PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP KEBUGARAN JASMANI SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER BULU TANGKIS DI MTs NEGERI YOGYAKARTA 2 TAHUN AJARAN 2016/2017

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Jasmani Melalui Bermain sirkuit 8 Pos Siswa kelas IV dan V SD Negeri

TINGKAT KESEGARAN JASMANI PESERTA EKSTRAKURIKULER SEPAKBOLA DI MTS HASYIM ASY ARI PIYUNGAN TAHUN AJARAN 2016/2017

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dari pretest dan postest. Data dalam penelitian ini berupa tes kesegaran

III. METODOLOGI PENELITIAN. sesuai dengan tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk

PENGARUH LATIHAN SIRKUIT TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI SISWA PUTRI. Jurnal. Oleh. Ramandhani Ardi Pratiwi

PENGARUH PERMAINAN LEMPAR SHUTTLECOCK TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PESERTA EKSTRAKURIKULER BULUTANGKIS SMP NEGERI 2 PLAYEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA

Abstrak. Kata kunci: Kebugaran jasmani, sepakbola gawang bergerak, permainan

Tingkat Kesegaran Jasmani...(Said Erwan Susanto)1

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER ATLETIK DI SMP NEGERI 1 TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL

III. METODE PENELITIAN. diinginkan. Menurut Arikunto (2006 : 3) penelitian eksperimen adalah suatu penelitian

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT AKTIVITAS JASMANI DENGAN KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS VIII SMP N 3 DEPOK YOGYAKARTA

Gde Ryan Saputra, Gede Doddy Tisna MS, Made Budiawan. Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia

INFLUENCE EXERCISE USING NET GAME THE IMPROVEMENT OF SET UP THE PARTICIPANTS IN EXTRACURRICULAR VOLLEYBALL AT SMK YPKK 1 SLEMAN YEAR 2015/2016

THE DIFFERENCE OF CARDIORESPIRATORY ENDURANCE LEVEL BETWEEN STRIKERS AND DEFENDERS OF FOOTBALL EXTRACURRICULAR AT SMA NEGERI 1 KOTA MUNGKID

PENGARUH BERMAIN SEPAKBOLA EMPAT GAWANG TERHADAP KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRA KELAS V SD NEGERI TLOGOADI MLATI SLEMAN DIY

PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRIC

BAB III METODE PENELITIAN

Pengaruh Pelatihan Air Alert Menggunakan Metode Latihan Interval terhadap Peningkatan Power Otot Tungkai

Kata Kunci: permainan modifikasi sepakbola, kesegaran jasmani, siswa putra tahun

HUBUNGAN KEMAMPUAN MOTORIK DENGAN TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 2 KLATEN

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

PERBEDAAAN TINGKAT KEBUGARAN JASMANI PESERTA LATIH EKSTRAKURIKULER SEPAKBOLA DAN BOLABASKET DI SMPN 14 YOGYAKARTA.

METODOLOGI PENELITIAN. yang selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu

PENGARUH LATIHAN BOX SKIP TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER KARATE DI SMP N 1 KALASAN, SLEMAN

PENGARUH METODE BAGIAN TERHADAP HASIL LATIHAN KETERAMPILA TEKNIK DRIBLING

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pandega wreksa 10 Jalan Kaliurang 5,6 Yogyakarta, latihan bertempat di

PENGARUH LATIHAN SHOOTING

PERBANDINGAN TINGKAT KEBUGARAN JASMANI ANTARA SISWA PROGRAM IPA DAN SISWA PROGRAM IPS KELAS XII DI SMA NEGERI 1 LAMONGAN

ANALISIS TINGKAT KESEGARAN JASMANI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKESREK IKIP PGRI PONTIANAK

Perbedaan Ketepatan Overhead...(Ardiansyah Trias D) 1

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dalam satu minggu yaitu Selasa, Kamis, Sabtu pukul sampai dengan WIB.

PENGARUH PELATIHAN ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP KECEPATAN DAN POWER OTOT TUNGKAI

PENGARUH LATIHAN SKIPPING TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT TUNGKAI JURNAL. Oleh RULIYADI S

Luh Putu Tuti Ariani. Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha

Hubungan Kemampuan Servis. (Ibnu Nur Budiawan)

PERBEDAAN KEEFEKTIFAN ANTARA LAY UP SHOOT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah latihan half squat jump dan split

KEMAMPUAN PUKULAN SERVIS PANJANG, LOB DAN SMASH DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER BULUTANGKIS SMP MUHAMMADIYAH 2 DEPOK

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimen murni diartikan sebagai

PENGARUH PERMAINAN TARGET TERHADAP KETEPATAN BACKHAND SERVICE

PENGARUH LATIHAN CIRCUIT BODY-WEIGTH TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN DAN PERSENTASE LEMAK TUBUH MAHASISWA BATAK KARO DI KOTA YOGYAKARTA

PENGARUH LATIHAN KEKUATAN OTOT LENGAN TERHADAP KEMAMPUAN SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI MAHASISWA PUTRA

PERBANDINGAN LATIHAN SPEED PLAY DAN LATIHAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP KECEPATAN LARI SPRINT 100 METER DI SMAN 4 TAMBUN SELATAN

