Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PEMBAHASAN. BAB IV Pembahasan 69

PEMBUATAN STRUKTUR DUAL PHASE BAJA AISI 3120H DARI BESI LATERIT

PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU TAHAN TEMPERING TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO DAN LAJU KOROSI PADA BAJA TAHAN KARAT MARTENSITIK 13Cr3Mo3Ni

PERLAKUAN PANAS MATERIAL AISI 4340 UNTUK MENGHASILKAN DUAL PHASE STEEL FERRIT- BAINIT

PENGARUH PROSES HARDENING PADA BAJA HQ 7 AISI 4140 DENGAN MEDIA OLI DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

PENGARUH VARIASI REDUKSI TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA LATERIT MELALUI PENGEROLAN PANAS

PROSES QUENCHING DAN TEMPERING PADA SCMnCr2 UNTUK MEMENUHI STANDAR JIS G 5111

METALURGI Available online at

PENGARUH MEDIA PENDINGIN PADA PROSES HARDENING MATERIAL BAJA S45C

ANALISIS PROSES TEMPERING PADA BAJA DENGAN KANDUNGAN KARBON 0,46% HASILSPRAY QUENCH

Pengaruh Heat Treatment Dengan Variasi Media Quenching Air Garam dan Oli Terhadap Struktur Mikro dan Nilai Kekerasan Baja Pegas Daun AISI 6135

ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK BAJA MANGAN AUSTENITIK HASIL PROSES PERLAKUAN PANAS

BAB IV PEMBAHASAN Data Pengujian Pengujian Kekerasan.

PENGARUH NITROGEN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADUAN IMPLAN Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni YANG MENGANDUNG KARBON HASIL PROSES HOT ROLLING

Pengaruh Heat Treatment denganvariasi Media Quenching Oli dan Solar terhadap StrukturMikro dan Nilai Kekerasan Baja Pegas Daun AISI 6135

ANALISA PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 4340

BAB I PENDAHULUAN. BAB I Pendahuluan 1

PENGARUH PERLAKUAN PANAS DOUBLE TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL AISI 4340

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bidang material baja karbon sedang AISI 4140 merupakan low alloy steel

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH TEMPERATUR TEMPERING PADA PROSES QUENCHING TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA AISI 4140

PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN PADUAN Co-Cr-Mo-C-N PADA PERLAKUAN AGING

HEAT TREATMENT. Pembentukan struktur martensit terjadi melalui proses pendinginan cepat (quench) dari fasa austenit (struktur FCC Face Centered Cubic)

PENGARUH BAHAN ENERGIZER PADA PROSES PACK CARBURIZING TERHADAP KEKERASAN CANGKUL PRODUKSI PENGRAJIN PANDE BESI

PENGARUH PERLAKUAN TEMPERING TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPAK BAJA JIS G 4051 S15C SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI. Purnomo *)

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ANALISA PENGARUH MANIPULASI PROSES TEMPERING TERHADAP PENINGKATAN SIFAT MEKANIS POROS POMPA AIR AISI 1045

ANALISA PENGARUH TEMPERATUR TEMPERING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADA BAJA AAR-M201 GRADE E

PENGARUH VISKOSITAS OLI SEBAGAI CAIRAN PENDINGIN TERHADAP SIFAT MEKANIS PADA PROSES QUENCHING BAJA ST 60

PENGARUH PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S

MATERIAL TEKNIK 5 IWAN PONGO,ST,MT

PEMBUATAN MATERIAL DUAL PHASE DARI KOMPOSISI KIMIA HASIL PELEBURAN ANTARA SCALING BAJA DAN BESI LATERIT KADAR NI RENDAH YANG DIPADU DENGAN UNSUR SIC

PROSES NORMALIZING DAN TEMPERING PADA SCMnCr2 UNTUK MEMENUHI STANDAR JIS G 5111

07: DIAGRAM BESI BESI KARBIDA

PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA JIS S45C

MMS KARAKTERISASI MATERIAL + LAB MICROSTRUCTURE ANALYSIS

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

11. Logam-logam Ferous Diagram fasa besi dan carbon :

Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Riset dan Teknologi di Bidang Industri ke-20 BAHAN TEKNIK MEKANIKA BAHAN

