GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 60 TAHUN 2015. TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN LINDUNG DAN HUTAN PRODUKSI DI PROVINSI SUMATERA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015, dimana Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu merupakan salah satu sub urusan bidang kehutanan menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi; b. bahwa dengan belum ditetapkannya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberian Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu yang menjadi kewenangan provinsi dan untuk menghindari terjadinya stagnasi penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, maka perlu diatur tata cara pemberian izinnya; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Tata Cara Pemberian Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Lindung dan Hutan Produksi Di Provinsi Sumatera Barat.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerahdaerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1646); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 48140); 6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.46/Menhut- II/2009 tentang Tata Cara Pemberian Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu dan Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Produksi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 216). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN LINDUNG DAN HUTAN PRODUKSI DI PROVINSI SUMATERA BARAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. 2. Gubernur adalah Gubernur Sumatera Barat. 3. Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu yang selanjutnya disingkat IPHHBK adalah izin mengambil hasil hutan bukan kayu antara lain rotan, madu, buah-buahan, getah-getahan, tanaman obat-obatan dan lain sebagainya dalam hutan lindung dan hutan produksi serta hutan tanaman hasil rehabilitasi. 4. Perorangan (individu) adalah orang seorang anggota masyarakat setempat (yang berdomisili di dalam atau sekitar hutan yang dimohon) yang cakap bertindak menurut hukum dan Warga Negara Indonesia. 5. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan
prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. 6. Kelompok Tani Hutan yang selanjutnya disingkat KTH adalah kumpulan petani atau perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya yang mengelola usaha di bidang kehutanan di dalam dan di luar kawasan hutan yang meliputi usaha hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan, baik di hulu maupun di hilir. 7. Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. 8. Hutan Produksi adalah adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. 9. Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi yang selanjutnya disingkat HTHR adalah hutan tanaman yang dibangun melalui kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi lahan dan hutan dalam rangka mempertahankan daya dukung, produktivitas dan perannya sebagai sistem penyangga kehidupan. 10. Dinas Kehutanan adalah Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang Kehutanan di Provinsi Sumatera Barat. 11. Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayan Perizinan Terpadu yang selanjutnya disingkat BKPM dan PPT adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Sumatera Barat. 12. Dinas Kabupaten/ Kota adalah Dinas yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang Kehutanan di daerah Kabupaten/ Kota. Pasal 2 Tujuan pengaturan pemberian Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Lindung dan Hutan Produksi ini adalah sebagai berikut : a. sebagai pedoman dan acuan dalam rangka pelayanan pemberian IPHHBK; b. menghindari terjadinya stagnasi dalam pelayanan kepada masyarakat yang telah menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
BAB II PERIZINAN Bagian Kesatu Umum Pasal 3 (1) Yang dapat mengajukan permohonan IPHHBK yaitu : a. Perorangan yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Lurah/Kepala Desa/Wali Nagari setempat; b. Koperasi; dan/ c. Kelompok Tani dibuktikan Keputusan Pembentukan Kelompok Tani oleh Pejabat setempat Pasal 4 (1) Lokasi yang dapat dimohon untuk IPHHBK adalah : a. Hutan Lindung; b. Hutan produksi; dan c. Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi (2) Apabila lokasi yang dimohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah dibebani izin, maka harus mendapat persetujuan tertulis dari pemegang izin yang bersangkutan. Bagian Kedua Tata Cara Pemberian Izin Paragraf 1 Persyaratan Pasal 5 (1) Permohonan IPHHBK diajukan oleh pemohon kepada Gubernur melalui Kepala BKPM dan PPT dengan tembusan Kepala Dinas Kehutanan. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi dengan persyaratan : a. Rekomendasi dari Lurah/Kepala Desa/Wali Nagari untuk lokasi yang dimohon; b. Rekomendasi dari Kepala Dinas Kabupaten/Kota; c. Fotocopy KTP atau identitas lain yang diketahui Lurah/Kepala Desa/Wali Nagari setempat untuk pemohon perorangan atau Akte
pendirian beserta perubahan-perubahannya untuk Koperasi atau Keputusan pendirian kelompok tani dari Pejabat berwenang; d. Sketsa/peta lokasi areal yang dimohon yang diketahui oleh Dinas Kabupaten/Kota; e. Daftar nama, tipe dan jenis peralatan yang akan dipergunakan dalam melakukan kegiatan pemungutan hasil hutan; dan f. Surat persetujuan dari pemegang izin, apabila areal yang dimohon telah dibebani izin. (3) Format permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran 1 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini. Paragraf 2 Pemberian Izin Pasal 6 (1) Atas dasar permohonan IPHHBK yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, BKPM dan PPT meminta pertimbangan teknis kepada Dinas Kehutanan. (2) Dinas Kehutanan melakukan koordinasi dengan Dinas Kabupaten/Kota terkait untuk memproses IPHHBK sebelum memberikan pertimbangan teknis kepada BKPM dan PPT. (3) BKPM dan PPT menetapkan Keputusan Izin terhadap permohonan IPHHBK yang diajukan berdasarkan pertimbangan teknis dari Dinas Kehutanan. (4) Format pemberian IPHHBK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini. Bagian Ketiga Jangka Waktu Pemberian Perizinan Pasal 7 IPHHBK paling banyak diberikan : a. 20 (dua puluh) ton untuk jenis getah-getahan, madu dan tanaman obatobatan dan dapat diperdagangkan; dan b. 20.000 (dua puluh ribu) batang untuk jenis Rotan (Manau, Semambu dan Tabu-tabu) dan dapat diperdagangkan.
