LEMBARAN DAERAH DAN BERITA DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

dokumen-dokumen yang mirip
GUBERNUR PAPUA PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 3 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG

BUPATI SUKABUMI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK PARKIR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BIAK NUMFOR NOMOR 6 TAHUN 1998 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN

KABUPATEN CIANJUR NOMOR : 63 TAHUN : 2002

PEMERINTAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PARKIR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 2 TAHUN 2002 SERI : A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PARKIR

SALINAN PAJAK PENERANGAN JALAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR : 1 TAHUN 2004 SERI : B PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA

TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN BUPATI PATI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DAN KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SURABAYA NOMOR : 1/A TAHUN : 1998 SERI : A PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SURABAYA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG,

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 45 TAHUN : 2004 SERI : B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 8 TAHUN 2004 TENTANG PAJAK PARKIR

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA. Nomor : 8 Tahun 2005 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA,

PERATURAN DAERAH KOTA BAUBAU NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BAUBAU,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG

LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR,

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 05 TAHUN 2008

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 18 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 02 TAHUN 2011

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGGUNG,

LEMBARAN DAERAH PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 58 TAHUN 2001

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH NOMOR 44 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN

PERATURAN DAERAH KOTA MATARAM NOMOR : 9 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MATARAM,

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH NOMOR: 5 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 55 TAHUN 2001

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA Nomor : 10 Tahun 2006 Lampiran : 1 (satu) berkas TENTANG

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT N O M O R : 6 T A H U N PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 NOMOR 2 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK RESTORAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 8 TAHUN 1998 TENTANG PAJAK PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 18 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 05 TAHUN 2004 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 19 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 124 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 06 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK PARKIR

BUPATI JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Raperda (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) ;

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 9 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA. Nomor : 6 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 9 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 17 TAHUN 2009

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKABUMI,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 4 TAHUN 2002 SERI : A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK RESTORAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

BUPATI BULULUKUMBA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA Nomor : 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

PEMERINTAH PROVINSI IRIAN JAYA BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA. Nomor : 11 Tahun : 2010 Seri : B Nomor : 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA NOMOR 11 TAHUN 2010

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 8 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIMAHI

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR : 13 TAHUN 2004 T E N T A N G PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA,

2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

Perda No.4/2003. Diubah dg

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI,

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

LEMBARAN DAERAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 06 TAHUN 2004 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 37 TAHUN 2003

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKABUMI,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 01 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK,

Gubernur Jawa Barat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II KUTAI NOMOR 17 TAHUN 1997 T E N T A N G

PEMERINTAH PROVINSI IRIAN JAYA BARAT

PERATURAN DAERAH KOTA MATARAM

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 19 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR : 1 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT

LEMBARAN DAERAH K O T A L H O K S E U M A W E

Transkripsi:

LEMBARAN DAERAH DAN BERITA DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa Pajak Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 tahun 2002; b. bahwa dengan adanya perubahan kelembagaan di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2004 tentang Pembentukan dan Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maka Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pajak Daerah perlu menyesuaikan dengan kelembagaan yang baru; - 415 -

c. bahwa pembelian BBM pada kilang minyak atau langsung pada PT PERTAMINA, yang disediakan atau digunakan untuk kendaraan bermotor termasuk kendaraan diatas air, yang pemanfaatannya digunakan untuk menunjang kegaitan pada sektor industri, usaha pertambangan, kehutanan, perkebunan, kontraktor jalan, transportasi, dan perusahaan sejenis, belum dikenakan pajak, maka Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2002 Pajak Daerah; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Tahun 1819); 2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak ( Lembaran Negara Tahun 1997 Nomo 40, Tambahan Lembaran Negaran Nomor 3684); 3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) Jo. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048); 4. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ( Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 54, tambahan Lembaran Negara Nomor 3691 ); 5. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - undangan ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389 ); 6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah - 416 -

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548 ); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4138); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593 ); 9. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah; 10. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ( Lembaran Daerah Seri D Nomor 120 Tahun 1987 ); 11. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pajak Daerah ( Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2002 Nomor 1 Seri B); 12. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2004 tentang Pembentukan dan Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004 Nomor 2 Seri D); - 417 -

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA dan GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK DAERAH Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2002 Nomor 1 Seri B) diubah sebagai berikut : 1. Ketentuan Pasal 1 angka 5, angka 20, angka 26, dan angka 27 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: 5. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 20. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat PBB- KB adalah pajak atas bahan bakar ang disediakan atau digunakan untuk kendaraan bermotor dan atau kendaraan diatas air, termasuk yang pemanfaatannya digunakan untuk menunjang kegiatan pada sektor industri, usaha pertambangan, kehutanan, perkebunan, kontraktor jalan, transportasi, dan perusahaan sejenis. 26. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan penghi- - 418 -