METODE PENINGKATAN TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH MELALUI BAJA FASA GANDA

BAB IV HASIL DAN ANALISA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penguatan yang berdampak terhadap peningkatan sifat mekanik dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: ( Print) F 191

UNIVERSITAS INDONESIA PENGARUH DERAJAT DEFORMASI TERHADAP STRUKTUR MIKRO, SIFAT MEKANIK DAN KETAHANAN KOROSI BAJA KARBON AISI 1010 TESIS

STUDI PENGARUH VARIASI KUAT ARUS PENGELASAN PELAT AISI 444 MENGGUNAKAN ELEKTRODA AWS E316L

27 Andreas Reky Kurnia Widhi; Pengaruh Perubahan Temperatur Pada Proses Quenching Partitioning Terhadap Mikrostruktur Dan Kekerasan Baja JIS SKD 11

PENGARUH PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310 S. Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH TEMPERATUR DAN NITROGEN HASIL HOT ROLLING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN Co-Cr- Mo UNTUK APLIKASI BIOMEDIS

PENGARUH VARIASI SUHU PADA PROSES SELF TEMPERING DAN VARIASI WAKTU TAHAN PADA PROSES TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIS BAJA AISI 4140

MENINGKATKAN KETANGGUHAN C-Mn STEEL BUATAN DALAM NEGERI. Jl. Soekarno-Hatta No. 180, Semarang *

Karakterisasi Material Bucket Teeth Excavator 2016

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Material 2013

BAB I PENDAHULUAN. Teknik Material dan Metalurgi FTI-ITS

ANALISIS PENGARUH TEMPERING

PENINGKATAN KEKAKUAN PEGAS DAUN DENGAN CARA QUENCHING

TIN107 - Material Teknik #9 - Metal Alloys 1 METAL ALLOYS (1) TIN107 Material Teknik

PENGARUH VARIASI WAKTU TAHAN PADA PROSES NORMALIZING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S PADA PRESSURE VESSEL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PERLAKUAN QUENCH TEMPER DAN SPHEROIDIZED ANNEAL TERHADAP SIFAT MEKANIS BAJA PERKAKAS SKRIPSI. Oleh KHAIRUL MUSLIM

BAB I PENDAHULUAN. perlu dapat perhatian khusus baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya karena

PENGARUH PERBEDAAN KONDISI TEMPERING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN DARI BAJA AISI 4140

03/01/1438 KLASIFIKASI DAN KEGUNAAN BAJA KLASIFIKASI BAJA 1) BAJA PEGAS. Baja yang mempunyai kekerasan tinggi sebagai sifat utamanya

Pengaruh Lama Pemanasan, Pendinginan secara Cepat, dan Tempering 600 o C terhadap Sifat Ketangguhan pada Baja Pegas Daun AISI No.

BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN

STUDI KOMPARASI HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS MATERIAL RING PISTON BARU DAN BEKAS

Karakterisasi Material Sprocket

yang tinggi, dengan pencelupan sedang dan di bagian tengah baja dapat dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat.

Heat Treatment Pada Logam. Posted on 13 Januari 2013 by Andar Kusuma. Proses Perlakuan Panas Pada Baja

PENGARUH PENAMBAHAN NIKEL TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BESI TUANG NODULAR 50

BAB 1. PERLAKUAN PANAS

PENGARUH JENIS BAHAN DAN PROSES PENGERASAN TERHADAP KEKERASAN DAN KEAUSAN PISAU TEMPA MANUAL

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PADA PROSES PERLAKUAN PANAS BAJA AISI 304 TERHADAP LAJU KOROSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pressure die casting type cold chamber yang berfungsi sebagai sepatu pendorong cairan

Pengaruh Variasi Media Quenching Air, Oli, dan Angin Kompresor Terhadap Struktur Mikro dan Kekerasan Pada Baja AISI 1045