BAB III METODE PENELITIAN. teknik pengumpulan datanya menggunakan tes dan pengukuran, sehingga

NET TRAINING METHOD EFFECT FOR OVERHEAD PASS ABILITY OF BASKETBALL EXTRACURRICULAR MEMBERS IN RANDUDONGKAL SENIOR HIGH SCHOOL, PEMALANG REGENCY

PENGARUH LATIHAN SMASH SASARAN TETAP DAN SASARAN BERUBAH TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SMASH PADA ATLET BULUTANGKIS DI PB AC QUALITY YOGYAKARTA

PENGARUH METODE PART AND WHOLE TERHADAP HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR SERVIS BAWAH BOLAVOLI PADA EKSTRAKURIKULER BOLAVOLI DI SMP N 4 PACITAN

PENGARUH PELATIHAN INTERVAL TERHADAP DAYA TAHAN KARDIOVASKULAR DAN KECEPATAN

Bayu Puspayuda*,Made Darmada**, Putu Citra Permana Dewi***

TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA SMPN 4 DEPOK BERDASARKAN PRESTASI BELAJAR

Idris Mohamad mahasiswa pada Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga ; Drs. Ahmad Lamusu, S.Pd M.Pd dosen pada Jurusan Pendidikan Keolahragaan dan

BAB I PENDAHULUAN. dimainkan oleh berbagai kelompok umur, dari anak-anak, pemula, remaja, dewasa

I. PENDAHULUAN. watak serta peradaban bangsa yang bermatabat, dan merupakan salah satu tujuan

1. DR. NASUKA M.Kes 2. TB WIDYO ALPIES NS PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA, S1 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG ABSTRAK

Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Volume 1 : Hal , Januari 2017

PROFIL KONDISI FISIK MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN TAHUN ANGKATAN 2014 UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENGARUH LONCAT KATAK DAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH. Jurnal. Oleh JODIEKA PERMADI

PENGARUH LATIHAN BOLA LEWAT NET DAN LATIHAN DRILL PASSING

PENGARUH LATIHAN KELINCAHAN-LATIHAN KECEPATAN TERHADAP KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL DI MTS N 2 YOGYAKARTA

PENGARUH LATIHAN SMALL SIDE GAME TERHADAP KEBUGARAN JASMANI SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER SEPAKBOLA DI SMP NEGERI 1 PAKEM, SLEMAN TAHUN 2016 E-JOURNAL

METODE PENELITIAN. perlakuan (treatment), seperti pendapat Thomas dan Nelson (1997:352).

PENGARUH LATIHAN VARIASI UMPAN TERHADAP KETERAMPILAN SEPAK SILA PADA SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER DI SMP NEGERI 2 GODEAN

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI DAN VO2MAX DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA. Jurnal. Oleh. Arif Cahyanto

III METODE PENELITIAN

PENGARUH TEKNIK SQ3R TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP JAUH LOMPATAN PADA OLAHRAGA ATLETIK NOMOR LOMPAT JAUH SISWA KELAS X SMK PGRI WLINGI KAB.

2015 KONSTRUKSI TES KELINCAHAN D ALAM CABANG OLAHRAGA BULUTANGKIS

PENGARUH PELATIHAN JUMP SERVICE DENGAN DAN TANPA AWALAN TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI

THE EFFECT OF SKIPPING ROPE EXERCISE ON THE LEG MUSCLE POWER IN MEN S BASKETBALL PLAYERS EXTRACULICULAR SMA HANDAYANI

Pengaruh Pendekatan Keterampilan Taktis Terhadap Ketepatan Smash Bulutangkis Di SMA Muhammadiyah 1 Kota Pontianak

PENGARUH PELATIHAN MEDICINE BALL SIT-UP THROW TERHADAP KEKUATAN OTOT LENGAN DAN OTOT PUNGGUNG

BAB III METODE PENELITIAN. artinya penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan kausalita atau

PROGRAM STUDI PENJASKESREK FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2015

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN, KELINCAHAN DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA PEMAIN SEPAKBOLA SSB BENGKULU USIA TAHUN

Hubungan Antara Gaya (Yundhi Arfianto) Kata kunci: Gaya Hidup sehat, Tingkat Kesegaran Jasmani, Kelas VIII

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini menggunakan komparatif. Menurut Ulber (2005)

Pengaruh Permainan Lompat...(Guntur Ariwibowo)

HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT LENGAN DAN POWER

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL BEBENTENGAN TERHADAP PENINGKATAN VO2 MAX PESERTA EKSTRAKURIKULER PENCAK SILAT

UPAYA MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI SISWA MELALUI PENDIDIKAN JASMANI ARTIKEL PENELITIAN RUSADI PARYANTO NIM : F

HUBUNGAN POWER OTOT TUNGKAI DAN KECEPATAN LARI TERHADAP KCEPATAN TENDANGAN PENALTI JURNAL. Oleh SINGGIH PRADITO

Cara Meningkatkan Kebugaran Jasmani

PENGARUH PELATIHAN DOWN THE LINE DRILL TERHADAP KELINCAHAN DAN POWER OTOT TUNGKAI

PERBEDAAN TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA SDN 16 PULAU BINJAI DENGAN SDN 22 RANTAU SILANG KECAMATAN KUANTAN MUDIK