Pasal 8 Jangka waktu berlakunya IPHHBK, paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang setelah dilakukan evaluasi. BAB III KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 9 (1) Pemegang IPHHBK wajib : a. menyusun rencana kerja untuk seluruh areal yang telah ditetapkan dalam izin; b. melaksanakan kegiatan nyata di lapangan 1 (satu) bulan sejak IPHHBK diterbitkan. c. membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; d. melindungi hutan dari kerusakan akibat illegal logging dan perambahan hutan, ternak dan kebakaran; e. melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar lokasi IPHHBK; dan f. membuat dan menyampaikan laporan kegiatan IPHHBK secara periodik setiap bulan kepada Kepala Dinas Kehutanan, dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota. (2) Pemegang IPHHBK dilarang : a. melakukan pemungutan hasil hutan bukan kayu di luar lokasi yang diizinkan; b. melakukan pemungutan hasil hutan bukan kayu melebihi 5% (lima perseratus) dari target yang telah ditetapkan dalam izin; c. memindahtangankan dan atau memperjualbelikan IPHHBK yang dimiliki tanpa persetujuan tertulis dari pemberi izin; dan d. menggunakan peralatan yang dapat merusak hutan. (3) Pemegang IPHHBK yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan melanggar larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, c dan d, dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan izin.
(4) Pemegang IPHHBK yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, dikenakan sanksi denda sebanyak 10 (sepuluh) kali membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). BAB IV BERAKHIRNYA IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU Pasal 10 IPHHBK berakhir karena : a. masa berlakunya telah berakhir; b. diserahkan kembali kepada pemberi izin sebelum masa berlakunya berakhir; dan/atau c. dicabut karena pemegang izin melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB V PEMBINAAN, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN Pasal 11 (1) Kepala Dinas Kehutanan melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pemegang IPHHBK. (2) Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian IPHHBK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas Kehutanan berkoordinasi dengan Dinas Kabupaten/Kota. (3) Kepala Dinas Kabupaten/Kota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu di wilayah kerjanya. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 12 IPHHBK yang telah diberikan sebelum ditetapkannya Peraturan Gubernur ini masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 13 Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya dan memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Sumatera Barat. Ditetapkan di Padang pada tanggal 14 Agustus 2015 GUBERNUR SUMATERA BARAT, ttd. Diundangkan di Padang pada tanggal 14 Agustus 2015 IRWAN PRAYITNO SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT ALI ASMAR BERITA DAERAH TAHUN 2015 NOMOR 60
LAMPIRAN I. PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 60 TAHUN 2015... TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN LINDUNG DAN HUTAN PRODUKSI DI PROVINSI SUMATERA BARAT Format Permohonan Izin Pemungutan Hasil Hutan Nomor : Lampiran : Perihal : Permohonan IPHHBK... Kepada Yth. Gubernur Sumatera Barat Cq. Kepala BKPM dan PPT Provinsi Sumatera Barat di- Padang Dengan hormat, Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Umur : Pekerjaan : Alamat : Mengajukan permohonan kepada Bapak untuk dapat diberikan Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu : a. Lokasi : b. Kelurahan/Desa/Nagari : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Luas Areal : f. Untuk Keperluan : g. Lamanya : h. Jenis Dan Jumlah Hasil Hutan Yang dipungut :
Sebagai pertimbangan Bapak, bersama ini kami lampirkan : 1. Rekomendasi dari Lurah/Kepala Desa/Wali Nagari setempat 2. Rekomendasi teknis dari Kepala Dinas Kabupaten/Kota 3. Foto-copy KTP atau identitas lain yang diketahui Lurah/Kepala Desa/Wali Nagari setempat untuk pemohon perorangan atau Akte pendirian beserta perubahan-perubahannya untuk Koperasi atau Keputusan pendirian kelompok tani dari Pejabat berwenang; 4. Sketsa/peta lokasi areal yang dimohon yang diketahui oleh Dinas Kabupaten/Kota; 5. Daftar nama, tipe dan jenis peralatan yang akan dipergunakan dalam melakukan kegiatan pemungutan hasil hutan. 6. Surat persetujuan dari pemegang izin, apabila areal yang dimohon telah dibebani izin. Kami berjanji akan mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. Atas perhatian dan bantuan Bapak serta terkabulnya permohonan ini kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, Pemohon, Materai Rp. 6.000 Tembusan : Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat di Padang (... ) GUBERNUR SUMATERA BARAT, ttd.... IRWAN PRAYITNO
LAMPIRAN II. PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR.60 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU PADA HUTAN LINDUNG DAN HUTAN PRODUKSI DI PROVINSI SUMATERA BARAT Format Keputusan Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu KEPUTUSAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR... TENTANG IZIN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU (IPHHBK) AN... DI KABUPATEN/KOTA... GUBERNUR SUMATERA BARAT Menimbang : 1. bahwa... 2. bahwa... 3. dst Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1646); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 48140); 6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.46/Menhut- II/2009 tentang Tata Cara Pemberian Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu dan Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Produksi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 216); 7. Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor...tentang Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu; 8. dst.