Analisa Deformasi Material 100MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda. Muhammad Subhan

FERIT, PERLIT, SEMENTIT, MARTENSIT, DAN BAINIT

PENGARUH KADAR DROMUS OIL DALAM MEDIA PENDINGIN TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA ST 60 YANG MENGALAMI PROSES HARDENING TEMPERING

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO, DAN KETANGGUHAN DENGAN PROSES HEAT TREATMENT PADA BAJA KARBON AISI 4140H

Kategori unsur paduan baja. Tabel periodik unsur PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY

ANALISA KEKERASA DAN STRUKTUR MIKRO TERHADAP VARIASI TEMPERATUR TEMPERING PADA BAJA AISI 4140

Baja adalah sebuah paduan dari besi karbon dan unsur lainnya dimana kadar karbonnya jarang melebihi 2%(menurut euronom)

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING

KARAKTERISTIK SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO PROSES AUSTEMPER PADA BAJA KARBON S 45 C DAN S 60 C

Analisa Struktur Mikro Dan Kekerasan Baja S45C ANALISA STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA S45C PADA PROSES QUENCH-TEMPER DENGAN MEDIA PENDINGIN AIR

BAB IV HASIL PENELITIAN

PRAKTIKUM JOMINY HARDENABILITY TEST

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 sampai dengan selesai.

I. PENDAHULUAN. Definisi baja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu benda

KARAKTERISTIK SIFAT MEKANIS BAJA LATERIT TERHADAP PROSES PENGEROLAN

PEMILIHAN PARAMETER PERLAKUAN PANAS UNTUK MENINGKATKAN KEKERASAN BAJA PEGAS 55 Si 7 YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENAMBAT REL KERETA API

STUDI MORFOLOGI MIKROSTRUKTUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAJU KOROSI ANTARA BAJA HSLA 0,029% Nb DAN BAJA KARBON RENDAH SETELAH PEMANASAN ISOTHERMAL

ANALISA PENGARUH HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BESI COR NODULAR (FCD 60)

Pengaruh Perlakuan Panas Austempering pada Besi Tuang Nodular FCD 600 Non Standar

Transkripsi:

Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan Kekuatan Mekanik Baja Nikel Laterit The Influence of Heat Treatment on Microstructure and Mechanical Strength of Lateritic Nickel Steel Satrio Herbirowo 1 dan Bintang Adjiantoro 2 1-2 Pusat Penelitian Metalurgi dan Material, LIPI, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Indonesia. 1 e-mail: satr006@lipi.go.id ARTICLE INFO Article history Received date: 02 May 2016 Received in revised form date: 21-22 June 2016 Accepted date: 18 August 2016 Available online date: 30 November 2016 Kata kunci: Perlakuan panas Kekuatan mekanik Inklusi Nikel laterit abstract Indonesia has abundant resources of lateritic nickel ore and coal. However, these resources has not been considered as a main raw material in the Indonesian steel industry. This study is aimed to investigate several aspects of lateritic nickel intrinsic propertiesand its potency through heat treatment process. Nickel laterite steels are usually used for bridge and building construction steel. Their properties can be improved in various ways, such as by conducting temper heat treatment. This research reported the influences of heat treatment on microstructure and mechanical strength in nickel laterite steel. Samples were austenitized at 900 ºC and subsquently tempered at 100 ºC, 200 ºC, 300 ºC, 400 ºC, 500 ºC, and 600 ºC. Metallographic observation was conducted by using an optical microscope meanwhile mechanical strength were conducted by tensile test and surface hardness. The results showed evolution of mictrostructure in nickel laterite steel after heat treatment. The microstructure formed consisted of martensite temper. The presence of inclusion can affect brittle behavior of the lateritic nickel. The optimum tempering temperature was 200 ºC. The result of Scanning Electron Microscope (SEM) fractography showed the dimple and intergranular fracture has caused a more ductile and mechanical behavior which is compatible with construction steels standard. Keywords: Heat treatment, Mechanical strength, Inclusion, Lateritic nickel abstrak Indonesia memiliki sumber bijih nikel laterit dan batubara yang melimpah. Walaupun begitu, sumber daya ini belum dipertimbangkan sebagai bahan baku utama dalam industri baja Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek yang dimiliki oleh baja laterit melalui proses perlakuan panas serta potensinya. Baja nikel laterit bisa digunakan untuk aplikasi pada baja konstruksi jembatan dan bangunan. Perilaku baja nikel laterit ini dapat diperbaiki dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara perlakuan panas temper. Penelitian ini mengungkapkan pengaruh perlakuan panas terhadap perubahan struktur mikro dan kekuatan mekanik yang terjadi pada baja nikel laterit. Perlakuan panas yang dilakukan meliputi austenitisasi pada suhu 900 ºC kemudian pada suhu temper 100 ºC, 200 ºC, 300 ºC, 400 ºC, 500 ºC, dan 600 ºC. Pengujian metalografi dilakukan dengan mikroskop optik sedangkan pengujian kekuatan mekanik dilakukan dengan kekuatan tarik dan kekerasan permukaan. Hasil yang didapat menunjukkan perubahan struktur mikro pada baja nikel laterit setelah dilakukan perlakuan panas. Struktur mikro yang terbentuk terdiri dari martensit temper. Adanya inklusi dapat memengaruhi kekuatan mekanik, dimana baja menjadi keras dan getas. Perlakuan panas temper optimal terjadi pada temperatur 200 ºC. Hasil fraktografi Scanning Electron Microscope (SEM) yang menunjukkan dimple (ekspresi permukaan patahan ulet) dan patahan intergranular membuat sifat nikel laterit menjadi lebih ulet dan memiliki sifat mekanis yang sesuai standar baja konstruksi. 2016 Widyariset. All rights reserved DOI 153