PENGARUH PELATIHAN LOMPAT KATAK TERHADAP KEKUATAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMPN 4 SINGARAJA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

TINGKAT KESEGARAN JASMANI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKESREK UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI TAHUN AKADEMIK 2014/2015 SKRIPSI

III. METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH KEKUATAN OTOT LENGAN TERHADAP KETEPATAN SERVICE ATAS BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA SMP PGRI 1 KEDIRI TAHUN AJARAN 2014/2015 ARTIKEL SKRIPSI

PENGARUH PERMAINAN LEMPAR SHUTTLECOCK TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PUKULAN LOB

HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KOORDINASI MATA-TANGAN DENGAN KEMAMPUAN PASSING

TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA EKSTRAKURIKULER BOLA VOLI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 RASAU JAYA

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Jurusan PJKR OLEH:

PENGARUH METODE LATIHAN TEKNIK DISTRIBUSI TERHADAP KETERAMPILAN DRIBBLING ZIG ZAG PERMAINAN FUTSAL

SURVEY TINGKAT KEBUGARAN JASMANI MAHASISWA BARU PENJASKES STKIP-PGRI PONTIANAK TAHUN 2013

PENGARUH PELATIHAN YOGA ASANA (SURYANAMASKAR) TERHADAP KELENTUKAN DAN KAPASITAS VITAL PARU

E-JOURNAL. Oleh Nungki Fortuna Dewi NIM

Kata kunci : Pengaruh Latihan Medicine Ball, Kekuatan, Kemampuan Akurasi Groundstroke.

BAB III METODE PENELITIAN. membantu mengungkapkan suatu permasalahan yang akan dikaji kebenarannya,

HUBUNGAN ANTARA KEBUGARAN JASMANI DENGAN KETERAMPILAN BERMAIN BULUTANGKIS. (Jurnal Skripsi) Oleh KHAMID ASNAWI

Transkripsi:

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP KEBUGARAN JASMANI SISWA PESERTA EKSTRAKURIKULER BULU TANGKIS DI MTs NEGERI YOGYAKARTA 2 TAHUN AJARAN 216/217 EFFECT OF CIRCUIT TRAINING ON THE STUDENTS PHYSICAL FITNESS OF BADMINTON EXTRACURRICULAR PARTICIPANTS IN MTS NEGERI YOGYAKARTA 2 ACADEMIC YEAR 216/ 217 Oleh Email : Adityo Putra Anindita : putraaninditaa@yahoo.co.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh circuit training terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain The One Group - Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 yang berjumlah 24 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kebugaran jasmani yaitu tes TKJI untuk anak usia 13-15 tahun. Analisis data menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan circuit training terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis 216/217, dengan nilai t hitung 13,723 > t tabel 2,69, dan nilai signifikansi, <,5, dan kenaikan persentase sebesar 24,67 %, sehingga Ho ditolak sedangkan Ha diterima. Kata Kunci: circuit training, kebugaran jasmani, ekstrakurikuler bulu tangkis Abstract The research intends to determine the effect of circuit training on the improvement of physical fitness of the badminton extracurricular participant students in MTs Yogyakarta 2 academic year 216/217. This research was experiment with the of "The One Group - Design" design. The population in this research were male student extracurricular participants of badminton in MTs Yogyakarta 2 academic year 216/217 of 24 students. The instrument used to measure the physical fitness was TKJI test for children aged 13-15 years. The data analysis was by using t test with significance level 5 %. The results show that there is a significant effect of circuit training to increase physical fitness of the badminton extracurricular participant students in MTs Yogyakarta 2 academic year 216/217, with the t count 13.723 t > t table 2.69, and significance value. <.5, and the percentage improvement 24.67 %, so that Ho is declined while Ha is accepted. Keywords: circuit training, physical fitness, badminton extracurricular PENDAHULUAN Bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga permainan net yang populer di Indonesia baik di kalangan masyarakat atas hingga kalangan bawah, pada usia anak-anak hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Bulu tangkis termasuk olahraga yang mudah diterima oleh masyarakat. Bulu tangkis telah menyebar di pelosok-pelosok Indonesia dikarenakan dengan olahraga ini Indonesia dapat dikenal di kancah Internasional terwujud dengan prestasiprestasi yang telah diraih oleh atlet-atlet Indonesia. Untuk menjaga nama baik bulu tangkis Indonesia sangat perlu peningkatan prestasi agar tetap membawa harum nama Indonesia untuk generasi berikutnya. Permainan bulu tangkis merupakan permainan net karena salah satu sarana dan prasarana dalam permainan ini adalah net. 1 Alat pokok lainnya yang harus ada yaitu raket dan shuttlecoks yang dipukul melewati net. Permainan bulu tangkis dapat dimainkan baik putra maupun putri dengan pembagian kelas tugggal dan ganda. Adapun kelas-kelasnya adalah tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Dalam permainan bulu tangkis seorang pemaian sering melakukan gerakan lari cepat, berhenti tiba-tiba, dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan gerakan langkah panjang dan pendek. Selain itu diperlukan juga teknik dasar berupa posisi tangan memegang raket, gerakan pergelangan, gerakan melangkah (footwork), pemusatan pikiran atau konsentrasi, dan daya tahan tubuh agar prestasi yang diharapkan dapat terwujud. Agar pemain dapat melakukan gerakan tersebut dengan baik, perlu aksi reaksi tubuh