tungan dan/atau pembayaran pajak, obyek pajak atau bukan obyek pajak, dan /atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan daerah. 27. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Surat Ketetapan Pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang. 2. Ketentuan Pasal 3 ayat (4) diubah sehingga Pasal 3 berbunyi sebagai berikut: Pasal 3 (1) Subyek PKB adalah orang pribadi dan badan yang memiliki dan atau menguasai kendaraan bermotor. (2) Subyek Pajak BBN-KB adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan bermotor. (3) Subyek PBB-KB adalah konsumen bahan Bakar Kendaraan bermotor. (4) Obyek PBB-KB adalah bahan bakar kendaraan bermotor yang disediakan atau digunakan untuk kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atar air, termasuk yang pemanfaatannya digunakan untuk menunjang kegiatan pada sektor industri, usaha pertambangan, kehutanan, perkebunan, kontraktor jalan, transportasi, dan perusahaan sejenis. (5) Obyek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah : a. Pengambilan air bawah tanah dan/atau air permukaan. b. Pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan. c. Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan. (6) Dikecualikan dari obyek Pajak Pengembalian dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah pengambilan, atau pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaatan Air Bawah Tanah dan atau Air Permukaan: - 419 -

3. Ketentuan Pasal 6 ayat (3) diubah sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut : Pasal 6 (1) Dasar pengenaan PKB dihitung sebagai perkalian dari dua unsur pokok: a. Nilai Jual Kendaraan Bermotor; b. Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor. (2) Nilai Jual Kendaraan Bermotor diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor. (3) Dalam hal harga pasaran umum atas kendaraan bermotor tidak diketahui, nilai Jual Kendaraan Bermotor ditentukan berdasarkan : a. isi silinder dan / atau satuan daya; b. jenis, merk, dan tahun pembuatan kendaraan bermotor; c. negara asal kendaraan bermotor; d. dokumen impor untuk jenis kendaraan bermotor tertentu. (4) Bobot sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b, dihitung berdasarkan faktor-faktor : a. tekanan gandar; b. jenis bahan bakar kendaraan bermotor; c. jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesih dari kendaraan bermotor. (5) Penghitungan dasar pengenaan PKB sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Gubernur sesuai yang ditetapkan oleh Menteri. 4. Diantara Pasal 15 dan Pasal 16 disisipkan dua pasal yakni Pasal 15 A dan Pasal 15 B sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 15 A - 420 -

Terhadap pembelian BBM yang dilakukan langsung di tempat penyedia bahan bakar kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air, termasuk yang pemanfaatannya digunakan untuk menunjang kegiatan pada sektor industri, usaha pertambangan, kehutanan, perkebunan, kontraktor jalan, transportasi, dan perusahaan sejenis dipungut PBB-KB sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Sektor industri sebesar 17,17 % dari jumlah pembelian BBM. 2. Usaha pertambangan, usaha kehutanan, dan usaha perkebunan sebesar 90 % dari jumlah pembelian BBM. 3. Usaha Transportasi dan kontraktor jalan sebesar 100 % dari jumlah pembelian BBM. Pasal 15 B Penjualan BBM yang menggunakan alat pembayaran mata uang asing maka perhitungan dan penyetoran PBB-KB dapat menggunakan mata uang asing. 5. Penjelasan Pasal 17 diubah, sebagaimana tercantum dalam penjelasan. 6. Ketentuan Pasal 21 ayat (1) diubah sehingga Pasal 21 berbunyi sebagai berikut Pasal 21 (1) Kewenangan pemungutan Pajak Daerah meliputi pendaftaran, pendataan, penetapan, penyetoran, angsuran dan permohonan penundaan pembayaran, pembukuan dan pelaporan, keberatan dan banding, penagihan dan pengambilan kelebihan pembayaran, dilaksanakan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah. (2) Pemungutan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dapat dilakukan oleh penyedia bahan bakar kendaraan bermotor sebagai wajib pungut. 7. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) huruf a diubah dan ayat (4) dihapus, sehingga Pasal 24 berbunyi sebagai berikut : - 421 -

Pasal 24 (1) Setiap Wajib Pajak diwajibkan mengisi SPTPD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau orang yang diberi kuasa olehnya. (3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (2) disampaikan ke Badan Pengelolaan Keuangan Daerah paling lambat : a. Untuk kendaraan baru dihitung 30 (tiga puluh) hari sejak saat pemilikan dan atau penguasaan. b. Untuk kendaraan bukan baru sampai dengan tanggal berakhirnya masa pajak. c. Untuk kendaraan bermotor pindah dalam daerah dihitung sampai dengan tanggal berakhirnya masa pajak. (4) dihapus. 8. Ketentuan Pasal 27 ayat (3) huruf a diubah, ditambah huruf c baru dan ayat (4) baru sehingga Pasal 27 berbunyi sebagai berikut : (1) Setiap Wajib Pajak diwajibkan mengisi SPTPD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau orang yang diberi kuasa olehnya. (3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (2) disampaikan ke Badan Pengelolaan Keuangan Daerah paling lambat: a. Untuk kendaraan dari dalam daerah 30 (tiga puluh) hari dari sejak penyerahan kendaraan bermotor. b. Untuk kendaraan dari luar daerah selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari dari saat penyerahan kendaraan bermotor. c. Untuk kendaran baru dihitung 30 (tiga puluh) hari sejak penyerahan kendaraan bermotor. (4) Perubahan atas kendaraan bermotor yang meliiputi perubahan bentuk, fungsi, warna dan penggantian mesin suatu kendaraan bermotor wajib - 422 -

dilaporkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah terjadinya perubahan dengan menggunakan SPTPD atau dokumen lain yang dipersamakan. 9. Ketentuan Pasal 31 ditambah ayat (4) sehingga Pasal 31 berbunyi sebagai berikut : Pasal 31 (1) Setiap Wajib Pajak diwajibkan mengisi APTPD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau orang yang diberi kuasa olehnya. (3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (2) harus disampaikan kepada Gubernur paling lama 10 (sepuluh) hari setelah berakhirnya masa pajak. (4) Setiap pemungutan PBB-KB, dicantumkan Surat Perintah Pengeluaran Barang (Deliveri Order/DO) yang diterbitkan. 10. Penjelasan Pasal 40 diubah sebagaimana tercantum dalam penjelasan. 11. Ketentuan Pasal 41 ayat (1) diubah sehingga Pasal 41 berbunyi sebagai berikut: Pasal 41 (1) Setiap pembayaran Pajak Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 40 diberikan bukti pembayaran yang sah. (2) Bentuk, jenis, isi, kualitas dan ukuran tanda bukti pelunasan ditetapkan oleh Gubernur. 12. Penjelasan Pasal 45 ayat (3) dihapus. 13. Ketentuan Pasal 48 ayat (1) dan ayat (3) diubah sehingga Pasal 48 berbunyi sebagai berikut : - 423 -

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Gubernur melalui Badan Pengelolaan Keuangan Daerah. (2) Gubernur dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini harus memberikan keputusan. (3) apabila hangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (2) telah dilampaui dan Gubernur melalui Badan Pengelolaan Keuangan Daerah tidak memberikan suatu keputusan, permohonan kelebihan pengembalian pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (4) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dilakukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak. Pasal II Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 9 Mei 2007 GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TTD HAMENGKU BUWONO X - 424 -

Diundangkan di Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 2007 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TTD TRI HARJUN ISMAJI NIP. 110023446 LEMBARAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TA- HUN 2007 NOMOR 2 SERI6-425 -

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK DAERAH 1. UMUM Dengan adanya perubahan kelembagaan di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2004 tentang Pembentukan dan Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maka Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pajak Daerah perlu menyesuaikan dengan kelembagaan yang baru. Di samping itu menyesuaikan perkembangan yang ada untuk kelancaran pelaksanaan di alapangan juga perlu penyempurnaan terhadap pasal-pasal tertentu. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat teknis operasional akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur. Sehubungan hal tersebut, perlu menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pajak Daerah. 2. PASAL DEMI PASAL : Pasal I : Angka 1 Pasal 1 Angka 5 Angka 20 Angka 26-426 -

STPD untuk pajak bahan bakar kendaraan bermotor diisi dan dilaporkan oleh wajib pungut yaitu bahan bakar minyak. angka 27 Angka 2 Pasal 3 ayat (1) ayat (2) ayat (3) ayat (4) Ayat (5) Ayat (6) Huruf a : Huruf b Huruf c Huruf d Huruf e Huruf f Hufuf g : : Pengambilan air untuk kepentingan pengairan pertanian rakyat tetap memperhatikan kelestarian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. : Yang dimaksud dengan keperluan dasar rumah tangga adalah pengambilan air dengan jumlah tidak melebihi 48 m3 per bulan per keluarga atau pengambilan dengan menggunakan alat tradisional/manual. : Yang dimaksud dengan lembaga sosial keagamaan adalah tempat-tempat peribadatan, panti asuhan, pondok pesantren, yang tidak memiliki pendidikan formal dan lain sebagainya. : : yang dimaksud milik Pemerintah adalah mi- - 427 -

lik pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Angka 3 Pasal 6 Angka 4 Pasal 15A Pasal 15B Angka 5 Pasal 17 ayat (1) ayat (2) ayat (3) ayat (4) Yang dimaksud Gubernur dalam hal ini pelaksanaannya menunjuk Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah. ayat (5) ayat (6) Angka 6 Pasal 21 Angka 7 Pasal 24 Angka 8 Pasal 27 Angka 10 Pasal 40 : - 428 -

Pasal 40 : ayat (1) Yang dimaksud dengan tempat lain yang ditentukan oleh Gubernur adalah Kantor Pelayanan Pajak Daerah (KPPD) dan Bank yang ditunjuk oleh Gubernur. ayat (2) ayat (3) ayat (4) ayat (5) ayat (6) ayat (7) Angka 11 Pasal 41 Angka 12 Pasal 45 Angka 13 Pasal 48 : ayat (1) ayat (2) ayat (3) Yang dimaksud dengan ditetapkannya oleh Gubernur dalam pelaksanaannya Gubernur menunjuk Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah untuk memberi keringanan, pengurangan dan pembebasan. - 429 -

Pasal II ayat (4) ayat (5) ayat (6) - 430 -