PENDAHULUAN Baja laterit merupakan material baja berbahan bijih nikel laterit kadar rendah yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan. Hal itu disebabkan karena baja laterit memiliki peluang untuk berbagai aplikasi yang dapat menunjang kebutuhan baja nasional antara lain mencakup baja konstruksi untuk jembatan, rangka konstruksi, dan bangunan (Desiana 2008). Begitupun penelitian yang telah dilakukan oleh Yusuf (2008) menyatakan bahwa bijih laterit kadar rendah atau yang disebut bijih limonit memiliki kandungan Ni 0,8%-1,5% dengan kandungan Fe 35%- 45%. Bijih tersebut dapat diolah menjadi baja dengan kandungan nikel sekitar 1,5%- 4%. Di samping kandungan Ni dan Fe, bijih laterit juga mengandung unsur lain, yaitu Cr dan Mn dimana kedua unsur tersebut akan berdampak pada sifat weldability steel serta kekerasan permukaan dan ketahanan korosi. Untuk menghasilkan suatu produk yang menuntut keuletan dan tahan terhadap gesekan perlu dilakukan pemanasan ulang atau temper. Tujuan dari proses tempering adalah untuk meningkatkan keuletan dan mengurangi kerapuhan (Haryadi 2014). Sifat mekanik kekuatan tarik dan kekerasan baja tergantung dari unsur karbon, nikel, dan krom yang terkandung didalamnya. Baja nikel laterit memiliki unsur paduan 1-2% nikel dan unsur karbon sampai 0,6%. Struktur mikro baja nikel laterit jenis ini sangat tergantung dari perlakuan panas baja yang diterima dan biasanya terdiri dari feritik, inklusi yang tidak terlarut, dan austenit sisa. Fraksi volume dan ukuran karbida yang muncul dalam baja dan jumlah austenit sisa merupakan peran utama dalam penentuan nilai kekerasan, kekuatan, ketangguhan, dan ketahanan aus dalam baja (Barlow 2012). Proses perlakuan panas baja nikel laterit ini melibatkan larutan-padat (austenisasi) yang dilakukan untuk memperoleh struktur mikro austenit yang diikuti dengan pendinginan cepat untuk memperoleh struktur martensit. Martensit setelah di-quench perlu dilakukan tempering untuk membentuk presipitat karbida dan menghilangkan inklusi pada material tersebut (Lim et al. 1993). Efek temperatur austenitisasi terhadap struktur mikro dan sifat mekanik telah dijelaskan di beberapa penelitian. Temperatur austenitisasi mengontrol pemisahan unsur paduan antara austenit dan karbida pada suhu tinggi serta mengakibatkan terjadinya transformasi martensit, ukuran butir, kekerasan, dan austenit sisa pada kondisi quenching. Temperatur austenitisasi yang lebih tinggi akan meningkatkan kelarutan karbida dan berat jenis karbida menurun seiring dengan peningkatan temperatur austenitisasi. Kelarutan karbida selama austenitisasi memengaruhi ukuran butir austenit. Peningkatan suhu austenitisasi juga akan meningkatkan kehadiran austenit sisa (Andrés et al. 1998). Proses perlakuan panas secara teknis untuk melakukan metode temper dalam proses pembentukan fasa baru sesuai dengan percepatan pemanasan sampai mencapai suhu austenit tidak stabil, menahan sampai waktu tertentu untuk homogenisasi fasa austenit yang terbentuk, dan melakukan pendinginan cepat serta menahan kembali pada variasi suhu temper terhadap sampel material untuk mendapatkan karakterisasi fasa maupun sifat mekanik. Pada penelitian sebelumnya, proses perlakuan panas pada baja laterit akan memengaruhi nilai kekerasan yang meningkat serta perlakuan temper memperlihatkan struktur martensit dan struktur partikel karbida yang bulat dalam matrik martensit (Haryadi 2014). Penelitian ini membahas pengaruh perlakuan panas austenitisasi dan temper terhadap perubahan struktur mikro, 154