yang baik yang didorong dengan kebugaran jasamani yang baik pula. Kebugaran jasmani yang baik merupakan dambaan setiap orang yang ingin tampil dinamis dan produktif. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak orang yang melakukan kegiatan olahraga terutama pada waktu luang dan hari libur. Meskipun demikian ada sebagian masyarakat belum menyadari akan pentingnya kualitas kebugaran jasmani, sehingga perlu dilakukan pembinaan secara formal maupun nonformal. Kebugaran jasmani merupakan faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak, karena tingkat kebugaran jasmani seseorang menentukan kemampuan fisiknya dalam menjalani kehidupan seharihari. Semakin bagus tingkat kebugaran jasmani seseorang, semakin tinggi pula kemampuan kerja fisiknya. Sekolah sebagai lembaga formal yang dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi merupakan sarana yang tepat dalam membentuk kebugaran jasmani anak. Semua kegiatan kebugaran jasmani direncanakan dan diarahkan, agar tujuan yang telah ditetapkan menghasilkan pencapaian perubahan sikap yang positif pada siswa. Dengan kebugaran jasmani yang baik diharapkan siswa mampu belajar dengan semangat, tidak mudah terserang penyakit, berprestasi secara optimal, dan mampu menghadapi tantangan baik di sekolah maupun luar sekolah. Latihan sirkuit (circuit training) merupakan bentuk latihan yang terdiri atas beberapa bagian yang bisa digunakan untuk berlatih secara berkelompok dengan bentukbentuk latihan yang berbeda-beda sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Menurut Harsono (21: 39) circuit training adalah suatu sistem latihan yang dapat memperbaiki secara serempak fitness keseluruhan dari tubuh yaitu unsur power, daya tahan, kekuatan, kelincahan, kecepatan, dan komponen fisik lainnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh MTs Negeri Yogyakarta 2 di antaranya ekstrakurikuler bulu tangkis. Pelaksanaan ekstrakurikuler tersebut bertujuan untuk menyalurkan minat peserta didik serta untuk mencari peserta didik yang mempunyai bakat dalam cabang olahraga tersebut. Kegiatan ekstrakurikuler bulu tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2 diikuti oleh siswa putra dan siswa putri yang berjumlah 4 siswa yang terdaftar, namun siswa yang aktif 35 anak. Peneliti melakukan observasi pada di MTs Negeri Yogyakarta 2 yang dilaksanakan di gedung serba guna De Muscle. Ekstrakurikuler bulu tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2 termasuk ekstrakurikuler yang paling diminati siswa dibanding ekstrakurikuler lainnya. Dari observasi tampak seluruh peserta ekstrakurikuler yang melakukan latihan terlihat mengalami kelelahan sehingga penampilan saat bermain semakin menurun terlihat ketika siswa melakukan pukulan lob dan smash. Pukulan lob yang dilakukan tidak sampai di lapangan lawan bagian belakang, sedangkan pukulan smash tidak terlihat keras terkadang menyangkut di net. Beberapa siswa yang diwawancari menyatakan bahwa siswa mengalami kelelahan pada saat bermain dikarenakan program latihan yang diberikan pelatih tidak teratur. Dari hasil diskusi dengan pelatih dari ekstrakurikuler bulu tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2, diperoleh informasi bahwa siswa kurang mendapatkan latihan-latihan untuk melatih kebugaran jasmani. Masalah yang dihadapi pelatih yaitu kondisi kebugaran jasmani siswa yang kurang. Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat mengangkat masalah dengan judul Pengaruh Circuit Training terhadap Kebugaran Jasmani Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk menghubungkan kausalitas atau sebab-akibat. Desain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu One Group - Design, yaitu desain penelitian yang terdapat pretest sebelum diberi perlakuan dan postest setelah diberi perlakuan (treatment) (Sugiyono, 27: 64). Penelitian dilakukan selama 16 kali pertemuan dengan waktu 6 minggu. Penelitian ini akan membandingkan hasil pretest dan posttest kebugaran jasmani siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217. Desain penelitian digambarkan sebagai berikut: O 1 X O 2 2

