat dapat diekstraksi dengan berbagai pereaksi seperti NaOH, Na 4 P 2 O 7, asetilaseton, cupferron, hidroksikuinolin, dan asam format. Namun yang memberikan hasil paling baik adalah NaOH (80%). Meskipun memberikan hasil yang cukup baik, NaOH juga memiliki kelemahan seperti halnya pereaksi lain, diantaranya yaitu larutan alkali dapat melarutkan 11

silika dari bahan mineral, protoplasma dan komponen dari jaringan organik segar sehingga bercampur dengan humus. Selain itu, autooksidasi beberapa senyawa organik dan reaksi kimia (kondensasi) juga dapat terjadi pada kondisi alkalin. Oleh karena itu banyak peneliti melakukan ekstraksi bertahap dengan mengkombinasikan beberapa pereaksi. Metode reaksi yang sering dipakai untuk memisahkan asam humat dan asam fulvat adalah metode berdasarkan International Humic Substances Society (IHSS). Pereaksi yang digunakan dalam metode ini ada dua, yaitu asam klorida dan NaOH (Stevenson, 1982). Separasi senyawa humat paling baik dengan menggunakan Na 4 P 2 O 7 0,1M dan NaOH 0,1N pada ph 13. Natrium dalam Na 4 P 2 O 7 akan menggantikan Ca, Fe dan Al yang terikat pada asam humat ataupun asam fulvat sehingga terbentuk larutan Nahumat/fulvat dan endapan Ca/Fe/Al-pirofosfat (Kononova, 1966). Gambar 2. Model Struktur Asam Fulvat Sumber : Buffle (1977) Asam fulvat ikut serta dalam semua proses kehidupan tanaman, hewan dan lain-lain. Asam fulvat berperan antara lain menyediakan elektrolit penting (Senesi, 1990), meningkatkan dan mengangkut zat makanan (Prakash, 1971), mengkatalisa reaksi enzim (Khristeva dan Luk Yaneko, 1962) dan merangsang metabolisme (Rashid, 1985). Selain itu asam fulvat juga dapat menurunkan deposit cadmium pada organ ginjal, hati dan otot pada ayam broiler (Herzig et al, 2007). Fungsi asam fulvat adalah : 1) transpor nutrien (mengikat mineral Na dan K dalam saluran pencernaan), 2) meningkatkan availabilitas (ketersediaan) zat nutrisi sehingga lebih mudah diabsorbsi, 3) meningkatkan aktivitas enzim dan melindungi saluran pencernaan dari bahan yang merugikan (Jackson, 1997). 12

Suplemen humat mempunyai efek pengobatan pada seluruh sistem pencernaan, menghilangkan racun dan infeksi, berperan sebagai antibiotik dan antivirus yang menghilangkan penyakit dalam aliran darah, mendukung sistem kekebalan dan meningkatkan kesehatan seluruh tubuh (Robert, 2001). Hasil penelitian Wulandari (2012) menyatakan bahwa suplementasi asam fulvat dalam ransum ayam broiler taraf 0,25%-1% yang dipelihara selama lima minggu memiliki bobot bursa fabrisius dan jumlah leukosit yang lebih tinggi dibandingkan dengan bobot bursa fabrisius dan jumlah leukosit pada ayam broiler yang tidak mendapat suplementasi asam fulvat. Hal ini menunjukkan bahwa ayam broiler yang mendapat suplementasi asam fulvat memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik terhadap stres dan serangan penyakit. Pengaruh penambahan asam fulvat dalam ransum terhadap bobot bursa fabrisius dan jumlah leukosit ayam broiler disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Bobot Bursa Fabrisius dan Jumlah Leukosit Ayam Broiler yang Mendapat Suplementasi Asam Fulvat Dalam Ransum Peubah R0 R1 R2 R3 R4 Bursa Fabrisius (gram) 0,74±0,22 0,79±0,08 0,87±0,15 0,74±0,16 0,92±0,08 Leukosit (ribu/mm 3 ) 9,12±6,15 21,2±9,3 17,4±7,5 17,2±2,9 18,6±3,7 Keterangan : R0 (ransum kontrol tanpa asam fulvat), R1 (R0 + 0,25% FA), R2 (R0 + 0,50% FA), R3 (R0 + 0,75% FA), R4 (R0 + 1,0% FA) Sumber : Wulandari (2012) Bailey et al. (1996) dan Kocabagli et al. (2002) mencobakan asam humat pada ayam sebagai growth promotor. Karaoglu et al. (2004) melaporkan tidak ada pengaruh pemberian suplemen asam humat terhadap bobot hidup akhir ayam broiler. Penggunaan asam fulvat sebagai imbuhan pakan pada ayam pedaging telah diteliti oleh Supriyati (2006), suplementasi asam fulvat pada air minum ayam dapat meningkatkan kinerja ayam pedaging, bobot hidup dan rasio konversi pakan. Asam fulvat juga mempunyai fungsi meningkatkan ketersediaan nutrien dan membuat nutrien mudah diserap, mentransfer nutrien, mengkatalis enzim pereaksi dan vitamin dalam sel, merangsang metabolisme atau sintesis, serta meningkatkan daya serap air dan gas sel membran (Supriyati, 2007). Kompiang et al. (2002) melaporkan adanya perbaikan perkembangan pertumbuhan bacillus 13

spp, mikroba yang digunakan sebagai probiotik, in vitro, dengan suplementasi asam humat pada media kultur. 14