Satrio Herbirowo dan Bintang Adjiantoro Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap... kekuatan tarik, dan kekerasan permukaan yang terjadi. METODE Pada penelitian ini spesimen yang digunakan adalah baja nikel laterit dari sampel proses pembuatan Nickel Pig Iron (NPI) di UPT Pengolahan Mineral LIPI-Lampung. Spesimen dalam bentuk rod dipotong menjadi ukuran panjang 100 mm dan diameter 20 mm dengan mengonfirmasi kandungan yang terdapat dalam baja nikel laterit, dan ditambah dengan capaian komposisi Ni (>1%), analisis kimia dilakukan dengan menggunakan spektroskopi. Spesimen kemudian mendapatkan perlakuan panas austenitisasi pada suhu 900 C selama satu jam lalu di-quenching dengan oli. Kemudian variasi suhu temper mulai dari 100 C, 200 C, 300 C, 400 C, 500 C, dan 600 C selama dua jam. Diagram alir penelitian disajikan pada Gambar 1. Uji kekuatan tarik dilakukan menggunakan standar pembuatan sampel Japan Industrial Standard (JIS) Z2201 dengan dimensi yang sesuai dengan pengukuran (Gambar 2). Sebanyak delapan sampel dibuat sesuai dengan jumlah variasi temperatur temper dan material awal. Gambar 2. Standar JIS Z2201 (JIS Handbook 1994) Uji kekerasan permukaan material dilakukan dengan memotong ujung spesimen untuk mendapatkan permukaan yang rata agar siap dilakukan uji kekerasan sebanyak lima titik dengan menggunakan alat Hardness Rockwell C. Sebelum melakukan pengujian metalografi, spesimen yang telah diampelas hingga halus dipoles dengan pasta alumina 5µ hingga 0,1µ sampai permukaan halus mengilap. Sampel yang telah dipoles kemudian dietsa dengan menggunakan Vilella s reagent (1 gr picric acid, 5 ml HCl, dan 100 ml ethanol). Setelah spesimen selesai disiapkan kemudian spesimen diobservasi dengan menggunakan mikroskop optik dan scanning electron microscope (JEOL 6390A) untuk mengetahui struktur mikro dan fasa yang terbentuk, serta fraktografi dari permukaan patahan material. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan komposisi dari baja laterit yang digunakan dalam penelitian (Tabel 1). Tabel 1. Persentase komposisi kimia baja nikel laterit As-Cast yang digunakan dalam penelitian Gambar 1. Diagram alir penelitian C Si Mn Cr Mo Ni Fe 0.40 0.248 0.776 1.59 0.164 1.59 Bal. 155