Keterangan: O 1 : Pengukuran Awal (). X : Perlakuan (Treatment). O 2 : Pengukuran Akhir (). Definisi Operasional Variabel Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu kebugaran jasmani dan latihan sirkuit. 1. Kebugaran jasmani adalah kemampuan 216/217 untuk melakukan pekerjaan atau menunaikan tugasnya sehari-hari dengan cukup kekuatan dan daya tahan, tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, sehingga masih terdapat sisa tenaga yang berarti digunakan untuk menikmati waktu luang yang datangnya secara tiba-tiba atau mendadak yang diukur dengan TKJI yang terdiri atas: (1) lari 5 meter menggunakan tes lari 5 meter dengan satuan detik, (2) tes gantung angkat tubuh menggunakan tes pull up, (3) baring duduk 6 detik dengan tes sit up, (4) loncat tegak dengan tes vertical jump dengan satuan sentimeter, dan (5) lari 1 meter menggunakan tes lari 1 meter dengan satuan menit. 2. Latihan sirkuit adalah bentuk latihan yang dilakukan oleh siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 yang terdiri atas sepuluh pos yaitu shuttle run, naik turun bangku, melompat kedua kaki naik bangku (bench jump), push up, sit up, back up, side up (lompat samping), mengangkat dumble, lompat katak (frog jump), dan pukul shuttlecock dengan catatan latihan dinyatakan selesai apabila seseorang telah menyelesaikan latihan di semua pos sesuai dengan porsi serta waktu yang telah ditetapkan. Subjek Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto (26: 36) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis di MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 yang berjumlah 24 siswa aktif dan dijadikan sebagai subjek penelitian. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Suharsimi Arikunto (26: 69) menyatakan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes kebugaran jasmani untuk anak umur 13-15 tahun (Depdiknas, 1995: 12). Pemilihan tes ini dikarenakan tes ini telah lazim digunakan dan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Selain itu tes ini relatif mudah untuk dilakukan dengan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya sehingga layak digunakan untuk pengambilan data penelitian. Tes kebugaran jasmani Indonesia yang dikeluarkan oleh Depdiknas ini telah disepakati dan ditetapkan menjadi suatu instrumen yang berlaku di seluruh Indonesia, oleh karena telah teruji reliabilitas dan validitasnya, yaitu: a. Rangkaian tes untuk anak umur 13-15 tahun mempunyai nilai reliabilitas: untuk putra reliabilitasnya sebesar,96, putri,84. b. Rangkaian tes untuk anak umur 13-15 tahun mempunyai nilai validitas: untuk putra validitas sebesar,95, putri,923. Penelitian ini menggunakan rangkaian tes TKJI usia 13-15 tahun yang terdiri atas lima tes, yaitu: a. Lari 5 meter menggunakan tes lari 5 meter dengan satuan detik b. Tes gantung angkat tubuh menggunakan tes pull up, c. baring duduk 6 detik dengan tes sit up, d. Loncat tegak dengan tes vertical jump dengan satuan sentimeter, dan e. Lari 1 meter menggunakan tes lari 1 meter dengan satuan menit. Teknik Analisis Data Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, perlu dilakukan uji prasyarat. Pengujian data hasil pengukuran yang berhubungan dengan hasil penelitian bertujuan untuk membantu analisis agar menjadi lebih baik. Untuk itu dalam penelitian ini akan diuji normalitas dan homogenitas data. 1. Uji Prasyarat a. Uji Normalitas Uji normalitas tidak lain sebenarnya adalah mengadakan pengujian terhadap normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. Pengujian yang dilakukan bergantung 3

pada variabel yang akan diolah. Pengujian normalitas sebaran data menggunakan chi kuadrat test dengan bantuan SPSS 2. Jika nilai p >,5, data normal, akan tetapi sebaliknya jika hasil analisis menunjukkan nilai p <,5, data tidak normal. Menurut Sugiyono (211: 17) rumus chi kuadrat itu sebagai berikut: ଶ = ݔ ଵ ( ) Keterangan: ଶ : Chi Kuadrat. diobservasi. : Frekuensi yang ܨ diharapkan. hܨ : Frekuensi yang b. Uji Homogenitas Di samping pengujian terhadap penyebaran nilai yang akan dianalisis, perlu uji homogenitas agar yakin bahwa kelompok-kelompok yang membentuk sampel berasal dari populasi yang homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan mengunakan uji F, jika hasil analisis menunjukkan nilai p.5, data tersebut homogen, akan tetapi jika hasil analisis data menunjukkan nilai p.5, data tersebut tidak homogen. Menurut Sugiyono (211: 125) rumus uji F itu sebagai berikut: ݎ ݏ ݎ ݐݏ ݎ = ܨ ݎ ݐݏ ݎ Keterangan: F : Nilai f yang dicari. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis menggunakan uji-t dengan bantuan program SPSS 2 yaitu dengan membandingkan mean antara pretest dan posttest. Uji-t yaitu uji hipotesis mengenai perbedaan mean dari dua sampel. Apabila nilai t hitung t tabel, Ho diterima dan Ha ditolak, jika t hitung t tabel, Ho ditolak dan Ha diterima. Untuk mengetahui persentase peningkatan setelah diberikan perlakuan digunakan perhitungan persentase peningkatan dengan rumus sebagai berikut (Sutrisno Hadi, 1991: 31): peningkatan = Mean Different x 1 % Mean Mean Different = mean posttest-mean pretest. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN pretest dan posttest kebugaran jasmani pada 216/217, didapat nilai minimal = 1,, nilai maksimal = 14,, rata-rata (mean) = 12,67, dengan simpang baku (standar. deviation) = 1,1, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 14,, nilai maksimal = 18,, rata-rata (mean) = 15,79, dengan simpang baku (standar. deviation) = 1,22. grafik, data pretest dan posttest kebugaran jasmani pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 dapat dibuat diagram pada Gambar 1 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 79,17% 91,67% 2,83% 8,33% Gambar 1. Diagram Batang dan Kebugaran Jasmani pada Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa pretest kebugaran jasmani pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 79,17 % (19 siswa), sedang 2,83 % (5 siswa), Baik ( siswa), dan sangat baik % ( siswa). Selanjutnya, Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa posttest kebugaran jasmani pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang % ( siswa), sedang 91,67 % (22 siswa), Baik 8,33% (2 siswa), dan sangat baik % ( siswa). Nilai rata-rata 4