Memperhatikan : 1. Surat Permohonan... 2. Surat Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Nomor... tanggal...perihal Pertimbangan Teknis Permohonan IPHHBK An... di Kabupaten/Kota... MEMUTUSKAN : Menetapkan : KESATU : Memberikan IPHHBK pada Kawasan Hutan Lindung/Produksi/Tanaman Hasil Rehabilitasi*) kepada : Nama : Alamat : Lokasi : Jenis : Jumlah/target : KEDUA : Pemegang IPHHBK wajib menerapkan teknis pemungutan hasil hutan bukan kayu berupa *): 1. Melaksanakan penanaman kembali terhadap hasil hutan yang dipungut dengan melakukan penanaman sebanyak 5 batang terhadap 1 batang hasil hutan bukan kayu yang dipungut (rotan dan sejenisnya) 2. Jumlah koakan berdasarkan limit diameter untuk kawasan HP : a. Diameter 17 33 cm sebanyak 1 koakan b. Diameter 34 50 cm sebanyak 2 koakan c. Diameter 51 66 cm sebanyak 3 koakan d. Diameter lebih dari 75 cm diperkenankan lebih dari 4 koakan 3. Jumlah koakan berdasarkan limit diameter untuk kawasan HL : a. Diameter 21 41 cm sebanyak 1 koakan b. Diameter 42 63 cm sebanyak 2 koakan c. Diameter 64 82 cm sebanyak 3 koakan d. Diameter lebih dari 93 cm diperkenankan lebih dari 4 koakan
KETIGA : Kepada Pemegang IPHHBK sebagaimana dimaksud DIKTUM KESATU dalam menjalankan usahanya : 1. Pemegang IPHHBK wajib : a. menyusun rencana kerja untuk seluruh areal yang telah ditetapkan dalam izin; b. melaksanakan kegiatan nyata di lapangan 1 (satu) bulan sejak IPHHBK diterbitkan; c. membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; d. melindungi hutan dari kerusakan akibat illegal logging dan perambahan hutan, ternak dan kebakaran; e. melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar lokasi IPHHBK; dan f. membuat dan menyampaikan laporan kegiatan IPHHBK secara periodik setiap bulan kepada Kepala Dinas Provinsi, dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota. 2. Pemegang IPHHBK dilarang : a. melakukan pemungutan hasil hutan bukan kayu di luar lokasi yang diizinkan; b. melakukan pemungutan hasil hutan bukan kayu melebihi 5% (lima perseratus) dari target yang telah ditetapkan dalam izin; c. memindahtangankan dan atau memperjualbelikan IPHHBK yang dimiliki tanpa persetujuan tertulis dari pemberi izin; dan d. menggunakan peralatan yang dapat merusak hutan. KEEMPAT : IPHHBK dapat dicabut dan dihapuskan karena : 1. masa berlakunya telah berakhir; 2. diserahkan kembali kepada pemberi izin sebelum masa berlakunya berakhir; atau 3. dicabut karena pemegang izin melanggar ketentuan peraturan yang berlaku.
KELIMA : IPHHBK ini diberikan selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Keputusan ini ditetapkan dan dapat diperpanjang kembali setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan IPHHBK yang telah diberikan. Ditetapkan di : Padang Pada tanggal :... An. GUBERNUR SUMATERA BARAT KEPALA BKPM DAN PPT PROVINSI SUMATERA BARAT... Tembusan Kepada Yth. 1. Gubernur Sumatera Barat di Padang 2. Bupati... 3. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari di Jakarta 4. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat di Padang 5. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota... 6. Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah III di Pekanbaru *) pilih yang sesuai dengan lokasi dan jenis IPHHBK GUBERNUR SUMATERA BARAT, ttd.... IRWAN PRAYITNO