Dengan kandungan C sebesar 0,4%, maka sampel ini dikategorikan sebagai baja karbon rendah. Kemudian ditinjau dari kandungan paduannya, baja ini juga termasuk baja paduan rendah karena tidak mengandung lebih dari 8% paduan di setiap unsur paduannya. Jika kekuatan yang dihasilkan bisa mencapai standar tertentu, maka baja laterit bisa dirujuk sebagai baja paduan rendah berkekuatan tinggi atau yang lebih dikenal dengan istilah baja High Strength Low Alloy Steel (HSLA). Hal itu disebabkan karena salah satu indikasi baja HSLA adalah memiliki kandungan karbon dengan rentang 0,05-0,25% (ASM 2001). sampel perlakuan panas quench dan variasi temperatur temper terlihat bahwa semakin tinggi temperatur temper, maka kekuatan tarik maksimal dan luluh semakin menurun sedangkan untuk kelenturan dan keuletan semakin meningkat (Schonmetz 1985). Pengujian Kekerasan Permukaan Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari hasil perlakuan panas quench dan temper dalam peningkatan kekerasan baja. Pengujian Kekuatan Tarik Dari hasil pengujian kekuatan tarik material dibuat grafik hubungan antara perlakuan panas benda uji yang dibuat menjadi beberapa kode sampel terhadap nilai kekuatan tarik luluh (sy) dan kekuatan tarik maksimum (su). Gambar 3 memperlihatkan bahwa Sampel 1 atau bahan awal yang merupakan baja nikel laterit As-Cast memiliki nilai kekuatan tarik terendah dibandingkan dengan sampel lain. Gambar 3. Kurva kekuatan tarik yield dan ultimate baja nikel laterit dengan variasi suhu temper Sampel 2 setelah melalui proses perlakuan panas quench dengan media oli dapat meningkatkan nilai kekuatan tarik maksimum sebesar 858 Mpa dan nilai kekatan tarik lulus sebesar 1023 Mpa. Pada Gambar 4. Grafik kekerasan permukaan material Gambar 4 menunjukkan nilai kekerasan tertinggi dicapai oleh sampel dengan perlakuan panas quench dengan nilai 70 HRC. Semakin tinggi temperatur temper, maka material semakin lunak yang terlihat dari grafik kekerasan yang semakin menurun disesuaikan dengan aplikasi tujuannya sampai didapatkan sifat optimal. Perlakuan panas temper dilakukan untuk mendapatkan nilai kekerasan material optimal yang sesuai standar baja konstruksi karena dengan kekerasan yang menurun, maka sifat keuletan akan meningkat seiring dengan transformasi struktur mikronya (Yunan 2014). Pengujian Metalografi Struktur mikro baja nikel laterit yang dikarakterisasi dengan menggunakan mikroskop optik ditunjukkan pada Gambar 156