pretest dan posttest 15,73 masuk dalam kategori sedang. Hasil pretest dan posttest tiap-tiap komponen kebugaran jasmani yang terdiri atas, lari 5 m, gantung siku tekuk, baring duduk, loncat tegak, dan lari 1 m disajikan sebagai berikut: 1. Lari 5 m pretest lari 5 m siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, didapat nilai minimal = 7,12, nilai maksimal = 9,42, rata-rata (mean) = 8,32, dengan simpang baku (standar. deviation) =,48, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 6,82, nilai maksimal = 9,1, rata-rata (mean) = 7,86, dengan simpang baku (standar. deviation) =,65. grafik, data lari 5 m siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 tampak pada Gambar 2 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 16,67% 8,33% 79,17% 45,83% 45,83% 4,17% Gambar 2. Diagram Batang dan Lari 5 m Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa pretest lari 5 m pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 16,67 % (4 siswa), sedang 17,17 % (19 siswa), Baik 4,17 % (1 siswa), dan sangat baik ( siswa). Selanjutnya, Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa posttest lari 5 m pada 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 8,33 % (2 siswa), sedang 45,83 % (11 siswa), Baik 45,83 % (11 siswa), dan sangat baik % ( siswa). 2. Gantung Angkat Tubuh (GAT) pretest gantung siku tekuk siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, didapat nilai minimal = 3,, nilai maksimal = 11,, rata-rata (mean) = 8,8, dengan simpang baku (standar deviation) = 2,32, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 5,, nilai maksimal = 14,, rata-rata (mean) = 1,83, dengan simpang baku (standar deviation) = 2,43.. grafik, maka data pretest dan posttest gantung angkat tubuh siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 tampak pada Gambar 3 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 16,67% 8,33% 7,83% 29,17% 62,5 12,5 Gambar 3. Diagram Batang dan Gantung Angkat Tubuh Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa pretest Gantung Angkat Tubuh (GAT) pada 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 16,67 % (4 siswa), sedang 7,83 % (17 siswa), Baik 12,5 % (3 siswa), dan sangat baik % ( siswa). Selanjutnya Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa posttest Gantung Angkat Tubuh (GAT) pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 8,33 % (2 siswa), sedang 29,17 % (7 siswa), Baik 62,5 % (15 siswa), dan sangat baik % ( siswa). 5

3. Baring Duduk pretest baring duduk siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, didapat nilai minimal = 15,, nilai maksimal = 27,, rata-rata (mean) = 2,83, dengan simpang baku (standar deviation) = 3,86, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 19,, nilai maksimal = 29,, rata-rata (mean) = 23,67, dengan simpang baku (standar deviation) = 3,77 grafik, maka data pretest dan posttest baring duduk siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 tampak pada Gambar 4 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 7,83% 41,67% 58,33% 29,17%,, Gambar 4. Diagram Batang dan Baring Duduk Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa pretest Baring Duduk pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 41,67 % (1 siswa), sedang 58,33 % (14 siswa), Baik % ( siswa), dan sangat baik % ( siswa). Selanjutnya Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa posttest Baring Duduk pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang % ( siswa), sedang 7,83 % (17 siswa), Baik 29,17 % (7 siswa), dan sangat baik % ( siswa). 4. Loncat Tegak pretest loncat tegak siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, didapat nilai minimal = 23,, nilai maksimal = 42,, rata-rata (mean) = 33,83, dengan simpang baku (standar deviation) = 4,98, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 25,, nilai maksimal = 44,, rata-rata (mean) = 35,58, dengan simpang baku (standar deviation) = 4,98. grafik, data pretest dan posttest loncat tegak 216/217 tampak pada Gambar 5 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 29,17% 4% 7,83% 66,67% 25, 4,17%,, Gambar 5. Diagram Batang dan Loncat Tegak Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 5 di atas menunjukkan bahwa pretest loncat tegak pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar 29,17 % (7 siswa), kurang 66,67 % (16 siswa), sedang 4,17 % (1 siswa), Baik % ( siswa), dan sangat baik % ( siswa). Selanjutnya Gambar 5 di atas menunjukkan bahwa posttest loncat tegak pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar 4,17 % (1 siswa), kurang 7,83 % (17 siswa), sedang 7,83 % (17 siswa), Baik 25, % (6 siswa), dan sangat baik % ( siswa). 5. Lari 1 m pretest lari 1 m siswa peserta 6

Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, didapat nilai minimal = 3,16, nilai maksimal = 6,7, rata-rata (mean) = 4,2, dengan simpang baku (standar deviation) =,76, sedangkan posttest didapat nilai minimal = 3,4, nilai maksimal = 6,3, rata-rata (mean) = 4,7, dengan simpang baku (standar deviation) =,75. grafik, data pretest dan posttest loncat tegak 216/217 tampak pada Gambar 6 sebagai berikut: 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 4,17% 45,83% 45,83% 41,67% 41,67% 12,5 4,17% 4,17% Gambar 6. Diagram Batang dan lari 1 m Siswa Peserta Ekstrakurikuler Bulu Tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 Tahun Ajaran 216/217 Gambar 6 di atas menunjukkan bahwa pretest lari 1 m pada siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar 4,17 % (1 siswa), kurang 45,83 % (11 siswa), sedang 45,83 % (11 siswa), Baik 4,17 % (1 siswa), dan sangat baik % ( siswa). Selanjutnya Gambar 6 di atas menunjukkan bahwa posttest lari 1 m pada 216/217 berada pada kategori kurang sekali sebesar % ( siswa), kurang 12,5 % (3 siswa), sedang 41,67 % (1 siswa), Baik 41,67 % (1 siswa), dan sangat baik 4,17 % (1 siswa). Hasil Uji Prasyarat 1. Uji Normalitas Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel-variabel dalam penelitian mempunyai sebaran distribusi normal atau tidak. Penghitungan uji normalitas ini menggunakan rumus chi 7 kuadrat test, dengan pengolahan menggunakan bantuan komputer program SPSS 2. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Uji Normalitas Kelompok p Sig. Keterangan,193,5 Normal,142,5 Normal Dari hasil Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa semua data memiliki nilai p (Sig.) >.5, maka variabel berdistribusi normal. 2. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas berguna untuk menguji kesamaan sampel yaitu seragam atau tidak varian sampel yang diambil dari populasi. Kaidah homogenitas jika p >.5, tes dinyatakan homogen, jika p <.5, tes dikatakan tidak homogen. Hasil uji homogenitas penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Uji Homogenitas Kelompok df1 df2 Sig. Keterangan - Postest 1 46,54 Homogen Dari Tabel 2 di atas dapat dilihat nilai pretest sig. p,54 >,5 sehingga data bersifat homogen. Hasil Uji Hipotesis Uji-t digunakan untuk menguji hipotesis yang berbunyi ada pengaruh circuit training terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217, berdasarkan hasil pretest dan posttest. Apabila hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan, latihan circuit training memberikan pengaruh terhadap peningkatan kebugaran jasmani siswa. Kesimpulan penelitian dinyatakan signifikan jika nilai t hitung > t tabel dan nilai sig lebih kecil dari.5 (Sig <.5). Berdasarkan hasil analisis diperoleh data pada Tabel 3. Tabel 3. Uji-t Hasil dan Kebugaran Jasmani Kelompok Rata -rata 12,6 667 15,7 917 t-test for Equality of Means t ht t tb Sig, Selisih % 13, 72 3 2,6 9, 3,125 23, 86 %

Hasil uji-t dapat dilihat bahwa t hitung 13,723 dan t tabel 2,68 (df 23) dengan nilai signifikansi p sebesar,. Oleh karena t hitung 13,723 > t tabel 2,69, dan nilai signifikansi, <,5, hasil ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan circuit training terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada 216/217, diterima. Artinya, circuit training memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebugaran jasmani pada 216/217. Data pretest memiliki rerata 12,67, selanjutnya pada saat posttest rerata mencapai 15,79. Besarnya peningkatan kebugaran jasmani tersebut dapat dilihat dari perbedaan nilai rata-rata yaitu sebesar 3,4, dengan kenaikan persentase sebesar 24,67 %. Uji-t tiap-tiap komponen kebugaran jasmani yang terdiri atas, lari 5 m, gantung angkat tubuh, baring duduk, loncat tegak, dan lari 1 m dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Uji-t Hasil dan Komponen Kebugaran Jasmani Kelompok Lari 5 m GAT Baring Duduk Loncat Tegak Lari 1 m Rata -rata 8,32 33 4,4 7,85 1 83 8,8 33 8,5 1,8 96 333 2,8 333 8,1 23,6 12 667 33,8 333 6,6 35,5 26 833 4,2 17 2,3 4,7 9 21 t-test for Equality of Means t ht t tb Sig. 2,6 9 2, 69 2, 69 2, 69 2, 69,,,,,2 5 Selisi h,465 2,75 2,833 3 % 5,59 3,9 3 13,6 1,75 8,4,129 5 3,8 Tabel 4 di atas, menunjukkan bahwa t hitung > t tabel 2,64, dan nilai signifikansi p <,5, maka hasil ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Artinya circuit training memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan tiap-tiap komponen kebugaran jasmani siswa peserta Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217. Pembahasan Berdasarkan analisis data hasil penelitian diperoleh peningkatan yang signifikan terhadap kelompok yang diteliti. Pemberian perlakuan circuit training selama 12 kali pertemuan memberikan pengaruh terhadap kebugaran jasmani pada siswa peserta ekstrakurikuler bulu tangkis MTs Negeri Yogyakarta 2 tahun ajaran 216/217. Hasil uji-t menunjukkan bahwa latihan sirkuit memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada 216/217. Kebugaran jasmani mengalami peningkatan setelah mendapat treatment latihan sirkuit dengan ditunjukkan oleh nilai posttest lebih besar dari pada nilai prettest. Hal ini dibuktikan dengan nilai kenaikan persentase sebesar 24,67 %. Hal ini diperkuat oleh Herman Subarjah (212: 12) yang menyatakan bahwa latihan sirkuit, didasarkan pada asumsi bahwa seorang atlet akan dapat mengembangkan kekuatan, daya tahan, stamina kelincahan dan total fitness dengan cara melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dalam suatu jangka waktu tertentu. Latihan sirkuit dapat meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik, hasilnya juga linier dengan penelitian ini yaitu, peningkatan kondisi stamina disebabkan latihan sirkuit dengan periodisasi jangka pendek, yang secara terprogram selama enam minggu dan tiga kali latihan selama satu minggunya, dijalankan sesuai prosedur program latihan. Menurut Harsono, (215: 226) dengan latihan yang teratur dan intensif, atlet akan makin lama akan makin mampu untuk bekerja lebih lama tanpa oksigen. Atlet yang melakukan hal demikian yang akan memiliki kondisi stamina yang tinggi. Latihan sirkuit merupakan model latihan yang mengombinasikan antara latihan kekuatan, power, kecepatan, dan latihan daya tahan anaerobik ataupun daya tahan aerobik. Latihan sirkuit dapat dikatakan dapat memengaruhi kualitas stamina atlet dalam jangka pendek. Hal ini dikarenakan latihan sirkuit mencakup hampir semua komponen kondisi fisik yang dilakukan dengan tempo tinggi secara serempak dalam waktu yang 8