Satrio Herbirowo dan Bintang Adjiantoro Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap... 5 dengan perbesaran 500x. Gambar tersebut menunjukkan struktur mikro pada suhu austenitisasi 900 ºC di suhu temper 100 C, 200 C, 300 C, 400 C, 500 C, dan 600 ºC berturut-turut. Pada Gambar 5(a) dapat dilihat bahwa struktur mikro dari material awal tanpa perlakuan panas terdiri atas fasa ferit dan perlit dengan adanya inklusi yang tersebar akibat proses pengecoran yang kurang bersih dari material dasar. Oleh karena itu dilakukan proses perlakuan panas untuk memperbaiki sifat dan struktur dari material baja nikel laterit tersebut. Hal ini dapat dilihat dari Gambar 5(b) bahwa dengan proses pemanasan sampai temperatur austenit dan didinginkan dengan cepat (oil quenching) langsung terbentuk fasa martensit akibat dari terlambatnya unsur karbon bertransformasi yang membentuk struktur kristal BCT dan membentuk fasa martensit yang berbentuk seperti jarum-jarum yang membuat sifat material menjadi lebih keras dan getas (Wibawa 2013). Inklusi juga mulai memudar setelah proses perlakuan panas menuju struktur mikro material yang tanpa inklusi dan berdampak terhadap perubahan presipitasi karbida dan austenit sisa. Penerapan perlakuan panas tempering adalah untuk mengurangi tegangan sisa, meningkatkan ketangguhan dan keuletan yang telah hilang atau berkurang selama mengalami pengerasan martensit. Gambar 5(c) merupakan struktur mikro dari spesimen setelah dilakukan proses temper atau pemanasan kembali pada temperatur 200 ºC yang memiliki struktur ferit dengan fasa sementit yang terdistribusi pada matriksnya. Matrik yang ulet dengan sebaran partikel yang keras akan menghasilkan suatu logam yang tangguh. Fasa ferit merupakan fasa matrik dengan sifat lunak dan ulet. Fasa sementit yang terbentuk sifatnya keras. Pada Gambar 5(d) yang menggunakan temperatur temper lebih Gambar 5. Struktur mikro baja nikel laterit austenitisasi 900 ºC pada variasi temper (a) non-treat, (b) quench, (c) 200 ºC, dan (d) 600 ºC dengan perbesaran 500x 157

tinggi, martensit akan tereliminasi membentuk martensit temper dengan partikel karbida-karbida halus berbentuk spheroid yang mampu menahan deformasi plastik, sehingga logam akan tetap memiliki kekuatan cukup tinggi. Dengan demikian secara keseluruhan logam menjadi kuat dan ulet (Thelning 1984). Pengujian Scanning Electron Microscope Energy Dispersive Spectroscopy Untuk membuktikan hasil pengujian mekanik lebih lanjut, maka dilakukan karakterisasi struktur mikro dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk melihat bagian patahan dari spesimen dan pembuktian sifat keras atau ulet dari sampel baja. Pada Gambar 6(a) terlihat jelas struktur material pada perbesaran 500x membentuk berupa dimple dan kontur tidak merata yang menandakan patahan yang terjadi adalah patah ulet dengan penjalaran perpatahan secara intergranular. Selain itu juga dilakukan pengujian Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) untuk melihat komposisi unsur yang terbentuk, pada Gambar 6(b) menunjukkan spektrum hasil pengujian EDS dengan data hasil jumlah intensitas komposisi unsur tertentu terdeteksi pancaran elektron. Data tersebut terlihat bahwa unsur Fe memiliki 41,64at.% (the atomic weight percent) dan C memiliki 55,055at.% selain dari fasa dan struktur mikro yang memengaruhi sifat mekanik juga dari unsur paduan dari Ni, Cr, dan Mo berpengaruh dalam meningkatkan sifat mekanik antara lain kekerasan, kekuatan tarik, dan ketangguhan. Pengujian Data Mapping EDX Analisis penyebaran unsur paduan dari sampel baja laterit penting dilakukan untuk melihat homogenitas unsur paduan dalam baja yang mempengaruhi keseragaman sifat material khususnya mekanis pada keseluruhan posisi atau permukaan sampel. Adapun data hasil mapping EDX disajikan pada Gambar 7 dan 8. Gambar 7 menjelaskan pada bahan awal non-treatment, penyebaran unsur paduan C, O, dan Cr di luar unsur utama Fe, yaitu tersebar merata di berbagai posisi dengan kandungan oksida yang masih tinggi. Kemudian pada Gambar 8 yang merupakan hasil pemetaan EDX pada sampel setelah dilakukan perlakuan panas temper, terlihat berkurangnya oksida atau unsur O di permukaan sampel dan terjadi penurunan unsur karbon pada sampel baja yang dapat menurunkan nilai kekerasan tetapi mampu meningkatkan keuletan dalam baja serta unsur pendukung Cr tetap tersebar merata yang berperan dalam ketahanan korosi. Gambar 6. SEM analisis pada untuk spesimen austenitisasi 900 ºC dan temper 200 ºC (a) foto SEM dan (b) spektrum EDS 158

Satrio Herbirowo dan Bintang Adjiantoro Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap... Gambar 7. Mapping EDX sampel non treatment Gambar 8. Mapping EDX sampel tempering after treatment KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh perlakuan panas terhadap struktur mikro dan kekuatan mekanik pada baja nikel laterit. Perubahan suhu temper dapat mengubah struktur mikro dan kekuatan tarik maupun kekerasan permukaan baja nikel laterit ini. Secara umum struktur mikro yang terbentuk dari perlakuan panas yang diberikan mengandung martensit yang berbentuk bilah (lath martensit), karbida logam, dan mengurangi inklusi. Perlakuan panas quench dengan media oli dapat meningkatkan kekerasan yang tinggi dan dilakukan perlakuan panas temper untuk memperbaiki sifat material menjadi ulet dengan menurunkan sedikit kekerasan tetapi dapat meningkatkan kekuatan tarik, elongasi material, dan ketangguhan. Peningkatan temperatur temper membuat material semakin lunak dan kembali ke sifat material awal. Oleh karena itu, waktu temper optimal terjadi pada temperatur 200 ºC dengan standar acuan sifat mekanik baja konstruksi, dan ditinjau dari sifat material menjadi lebih ulet dengan pembuktian morfologi SEM yang terlihat dari patahan berbentuk dimple. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI yang telah mendanai penelitian unggulan ini pada Tahun Anggaran 2015 dan semua pihak yang telah bekerja sama dari tim peneliti maupun teknisi Baja Unggul Nasional. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian bersama dengan tema Pengembangan Baja Laterit Berkekuatan Tinggi. DAFTAR ACUAN Andrés, C.G.D.E, L.F. Álvarez, and M.P. Strasse. 1998. Effects of Carbide-Forming Elements on the Response to Thermal Treatment of the X45Cr13 Martensitic Stainless Steel. Journal of Materials Science 33: 4095 4100. Barlow, L.D. 2012. The Effect Of Austenitising and Tempering Parameters on the Microstructure and Hardness Stainless Steel Aisi 420. Built Environment 21: 1327 1336. Desiana. 2008. Pengaruh Temperatur terhadap Laju Korosi Baja Laterit pada Lingkungan Air. Skripsi, Fakultas Teknik. Depok: Universitas Indonesia. 159

Haryadi, G.D. 2006. Pengaruh Suhu Tempering terhadap Kekerasan, Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro pada Baja K-460. Jurnal ROTASI 8 (2): 1-8. Lim, L. C., M. O. Lai, J. Ma, D. O. Northwood, and B. Miao. 1993. Tempering of AISI 403 Stainless Steel. Materials Science and Engineering A 171(1-2): 13 19. doi:10.1016/0921-5093(93) 90388-U. Schonmetz, A.K.G. 1985. Pengetahuan Bahan dalam Pengerjaan Logam. Bandung: Aksara. Takagi, F.T. 1987. Study on the Use of Laterite as an Iron-making Material-Research at Nippon Steel Corporation. International Journal of Mineral Processing 19 (1-4): 145-156. Thelning, K.E. 1984. Steel and Its Heatreatment. Second Edition. Oxford, United Kingdom: Butterworth-Heinemann. Wibawa, Samdan. 2013. Analisis Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Baja Karbon Rendah Fasa Ganda pada Proses Intercritical Annealing dengan Pendinginan Cepat. Skripsi. Cilegon: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Yunan, Muhammad. 2014. Improved of Hardness and Microstructure Observation of Laterite Steel from Hot Rolling Process. Prosiding Seminar Metalurgi Material. Tangerang. Yusuf. 2008. Pembuatan Besi Nugget dari Pasir Besi dan Bijih Besi Laterit. Majalah Metalurgi 23 (2): 59 66. 160