relatif singkat (Yuyun Yudiana, dkk., 212: 12). Gerakan latihan sirkuit didasarkan asumsi bahwa seseorang akan meningkat kekuatan, daya tahan, kelincahan, stamina, total fitness dengan jalan melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dalam jangka waktu tertentu atau melakukan pekerjaan dengan waktu sesingkat-singkatnya. Gerakan singkat dan cepat ini akan menggunakan sistem energi anaerobik yang akan merangsang peningkatan kondisi stamina atlet secara efektif (Herman Subardjah, 212: 12). Latihan fisik secara teratur, sistematis, terprogram, dan berkesinambungan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan dalam program latihan sehingga dapat meningkatkan kualitas fisik. Setiap cabang olahraga menuntut kondisi fisik dan kualitas fisik yang berbeda, hal ini sesuai dengan karakteristik cabang olahraga. Kondisi fisik merupakan persyaratan penting yang harus dimiliki seorang pemain dalam meningkatkan dan mengembangkan prestasi olahraga yang optimal, sehingga segenap faktor komponen kondisi fisik harus dikembangkan dan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bulu tangkis merupakan olahraga yang membutuhkan daya tahan keseluruhan, di samping menunjukkan ciri sebagai aktivitas jasmani yang memerlukan kemampuan anaerobik, jika disimak dari aspek pelaksanaan stroke satu per satu. Meskipun demikian, rangkaian kegiatan secara keseluruhan yang dilaksanakan dalam suatu permainan, menunjukkan sifat sebagai cabang anaerobik-aerobik dominan. Ciri ini disimpulkan dari sifat cabang olahraga bulu tangkis berdasarkan tuntunan kondisi fisik. Permainan bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang membutuhkan kebugaran jasmani yang baik. Pentingnya kebugaran jasmani dalam bermain bulu tangkis mempunyai pengaruh besar dalam penampilan ketika permainan berlangsung. Daya tahan jantung paru baik akan memberikan permainan bulu tangkis yang baik pula disusul dengan komponen kebugaran lainnya. Beberapa gerakan yang membutuhkan kebugaran jasmani seperti melompat, berbalik, meloncat, lari pendek, memukul smash, memukul lob, dan zig-zag. Kebugaran jasmani dipandang sangat penting untuk ditingkatkan agar penampilan bermain tidak mengalami penurunan kualitas bermain. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan circuit training terhadap peningkatan kebugaran jasmani pada 216/217. Saran Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: 1. Bagi peneliti selanjutnya agar menambah variabel pembanding. 2. Dalam skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengembangkan dan menyempurnakan penelitian ini dengan melakukan penelitian seminggu empat kali. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional. (1995). Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. Jakarta: Depdiknas. Harsono. (21). Coaching dan Aspek Aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta: PT Dirjen Dikti P2LPT. Harsono. (215). Periodesasi Program Pelatihan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Herman Subardjah. (2). Bulutangkis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sugiyono. (211). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D. Bandung: Alfabeta. Suharsimi Arikunto. (26). Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta. 9

Sutrisno Hadi. (1991). Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset. Yuyun Yudiana, Herman Subarjah, dan Tite Juliantine. (212). Latihan Fisik. FPOK-UPI. 1